Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PRESENTASI KASUS
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Alamat
Pekerjaan
No. RM
Tanggal Masuk

: Tn. R
: 97 tahun
: Suryanenggala
: Tidak bekerja
: 880512
: 17 Mei 2015

ANAMNESIS (Autoanamnesis)
Keluhan Utama
: Nyeri kepala seperti berputar
Keluhan Tambahan
: Mual, telinga terasa berdenging
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan keluhan kepala terasa
berputar yang dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien merasa
dirinya seperti berputar dan ruangan disekelilingnya pun ikut berputar. Keluhan ini
bertambah berat saat pasien merubah posisi tubuhnya, duduk ataupun berdiri. Saat
berbaring pun pasien merasakan kepalanya terasa berputar sehingga pasien harus
memejamkan matanya agar rasa berputarnya berkurang. Pasien sempat berobat ke
puskesmas namun gejala tidak berkurang. Kepala terasa berputar ini dirasakan
semakin memburuk saat 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Pasien juga mengeluhkan telinganya berdenging selama rasa berputar di
kepala berlangsung. Keluhan ini sebelumnya pernah dirasakan pasien. Pasien
sempat berobat ke puskesmas dan denging di telinga berkurang, namun muncul
kembali sejak 1 minggu yang lalu. Pasien mengeluh mual sejak 3 hari sebelum
masuk rumah sakit namun tidak sampai muntah.
Pasien mengaku memiliki riwayat hipertensi namun tidak rutin kontrol dan
tidak mengkonsumsi obat. Pasien tidak memiliki penyakit lain seperti jantung,
kencing manis, dan asma. Pasien mengaku belum pernah mengalami penyakit
seperti ini sebelumnya. Tidak ada keluhan lain seperti demam, gangguan BAK dan
BAB.
Riwayat penyakit dahulu

Riwayat hipertensi diakui pasien


Riwayat penyakit di telinga
1

Riwayat penyakit infeksi disangkal


Riwayat trauma disangkal

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Present
Keadaan Umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
GCS
: E4M6V5
Vital Sign
: TD
190/80 mmHg
Nadi
78 x/menit
Respirasi
22 x/menit
Suhu
36,70 C
Kepala
: Normocephal
Mata
: CA (-/-), SI (-/-), Pupil isokor, reflex cahaya

Abdomen

langsung (+), reflex cahaya tidak langsung (+)


: Tidak terdapat masa, secret (-), tidak hiperemis
: Pembesaran KGB (-), Pembesaran thyroid (-)
:
: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
: Vesicular bronchial sound (+/+)
wheezing (-/-), rhonki (-/-)
: Cembung, supel, bising usus (+) normal 17x/menit,

Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah

Nyeri tekan (-), Nyeri lepas (-)


: Akral hangat, Edema (-/-), sianosis (-/-)
: Akral hangat, Edema (-/-), sianosis (-/-)

THT
Leher
Thoraks
Cor
Pulmo

B. Status Neurologi
Kesadaran/GCS

: E4M6V5

Pupil
Kanan

Kiri

Bentuk

Bulat

Bulat

Diameter

3 mm

3 mm

refleks cahaya langsung

refleks cahaya tak lansung

Tanda rangsang meningeal

Kanan
Kaku kuduk

Kiri
-

Brudzinski I

Laseque

>70

>70

Kernig

>135

>135

Brudzinski II
Saraf Kranial

Kanan
N. I (olfactiorius)

Tidak dilakukan

Kiri
Tidak dilakukan

N. II (opticus)

Visus

Lapang pandang

Warna

Funduskopi

Konfrontasi

Baik
Baik
Baik
Tidak dilakukan
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Tidak dilakukan
Baik
Baik

Reflek cahaya langsung


N. III (oculomotorius)

Ptosis
Pergerakan bola mata

N. IV (trochlearis)

Baik

Baik

Baik

Baik

N. V (trigeminus)

Mengunyah
Sensibilitas wajah
Reflek limbus kornea

N. VI (abdusen)

Simetris
Kanan = kiri
+
Baik

Baik

N. VII (facialis)

Siul
Kerut dahi
Tersenyum
Perasa lidah
Angkat alis

+
Simetris kanan dan kiri
Simetris kanan dan kiri
Tidak dilakkan
Kanan = kiri

N. VIII (vestibulococlearis)

Tes rhinne

Baik

Baik

Tes weber

Tidak lateralisasi

Tidak lateralisasi

Tes swabach

Tidak memanjang

Tidak memanjang

N. IX (glossofaringeus)

Posisi uvula

Reflek muntah
N. X (vagus)

