Anda di halaman 1dari 21

Portofolio Kasus Medik

PPOK EKSASERBASI AKUT

Oleh :
dr. Zulfahmi

Pendamping :
dr. Jun Almandri Y, M.Kes

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


RSUD LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM
SUMATERA BARAT
2013

Borang Portofolio
No. ID dan Nama Peserta

/dr. Zulfahmi

Nama Wahana

: RSUD Lubuk Basung

Topik

: PPOK eksaserbasi akut

Tanggal (Kasus)

: 18 Oktober 2013

Nama Pasien

: Tn. AI

No. RM

: 129588

Tanggal Presentasi

: 8 November 2013

Nama Pendamping

: dr. Jun Almandri Y, M.Kes

Tempat Presentasi

: Ruang Komite Medik RSUD Lubuk Basung

Obyektif Presentasi

: - Keilmuan
- Diagnostik dan Manajemen
- Dewasa

Deskripsi

: Laki-laki, usia 58 tahun, datang dengan keluhan sesak nafas


yang meningkat sejak 1 hari yang lalu

Tujuan

: Mendiagnosis dan penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut

Bahan Bacaan

: Kasus

Cara Membahas

: Presentasi dan Diskusi

Data Pasien

Nama

: Tn. AI

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 58 tahun

No. MR

: 129588

Alamat

: Cumate

Data Utama untuk Bahan Diskusi


1. Gambaran Klinis:

Sesak nafas yang meningkat sejak 1 hari yang lalu. Sesak sudah dirasakan pasien
sejak 15 hari yang lalu, namun meningkat sejak malam sebelum masuk rumah sakit.
Sesak terutama saat aktivitas, tidak dipengaruhi oleh cuaca dan makanan. Sesak tidak
berbunyi menciut. Sesak bertambah bila batuk. Riwayat tiba-tiba terbangun malam
hari karena sesak tidak ada.

Batuk-batuk lama (+), batuk hilang timbul, batuk berdahak. Sejak 1 minggu ini pasien
merasakan batuk meningkat dan dahak bertambah. Dahak berwarna putih, batuk tidak
berdarah.

Demam tidak ada

Mual dan muntah tidak ada

Nafsu makan menurun

Nyeri ulu hati tidak ada

Nyeri dada tidak ada

Pasien sudah dikenal menderita TB paru, saat ini dalam pengobatan bulan ke-4.

Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak usia remaja. Merokok 1 bungkus per hari.

2. Riwayat Pengobatan : pasien sedang dalam pengobatan TB bulan ke-4


3. Riwayat Penyakit Dahulu : pasien sudah pernah menderita penyakit seperti ini
sebelumnya dan dirawat di RSUD Lubuk Basung, terakhir 1 bulan yang lalu.
4. Riwayat Keluarga : tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
5. Riwayat Pekerjaan : tidak bekerja
Pemeriksaan Fisik :
a. Vital Sign

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Nafas

: 28 x/menit

Suhu

: 36,5o C

Sianosis (-), edema (-), pucat (-)

b. Pemeriksaan sistemik

Kepala : Bentuk normal, rambut hitam, tidak mudah dicabut.

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, 3 mm / 3 mm,
refleks cahaya +/+ normal.

THT : Tidak ada kelainan.

Leher : JVP 5 2 cmH2O, KGB tidak membesar

Thoraks :
Jantung

I : iktus tak terlihat


Pa: iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Pe: batas jantung normal
A: irama murni, teratur, bising (-)

Paru

I : normochest, simetris kiri = kanan, sela iga tidak melebar


Pa: fremitus kiri = kanan
Pe: sonor
A: vesikuler, ronki (+/+) minimal di kedua basal paru, wheezing (+/+),
ekspirasi memanjang

Abdomen :

I : tidak membuncit
Pa: supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar dan lien tidak teraba
Pe: timpani
A: bising usus (+) normal

Ekstremitas : refleks fisiologis + / +, refleks patologis - / -, edema - / -, akral hangat

c. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium (22 Oktober 2013) :


