Anda di halaman 1dari 18

3

BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Sekilas Mengenai PT Dirgantara Indonesia
PT dirgantara Indonesia dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Indonesian
Aerospace Inc. (IAe) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang bergeerak di bidang industri pesawat terbang. Berdiri pada 26 April 1976
ketika masih bernama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dengan BJ.
Habibie sebagai Presiden Direktur.
PT. Dirgantara Indonesia bergerak di industri manufaktur pesawat tetapi juga
bidang lain seperti teknologi informasi, otomotif, maritim, teknologi simulasi,
turbin industri dan engineering service. PT. Dirgantara Indonesia berganti nama
dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985 dan
berubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia pada tanggal 24 Agustus 2000. Kini
telah memproduksi lebih dari 300 unit pesawat dan helikopter, sistem pertahanan,
komponen pesawat dan lain-lain.
Setelah restrukturisasi pada 2004, kini PT. Dirgantara Indonesia diperkuat
oleh 3720 karyawan yang menopang 18 unit yang ada, yakni:
1. Pesawat (Pesawat dan Helikopter).
2. Pesawat Jasa (Pemeliharaan, Overhaul, Perbaikan, dan perubahan).
3. Aeorstruktur (Parts & Components, Sub Sidang, Sidang Peralatan).
4. Engineering Service (Teknologi Komunikasi, Teknologi Simulasi, Solusi
Teknologi Informasi, Design Center).
Kegiatan produksi PT.Dirgantara Indonesia ditopang oleh 232 unit mesin dan
peralatan dan peralatan dengan area seluas 8.98 hektar bangunan. Selain itu
peralatan lain juga tersebar di berbagai lini perakitan, laboratorium, serta unit
pelayanan dan pemeliharaan.

2.2 Sejarah PT Dirgantara Indonesia 3


2.2.1 Era Nurtanio
Masa pemerintahan kolonial Belanda, tidak ada program mengenai desain
pesawat terbang, tetapi mereka memiliki aktivitas yang berkaitan dengan lisensi,
bidang teknikal dan evaluasi keamanan untuk semua pesawat terbang yang di
operasikan di Indonesia. Tahun 1914 Bagian Uji Terbang diresmikan di Surabaya
dan bertugas untuk mempelajari performa pernerbangan di daerah tropis.
Kemudian pada 1930, dilakukan pendirian Bagian Pembuatan Pesawat Udara
yang memproduksi pesawat kayu lokal. Fasilitas ini kemudian dipindahkan ke
Lapangan Udara Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara).
Tahun 1937 berdasarkan permintaan pengusaha lokal, beberapa pemuda
Indonesia yang dipimpin oleh Tossin membuat sebuah pesawat terbang di bengkel
yang terletak di Jalan Pasirkaliki, Bandung. Mereka memberi nama pesawat
tersebut PK. KKH. Pesawat ini pernah membuat dunia penerbangan terkejut
karena kemampuannya untuk terbang ke Belanda dan daratan Cina pulang pergi.

Gambar 2.1 Pesawat PK-KKH


Sumber : Sejarah Pesawat Indonesia, IPTN (2009)
2.2.2 Era Kemerdekaan
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, kesempatan bagi
Indonesia untuk merealisasikan mimpi untuk membuat pesawat terbang mulai
menyadari bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan transportasi
udara agar pemerintahan dan perkembangan ekonomi dapat berjalan dengan baik
dan sebagai pertahanan.

Tahun 1948 berhasil membuat pesawat bermesin pertama, yang berasal dari
mesin Harley Davidson disebut WEL-X. Pesawat tersebut didesain oleh Wiweko
Supono, pesawat ini kemudian dikenal dengan nama RI-X. Era ini ditandai
dengan meningkatnya jumlah klub aeromodeling yang melahirkan Nurtanio
Pringgoadisuryo, pelopor teknologi penerbangan. Mereka harus menghentikan
aktifitas ini karena adanya pemberontakan komunis di Madiun dan agresi
Belanda.

