Anda di halaman 1dari 5

Subsidi BBM dan Agama NeoLiberalisme

Oleh
Emeraldy Chatra

Bahwa kenaikan harga BBM yang diluar dugaan telah


menyisakan penderitaan masyarakat, terutama golongan
duafa, sudah sangat jelas. Mulai sejak harga dinaikkan awal
bulan hingga hari ini cerita berpendar pada masalah yang
sama: masyarakat mengeluhkan tingginya harga, data
penerima subsidi kacau, atau orang miskin banyak yang
tidak mendapatkan haknya akibat kekeliruan data.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi rasionalisasi yang
paling diandalkan pemerintah dalam menaikkan harga
BBM. Memang, beberapa minggu sebelumnya harga minyak
dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, melebihi
US$ 70 per barrel. Kenaikan harga itu secara kebetulan
beriringan dengan terjangan badai tropis ke wilayah
Amerika Serikat dan menghancurkan rigs milik AS di Teluk
Mexico yang tiap hari memompa minyak dari perut bumi.
Namun sebenarnya kejadian-kejadian di atas hanyalah
sebuah momentum untuk mewujudkan gagasan yang sudah
diproduksi jauh sebelumnya. Kabar-kabar bahwa subsidi
BBM akan dikurangi dan akhirnya dihapus sudah muncul
sejak Megawati masih berkuasa.
Bahkan, kalau ditelusuri jauh kebelakang, rencana sudah
dibuat sejak Presiden Suharto menandatangani Letter of
Intent (LoI) dengan IMF 15 Januari 1998. IMF
menginginkan
seluruh
subsidi
dicabut,
walaupun
pelaksanaannya bisa saja bertahap. Kesepakatan inilah awal
terjadinya kepahitan yang sekarang makin mendera kaum
duafa di Indonesia.
1

Campur tangan IMF dalam perekonomian Indonesia


bukan hanya soal pinjam meminjam uang karena saat itu
harga dollar membubung tinggi. LoI lebih tepat dikatakan
deklarasi masuknya paham neo-liberalisme ke sumsum
tulang belakang rakyat yang sedang sekarat akibat
kesalahan pemerintahnya sendiri. Paham yang sama juga
sudah dimasukkan ke Amerika Latin awal tahun 90-an,
dengan dalih menolong, dan akibatnya pun sama saja.
Kemelaratan meningkat secara signifikan.
Agama Neo-Liberalisme
Neo-liberalisme dianalogikan oleh Susan George ketika
bicara dalam Conference on Economic Sovereignty in a
Globalising Word di Bangkok Maret 1999 sebagai sebuah
agama. Seperti agama sesungguhnya, neo-liberalisme
mempunyai kitab suci yang ditulis para nabi-nabinya. Ia
juga punya konsep dosa, yaitu segala sesuatu yang tidak
boleh dilakukan karena menghalang-halangi imperium
bisnis global meraup untung (ingat penolakan IMF terhadap
gagasan Presiden Suharto membuat currency board system
CBS - untuk menstabilkan harga rupiah). Ia juga memiliki
konsep sorga, yaitu kemakmuran ekonomi apabila
doktrin-doktrinnya diamalkan, meski sorga itu hanya
kebohongan bagi 80% masyarakat dunia yang malah jadi
semakin miskin.
Disamping itu, para rabbi-rabbinya kini berkeliaran
hampir di seluruh negara. Mereka masuk ke lapisan atas
birokrasi pemerintahan (jadi mentri atau penasehat kepala
negara), jadi rektor dan profesor di perguruan tinggi, atau
memimpin partai politik dan lembaga-lembaga swadaya
masyarakat (LSM). Tugas mereka menghidupkan terusmenerus ajaran neo-liberalisme, menanamkan nilai-nilainya,
walaupun dibahasakan dengan cara berbeda-beda. Media
massa pun banyak yang secara tidak sadar diperalat jadi
corong propagandanya.