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Baik
+

Baik
+

N. XI (asesorius)

Menengok
Mengangkat bahu

N. XII (hipoglosus

Menunjulurkan lidah
Tremor
Kanan dan kiri

Tidak deviasi
Normal

Motorik
Kanan

Kiri

Kekuatan
ekstremitas atas
ekstremitas bawah

5
5

5
5

Refleks fisiologis
biceps

triceps

patella

achilles
4

Refleks patologis
Hoffman
Tromner
Babinski
Chaddok
Oppenheim
Gordon
Schifer
Gorda

Keseimbangan dan Koordinasi


kanan
Romberg

Kiri

+
+
(saat menutup mata) (saat menutup
mata)

Disdiadokokinesis

Tes finger to nose

Tes tumit- lutut

Rebound phenomen

Fungsi Vegetatif
IV.

: Baik
BAB (+), BAK (+), keringat (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab (18 Mei 2015)
LAB

RESULT

UNIT

NORMAL

WBC

9,90

10^3/

4.0-12.0

RBC

4.26

10^6/

4.0-6.20

HGB

12,6

g/dl

11.0-17.0

HCT

37,2

35.0-55.0

MCV

87,5

Pg

80.0-100.0

MCH

29,5

Pg

26.0-34.0

V.

MCHC

33.8

g/dl

31.0-35.0

RDW

13,0

10.0-16.0

PLT

231

10^3/

150.0-400.0

GDS

92

mg/dl

RESUME
a. Subjektif
Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan keluhan kepala seperti
berputar sejak 1 minggu yang lalu dan semakin memburuk sejak 1 hari
SMRS. Keluhan ini dirasakan memburuk saat pasien berubah posisi seperti
dari posisi duduk ke berdiri, begitu pula sebaliknya. Keluhan disertai telinga
yang berdenging dan mual. Pasien sudah pernah mengobati keluhan kepala
terasa seperti berputar dan telinga berdenging ke puskesmas, namun tidak
ada perbaikan.
b. Objektif
Status Generalis
Kesadaran
: Composmenits
GCS
: E4M6V5
Tekanan Darah
: 190/80 mmHg
Nadi
: 78 kali/menit
Respirasi
: 22 kali/menit
Suhu
: 36,7 0 C
Status Neurologis
Tanda rangsang meningeal : Kekuatan otot
: 55/55
Reflek patologis
: Reflek fisiologis
: +
Fungsi vegetative
: Baik
Pemeriksaan penunjang
Lab darah

VI.

DIAGNOSIS
Diagnosis klinis
Diagnosis topis
Diagnosis etiologi

VII.

: Tinitus, Vertigo
Hipertensi
: Vertigo vestibular
: Vertigo perifer

DIAGNOSIS BANDING
-

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


6

IX.

PENATALAKSANAAN
a. Nonfarmakologi
Terapi fisik:
- Berdiri tegak dengan mata dibuka, kemudian mata ditutup
- Melirikkan mata kearah horizontal dan vertikal
- Dari sikap duduk diperintahkan untuk berdiri dengan mata
-

terbuka, kemudian mata ditutup


Olah raga menggerakkan kepala

b. Farmakologi
IVFD RL 20 tpm
Flunarizine 3 x 5mg
Citicoline 2 x 500mg
Mestigo 2 x 1
Candesartan 1 x 1
X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam

: Bonam
: Bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek; yang sering
digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau
rasa pusing (dizziness); deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan
dengan nyeri kepala atau chepalgia, terutama karena di kalangan awam kedua istilah
tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.

Definisi
Vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar merujuk pada
sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya
disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan
Vertigo adalah setiap gerakan atau rasa gerakan tubuh penderita atau obyek-obyek
di sekitar penderita bersangkutan dengan kelainan system keseimbangan (ekuilibrium).
Etiologi
Vertigo merupakan suatu gejala, sederet penyebabnya antara lain akibat kecelakaan,
stres, gangguan pada telinga bagian dalam, obat-obatan, terlalu sedikit atau banyak aliran
darah ke otak dan lain-lain. Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan
melalui organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki
saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak. Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan
di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam
otaknya sendiri.
Keseimbangan dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat informasi tentang
posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah dan mata. Penyebab umum dari
vertigo:
1. Penyakit system vestibular perifer (yaitu labirin, nervus VIII atau inti vestibularis)
a) Telinga :
-

Telinga luar : serumen, benda asing

Telinga tengah : retraksi membrane timpani, otitis media purulenta akuta, otitis
media dengan efusi, labirintitis, koleastetoma, rudapaksa dengan perdarahan.