Gambar 2.2 Pesawat RI-X WEL-1


Sumber : Sejarah Pesawat Indonesia, IPTN (2009)

Tahun 1953 dibuat suatu institusi dengan nama Seksi Percobaan yang
beranggotakan 15 orang. Dibawah pengawasan Komando Depot Perawatan
Teknik Udara yang dipimpin oleh Major Nurtanio Pringgoadisurjo. Berdasarkan
desain Nurtanio, pada 1 Agustus 1954, Seksi Percobaan berhasil membuat
prototype Si Kumbang yang merupakan pesawat satu kursi berbahan logam.
Pesawat Si kumbang dibuat sebanyak tiga unit.

Gambar 2.3 Pesawat Si Kumbang


Sumber : Sejarah Pesawat Indonesia, IPTN (2009)

Berdasarkan Dekrit Presiden Kepala Angkatan Indonesia No. 68 pada 24 April


1957, Seksi Percobaan ditingkatkan menjadi organisasi yang lebih besar yaitu Sub
Depot Penyelidikan, Percobaan & Pembuataan. Periode 1960-1964 Nurtanio dan
tiga koleganya dikirim ke Far Eastern Air Transport Incorporated (FEATI)
Filipina. Salah satu dari Universitas Penerbangan pertama di Asia. Setelah
menyelesaikan pendidikan, mereka kembali ke Bandung dan bekerja di LAPIP.
Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) didirikan berdasarkan
dekrit Kepala Angkatan Udara Indonesia no 488, Agustus 1960. Badan ini
berfungsi untuk mempersiapkan pendirian industri pesawat terbang dengan
kemampuan mendukung aktivitas penerbangan di Indonesia .
Tahun 1961 LAPIP menandatangani kerjasama dengan CEKOP (Industri
penerbangan Polandia), untuk membuat pesawat terbang di Indonesia. Kontrak ini
termasuk bangunan fasilitas pembuatan pesawat, pelatihan sumber daya manusia,
dan lisensi untuk memproduksi PZL-104 Wilga, yang dikemudian hari dikenal
dengan nama Gelatik. Pesawat ini berhasil diproduksi sebanyak 44 buah yang
digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian, transportasi ringan dan klub
aero.
Nurtanio wafat pada tahun 1966, disaat melakukan uji terbang, untuk
mengenang kontribusinya pada negara dan bangsa KOPERLAPIP dan PN.
Industri Pesawat Terbang Berdikari bergabung menjadi LIPNUR (Lembaga
Industri Pesawat Terbang Nurtanio). LIPNUR memproduksi pesawat latih
bernama LT-200 dan membangun bengkel untuk after-sales-services, perawatan
dan perbaikan.
Berdasarkan dekrit Presiden tahun 1966, didirikanlah Teknik Penerbangan
ITB yang berada di Departemen Mesin. Oetarjo Dirn dan Liem Kieng Kie adalah
pelopor pelajar yang dikirim keluar negeri (Eropa dan Amerika Serikat). Seorang
pemuda Indonesia, BJ Habibie, dari tahun 1964 hingga 1970-an merintis
pendirian industri pesawat terbang.
2.2.3 Era IPTN
B.J. Habibie yang dijuluki sebagai Bapak Industri pesawat modern di
Indonesia. Beliau mengembangakan sayapnya dengan memimpin kedirgantaraan

di Indonesia. Pada saat itu Habibe, yang baru saja pulang dari Jerman dan
membekali dirinya dengan ilmu mengenai pesawat. Habibie tak lupa membawa
tenaga-tenaga ahli asal Jerman dimana tempatnya menimba ilmu, untuk
mengembangkan industri penerbangan di Indonesia. IPTN yang dikenal sebagai
industri pesawat di Indonesia yang pertama dan hanya satu-satunya di Asia.
Berpegang pada filsosofi transformasi teknologi Begin at the End and End at
the Beginning IPTN telah berhasil mentransfer teknologi penerbangan yang
rumit dan terbaru. IPTN secara khusus telah menguasai desain pesawat terbang,
rekayasa pengembangan serta manufaktur pesawat komuter kecil dan sedang.
IPTN bekerja sama dengan pihak pabrikan melaksanakan pembuatan berbagai
jenis pesawat terbang, seperti C212 Aviocar, C235, NBO105, NBK117, BN109,
SA330 Puma, NAS332 Super Puma dan Nbell412.

