Anda di halaman 1dari 29

LUBUK LARANGAN :

REVIVALISASI SITUS KERAMAT ALAMI


DI KABUPATEN MANDAILING NATAL
(Community-based River Conservation:
Reviving of the Natural Sacred Sites in Mandailing Natal Regency)

Zulkifli B. Lubis
Departemen Antropologi FISIP USU
E-mail: zbl64@hotmail.com
ABSTRACT
Tulisan ini menggambarkan pengelolaan sumberdaya alam sungai yang dilakukan
dengan model Lubuk Larangan. Model tersebut ditradisikan oleh puluhan komunitas
desa di Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara, sejak seperempat abad
lalu sebagai kesinambungan dan revivalisasi dari bentuk-bentuk situs keramat alami
berbasis kepercayaan kepada kekuatan supra alami. Lubuk larangan adalah satu bagian
dari aliran sungai yang di dalamnya terlarang untuk melakukan aktivitas penangkapan
semua jenis ikan sungai dalam jangka waktu tertentu. Pengelolaan lubuk larangan
melalui konservasi berjangka terhadap ikan sungai dilakukan sebagai upaya komunitas
desa menghimpun modal untuk pembangunan desa. Rekayasa sosial budaya dibuat di
tingkat komunitas sebagai basis ideologis terhadap tindakan konservasi melalui model
lubuk larangan.
Bahan untuk penulisan makalah ini bersumber dari penelitian yang dilakukan pada 15
komunitas desa pengelola lubuk larangan di tiga kecamatan di Kabupaten Mandailing
Natal pada tahun 2000-2001. Penelitian yang difasilitasi melalui program Riset
Unggulan bidang Kemasyarakatan dan Kemanusiaan (RUKK) Kantor Menteri Negara
Riset dan Teknologi RI itu berfokus pada kajian resistensi dan persistensi modal sosial
dalam pengelolaan sumberdaya milik bersama. Tulisan ini merupakan pengolahan
kembali atas data-data primer yang diperoleh melalui penelitian tersebut sesuai dengan
kebutuhan data yang relevan dengan tujuan penulisan. Penelitian dilakukan dengan
pendekatan kualitatif dan menggunakan teknik utama pengumpulan data yaitu
wawancara mendalam terhadap puluhan informan dan pengamatan langsung.
Proses revivalisasi situs keramat alami melalui pengelolaan lubuk larangan di
Mandailing Natal memunculkan tiga varian mekanisme kultural sebagai basis
konservasi sumberdaya hayati, yaitu : (1) pelembagaan sistem kepercayaan terhadap
kekuatan magis, (2) pelembagaan sanksi sosial, (3) pelembagaan sanksi hukum/denda.
Temuan lapangan menunjukkan bahwa pilihan komunitas desa pengelola lubuk
larangan terhadap satu atau kombinasi dari tiga varian tersebut adalah bentuk local
wisdom yang dibuat oleh warganya atas dasar pertimbangan efektivitas pencapaian
tujuan konservasi. Komunitas lokal mampu mengubah fungsi konservasi situs keramat
alami dari dampak positif tak tersadari menjadi tujuan yang disengaja.
Keywords : lubuk larangan, revivalisasi, mekanisme kultural, Mandailing Natal

1. Pendahuluan
Perhatian ilmuwan sosial khususnya antropologi terhadap praktik-praktik pengelolaan
sumberdaya alam oleh komunitas lokal sudah lama berkembang. Salah satu perspektif
kajian yang pernah populer adalah perspektif fungsionalisme dan neo-fungsionalisme.
Banyak kasus kajian yang memperlihatkan bahwa komunitas lokal mampu membangun
suatu interaksi yang adaptif dengan lingkungan alam. Pada tahun 1980-an misalnya ada
kajian dari R.N.H Bulmer (1982) mengenai praktik konservasi tradisional di Papua
New Guinea. Bulmer mengemukakan bahwa kepercayaan dan pantangan ritual
memungkinkan penduduk Papua New Guinea mengelola dan memanfaatkan sumber
daya yang ada di hutan (khusususnya binatang dan tumbuh-tumbuhan) sesuai asas-asas
konservasi. Dalam kaitan ini, aspek religius dipandang sebagai faktor yang fungsional
membatasi tindakan-tindakan eksploitasi dan kerusakan1.
Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh Pagarat Ratthakette (1984) dalam
kasus hutan keramat di Thailand. Ia mengemukakan bahwa kepercayaan penduduk
lokal dan aturan-aturan tabu berkenaan dengan hutan keramat (yang dipercayai sebagai
tempat hunian makhluk halus pelindung desa/ phiputu sehingga terlarang untuk
dieksploitasi) memberikan dampak positif untuk konservasi sumberdaya hutan tersebut.
Dalam hal ini aspek kepercayaan penduduk dilihat sebagai variabel yang determinan
terhadap perilaku mereka dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya hutan.
Contoh dari dalam negeri, misalnya seperti yang dikemukakan oleh Nengah B.
Atmadja (1993) dalam kasus pengelolaan hutan wisata Sangeh di Bali. Variabel
ekologi, institusi sosial, ekonomi dan kepercayaan (Hindu) yang dianut masyarakat
terjalin sedemikian rupa sehingga mereka tetap dapat mengelola dan mengambil
manfaat ekonomi dari sumberdaya tersebut tanpa harus melakukan pengrusakan
terhadap hutan.
Pengakuan terhadap pentingnya peranan kebudayaan dalam konteks konservasi
sumberdaya alam terus menguat dalam dekade terakhir ini, sehingga banyak lembaga
konservasi dunia yang menaruh perhatian terhadap aspek ini, dan lebih khusus kepada
apa yang kini dikenal sebagai situs keramat alami (sacred natural sites). Thomas
Shcaaf (2003) dari MAB UNESCO mengatakan bahwa dalam banyak kebudayaan di
Namun Bulmer menyebutkan bahwa bukan konservasi yang menjadi tujuan utama sehingga orang PNG
mengelola dan memanfaatkan sumberdaya secara demikian, tapi hal itu lebih sebagai akibat sampingan
positif dari kepatuhan mereka pada kepercayaan dan ritual-ritualnya.
1

dunia, situs keramat alami merupakan area yang penting untuk konservasi lingkungan.
Perhatian komunitas tradisional terhadap lingkungan dan pembatasan akses terhadap
situs-situs keramat seringkali menentukan bagi terciptanya pemeliharaan yang baik
terhadap kawasan dengan kekayaan keanekaragaman hayati.
Upaya mengintegrasikan aspek kebudayaan dan komunitas pemilik kebudayaan
itu di dalam kerangka konservasi sumberdaya hayati menjadi sesuatu yang urgen secara
teoritik. Maurizio Farhan Ferrari (2002) dalam laporannya untuk IUCN bertajuk
Community Conserved Areas in Southeast Asia mengemukakan bahwa sampai sejauh
ini sudah diakui secara luas bahwa kebijakan-kebijakan dan proyek konservasi yang
tidak mempertimbangkan hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan dari penduduk pribumi
(indigenous people) dan komunitas lokal akan membiakkan konflik dan dalam banyak
kasus akan gagal. Badan-badan dunia seperti WCPA, IUCN dan WWF, kata Ferrari
lebih lanjut, telah menerima prinsip-prinsip ini dan telah mengembangkan panduan
internal untuk memberikan respek terhadap hak-hak komunitas pribumi itu. Namun,
yang menjadi soal sejauh ini adalah lambannya proses untuk mewujudkan prinsip itu di
dalam praktik nyata di lapangan.
Berbagai forum internasional akhir-akhir ini terus menelurkan kesimpulankesimpulan dan rekomendasi mengenai pentingnya mengintegrasikan proses konservasi
sumberdaya alam dengan sumberdaya kultural. Sebuah simposium internasional di
Tokyo (2005) memberikan empat butir rekomendasi tentang posisi situs keramat alami,
yaitu : (1) mempertimbangkan bahwa situs keramat alami dan lanskap kultural adalah
unsur penting untuk melindungi keanekaragaman budaya dan biologi untuk generasi
sekarang dan yang akan datang, (2) mengakui bahwa banyak situs keramat alami
memiliki signifikansi yang penting bagi kehidupan spritual dari penduduk pribumi dan
komunitas lokal, (3) mengingatkan pentingnya untuk mempromosikan kenakeragaman
biologi dan budaya, khususnya dalam menghadapi proses homogenisasi pada era
globalisasi; (4) mencamkan bahwa situs keramat alami, lanskap budaya dan sistem
pertanian tradisional tidak dapat dipahami, dilindungi dan dikelola tanpa memperhitungkan aspek budaya yang membentuknya dan akan terus membentuknya 2.
Sebuah dokumen panduan UNESCO dan IUCN tentang pengelolaan situs
keramat alami menyimpulkan bahwa konservasi sumberdaya alam hanya dapat
Lihat Bas Verschuuren et.al dalam Scred Natural Sites and Protected Areas. IUCN Commission on
Protected Areas Task Force. IUCN.
2

berkelanjutan jika ia memiliki daya dukung/daya ungkit di dalam kebudayaan lokal.