Telinga dalam : Labirintis akuta toksika, trauma, serangan vascular, alergi,


hidrops labirin (morbus meniere), mabuk gerakan, vertigo postural.

b) Nervus VIII :
-

Infeksi

Trauma

Tumor

c) Inti vestibularis (batang otak) :

Infeksi (meningitis, encephalitis, abses otak)

Perdarahan

Trombosis (arteri serebeli postero-inferior)

Tumor

Sklerosis multiple

2. Penyakit susunan saraf pusat


a) Vascular
-

Iskemik otak

Hipertensi kronis

Arteriosklerosis

Anemia

Hipertensi kardiovascular

b) Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses.


c) Trauma
d) Tumor
e) Migren
f) Epilepsi
g) Kelainan endokrin (hipotiroid, hipoglikemik, keadaan menstruasi, hamil,
menoupase)
h) Kelaianan psikoneurosis
3. Mata : paresis otot mata, kelainan refraksi, glaucoma
4. Kelainan propioseptik : pellagra, anemia pernisiosa, alkohholisme, tabes dorsalis.
Klasifikasi
Vertigo dapat berasal dari kelainan di sentral (batang otak, serebelum atau otak)
atau di perifer (telinga dalam, atau saraf vestibular).
1. Fisiologik: ketinggian, mabuk udara.
Vertigo fisiologik adalah keadaan vertigo yang ditimbulkan oleh stimulasi dari
sekitar penderita, dimana sistem vestibulum, mata, dan somatosensorik berfungsi
baik. Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain :
9

Mabuk gerakan (motion sickness)


Mabuk gerakan ini akan ditekan bila dari pandangan sekitar (visual
surround) berlawanan dengan gerakan tubuh yang sebenarnya. Mabuk
gerakan akan sangat bila sekitar individu bergerak searah dengan gerakan
badan. Keadaan yang memperovokasi antara lain duduk di jok belakang
mobil, atau membaca waktu mobil bergerak.

Mabuk ruang angkasa (space sickness)


Mabuk

ruang

angkasa

adalah

fungsi

dari

keadaan

tanpa

berat

(weightlessness). Pada keadaan ini terdapat suatu gangguan dari


keseimbangan antara kanalis semisirkularis dan otolit.

Vertigo ketinggian (height vertigo)


Adalah suatu instabilitas subjektif dari keseimbangan postural dan
lokomotor oleh karena induksi visual, disertai rasa takut jatuh, dang gejalagejala vegetatif.

2. Patologik :
-

sentral

perifer

Vertigo dapat diklasifikasikan menjadi :


a. Sentral diakibatkan oleh kelainan pada batang batang otak atau cerebellum
b. Perifer disebabkan oleh kelainan pada telinga dalam atau nervus cranialis
vestibulocochlear (N. VIII)
c. Medical vertigo dapat diakibatkan oleh penurunan tekanan darah , gula darah yang
rendah, atau gangguan metabolic karena pengobatan atau infeksi sistemik.
Kata kunci untuk vertigo yang berasal dari sentral adalah gejala atau tanda batang

10

otak lainnya atau tanda onset akut misalnya sakit kepala tuli dan temuan neurologis lainnya
misalnya trigeminal sensory loss pada infark arteri cebellar postero inferior. Pada pasien
seperti ini perlu cepat dirujuk dan diinvestigasi. Red flag pada pasien dengan vertigo
meliputi:

Sakit kepala

Gejala neurologis

Tanda neurologis

Penting juga untuk mengklasifikasikan vertigo menjadi akut dan kronik. Vertigo
akut biasanya memiliki mekanisme yang tunggal sedangkan vertigo kronik memiliki
mekanisme multifaktorial. Dizziness yang kronik lebih sering terjadi pada usia tua karena
insiden penyakit komorbid yang lebih besar.
Tabel 1. Ciri-ciri Vertigo perifer dan sentral.
CIRICIRI
Lesi