Agama yang paling banyak menimbulkan kehancuran


ini berkembang dari nabi-nabi ekonomi seperti Keynes,
Hayek dan Friedman. Dari merekalah keluar doktrin pasar
bebas (free market) yang merambah ke seluruh dunia
dengan nama globalisasi. Meskipun pikiran neo-liberalisme
sudah muncul sebelum tahun 50-an, ia baru dapat respon
yang berarti tiga puluh tahun kemudian. Mulanya ajaran ini
sangat tidak populer.
Kalau saja tahun 80-an PM Inggris Margaret Thatcher
dan Presiden AS Ronald Reagan tidak mengukuhkan diri
mereka sebagai penerus ajaran neo-liberalisme dan
mengglobalkannya, akibat yang dirasakan masyarakat
dunia, khususnya di negara-negara berkembang mungkin
tidak
separah
sekarang.
Thatcher
terang-terangan
mengatakan ia pengikut Hayek dan menerima kebenaran
teori Darwinisme Sosial yang menyatakan bahwa secara
alamiah yang kuatlah yang harus menang.
Kolaborasi dua kekuatan dunia ini memaksa pemimpin
berbagai negara menerima ajaran tersebut, kendati
akibatnya mereka menjadi rabbi-rabbi neo-liberalisme
yang berfungsi sebagai agen-agen penindas bagi bangsanya
sendiri. Hanya kepala negara keras kepala dan kritis yang
berani menolak agen pemasaran neo-liberalisme, IMF,
mengulurkan obat berisi racun ke negaranya. Mahattir
Muhammad, mantan PM Malaysia adalah contoh paling
tepat untuk kepala negara jenis itu. Dengan tegas ia
menolak bantuan IMF ketika negara-negara lain di Asia
Tenggara ramai-ramai menerima.
Doktrin Jahat
Ada lima doktrin jahat neo-liberalisme yang melahirkan
penderitaan kalangan miskin. Pertama, pemerintah harus
membuat pasar sebebas mungkin, tak peduli apapun akibat
sosialnya. Pintu bagi perdagangan dan masuknya modal
asing harus dibuka selebar-lebarnya. Sekat-sekat tarif (tarif
barrier) yang disebabkan cukai harus dihapus.
3

Kedua, belanja publik untuk pelayanan sosial seperti


pendidikan dan kesehatan harus dikurangi. Demikian juga
jaringan pengaman sosial (social safety-net) untuk orangorang miskin, subsidi pemeliharaan jalan, jembatan, hingga
suplay air harus diperkecil dalam konteks mengurangi
peran pemerintah. Tapi bukanlah dosa kalau pemerintah
memberi subsidi dan mengurangi pajak untuk kepentingan
bisnis. Oskar Lafontaine, mantan Mentri Keuangan Jerman
disebut sebagai orang kapir terhadap ajaran Keynesian
(unreconstructed Keynesian) oleh koran Finansial Times
karena berani mengusulkan pajak yang lebih tinggi untuk
perusahaan, dan pengurangan pajak bagi rakyat miskin.
Ketiga, peraturan pemerintah yang akan mengurangi
keuntungan bisnis harus dihapus (di-deregulasi), termasuk
aturan-aturan yang mempersulit bisnis mengeksploitasi
sumber daya alam.
Keempat, seluruh perusahaan milik negara harus
diprivatisasi atau dijual ke pihak swasta. Alasannya, agar
tercapai
efisiensi,
meski
akibatnya
kesejahteraan
terkonsentrasi di tangan segelintir orang yang mempunyai
uang. Mereka umumnya investor asing.
Kelima, habisi konsep barang publik(public good) atau
komunitas dan ganti dengan istilah tanggungjawab
individual (individual responsibility). Rakyat miskin harus
ditekan agar mencari solusi sendiri untuk masalah
pelayanan kesehatan, pendidikan dan jaminan sosial.
Mereka harus berjuang sendiri, tidak boleh diproteksi oleh
komunitas. Kata-kata bagusnya, jangan manjakan orang
miskin!. Kalau mereka gagal, semuanya tanggungjawab
mereka secara pribadi karena mereka bodoh dan malas.
Agenda Jendral Kapitalis?
Pengamalan secara utuh ajaran neo-liberalisme sudah
pasti menyebabkan habisnya peran pemerintah sebagai
pemegang amanat penderitaan rakyat. Mereka boleh tetap
ada dan menikmati privilege sebagai elit pemegang
4

kekuasaan, namun kekuasaan sesungguhnya sudah beralih


ke tangan para jendral kapitalis atau penguasa jaringan
bisnis global. Mulai dari kepala-kepala negara hingga
pemerintah setingkat camat secara tidak sadar bertekuk
lutut pada kemauan para jendral tersebut.
Naiknya harga BBM karena pengurangan subsidi boleh
jadi benar-benar terkait dengan kenaikan harga minyak
dunia. Tapi tidak tertutup kemungkinan bukan itu alasan
yang sesungguhnya. Kita percaya pada alasan yang
dikemukakan karena itulah yang paling sering diulangulang media.
Kalau dilihat substansi ajaran neo-liberalisme, tak ada
salahnya mencurigai adanya agenda-agenda para jendral
kapitalis yang tersembunyi di balik kebijakan itu.
Masalahnya, seberapa jauh publik telah dipasok dengan
informasi yang dapat membangun diskusi lebih terbuka dan
jujur?
Kurangnya
penyebaran
informasi
tandingan
menyebabkan masyarakat terpaksa pasrah, kendati masa
depan benar-benar sudah kabur.