Situs keramat alami dapat memainkan peranan vital dalam memastikan konservasi
berkelanjutan terhadap alam dan kebudayaan3. Ungkapan senada dapat pula disimak
dalam tulisan Rob Soutter et.al. (2003) yang juga membahas efektivitas peran situs
keramat alami terhadap konservasi biologi4. Deep Narayan Pandey (2003) secara lebih
khusus melihat pentingnya peranan sistem pengetahuan tradisional untuk kelestarian
sumberdaya hayati5.
Tetapi patut dicatat bahwa situs keramat alami dapat memberikan pengaruh
positif bagi konservasi sumberdaya alam sepanjang komunitas pendukungnya masih
menjadikan sistem kepercayaan sebagai acuan tindakan. Ketika aspek kepercayaan
yang menjadi basis pengkeramatan itu memudar atau hilang, maka kelestarian sumber
daya hayati akan segera menghadapi ancaman jika tidak ada mekanisme budaya dan
kelembagaan lain sebagai penggantinya. Hal seperti itu terlihat dalam pengelolaan
sumberdaya alam di wilayah Kabupaten Mandailing Natal dalam beberapa dekade
terakhir ini, baik terhadap sumberdaya alam di hutan maupun sungai.
Kasus pengelolaan lubuk larangan di Mandailing Natal menarik untuk dibahas
dalam forum ini mengingat bentuk pengelolaan baru terhadap sungai tersebut muncul
sebagai bentuk revivalisasi yang lebih konseptual, sistematis dan terlembagakan.
Dengan kata lain, memudarnya aspek kepercayaan terhadap kekuatan supra alami
dalam pengelolaan sumberdaya sungai, kemudian secara kreatif direkayasa ulang oleh
warga komunitasnya agar tujuan konservasi tetap signifikan. Tulisan ini akan mengulas
bagaimana komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal
membuat proses revivalisasi dengan format dan landasan ideologis dan spritual yang
berbeda. Pembahasan mengenai kasus ini dipandang dapat memberikan manfaat untuk
menggugah pemahaman kita bahwa situs keramat alami dapat dimodifikasi secara

Lihat dokumen IUCN-UNESCO dalam http://www.unesco.org/mab/biodiv/Cdiversity/


symposium/ UNESCO_IUCN_guidelines.pdf
4
Lihat Rob Soutter et.al. dalam Recognizing the Contribution of Sacred Natural Sites for Biodiversity
Conservation. Paper for Workshop Stream II Session I Part I at V World Park Congress.
5
Deep Narayan Pandey(2003) Traditional Knowledge System for Biodiversity Conservation. Sumber
dokumen elektronik http://www.indianscience.org/ essays/t_es_pande_conserve.shtml. Pembahasan
yang hampir serupa tentang peranan penting dari pengetahuan tradisional juga ditulis oleh A.S. Mishra
3

dalam tulisan berjudul Traditional Knowledge and Management of Natural Resources, dalam dokumen

elektronik http://ignca.nic.in/cd_07006.htm.
.

kreatif dan inovatif oleh komunitas pemiliknya agar ia tetap bertahan, meskipun dengan
bentuk yang tidak sepenuhnya sama dengan bentuk asal.

2. Metodologi
Bahan informasi atau data-data dasar untuk penulisan makalah ini berasal dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh penulis pada tahun 2000-2001 lalu. Ketika itu, atas
fasilitas pendanaan dari Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi RI melalui skema
Program RUKK (Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan) penelitian
lapangan dilakukan di 15 desa pada 3 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal,
untuk menemukan jawaban bagaimana proses resistensi dan persistensi modal sosial
terjadi dalam pengelolaan sumberdaya milik bersama yaitu lubuk larangan. Penelitian
bertujuan untuk menjelaskan mengapa pengelolaan lubuk larangan yang berkembang
pesat hampir di 70-an desa pinggiran sungai di daerah ini bisa bertahan (persisten)
dalam kurun waktu lama (sekitar 20-an tahun) sementara ada pula desa yang gagal
(resisten) dalam pendayagunaan modal sosial. Penelitian dilakukan dengan pendekatan
kualitatif, dan difokuskan di 15 desa terpilih, yang terbagi atas 9 kasus komunitas desa
pengelola lubuk larangan yang bertahan lama (persisten) dan 6 kasus komunitas desa
yang gagal dalam pengelolaan (resisten).
Meskipun penelitian tersebut berfokus kepada aspek pendayagunaan modal
sosial (social capital) sebagai rujukan teoritik yang sedang populer ketika itu6, data-data
kualitatif tentang aspek sejarah dan konsepsi penguasaan, pemanfaatan dan pengelolaan
sumberdaya alam khususnya aliran sungai, juga dikumpulkan. Bahan-bahan informasi
dan data itulah, baik yang sudah maupun yang belum termuat dalam laporan penelitian,
digunakan dan dianalisis kembali dalam rangka penulisan paper ini. Pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara mendalam kepada puluhan informan di 15 desa fokus
maupun di desa-desa pengelola lubuk larangan lainnya, meliputi para pemimpin formal
dan informal di setiap desa, personalia panitia pengelola lubuk larangan, juga warga
biasa. Pengamatan lapangan dilakukan dalam berbagai fase pengelolaan situs, termasuk
dalam kegiatan festival pembukaan lubuk larangan di sejumlah desa.
Ketika penelitian lapangan dilakukan pada tahun 2000-2001 terdapat 56 desa
dari 141 desa di tiga kecamatan (Muara Sipongi, Kotanopan dan Batang Natal) yang
6

Lihat antara lain Francis Fukuyama (.

mengelola lubuk larangan, baik yang termasuk kategori persisten maupun yang
resisten. Daftar lengkap dari desa-desa tersebut termuat dalam Lampiran 1, sedangkan
15 desa yang menjadi fokus penelitian utama termuat dalam Lampiran 2. Sesuai dengan
keperluan penulisan paper ini, bahan-bahan yang relevan terutama dirujuk dari 9 kasus
komunitas desa pengelola lubuk larangan yang persisten dan mampu bertahan lama,
yaitu masing-masing tiga desa di setiap kecamatan. Kesembilan desa tersebut adalah
Koto Baringin, Koto Tinggi/Bandar Panjang, Tanjung Larangan/Kampung Pinang
(Kecamatan Muara Sipongi); Singengu, Husor Tolang, Hutarimbaru (Kecamatan
Kotanopan); dan Muara Soma, Muara Parlampungan, Ranto Sore/Desa Simpang
Gambir (Kecamatan Batang Natal).

3. Hasil dan Pembahasan


3.1. Sekilas gambaran wilayah studi7
Kabupaten Mandailing Natal terletak di bagian paling selatan dari Propinsi Sumatera
Utara, terletak di antara 010-150 LU dan 9850-10010 BT, berbatasaan langsung
dengan Kabupaten Pasaman/Pasaman Barat Propinsi Sumatera Barat di sebelah timur
dan selatan, dengan Kabupaten Tapanuli Selatan di sebelah utara, dengan Samudera
Hindia di sebelah barat. Wilayah ini adalah pemekaran dari Kabupaten Tapanuli
Selatan sejak tanggal 23 Nopember 1998, yang ditetapkan melalui UU Nomor 12
Tahun 1998. Luas wilayahnya adalah 6,620,70 km2 atau 662.070 Ha (sekitar 9,23 %
dari wilayah Sumatera Utara).
Topografi wilayah kabupaten ini terbagi atas tiga bagian, yaitu dataran rendah
dengan kemiringan 0-2 di bagian pesisir pantai barat dengan luas daerah sekitar
160.500 Ha (24,24 %); daerah landai dengan kemiringan 2-15 seluas 36.385 Ha (5,49
%); dataran tinggi dengan kemiringan 7-40 yang terbagi atas dua yaitu daerah
perbukitan dengan luas sekitar 112.000 ha (16,91%) dengan kemiringan 15-40,
daerah pegunungan seluas 353.185 Ha (53,34 %) dengan kemiringan 7-40. Dengan
topografi yang dominan dataran tinggi, pegunungan dan perbukitan, maka tidak
mengherankan jika di daerah Mandailing Natal terdapat banyak aliran sungai besar dan
kecil. Beberapa sungai yang besar di daerah ini adalah Batang Gadis, Batahan, Batang
Bahan informasi mengenai hal ini sebagian besar dikutip dan disarikan dari Edi Ikhsan, Zulkifli Lubis,
dkk (penyunting), Dari Hutan Rarangan ke Taman Nasional: Potret Komunitas Lokal di Sekitar Taman
Nasional Batang Gadis, diterbitkan oleh Bitra Konsorsium, 2005.
7

Natal, Kunkun, dan Parlampungan. Sungai Batang Gadis tercatat sebagai sungai
terpanjang di daerah ini, dengan panjang 137,50 Km. Di aliran sungai-sungai besar
inilah tradisi pengelolaan lubuk larangan berlangsung sejak puluhan tahun lampau. Di
gususan Pegunungan Bukit Barisan yang melintasi wilayah Mandailing Natal terdapat
sejumlah gunung, salah satu diantaranya adalah Gunung Sorik Marapi (2.145 dpl)
sebagai gunung berapi yang masih aktif dan tercatat pernah meletus sebanyak delapan
kali pada periode 1830-1987.
Penduduk yang mendiami wilayah Kabupaten Mandailing Natal secara umum
dikenal sebagai Orang Mandailing. Selain etnis Mandailing yang mayoritas dan
dominan, wilayah ini juga menjadi hunian asli bagi etnis Ulu (biasa disebut Orang
Muara Sipongi, dominan di Kecamatan Muara Sipongi) dan Lubu (biasa disebut Orang
Siladang, bermukim di kaki bukit Tor Sihite, Kecamatan Panyabungan). Selain itu ada
juga Orang Pesisir Natal yang bermukim di kawasan pesisir barat (Kecamatan Natal,
Batahan dan Muara Batang Gadis). Sedikitnya ada empat kelompok penutur bahasa
yang berbeda di Mandailing Natal, yaitu bahasa Mandailing, bahasa Lubu, bahasa Ulu
dan bahasa Pesisir Natal. Hanya saja dengan penduduk yang mayoritas dari etnis
Mandailing di kabupaten ini maka orientasi budaya masyarakatnya didominasi oleh
budaya dan bahasa Mandailing.
Jumlah penduduk Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan data statistik tahun
2003 adalah sebanyak 380.546 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 187.225 jiwa dan
perempuan 193.321 jiwa. Mayoritas penduduknya beragama Islam. Agama Islam sudah
dianut penduduk di daerah ini sebelum abad ke-19, namun proses Islamisasi yang masif
dan puritan diperkirakan terjadi semasa perang Paderi (1830-an). Sebelum menganut
agama Islam, penduduk di daerah ini menganut paham animisme si pelebegu
(penyembah roh-roh nenek moyang) dan kekuatan-kekuatan supra alami lainnya berupa
dewa (debata) dan makhluk-makhluk halus. Di wilayah ini juga terdapat bukti-bukti
peninggalan arkeologis berupa candi Hindu (reruntuhan di Simangambat, Kecamatan
Siabu, abad ke-9) dan candi Buddha (kompleks Saba Biara, Desa Pidoli Lombang,
Kecamatan Panyabungan, abad ke-14). Selain itu terdapat peninggalan megalitikum
berupa menhir di Padang Mardia (Kecamatan Panyabungan). Nama-nama tempat,
istilah dalam adat-istiadat masyarakat Mandailing masih banyak mengandung kosa kata
yang berasal dari bahasa Sanskerta.

