Anda di halaman 1dari 8

UJI BEBAN LATERAL KELOMPOK TIANG BETON

DENGAN PILECAP TIPIS PADA TANAH LEMPUNG


LUNAK
Muhammad Firdaus
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Banjarmasin, Indonesia

Hary Christady Hardiyatmo


Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Indonesia

Agus Darmawan Adi


Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Indonesia
ABSTRAK: Penggunaan fondasi kelompok tiang mengapung dengan pelat penutup (pile cap) tipis yang
berfungsi untuk menyatukan ujung tiang dan mendistribusikan beban ke masing-masing tiang diharapkan
dapat memberikan perlawanan terhadap pengaruh beban lateral eksentris yang bekerja pada konstruksi
khususnya dalam penentuan koefisien interaksi sistem fondasi dengan tanah pendukungnya yang bermanfaat
dalam permodelan struktur fondasi. Uji beban lateral berdasarkan metode standar ASTM terhadap model
fondasi kelompok tiang dengan pile cap tipis diuji pada skala laboratorium berukuran 3 m x 1 m x 0,1 m.
Hasil uji laboratorium diuji akurasinya dengan pendekatan analisis dari penelitian terkait dengan
permodelan pondasi tiang di atas tanah lunak dengan pembebanan lateral. Pemberian beban lateral
maksimum 30 kN menyebabkan lendutan pile cap bertambah besar untuk letak momen dekat dengan pusat
pile cap dan memperkecil pengaruh displacement lateral pada perletakan 0,25 meter dari tepi pile cap.
Perhitungan BoEF untuk kv-momen dengan hasil pengamatan diperoleh selisih antara 57% sampai 9 %,
hitungan BoEF dengan memakai kv-PLT terkoreksi selisih di atas 400 %. Analisis perilaku defleksi tiang
dengan metode Broms terhadap hasil pengamatan memperlihatkan selisih perhitungan antara 27 % sampai 6
%.
Kata kunci: Pile cap, perkuatan kelompok tiang, koefisien interaksi, beban lateral eksentris,
ASTM, displacement lateral, BoEF, Broms.

1 PENDAHULUAN
Umumnya semua konstruksi sipil
dibangun di atas tanah, sehingga fondasi
sangat berperan penting dalam kestabilan dan
keamanan konstruksi. Pemilihan jenis fondasi
ditentukan sesuai dengan beban rencana yang
bekerja dan kedalaman tanah keras. Di
lapangan akan dijumpai lapisan tanah keras
terletak sangat dalam, penggunaan fondasi
tiang kelompok yang disatukan dengan kepala
tiang (pile cap) diharapkan dapat memberikan
perlawanan terhadap pengaruh gaya lateral
yang bekerja.
Kelelehan yang menentukan desain dan
berpengaruh terhadap kestabilan struktur
fondasi tiang adalah momen lentur terhadap
tiang fondasi dan pelat (pile cap) akibat
eksentrisitas gaya lateral yang diakibatkan oleh
mekanisme pembebanan struktur atas pada
konstruksi. Tuntutan perkembangan berbagai
macam program komputer untuk permodelan
interaksi struktur atas dengan sistem fondasi

lendutan,

perlu di analisa lebih detil agar dapat


meningkatkan akurasi dalam analisa struktur
secara menyeluruh. Penelitian ini juga
dilakukan analisis menggunakan metode Beam
on Elastic Foundation (BoEF) dan metode
Broms.
2 PUSTAKA

2.1 Metode Brom


Hitungan defleksi tiang dalam tanah kohesif
cara Broms didasarkan pada teori elastis
dengan tanpa memperhatikan defleksi akibat
konsolidasi tanah yang terjadi pada waktu
jangka panjang. Untuk tiang dalam tanah
kohesif defleksi tiang dikaitkan dengan faktor
tak berdimensi L, dengan :

k .d

h

4 .E p .I p

1/ 4

(1)

Defleksi ujung tiang di permukaan tanah


(yo) dinyatakan oleh persamaan-persamaan
yang bergantung pada tipe jepitan tiang, tiang
ujung jepit dianggap sebagai tiang panjang
(tidak kaku) bila L 1,5 dengan:

H
y
o k d
h

(2)

2.2 Pembebanan Lateral pada tiang


2.2.1 Gaya Lateral Ijin
McNulty (1956) (dalam Hardiyatmo,
2002) menyarankan perpindahan lateral ijin
pada bangunan gedung adalah 6 mm, sedang
untuk bangunan-bangunan yang lain sejenis
menara transmisi 12 mm atau sedikit lebih
besar.

