Anda di halaman 1dari 6

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi

MUHAMMAD IQBAL AL GHIFFARY CALON PESERTA PELATIHAN KADER LANJUT PC PMII


SURABAYA

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi


(Preparasi Persaingan Bebas Dunia)
Oleh M. Iqbal Al Ghiffary
Integrasi ekonomi merupakan langkah penting bagi pencapaian ASEAN Economic Community yang
berdaya saing dan berperan aktif dalam ekonomi global. Sejak dulu, secara geopolitik dan
geoekonomi, kawasan Asia Tenggara memiliki nilai yang sangat strategis. Indonesia merupakan salah
satu negara partisipan Masyarakat Ekonomi Asean. Negara dengan julukan negeri Nusantara, yang
berarti Negara Kepulauan ini sejatinya menjadi sebuah pemain yang sangat berpengaruh. Dalam essay
kali ini saya akan menyoroti persiapan Indonesia dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean,
dalam Kedaulatan Energi terutama menyoroti tentang Desain Tata Kelola Migas kita yang masih
menjadi permasalahan hingga saat ini. Saya ingin mengutip analogi yang diberikan oleh bapak
proklamator kita Bung Karno, beliau berkata Untuk melakukan apapun dimuka bumi ini kita
memerlukan energi, maka negara manapun yang mampu menguasai energi , maka ia akan mampu
untuk melakukan apapun,salah satunya adalah menguasai dunia. Oleh karena itu, kedaulatan energi
sangatlah penting guna mewujudkan Bangsa Indonesia yang mandiri.

Energi Salah Kelola, salah siapa?


Energi merupakan salah satu issue yang paling menarik untuk di perbincangkan bahan di perebutkan
di dunia. Peperangan antar bangsa yang saat ini masih sering terdengar dalam berita, tidak jarang
sangat berkaitan erat dengan perebutan sektor energi. Komoditas dunia akan sumber daya energi ini
menunjukkan tren bahwa permintaan selalu melonjak naik, namun tidak berlaku dengan sumber daya
yang dimiliki. Ini menjadi sebuah dilema bagi kita kalangan muda, dalam melihat dan menjaga sektor
kekinian terkait kedaulatan energi nasional.
Berangkat dari analisa Hulu Migas kita yang saat ini masih sangat memprihatinkan. Persoalan di sektor
hulu ini sangat erat kaitannya dengan penguasaan sumber daya energi dan mineral dengan dominasi
pemain asing dewasa ini. Setidaknya hampir 88,8% untuk sumur minyak, 75% untuk aneka jenis
tambang, 85% tambang tembaga dan emas, serta tak lupa pula 50% lahan perkebunan sawit kitapun
terkuasai oleh bangsa pendatang.

MUHAMMAD IQBAL AL GHIFFARY CALON PESERTA PELATIHAN KADER LANJUT PC PMII


SURABAYA

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi


Sebelum kita berlari terlalu jauh dalam pembenahan sektor Energi ini, saya mencoba untuk membahas
tentang Desain Tata Kelola MIGAS kita yang jarang disentuh oleh stakeholder negara ini. Dalam
industri migas, terdapat tiga fungsi utama yang diperlukan agar potensi keekonomian migas dapat
dimaksimalkan, yaitu: Kebijakan (Policy), regulasi (Regulatory) dan komersial (Business). Setiap negara
memiliki konsep yang berbeda-beda. Ada yang memisahkan ketiga fungsi tersebut, namun ada juga
yang tidak memisahkan. Gambar dibawah ini menunjukkan bagaimana variasi tata kelola migas yang
berlaku di negara-negara penghasil minyak.

(a)

(b)

(c)

Sumber : Benny Lubiantara, Ekonomi Migas: Tinjauan Aspek Komersial Kontrak Migas, Grasindo,
2012.
Gambar (a) adalah pola yang sekarang berlaku di Indonesia sebagai imbas dari implementasi
UU no 22 tahun 2001 dimana Pertamina sebagai entitas bisnis (BUMN) dan SKK Migas sebagai entitas
regulasi (BHMN). Sebagai BHMN, SKK Migas mewakili pemerintah. Pola seperti ini membuat hubungan
kontrak migas menjadi B to G (Business to Government) yang artinya kedudukan negara dan
perusahaan setara pada hukum kontrak.
Gambar (b) adalah pola dimana entitas bisnis menjadi entitas regulasi sekaligus. Pola ini
pernah juga berlaku di Indonesia saat negeri ini masih menganut UU no 8 tahun 1971. Pada saat itu
Pertamina adalah superbody, lembaga raksasa yang berfungsi sebagai perusahaan besar sekaligus
menjadi badan pengatur. Ibarat permainan sepakbola, konsep ini membuat seorang wasit juga dapat
berperan sebagai pemain. Pola seperti ini membuat kontrak migas menjadi B to B (Business to
Business) dimana kedudukan perusahaan adalah sama rata.