Sebagian kawasan hutan di wilayah Kabupaten Mandailing Natal sudah sejak


zaman kolonial ditetapkan sebagai hutan lindung. Enam kawasan hutan register yang
berstatus hutan lindung dan hutan produksi, yaitu Hutan Lindung Register 4 Batang
Gadis I, Register 5 Batang Gadis II, Register 27 Batang Natal I, Register 28 Batang
Natal II, Register 29 Batahan Hulu, dan Register 36 Batang Parlampungan I , sejak 29
April 2004 telah ditingkatkan statusnya menjadi Kawasan Pelestarian Alam dengan
Fungsi Taman Nasional, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.126/
Menhut-II/2004. Luas arealnya adalah 108.000 Ha. Inisiatif untuk membentuk taman
nasional yang diberi nama Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) tersebut berasal dari
masyarakat lokal, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dan lembaga swadaya
masyarakat. Wilayah inti dan penyangga TNBG mencakup kawasan DAS Batang
Gadis dan Batang Natal, dimana praktik pengelolaan situs keramat alami Lubuk
Larangan yang dikelola oleh komunitas desa telah berlangsung lebih dari dua
dasawarsa.
3.2. Tradisi pengkeramatan sumberdaya alam di Mandailing Natal
Jauh sebelum Taman Nasional Batang Gadis berdiri, bahkan sebelum praktik-praktik
pengelolaan lubuk larangan dengan format baru berkembang pada awal tahun 1980-an,
masyarakat lokal di Mandailing Natal sudah lama mengenal konsep konservasi sumber
daya alam. Mereka sejak dahulu mengenal istilah yang pas untuk itu yaitu rarangan
yang secara harfiah bermakna larangan. Ada beberapa objek yang masuk dalam
kategori rarangan (larangan) yang dikenal, misalnya kawasan hutan disebut arangan
rarangan, bagian aliran sungai yang dipantangkan untuk mengambil ikan dan beberapa
aktivitas lain disebut lubuk rarangan. Istilah lain yang biasa juga digunakan untuk
menunjuk suatu tempat atau kawasan yang dipantangkan untuk dimasuki, atau minimal
harus berlaku hati-hati di dalamnya, disebut naborgo-borgo (secara harfiah berarti
yang dingin-dingin, yang lembab-lembab). Orang tua biasanya menasihati anaknya
untuk tidak memasuki suatu kawasan yang dipercaya merupakan hunian makhlukmakhluk halus atau kekuatan supra alami, yaitu tempat yang disebut naborgo-borgo
tersebut.
Kawasan hutan yang dipercaya sebagai tempat hunian makhluk halus itu biasa
terdapat di bagian hulu-hulu sungai, di sekitar sumber mata air, di lereng atau puncak
gunung, atau di kawasan hutan belantara (hutan primer) yang dalam bahasa Mandailing
disebut dengan rubaton. Di kawasan seperti itu dipercayai merupakan wilayah yang

dikuasai oleh para makhluk halus, termasuk golongan jin, yang salah satunya disebut
leso rubaton8. Ketika masyarakat Mandailing masih percaya kepada animisme, tempat
tempat yang dihuni oleh makhluk-makhluk halus itu dikeramatkan dan menjadi objek
sesembahan9. Di beberapa tempat lain di Tapanuli Selatan, misalnya di Gunung Dolok
Batara Wisnu, masih ada kepercayaan dari penduduk setempat bahwa orang yang
menebang kayu di lereng gunung itu untuk keperluan perabot rumah maupun untuk
dijual akan mengakibatkan celaka bagi pelakunya. Kepercayaan seperti itu juga masih
ada di kalangan penduduk yang memantangkan untuk menebang kayu sembarangan di
sekitar Gunung Sorik Marapi.
Di daerah aliran sungai juga ada tempat-tempat yang dikeramatkan. Tempat itu
biasanya adalah lubuk-lubuk yang dalam dan di atasnya terdapat pohon-pohon besar
yang berdaun rimbun. Di masa lalu anak-anak Mandailing dilarang oleh orang tuanya
untuk mandi di sungai pada tengah hari ketika matahari beranjak naik, yaitu sekitar
pukul 10.00-12.00, karena dipercaya pada waktu itu para makhluk halus yang berkuasa
di sungai juga sedang mandi, salah satunya dikenal bernama sigulambak. Jika aktivitas
mereka terganggu oleh manusia dipercaya akan dapat mengakibatkan orang tersebut
sakit atau mati mendadak. Pantangan juga berlaku untuk menangkap jenis-jenis ikan
tertentu di dalam lubuk, karena dipercaya ikan tersebut adalah peliharaan makhluk
halus penguasa sungai.
Keberadaan hutan larangan dan lubuk larangan, yang dilembagakan melalui
mekanisme tabu dan kepercayaan akan kekuatan-kekuatan supra alami yang ada di
sekitarnya, dalam kenyataan pada umumnya terdapat di tempat-tempat yang sangat
signifikan bagi pemeliharaan kelestarian lingkungan. Kawasan hutan yang disebut
naborgo-borgo tadi biasanya berasosiasi dengan sumber-sumber mata air atau daerah
resapan air yang vital bagi pemeliharaan dan kesinambungan penataan pasokan air bagi
penduduk yang bermukim di sekelilingnya. Demikian pula halnya bagian aliran sungai
Dalam buku hikayat Turi-turian Ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi yang disadur
oleh Mangaraja Gunung Sorik Marapi (diterbitkan ulang oleh Depdikbud, Jakarta 1979), disebutkan
bahwa leso rubaton adalah makhluk halus yang bisa menyerupai manusia katai dengan arah telapak kaki
terbalik, dan berdiam di dalam hutan belantara. Orang yang akan memasuki kawasan hutan belantara
tidak boleh berkata sembarang karena bisa membahayakan dirinya di dalam hutan. Bahkan bahasa
Mandailing mengenal lima ragam bahasa dengan kosa-kata yang berbeda-beda untuk menyebut suatu hal
yang sama, dan salah satu ragam bahasa itu disebut dengan hata parkapur, yaitu ragam bahasa yang khusus
digunakan oleh peramu (parkapur) ketika meramu hasil-hasil hutan.
9
Kitab-kitab kuno dari kulit kayu yang disebut orang Mandailing dengan nama pustaha banyak berisi
informasi-informasi tentang pelaksanaan ritual sesembahan di tempat-tempat yang dikeramatkan, antara
lain sebagai bahagian dari proses penyembuhan dan penanggulangan penyakit.
8

yang disebut lubuk larangan, juga merupakan tempat-tempat dimana proses pembiakan
ikan berlangsung. Oleh karena itu, konsep rarangan yang diselimuti suatu
kepercayaan akan kekuatan supra alami yang tidak boleh terganggu, pada hakikatnya
adalah mekanisme budaya yang mengatur praktik-praktik konservasi sumberdaya
alam10.
Di masa lampau keberadaan sumberdaya alam yang berstatus rarangan atau
terlindungi itu juga dilembagakan melalui sistem sosial yang berlaku masa itu. Suatu
kampung atau huta bahkan kerajaan atau banua yang dikenal di Mandailing Natal
sebelum kemerdekaan memiliki kawasan khusus yang berstatus dilindungi, baik karena
alasan spritual atau kepercayaan, maupun sebagai hutan cadangan. Setiap huta atau
banua yang dipimpin oleh seorang Raja Pamusuk atau Raja Panusunan Bulung di
masa lampau harus memiliki wilayah sendiri, yang tergambar dalam istilah ganopganop banua martano rura yang berarti setiap kerajaan memiliki wilayah tanah airnya
sendiri11. Setiap huta (kampung) atau banua (kerajaan) harus memiliki dan ditopang
oleh adanya sumber air, kawasan hutan dan juga padang penggembalaan. Sebagian dari
kawasan itu ditetapkan oleh pimpinan komunitas sebagai kawasan rarangan atau
kawasan konservasi menurut istilah sekarang12.
Ketika pemerintahan berlandaskan struktur adat beralih menjadi kekuriaan pada
masa kolonial, pemerintahan lokal yang dipimpin oleh kepala kuria 13 ketika itu mulai
pula menerapkan sejenis retribusi atas pemanfaatan sumberdaya alam. Di daerah
Mandailing ketika itu terdapat beberapa jenis kutipan (retribusi) yang disebut bungo,
yaitu bungo ni tano (retribusi atas hasil tanah pertanian), bungo ni hayu (retribusi atas
hasil hutan kayu dan getah kayu), bungo ni pasir (retribusi atas bahan tambang di
sungai), bungo ni aek (retribusi atas hasil tangkapan ikan di sungai), bungo ni padang
(retribusi atas hasil penjualan binatang ternak), dan tulan adat (bagian daging binatang
Lebih jauh mengenai tradisi rarangan dalam khasanah budaya Mandailing lihat Edi Ikhsan & Zulkifli
Lubis, dkk (2005) Dari Hutan Rarangan ke Taman Nasional: Potret Komunitas Lokal di Sekitar Taman
Nasional Batang Gadis. Buku diterbitkan oleh Bitra Konsorsium.
11
Lebih rinci mengenai hal ini dapat dilihat dalam tulisan Z. Pangaduan Lubis (1987) berjudul Namora
Natoras: Pemimpin Tradisional Mandailing. Skripsi sarjana antropologi FS USU, tidak diterbitkan.
12
Lebih jauh mengenai sistem penguasaan sumberdaya di Kabupaten Mandailing Natal dapat dilihat
dalam tulisan Zulkifli Lubis (1998) berjudul Sistem Penguasaan Sumberdaya Alam di Mandailing
Natal. Laporan penelitian, tidak dipublikasikan.
13
Pemerintahan kekuriaan adalah sistem adiminstrasi kolonial Belanda yang dilekatkan kepada struktur
kepemimpinan berdasarkan adat, dan dalam banyak kasus pejabat yang diangkat Belanda sebagai Kepala
Kuria adalah Raja yang berkuasa menurut struktur adat. Namun harus tetap diingat bahwa jabatan kepala
kuria adalah jabatan administrasi kolonial, bukan jabatan adat.
10