2.3 Koefisien Subgrade Tanah Vertikal (kv)


Perilaku bahan elastis terjadi jika hubungan
tegangan dan regangan adalah sebanding
(linier). Pendekatan perilaku tanah sebagai
bahan elastis yaitu dengan mengasumsikan
bahwa hubungan antara lendutan dan tegangan
adalah linier.
Perilaku elastis pada tanah selanjutnya
dituangkan dalam suatu nilai yaang biasanya
disebut koefisien of subgrade reaction atau
dengan notasi kv. Nilai kv merupakan
perbandingan antara tegangan (q) dan lendutan
(). Pengujian standar untuk menghitung nilai
kv biasanya dengan uji beban plat atau plate
load test (PLT),. Nilai kv-PLT dihitung dengan
rumus :
kv-PLT =

Tabel 1 Beban lateral ijin pada tiang vertikal,


untuk defleksi maksimum 6
mm dan faktor
aman
F
=
3
(McNulty,1956
dalam
Hardiyatmo,2002)

(3)

dengan,

q=

P
A

(4)

Gambar 2. Beban momen akibat pembebanan


lateral pada pelat

2.2.2 Metode Pembebanan Lateral


Beban tarik lateral yang diterapkan pada
pile cap sesuai dengan teknis pelaksanaan
ASTM D420-D3966. Pemakaian hydraulic
jack (hydraulic cylinder) yang diletakkan di
tengah suatu sistem penahan/ counter beam
(reaction system) diaplikasikan dengan steel
bearing plates ketebalan minimum 50 mm
pada kedua sisi hydraulic jack. Perancah
(reaction frame) menggunakan besi baja sesuai
persyaratan ASTM D420-D3689 sebagai
penahan 2 (dua)
baja penarik (tension
member) yang sejajar sesuai dengan Gambar 1.

Gambar 1. Pengaturan pembebanan lateral


pada tiang dengan pemakaian hydraulic jack.

Untuk beban momen (Hetenyi, 1974) :

Pa a0 M 0

maka, kv-momen =

P =
M
a.A.

M0
a

(5)
(6)

dengan, P = gaya yang bekerja pada pelat. A = luas


bidang kontak antara pelat dengan tanah. a jarak
beban terhadap titik pusat momen.

2.3.1 Nilai kv dari uji PLT (kv-PLT)


Nilai kv-PLT didapat dari hubungan
tegangan dan penurunan hasil uji beban plat
(PLT) yang merupakan garis lurus diawal
beban (initial modulus). Namun sering juga
dipakai nilai kv-PLT modulus secan dari grafik
hubungan antara tegangan dan penurunan.
Persamaan untuk menghitung kv fondasi (kv-f)
adalah sebagai berikut :

kv f kv PLT

BPLT (1 BPLT / L f )
Bf
1,5

(7)

Dengan : kv-f
= koefisien subgrade untuk
fondasi (kN/m3), kv-PLT = koefisien subgrade
dari uji PLT (kN/m3), BPLT = lebar plat pada
PLT (m), Bf
= lebar fondasi (m), Lf
=
panjang fondasi (m).
2.3.2 Hitungan nilai kv dengan metode
lendutan rata-rata (Hardiyatmo, 1999)
Nilai kv yang diusulkan Hardiyatmo
(1999) ini, didapatkan dengan membandingkan
tegangan rata-rata dan lendutan rata-rata pada
uji beban pada plat fleksibel. Persamaan untuk
menghitung nilai kv adalah sebagai berikut :

menyebabkan tanah di belakang tiang akan


melawan gerakan rotasi tiang dengan
memobilisasi tekanan tanah lateral.
Besarnya tekanan tanah lateral per satuan
luas tiang di belakang tiang yaitu :
(10)
p h k h .H . t
dengan : ph
= tekanan tanah lateral per
satuan luas tiang (kN/m2), kh = koefisien
reaksi subgrade horizontal (kN/m3), t =
rotasi tiang (rad),
H = panjang tiang (m)
Dengan asumsi tanah elastis maka besarnya
tegangan sebanding dengan besarnya lendutan
tiang (Gambar 4).

