Anda di halaman 1dari 10

Kewajiban Pabean Atas Impor- Ekspor Tenaga Listrik

ABSTRAK

Impor tenaga listrik sebagaimana impor barang/komoditi lainnya wajib


menyelesaikan kewajiban pabean berupa penyampaian dokumen pemberitahuan impor
barang. Demikian juga ekspor tenaga listrik wajib menyampaikan pemberitahuan ekspor
barang. Penyampaian pemberitahuan impor atau ekspor tenaga listrik bersifat
selfassessment, artinya importir/eksportir membuat sendiri dokumen pemberitahuan, dan
menyampaikannya ke Kantor Pabean setempat. Penyelesaian penyampaian pemberitahuan
tersebut dapat disampaikan dengan pemberitahuan impor/ekspor secara berkala untuk
importasi/eksportasi selama sebulan, yang dilakukan secara manual. Atas impor tenaga
listrik tidak dipungut bea masuk karena tarifnya 0%; sedangkan terhadap ekspor tenaga
listrik tidak dikenakan pungutan bea keluar maupun PPN. Dalam hal impor permesinan atau
peralatan pembangkit tenaga listrik dan transmisi terkait dapat diberikan fasilitas
pembebasan bea masuk dan fasilitas lainnya yang diatur oleh Menteri Keuangan.
Impor/ekspor tenaga listrik wajib memenuhi ketentuan Undang-undang Kepabeanan.
Kelalaian pemenuhan kewajiban pabean dapat dianggap sebagai tindakan penyelundupan
dengan ancaman sanksi pidana sesuai dengan Undang-undang Kepabeanan.
Kata kunci: Kewajiban pabean, pemberitahuan pabean.

Kewajiban Pabean Atas Impor- Ekspor Tenaga Listrik


Oleh: AHMAD DIMYATI
Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai

Pendahuluan
Akhir-akhir ini ramai dibicarakan mengenai impor dan ekspor listrik. PT Perusahaan
Listrik Negara akan mulai mendapat pasokan energi listrik sebesar 50 megawatt dari Negara
Bagian Sarawak, Malaysia pada tahun 2014. Listrik akan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan di sebagian wilayah Propinsi Kalimantan Barat (Kompas, 11 November 2013).
Selain mengimpor listrik dari Malaysia, Indonesia juga akan mengekspor listrik. Perjanjian
jual beli listrik ditandatangani oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (Persero), PT
PLN (Persero), dan perusahaan Malaysia PNB. Sebagian listrik di daerah Riau tersebut
akan diekspor ke Semenanjung Malaysia (Republika, 20 November 2013). Impor-ekspor
barang lazim dilakukan dengan pertimbangan ekonomis. Sebagai realisasinya pada tanggal
10 Februari 2014 bertempat di Sabah, Malaysia, telah ditanda tangani nota kesepahaman
(MoU) antara Sabah Electricity Sdn Bhn dan PT PLN mengenai ekspor listrik ke Malaysia
(Republika, 13 Januari 2014).
Impor maupun ekspor listrik atau tenaga listrik merupakan kegiatan perdagangan
internasional. Ketentuan dalam perundang-undangan Kepabeanan di Indonesia adalah
bahwa orang yang mengimpor atau mengekspor barang wajib melakukan pemenuhan
kewajiban pabean. Lazimnya objek perdagangan adalah barang dan/atau jasa. Jika
perdagangan tersebut dilakukan antar negara (perdagangan internasional) maka kegiatan
tersebut disebut impor (masuk) atau ekspor (keluar). Namun berkaitan dengan pemenuhan
kewajiban pabean objeknya adalah barang, tidak termasuk jasa. Dalam kaitan ini apakah
listrik termasuk dalam kategori barang yang pada impor atau ekspornya wajib memenuhi
kewajiban pabean?
Penulis akan membahas hal ini dari sudut peraturan perundang-undangan
kepabeanan. Selanjutnya tindakan apa yang harus dilakukan dalam hal timbul kewajiban
pabean. Hal ini perlu dilakukan agar suatu tindakan impor atau ekspor tidak melanggar
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apalagi jika hal ini dilakukan oleh institusi
atau lembaga strategis, karena pelanggarannya diancam sanksi pidana.