VERTIGOPERIFER
Systemvestibuler(telinga

VERTIGOSENTRAL
Systemvertebrobasilerdan

dalam,sarafperifer)

gangguanvascular(otak,
batangotak,serebelum)

Penyebab

GejalagangguanSSP

BPPV,penyakitmaniere,

Iskemikbatangotak,

neuronitisvestibuler,

vertebrobasiler

labirintis,neuroma

insufisiensi,neoplasma,

akustik,trauma

migrainebasiler

Tidakada

Diantaranya:diplopia,
parestesi,gangguan
sensibilitasdanfungsi
motoric,disartria,
gangguanserebelar

Masalaten
Habituasi

340detik

Tidakada
Ya

Tidak

11

Menyebabkankelelahan

Ya

Tidak

Intensitasvertigo

Berat

Ringan

Telingaberdengingdan

Jarang

Tidakada

atautuli
Nistagmusspontan

VERTIGO SENTRAL
Penyebab vertigo jenis sentral biasanya ada gangguan di batang otak atau di
serebelum. Untuk menentukan gangguan di batang otak, apakah terdapat gejala lain yang
khas bagi gangguan di batang otak, misalnya diplopia, parestesia, perubahan sensibilitas
dan fungsi motorik, rasa lemah.
VERTIGO PERIFER
Lamanya vertigo berlangsung:
a. Episode (serangan) vertigo yang berlangsung beberapa detik.Paling sering
disebabkan oleh vertigo posisional benigna. Dapat dicetuskan oleh perubahan
posisi kepala. Berlangsung beberapa detik dan kemudian mereda. Paling sering
penyebabnya idiopatik (tidak diketahui), namun dapat juga diakibatkan oleh trauma
di kepala, pembedahan di telinga atau oleh neuronitis vestibular. Prognosis
umumnya baik, gejala menghilang secara spontan.
b. Episode vertigo yang berlangsung beberapa menit atau jam.Dapat dijumpai pada
penyakit meniere atau vestibulopati berulang. Penyakit meniere mempunyai trias
gejala yaitu ketajaman pendengaran menurun (tuli), vertigo dan tinitus.
c. Serangan vertigo yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.
Neuronitis vestibular merupakan kelainan yang sering datang ke unit darurat. Pada
penyakit ini, mulainya vertigo dan nausea serta muntah yang menyertainya ialah
mendadak, dan gejala ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggu. Fungsi pendengaran tidak terganggu pada neuronitis vestibular. Pada
pemeriksaan fisik mungkin dijumpai nistagmus.

12

Tabel 2. Klinis vertigo vestibular, perifer, dan sentral.


PERIFER
Mendadak
Berat
(+)
(++)
(+)

Bangkitan vertigo
Derajat vertigo
Pengaruh gerakan kepala
Gejala otonom
Gangguan pendengaran

SENTRAL
Lambat
Ringan
(-)
(-)
(-)

Selain itu kita bisa membedakan vertigo sentral dan perifer berdasarkan nystagmus.
Nystagmus adalah gerakan bola mata yang sifatnya nvolunter, bolak balik, ritmis, dengan
frekuensi tertentu. Nystagmus merupakan bentuk reaksi dari refleks vestibulo oculer
terhadap aksi tertentu. Nystagmus bisa bersifat fisiologis atau patologis dan manifes secara
spontan atau dengan rangsangan alat bantu seperti test kalori, tabung berputar, kursi
berputar, kedudukan bola mata posisi netral atau menyimpang atau test posisional atau
gerakan kepala.

Tabel 3. Membedakan nistagmus sentral dan perifer .


Nystagmus

Vertigo Sentral
Berubah-ubah

Vertigo Perifer
Horizontal / horizontal

Unilateral / bilateral

rotatoar
Bilateral

Latensi

Singkat

Lebih lama

Durasi

Lama

Singkat

Intensitas

Sedang

Larut / sedang

Sifat
Test dengan rangsang

Susah ditimbulkan
Dominasi arah jarang

Mudah ditimbulkan
Sering ditemukan

(kursi putar, irigasi

ditemukan

Arah
Sifat
Tes posisional

telinga)
Fiksasi mata
Tidak dipengaruhi
Terhambat
Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa
jam bahkan hari. Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo
bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali. Sesuai kejadiannya,
vertigo ada beberapa macam yaitu:

Vertigo spontan

13

Vertigo ini timbul tanpa pemberian rangsangan. Rangsangan timbul dari


penyakitnya sendiri, misalnya pada penyakit Meniere oleh sebab tekanan
Endolimfa yang meninggi. Vertigo spontan komponen cepatnya mengarah ke
jurusan lirikan kedua bola mata.

