Anda di halaman 1dari 14

Aquaponik dan Hidroponik

admin_kebunMarch 29, 2015Dasar


by
Baiklah kita memulai dari hidroponik dulu.
Berasal dari bahasa Latin, yang berarti air yang bekerja. Secara sederhana, hidroponik
adalah tata cara membudidayakan tanaman tanpa tanah. Air kaya nutrisi yang diperlukan
tanaman langsung dialirkan ke akar. Tekniknya bisa dengan cara mengalirkan air yang kaya
nutrisi langsung ke akar yang mengantung tanpa media sama sekali biasa disebut NFT
(nutrient film technique). Bisa juga air yang dialirkan ke media pengganti tanah yang tidak
menyerap air seperti pasir, sekam bakar, kerakal, perlit, rockwool dan media lainnya di luar
tanah.
Cara pengalirannya beragam. Ada yang dialirkan langsung (seperti dalam kasus NFT),
melalui teknik genangkan dan surutkan (ebb and flow) ke bedengan media, teknik irigasi
tetes, atau disemprotkan dalam bentuk kabut. Yang terakhir lebih dikenal sebagai
aeroponik.
Aquaponik memanfaatkan teknik hidroponik untuk budidaya tanaman meskipun tidak
mutlak (lihat dalam teknik budidaya aquaponik tradisional di Asia dan Amerika).
Perbedaan hidroponik dan aquaponik terletak pada jenis air yang dialirkan.
Pada kasus hidroponik, air nutrisi yang dialirkan biasanya berupa larutan cair yang dibuat
secara khusus sebagian besar berasal dari bahan kimia anorganik yang bisa dibeli di tokotoko kimia, yang mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh tumbuhan. Misalnya
Kalsium Nitrat ( Ca ( NO3 ), Kalium Nitrat (KNO3), dan seterusnya. Jika malas membuat
larutan sendiri, di pasar tersedia nutrisi siap pakai yang tinggal dilarutkan (ditambahkan air).
Pada aquaponik, kita memanfaatkan nutrisi cair yang berasal dari buangan ikan. Jadi kalau
dibuat mudah, aquaponik mungkin bisa disebut sebagai budidaya hidroponik dengan nutrisi
organik yang berasal dari buangan ikan. Dalam aquaponik, proses hidroponik bisa juga
sekaligus bertindak sebagai biofilter memfasilitasi proses resirkulasi air ke dalam bak ikan.
Kalau kita buat ringkas, mungkin kita memperoleh poin-poin berikut ini:
o

Pekebun aquaponik memanfaatkan teknik hidroponik untuk membudidayakan

tanaman/sayuran.
o
Nutrisi kebun air aquaponik berasal dari buangan metabolisme ikan (lihat siklus
nitogen di sini).
o
Selain sebagai teknik budidaya, hidroponik juga bertindak sebagai biofilter yang
memfasilitasi proses resirkulasi air dari bedengan ke kolam.

http://kebun-air.info/aquaponik-umum/dasar-dasar-aquaponik/aquaponik-dan-hidroponik/

Sekilas Aquaponik: Tradisi Ribuan Tahun dengan Sentuhan Baru


admin_kebunMarch 29, 2015Sejarah Aquaponik, Tentang Aquaponik
by
Aquaponik memiliki akar sejarah yang kuat di lingkungan kita.