Gambar 2.4 NAS332 Super Puma


Sumber : PT. Dirgantara Indonesia (2014)
Tahun 1995 dilakukan penerbangan pertama pesawat N-250 dimana itu salah
satu terobosan IPTN dalam melakukan inovasi dalam dunia industri penerbangan.
Pembuatan secara mandiri dan tidak tergantung oleh negara-negara lain.

Gambar 2.5 Pesawat N250


Sumber : IPTN (1995)

Pada 10 November 1995, bertepatan dengan terbang perdana N-250, Presiden


Soeharto mengumumkan proyek N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia
untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang
diperkirakan akan menelan dana dua milyar dollar AS itu, tandasnya, akan dibuat
secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga
pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu dibentuklah perusahaan PT Dua Satu Tiga
Puluh (PT DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.
Krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT DSTP limbung. Akibat adanya
ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham
melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember
1998 meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri. Preliminary design pesawat ini,
IPTN telah mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang yang tak kecil. Dana yang
telah dikeluarkan lebih dari 70 juta dollar AS yang sesuai keputusan RUPSLB,
dana bagi ini selanjutnya dianggap sunk-cost.
Seluruh kekayaan perseroan selanjutnya diaudit dimana hasil disampaikan
kepada Bapepam tanggal 22 April 1999 dan diumumkan lewat media massa.
Pembayaran hasil likuidasi kepada para pemegang sahamnya sendiri kemudian
dilakukan bertahap mulai 9 Agustus hingga 15 Oktober 1999.
Indonesia di pandang oleh dunia. Pesawat N-250 sudah mendapatkan pesanan
dari berbagai negara di Asia, Afrika, bahkan Eropa. Pada saat itu, kegemilangan di
depan mata sirna begitu saja. Dampak adanya krisis ekonomi menimpa Indonesia
yang meluluhkan perjuangan IPTN pada saat itu. Pada saat itu IPTN mendapatkan
cobaan yang sangat berat, adanya pemecatan secara besar-besaran yang
diakibatkan tidak kondusifnya keuangan IPTN.
2.2.4 Era PT Dirgantara Indonesia
Kondisi IPTN yang semakin memburuk , Presiden RI, KH. Abdurrahman
Wahid pada tanggal 24 Agustus 2000 meresmikan perubahan nama menjadi PT
Dirgantara Indonesia. Perubahan nama tersebut dimaksudkan untuk memberi
nafas dan paradigma baru bagi perusahaan. Meski persoalan yang timbul pun
semakin rumit dan kompleks, hal ini disebabkan volume bisnis jauh lebih kecil
dari sumber daya yang tersedia, pengaruh SP-FKK sangat besar dalam

pengelolaan perusahaann, budaya organisasi tidak sehat, Direksi tidak berfungsi


sebagaimana mestinya, ketidakadaan modal kerja, beban gaji melebihi
kemampuan serta beban hutang yang masih besar (SLA & RDI). Upaya
penyelamatan PT Dirgantara Indonesia akhirnya dilakukan didasarkan atas
beberapa fakta bahwa PT Dirgantara Indonesia adalah aset nasional, industri
strategis yang mendukung kepentingan nasional dan memiliki kemampuan
kedirgantaraan.
Pertengahan tahun 2000-an Dirgantara Indonesia mulai menunjukan
kebangkitannya kembali , banyak pesanan dari luar negeri seperti Thailand,
Malaysia, Brunei, Korea, Filipina dan lain-lain.meskipun begitu, karena dinilai
tidak mampu membayar utang barupa kompensasi dan manfaat pensiun dan
jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, PT Dirgantara Indonesia
dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
pada 4 September 2007. Pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut
dibatalkan. PT Dirgantara Indonesia masih menghadapi masalah keuangan, yang
mempengaruhi pembayaran gaji karyawan, sehingga sering terlambat dibayar.
Tunjangan kesehatan karyawan dihentikan akibat perusahaan menunggak
pembayaran kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, sebesar 3 milyar
rupiah.
Strategi penyelamatan yang dilakukan diawali dengan tahap Rescue (sampai
dengan Desember 2003), Recovery (Januari-Desember 2004) dan kemudian
dilanjutkan dengan tahap Pertumbuhan bisnis.
Penyelamatan perusahaan dan penanganan karyawan diantaranya dilakukan
dengan:
1. Program pengrumahan sementara yang berlaku bagi seluruh karyawan
selama 6 bulan untuk Stop-Bleeding, peningkatan produktivitas dan
pemulihan kepercayaan pelanggan
2. RUPS luar biasa berupa pinjaman modal kerja senilai US $ 39 Juta untuk
PAF/TUDM/MPA-AU/BAe, restrukturisasi keuangan PMS dan RDI/SLA,
pencabutan SKEP sistem pengupahan 15/10/02 kembali ke sistem
sebelumnya, seleksi ulang seluruh karyawan, rasionalisasi 6000 Karyawan,
jual aset non-produktif serta pengubahan susunan BOD & BOC.