Hb

: 13,6 gr/dl

Leukosit

: 7850/mm3

Trombosit : 291.000/mm3
Ht

: 45 %

Foto thorax : corakan bronkovaskuler meningkat

EKG : normal

Diagnosis
PPOK eksaserbasi akut + TB paru dalam pengobatan

Penatalaksanaan

O2 2 L/menit

IVFD D5% + drip aminofilin 1 ampul 15 tetes/menit

Nebu combivent setiap 6 jam

Metylprednisolon 2 x ampul (2 x 62,5 mg) IV

Ceftriaxone 1x2 gr IV

Ranitidin 2x1 ampul IV

Ambroxol syr 3 x C1

OAT lanjut

Diet ML TKTP

Follow Up
19 Oktober 2013
S/

Sesak (+) berkurang


Batuk (+)

O/

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah : 100/70 mmHg


Nadi

: 88 x/menit

Nafas

: 24 x/menit

Suhu

: 36o C

Kulit

: sianosis (-)

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher

: JVP 5 2 cmH2O, KGB tidak membesar

Jantung

: irama teratur, bising (-)

Paru

: vesikuler, ronki +/+ minimal di kedua basal paru, wheezing -/-,


ekspirasi memanjang

A/

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat, refilling kapiler baik, edema -/-

PPOK eksaserbasi akut (perbaikan)


TB paru dalam pengobatan

Terapi : - O2 2 L/menit
-

IVFD D5% + drip aminofilin 1 ampul 10 tetes/menit

Nebu combivent setiap 8 jam

Metylprednisolon 2 x ampul (2 x 62,5 mg) IV

Ceftriaxone 1x2 gr IV

Ranitidin 2x1 ampul IV

Ambroxol syr 3 x C1

OAT lanjut

Diet ML TKTP

21 Oktober 2013
S/

Sesak (+) berkurang


Batuk (+)

O/

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah : 120/80 mmHg

A/

Nadi

: 88 x/menit

Nafas

: 24 x/menit

Suhu

: 36o C

Kulit

: sianosis (-)

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher

: JVP 5 2 cmH2O, KGB tidak membesar

Jantung

: irama teratur, bising (-)

Paru

: vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-, ekspirasi memanjang

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat, refilling kapiler baik, edema -/-

PPOK eksaserbasi akut (perbaikan)


TB paru dalam pengobatan

Terapi : - O2 2 L/menit
-

IVFD D5% 10 tetes/menit

Nebu combivent setiap 8 jam

Dexamethasone 3x1 ampul IV

Ceftriaxone 1x2 gr IV

Ranitidin 2x1 ampul IV

Ambroxol syr 3 x C1

OAT lanjut

Diet ML TKTP

22 Oktober 2013
S/

Sesak (+) berkurang


Batuk (+) berkurang

O/

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah : 120/80 mmHg

A/

Nadi

: 76 x/menit

Nafas

: 24 x/menit

Suhu

: 36o C

Kulit

: sianosis (-)

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher

: JVP 5 2 cmH2O, KGB tidak membesar

Jantung

: irama teratur, bising (-)

Paru

: vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-, ekspirasi memanjang

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat, refilling kapiler baik, edema -/-

PPOK eksaserbasi akut (perbaikan)


TB paru dalam pengobatan

Terapi : - O2 bila perlu


-

IVFD D5% 10 tetes/menit

Nebu combivent setiap 8 jam

Dexamethasone 2x1 ampul IV

Ceftriaxone 1x2 gr IV

Ranitidin 2x1 ampul IV

Ambroxol syr 3 x C1

OAT lanjut

Diet ML TKTP

23 Oktober 2013
S/

Sesak (-)

Batuk (+) berkurang


O/

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah : 130/80 mmHg

A/

Nadi

: 90 x/menit

Nafas

: 22 x/menit

Suhu

: 36o C

Kulit

: sianosis (-)

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher

: JVP 5 2 cmH2O, KGB tidak membesar

Jantung

: irama teratur, bising (-)

Paru

: vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas

: akral hangat, refilling kapiler baik, edema -/-

PPOK eksaserbasi akut (perbaikan)