Bioselter, prototip ekosistem mandiri hasil kreasi lembaga New Alchemy Institute, 1970-an.
Bioselter bisa dianggap sebagai prototip awal dari kultur aquaponik yang kita kenal
sekarang.
Di Asia, jejaknya sudah ditemukan sejak 1500 tahun lalu, dan menjadi bagian dari praktek
pertanian terintegrasi yang melibatkan kultur air tawar (kolam ikan), limbah rumah tangga
atau dapur, peternakan, dan kebun skala kecil hingga kultur sawah basah (klik di sini untuk
melihat artikel lain tentang aquaponik di Indonesia dan kawasan lain di Asia).
Selain di Asia, aquaponik pun memiliki akar sejarah yang kuat di peradaban Amerika kuno
baik di peradaban Aztec di Meksiko (Amerika Tengah) maupun peradaban Inca di
pegunungan Andes (Amerika Selatan). Sebagian petani kita masih mempraktekkan kultur
aquaponik tradisional tersebut hingga detik ini. Juga petani-petani lain di Asia dan Amerika
Tengah/Selatan (klik di siniuntuk melihat artikel lain tentang sejarah aquaponik di peradaban
Aztec dan Inca).
Akhir 1960-an, di tengah gencarnya gerakan lingkungan di kalangan aktivis dan masyarakat
di Barat, berdiri lembaga riset yang bernama New Alchemy Institute di bekas lahan
peternakan seluas 5 ha di Hatchville, Massachussetts, Amerika Serikat. Nah, lembaga inilah
yang memberi sentuhan baru praktek tradisional yang memiliki akar sejarah yang panjang di
Asia dan Amerika kuno tersebut.
Dimotori oleh pasangan suami istri ilmuwan-aktivis John Todd dan Nancy Jack Todd yang
dibantu oleh koleganya William McLarney, New Alchemy Institute mencoba membuat reka
ulang bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi alat untuk merancang suatu sistem

pendukung yang berkelanjutan atas kehidupan manusia. Ketika itu ilmu pengetahuan dan
rekayasa memiliki citra yang sangat negatif melalui dampak yang timbul karena praktek
revolusi hijau (pemanfaatan kimia untuk pupuk dan pestisida), pemanfaatan energi minyak
bumi tidak berkelanjutan, dan dampak praktek sains/rekayasa lain yang menimbulkan
kerusakan lingkungan di bumi.
Para ilmuwan yang bekerja di New Alchemy Institute mencoba mereka ulang suatu sistem
yang mampu mendukung kebutuhan manusia secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Mereka melihat sistem dan desain alam sebagai model utama, serta melakukan pengamatan
yang hati-hati terhadap proses dan siklus alami yang terjadi di dalamnya, lalu mencoba
membuat tiruannya. Hasilnya adalah aneka ragam prototip sistem yang disebut sebagai
Ark.
Pada dasarnya Ark adalah sistem mandiri. Memanfaatkan energi matahari sebagai sumber
energi, Ark didesain sebagai bioselter (rumah tinggal biologis) yang mampu
menyediakan pangan (ikan dan sayuran) selama setahun penuh bahkan ketika musim dingin
tiba. Mungkin Ark inilah yang kemudian menjadi prototip awal sebelum aquaponik
memperoleh bentuknya seperti yang sekarang.
Pada 1980-an, mahasiswa di Universitas North Carolina Mark McMurtry dan Prof. Doug
Sanders menciptakan suatu sistem aquaponik dengan siklus tertutup berulang yang alurnya
mirip
seperti
sistem
aquaponik
yang
kita
kenal
sekarang.
Dalam sistem ini, buangan air kolam/bak ikan di alirkan ke bedengan pasir yang ditanami
tomat dan mentimun. Bedengan juga berfungsi sebagai biofilter. Air yang mengalir keluar
dari bedengan dialirkan kembali ke bak//kolam ikan. Sistem inilah yang kemudian
dikembangkan oleh peneliti dan praktisi lainnya sebagai dasar untuk membangun kultur
aquaponik.
Pada 1990-an, petani Missouri Tom dan Paula Speraneo memodifikasi Sistem Universitas
North Carolina dan memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai konsep bioponik.
Mereka membudidayakan aneka rempah, bumbu dan sayuran di bedengan kerakal yang biasa
digunakan dalam kultur hidroponik. Karena kepraktisan dan kemudahannya, Sistem
Speraneo banyak ditiru dan menjadi bahan modifikasi para praktisi dan hobiis aquaponik
rumahan di seluruh dunia. Kebun Air juga memanfaatkan sistem ini dengan sedikit
modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi yang ada (rincian Sistem Speraneo klik di sini)
Di luar mereka, ada banyak lagi sistem yang dirancang dan dibangun sesuai dengan
kebutuhan setempat atau kepentingan pembuatnya misalnya untuk keperluan aquaponik
yang komersial dan skalanya lebih besar. Dasar dan alur dari sistem apa pun yang mereka
bangun pada dasarnya bertumpu pada dua hal utama: siklus nitrogen yang ada pada kultur

