Anda di halaman 1dari 7

B A B III

PELUANG

3.2.2. ATURAN JUMLAHAN PELUANG

A berlaku:
P(A B) = P(A) + P(B) P(A B)

1. Untuk setiap kejadian A, B

Bukti :
Karena A B = (A C
C

B)

(A B C )

(A B) dengan (A C

B), (A B

), dan (A B) saling asing ( mudah dilihat dengan diagram Venn ), maka

menggunakan sifat (A.3),


P(A B) = P(A C

B) + P(A B C ) + P(A B).

Tetapi kita telah membuktikan bahwa


P(A) = P(A B) + P(A B C )
Dan
P(B) = P(B A) + P(B A C )
= P(A B) +
P(A C

B).

Dengan demikian
P(A B) = [ P(B) - P(A B) ] + [ P(A) - P(A B) ] + P(A B)
= P(A) + P(B) P(A B).

2. Untuk setiap kejadian A 1 , A 2 , , A n

(terbukti)

A,

Berlaku
P(A 1

A2

)=

i 1

P(A i ) -


n 1
i j

P(A i

)+

i
j k

P(A i A A k ) - + (-1) n 1 P(A 1 A 2 A n ).


j

Dengan adanya rumus-rumus diatas, maka untuk menghitung peluang gabungan


beberapa kejadian tidak perlu dipersoalkan saling asingnya antar kejadian.
Tentunya hal ini dengan catatan bahwa peluang interseksi antar kejadian mudah
dihitung langsung.

CONTOH 6 :

1).

Jika peluang sebuah mobil berhenti di jalan karena rem macet adalah 0,23; karena ganti
ban adalah 0,24; dan karena keduanya adalah 0,09; hitunglah peluang mobil tersebut
berhenti di jalan.
Penyelesaian :
Jika B = mobil berhenti di jalan,
R = berhenti karena rem macet, dan
G = berhenti karena ganti ban, maka
B=R

G, dengan R G , sehingga

P(B) = P(R G)

= P(R) + P(G) P(R G)


= 0,23 + 0,24 0,09
= 0,38.

2).

Dari satu set kartu yang terdiri dari kartu bernomor 1 sampai dengan 12, diambil satu
kartu secara random, hitunglah peluang mendapat kartu bernomor habis dibagi 2 atau 3 !
Penyelesaian:
Jika D = mendapat kartu bernomor habis dibagi 2, dan
T = mendapat kartu bernomor habis dibagi 3,
Maka
P ( mendapat kartu bernomor habis dibagi 2 atau 3 ) = P(D T)

= P(D) + P(T) P(D T)

3).

6
4
2
+
12
12 12

8
12

2
.
3

Jika sebuah dadu dilempar tiga kali, hitunglah peluang mendapat satu mata enam.
Penyelesaian :
Jika A = mendapat satu mata enam, dan
E i = mendapat mata enam pada lemparan ke-i, i = 1, 2, 3,
maka
P(A) = P ( E 1

E2 E

= P(E 1 )+P(E 2 )+P(E 3 )P(E 1

E
=

3.3.

E 2 )P(E 1 E

)P(E 2

)+P(E 1

E2

1 1 1
1
1
1
1
+ + +
6 6 6 6 .6
6 .6
6 .6
6 .6 .6

108
18
1
+
216
216
216

91
.
216

PELUANG BERSYARAT
Dalam perhitungan peluang yang sudah dibicarakan, perhatian kita adalah pada peluang

terjadinya suatu kejadian yang menarik perhatian, jika suatu eksperimen dilakukan.
Masalah yang sering muncul dalam praktek adalah menghitung peluang terjadinya suatu
kejadian apabila suatu kejadian lain telah terjadi. Misalnya, dalam eksperimen mengukur
tahan hidup suatu jenis bola lampu, setelah bola lampu hidup 24 jam, ingin dihitung peluang
tahan hidupnya 100 jam lagi. Artinya yang dihitung adalah peluang tahan hidup 100, dengan
syarat telah hidup 24 jam.
Peluang yang dimaksud dikenal sebagai peluang bersyarat yang sebenarnya adalah
peluang terjadinya suatu kejadian yang menjadi perhatian tetapi ruang sampelnya adalah suatu
kejadian tertentu yang telah terjadi atau difikirkan telah terjadi dalam suatu eksperimen.
DEFINISI 3.3.1 :
Jika A dan B adalah dua kejadian dalam A, dari suatu ruang peluang (S, A, P()).
Peluang bersyarat terjadinya A dengan syarat B, ditulis P(A|B) adalah:
P(A|B) =

P( A B)
,
P( B)

jika P(B)>0.

Jika P(B) = 0, yang artinya B tidak terjadi, maka P(A|B) tidak didefinisikan.

Semua hukum-hukum atau sifat-sifat yang berlaku untuk peluang, juga berlaku untuk
peluang bersyarat.

Suatu pasangan tiga (S, A, P()) disebut suatu ruang peluang dengan:
S = ruang sampel,
A = keluarga semua kejadian dalam S, dan
P() = fungsi peluang dengan domain A.

CONTOH 7 :

Suatu eksperimen adalah melempar mata uang 2 kali.