TB paru dalam pengobatan

P/

Pasien diperbolehkan pulang dan kontrol ke poliklinik penyakit dalam

Obat pulang

: - Aminofilin 3 x 150 mg
-

Salbutamol 3 x 2 mg

Ambroxol syr 3 x C1

B6 1x1 tab

OAT lanjut

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif
Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh sesak nafas yang meningkat sejak
1 hari yang lalu, sesak sudah dirasakan pasien sejak 15 hari yang lalu, sesak terutama
saat aktivitas dan bertambah bila batuk. Pasien juga mengeluh batuk berdahak
meningkat sejak 1 minggu ini, dahak berwarna putih. Pasien juga merasakan nafsu
makan menurun. Pasien sudah dikenal menderita TB paru, saat ini dalam pengobatan
bulan ke-4. Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak usia remaja, merokok 1
bungkus per hari. Pasien sudah pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya dan
dirawat di RSUD Lubuk Basung, terakhir 1 bulan yang lalu. Keluhan-keluhan pasien

tersebut merupakan gambaran klinis yang mengarah kepada penyakit PPOK


eksaserbasi akut.
2. Objektif
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,
kesadaran komposmentis kooperatif, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 84 x/menit,
nafas 28 x/menit, suhu 36,5oC. Pada pemeriksaan fisik paru didapatkan normochest,
simetris kiri dan kanan, sela iga tidak melebar, fremitus kiri sama dengan kanan, sonor,
suara nafas vesikuler, ronki (+/+) minimal di kedua basal paru, wheezing (+/+), dan
ekspirasi memanjang. Hal ini menunjukkan adanya tanda-tanda penyakit PPOK.
Dari pemeriksaan penunjang yaitu foto toraks memperlihatkan gambaran corakan
bronkovaskuler yang meningkat, yang menunjukkan kesan suatu penyakit bronkitis
kronis.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, dapat
disimpulkan diagnosis kerja pasien adalah PPOK eksaserbasi akut dengan TB paru dalam
pengobatan.
3. Assesment
Definisi
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang ditandai
oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau
reversibel parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan
keduanya.
Bronkitis kronik adalah kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik
berdahak minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut - turut,
tidak disebabkan penyakit lainnya. Emfisema adalah suatu kelainan anatomis paru yang
ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan
dinding alveoli. Pada prakteknya cukup banyak penderita bronkitis kronik juga
memperlihatkan tanda-tanda emfisema, termasuk penderita asma persisten berat dengan
obstruksi jalan napas yang tidak reversibel penuh, dan memenuhi kriteria PPOK.
Epidemiologi
Di Indonesia tidak ada data yang akurat tentang kekerapan PPOK. Pada Survai
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 asma, bronkitis kronik dan emfisema

menduduki peringkat ke - 5 sebagai penyebab kesakitan terbanyak dari 10 penyebab


kesakitan utama. SKRT Depkes RI 1992 menunjukkan angka kematian karena asma,
bronkitis kronik dan emfisema menduduki peringkat ke - 6 dari 10 penyebab tersering
kematian di Indonesia.
Di negara dengan prevalensi TB paru yang tinggi, terdapat sejumlah besar penderita
yang sembuh setelah pengobatan TB. Pada sebagian penderita, secara klinik timbul
gejala sesak terutama pada aktivitas, radiologik menunjukkan gambaran bekas TB
(fibrotik, klasifikasi) yang minimal, dan uji faal paru menunjukkan gambaran obstruksi
jalan napas yang tidak reversibel. Kelompok penderita tersebut dimasukkan dalam
kategori penyakit Sindrom Obstruksi Pascatuberkulosis (SOPT).
Faktor Risiko
Faktor yang berperan dalam pathogenesis ppok adalah sebagai berikut.
1. Kebiasaan merokok, merupakan satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh
lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu
diperhatikan :
a) Riwayat merokok
- Perokok aktif
- Perokok pasif
- Bekas perokok
b) Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah ratarata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun :
- Ringan : 0-200
- Sedang : 200-600
- Berat : >600
2. Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja
3. Hipereaktivitas bronkus
4. Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang
5. Defisiensi antitripsin alfa - 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia
Patofisiologi
Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena perubahan
struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan
hipertropi otot polos.

Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus, metaplasia sel
goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi akibat fibrosis. Emfisema
ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan
dinding alveoli. Secara anatomik dibedakan tiga jenis emfisema:

Emfisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer,


terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama.

Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan


terbanyak pada paru bagian bawah.

Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas distal,
duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura.

Konsep patogenesis PPOK

Perbedaan patogenesis asma dan PPOK

Diagnosis
a. Anamnesis
Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala ringan
hingga berat. Pada anamnesis biasanya didapatkan:
- Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan
- Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
- Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
- Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, misal berat badan lahir rendah (BBLR),
infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara
- Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
- Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi
b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
-

Pursed - lips breathing, adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut
mencucu dan ekspirasi yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai
mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal
napas kronik.

Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)

Penggunaan otot bantu napas

Hipertrofi otot bantu napas

Pelebaran sela iga

Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis di leher
dan edema tungkai

Penampilan pink puffer (gambaran yang khas pada emfisema, penderita


kurus, kulit kemerahan dan pernapasan pursed lips breathing) atau blue
bloater (gambaran khas pada bronkitis kronik, penderita gemuk sianosis,
terdapat edema tungkai dan ronki basah di basal paru, sianosis sentral dan
perifer)

Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar
Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma rendah,
hepar terdorong ke bawah
Auskultasi
-

suara napas vesikuler normal, atau melemah

terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi
paksa

ekspirasi memanjang

bunyi jantung terdengar jauh

c. Pemeriksaan penunjang
1. Faal paru
Spirometri
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 dan/atau VEP1/KVP. Obstruksi
dinyatakan jika VEP1 < 80% prediksi dan/atau VEP1/KVP < 70%. VEP1
merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya
PPOK dan memantau perjalanan penyakit.
Uji bronkodilator
Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, 15 - 20 menit
kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 yaitu < 20% nilai awal dan < 200 ml.
Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil.
2. Darah rutin. Timbulnya polisitemia menunjukkan telah terjadi hipoksia kronik.
3. Radiologi
Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain. Pada
emfisema terlihat gambaran hiperinflasi, hiperlusen, ruang retrosternal melebar,

diafragma mendatar, dan jantung menggantung (jantung pendulum). Pada


bronkitis kronik pada umumnya normal. Corakan bronkovaskuler meningkat pada
21 % kasus.
4. Elektrokardiografi, untuk mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh
hipertrofi ventrikel kanan.
5. Kadar alfa-1 antitripsin, rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia
muda), defisiensi antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia.
PPOK dinyatakan secara klinis apabila sekurang-kurangnya pada anamnesis
ditemukan adanya riwayat pajanan faktor risiko disertai batuk kronik dan berdahak
dengan sesak nafas terutama pada saat melakukan aktivitas pada seseorang yang berusia
pertengahan atau lebih tua.
Klasifikasi/derajat PPOK berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstruction Lung
Disease (GOLD) 2005 dibagi menjadi 3 derajat yaitu:
Derajat
Ringan

Sedang

Gejala Klinis
- dengan atau tanpa batuk

Spirometri
- VEP1 > 80% prediksi

- dengan atau tanpa produksi sputum

- VEP1/KVP < 70%

- sesak napas saat aktivitas berat


- dengan atau tanpa batuk
- dengan atau tanpa produksi sputum

Berat

- VEP1 30-80% prediksi


- VEP1/KVP < 70%

- sesak napas saat aktivitas sedang


- sesak napas saat aktivitas ringan dan - VEP1 < 30% prediksi
istirahat

- VEP1/KVP < 70%

- disertai komplikasi kor pulmonal atau


gagal jantung kanan
Diagnosis Banding
Dalam menegakkan diagnosis PPOK perlu disingkirkan kemungkinan penyakit lain
seperti asma, SOPT (Sindroma Obstruksi Pasca Tuberculososis) dan gagal jantung
kronik. SOPT adalah penyakit obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita
pascatuberculosis dengan lesi paru yang minimal.
Perbedaan asma, PPOK dan SOPT

Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan pada pasien PPOK adalah :
-

Mengurangi gejala

Mencegah eksaserbasi berulang

Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru

Meningkatkan kualitas hidup penderita

Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi :


1. Edukasi
Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada
PPOK stabil. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK
adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah
menyesuaikan keterbatasan aktivitas dan mencegah kecepatan perburukan fungsi
paru. Berbeda dengan asma yang masih bersifat reversibel, menghindari pencetus dan
memperbaiki derajat adalah inti dari edukasi atau tujuan pengobatan dari asma.
Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah

Pengetahuan dasar tentang PPOK

Obat - obatan, manfaat, cara penggunaan, dan efek sampingnya

Cara pencegahan perburukan penyakit

Menghindari pencetus (berhenti merokok)

Penyesuaian aktivitas

Penilaian dini eksaserbasi akut dan pengelolaannya

2. Obat - obatan
a. Bronkodilator
Bronkodilator diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis
bronkodilator dan disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit.
Pemilihan bentuk obat diutamakan inhalasi, nebuliser tidak dianjurkan pada
penggunaan jangka panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas
lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting). Macam-macam
bronkodilator :
-

Golongan antikolinergik, digunakan pada derajat ringan sampai berat,


disamping sebagai bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir (maksimal 4
kali per hari).

Golongan agonis beta-2. Bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak,


peningkatan jumlah penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya eksaserbasi.
Sebagai obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek
panjang. Bentuk nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi akut,
tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Bentuk injeksi subkutan
atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat.

Kombinasi antikolinergik dan agonis beta-2. Kombinasi kedua golongan obat


ini akan memperkuat efek bronkodilatasi, karena keduanya mempunyai tempat
kerja yang berbeda. Disamping itu penggunaan obat kombinasi lebih
sederhana dan mempermudah penderita.

Golongan xantin, dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan pemeliharaan


jangka panjang, terutama pada derajat sedang dan berat. Bentuk tablet biasa
atau puyer untuk mengatasi sesak (pelega napas), bentuk suntikan bolus atau
drip untuk mengatasi eksaserbasi akut. Penggunaan jangka panjang diperlukan
pemeriksaan kadar aminofilin darah.

b. Antiinflamasi
Antiinflamasi digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau
injeksi intravena, berfungsi menekan inflamasi yang terjadi, dipilih golongan
metilprednisolon atau prednison.
c. Antibiotika

Antibiotik diberikan bila terdapat infeksi. Dalam perawatan di rumah sakit pilihan
antibiotik yang digunakan seperti amoksisilin dan asam klavulanat, sefalosporin
generasi II & III injeksi, dan kuinolon per oral.
d. Antioksidan
Antioksidan dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualitas hidup,
digunakan N - asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang
sering, tidak dianjurkan sebagai pemberian yang rutin
e. Mukolitik
Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat
perbaikan eksaserbasi, terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang
viscous. Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik, tetapi tidak
dianjurkan sebagai pemberian rutin.

3. Terapi Oksigen
Pada PPOK terjadi hipoksemia progresif dan berkepanjangan yang menyebabkan
kerusakan sel dan jaringan. Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat
penting untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik
di otot maupun organ-organ lainnya.
Terapi oksigen dapat dilaksanakan di rumah maupun di rumah sakit. Terapi
oksigen di rumah diberikan kepada penderita PPOK stabil derajat berat dengan gagal
napas kronik. Sedangkan di rumah sakit oksigen diberikan pada PPOK eksaserbasi
akut di unit gawat darurat, ruang rawat ataupun ICU.
Terapi oksigen jangka panjang yang diberikan di rumah pada keadaan stabil
terutama bila tidur atau sedang aktivitas, lama pemberian 15 jam setiap hari,
pemberian oksigen dengan nasal kanul 1 - 2 L/mnt. Terapi oksigen pada waktu tidur
bertujuan mencegah hipoksemia yang sering terjadi bila penderita tidur. Terapi
oksigen pada waktu aktivitas bertujuan menghilangkan sesak napas dan meningkatkan
kemampuan aktivitas.
PPOK Eksaserbasi Akut
Eksaserbasi akut pada PPOK berarti timbulnya perburukan dibandingkan dengan
kondisi sebelumnya. Eksaserbasi dapat disebabkan infeksi atau faktor lainnya seperti
polusi udara, kelelahan atau timbulnya komplikasi. Gejala eksaserbasi berupa :