10

hasil buruan di hutan). Besarnya bagian retribusi yang akan diserahkan kepada kerajaan
masing-masing 10 %14.
3.3. Lubuk Larangan, format baru sistem rarangan di aliran sungai
Banyak hal yang berubah dalam kehidupan masyarakat Mandailing Natal dalam waktu
hampir seabad terakhir ini. Kemerdekaan RI membuat sistem pemerintahan adat dan
kekuriaan di masa kolonial digantikan dengan sistem baru. Struktur kepemimpinan
lokal dan adat-istiadat juga ikut berubah. Sisa-sisa kekuatan struktur politik dan adat
yang masih fungsional sampai pada batas-batas tertentu dalam penataan kehidupan
komunitas huta dan banua di Mandailing pada dekade-dekade awal pasca kemerdekaan
kemudian semakin melemah sejak tahun 1970-an. Penyeragaman sistem pemerintahan
desa yang berlaku setelah terbitnya UU No. 5 Thn 1979 membuat landasan ideologis
penataan kehidupan komunitas adat berdasarkan struktur tradisional hilang kekuatan
dan signifikansinya. Pola pembangunan yang terpusat di masa Orde Baru membuat
komunitas adat hampir tidak berdaya lagi.
Di sisi lain, proses modernisasi yang berjalan seiring dengan program-program
pembangunan nasional membuat warga masyarakat lebih rasional dalam melihat
hubungannya dengan lingkungan alam. Semakin menguatnya rasionalitas warga di satu
sisi dan kayakinan keagamaan (Islam) di sisi lain menjadikan basis-basis kepercayaan
lama berbau animisme semakin melemah. Masyarakat Mandailing semakin kehilangan
relasi mistis dengan sumberdaya alam yang di masa lampau dipercaya sebagai tempat
naborgo-borgo yang pantang untuk diganggu apalagi dirusak.
Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan lahan, terbukanya pasar
untuk produk-produk hutan, dan juga ekspansi aktor luar (terutama korporat) dalam
mengeksploitasi sumberdaya alam di daerah Mandailing Natal membuat pantanganpantangan yang dulu dikenal warga masyarakat jadi kehilangan signifikansi. Pada titik
itu, memang tidak ada satu hal yang bisa dan perlu ditangisi, karena kebudayaan adalah
sesuatu yang dinamis, bisa berubah dari waktu ke waktu. Kepercayaan lama tidak bisa
dipaksa terus lestari, dan karena itu, fungsi laten dari praktik pemeliharaan situs-situs
keramat alami menjadi hilang. Itulah satu fase historis yang dapat digambarkan
mengenai hubungan kultural orang Mandailing dengan sumberdaya alam dimana
mereka hidup.
Lihat Pandapotan Nasution (2001) Mandailing Natal: Peluang, Tantangan dan Harapan.
Diterbitkan oleh Yayasan Parsarimpunan Ni Tondi, Medan.

14

11

Tetapi cukup menarik untuk mengamati fakta bahwa komunitas-komunitas desa


di daerah Mandailing Natal justru mengembangkan sebuah mekanisme kultural baru
dalam membangun relasinya dengan sumberdaya alam. Keyakinan terhadap ajaran
Islam yang semakin merasuk seiring dengan hilangnya basis kepercayaan animistis
kemudian memberi basis baru terhadap penataan hubungan mereka dengan sumberdaya
alam, khususnya terhadap sumberdaya alam yang dikonsepsikan sebagai milik komunal
atau milik bersama (communally owned resources). Menguatnya struktur desa sebagai
kesatuan hidup dan kesatuan administratif paling rendah dalam struktur negara juga
kemudian secara baik dimanfaatkan oleh komunitas lokal sebagai wadah kelembagaan
dalam menata hubungan baru dengan sumberdaya alam. Kalau di masa lampu basis
kelembagaan di tingkat komunitas adalah huta atau banua (gabungan beberapa huta),
kini kelembagaan desa dimanfaatkan sebagai wadah baru reformasi relasi dengan
lingkungan alam. Komunitas desa kemudian tampil sebagai inisiator dan pionir untuk
membangun sistem konservasi baru. Paling tidak, hal itu sudah terbukti efektif dalam
penyelenggaraan sistem pengelolaan lubuk larangan, untuk konservasi sumberdaya
ikan sungai. Untuk konservasi sumberdaya hutan, kemunculan TNBG adalah sebuah
ujian baru atas kemampuan masyarakat mempertahankan komitmen bagi program
konservasi.
Lubuk Larangan : tumbuhnya revivalisasi semangat konservasi
Awal dekade 1980-an adalah tonggak baru bagi komunitas lokal di Mandailing Natal
dalam menata hubungannya dengan sumberdaya sungai. Sebelum era 1980-an, aliran
sungai dipandang sebagai sumberdaya dengan akses terbuka (open access), dimana
setiap orang bebas mengambil dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di dalamnya.
Aliran sungai yang melintasi perkampungan15 di seluruh kawasan Mandailing Natal
dimaknai sebagai bukan milik pribadi dan bukan milik komunitas desa. Karena itu
adalah hal biasa jika kita menemukan fakta bahwa orang dari berbagai kampung lain
bisa datang dan masuk ke sungai dimana ia suka untuk menjala ikan, tanpa halangan
dari siapapun16.
Sudah menjadi tradisi bagi orang Mandailing untuk membangun perkampungan di dekat sumberdaya
air, atau aliran sungai, sehingga nama-nama desa mereka juga banyak yang terkait dengan nama anak atau
muara sungai, seperti Muara Soma (yaitu muara sungai Aek Soma), Muara Parlampungan, Muara Soro,
Muara Pungkut, Muara Mais, dll. Keberadaan sumberdaya air di sekitar perkampungan penting untuk
mendukung kehidupan ekonomi, sosial budaya dan religi mereka.
16
Di masa lalu orang-orang yang hobby menjala ikan akan berangkat secara berkelompok pada tengah
malam ke suatu kawasan aliran sungai, lalu mereka menjala ikan dengan mengarah ke hilir sampai
15

12

Tradisi pemeliharaan berbagai jenis ikan di kolam atau empang (disebut tobat)
sudah lama dikenal orang Mandailing. Bahkan di zaman lampau setiap huta yang
dipimpin oleh seorang Raja Pamusuk memiliki areal kolam raya yang disebut dengan
tobat bolak, sebagai sumber persediaan pasokan gizi untuk menjamu tamu raja dan
pada waktu-waktu tertentu diberikan kepada rakyat17. Berbeda halnya dengan ikan di
kolam, ikan sungai dianggap sebagai ikan liar tanpa upaya pemeliharaan.
Awal terbentuknya lubuk larangan di beberapa komunitas desa yang menjadi
pionir di Kabupaten Mandailing Natal sebenarnya mengadopsi gagasan dan praktik
yang sudah berkembang sebelumnya di beberapa tempat di daerah Pasaman, Sumatera
Barat. Di sana terdapat sejumlah desa yang menetapkan larangan untuk menangkap
ikan di sungai untuk jangka waktu tertentu18. Ide itu dibawa oleh warga Mandailing ke
kampung halamannya dan mulai diterapkan di beberapa desa. Dalam waktu beberapa
tahun saja, sebagian besar desa-desa yang memiliki wilayah aliran sungai mengadopsi
dan mempraktikkan pola pengelolaan lubuk larangan. Banyak yang berhasil dan
banyak pula yang gagal. Tabel pada Lampiran 1 menyajikan nama-nama desa yang
ketika penelitian lapangan dilakukan tercatat pernah atau masih memelihara lubuk
larangan; dan pada Lampiran 2 dan 3 tertera nama desa, tahun mulainya lubuk
larangan, panjang lokasi lubuk larangan, jumlah lokasi dan pengelolanya, pada 15 desa
yang menjadi fokus penelitian lapangan. DAS Batang Gadis (khususnya di wilayah
Kecamatan Muara Sipongi dan Kotanopan) dan DAS Batang Natal (khususnya
Kecamatan Batang Natal) merupakan aliran sungai dimana terdapat lubuk larangan.
Lampiran 4 dan 5 menggambarkan peta lokasi lubuk larangan di kedua DAS tersebut.
Pada praktiknya, lubuk larangan di aliran sungai hampir identik dengan kolam
yang dibangun di tengah sungai, karena di lubuk larangan format baru ini sudah ada
perlakuan pemeliharaan. Di beberapa desa bahkan mereka biasa menyebut lubuk
larangan yang ada di daerah itu dengan sebutan tobat rarangan. Kalau kolam ikan di
beberapa kilometer jauhnya hingga tiba pagi hari. Hasil tangkapan mereka biasa dijual di pasar atau untuk
dikonsumsi sendiri.
17
Di Desa Manambin, salah satu bekas pusat kerajaan yang dipimpin oleh klen Lubis di Kecamatan
Kotanopan sekarang, ada tradisi untuk membuat kolam ikan atau empang di bawah dapur di bagian
belakang rumah, tempat dimana berbagai jenis ikan seperti ikan mas, mujair, nila dan halu diperlihara.
18
Di beberapa tempat di Pasaman dan juga di sebuah desa di sekitar Danau Siais Kabupaten Tapanuli
Selatan terdapat kolam ikan dan lubuk yang dipelihara selama bertahun-tahun tak boleh diambil hasilnya,
sehingga kolam dan lubuk itu merupakan wadah pembiakan dan pelestarian plasma nutfah bibit ikan
jurung yang sangat terkenal di daerah ini. Pemeliharaannya, konon, dilakukan dengan menggunakan
semacam jimat dari seorang tokoh ulama, dan ikan hanya dapat diambil dengan aman jika ada izin
darinya.