MUHAMMAD IQBAL AL GHIFFARY CALON PESERTA PELATIHAN KADER LANJUT PC PMII


SURABAYA

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi


Gambar (c) adalah pola dimana regulasi industri perminyakan dibawahi langsung oleh
pemerintah melalui kementerian terkait. Bedanya dengan pola (a), pemerintah tidak perlu
membentuk lembaga baru. Di beberapa negara penganut pola (c), regulator dipegang oleh dirjen
migas di kementerian ESDM atau energi.
Pertanyaannya, mana yang lebih baik terutama kaitannya dengan kinerja sektor hulu? Dalam buku
berjudul Ekonomi Migas yang ditulis oleh Benny Lubiantara, ada bagian khusus yang membahas
masalah ini. Benny dalam bukunya menyampaikan hasil penelitian Thurber tahun 2011,yang pernah
melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui pengaruh konsep tata kelola migas dengan kinerja
sektor hulu. Thurber membuat dua hipotesa. Pertama, pemisahan ketiga fungsi (pola (a)) memiliki
korelasi positif terhadap kinerja sektor hulu migas. Kedua, semakin baik kapasitas kelembagaan dan
semakin tinggi persaingan politik, maka kinerja sektor hulu juga berdampak baik.
Hasil penelitian Thurber menunjukkan bahwa kepentingan untuk memisahkan ketiga fungsi tersebut
akan semakin rendah jika persaingan politik juga semakin rendah. Contoh ini berlaku di negara
Malaysia, Angola dan Saudi Arabia. Sementara sebaliknya, jika persaingan politik semakin tinggi,
kecenderungan untuk memisahkan ketiga fungsi tersebut semakin meningkat. Contoh ini berlaku di
negara seperti Norwegia, Brazil, Meksiko dan Nigeria.
Terkait hubungan pemisahan ketiga fungsi dengan kinerja sektor hulu, penelitian Thurber
menunjukkan bahwa hanya Norwegia dan Brazil, yang memisahkan ketiga fungsi, yang secara
meyakinkan menunjukkan adanya korelasi positif antara kinerja sektor hulu dengan pemisahan tiga
fungsi tersebut. Sebaliknya, Malaysia dan Saudi Arabia yang tidak memisahkan ketiga fungsi, ternyata
juga menunjukkan kinerjanya yang cukup baik di sektor hulunya. Penelitian ini menunjukkan bahwa
sebenarnya kinerja sektor hulu lebih berkolerasi dengan kapasitas kelembagaan. Desain tata kelola
migas tidak terlalu berdampak pada kinerja sektor hulu.

Sudah tepatkah desain tata kelola MIGAS kita sahabat?


Sepanjang sejarah berdirinya negeri ini, Indonesia pernah memiliki empat UU yang berkaitan dengan
tata kelola migas, yaitu: Indische Mijnwet 1899, UU no 44 Tahun 1960, UU no 8 Tahun 1971 dan UU
no 22 tahun 2001 yang berlaku hingga hari ini. Berkaitan dengan konsep tata kelola migas, banyak ahli
perminyakan dan ekonomi berpendapat bahwa desain tata kelola migas pada UU no 8 tahun 1971
merupakan yang paling baik. Sementara desain tata kelola migas pada UU no 22 tahun 2001 dianggap
yang paling buruk. Hasil survey Fraser Institute, Canada, pada tahun 2010, 2011 dan 2012
membuktikan bahwa Tata kelola migas Indonesia termasuk salah satu yang TERBURUK di didunia dan
PALING BURUK di kawasan Asia Oceania.
MUHAMMAD IQBAL AL GHIFFARY CALON PESERTA PELATIHAN KADER LANJUT PC PMII
SURABAYA