budidaya air tawar dan kultur hidroponik untuk tanaman meski yang kedua bukan hal yang
mutlak.
Jika ada ingin mengetahui siklus nitrogen di sini, serta hubungan antara aquaponik
dan hidroponik klik di sini.

Asas Manfaat Siklus Nitrogen: Fondasi Kultur Kebun Air Aquaponik


admin_kebunMarch 29, 2015Lain-lain
by
Dalam aquaponik, output suatu sistem akan menjadi input bagi sistem lainnya. Mesin dan
fondasi utama dari sistem aquaponik adalah bagaimana kita bisa mengambil manfaat
maksimal dari siklus kultur air yang bisa menjadi faktor negatif jika berdiri sendiri. Para ahli
menyebutnya sebagai siklus nitrogen dalam kultur air tawar.
Penjelasan mudahnya begini. Seperti kita, ikan air tawar pun perlu buang hajat besar dan
kecil setelah makan. Perbedaannya dengan kita adalah: kita hidup terpisah dengan kotoran
kita, sementara ikan harus hidup dan menyatu dengan kotoran yang dia keluarkan.
Bayangkan habitat kita di air seperti ikan: hari pertama kita mungkin baru pipis saja, hari
kedua kita pipis plus buang hajat Lalu hari ketiga? Keempat? Pada hari ke lima dan
seterusnya mungkin kita sudah megap-megap, nggak tahan baunya, stress dan rasanya pengin
cepet-cepet meloncat keluar dari habitat tempat kita hidup. Buangan ikan beserta pengaruh
lain dari mikroorganisme yang hidup di lingkungan disebut sebagai siklus nitrogen kultur
air tawar.
Bagan di bawah ini menjelaskan bagaimana siklus nitrogen bekerja:

Siklus Nitrogen

Buangan ikan adalah ammonia yang bisa menjadi racun jika konsentrasinya terlalu tinggi.
Ekosistem air tawar memang menyediakan mekanisme alami untuk mengurangi kadar
ammonia. Ketika kadar ammonia mencapai titik tertentu, secara alami bakteri Nitrosomonas
akan mengkoloni sistem. Organisme ini membantu mengoksidasi ammonia (NH4) menjadi
nitrit (NO2) lewat proses metabolisme mereka. Akibatnya kadar ammonia turun, sebaliknya
kadar nitrit naik. Akan tetapi masalah belum usai. Sebagaimana ammonia, nitrit pun bersifat
racun bagi ikan.
Ketika kadar nitrit mencapai titik tertentu, datanglah bakteri lainnya bakteri nitrobacter.
Organisme mengoksidasi nitrit menjadi nitrat (NO3) yang kurang beracun bagi ikan.
Akan tetapi jangan gembira dulu. Meski kedua organisme itu mampu mengurangi kadar
amonia dan nitrat dalam air, bukankah ikan seperti kita terus-menerus makan dan
menghasilkan buangan? Apalagi pada saat yang sama, ada bakteri jenis lain yang
mengkonsumsi buangan padat dan material lainnya yang ada di kolam. Mereka, sama seperti
ikan, akan menambah jumlah kadar amonia dalam bak air atau kolam.
Jaringan yang kompleks dan saling berkaitan ini tentu saja akan mempengaruhi sistem, dan
sudah pasti berpengaruh juga terhadap indeks kebahagiaan ikan yang tinggal di dalamnya.
Karena itu jika sistem kultur air tawar ini berdiri sendiri, para penggemar ikan hias biasanya
mengurangi air kolam atau aquarium hingga 30% secara berkala dan menggantinya dengan
air yang baru. Kalau tidak, ikan-ikan bisa kelimpungan karena indeks kebahagiaan mereka
berkurang. Bayangkan Anda tinggal di lingkungan yang bercampur dengan hasil buangan
limbah yang berasal dari dapur Anda atau bahkan tubuh Anda sendiri!
Nah, di sinilah peran aquaponik menjadi penting. Air bercampur buangan yang bersifat toksik
bagi ikan justru bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair bagi tanaman! Akar tanaman akan
menyerap nitrogen yang ada dalam nitrat. Kira-kira mirip buangan peternakan, misalnya tahi
sapi, yang bisa diproses menjadi pupuk kandang dan bermanfaat bagi tanaman!
Nilai lebih lainnya, sistem aquaponik akan mengubah pupuk cair menjadi tidak toksik dan
aman bagi ikan. Mengapa? Karena tanaman dan bedengan bertindak sekaligus sebagai filter
alami. Air akan aman dialirkan kembali ke kolam, dan Anda pun terbebas dari kewajiban
mengganti air secara berkala.
Ikan berbahagia, Anda pun lega!