Tinjauan Teoritik
Sesuai ketentuan dalam Undang-undang Kepabeanan, pengertian impor adalah
kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean; sedangkan pengertian ekspor
adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.

Pengertian daerah pabean

adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara
diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen
yang di dalamnya berlaku Undang-undang Kepabeanan.
Pada saat ini hampir semua wilayah RI termasuk dalam daerah pabean, kecuali
kawasan yang ditetapkan sebagai Kawasan Bebas (Free Trade Zone), seperti kawasan
BBK (Batam, Bintan, Karimun), dan Sabang. Barang-barang yang masuk ke FTZ belum
dianggap diimpor.
Berkaitan dengan kewajiban atas impor dan ekspor, dalam pasal 2 Undang-undang
Kepabeanan ditetapkan bahwa:
(1) Barang yang dimasukkan ke dalam daerah pabean diperlakukan sebagai barang
impor dan terutang bea masuk.
(2) Barang yang telah dimuat di sarana pengangkut untuk dikeluarkan dari daerah
pabean dianggap telah diekspor dan diberlakukan sebagai barang ekspor.
Pengertian impor secara yuridis adalah pada saat barang memasuki daerah
pabean dan menetapkan saat barang tersebut terutang bea masuk. Hal ini merupakan dasar
yuridis bagi Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pengawasan. Sedangkan pengertian
ekspor, secara nyata ekspor terjadi pada saat barang melintasi daerah pabean, namun
secara yuridis ekspor dianggap telah terjadi pada saat barang tersebut telah dimuat
disarana pengangkut yang akan berangkat ke luar daerah pabean. Yang dimaksud dengan
sarana pengangkut adalah setiap kendaraan, pesawat udara, kapal laut, atau sarana lain
yang digunakan untuk mengangkut barang atau orang.
Dalam kaitannya dengan impor-ekspor tenaga listrik, apakah importir atau eksportir
wajib memenuhi kewajiban pabean? Apakah listrik termasuk dalam kategori barang
sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang Kepabeanan? Ketentuan dalam Undangundang Kepabeanan bahwa atas barang yang diimpor atau diekspor, pihak importir wajib
menyampaikan pemberitahuan pabean.
Definisi barang adalah setiap benda material yang memenuhi sesuatu kebutuhan
manusia yang dibedakan dengan jasa. Dalam ilmu ekonomi tidak dibedakan antara benda
fisik dan jasa. Benda biasanya dibagi dalam benda bebas dan benda ekonomi
3