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi


Solusi?
Dalam menunjuk fungsi regulator, kita perlu melihat kapasitas lembaga tersebut. Pertamina memang
dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren pengelolaan internal lembaga yang sangat baik.
Prestasi Pertamina membukukan keuntungan 25 Trilliun yang merupakan terbesar sepanjang sejarah
Pertamina berdiri dan juga masuknya Pertamina dalam daftar perusahaan Fortune 500 menunjukkan
bahwa Pertamina telah bertransformasi dengan sangat cepat. Selama 13 tahun, transformasi
Pertamina telah membuat gen perusahaan membentuk budaya baru sebagai lembaga yang murni
bergerak di bidang bisnis. Prestasi ini tidak bisa menjadi parameter bahwa Pertamina akan menjadi
regulator yang baik. Penggabungan fungsi akan mengakibatkan terjadinya komplikasi dan simplifikasi
dalam internal Pertamina. Gen yang selama ini telah ditanamkan harus menyesuaikan diri dengan gen
baru. Tentu saja bukan pekerjaan yang mudah dalam menyatukan fungsi regulator dan player dalam
tubuh Pertamina. Membentuk BUMN baru yang menjadi sebuah regulator dalam masalah MIGAS,
menjadi salah satu opsi terbaik dalam membangun kedaulatan Energi demi kesiapan Indonesia dalam
menghadapi AEC nanti. Karena, dengan adanya perusahaan baru berstatus BUMN ini, perusahaan ini
dapat menjual minyak dan gas milik negara secara mandiri tanpa harus menunjuk pihak seperti yang
dilakukan oleh BP Migas dan SKK migas saat ini. Tidak sampai disitu, perusahaan BUMN baru tersebut
dapat pula membangun fasilitas serta meningkatkan jumlah sumur eksplorasi sehingga tidak melewati
berbagai macam tender yang sarat akan tindakan KKN seperti yang dilakukan oleh SKK Migas saat ini.

Dimanakah peranmu?
Ditangan seorang pemudalah bergantung maju atau mundurnya suatu bangsa. Karena sejatinya kita
adalah pilar-pilar berdirinya peradaban pada suatu negeri. Dalam hal ini, peran pemuda menjadi
sangat vital dan menjadi sorotan utama karena sang tua mulai lelah.
Seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi, pengembangan di bidang alternatif yang dilakukan
oleh pemuda Indonesia telah terkolaborasikan dengan ilmu dasar dan keteknikan seperti teknologi
biogas, hidrogen Power, solar cell dan lain sebagainya. Hal ini tentu sangat membantu para peneliti di
LIPI, BPPT dan BATAN yang saat inipun masih sangat gencar sekali mencari solusi cerdas dari krisis
energi dunia.
Memberikan pencerdasan tentang urgensitas kedaulatan energi kepada mereka-mereka sesama
pemuda, merupakan salah satu langkah konkret kita membangun sebuah gerakan bersama demi
mengawali kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini. Gerakan kesadaran bersama mencintai tanah air
dengan tidak memberikan ruang gerak kepada pemain-pemain asing yang mulai menggerogoti
sumber energi negara kita tentu akan sangat berimpact kepada mereka. Tentu ini menjadi sebuah

MUHAMMAD IQBAL AL GHIFFARY CALON PESERTA PELATIHAN KADER LANJUT PC PMII


SURABAYA

Merangkai Mozaik Nusantara dalam Perspektif Kedaulatan Energi


gerakan solutif bersama, kita sebagai pemuda untuk tetap menjaga dan mencintai bumi, minyak,
tanah dan air kita tercinta.
Besar harapannya adalah dengan pembenahan sektor Desain Tata Kelola Migas Negara, Indonesia
dapat menjadi negara yang berdaulat secara energi, sehingga tidak memerlukan lagi adanya import
minyak bumi, serta memangkas habis biaya produksi yang terkesan memanjang dan penuh dengan
tindakan KKN, sehingga kembali lagi Masyarakat kitalah yang akhirnya membayar lebih untuk hal
tersebut. Kedaulatan Energi inilah menjadi tonggak dasar stabilitasan ekonomi demi terwujudnya
Kesiapan Indonesia Menghadapi Tantangan Global dan Pasar Ekonomi Dunia.

SUMBER
1. Kurtubi. 2013. Seminar Nasional Perjuangan Mengembalikan Kedaulatan Energi Nasional:
Perubahan dan Restorasi Tata Kelola Migas Nasional. Purwokerto. BEM UNSOED
2. Lubiantara, Benny. 2012. Ekonomi Migas, Tinjauan Aspek Komersial Kontrak Migas. Jakarta :
Grasindo
3. Syeirazi. M Kholid. 2009. Di Bawah Bendera Asing, Liberalisasi Industri Migas di Indonesia.
Jakarta : LP3ES
4. Tim Kajian Energi BEM se-UI. 2013. Policy Brief: Kelembagaan dan Tata Kelola Industri Minyak
dan Gas. Jakarta : Universitas Indonesia

Taqwa, Intelektualitas, Profesionalitas TRI KHIDMAH PMII

SURABAYA, 3 DESEMBER 2014

Muhammad Iqbal Al Ghiffary

MUHAMMAD IQBAL AL GHIFFARY CALON PESERTA PELATIHAN KADER LANJUT PC PMII


SURABAYA