Sesak bertambah

Produksi sputum meningkat

Perubahan warna sputum

Eksaserbasi akut akan dibagi menjadi tiga :


a. Tipe I (eksaserbasi berat), memiliki 3 gejala di atas
b. Tipe II (eksaserbasi sedang), memiliki 2 gejala di atas
c. Tipe III (eksaserbasi ringan), memiliki 1 gejala di atas ditambah infeksi saluran napas
atas lebih dari 5 hari, demam tanpa sebab lain, peningkatan batuk, peningkatan mengi
atau peningkatan frekuensi pernapasan > 20% atau frekuensi nadi > 20%
Penanganan eksaserbasi akut dapat dilaksanakan di rumah (untuk eksaserbasi
yang ringan) atau di rumah sakit (untuk eksaserbasi sedang dan berat). Penatalaksanaan
eksaserbasi akut ringan dilakukan di rumah oleh penderita yang telah diedukasi dengan
cara :
-

Menambahkan dosis bronkodilator atau dengan mengubah bentuk bronkodilator yang


digunakan dari bentuk inhaler, oral dengan bentuk nebuliser
- Menggunakan oksigen bila aktivitas dan selama tidur
- Menambahkan mukolitik
- Menambahkan ekspektoran

Bila dalam 2 hari tidak ada perbaikan penderita harus segera ke dokter.
Prinsip penatalaksanaan PPOK pada eksaserbasi akut adalah mengatasi segera
eksaserbasi yang terjadi dan mencegah terjadinya gagal napas. Bila telah menjadi gagal
napas segera atasi untuk mencegah kematian. Beberapa hal yang harus diperhatikan
meliputi :
1. Diagnosis beratnya eksaerbasi dengan menilai derajat sesak, frekuensi napas,
pernapasan paradoksal, kesadaran, dan tanda vital
2. Terapi oksigen adekuat
Pada eksaserbasi akut terapi oksigen merupakan hal yang pertama dan utama,
bertujuan untuk memperbaiki hipoksemi dan mencegah keadaan yang mengancam
jiwa. dapat dilakukan di ruang gawat darurat, ruang rawat atau di ICU. Sebaiknya
dipertahankan Pao2 > 60 mmHg atau Sat O2 > 90%. Bila terapi oksigen tidak dapat
mencapai kondisi oksigenasi adekuat, harus digunakan ventilasi mekanik. Dalam
penggunaan ventilasi mekanik usahakan dengan Noninvasive Positive Pressure
Ventilation (NIPPV), bila tidak berhasil ventilasi mekanik digunakan dengan intubasi.
3. Pemberian obat-obatan yang maksimal