13

darat biasanya dimiliki secara pribadi, kolam ikan berupa lubuk larangan dimiliki
bersama oleh komunitas desa (masuk kategori communally owned resources). Selain
mengandalkan ikan sungai yang sudah biasa ada, pengurus lubuk larangan di setiap
desa juga memasukkan bibit baru seperti ikan mas, nila, dan berbagai jenis ikan kolam
lainnya. Beberapa jenis ikan yang dikonservasi di lubuk larangan adalah ikan jurung
yang disebut secara lokal dengan nama mera atau garing, lelan, baung, haruting, incor,
haporas, udang, ikan mas, nila, mujair, dll. Semua jenis ikan itu dipantangkan untuk
ditangkap selama periode penutupan lubuk larangan.
Jangka waktu penutupan lubuk larangan atau masa berlakunya larangan untuk
menangkap ikan di lokasi lubuk larangan pada umumnya adalah satu tahun. Dalam
jangka waktu itu, tiada seorang dan tiada satu haripun diizinkan untuk menangkap ikan
di lokasi lubuk larangan. Larangan itu berlaku bukan hanya kepada warga desa pemilik
lokasi lubuk larangan, tetapi berlaku untuk setiap orang darimanapun ia datang. Setiap
komunitas desa menetapkan suatu kepanitiaan yang diberikan kewenangan untuk
mengurus pengelolaan lubuk larangan. Tugas panitia tersebut antara lain adalah
membentuk tim pengawas, penjaga, memberikan pakan, membuat tanda batas lokasi,
membuat pengumuman, memasukkan benih ikan, mencari datu yang bisa membuat
jimat untuk penjagaan secara gaib, menyiapkan dan menyelenggarakan festival
pembukaan lubuk larangan sekali setahun, mengutip uang karcis masuk pada saat
festival, memanfaatkan hasil lubuk larangan untuk tujuan yang sudah disepakati
bersama, dan menyampaikan pertanggung-jawaban publik atas kinerjanya sebagai
panitia.
Tujuan pembentukan lubuk larangan
Berbeda dengan konsep lubuk rarangan berbasis kepercayaan di masa lampau, model
lubuk larangan yang tumbuh sejak tahun 1980-an dikelola dengan pendekatan rasional
dan dengan satu tujuan yang jelas. Tujuan utamanya adalah pembiakan dan pembesaran
ikan-ikan sungai dalam jangka waktu tertentu (sekitar setahun), sehingga pada akhir
periode penutupan lubuk larangan sudah cukup baik untuk dipanen. Asumsinya, selama
pemeliharaan satu tahun benih ikan di dalam sungai akan berkembang dengan baik dan
bertambah banyak. Proses alamiah itu didukung dengan usaha pemeliharaan (misal
dengan memberikan pakan) dan penjagaan (dengan regu jaga dan penjagaan secara
gaib) oleh panitia agar terhindar dari aktivitas pencurian.

14

Lubuk larangan adalah sebuah upaya komunitas desa untuk menghimpun modal
melalui pemeliharaan ikan di dalam sungai untuk jangkwa waktu tertentu, dan hasilnya
akan dimanfaatkan untuk pembangunan sarana publik di desa. Dana yang diperoleh
dari penjualan karcis masuk ketika festival pembukaan lubuk larangan dilakukan
(biasanya pada peringatan hari-hari besar keagamaan/Idul Fitri, IdulAdha atau hari
besar nasional/Hari Kemerdekaan) digunakan untuk pembangunan di desa. Setiap
komunitas desa sudah menetapkan terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan mereka,
misalnya membangun mesjid, madrasah, membiayai honor guru di madrasah, untuk
fasilitas jalan desa, untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin, dan keperluan lain
yang disepakati bersama.
Luas kawasan lubuk larangan
Biasanya tidak seluruh bagian aliran sungai yang melintasi wilayah desa ditetapkan
sebagai lokasi lubuk larangan. Seperti terlihat pada data Lampiran 3, panjang areal
yang dilarangkan bervariasi antara 0,5 sampai 1 km. Pada bagian aliran sungai yang
tidak termasuk lokasi lubuk larangan bebas untuk dimanfaatkan oleh warga untuk
menangkap ikan. Aturan-aturan pengelolaan lubuk larangan hanya diterapkan secara
ketat dan efektif di lokasi larangan. Namun biasanya, pilihan lokasi lubuk larangan
sudah memperhitungkan tempat-tempat yang paling strategis untuk dilarangkan.
Tipe pengelolaan lubuk larangan
Secara umum lubuk larangan dikelola oleh panitia yang dibentuk oleh komunitas desa.
Di daerah Muara Sipongi dan Kotanopan, panitia pada umumnya bukan aparat desa
melainkan orang-orang yang dipercaya dan memiliki integritas dan kemampuan
memimpin. Mereka bekerja berdasarkan mandat musyawarah desa, dan melakukan
pengabdian untuk kepentingan masyarakat desa. Di daerah Batang Natal pengelolanya
agak bervariasi, ada yang langsung dikelola oleh aparat desa dan LKMD, sehingga ada
yang dikenal dengan lubuk larangan LKMD. Ada pula yang dikelola oleh kenaziran
masjid, oleh pengurus madrasah, oleh persatuan pemuda, bahkan ada pula yang
dikelola oleh pihak tertentu melalui sistem kontrak. Patut dicatat di sini bahwa DAS
Batang Natal aliran sungainya cukup besar dan dalam serta banyak anak sungai,
sehingga di beberapa desa seperti Muara Soma, Muara Parlampungan dan Simpang
Gambir terdapat lebih dari satu lubuk larangan di tiap desa. Ada lubuk larangan yang

15

ditujukan untuk masyarakat secara umum, ada yang khusus untuk madrasah, dan ada
pula yang khusus untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
Tipe pengkeramatan
Pengelolaan lubuk larangan format baru sangat kuat diwarnai oleh nuansa ajaran dan
keyakinan agama Islam. Dari segi tujuan dan pemanfaatan hasil lubuk larangan yang
paling dominan adalah untuk keperluan-keperluan yang terkait langsung dengan urusan
keagamaan, misalnya pembangunan dan rehabilitasi bangunan mesjid, pembangunan
madrasah, biaya operasional madrasah, untuk menyantuni anak yatim dan fakir
miskin19. Alasan keagamaan ini ditemukan di semua lokasi lubuk larangan.
Namun dalam proses penjagaan dan pengawasan terhadap tindakan pencurian
ikan di lubuk larangan, terdapat variasi landasan ideasional yang digunakan oleh
panitia. Komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kecamatan Kotanopan misalnya
lebih dominan menyandarkan pengkeramatan secara formal dengan menerapkan
sistem denda yang tegas kepada orang yang terbukti mencuri ikan di lubuk larangan.
Setiap desa sudah memiliki seperangkat aturan pengelolaan, termasuk pengaturan
sanksi bagi pelanggar dengan membayar denda uang dalam jumlah cukup besar
(berkisar Rp 500.000 untuk kasus pencurian ikan). Jika ada kasus pelanggaran akan
diperoses bersama antara panitia dengan aparat desa untuk menemukan kebenaran, dan
jika terbukti bersalah akan ditegakkan aturan secara tegas dan cepat. Panitia lubuk
larangan di daerah Kotanopan melihat penegakan aturan yang tegas dan cepat lebih
efektif untuk menangkal pelanggaran. Namun demikian, proses penjagaan diperkuat
juga dengan pendekatan magis melalui jimat-jimat yang dipesan kepada datu (dukun).
Di sejumlah komunitas pengelola lubuk larangan di Kecamatan Batang Natal
terdapat tiga varian yang dominan, yaitu pengkeramatan secara sosial, magis dan
agama. Pengkeramatan secara sosial dimaksud di sini adalah penerapan sanksi sosial
bagi orang yang kedapatan mencuri ikan di lubuk larangan. Sanksi sosial itu bisa
berupa pengusiran dari desa, pernyataan bersalah dan meminta maaf kepada publik
secara terbuka di masjid serta meminta maaf secara adat kepada masyarakat melalui
lembaga adat dengan membuat jamuan makan bersama. Dalam kasus yang pernah
Komunitas desa pada umumnya bahkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan ulama-ulama tentang
status hukum penerapan lubuk larangan apakah sesuai atau bertentangan dengan hukum Islam. Di
beberapa desa yang resisten terhadap lubuk larangan, seperti di Bangkelang Kecamatan Batang Natal,
masyarakatnya masih lebih mengikuti paham bahwa praktik lubuk larangan adalah bertentangan dengan
ajaran Islam sehingga mereka tidak pernah sepakat untuk membentuk lubuk larangan di desanya.
19

16

ditemukan di lapangan, sanksi sosial itu bahkan pernah diterapkan kepada seorang
aparat desa yang terbukti menjala ikan di lokasi lubuk larangan.
Khusus untuk lubuk larangan anak yatim yang terdapat di beberapa desa di
Kecamatan Batang Natal, upaya pengkeramatan dilakukan dengan menggunakan
ajaran agama. Seluruh hasil pengelolaan lubuk larangan anak yatim digunakan untuk
menyantuni anak yatim yang ada di desa, sehingga diasumsikan bahwa lubuk larangan
tersebut adalah milik anak-anak yatim di desa. Kepada warga masyarakat dipahamkan
bahwa mencuri ikan di lokasi lubuk larangan anak yatim sama artinya dengan mencuri
dan memakan harta anak yatim, dan menurut ajaran agama perbuatan demikian sangat
tercela. Dengan demikian, orang yang berani mencuri ikan di lubuk larangan anak
yatim adalah orang-orang tercela dan akan menanggung dosa.
Selain tipe pengkeramatan di atas, penggunaan jasa orang pintar atau dukun
untuk membuat jimat yang dipercaya dapat menangkal pencurian ikan di lubuk
larangan sangat lazim dipraktikkan di daerah Batang Natal. Jimat penangkal pencurian
ikan tersebut, menurut panitia, mulai dari yang paling ringan yaitu membuat orang
tidak berminat untuk mencuri ikan di lubuk larangan, sampai yang paling berat yaitu
menyebabkan orang yang mencuri sakit-sakitan atau bahkan mati secara mendadak.
Panitia mengatakan ada dua alasan mengapa di daerah ini masih sangat dominan tipe
pengkeramatan dengan menggunakan kekuatan magis, yaitu (a) lokasi lubuk larangan
yang cukup panjang dan jauh dari pemukiman sehingga pengawasan oleh penjaga yang
ditunjuk diperkirakan tidak akan efektif, (b) karena masyarakat di daerah ini masih
sangat percaya kepada kekuatan-kekuatan magis.
Status pengelolaan
Pengelolaan lubuk larangan adalah bentuk pengelolaan sumberdaya alam berbasis
komunitas (community-based resources management). Pengelola utamanya adalah
masyarakat, meskipun secara teknis diserahkan kepada panitia yang dibentuk melalui
musyawarah desa. Peran pemerintah dalam konteks pengelolaan lubuk larangan adalah
memberikan payung hukum berupa penerbitan Peraturan Daerah (Perda). Pemerintah
Kabupaten Tapanuli Selatan

