Anda di halaman 1dari 5

Sesi 5: Prinsip-Prinsip Panduan Perilaku bagi Panitera

TARGET KELOMPOK:
No:
TANGGAL:
WAKTU:
SASARAN:
Panitera menerapkan tingkah laku yang baik dan benar dalam menjalankan tugas dan fungsinya
HASIL-HASIL:
Di akhir sesi ini, para peserta akan dapat:

Mengidentifikasi berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim di
pengadilan dalam hal penyalahgunaan jabatan, akses terhadap informasi di pengadilan, benturan kepentingan,
pelaksanaan tugas.

Menerapkan berbagai aturan tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang terkait dengan kasus-kasus
pelanggaran etika.
POKOK MATERI

METODE

BAHAN

WAKTU

Sasaran dan hasil-hasil serta


instruksi

Presentasi singkat

Berkas
Studi Kasus

10 menit

Studi Kasus Kode Etik:


1.
Penyalahgunaan jabatan
2.
akses informasi
3.
benturan kepentingan
4.
Pelaksanaan tugas

Diskusi kelompok: Tiap kelompok


membaca dan menganalisa studi
kasus 1 sd 4 dan mendiskusikan
jawaban dari pertanyaan

Berkas studi kasus dan flipchart

50 menit

Penyalahgunaan jabatan

Presentasi Kelompok 1
Komentar Kelompok lain
Komentar Trainer

Studi Kasus 1
Flipchart

Akses Informasi

Presentasi Kelompok 2
Komentar Kelompok lain
Komentar Trainer

Studi Kasus 2
Flipchart

Benturan Kepentingan

Presentasi Kelompok 3
Komentar Kelompok lain
Komentar Trainer

Studi Kasus 3
Flipchart

Pelaksanaan Tugas

Presentasi Kelompok 4
Komentar Kelompok lain
Komentar Trainer

Studi Kasus 4
Flipchart

TOTAL

10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
10 menit
180 menit

Studi Kasus Kode Etik 1 Sesi 5


Penyalahgunaan Jabatan
Sarwono, SH adalah seorang Panitera Pengganti di Pengadilan Tata Usaha Negara
Bandung. Dia merasa dirugikan sebagai akibat diterbitkannya sertifikat hak milik nomor
15/sukajadi atas nama Ny. Hartati. Dalam kebingungan dia bertemu dengan Tn. Susilo
Sudarman, SH, advokat yang biasa beracara di Pengadilan Tata Usaha Negara
Bandung dan atas saran pengacara tersebut Sarwono, S.H mengirim surat ke Kantor
Pertanahan Kota Bandung agar sesuai dengan Hak Korektif Kepala Kantor,
membatalkan sertifikat atas nama ibu Hartati, dengan menggunakan kop surat dan
stempel resmi pengadilan. Tidak lama kemudian Tn. Susilo Sudarman, S.H.
mendaftarkan gugatan pada kepaniteraan pengadilan dan Sarwono, S.H. menjanjikan
akan mengatur majelis Hakim yang akan menangani perkara demi kebaikan bahkan
kemenangan buat pengacara. Ibu Susilawati, SH mengetahui kalau rekannya Sarwono,
SH menggunakan kop resmi dan stempel pengadilan ketika menyurati kepala kantor
Pertanahan Kota Bandung.
Pokok diskusi :
1.

Pelanggaran Kode Etik apa saja yang dilanggar oleh Sarwono, SH

2.

Apakah ada peraturan perundangan yang dilanggar juga oleh Sarwono, SH

3.

Apa yang seharusnya dilakukan Ibu Susilawati, SH ketika mengetahui rekannya


sesama Panitera Pengganti menggunakan kop dan stempel resmi pengadilan.

Studi Kasus Kode Etik 2 Sesi 5


Akses terhadap Informasi di Pengadilan
Sidang perkara mengenai UMR sedang digelar di Pengadilan TUN Lampung, yang
diajukan oleh APINDO Cabgn Kotabumi, Prop. Lampung, perkara yang sangat menarik
perhatian masyarakat terutama sekian ribu karyawan yang menggantungkan hidupnya
pada SK Gubernur tentang UMR yang berlaku diseluruh kabupaten/kota se-Propinsi
Lampung. Selama persidangan berlangsung, diluar gedung pangadilan terlihat masa
yang banyak terbagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu pro dan kontra atas pengajuan
gugatan tersebut.
Pada saat pemeriksaan Persiapan berlangsung 5 (lima) minggu sebelumnya, Paulus
Wange, wartawan media cetak dari Jakarta menghubungi Gunanto, SH Panitera
Pengganti dalam kasus Aquo, selain menanyakan nama-nama Majelis Hakim, nama dan
alamat saksi-saksi yang akan dihadirkan oleh para pihak,

juga meminta fotokopi

gugatan. Semula saudara Gunanto, SH menolak memberikan baik nama-nama Majelis,


nama-nama saksi berikut alamat masing-masing maupun fotokopi gugatan, akan tetapi
karena didesak oleh wartawan tersebut dengan mendasarkan pada SK 144 KMA,
akhirnya Panitera memberitahu nama-nama Majelis Hakim, bahkan para pihak dengan
kuasa hukum masing-masing dan fotokopi gugatan, yang sebenarnya masih dalam
tahap pemeriksaan persiapan.
Lebih lanjut atas permintaan wartawan, Gunanto, SH menyampaikan pendapat/
perkiraan, bahwa putusan akhir gugatan kandas, dengan alasan selain kasusnya lemah
juga siapa yang mau bunuh diri dengan tekanan massa pendemo yang luarbiasa.
Daftar pertanyaan :
1.