(Prof.Dr.Winardi, SE, Kamus Ekonomi). Dalam makro ekonomi dan akuntansi, barang
didefinisikan sebagai suatu produk fisik (berwujud, tangible) yang dapat diberikan pada
seorang pembeli dan melibatkan perpindahan kepemilikan dari penjual ke pelanggan. Lebih
lanjut disebutkan bahwa istilah komoditas sering digunakan dalam mikro ekonomi untuk
membedakan barang dan jasa.
Walaupun barang didefinisikan sebagai suatu produk berwujud (tangible), pada
beberapa komoditi dapat berupa barang tidak berwujud secara fisik namun sifat, tujuan dan
fungsinya sama, contoh: tenaga listrik, peranti lunak (software). Dalam Peraturan
Pemerintah No.54 Tahun 2010 tentang Pengadaan barang/jasa Pemerintah, pengertian
barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak
bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh
pengguna barang.
Berkaitan dengan impor-ekspor tenaga listrik, dalam pasal 8 Undang-undang
Kepabeanan ditetapkan bahwa:
(1) Pengangkutan tenaga listrik, barang cair atau gas untuk impor atau ekspor dapat
dilakukan melalui transmisi atau saluran pipa yang jumlah dan jenis barangnya
didasarkan pada hasil pengukuran di tempat pengukuran terakhir dalam daerah
pabean.
(2) Pengiriman piranti lunak dan/atau data elektronik untuk impor atau ekspor dapat
dilakukan melalui transmisi elektronik.
Dalam Undang-undang Kepabeanan tenaga listrik dan software dikategorikan
sebagai barang. Dengan demikian impor atau ekspornya wajib memenuhi formalitas
pabean. Dalam pelaksanaannya pihak importir maupun eksportir wajib menyampaikan
dokumen pemberitahuan pabean impor/ekspor ke Kantor Pabean setempat.
Sesuai dengan Undang-undang Ketenagalistrikan, yang dimaksud dengan tenaga
listrik adalah suatu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan, dan
didistribusikan untuk segala macam keperluan, tetapi tidak meliputi listrik yang dipakai untuk
komunikasi, elektronika, atau isyarat. Sedangkan pengertian transmisi tenaga listrik adalah
penyaluran tenaga listrik dari pembangkitan ke sistem distribusi atau ke konsumen, atau
penyaluran tenaga listrik antar sistem.
Lazimnya barang diangkut dengan sarana pengangkut laut, atau udara, atau darat.
Namun terhadap komoditi berupa barang cair, barang berbentuk gas, tenaga listrik,
pengangkutannya dilakukan dengan cara khusus, antara lain melalui transmisi atau saluran

pipa. Transmisi merupakan sistem pengiriman dari suatu tempat ke tempat lain melalui
jaringan. Pemberitahuan pabean atas impor atau ekspor barang tersebut harus didasarkan
pada jumlah dan jenis barang pada saat pengukuran ditempat pengukuran terakhir dalam
daerah pabean.
Ketentuan umum impor dan ekspor
Institusi yang berwenang menangani penyelesaian impor atau ekspor adalah
institusi kepabeanan (dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai). Dalam pasal 6
Undang-undang Kepabeanan ditetapkan bahwa terhadap barang yang diimpor atau
diekspor berlaku segala ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Kepabeanan.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelesaian kewajiban pabean atas barang impor
atau ekspor harus didasarkan pada ketentuan dalam undang-undang Kepabeanan yang
pelaksanaan penegakannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Kewajiban pabean adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib
dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-undang Kepabeanan. Orang yang
akan melakukan pemenuhan kewajiban pabean terlebih dahulu harus melakukan registrasi
ke DJBC untuk mendapatkan Nomor Identitas Kepabeanan (NIK) dalam rangka akses
kepabeanan. Registrasi Kepabeanan merupakan kegiatan pendaftaran yang dilakukan
pengguna jasa kepabeanan dan cukai (importir, eksportir, PPJK, pengusaha barang kena
cukai, pengangkut, pengusaha kawasan berikat dan sejenisnya) ke DJBC untuk
mendapatkan NIK. NIK adalah nomor identitas bersifat pribadi atau juga perusahaan yang
digunakan untuk mengakses atau berhubungan dengan sistem kepabeanan DJBC, baik
yang menggunakan teknologi informasi maupun secara manual, dalam rangka pemenuhan
kewajiban kepabeanan.

Registrasi importir dilakukan dengan cara mengajukan Isian

Registrasi Importir secara elektronik kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui situs
resmi DJBC (http://www.beacukai.go.id).
Kewajiban melakukan registrasi dikecualikan terhadap orang yang melakukan
pemenuhan kewajiban pabean tertentu seperti: (1) barang perwakilan negara asing, badan
internasional; (2) barang penumpang, kiriman, pindahan, hibah; (3) barang keperluan
pemerintah/lembaga negara lainnya, yang diimpor sendiri oleh instansi yang bersangkutan;
dan (4) barang yang mendapat persetujuan impor tanpa Angka Pengenal Impor (API) dari
instansi teknis terkait yang menerbitkan API.
Dalam pelaksanaannya pemenuhan kewajiban pabean atas impor maupun ekspor
dilakukan di kantor pabean atau tempat lain yang disamakan dengan kantor pabean dengan
menggunakan pemberitahuan pabean. Pemberitahuan pabean disampaikan kepada Pejabat
5