10

3. Program seleksi ulang karyawan oleh Konsultan SDM independen "Perso


Data"
4. Program Re-staffing (pemanggilan karyawan yang lulus seleksi ulang)
5. Program Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dilakukan dengan sosialisasi
secara cascade dan melalui media massa
6. Program Re-deployment/Career Change Program berupa konversi
kompetensi, penyaluran ke BUMN lain, penyaluran ke perusahaan swasta
lain, penyaluran ke luar negeri, Training Entrepreneurship dan Family
Counseling
7. Konsep PT Dirgantara Indonesia baru, Re-Fokus lini usaha (terbagi
menjadi 4: Aircraft, Aerostructure, Maintenance

dan Engineering

Service), organisasi baru, restrukturisasi sumber daya, bisnis proses baru


dan budaya perusahaan baru .
Terlepas dari polemik yang ada hingga saat ini PT Dirgantara Indonesia terus
menunjukan geliatnya secara grafik dalam bentuk perkembangan yang positif.
Opini publik dimasyarakat mengenai PT Dirgantara indonesia atau yang dulunya
itu IPTN, yakni sudah dianggap tidak ada. Tanpa mereka sadari bahwa PT
Dirgantara Indonesia terus menerus berusaha memeperbaiki citranya dan
mengembangkan pasarnya. Secara ekonomi bisnis kedirgantaraan ini memang
sangat strategis, perlu kita ingat bahwa PT Dirgantara indonesia hanya satu
satunya industri pesawat yang ada di Asia yang sudah mempunyai segala aspekaspek perusahaan yang baik dari aspek legalitas, sertifikasi dan produksi.
PT Dirgantara indonesia banyak memproduksi dan adanya perawatan pesawat,
hingga adanya suku cadang yang di buat di PT Dirgantara Indonesia. PT
Dirgantara Indonesia tidak habis dalam soal SDM (sumber daya manusia)
mengingat adanya tenaga-tenaga ahli yang banyak didalam lingkungan PT
Dirgantara Indonesia sendiri. PT Dirgantara Indonesia terus menunjukan
eksistensinya kepada dunia dan masyarakat bahwa PT Dirgantara Indonesia belum
habis, dan terus berinovasi dan bertahan demi sebuah eksistensi bangsa terhadap
dunia luar.

11

Gambar 2.6 Pesawat CN 235


Sumber : PT. Dirgantara Indonesia (2014)
2.3 Diskripsi Bisnis
a. Manufaktur pesawat terbang dan helikopter
b. Jasa Engineering/Rancang bangun
c. Jasa perawatan pesawat dan mesin pesawat
d. Jasa manufaktur (pesawat, pertahanan dan industrial)
2.4 Visi dan Misi
2.4.1 Visi
Menjadi perusahaan berkelas dunia dalam industri dirgantara berbasis pada
pengusaan teknologi tinggi dan mampu bersaing dalam pasar global dengan
mengandalakan keunggulan biaya.
2.4.2 Misi
a. Menjalankan usaha dengan selalu berorientasi pada aspek bisnis dan
komersil dan dapat menghasilkan produksi dan jasa yang memiliki
keunggulan bisnis.

