Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Angka Kematian Ibu (AKI) di Negara Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara
lain di ASEAN. Bila dibandingkan dengan Malaysia AKI di Indonesia sekitar 13 kali lebih tinggi.
Dalam setahun terjadi sekitar 20.000 kematian ibu diseluruh wilayah Indonesia (Depkes RI,
2002). Tingginya AKI dengan penurunan yang lambat yaitu 425 per 100.000 kelahiran hidup pada
1992 menjadi 228 pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Salah satu yang menyebabkan Angka Kematian
Ibu adalah kanker serviks (Depkes RI, 2002).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati
peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di
dunia. Di seluruh dunia, kasus penyakit kanker serviks ini sudah dialami oleh 1,4 juta wanita.
Seorang wanita meninggal tiap 2 menit akibat kanker serviks. Angka kematian mencapai 270.000
kematian setiap tahunnya di dunia. Tingginya angka ini biasanya disebabkan oleh rendahnya
pengetahuan dan kesadaran akan bahaya kanker serviks. Terdapat lebih dari 40.000 kasus baru
kanker serviks dengan kisaran angka kematian yang menembus angka 22.000 pada wanita di Asia
Tenggara (Globocan, 2002).
Indonesia merupakan negara di ASEAN yang menduduki peringkat teratas untuk total kematian
kanker serviks pada wanita dan ditambah dengan angka kasus baru sekitar 20 kasus per hari
(Globocan, 2002). Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker
serviks yang tertinggi di dunia. Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada servik uterus,
suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang
senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti
statistik menunjukkan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur
antara 20 sampai 30 tahun (Sukaca, 2009).
Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan pemeriksaan penunjang misalnya pap
smear. Pap smear adalah pemeriksaan epitel porsio dan endoservik uteri untuk pemantauan adanya
perubahan diporsio atau serviks pada tingkat pra ganas dan ganas. Wanita yang dianjurkan untuk
melakukan tes pap smear biasanya merupakan yang tinggi aktivitas seksualnya. Namun tidak
menjadi kemungkinan juga wanita yang tidak mengalami aktivitas seksualnya memeriksakan diri
(Sukaca, 2009).
Penelitian Andrijono (2007), tentang vaksinasi HPV merupakan pencegahan primer kanker
serviks, menunjukkan bahwa Vaksinasi HPV memberi perlindungan terhadap infeksi HPV sebesar
89%. Menurut Notoatmodjo (2007), faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam
kesehatan salah satunya pengetahuan. Pengetahuan merupakan faktor penting dalam
mempengaruhi perilaku dan terbentuknya tindakan seseorang dalam memperbaiki diri sendiri.
Perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih baik daripada perilaku yang tidak
didasarkan oleh pengetahuan. Ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang kanker serviks
akan melakukan tes pap smear untuk memeriksakan dirinya, sebaliknya pada ibu yang mempunyai
pengetahuan kurang akan kurang tanggap terhadap tes pap smear. Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian Vinar (2009) tentang hubungan tingkat pengetahuan ibu mengenai pap smear

dengan praktik pemeriksaan pap smear di wilayah RW X Kelurahan Manyaran Semarang,


menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu mengenai
pap smear dengan praktik pemeriksaan pap smear.
Data di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu pada tahun 2011 jumlah wanita usia subur yang datang ke
poli Kebidanan RSUD M. Yunus sebanyak 2.733 orang, yang menderita kanker serviks sebanyak
18 orang (0,65%) dan yang melakukan pap smear sebanyak 16 orang (0,58%). Survey awal yang
dilakukan peneliti pada tanggal 27 Februari 2013 di poli Kebidanan RSUD Dr. M. Yunus, dari 18
orang wanita usia subur hanya 1 orang yang melakukan pap smear, 12 orang ibu kurang
mengetahui tentang kanker serviks dan pap smear, 6 orang lainnya mengetahui tentang pap smear.
Banya