Vertigo posisi
Vertigo ini disebabkan oleh perubahan posisi kepala. Vertigo timbul karena
perangsangan pada kupula kanalis semi-sirkularis oleh debris atau pada kelainan
servikal. Debris ialah kotoran yang menempel pada kupula kanalis semi-sirkularis.

Vertigo kalori
Vertigo yang dirasakan pada saat pemeriksaan kalori. Vertigo ini penting
ditanyakan pada pasien sewaktu tes kalori, supaya ia dapat membandingkan
perasaan vertigo ini dengan serangan yang pernah dialaminya. Bila sama, maka
keluhan vertigonya adalah betul, sedangkan bila ternyata berbeda, maka keluhan
vertigo sebelumnya patut diragukan.

Patofisiologi
Setiap orang tinggal di ruangan dan mampu berorientasi terhadap sekitarnya berkat
adanya informasi-informasi yang dating dari indera. Didalam orientasi ruangan ini indera
yang penting peranannya adalah system vestibular (statokinetik), system penglihatan
(visual/optic), dan rasa dalam (proprioseptik). Untuk bekerja secara wajar, unit ini
memerlukan normalitas fungsi fisiologi indera-indera tersebut sehingga informasi yang
ditangkap dari sekitarnya adalah proporsional dan adekuat. Informasi ini dipertukarkan dan
diproses lebih lanjut oleh suatu unit pemroses sentral dan selanjutnya proses yang
berlangsung dalam system saraf pusat akan bekerja secara reflektorik.
Tetapi bila oleh sesuatu sebab terjadi hal-hal yang menyimpang, maka unit proses
sentral tidak lagi dapat memproses informasi-informasi secara wajar/biasa, melainkan
menempuh jalur luar biasa. Hasil akhir yang didapat selain ketidak sempurnaan adaptasi
otot-otot mata dan ekstremitas tersebut juga akan memberikan tanda/peringatan kegawatan.
Tanda ini dapat dalam bentuk yang disadari ataupun yang tidak disadari oleh penderita.
Yang disadari:
-

Bersumber dari pusat vestibular ialah vertigo


14

Bersumber dari system saraf otonom ialah mual, muntah, berkeringat, dll.

Bersumber dari system motorik ialah rasa tidak stabil


Yang tidak disadari: terutama bersumber dari otot mata yaitu timbulnya nistagmus.
Penyimpangan proses yang wajar tersebut diatas dapat sebagai akibat abnormalitas
fungsi fisiologik salah satu atau lebih indera atau akibat informasi yang tidak harmonis,
atau tidak terkoordinasinya informasi-informasi yang datang dari indera-indera
ekuilibrium. Biasanya, bila abnormalitas itu bersumber dari sistem visual akan
menimbulkan rasa ringan dikepala, sedangkan bila bersumber dari system vestibular akan
menimbulkan rasa gerakan. Dikatakan dari semua indera itu, system vestibularlah yang
pegang andil paling besar terhadap ekuilibrium. Disamping ikut andil dalam orientasi
ruangan,

system

mempertahankan

vestibular
dan

merupakan

menstabilkan

organ

posisi

dan

penting

yang

penglihatan.

bekerja
Sistem

otomatis
ini

dapat

membangkitkan reflex otomatis, involuntar, gerakan paksaan yang hanya bergantung pada
kesadaran seseorang. Termasuk gerakan bola mata involuntary/ nistagmus dan refleks
penyesuaian terhadap posisi miring.
Diagnosis
1. Anamnesis

Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang, goyang, berputar, tujuh

keliling, rasa naik perahu dan sebagainya.


Keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan

tubuh, keletihan, ketegangan.


Apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan, hilang timbul, paroksimal, kronik,
progresif atau membaik. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang

karakteristik.
Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin, kanamisin, salisilat, antimalaria dan

lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik


Apakah ada keluhan yang menyertai mual, muntah, gangguan pendengaran,

tinnitus.
Adanya penyakit sistemik seperti anemia, penyakit jantung, hipertensi, hipotensi.
Juga kemungkinan trauma akustik.