12

b. Sebagai pusat keunggulan di bidang industri dirgantara terutama dalam


rekayasa, rancang bangun, manufaktur, produksi dan pemeliharaan untuk
kepentingan komersil dan militer dan juga untuk aplikasi di luar industri
dirgantara.
c. Menjadikan perusahan sebagai pemain kelas dunia di industri global yang
mampu bersaing.
2.5 Makna Logo PT Dirgantara Indonesia

Gambar 2.7 Logo PT Dirgantara Indonesia


Sumber : PT. Dirgantara Indonesia (2014)
a. Warna Biru Angkasa melambangkan langit tempat pesawat terbang
b. Sayap pesawat terbang sebanyak 3 buah, yang melambangkan fase PT
Dirgantara Indonesia yaitu :
1. PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio
2. PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara
3. PT. Dirgantara Indonesia
c. Ukuran Pesawat terbang yang makin membesar melambangkan keinginan
PT Dirgantara Indonesia untuk menjadi perusahaan dirgantara yang
semakin membesar disetiap fasenya.
d. Lingkaran melambangkan bola dunia dimana PT Dirgantara Indonesia
ingin menjadi perusahaan kelas dunia.
2.6 Strategi
Dalam jangka panjang terdapat dua tahap sasaran perusahaan :

13

1. Tahap konsolidasi dan survival (2001-2003)


2. Tahap tumbuh dan sehat (2004 dan seterusnya)
Langkah-langkah strategis meliputi empat upaya :
1. Reorientasi bisnis
2. Restrukturisasi sumber daya manusia dan organisasi
3. Restrukturisasi keuangan dan permodalan
4. Program peningkatan kinerja keuangan
2.7 Pengabdian Masyarakat
Sejak tahun 1995 PT Dirgantara Indonesia membentuk Tim Pembina Pabrik
Domestik (TP2D) yang bertujuan mendorong pertumbuhan industri nasional.
Aktivitas yang dilakukan adalah pelatihan-pelatihan teknologi dan peningkatan
SDM kepada industri kecil dan menengah yang berbasis teknologi. Telah dibina
30 perusahaan yang terdiri dari industri manufaktur, pemeliharaan bengkel,
supplier, laboratorium dan perusahaan penerbangan. Saat ini sedang disiapkan
program yang sama untuk perusahaan yang tergabung dalam ASPEP (Asosiasi
Permesinan dan Pekerjaan Logam).
2.8 Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan PT Dirgantara Indonesia dijarkonkan sebagai SPEED,
yakni:
1. Solid, kompak dan bersinergi sebagai tim, bersikap tulus dan terbuka
untuk mencapai tujuan perusahaan.
2. Professional, ahli dan kompeten sesuai dengan norma profesinya.
3. Excellent, tekad untuk memperoleh keunggulan dan standar kualitas
tertinggi.
4. Enthusiast, semangat dan gairah dalam bekerja dan menghadapi tantangan.
5. Dignity, martabat berlandaskan iman dan takwa.
2.9 Jasa dan Produksi
2.9.1 Aircraft Joint Development and Production
1. CN235 civil
2. CN235 Military

14

3. CN235 Maritime
2.9.2 Service
1. Engineering work packeges; design, development, testing
2. Manufacturing subcontracts
3. Aircraft Maintenace Repair and Overhaul (MRO)
4. Engine Maintenance Repair and Overhaul (MRO)
2.9.3 Aircraft Under License Production
NC212
2.9.4 Helicopter under license production
1. NBELL-412 HP/SP medium twin helicopter
2. Super Puma NAS-332 heavy helicopter
3. NBO-105 CB/CBS light twin helicopter
2.9.5 Subcontract Program
1. Boeing B737, B757, B767
2. Lockheed F16
3. Mitsubishi Heavy Industry
4. Airbus A330, A340, A380
2.9.6 Hasil yang Telah Dicapai
A.

Produk dan Jasa

1. Memproduksi sekitar 298 unit pesawat terbang dan helikopter (97 unit
NC212, 38 unit CN235, 114 unit NBO105, 27 unit NBELL412, 22
NAS332)
2. Memproduksi 50.000 unit roket dan 150 unit terpedo
3. Memproduksi 10.000 unit komponen pesawat terbang (F-16, Boeing,
Airbus)
B.

Penguasaan Teknologi

15

1. Engineering approval: sertifikasi komponen dan pesawat dari DGAC,


IMAA, serta JAA Eropa
2. Quality Assurance approval: General Dynamic dengan persyaratan U.S.
Military Specification MIL-1- 45208A, Bae, Lockhead, The Boeing
Company, Daimler-Benz Aerospace, dan DGAC
3. Fabrication Approval : CASA, The Boeing Company, Fokker, Helikopter
Textron dan Bell.
4. Product Support, Maintenance & Overhaul
a. Aircraft Services Approval :
DGAC (sertifikat menejemen organisasi), Terms of Approval Sultanete
dari OMAN (DGCAM), HANKAM (sertifikat stasiun perbaikan
pesawat militer)
b.