Bea dan Cukai di kantor pabean atau tempat lain yang disamakan dengan kantor pabean
(pasal 5 UU Kepabeanan). Pemenuhan kewajiban pabean di tempat selain di kantor pabean
dapat diizinkan dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan kepentingan
perdagangan dan perekonomian, atau apabila dengan cara tersebut kewajiban pabean
dapat dipenuhi dengan lebih mudah, aman, dan murah.
Kegiatan impor dilakukan untuk bermacam-macam tujuan, antara lain: impor
sementara untuk keperluan pameran atau pertunjukan; impor barang/bahan untuk diolah
yang hasil produksinya untuk diekspor kembali; atau diimpor untuk dipakai. Sebagian besar
tujuan impor adalah impor untuk dipakai. Impor untuk dipakai adalah: (a) memasukkan
barang kedalam daerah pabean dengan tujuan untuk dipakai; atau (b) memasukkan barang
ke dalam daerah pabean untuk dimiliki, atau dikuasai oleh orang yang berdomisili di
Indonesia.
Dalam pasal 10B Undang-undang Kepabeanan ditetapkan bahwa barang impor
dapat dikeluarkan sebagai barang impor untuk dipakai setelah:
a. Diserahkan pemberitahuan pabean dan dilunasi bea masuknya;
b. Diserahkan pemberitahuan pabean dan jaminan; atau
c. Diserahkan dokumen pelengkap pabean dan jaminan.
Untuk memenuhi kewajiban pabean atas impor, pihak importir wajib menyampaikan
dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ke Kantor Pabean setempat, dan melunasi
pungutan impor berupa bea masuk, dan pajak dalam rangka impor (PPN impor, PPnBM,
dan PPh pasal 22 impor).
Pihak importir membuat sendiri (self assessment)

PIB berdasarkan dokumen

pelengkap pabean terkait (seperti invoice, packing list, dan dokumen terkait lainnya). Dalam
hal importasi terkena pungutan impor. Importir menghitung sendiri pungutan impor dan
menyetorkannya ke kas negara melalui Bank Devisa Persepsi).

Penyampaian

pemberitahuan pabean impor tersebut dapat disampaikan dalam bentuk tulisan di atas
formulir (manual) atau dalam bentuk data elektronik (PDE atau media elektronik seperti
flashdisk/CD). Berikut ini skema penyelesaian impor.

Bank

PIB

PIB

SPPB

Keterangan:
PIB : Pemberitahuan Impor Barang
SPPB : Surat Persetujuan Pengeluaran Barang

Mekanisme Impor Tenaga Listrik


Sesuai ketentuan dalam UU Ketenagalistrikan penyediaan tenaga listrik dilakukan
oleh badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah. Badan usaha swasta,
koperasi, dan swadaya masyarakat dapat berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga
listrik. Penetapan izin jual beli tenaga listrik lintas negara merupakan kewenangan
pemerintah. Jual beli tenaga listrik lintas negara dapat dilakukan oleh pemegang izin usaha
penyediaan tenaga listrik berdasarkan izin pemerintah dengan mempertimbangkan
kebutuhan tenaga listrik setempat.