(sebelum pemekaran wilayah Kabupaten Mandailing

Natal ) menerbitkan Perda No. 19 Thn 1988 tentang Pengelolaan Lubuk Larangan.
Pada tahun 1994 Bupati KDH Tk II Tapsel juga mengeluarkan Keputusan
No.188.45/269/1994 tentang Pendelegasian Wewenang Penerbitan Persetujuan Izin

17

Pembentukan Lubuk Larangan Kepada Dinas Perikanan Daerah Tingkat II Tapanuli


Selatan.
Dari perspektif pemerintah, pembentukan lubuk larangan di desa-desa secara
formal harus dialasi dengan izin resmi dari pemerintah daerah. Alasan utamanya adalah
untuk penertiban, pengamanan, pembinaan dan yang tidak kalah penting adalah sebagai
dasar untuk menarik retribusi dari panitia. Sebagian besar komunitas desa pengelola
lubuk larangan memang mengurus izin tersebut pada awal pembentukan, meskipun
tidak semua yang secara rutin mengurus perpanjangan pada tahun-tahun berikutnya.
Pada era 1980-an Bupati KDH Tapsel yang waktu itu dijabat oleh A. Rasyid Nasution
cukup gencar mendukung pembentukan lubuk larangan di berbagai daerah di Tapanuli
Selatan, dan ia juga memberikan bantuan berupa bibit ikan dan pembinaan teknis.
Dengan demikian, pengelolaan lubuk larangan boleh digolongkan sebagai pengelolaan
berbasis komunitas yang mendapat dukungan formal dari pemerintah daerah.

3.4. Potensi ancaman terhadap keberlanjutan


Peenelitian yang dilakukan tidak sampai menyentuh aspek biofisik dari konservasi
sumberdaya ikan sungai dengan model lubuk larangan. Fokus kajian waktu itu hanya
pada aspek sosial budaya, khsusunya penilaian tentang kemampuan komunitas lokal
dalam mendayagunakan modal sosial untuk mendukung sistem pengelolaan lubuk
larangan. Sejauh mengenai topik tersebut, ditemukan fakta lapangan bahwa komunitas
desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal dapat melakukan proses
rekayasa sosial budaya yang cukup baik untuk membangun sistem pengelolaan
sumberdaya secara partisipatif, transparan, berkeadilan dan berkelanjutan.
Namun satu hal yang dilihat sebagai potensi ancaman bagi kelestarian situs
konservasi lubuk larangan adalah kemungkinan terjadinya degradasi sumberdaya hayati
ikan yang menjadi fokus utama konservasi. Konservasi ikan di lubuk larangan memiliki
sifat jangka pendek, sesuai dengan periode penutupan yang hanya berkisar satu tahun.
Dengan periode pendek seperti ini akan dilakukan festival pembukaan lubuk larangan
setiap tahun di satu lokasi. Pengalaman penyelenggaraan festival pembukaan lubuk
larangan di beberapa desa di Kecamatan Kotanopan memperlihatkan kecenderungan
adanya eksploitasi berlebihan pada hari H pembukaan. Jika pengunjung yang datang
dan membeli tiket masuk untuk diberi izin menangkap ikan pada hari itu cukup banyak,

18

sangat mungkin terjadi pengurasan sumberdaya ikan yang ada di dalamnya. Dapat
dibayangkan jika alat tangkap ikan yang digunakan berupa jala beroperasi sampai
sebanyak ratusan unit pada hari itu, maka pasokan ikan yang ada di lubuk larangan
akan terkuras, sehingga proses regenerasi akan membutuhkan waktu lebih panjang.
Keberadaan ikan jurung (mera/garing) yang merupakan primadona di setiap lubuk
larangan dari waktu ke waktu semakin berkurang dan semakin kecil ukurannya. Hal ini
diperkirakan terjadi karena masa satu tahun tidak cukup bagi proses pembiakan ikan
sampai mencapai ukuran terbaiknya. Patut dikemukakan di sini bahwa daya tarik utama
bagi masyarakat penggemar lubuk larangan adalah keberadaan ikan jurung tersebut.
Komunitas pengelola lubuk larangan sudah cukup maju dalam proses rekayasa
kelembagaan dan sistem pengelolaan secara sosial budaya. Mereka mampu melakukan
transformasi pengelolaan situs keramat alami berbasis kepercayaan animistik ke model
pengelolaan yang lebih rasional, berbasis keyakinan agama, dan terlembagakan dengan
baik. Namun mereka belum memiliki kapasitas yang memadai untuk mengintegrasikan
sistem tersebut dengan prinsip-prinsip konservasi secara biologis, sehingga keduanya
bisa berjalan secara sinergis. Sebaiknya kedua aspek itu harus berjalan selaras, karena
ketimpangan pada satu aspek akan mengakibatkan sistem itu ambruk dalam jangka
panjang.

Kesimpulan
1. Komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal telah
memiliki

kemampuan

untuk

mentransformasikan

dan

merevivalisasi

keberadaan situs keramat alami berbasis kepercayaan animistis ke format baru


berbasis

kepercayaan

religius/Islami

sehingga

lebih

adaptif

dengan

perkembangan sosial budaya masyarakat.


2. Komunitas desa pengelola lubuk larangan di Kabupaten Mandailing Natal juga
telah mampu membangun sistem pengelolaan yang lebih rasional, partisipatif,
terbuka, terlembagakan dengan baik sehingga dari sudut sosial budaya model
pengelolaan tersebut sudah memiliki basis keunggulan untuk tetap bertahan
dalam jangka panjang. Bukti-bukti dari kasus-kasus pengelolaan yang persisten
telah menunjukkan bahwa model pengelolaan lubuk larangan mampu bertahan
lebih dari seperempat abad terakhir ini.

19

3. Komunitas pengelola lubuk larangan belum memiliki pengetahuan dan keahlian


yang memadai untuk mempertahankan kesinambungan konservasi sumberdaya
hayati di dalam sungai, sehingga dalam jangka panjang dapat menjadi faktor
ancaman bagi keberlanjutan sistem tersebut.
4. Diperlukan suatu upaya dan dukungan kongkrit bagi komunitas pengelola lubuk
larangan di Mandailing Natal agar mereka memiliki kapasitas yang memadai
untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan yang sudah berkembang dengan
baik (khsususnya dari aspek kelembagaan dan sosial budaya) dengan prinsipprinsip konservasi biologis, agar kedua aspek tersebut dapat berjalan secara
sinergis untuk menjamin keberlanjutan model pengelolaan lubuk larangan
sebagai situs keramat alami yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah B. 1993. Pengelolaan Hutan Wisata Kera Sangeh oleh Desa Adat
Sangeh. Dalam EKONESIA I:1-22. Penerbit P2AE-UI, Jakarta.
Bulmer, R.N.H. 1982. Traditional Conservation Practices in Papua New Guinea.
Dalam L. Morauta et.al. (eds) Traditional Conservation in Papua New Guinea:
Implication for Today. PNG Hal 59-77.
Edi Ikhsan, Zulkifli Lubis, dkk (penyunting). 2005. Dari Hutan Rarangan ke Taman
Nasional: Potret Komunitas Lokal di Sekitar Taman Nasional Batang Gadis,
Bitra Konsorsium, Medan.
Ferrari, Maurizio Farhan. 2002. Community Conserved Areas in Southeast Asia. Final
Report for IUCN.
Lubis, Z. Pangaduan. 1987. Namora Natoras: Pemimpin Tradisional Mandailing.
Skripsi sarjana Antropologi FS USU, tidak diterbitkan, Medan.
Lubis, Zulkifli. 1998. Sistem Penguasaan Sumberdaya Alam di Mandailing Natal.
Laporan penelitian, tidak dipublikasikan.
Lubis, Zulkifli, dkk. 2001. Resistensi, Persistensi dan Model Transmisi Modal Sosial
Dalam Pengelolaan Sumberdaya Milik Bersama: Kajian Antropologis Terhadap
Pengelolaan Lubuk Larangan di Sumatera Utara. Laporan penelitian untuk
Proyek Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan (RUKK I). Kantor
Menteri Negara Riset dan Teknologi RI. Laporan tidak dipublikasikan.
Mangaraja Gunung Sorik Marapi. 1979. Turi-turian Ni Raja Gorga di Langit dohot
Raja Suasa di Portibi. Diterbitkan ulang oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, Jakarta.
Nasution, Pandapotan. 2001. Mandailing Natal: Peluang, Tantangan dan Harapan.
Penerbit Yayasan Parsarimpunan Ni Tondi, Medan.
20

Pandey, Deep Narayan .2003. Traditional Knowledge System for Biodiversity Conservation.
Sumber dokumen elektronik http://www.indianscience.org/
essays/t_es_pande_conserve.shtml

Ratthakette, Pagarat. 1984. Taboos and Tradition: their Influneces on the Conservation
and Exploitation of Trees in Social Forestry Projects in Northern Thailand.
Dalam Y.S. Rao et.al (ed) Community Forestry: Socio-economic Aspects.
FAO-RAPA.
Shcaaf, Thomas.2003. UNESCOs Experience with the Protection of Sacred Natural
Sites for Biodiversity Conservation. Proceeding of the International Workshop
on the Importance of Sacred Natural Sites for Biodiversity Conservation, held
in Kunming and Xishuang Banna Biosphere Reserve. People Republic of
China, 17-20 February 2003.
Soutter, Rob et.al. 2003. Recognizing the Contribution of Sacred Natural Sites for Biodiversity
Conservation. Paper for Workshop Stream II Session I Part I at V World Park
Congress. Diakses melalui dokumen elektronik