Hitunglah:

a. Peluang mendapat dua M, jika hasil lemparan pertama adalah M. [smesta: MM dan MB.
Jd peluan MM = 1/2]
b. Peluang mendapat dua M, jika hasil lemparan adalah paling sedikit satu M. [smesta: MM,
MB, MB. Jadi peluan MM = 1/3]
Penyelesaian:
Dengan menganggap bahwa mata uang dalam keadaan seimbang, maka setiap hasil yang
mungkin, yaitu MM, MB, BM, dan BB mempunyai peluang yang sama.
Jika M i mendapat M pada lemparan ke-i, i = 1, 2, maka

a. P [ M 1

M2

| M1

1
P(M1 M 2 )
4 = 1.
]=
= 1
P( M 1 )
2
2

Atau dengan cara lain :


Karena M 1 = { MM, MB }, maka
P[ M1

b. P [ M 1

M2

M2

| M1 ] =

| M1

1
.
2

M2

1
P(M1 M 2 )
1
]=
= 4
=
.
3
P(M1 M 2 )
3
4

Atau dengan cara lain :


Karena M 1
P[ M1

M2

M2

= { MM, MB, BM }, maka

| M1

M2

]=

1
.
3

3.3.1. ATURAN MULTIPLIKATIF PELUANG


Dari definisi peluang bersyarat, dapat diturunkan aturan multiplikatif peluang sbb :
P(A B) = P(A) . P[B|A]

Atau
P(A B) = P(B) . P[A|B].
P(A 1
n 1

A2

) = P(A 1 ) . P[A 2 |A 1 ] P[A n | A 1

A2

].

Aturan multiplikatif peluang banyak digunakan dalam perhitungan peluang untuk eksperimen
dalam bentuk proses berurutan atau proses bertahap.

CONTOH 8 :

1.

Jika dari sebuah kotak berisi 5 kelereng putih, 3 kelereng biru, dan 2 kelereng hitam,
diambil 2 kelereng secara random tanpa pengembalian, hitunglah peluang mendapat:
a.kedua kelereng biru. [ 3P2 / 10P2 = (3.2.1 / (2-1)!) / (10.9.8! / (10-2)!) = 6/90 = 1/15]
b. kelereng biru pada pengambilan pertama. [
c.kelereng biru pada pengambilan kedua.
Penyelesaian:
Jika B i = mendapat kelereng biru pada pengambilan ke-i, i = 1.2. maka
a. P(B 1

B 2 ) = P(B 1 ) . P[B 2 |B 1 ] =

b. P(B 1 ) = P [ B 1

(B 2 B C2 ) ]

= P(B 1 ) . P [ (B 2
=

3
9
.
10 9

3
10

c. P(B 2 ) = P [ (B 1
= P(B 1

2.

3
2
1
.
=
10 9
15

B C2 ) | B 1

B 1C ) B 2

P(B 1 )
]

= P[B1

S]

= P[B1] . P[S | B1]

B 2 ) + P(B 1C B 2 )

1
+ P(B 1C ) . P [ B 2 | B 1C ]
15

1
7
3
+
.
15
10 9

3
10

Dari seluruh siswa SLTA Negeri di Kotamadya Semarang, dipilih seorang siswa secara
random.
Hitunglah peluang mendapat siswa dari SMA Negeri 3 dan berprestasi istimewa.
Penyelesaian :

Jika A = mendapat siswa dari SLTA Negeri 3,


dan B = mendapat siswa berprestasi istimewa,
daripada mengamati seluruh siswa SLTA Negeri yang jumlahnya sangat banyak.
Untuk menghitung peluang tersebut, akan lebih mudah jika mencarinya dengan
P(A B) = P(A) . P(B|A) atau P(A B) = P(B) . P(A|B)
3.

Suatu eksperimen adalah melempar sebuah mata uang satu kali yang kemudian
dilanjutkan dengan:
melempar sebuah dadu satu kali, jika hasil lemparan mata uangnya M.
melempar mata uangnya satu kali lagi, jika hasil lemparan mata uangnya B.
Hitunglah:
a. Peluang mendapat mata genap
b. Peluang mendapat satu M.
Penyelesaian:
Jika M i = mendapat M pada lemparan ke-i, i = 1, 2, maka
a.P ( mendapat mata genap )

= P(M 1 ) . P [ mendapat mata genap | M 1 ]


=

1
3
1
.
=
.
2 6
4

b. P ( mendapat satu M ) = P ( M 1

M2 )

= P(M 1 ) + P(M 2 ) P(M 1

M2 )

1
1
1
+
.
- P(M 1 ) . P [ M 2 | M 1 ]
2
2
2

1
1
1
+
.0
2
4
2

3
.
4

Dalam menghitung peluang disini perlu diperhatikan bahwa walaupun mata uang dan
dadu yang dilempar adalah dalam keadaan seimbang dan S = { M1, M2, M3, M4, M5,
M6, BB, BM }, sehingga n(S) = 8, tetapi P(M1), P(M2), , P(M6), P(BB), dan P(BM)
tidak semua mempunyai peluang yang sama.
Dengan demikian perhitungan peluang menggunakan definisi klasik tidak dapat
dilakukan.

4.

Dalam sebuah kotak yang berisi 20 bola lampu, terdapat 5 diantaranya yang rusak.
Jika dicoba 3 bola lampu secara random ( tanpa pengembalian ), hitunglah peluang
mendapat ketiganya rusak.
Penyelesaian :
Jika R i = mendapat bola lampu ke-i rusak, i 1, 2, 3, maka
P ( mendapat ketiganya rusak ) = P ( R 1

R2 R

= P(R 1 ) . P [ R 2 | R 1 ] . P [ R 3 | R 1
=

5
4
3
1
.
.
=
.
20 19 18
114

R2