Aquaponik: Berakar dari Praktek Pertanian Eyang Kita


admin_kebunMarch 16, 2015Sejarah Aquaponik, Tentang Aquaponik
by

Minapadi, menggabungkan budidaya ikan dan padi, merupakan contoh praktek aquaponik
tradisional yang berakar berabad-abad dalam sejarah kultur pertanian kita
Prinsip aquaponik sebenarnya sederhana. Ada lingkungan berair tempat ikan hidup
berkecukupan. Makmur, murah sandang dan pangan entah mereka memperolehnya secara
alami, misalnya berupa lumut atau alga; atau melahap pelet buatan yang kita lempar ke
kolam. Ada kebun ataupun jenis lahan pertanian lain seperti sawah yang menjadi tempat
tanaman budidaya.
Seperti kita, dengan caranya sendiri ikan itu pup dan (mungkin) kencing sembarangan. Air
yang bercampur dengan kotoran ikan pun mengalir ke bedengan dan menjadi pupuk bagi
tanaman. Akar tanaman, selain menyerap nitrogen dan unsur lain yang diperlukan, juga
bertindak sebagai filter biologis yang membuat air lebih segar. Seperti dongeng, ikan pun
berenang berbahagia selamanya sebelum akhirnya nyemplung ke penggorengan kita!
Mungkin begitulah penjelasan aquaponik ala dongeng gothik Cinderela.
Sementara penjelasan teknisnya mungkin seperti dongeng (yang sayangnya agak serius)
seperti berikut ini: pada dasarnya aquaponik adalah sebuah lingkungan ekosistem buatan
yang membuat sinergi alami antara berbagai unsur yang ada di lingkungan itu. Ia merupakan
salah satu contoh praktek pertanian terintegrasi, integrated farming, dengan budidaya ikan
fondasi utamanya. Dalam banyak praktek di banyak tempat, integrated farming bahkan
mengintegrasikan kegiatan bertani, beternak dan budidaya ikan baik secara keseluruhan
(bertani, beternak dan budidaya ikan), atau sebagian (bertani plus beternak atau bertani dan
budidaya ikan).
Seperti praktek pertanian terintegrasi umumnya, cara berpikir aquaponik adalah
memaksimalkan input dan output. Tak jarang, output pada suatu bagian akan menjadi input
bagi yang lainnya.