Verschuuren, Bas, Josep Maria Mallarach, Gonzalo Oviedo. 2007. Sacred Sites and
Protected Areas. Proposal. IUCN World Commission on Protected Areas Task
Force for Protected Areas Categories. Dalam dokumen elektronik
http://www.iucn.org/themes/wcpa/theme/ categories/summit/
papers/papers/Sacredsites3.pdf

21

Lampiran
Lampiran 1. Desa-desa Pengelola Lubuk Larangan di Kec. Muara Sipongi, Kotanopan dan Batang Natal
(Tahun 2000-2001)
KECAMATAN
NO

MUARA SIPONGI

01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Huta Padang
Huta Toras
Pakantan Lombang
Ranjo Batu, 2 lokasi
Kampung Pinang, 2 lokasi
Koto Tinggi/Bandar Panjang
Simpang Mandepo
Pasar Muara Sipongi
Koto Baringin
Sibinail

Tobang
Botung
Muara Botung
Tolang
Huta Rimbaru, SM
Huta Pungkut Julu
Huta Pungkut Tonga
Husor Tolang
Huta Pungkut Jae
Tamiang
Huta Dangka
Muara Pungkut
Padang Bulan
Muara Siambak
Tambang Bustak
Huta Baringin TB
Muara Mais
Singengu Julu
Singengu Jae
Saba Dolok
Muara Mais Jambur
Lumban Pasir
Tambangan Jae
10 dari 16 Desa
23 dari 85 Desa
Sumber : Hasil wawancara dan pengamatan

Lampiran 2.
NO

KOTANOPAN

BATANG NATAL
Gonting
Tandikek
Manisak
Rantona Linjang
Hutaraja
Muara Bangko/Torusan
Simpang Gambir , 5 lokasi
Tapus
Lancat Batu Gajah
Sikumbu
Aek Garingging
Lobung
Ampung Siala
Muara Parlampungan, 3 lokasi
Muara Soma, 2 lokasi
Ampung Padang
Tombang Kaluang
Bangkelang (?)
Aek Nangali
Tarlola
Rantobi
Ampung Julu
Rantobi
23 dari 40 Desa

Desa fokus lokasi penelitian di tiga kecamatan

KODE

NAMA
KOMUNITAS DESA
PENGELOLA
Singengu Julu &
Singengu Jae

KECAMATAN

01

P1-KNP

Kotanopan

02
03
04
05

P2-KNP
P3-KNP
P4-MSP
P5-MSP

Husor Tolang
Huta Rimbaru SM
Koto Baringin
Koto Tinggi/
Desa Bandar Panjang

Kotanopan
Kotanopan
Muara Sipongi
Muara Sipongi

06

P6-MSP

Muara Sipongi

07
08
09

P7-BTN
P8-BTN
P9-BTN

Tanjung Larangan/
Desa Kampung
Pinang
Muara Soma
Muara Parlampungan
Ranto Sore/
Desa Simpang

Batang Natal
Batang Natal
Batang Natal

KETERANGAN
Kasus persisten (P), komunitas
pengelola LL gabungan dari dua
desa
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P), bagian dari
wilayah administrasi Desa Bandar
Panjang
Kasus persisten (P), bagian dari
wilayah administrasi Desa
Kampung Pinang
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P), bagian dari
wilayah administrasi Desa

22

10
11
12
13

R1-KNP
R2-KNP
R3-MSP
R4-MSP

Gambir
Huta Baringin TB
Muara Botung
Pasar Muara Sipongi
Kampung Pinang

Kotanopan
Kotanopan
Muara Sipongi
Muara Sipongi

14
15

R5-BTN
R6-BTN

Tarlola
Bangkelang

Batang Natal
Batang Natal

Simpang Gambir
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R ), dusun/bagian
dari wilayah administrasi
Kampung Pinang
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R )

Lampiran 6.

Bilik 6 : Contoh daftar jaga malam di lokasi lubuk larangan


DAFTAR : JAGA MALAM LUBUK LARANGAN DESA HUTARIMBARU SM
MULAI BERLAKU TANGGAL 10 DESEMBER 1999 (MALAM SABTU)
JAGA MALAM DIMULAI JAM 20.00 WIB s/d JAM 3.00 PAGI
POS

SABTU

MINGGU

SENIN

POS
I

Ali Atas
Moncot
Salam
Ilham Sakti
Japuli

M. Nurdin

Safawi
AMutholib
Syakban
Ali
Edi
Irjon
Ramlan
Torkis
Zulkifli
Jumidi
Sahrul

Ab Holad
Jagairan
Hamzah
Madik
Hatib
Hasyim
Dahlan
Afsin
Iskandar
Pengpeng
Ibrahim

Saleh
Abd. Holid
M. Taon
Nasar
Buyung

Parlagutan
Syahrial
Kampung
Darwin
Ikhsan s.
Pangulu

POS
II

Irsad
Hasan Basri
M. Rizal
Pamilu
Ali SAti

POS
III

Amron Lubis
Abdullah
Y. Simamora
Lolotan
Pijor

AswinSakti

Asroi
Asrin
Hidayat
Sofwat
Haris
Ahmad
Irsan/Sinso
Tungkot
Rahim
Miswar
Partomuan
Muda
Samsul
Bahri
Paisal
Amrun

SELASA

RABU
Gozalih
Naswan
Ishak
Safar
Pai Budi
Johar
Sahmudin
Samsyudin
Fendi
Buyung
Ahmad

KAMIS
Erli Dlt

JUMAT

Makrum
M. Nur
Mukti

Syamsir
Rasoki
Nasri
Amat
Kedan

Burhan
Sangkot
Bahrum
Makruf
Yusuf

Habibulah
M.Hakim
Fai Boncel
Khairul A
Hidayat

Parlindungan

Amiruddin
Memet
Bakhtiar
M.Idris
Ramli
Zulkarnain
Hamdan
Edy Faisal
Ikhsan S
Amir
Parlindung
A Hakim
Hamzah
Nasir
Marzuki
Ridoan
Amid
Sakban
Nazar
Demikianlah Daftar Jaga Malam ini dibuat, diperhatikan, dipertimbangkan dan diputuskan oleh Panitia bersama
Kepala Desa. Semoga saudara-saudara maklum.
Perlu diingat : 1. Senter diambil pada Sdr Hamzah Lubis dan juga pengembaliannya pada pagi harinya
2. Pergantian Pos untuk jaga malam selanjutnya, yang jaga di Pos I pindah ke Pos II, yang jaga di
Pos II pindah ke Pos III dan yang jaga di Pos III pindah ke Pos I dan seterusnya.
3. Kalau sadaura-saudara kurang cocok dengan malam jaganya, boleh bergantian asal dapat izin dari
Komandan Regunya masing-masing.

DISETUJUI OLEH
KEPALA DESA HUTARIMBARU

HUSIN NASUTION

DITETAPKAN DI HUTARIMBARU
PADA TANGGAL 4 DESEMBER 1999
PANITIA LUBUK LARANGAN DESA HUTARIMBARU SM
KETUA
SEKRETARIS

SAFAWI LUBIS

HAMZAH LUBIS

23

Lampiran 7

Bilik 7 : Sanksi bagi pelaku pencurian & insentif bagi pelapor tindak pencurian
SANKSI DENDA
(dlm Rupiah)

NO

LOKASI

P1-KNP

P2-KNP

P3-KNP

500,000 umum
1,000,000 (utk warga Desa
Huta Padang) *
500,000 (warga biasa)
1,000,000 (utk panitia)
+ alat disita
500,000 + alat disita

P4-MSP

50,000

P5-MSP

250,000 + alat disita

6
7

P6-MSP
P7-BTN

P8-BTN

30,000 + alat disita


LL-LKMD : 250,000
LL-Anak Yatim:50,000
+ alat disita
LL-LKMD : 300,000
LL-MHI : 300,000
LL-Anak Yatim : belum diatur

P9-BTN

+ alat disita

SANKSI
SOSIAL

INSENTIF UTK
PELAPOR/
PENANGKAP
100 % untuk pelapor

Jika tdk dibayar,


dikucilkan **)
Jika tdk dibayar,
dikucilkan
Jika tak bayar 1 bln,
Dikucilkan

60 % utk penangkap,
20 % utk pelapor,
20 % kas
20 % utk pelapor,
80% kas
1/3 utk pelapor,
2/3 utk kas

Dikucilkan

LL-SD/Koramil: 100,000

*) Sesuai perjanjian antara Desa Singengu dan Desa Huta Padang. Sanksi yang lebih besar
diterapkan karena berdasarkan pengalaman banyak kasusa pencurian ikan di LL Singengu
dilakukan oleh penduduk Desa Huta Padang
**) Maksudnya dikucilkan dalam pergaulan masyarakat dan tidak dilayani dalam urusan adat.