Q / Ac
(8)
a
1 li ( i i 1 ) li 1 ( i 1 i 2 ) .
a
(9)
2L .. l n1 ( n1 n )

kv

Dengan : Q = beban terpusat (kN), Ac =


luas bidang kontak antara plat dan tanah (m2),
a = lendutan rata-rata plat fleksibel (m), i ,
i+1, n = penurunan pada titik ke-i (m), i =
nomor titik pengukuran i sampai n dengan i =
n = 0, li = jarak masing-masing titik (m), L
= panjang plat yang menyentuh tanah (m).
Penurunan rerata yang terjadi diilustrasikan
pada Gambar 3 akibat beban titik :

Momen perlawanan pada ujung tiang yang


nilainya yaitu :
1
(11)
M p t .k h .d .L2
3
sehingga akan di dapat persamaan koefisien
subgrade horizontal (kh) yakni :
3.M p
kh
(12)
t .d .L2
dengan : Mp = Momen perlawanan tiang
(kN.m), t = perpindahan horizontal ujung
bawah tiang (meter), d =
diameter
tiang
(meter), L = tinggi tiang (meter).

Gambar 3. Penurunan di bawah plat akibat beban


titik.

2.4 Koefisien subgrade tanah horizontal (kh)


dan kekakuan rotasi tiang (k)
Akibat pembebanan pelat penutup tiang
(pile cap) tipis akan menimbulkan defleksi,
bila hubungan antara tiang dan pelat monolit
maka pelat akan terdefleksi dan tiang akan
berotasi. Timbulnya rotasi pada tiang

Untuk mencari nilai kekakuan tiang (k)


dengan persamaan yakni :
k .d .L3
(13)
k tiang h
3
dengan : k-tiang

= kekakuan rotasi tiang

(kN.m)
2.5 Beams on Elastic Foundation (BoEF)
Pelat penutup (pile cap) yang diasumsikan
sebagai balok. Analisis lendutan (defleksi)

balok pada fondasi elastis (beams on elastic


foundation) dikembangkan berdasarkan asumsi
bahwa gaya reaksi pada setiap titik akan
sebanding dengan defleksi pada titik tersebut
yang dikembangkan oleh Winkler, 1867
(Hetenyi, 1974). Persamaan defleksi untuk
balok panjang tak terhingga dan dibebani
dengan beban momen (Mo) adalah,
y

M o 2
Bx
k

(14)

Penyelesaian umum (general solution),


untuk menentukan lendutan, gaya lintang,
momen, dan rotasi, yaitu :
y

2 cosh x cos x sinh l cos a cosh b


sin l cosh a cos b


P
1
cosh x sin x sinh x cos x

2
2
k sinh l sin l sinh lsin a cosh b cos a sin b
sin lsinh a cos b cosh a sin b

cosh x cos x

sinh (sin a cosh b cos a sinh b)


2P2
1

sin

l
(sinh

a
cos

cosh

a
sin

b
)

k sinh 2 l sin 2 l cosh x sin x sinh x cos x

sinh l cos a cosh b sin l cosh a cos b


2 sinh x sin x sinh l cos a cosh b
sin l cosh a cos b


P
1
M
(cosh x sin x sinh x cos x )

2
2
2 sinh l sin l sinh l(sin a cosh b cos a sinh b)
sin l(sinh a cos b cosh a sin b)

QP

(cosh x sin x sinh x cos x )