Lepas dari istilahnya yang sok kebarat-baratan, aquaponik sebenarnya telah lama hadir di
sekitar kita. Aquaponik itu sebenarnya tetangga dan saudara kita. Buyutnya aquaponik
bahkan mungkin berasal dari sini.
Anda mungkin mengenal istilah minapadi praktek yang mengintegrasikan kultur
ikan dan padi di lingkungan sawah yang basah? Minapadi bisa disebut sebagai contoh
klasik praktek aquaponik pertanian kita.
Mirip aquaponik, kultur minapadi memaksimalkan output buangan ikan dengan
memanfaatkannya langsung sebagai penyubur tanaman. Kemiripan lain, minapadi juga
memaksimalkan output ganda yang dihasilkan: petani memanen padi dan ikan sekaligus. Asal
Anda tahu, praktek ini sudah berlangsung selama beberapa abad jauh sebelum Amerika
mengenal praktek aquaponik seperti yang populer saat ini. Walhasil, jika melihat ciri-ciri
penampakannya, ini bukan cuma mirip, tapi benar-benar saudara tua mungkin simbah,
buyut atawa simbah canggahnya (orang tua kakek kita) aquaponik!
Tak diketahui kapan persisnya sejak kapan aquaponik Nusantara ini menjadi praktek standar
di negeri kita. Berdasarkan catatan dokumen kolonial, paling tidak sejak abad 18 sistem
minapadi telah diadopsi oleh sebagian petani kita, paling banyak dipraktekkan di kawasan
Jawa bagian barat (kini jadi Provinsi Jawa Barat). Hingga 1980-an, bahkan sistem minapadi
telah menjadi praktek umum yang mudah ditemukan di wilayah tatar Sunda. Sehingga bukan
hal kebetulan jika saat ini kita menemukan banyak sekali warung dan restoran ikan darat di
wilayah Jawa Barat. Seorang ahli dalam sebuah seminar tentang aquaponik di Australia
bahkan membuat kesimpulan yang agak hiperbolik: di Jawa Barat setiap petani padi adalah
peternak ikan; sebaliknya setiap peternak ikan adalah petani padi.
Kini praktek minapadi tak cuma populer di wilayah tatar Sunda, tapi juga di berbagai titik di
wilayah Indonesia. Contohnya pada foto di halaman ini praktek yang dilakukan oleh
sebagian petani di daerah Sleman, Yogyakarta.
Pada sistem ini, petani akan membuat parit yang lebih dalam di sekeliling sawah atau dibuat
melintang beraturan di tengah sawah. Nah, di kanal yang lebih dalam inilah ikan-ikan
ngumpul, ngerumpi, mungkin sedang pesta atawa arisan.
Ikan-ikan ini doyan aneka jenis makanan yang tersedia melimpah di perairan sawah:
ganggang, hewan-hewan kecil, jentik nyamuk, tanaman-tanaman air tertentu yang tumbuh
dan hidup di sana. Mereka lalu menghasilkan sekresi (zat buangan) berupa amonia, sejumlah
bakteri tertentu akan mengubah ammonia menjadi nitrite, bakteri yang lain lagi akan
mengubah nitrite menjadi nitrate; dan walahh .. nitrat inilah yang akan diserap oleh tanaman
sebagai pupuk yang kemudian diserap oleh tanaman.

Jadi bisa Anda lihat, fondasi sistem aquaponik dan minapadi pada dasarnya mirip, yaitu
siklus nitrogen yang dihasilkan kultur budidaya ikan di air tawar.

Sistem Speraneo: Indahnya Kesederhanaan!


admin_kebunMarch 30, 2015Dasar, Tentang Aquaponik
by
Sistem ini dicomot dari nama pencetusnya Tom dan Paula Speraneo, pasangan suami-istri
pemilik kebun aquaponik skala kecil di West Plains, Missouri, Amerika Serikat.

Kebun aquaponik Speraneo di Missouri, Amerika Serikat.


Mereka mulai membangun S & S Aqua Farm pada 1990-an awal.
Semua itu berawal dari kecelakaan yang menimpa Tom seorang perekayasa dan sistem
analis IT yang sebelumnya bekerja pada suatu perusahaan. Kecelakaan itu membuatnya harus
memulihkan diri selama beberapa saat. Beberapa tahun setelah kesembuhannya, ia mencoba
kembali lagi bekerja di bidang keahliannya. Tapi jam kerja yang panjang di dunia IT serta
kekhawatiran sang istri, Paula, atas kondisi kesehatan suaminya, telah mendorong pasangan
ini melakukan riset pribadi yang akhirnya membuat hidup mereka berubah 180 .
Di tengah ketatnya pengeluaran dan makin menipisnya tabungan, suatu kali Tom berkunjung
ke temannya di California. Di sana ia bersua dengan ikan yang kemudian mengubah jalan
hidupnya: tilapia, atau kita menyebutnya ikan nila. Jenis ikan budidaya yang sudah dikenal
sejak zaman Firaun dan merupakan jenis yang paling banyak dibudidayakan di dunia di luar
jenis ikan karper atau ikan mas.
Sering dipandang sebelah mata karena rasa dagingnya yang biasa saja, ikan nila selalu tinggi
permintaannya mungkin karena harga yang murah dan terjangkau. Nila inilah yang
membuat Tom kepincut. Seperti temannya di California, ia berniat membudidayakan ikan