24

Bilik 8 : Beberapa pelanggaran terhadap aturan main


Lampiran 8
1 Lokasi P1-KNP (1999). Seorang warga desa sendiri mencuri ikan pada siang hari di lokasi
lubuk larangan tanpa alat, dilihat oleh seorang warga lain. Saksi tersebut melapor kepada
panitia, kemudian pencuri ditangkap dan diproses oleh panitia bersama Kepala Desa.
Sesuai aturan yang berlaku di Lubuk Larangan Singengu dia harus membayar denda Rp
500,000, dan harus dilunasi pada hari itu juga. Pelaku meminta kelonggaran waktu untuk
membayar denda, tetapi ditolak oleh panitia, dan akhirnya harus dibayarkan hari itu juga.
Uang denda itu kemudian diberikan sebagai insentif bagi saksi pelapor.
2. Lokasi P3-KNP (1998). Seorang warga desa Sayur Maincat tertangkap melakukan
pencurian di lubuk larangan Desa Huta Rimbaru. Pencuri ditangkap dan dibawa ke kepala
desa dan diproses bersama panitia dan hatobangon (tokoh masyarakat). Sesuai aturan
yang berlaku di desa Huta Rimbaru pencuri harus membayar denda Rp 500,000. Pelaku
berjanji akan membayar denda tersebut seminggu kemudian, tetapi sampai batas waktu
tersebut dia tidak dapat melunasi dendanya. Karena pelakunya tidak bisa membayar tunai
maka atas persetujuan panitia dan kepala desa Huta Rimbaru yang bersangkutan
menyerahkan sebidang tanah miliknya di Sayur Maincat berikut surat-surat bukti
kepemilikannya kepada panitia sebagai ganti denda.
3. Lokasi P3-KNP (1997). Seorang warga desa Huta Padang tertangkap mencuri ikan di
lokasi lubuk larangan Huta Rimbaru, kemudian diproses dan diwajibkan membayar denda
sebesar Rp 500,000. Karena pelakunya tidak mempunyai uang tunai untuk membayar
denda tersebut, kepada panitia lalu diserahkannya dua ekor kambing miliknya senilai Rp
500,000,-. Pada tahun yang sama pernah juga terjadi kasus pencurian ikan di lubuk
larangan desa Huta Rimbaru yang dilakukan oleh seorang warga desa tersebut. Karena
ketahuan dan takut ditangkap oleh panitia, pelaku pencurian tersebut melarikan diri dari
desa. Setahun kemudian yang bersangkutan pulang ke kampung ketika orangtuanya
meninggal dunia. Tak lama sesudahnya kasus pencurian itu dibuka kembali dan diproses
oleh panitia dan pelakunya dikenakan denda sesuai dengan aturan yang berlaku.
4. Lokasi P2-KNP (2000). Seorang warga desa Huta Pungkut melakukan pencurian ikan di
Lubuk Larangan Desa Husor Tolang. Ketika pelaku diminta panitia untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya dia menolak dan tidak mau mengakui
perbuatannya. Karena itu Kepala Desa Husor Tolang bersama tokoh masyarakat dan
panitia lubuk larangan mendatangi dan melaporkan kasus tersebut kepada Kepala Desa
dari pelaku pencurian. Kemudian setelah pelaku mengakui perbuatannya, dia diharuskan
membayar denda Rp 300,000, tunai dan senilai Rp 200,000,- dalam bentuk hutang selama
seminggu yang dinyatakan di atas segel.
5. Lokasi P7-BTN (1996). Seorang warga desa melakukan pencurian namun tidak mengaku.
Karena laporan saksi cukup kuat yang bersangkutan dihukum dengan cara
mengeluarkannya dari desa. Empat bulan kemudian dia mengaku dan diperbolehkan
kembali ke desanya.
6. Lokasi P7-BTN (1999). Seorang aparat desa ketahuan mencuri ikan di lubuk larangan
Desa Muara Soma, disaksikan oleh seorang ibu rumah tangga yang kemudian
melaporkannya kepada suaminya, dan sang suami kemudian melapor kepada Kepala
Desa. Karena kesaksian datang dari seorang perempuan dan lebih dipercaya maka pelaku
yang bersangkutan dikenakan denda Rp. 50.000,. Selain itu dia mendapatkan sanksi sosial
berupa keharusan untuk meminta maaf kepada warga desa melalui pernyataan di mesjid
setelah Sholat Jumat, dan juga diharuskan mengundang para hatobangon di desa ke
rumahnya untuk mengadakan pernyataan maaf secara adat. Acara tersebut disertai dengan
jamuan makan menggunakan pulut kuning sesuai dengan aturan adat setempat.
7. Lokasi P5-MSP (1987). Seorang warga desa Muara Kumpulan tertangkap menjala ikan di
lubuk larangan Koto Tinggi. Pelaku diharuskan membayar denda sebesar Rp 100,000,
tetapi pada saat diproses oleh panitia baru mampu membayar separuhnya. Panitia

25

Lampiran 9
Tabel 4. Sasaran Pemanfaatan Hasil Lubuk Larangann

NO

KODE

01

P1-KNP

02

P2-KNP

NAMA KOMUNITAS DESA


PENGELOLA
Singengu Julu &
Singengu Jae
Husor Tolang

SASARAN
PEMANFAATAN HASIL
Pembangunan dan biaya operasional Madrasah
Syariful Majlis
Guru madrasah, pembangunan masjid, dan sarana
jalan desa
Pembangunan madrasah 2 lantai

03

P3-KNP

Huta Rimbaru SM

04

P4-MSP

Koto Baringin

05

P5-MSP

06

P6-MSP

07

P7-BTN

Koto Tinggi/
Desa Bandar Panjang
Tanjung Larangan/
Desa Kampung Pinang
Muara Soma

08

P8-BTN

Muara Parlampungan

09

P9-BTN

10

R1-KNP

Ranto Sore/
Desa Simpang Gambir
Huta Baringin TB

11

R2-KNP

Muara Botung

12

R3-MSP Pasar Muara Sipongi

Organisasi pemuda

13

R4-MSP Kampung Pinang

Pembangunan masjid, organisasi pemuda

14

R5-BTN

Tarlola

Pembangunan masjid

15

R6-BTN

Bangkelang

Direncanakan utk pembangunan masjid

Pembangunan masjid, sarana jalan, organisasi


pemuda, klub sepak bola
Pembangunan masjid, organisasi pemuda
Pembangunan masjid, organisasi pemuda
Pembangunan masjid, bantuan anak yatim dan
fakir miskin, organisasi pemuda
Pembangunan masjid, bantuan anak yatim dan
fakir miskin, operasional madrasah MHI
Biaya honor guru SDN, organisasi pemuda
Pembangunan masjid
Pembangunan masjid, organisasi pemuda

26

Lampiran 3 . Riwayat pengelolaan lubuk larangan di Komunitas Desa Lokasi Penelitian


NO

KODE

NAMA KOMUNITAS
DESA PENGELOLA

KECAMATAN

01

P1-KNP

Singengu Julu &


Singengu Jae

Kotanopan

02
03
04

P2-KNP
P3-KNP
P4-MSP

Husor Tolang
Huta Rimbaru SM
Koto Baringin

Kotanopan
Kotanopan
Muara Sipongi

05

P5-MSP

Muara Sipongi

06

P6-MSP

Koto Tinggi/
Desa Bandar Panjang
Tanjung Larangan/

KETERANGAN

Kasus persisten (P), komunitas


pengelola LL gabungan dari dua
desa
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P)
Kasus persisten (P)

07

P7-BTN

Muara Soma

Batang Natal

Kasus persisten (P), bagian dari


wilayah Desa Bandar Panjang
Kasus persisten (P), bagian dari
wilayah Desa Kampung Pinang
Kasus persisten (P)

08

P8-BTN

Muara Parlampungan

Batang Natal

Kasus persisten (P)

09

P9-BTN

Ranto Sore/

Batang Natal

Kasus persisten (P), bagian dari


wilayah Desa Simpang Gambir
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R ), bagian dari
wilayah Kampung Pinang
Kasus resisten (R )
Kasus resisten (R )

Muara Sipongi

Desa Kampung Pinang

Desa Simpang Gambir

10
11
12
13

R1-KNP
R2-KNP
R3-MSP
R4-MSP

Huta Baringin TB
Muara Botung
Pasar Muara Sipongi
Kampung Pinang

Kotanopan
Kotanopan
Muara Sipongi
Muara Sipongi

14
15

R5-BTN
R6-BTN

Tarlola
Bangkelang

Batang Natal
Batang Natal

TAHUN
MULAI
BERDIRI
1983

JLH
LOKA
SI
1

PANJANG
LL
(KM)
0,8

1980
1989
1970an *
1980-an
1985

1
1
1

1,0

0,7

1970-an*
1985
1984
1996
1984
1996
1997
1995
1996
1991
1988
1992
1970-an*
1980-an
1995
1990-an*

1,0

2,0

2,5

2,0

1
1
1
1

0,9
1,0
0,4
0,5

1,0
0

1,0

KETERANGAN

*) dikelola lembaga
adat

*) dikelola lembaga
adat

*) dikelola lembaga
adat
*) tumbuh inisiatif,
tapi gagal realisasi

27

Lampiran 4. Peta lokasi lubuk larangan di daerah Kecamatan Batang Natal

KEC. PANYABUNGAN

KETERANGAN :

Kota Kecamatan
Batas Kabupaten
Batas Kecamatan
Jalan Raya
Sungai
Desa Lokasi L. Larangan
Lubuk Larangan Persisten
Lubuk Larangan Resisten
SKALA 1 : 224.000

S
Muara
Soma

KEC.
NATAL

Muara
Perlampungan

Ampung Padang
Bangkelang
Aek Nangali

Rantobi
Ampung Siala

Tarlola

KEC. BATANG NATAL

Ranto Sore
Sp. Gambir

Lobung

KEC. KOTA NOPAN

KEC.
BATAHAN

Gonting

a ng ko

Ko
l bung

B.

Bataha

A.

Muara Bangko
(Torusan)
Hutaraja

Rantona Linjang

Manisak

B. Ran t au

ir
Hil

B.

Tandikek

PROP. SUMATERA BARAT


Hilir

Hilir

Bt

Sikumbu

S.

Loncat Batu Gajah

.N
a
S. Bt. Bangko tal

Aek Garingging

28

Lampiran 5. Peta lokasi lubuk larangan di Kecamatan Muara Sipongi dan Kotanopan

KEC. PANYABUNGAN

KETERANGAN :

B
S

ilir

S.
Bt
.G
adis

Muara Mais
Jambur

Tamiang

Muara Mais

Tambang
Bustak

Husor Tolang
Muara Botung
Tobang
Koto Tinggi

Kota
Nopan

KEC.
BATANG NATAL

Kota Kecamatan
Batas Kabupaten
Batas Kecamatan
Jalan Raya
Sungai
Desa Lokasi L. Larangan
Lubuk Larangan Persisten
Lubuk Larangan Resisten
SKALA 1 : 260.000

Tambangan Jae
Lumban Pasir
Hutarimbaru
Padang Bulan
Huta Baringin
Singengu
Huta Dangka
Saba Dolok

Muara Siambak
Muara Pungkut
Huta Pungkut Jae

Ps. Muara Sipongi

Huta Pungkut Tonga


Bandar Panjang

Muara Sipongi

Tolang
Huta Pungkut Julu

KEC.
KOTA NOPAN

Sibinail

Botung

KAB.
LABUHAN BATU
Jalan Lintas Sumatera

Koto Baringin
Kp. Pinang
Ranjobatu
Tj, Larangan
Simpang Mendapo

KEC.
MUARA
SIPONGI

Pakantan Lomban
Hutapadang
Hutatoras

PROP. SUMATERA BARAT

29