a. Antibiotik
Pemilihan antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat dan komposisi
kombinasi antibiotik yang mutakhir. Pemberian antibiotik di rumah sakit sebaiknya
per drip atau intravena, sedangkan untuk rawat jalan bila eksaserbasi sedang
sebaiknya kombinasi dengan makrolide, bila ringan dapat diberikan tunggal.
b. Bronkodilator
Bila rawat jalan B-2 agonis dan antikolinorgik harus diberikan dengan peningkatan
dosis. Inhaler masih cukup efektif bila digunkan dengan cara yang tepat, nebuliser
dapat digunakan agar bronkodilator lebih efektif. Golongan xantin diberikan
bersama dengan bronkodilator lainnya karena mempunyai efek memperkuat otot
diafragma. Dalam perawatan di rumah sakit, bronkodilator diberikan secara
intravena dan nebuliser, dengan pemberian lebih sering perlu monitor ketat
terhadap timbulnya palpitasi sebagai efek samping bronkodilator.
c. Kortikosteroid
Tidak selalu diberikan tergantung derajat berat eksaserbasi. Pada eksaserbasi derajat
sedang dapat diberikan prednison 30 mg/hari selama 1-2 minggu, pada derajat berat
diberikan secara intravena. Pemberian lebih dari 2 minggu tidak memberikan manfaat
yang lebih baik, tetapi lebih banyak menimbulkan efek samping.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada PPOK adalah :
1.Gagal napas, ditandai oleh sesak napas dengan atau tanpa sianosis, sputum bertambah
dan purulen, demam, dan penurunan kesadaran.
2.Infeksi berulang. Pada pasien PPOK produksi sputum yang berlebihan menyebabkan
terbentuknya koloni kuman, hal ini memudahkan terjadi infeksi berulang. Pada
kondisi kronik ini imunitas menjadi lebih rendah, ditandai dengan menurunnya kadar
limfosit darah.
3.Kor pulmonal, ditandai oleh P pulmonal pada EKG, hematokrit > 50 %, dapat disertai
gagal jantung kanan.
4.

Plan
Diagnosis : PPOK eksaserbasi akut
TB paru dalam pengobatam

Pengobatan :
Tatalaksana awal pada pasien ini adalah perbaikan keadaan umum yaitu terapi oksigen
2 L/menit untuk mengurangi sesak dan mempertahankan oksigenasi seluler. Obat-obatan
yang diberikan pada pasien terutama adalah kombinasi 2 macam bronkodilator yaitu drip
aminofilin 1 ampul dalam 500 cc IVFD D5% 15 tetes/menit dan nebulizer combivent
tiap 6 jam, injeksi metylprednisolon 2 x ampul (2 x 62,5 mg) untuk menekan inflamasi
yang terjadi, antibiotik berupa injeksi ceftriaxone 1x2 gram, dan ambroxol 3xC1 untuk
mengencerkan dahak. Obat antituberkulosis yang sedang dikonsumsi pasien dilanjutkan.
Pada hari rawatan kedua, keadaan umum pasien membaik, sesak dirasakan berkurang.
Dari gambaran klinis dan pemeriksaan fisik didapatkan adanya perbaikan. Nebulizer
combivent yang diberikan pada pasien dikurangi menjadi tiap 8 jam sedangkan terapi
lain dilanjutkan. Pada hari rawatan keempat, keadaan klinis pasien membaik. Pemberian
drip aminofilin dihentikan sementara, injeksi methylprednisolon diganti dengan injeksi
dexamethasone 3x1 ampul, terapi lain dilanjutkan. Pada hari rawatan kelima keadaan
klinis pasien semakin membaik. Oksigen pada pasien dilepas, injeksi dexamethasone
dikurangi menjadi 2x1 ampul, terapi lain dilanjutkan.
Pada hari rawatan keenam pasien diperbolehkan pulang dan dianjurkan untuk kontrol
penyakitnya ke poliklinik penyakit dalam.
Pendidikan
Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan mengenai penyakit ini, bahwa penyakit yang
diderita pasien bersifat kronik dan irreversible. Pasien diedukasi untuk mengurangi atau
menghentikan kebiasaan merokok karena dapat memperburuk kondisi penyakitnya.
Selain itu dijelaskan juga kepada pasien untuk melakukan penyesuaian aktifitas yang
cocok dengan kondisi penyakitnya, pengetahuan mengenai obat-obatan, manfaat, cara
penggunaan, dan efek sampingnya, serta penilaian dini akan kemungkinan kekambuhan
penyakit dan pengelolaannya.
Konsultasi
Dilakukan konsultasi kepada spesialis penyakit dalam untuk penangan pasien
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK):
Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI.
2. Riyanto BS, Hisyam B. 2007. Obstruksi Saluran Pernapasan Akut dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: FKUI. Hal 978-87.
3. Pauwels R. 2003. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, Pocket Guide
to COPD Diagnosis, Management, and Prevention.