yang habitat aslinya berasal dari Mesir dan Afrika itu di kampung halamannya yang indah
tapi mengalami masa surut ekonomi, Missouri Ozarks.
Tapi ia memiliki masalah serius. Sekalipun bibit ikan dan pengadaan baknya tidak terlalu
mahal, ia tak mampu membeli sistem filtrasi air harganya mencapai 6.700 dolar. Ia pun
melakukan riset kecil-kecilan, dan menemukan sistem resirkulasi air yang dikembangkan
oleh peneliti Universitas North Carolina, Mark McMurtry dan Prof. Doug Sanders.
Ia melakukan sedikit modifikasi. Alih-alih mengalirkan air ke bak pasir yang juga bertindak
biofilter, Tom memanfaatkan bak yang berisi kerakal atau garvel dua bahan yang banyak
dimanfaatkan oleh para pekebun hidroponik.Ia membeli bak 500 galon kira-kira 2000 liter,
dan mulai memelihara ikan nila. Ia juga membuat bak bedengan yang berisi kerakal atau
gravel, dan mulai menanam tomat dan mentimun seperti dilakukan peneliti McMurtry dan
Prof. Sanders. Biaya total diperlukan untuk hanya 3000 dolar. Selain lebih hemat, sistem
yang dia rancang memiliki keuntungan lain: Tom dan istri tak hanya bisa memanen ikan nila
tapi sayuran yang mereka tanam.
Pada 1992, ia membangun sistem yang lebih besar yang hingga kini menjadi pusat aktivitas
pertaniannya. Proyeknya meliputi enam bak berukuran 5000 liter, yang masing-masing
terkoneksi dengan empat hingga enam bedengan. Tom menyebut setiap bak sebagai node
merujuk pada istilah yang digunakan pada ilmu jaringan komputer, bidang yang dikuasainya.
Tiap-tiap node terhubung dengan jumlah bedengan yang berbeda-beda seperti node dalam
jaringan yang menghubungkan jumlah kompter yang berbeda-beda.

Bagan Rancangan Sistem Speraneo


Sistem Speraneo sangat sederhana. Air yang bercampur buangan ikan langsung dialirkan ke
bedengan tanaman tanpa disaring atau di-filter terlebih dahulu, seperti sistem-sistem yang
banyak dikembangkan oleh kebanyakan peneliti atau pekebun komersial. Kebanyakan

sistem merujuk pada sistem hidroponik dan mengalirkan air yang sudah disaring melalui
jaringan pipa. Sistem kami melakukannya dengan lebih sederhana. Kami
hanya menumpahkan semuanya ke bedengan (tanpa penyaringan).
Setiap bedengan memuat kerakal setinggi 30 cm. Akar tanaman akan terpendam sekitar 7-10
cm. Air yang dialirkan akan bergerak mengikuti gaya gravitasi ke ruang yang tersisa akhirnya
tiba di bak penampungan. Dari bak penampungan air dipompa kembali ke bak kolam ikan
(lihat bagan).
Bak kolam ikan yang bertindak node dalam Sistem Speraneo.
Bedengan kerakal yang bertindak seperti laiknya kompoter yang terhubung ke
node sistem jaringan.
Bak penampung akhir sebelum air dipompa kembali ke kolam.

