Anda di halaman 1dari 26

Assalamualaikum

REFERAT

-SINUSITISOleh :
ETIKA SEPTIRA (1102010090)

Pembimbing :
dr. ASWALDI AHMAD, Sp. THT
KEPANITRAAN KLINIK
TELINGA, HIDUNG, TENGGOROK
RSUD PASAR REBO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
JAKARTA

ANATOMI
SINUS PARANASAL

Sinus Paranasal

Ada empat pasang sinus paranasal, yaitu


sinus maksilaris
sinus etmoidalis
sinus frontalis
sinus sfenoidalis
Secara embriologi, sinus paranasal berasal
dari invaginasi mukosa rongga hidung.

1. Sinus Maksila
2. Sinus Frontal

3. Sinus Etmoid

4. Sinus Sfenoid

Kompleks Ostium Meatal

Penyusun KOM

FISIOLOGI
SINUS PARANASAL

Sistem Mukosiliar

Fungsi Sinus
Paranasal

Sebagai pengatur kondisi udara


Sebagai penahan suhu
Membantu keseimbangan kepala
Membantu resonansi udara
Peredam perubahan tekanan udara (saat
bersin atau membuang ingus)
Membantu produksi mukus untuk
membersihkan rongga hidung.

SINUSITIS

Definisi

Sinusitis adalah suatu inflamasi mukosa satu


atau lebih sinus paranasalis .
Sesuai anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi
menjadi sinusitis maksila, sinusitis ethmoid,
sinusistis frontal, dan sinusitis sphenoid.
Bila mengenai beberapa sinus disebut
multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis.
Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis
maksila dan ethmoid.

Etiologi & Faktor


Predisposisi

ISPA akibat virus, seperti rinitis terutama rinitis alergi,


rinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung.
Kelainan anatomi seperti septum deviasi atau hipertrofi
konka.
Sumbatan kompleks ostio-meatal (KOM), Infeksi tonsil,
infeksi gigi, kelainan imunologik.
Diskinesia silia seperti pada sindroma Kartagener
Pada Anak penyebab utama hipertrofi adenoid
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan
berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan
merokok. Keadaan ini lama menyebabkan perubahan
mukosa dan merusak silia.

Mikrobiologi

Menurut berbagai penelitian, bakteri utama


yang ditemukan pada sinusitis akut adalah
Streptococcus Pneumonia (30-50%),
Hemophylus Influenzae (20-40%) dan
Moraxella Catarrhalis (4%).
Pada anak, M. Catarrhalis (20%) lebih banyak
ditemukan.
Pada sinusitis kronik, umumnya bakteri negatif
gram dan anaerob

Klasifikasi

Sinusitis Rhinogen dibagi atas :


Akut
: beberapa hari sampai 4 minggu
Sub-Akut : 4 minggu sampai 3 bulan
Kronik : lebih dari 3 bulan

Sinusitis Dentogen
Sinusitis Jamur
Bentuk Invasif
Akut fulminan
Kronik indolen

Bentuk Non-Invasif

Patofisiologi

Letak organ-organ
pembentuk KOM
berdekatan

Sekret menjadi
purulen

Inflamasi
berlanjut
menyebabkan
hipoksia

Terjadi Edema
Sekret di
tumbuhi oleh
bakteri

Mukosa yang
berhadapan saling
bertemu, sehingga
silia tidak dapat
bergerak..

Terjadi transudasi
(serouse)

OBSTRUKSI pada
Ostium

Terjadi tekanan
negative (-) di
rongga sinus

bakteri
anaerob
berkembang

mukosa
makin
membengkak

perubahan
mukosa yang
kronik

hipertrofi,
polipoid/
pembentukan
polip dan kista

Gejala Klinik

Sinusitis akut adalah hidung tersumbat, nyeri/rasa tekanan


pada muka dan ingus purulen, seringkali turun ke tenggorok (post
nasal drip). Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan
lesu.

sinusitis kronik tidak khas, sehingga sulit didiagnosis. sakit


kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok,
gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba eustachius,
gangguan ke paru seperti bronkitis (sino-bronkitis), bronkiektasis
dan yang penting adalah serangan asma yang meningkat dan
sulit di obati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapat
menyebabkan gastroenteritis.

Cont...

Sinusitis dentogen
Terdapat sinusitis maksila kronik yang mengenai satu sisi (unilateral) dengan
ingus purulen dan napas berba busuk.
Sinusitis jamur
Bentuk Invasif
Invasif akut fulminan
Di kavum nasi, mukosa berwarna biru-kehitaman dan ada mukosa konka
atau septum yang nekrotik.
Invasif kronik indolen
sinusitis bakterial, tetapi sekret hidungnya kental dengan bercak-bercak
kehitaman, yang bila dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur
Bentuk Non-Invasif
Gejala klinis menyerupai sinusitis kronis berupa rinor purulen, post nasal
drip, dan napas bau. Kadang-kadang ada massa jamur di kavum nasi

Diagnosis

Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
- Nyeri tekan
- Rhinoskopi Anterior dan Posterior
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan foto polos (radiologik)
- CT Scan
- Pemeriksaan Transimulasi
- Pemeriksaan Mikrobiologi
- Sinuskopi

Diagnosis Banding

Rhinitis Alergi
Rhinitis Non Alergi
Rhinitis Medikamentosa

Penatalaksanaan

Prognosis

Sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh


secara spontan tanpa pemberian antibiotik.
Terkadang juga penderita bisa mengalami
relaps setelah pengobatan namun jumlahnya
sedikit yaitu kurang dari 5 %.
Sinusitis kronik yaitu jika dilakukan
pengobatan yang dini maka akan
mendapatkan hasil yang baik.

Komplikasi

Kelainan Orbita
Edema palpebra, selulitis
orbita, abses subperiostal,
abses orbita, dan selanjutnya
dapat trjadi trombosis sinus
kavernosus
Kelainan Intrakranial
Meningitis, abses ekstradural
atau subdural, abses otak, dan
trombosis sinus kavernosus

Osteomielitis dan
abses subperiostal
Kelainan Paru
Bronkitis kronik dan
bronkietaksis.

Terimakasih

Wassalamualaikum