(sinh l cos a cosh b sin l cosh a cos b)


sinh

x
sin

sinh 2 l sin 2 l sinh l(sin a cosh b cos a sinh b)

sin l(sinh a cos b cosh a sin b)

dengan : a = jarak dari kiri balok ke beban


(m), b = jarak dari kanan balok ke beban (m),
x = jarak dari kiri balok ke titik yang ditinjau
(m).
3. CARA PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan membuat
galian berukuran 3,5 m x 1,5 m x 1,5m yang di
isi dengan tanah lempung lunak homogen
(distrubed sample) diambil dari desa
Kedungsari Kabupaten Kulon Progo, D.I.
Yogyakarta.
Propertis uji tanah yang terdiri dari batas
cair (LL) 86,15 %, batas plastis 31,23 %,
indeks plastisitas (PI) 54,92 % dan uji kuat
tekan bebas didapat cu = 13,98 kN dan sudut
gesek dalam = 00.

Berikut hasil uji bahan pada permodelan


pelat tipis yang diperkuat kelompok tiang pada
Tabel 2 di bawah ini :
Tabel 2. Hasil uji bahan
Pengujian
1. Kadar air, w (%)
2. Berat spesifik, Gs
3. Derajad kejenuhan, S (%)
4. Angka pori
5. Batas cair, LL (%)
6. Batas plastis (%)
7. Indeks plastisitas, PI (%)
8. Gradasi butiran tanah untuk lempung (%)
9. Gradasi butiran tanah untuk pasir (%)
10. Uji kuat tekan bebas (Unconfined
Compression Test)
Kohesi tanah lempung, cu (kN/m2)
Modulus elastis, Es (kN/m2)
11. Uji triaksial (Unconsolidated Undrained)
Kohesi tanah lempung, cu (kN/m2)
Sudut gesek dalam,
Modulus elastis, Es (kN/m2)
12. Uji beton & pelat
Mutu beton, fc (Mpa)
Modulus elastis beton uji selinder, Ec (kN/m2)
Berat volume beton, c (kN/m3)
Modulus elastis beton uji lentur pelat, Ec
(kN/m2)
12. Uji Lentur tiang, EP-tiang (kN/m2)

Nilai
59,66
2,56
99,54
1,56
86.15
31.23
54,92
92,31
6,86

13,98
1194,87

15,00
2,83o
3187,76
21,49
2,11 x 107
23,38
2,31 x 106
1,31 x 106

Tiang-tiang beton (L= 1 m dengan diameter


tiang 0,1 m) dipancang pada tanah lempung
sebanyak 12 buah. Dilakukan uji pendahuluan
terhadap karakteristik dari elastisitas tiang dan
pelat (pile cap). Di atas tiang-tiang dipasang
tulangan pelat (pile cap) dan dicor monolit.
Alat uji beban load cell dan hydroulic jack
dipasang pada counter beam sebagai media
beban lateral menggunakan perkuatan buis
beton dan frame baja yang diperlihatkan pada
Gambar 5. Pembebanan diberikan dengan
menvariasikan letak beban dari tepi terjauh
pelat (pile cap) mencapai 30 kN, lendutan
yang terjadi akan dibaca menggunakan dial
gauge. Pengujian pelat penutup (pile cap)
berdimensi 3 x 1 x 0,1 meter dengan momen
(M) yang terjadi terletak pada jarak 2,75m;
2,25m; 1,75m; 1,25m; 0,75m; dan 0,25m dari
tepi pile cap. Lendutan
pile cap hasil
pengujian dibandingkan dengan hitungan
metode Beam on Elastic Foundation (BoEF)
dan Displacement lateral pada fondasi
dibandingkan dengan metode Broms.