Apakah tindakan Gunanto, SH selaku Panitera Pengganti pada perkara tersebut


dapat dibenarkan?

2.

Jelaskan alasan saudara dihubungkan dengan SK KMA Nomor 144 dan menurut
Peraturan yang berlaku!

Setelah perkara tersebut diputus namun masih dalam upaya hukum banding di
Pengadilan Tinggi TUN Medan, seorang mahasiswi mendatangi Gunanto, SH dan
meminta salinan putusan dengan alasan untuk objek penelitian.
Daftar pertanyaan :
3.

Bagaimana seharusnya Gunanto, SH menanggapi permintaan mahasiswi tersebut,


dengan argumen sesuai dengan kode etik dan PPH serta peraturan yang berlaku?

Studi Kasus Kode Etik 3 Sesi 5


Konflik Kepentingan
Sarjito, SH ditunjuk oleh Panitera menjadi Panitera Pengganti perkara Kepegawaian
yang diajukan oleh seorang mantan Direktur Jenderal di suatu kementerian dengan
tergugat Presiden RI. Semula Sarjito, SH tidak menyadari bahwa perkara tersebut
diajukan oleh Dr. Sarjono, SH., M.Si yang adalah abang iparnya sendiri. Pada saat
pemeriksaan persiapan Sarjito, SH menyadari posisinya sebagai Panitera Pengganti
dalam perkara Aquo, maka ia hendak mengundurkan diri, akan tetapi mengingat perkara
ini diliput secara luas oleh media cetak maupun elektronik dia mengurungkan niatnya,
yah hitung-hitung ikut masuk TV, apalagi baik Ketua Pengadilan, Majelis Hakim
dan Panitera Sekretaris tidak mengetahui hal tersebut.
Daftar Diskusi :
1.

Apakah Sarjito, SH dapat menerima atau menolak menunjukkan sebagai Panitera


Pengganti pada perkara Aquo ? Jelaskan alasan dan dasar hukumnya!

2.

Apakah perbuatan Sarjito, SH dalam kasus Aquo dapat dibenarkan atau tidak
dikaitkan dengan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim ?

Studi Kasus Kode Etik 4 Sesi 5


Pelaksanaan Tugas dan Fungsi
Angelina Sondaq, SH adalah Panitera Pengganti yang baru saja ditempat di Pengadilan
TUN Jakarta sebagai pegawai dan Panitera Pengganti yang baru, memang oleh Panitera
belum banyak diberi tugas menangani perkara, oleh karenanya Angelina Sondaq, SH
terlihat sering sekali mengisi waktunya selain pergi shopping, ke salon, bbman, twitter,
bahkan tidak jarang terlambat masuk kantor dan cepat pulang. Bagi Dia sebagai orang yang
dilahirkan anak orang kaya, pemotongan uang remunerasi tidak dimasalahkan.
Pekerjaan sebagai panitera sidangpun, seperti

membuat Berita Acara Persidangan

diorderkan pada sesama Panitera Pengganti lain dengan imbalan sejumlah uang (pokoknya
pekerjaan beres).
Suatu saat Aminah, SH., baru saja selesai membuat Berita Acara Persidangan perkara yang
menjadi tanggung jawabnya. Angelina Sondaq, SH meminta agar Berita Acara tersebut
untuk dibaca karena menarik perhatian untuk diketahui. Seusai membaca Berita Acara
tersebut secara lengkap tanpa sepengetahuan Aminah, SH beberapa bagian Berita Acara
tersebut diubah oleh Angelina Sondaq, SH. Belakangan diketahui bahwa salah satu pihak
dalam perkara yang dipegang Aminah, SH adalah mantan pacar Angelina Sondaq, SH.
Daftar Pertanyaan :
1.

Apa saja tindakan Angelina Sondaq, SH yang mencerminkan tidak bertanggung jawab
dalam tugas dan menyalahi Kode Etik dan PPH ? Sebutkan melanggar Peraturan
Perundangan, Kode Etik dan PPH butir berapa !

2.

Apakah tindakan Aminah, SH dalam kasus ini dapat dibenarkan? Jelaskan alasan
Saudara!

3.

Apakah terdapat indikasi pidana dalam kasus tersebut diatas dan bagaimana
penyelesaiannya?