Badan usaha milik negara diberi prioritas pertama

melakukan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. Pemegang izin usaha
penyediaan tenaga listrik dapat melakukan pembelian, sewa jaringan, dan interkoneksi
jaringan tenaga listrik. Dalam hal interkoneksi jaringan tenaga listrik dilakukan lintas negara
dilaksanakan berdasarkan izin Menteri di bidang ketenagalistrikan.
Impor tenaga listrik wajib memenuhi kewajiban pabean berupa penyampaian
pemberitahuan impor barang (PIB) ke Kantor Pabean. Dalam kasus impor listrik melalui
transmisi penyampaian PIB dapat dilakukan dengan menggunakan PIB berkala, yaitu
penyampaian pemberitahuan impor untuk periode sebulan sekali. Pemberitahuan pabean
impor tersebut dapat disampaikan dalam bentuk tulisan di atas formulir (manual).
Pemberitahuan impor barang memuat data pemasok dan importir, jumlah dan jenis barang,
serta pungutan pabean/pajak dalam rangka impor. Penyampaian pemberitahuan impor
barang dilampiri dengan dokumen atau data/informasi terkait. Tenaga listrik termasuk dalam
pos HS 2716.00.00.00 dengan penetapan tarif bea masuk 0 %, PPN 10 %.

Importir yang melakukan kegiatan impor tenaga listrik harus menyediakan alat ukur
yang terpasang pada transmisi. Berpedoman pada ketentuan yang ada, PIB atas impor
tenaga listrik, disampaikan oleh importir ke Kantor Pabean setempat/yang mengawasi alat
ukur, secara periodik paling lambat 1 (satu) hari kerja setelah pemeriksaan jumlah satuan
tenaga listrik yang diimpor pada alat ukur yang ditetapkan di daerah pabean. Jumlah barang
yang tercantum dalam pemberitahuan impor didasarkan pada data di tempat alat ukur
pertama di dalam daerah pabean. Alat ukur tersebut berada dibawah pengawasan DJBC.
Untuk kepentingan pengawasan Pejabat Pabean dapat sewaktu-waktu melakukan
pemeriksaan di lokasi atau di pusat pemantauan dan pengendalian ekspor dan impor
tenaga listrik. Dalam hal perusahaan listrik mengimpor barang dan bahan dalam rangka
pelaksanaan pembangunan pembangkit tenaga listrik dan transmisi terkait, dapat diberikan
fasilitas berupa pembebasan bea masuk berdasarkan keputusan Menteri Keuangan.
Mekanisme Ekspor
Untuk memenuhi kewajiban pabean atas ekspor tenaga listrik, pihak eksportir wajib
menyampaikan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) ke Kantor Pabean setempat,
disertai dengan dokumen pelengkap pabean terkait. Pihak eksportir membuat sendiri (self
assessment) PEB berdasarkan dokumen pelengkap pabean terkait (seperti invoice, daftar
barang, dan dokumen terkait lainnya). Terhadap ekspor tenaga listrik tidak ada pungutan
pabean apapun, tidak ada pungutan bea keluar, dan dibebaskan dari pungutan pajak (PPN).
Mekanisme ekspornya sebagai berikut.

PEB

PEB

NPE

Keterangan:
PEB : Pemberitahuan Ekspor Barang
NPE : Nota Persetujuan Ekspor
Ekspor tenaga listrik melalui transmisi dapat diajukan dengan PEB berkala (periode
ekspor selama 1 bulan). Sesuai ketentuan dalam peraturan DJBC No. 40/2008 pasal 4
bahwa PEB atas ekspor tenaga listrik, barang cair atau gas melalui transmisi atau saluran
pipa, disampaikan oleh eksportir ke Kantor Pabean pemuatan secara periodik paling lambat