Nusantara Turbin & Propulsi Approval :


1.

Otoriti:
DGAC, FAA, ATO dari Filipina, DGCAM OMAN, TNI-AU, GCA
dari Malaysia

2.

Manajemen:
ISO-9002 (QSC-5508) dari DNV Belanda

3.

Manufaktur:
Allison-Rolls Royce, Rolls Royce, Garret-Allied Signal, Pratt &
Whitney United Technology, General Electric, CFM International,
Solar Turbine - Caterpilar, Union Pump, Cooper Industries

4.

Rancang bangun
a. Rancang bangun dan pengembangan N250 pesawat turbo prop
berkapasitas 50-70 orang dengan teknologi canggih di kelasnya.
Tahap yang dicapai : produksi prototip dan terbang perdana
b. Rancang bangun N2130 pesawat turbo prop regional berkapasitas
100-130 orang. Tahap yang dicapai desain pendahuluan
(preliminary design)

2.10 Tata Kerja Perusahaan


Secara garis besar proses produksi pesawat mencakup beberapa tahapan,
diantaranya:

16

1. Gudang penyimpanan
Sebelum bahan baku diproses menjadi komponen terlebih dahulu
dilakukan evaluasi dan pengujian Quality Assurance melalui destruction
inspection maupun non-destruction inspection. Pengujian dimaksudkan
untuk mengetahui kualitas dan adanya korosi. Selanjutnya bahan baku
tersebut

ditempatkan

di

gudang

penyimpanan

sesuai

dengan

spesifikasinya.

2. Pre-cutting
Bahan baku yang sudah diperiksa dikirim ke bagian pre-cutting sesuai
dengan permintaan bagian produksi disertai job card yang tersedia. Proses
ini dilaksanakan antara lain untuk menghemat bahan yang diproses,
memudahkan pelaksanaan dan pengontrolan bahan. Bahan yang telah
dipotong diperiksa kembali oleh Quality Assurance dan dikirim ke
Fabrikasi untuk proses selanjutnya.
3. Fabrikasi
Bagian ini bertugas membuat komponen pesawat terbang dan helikopter
serta membuat dan menyiapkan tool dan jig sebagai alat bantu pembuatan
kompenen. Pembuatan komponen dilakukan melalui proses permesinan
maupun tidak (di machining shop maupun sheet metal formin). Perlakuan
lain yang diterapkan untuk komponen di atas:
a.

Heat treatment
Suatu perlakuan yang diterapkan terhadap bahan baku sehingga lebih
memudahkan proses pembuatan komponen. Proses yang dilakukan
antara lain: pengerasan, pelunakan dan penormalan kembali. Ketiga
hal tersebut di atas dilakukan dengan cara pemanasan, pendinginan
dan kombinasi antara pemanasan dan pendinginan. Komponen yang
memerlukan perlakuan di atas adalah komponen yang dibuat dengan
cara pengepresan

b.

Surface treatment

17

Suatu perlakuan pelapisan komponen secara kimiawi sehingga


komponen lebih tahan korosi. Selain di atas terdapat perlakuan lain
terhadap komponen dengan cara chemical milling. Komponen yang
mendapat perlakuan di atas antara lain yang dibuat di sheet metal
forming, machining shop juga komponen-komponen yang dibentuk
dengan cara stretch forming dan rubber press.
c.

Pengecatan dasar
Suatu perlakuan lanjut agar komponen-komponen di atas lebih tahan
korosi. Sebelum komponen-komponen di atas dirakit dibagian fixed
wing dan rotary wing diadakan pengujian final oleh bagian Quality
Assurance sesuai data yang tercantum dalam dokumen.

4. Rotary Wing
Bertugas merakit pesawat helikopter dari struktur awal sampai final,
termasuk di dalamnya mesin, sistem elektrik, sistem avionik, interior dan
sebagainya. Perakitan yang disesuaikan dengan pesanan atau kebutuhan
pemesan yang disesuaikan dengan misi dan fungsi pesawat tersebut dalam
operasi.
5. Fixed Wing
Bertugas merakit pesawat bersayap tetap dan proses perakitannya sama
seperti rotary wing.
Skematis tata kerja pembuatan sebuah pesawat selengkapnya ditunjukkan
pada gambar 2.7 .