Tabel 3. Hasil uji pendahuluan


Pengujian
Nilai
I. Hasil uji pendahuluan pada
pelat 1 x 1 m dengan beban,
Q = 7,74 kN
1. Nilai modulus subgrade arah 4993,55
vertikal, kv (kN/m3) tanpa tiang
2. Nilai modulus subgrade arah 5733,33
vertikal, kv (kN/m3) dengan tiang
II. Hasil uji pendahuluan pada
pelat 1 x 1 m dengan tiang
pada pembebanan, Q = 8 kN
1. Nilai modulus subgrade arah 31436,76
horisontal, kh (kN/m3)
2. Nilai modulus kekakuan 130,99
tiang, k-tiang (kN/m3)

Gambar 5. Setup pelaksanaan uji beban statis


lateral

B. Metode lendutan rata rata dalam


penentuan Koefisien subgrade tanah (kv)
Dengan mengunakan persamaan 8 dan 9
yang dikonversikan untuk pembebanan
momen, menghasilkan besar nilai kv-momen pada
Gambar 7, penambahan beban akibat momen
menunjukkan nilai koefisien subgrade tanah
(kv-momen) semakin kecil apabila beban yang
diberikan semakin besar dan sebaliknya
semakin besar nilai koefisien subgrade tanah
(kv-momen) apabila beban yang diberikan
semakin kecil. Hal ini disebabkan pengaruh
luasan bidang kontak pelat dengan lempung
semakin luas apabila beban yang diberikan
semakin besar dan lendutan juga akan
bertambah besar.

Gambar 6. Foto pelaksanaan uji beban statis


lateral

4. HASIL PENGUJIAN
A. Hasil Uji pendahuluan
Dilakukan pengujian terhadap pilecap
ukuran 1 m x 1 m tanpa perkuatan dan dengan
perkuatan 1 tiang pada tengah tengah
bentang pilecap dengan ukuran tiang 10 cm,
L = 100 cm, pembebanan diterapkan pada
bentang tengah (sentris) dan eksentris. Hasil
pengujian diperoleh nilai modulus subgrade
arah vertikal (kv) pada Tabel 3.

Gambar 7. Hubungan nilai kv momen terhadap


kenaikan momen pada tiap-tiap perletakan beban
pada pelat (pile cap).

Dari hasil pengujian pendahuluan pelat 1x1


tanpa tiang untuk pembebanan statis sentris
didapatkan nilai modulus reaksi tanah (kv-PLT)
= 4.252,75 kN/m3 yang kemudian dikoreksi
terhadap kekakuan dan dimensi fondasi pada
pengujian utama untuk perancangan fondasi
dengan menggunakan persamaan 7 didapatkan
nilai kv-PLT terkoreksi = 3.780,22 kN/m3.
B. Pengaruh lendutan pelat (pile cap) dan
displacement lateral
Hasil pengamatan dapat dilihat Gambar 8
yang menunjukkan pola lendutan dari uji pelat
(pile cap), perpindahan lateral yang terjadi
masih berkisar 6 mm untuk satu tiang sesuai
dengan standar persyaratan perpindahan lateral
ijin pada Tabel 1.
Semakin jauh perletakan beban momen
yang
diperlihatkan
pada
Gambar
8
menunjukkan displacement lateral yang
semakin kecil, hal ini sangat erat kaitannya
dengan kekakuan dan konfigurasi tiang
kelompok serta luasan dari dimensi pelat (pile
cap).

pembebanan eksentris terhadap luasan pile cap


dalam bentuk momen garis luasan pile cap
yang ditinjau. Gambar 9 memperlihatkan
perilaku lendutan pada pilecap akibat beban
momen yang bekerja pada struktur pondasi
kelompok.
C. Perbandingan hasil perhitungan dengan
pengamatan
C.1 Hitungan lendutan dengan menggunakan
BoEF,
Perbandingan lendutan (defleksi) pile cap
antara pengamatan dan hitungan BoEF yang
ditampilkan dalam Tabel 4, dan perilaku pile
cap akibat momen secara rinci pada Gambar 8
menunjukkan bahwa hasil hitungan dengan
metode BoEF memakai kv-momen selisihnya
terhadap pengamatan masih dibawah 50 %,
sedangkan hasil perhitungan BoEF memakai
kv-PLT menunjukkan selisih lendutan yang
sangat besar. Hasil perhitungan lendutan
dengan metode BoEF menggunakan kv-momen
yang terlihat pada Gambar 8 lebih mendekati
terhadap pengamatan dengan tingkat kesalahan
yang kecil pada perletakan beban 1,75 m dari
tepi pelat (pile cap) sebesar 8,66 % (lihat
Tabel 3), hal ini dikarenakan pelat adalah
balok terhingga (finite) pada kondisi ujung
bebas (free ends) dan merupakan pelat (pile
cap) yang fleksible.
Tabel 4 Selisih hitungan lendutan dibawah beban
pada pile cap 3 m x 1 m terhadap pengamatan
dengan Q = 10 kN (M = 0,7 kNm) akibat momen,