1 (satu) hari kerja setelah pemeriksaan jumlah pengiriman barang ekspor pada alat ukur
yang ditetapkan di daerah pabean. Persetujuan penggunaan PEB berkala diberikan oleh
Kepala Kantor Pemuatan berdasarkan permohonan eksportir/kuasanya.
Eksportir wajib mencantumkan data dalam PEB dengan lengkap dan benar
termasuk mencantumkan besaran yang digunakan sebagai satuan ukur barang dalam PEB,
dan masing-masing elemen data nilai ekspor sesuai cara pembayaran barang yang
diberitahukannya. Jumlah dan nilai ekspor barang yang dicantumkan dalam PEB adalah
berdasarkan hasil pengukuran realisasi ekspor dari alat ukur. Data realisasi ekspor yang
digunakan sebagai dasar pengisian dokumen PEB wajib dilampirkan sebagai bagian yang
tidak terpisahkan pada dokumen PEB. Saat pemuatan ekspor barang adalah pada saat
barang melewati alat ukur di setiap titik terakhir pengukuran barang sebelum diekspor.
Untuk keperluan pemantauan dan pengawasan apabila diperlukan pihak pabean sewaktuwaktu dapat melakukan pemeriksaan di lokasi atau di pusat pemantauan dan pengendalian
ekspor yang bersangkutan.
Impor Listrik ke Free Trade Zone
Untuk memenuhi kebutuhan industri di Free Trade Zone (FTZ) Batam, tidak tertutup
kemungkinan adanya impor listrik dari Singapore ke FTZ Batam. Ketentuan dalam
perundang-undangan FTZ atas barang yang dimasukkan ke FTZ tidak dipungut bea masuk
dan pajak dalam rangka impor. Walaupun demikian, sesuai UU Kepabeanan (pasal 115A)
bahwa barang yang dimasukkan atau dikeluarkan ke dan dari serta berada di kawasan yang
telah ditunjuk sebagai daerah perdagangan bebas dan/atau pelabuhan bebas dapat diawasi
oleh DJBC. Pada implementasinya semua barang yang dimasukkan dari luar negeri ke FTZ
Batam wajib menyampaikan dokumen PPFTZ-1 ke Kantor Pabean setempat.
Penutup
Semua barang yang diimpor atau diekspor wajib menyekesaikan kewajiban
pabean. Bukan hanya atas barang modal atau bahan seperti permesinan, transmisi, kabelkabel dan peralatan lainnya yang diimpor yang akan digunakan dalam proses impor atau
ekspor listrik, termasuk juga impor atau ekspor tenaga listriknya wajib menyampaikan
dokumen ekspor/impor dan pemenuhan kewajiban pabean lainnya.
Konsekwensi pelanggaran kewajiban pabean tersebut ditetapkan dalam pasal 102
UU Kepabeanan (tindak pidana penyelundupan dibidang impor); dan pasal 102A UU
Kepabeanan (tindak pidana dibidang ekspor).

DAFTAR PUSTAKA
Republik Indonesia (2006). Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.
Republik Indonesia (2009).
Ketenagalistrikan.

Undang-undang RI

Nomor

30 Tahun 2009 tentang

Peraturan Pemerintah RI (2010). Peraturan Pemerintah RI Nomor 4 Tahun 2010 tentang


Penugasan kepada PT PLN untuk melakukan percepatan pembangunan tenaga
listrik yang menggunakan energi terbarukan, batu bara, dan gas.
Peraturan Pemerintah RI (2012). Peraturan Pemerintah RI Nomor 14 Tahun 2012 tentang
Kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik.
Kementerian Keuangan RI (2007), Keputusan Menteri Keuangan Nomor 144/KMK.04/2007
tentang Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai.
Kementerian Keuangan RI (2008), Keputusan Menteri Keuangan Nomor 27/PMK.04/2008
tentang Impor atau Ekspor Tenaga Listrik, Barang Cair, atau Gas, melalui Transmisi
atau saluran pipa.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (2004), Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
Nomor 66/BC/2004 tentang Tata Laksana Ekspor Gas Melalui Pipa.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (2008), Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
Nomor 40/BC/2008 tentang Tata Laksana Kepabeanan Dibidang Ekspor.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (2008), Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
Nomor 42/BC/2008 jo. Nomor 8/BC/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai.
Prof.Dr. Winardi, SE, Kamus Ekonomi, Bandung, 1995
Harmonized System, 2012
Harian Kompas, 11 November 2013, Indonesia Impor Listrik
Harian Republika, 20 November 2013, RI Ekspor Listrik ke Malaysia.
Harian Republika, 13 Januari 2014, PLN Bisa Ekspor Listrik ke Malaysia.
http://id.wikipwdia.0rg/wiki/barang, Barang atau komoditas dalam pengertian ekonomi. 5-122013, 9.29.

10