Gam
bar 2.8 Skematis Tata Kerja PT Dirgantara Indonesia

18

Sumber : PT. Dirgantara Indonesia (2014)


2.11 Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi PT. Dirgantara Indonesia secara keseluruhan, yang dibagi
berdasarkan unit bisnis, ditunjukkan dalam gambar 2.8 Dalam struktur organisasi
ini, presiden direktur membawahi empat buah direktorat yang merupakan unit
bisnis perusahaan dan ditambah dengan direktorat yang berfungsi mengatur
keuangan dan administrasi perusahaan. Kelima direktorat tersebut yaitu Directorat
of Aerostructure, Directorat of Aircraft Integration, Directorat of Aircraft Services,
Directorat of Technology and Development, dan Directorat of Finance and
Administration. Selain itu, presiden direktur juga dibantu oleh Assintant beberapa
divisi, yaitu Division of Security, Division of Integral Audit, dan Division of
Coorporate Planning and Development.
Adapun struktur organisasi Direktorat Aerostucture PT. Dirgantara Indonesia.
Struktur organisasi unit bisnis ini dibagi berdasar kan fungsi yang masing-masing
dijalankan oleh sebuah divisi. Terdapat empat buah divisi yang dibawahi oleh
Direktorat Aerostructure, yaitu Divisi Business Integration, Divisi Engineering,
Divisi Operation Aerostucture, dan Divisi Resource Management Aerostructure.
Divisi Business Integration membawahi beberapa departemen, yaitu Dept. Sales
and Marketing, Dept. Production Planning, dan departemen-departemen yang
menangani program-program yang sedang dijalankan direktorat ini.

19

DIREKTUR UTAMA

UNIT BISNIS STRATREGIS AIRCRAFT SERVICE


ASISTEN DIREKTUR UTAMA BIDANG HUBUNGAN PEMERINTAH SEKERTARIS PERUSAHAAN

SATUAN PENGAWASAN INTERN

DIVISI PEMASARAN & PENJUALAN AIRCRAFT SERVICE

DIVISI PERENCANAAN PERUSAHAAN

DIVISI PENGAMANAN

DIVISI PERAWATAN & MODIFIKASI

DIREKTORAT UMUM & SUMBER DAYA MANUSIA

DIREKTORAT KEUANGAN

DIVISI MANAJEMEN LOGISTIK AIRCRAFT SERVICE

DIVISI KEUANGAN PERUSAHAAN

DIVISI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA


DIVISI KEUANGAN & ADMINISTRASI AIRCRAFT SERVICE

DIVISI PEMBENDAHARAAN

DIVISI ADMINISTRASI SUMBER DAYA MANUSIA

DIVISI AKUNTANSI

DIVISI PENGADAAN UMUM & JASA FASILITAS

DIVISI TEKNOLOGI INFORMASI

DIREKTORAT NIAGA & RESTRUKTURISASI

DIVISI POENGEMBANGAN USAHA

DIVISI PEMASARAN

DIREKTORAT TEKNOLOGI & PENGEMBANGAN

DIVISI MANAJEMEN PROGRAM

DIVISI PUSAT TEKNOLOGI

DIVISI PENJUALAN

DIVISI PUSAT RANCANG BANGUN

DIVISI RESTRUKTURISASI

DIVISI PUSAT UJI TERBANG

DIVISI SERTIFIKASI & KELANGSUNGAN LAIK UDARA

DIREKTORAT PRODUKSI

DIVISI JAMINAN MUTU

DIVISI REKAYASA MANUFAKTUR

DIVISI MANAJEMEN PROGRAM DAN PERENCANAAN

DIVISI PENGADAAN DAN LOGISTIK

DIVISI DETAIL PART MANUFACTURING

DIVISI KOMPONEN DAN PERAKITAN

DIVISI PERAKITAN AKHIR DAN PUSAT DELIVERI

20

Gambar 2.9 Struktur Organisasi PT. Dirgantara Indonesia


Sumber : PT. Dirgantara Indonesia (2014)