Gambar 8. Pengaruh letak beban terhadap


displacement lateral di ujung pelat pada tiap tiap
kenaikan beban.

Pola lendutan dan displacement lateral yang


dianalisa dengan melihat uji beban statis 10
kN, 20 kN dan 30 kN pada pelat (pile cap)
dengan 1 (satu) tipe pembebanan yaitu

Perhitungan BoEF menggunakan kv-PLT


kurang tepat digunakan untuk desain atau
perancangan, namun perilaku lendutan dari
akibat variasi perletakan beban pada Gambar 9
adalah hampir sama terhadap pengamatan.

C.2 Hitungan displacement lateral dengan


menggunakan metode Broms,
Displacement lateral yang terjadi pada
tiang uji utama ditinjau dengan beban 10 kN,
20 kN, dan 30 kN. Perbandingan defleksi yang
terjadi pada pengamatan dengan perhitungan
menggunakan metode Broms pada Tabel 5
memperlihatkan selisih yang tidak terlalu jauh
yakni kesalahan antara 27 % sampai dengan 6
%. Perhitungan dengan metode Broms
cenderung mendekati hasil pengamatan uji
dilapangan dengan anggapan kondisi tiang
yang monolit terhadap kepala tiang (pile cap)
dan tiang pondasi yang diamati adalah jenis
tiang panjang.
Tabel 5. Perbandingan terhadap defleksi tiang
pada pengamatan uji utama dengan perhitungan
metode Broms.
Beban

Defleksi tiang

(mm)

Metode
Broms
(mm)

selisih
dengan
Pengamatan
(%)

10

2,963

2,788

20

6,838

5,580

18

30

11,513

8,368

27

(kN)

Pengamatan

5. KESIMPULAN
- Pengaruh perletakan beban berupa momen

garis pada pelat (pile cap) menunjukkan


nilai koefisien subgrade tanah (kv) yang
berbeda dengan beban yang sama.
Momen yang bekerja pada pelat
mengakibatkan terjadinya displacement
lateral yang rata-rata sama besarnya pada
tiap-tiap perletakan pembebanan.
Perletakan beban di tepi pelat (pile
cap)mengindikasikan bahwa pelat (pile
cap) tipis yang diperkuat kelompok tiang
mampu
mereduksi
lendutan
dan
displacement lateral yang terjadi.
Selisih hasil hitungan BoEF menggunakan
kv momen terhadap hasil pengamatan
menunjukan nilai yang tidak jauh berbeda
yakni mendekati 50% kebawah pada tiaptiap perletakan pembebanan terhadap tepi
pelat (pile cap).
Hasil hitungan metode Broms terhadap
displacement lateral memberikan hasil

yang mendekati hasil pengamatan yakni


dengan selisih antara 6% sampai 27%.
7. DAFTAR PUSTAKA
ASTM, 2003, Annual Book of ASTM Standars
Section 4 Volume 04.08 Soil and Rock (I) :
D 420 D 5611.
Hetenyi, M., 1974, Beam on Elastic Foundation,
An Arbor : The University of Michigan
Press, Michigan.
Hardiyatmo,
H.C.,
Suhendro
B.,
Hutagamissufardal, Susanto, A.H., 1999,
Perilaku Pondasi Cakar Ayam pada
Model di laboratorium kontribusi untuk
perancangan, Prosiding Seminar Nasional
Geoteknik 99, Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta.
Hardiyatmo, H.C., 2002, Teknik Fondasi II, Edisi2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.