Melalui sistem yang sederhana ini tanaman akan memperoleh nutrien yang mereka butuhkan.
Kerakal dan media bedengan akan menyaring air. Bakteri yang hidup di bedengan akan
menghilangkan zat-zat beracun, ammonia dan nitrit, yang berbahaya bagi ikan. Air yang
kembali ke kolam bisa dibilang 90% murni kecuali mungkin terkena campuran bakteri yang
hidup di bedengan, katannya.
Karena sistem ini saling bergantung, Tom memperingatkan untuk tidak membiarkan
bedengan terlantar tanpa sebiji pun tanaman yang tumbuh di atasnya. Kondisi itu akan sistem
biofilter tidak bekerja. Sebaliknya ia memperingatkan untuk tidak membiarkan bedengan
kering tanpa aliran air dari kolam. Jika ini terjadi, semua bakteri yang memiliki peran penting
dalam proses pemurnian air akan mati.
Karena kesederhanannya, tak heran jika Sistem Speraneo ini banyak diadopsi para hobiis dan
pekebun aquaponik di seluruh dunia. Mereka mengadopsi secara persis atau memberi
penambahan atau modifikasi di sana-sini, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
setempat. Di tanah kelahirannya, sistem ini juga berhasil menarik perhatian masyarakat lokal
dibuktikan dengan kunjungan tak kurang dari 10.000 pengunjung bertamu ke komplek
pertaniannya yang kecil pada 1990-an.
Kebun Air, kebun aquaponik rumahan dikembangkan di kawasan Cinere, Depok, juga
mengadopsi Sistem Speraneo dengan sedikit modifikasi!

Tanaman Aquaponik Solusi Keterbatasan Lahan


Ditulis
oleh: manapar pada:
Depok, Ekonomi, Lingkungan, Perizinan | 0 Komentar

15/01/2015 kategori: Berita

Posyandu Mawar 19 Kecamatan Tapos, Depok yang akan melaju mewakili Jawa Barat ke
Lomba Posyandu tingkat nasional saat ini menerapkan penanaman tanaman dengan metode
aquaponik. Aquaponik adalah metode pertanian dengan mengkombinasikan akuakultur
(budidaya perairan) dan hidroponik (budidaya menanam).
Aquaponik terdiri dari dari dua komponen penting yaitu tanaman dan ternak, dalam hal ini
adalah ikan. Metodenya, ekskresi dari ikan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan akan
menjadi pupuk bagi tanaman. Air kemudian akan bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur.
Di sini kami memelihara ikan lele dan patin. Ikan ini nantinya juga akan bisa dimanfaatkan
sebagai santapan atau dijual ke warga, jelas Camat Tapos Muchsin Mawardi.
Muchsin juga berharap aquaponik di posyandu ini dapat menjadi pilot projek sarana edukasi
bagi warga, karena saat ini sudah banyak warga yang ingin mempelajari aquaponik ini. Hal
tersebut karena aquaponik merupakan jawaban dari kendala masyarakat yang ingin bercocok
tanam namun tidak memiliki lahan.
Keterbatasan lahan bisa diakali dengan akuaponik, kami akan terus kembangkan aquaponik
ini. Kami juga akan melibatkan kelompok wanita tani (KWT) dalam kegiatan budidaya ikan,
ujarnya.
Muchsin menambahkan, bahwa posyandu melalui salah satu kelompok kegiatannya juga
harus dapat meningkatkan ekonomi warga melalui KWT. Melalui aquaponik ini, diharapkan
tingkat ekonomi warga dapat meningkat, karena terdapat dua bidang yang dapat
dimanfaatkan, yaitu tanaman sayur-sayuran dan ternak ikan.
Selain di Posyandu Mawar ini, rencananya semua posyandu Tapos juga akan menerapkan
aquaponik ini, karena sejalan dengan potensi di kecamatan tapos yaitu perikanan, jelasnya.
(Rysko/Diskominfo)
http://www.depok.go.id/15/01/2015/perizinan-kota-depok/tanaman-aquaponik-solusiketerbatasan-lahan