2. Pemeriksaan Fisik
15

Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab, baik kelainan sistemik, otologik atau
neurologik vestibuler atau serebeler; dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan
keseimbangan, gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum.
Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab;
apakah akibat kelainan sentral yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusatkorteks
serebri, serebelum, batang otak, atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik; selain itu
harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan
vertigo tersebut.
Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmia jantung,
hipertensi, hipotensi, gagal jantung kongestif, anemi, hipoglikemi.
Dalam menghadapi kasus vertigo, pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya, lalu
letak lesi dan kemudian penyebabnya, agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan
terapi simtomatik yang sesuai.
Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan darah diukur
dalam posisi berbaring, duduk dan berdiri; bising karotis, irama (denyut jantung) dan
pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa.
Pemeriksaan Neurologis
1. Pemeriksaan mata
Mencari adanya nistagmus:
a. Pada mata dalam posisi netral bila ada nistagmus disebut nistagmus spontan.
b. Bila pada mata melirik kekiri dan kanan, atas bawah bila ada nistagmus disebut
nistagmus tatapan.
c. Nistagmus yang disebabkan oleh kelainan system saraf pusat mempunyai cirriciri, sebagai berikut:

Nistagmus pendular: nistagmus yang tidak mempunyai fase cepat atau

lambat.
Nistagmus ventrikal yang murni: nistgamus yang gerakan ke atas dan

bawah.
Nistagmus rotatari yang murni: gerakannya berputar

16

Gerakan nistagmoid: gerakan bolamata yang bukan nistagmus sebenarnya

tetapi mirip dengan nistagmus.


Nistagmus tatapan yang murni: nistagmus yang berubah arahnya bila arah
lirikan mata berubah.

Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada:


1. Fungsi vestibuler/serebeler
a. Uji Romberg : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan
kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik.
Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan
bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup
badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata
terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita
akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.

17

Gambar 1. Uji Romberg

b. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada
ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan
menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.
c. Uji Unterberger.
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan
mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi
penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar
cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan
lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan
fase lambat ke arah lesi.

Gambar 2. Unterberger Tes


d. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barang)

18

Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh mengangkat
lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa.
Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup.
Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.

Gambar 3. Uji Tunjuk Barany

e. Uji Babinsky-Weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima
langkah ke belakang selama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral,
pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.

Gambar 4. Uji Babinsky Weil

19

Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis


Pemeriksaan ini untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer.
1. Fungsi Vestibuler
a. Uji Dix Hallpike
Perhatikan adanya nistagmus; lakukan uji ini ke kiri dan kanan.

Kepala putar ke samping

Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang)

Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa

20

Gambar 5. Uji Dix-Hallpike


Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaringkan ke belakang dengan
cepat, sehingga kepalanya menggantung 45 di bawah garis horisontal, kemudian
kepalanya dimiringkan 45 ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya
vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral.

Perifer (benign paroxismal positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul


setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan

berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue).


Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih dari 1
menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).

b. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30, sehingga kanalis semisirkularis lateralis
dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30C) dan air
hangat (44C) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus
yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut
(normal 90-150 detik).
Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance
ke kiri atau ke kanan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik
setelah rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah
jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.
Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedangkan directional
preponderance menunjukkan lesi sentral.

21

DAFTAR PUSTAKA

Chain, TC. 2009. Practical Neurology 3rd edition: Approach to the Patient with Dizziness
and Vertigo. Illnois: wolter kluwerlippincot William and Wilkins.
Duus, Peter. 1996. Diagnosis topik neurologi: anatomi, tanda, gejala; alih bahasa, Deby H.
Ronardy; editor edisi bahasa Indonesia, Wita J. Suwono. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hal 126127.
Labuguen, RH. 2006. Initial Evaluation of Vertigo ini Journal American Family Physician
January 15, 2006; Volume 73, Number 2.
Lempert, T, Neuhauser, H. 2009. Epidemiology of vertigo, migraine and vestibular
migraine in Journal Nerology: 25: 333-338.
Lumbal tobing. 2000. Vertigo. Kapita Selekta Neurologi. Gajah Mada University Press:
Yogyakarta. Hal 341-357.
Mardjono M, Sidharta P. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.

22