P. 1
A-PDF Word to PDF Demo: Purchase From

A-PDF Word to PDF Demo: Purchase From

|Views: 133|Likes:
Dipublikasikan oleh naksintink

More info:

Published by: naksintink on Feb 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2014

pdf

text

original

A-PDF WORD TO PDF DEMO: Purchase from www.A-PDF.

com to remove the watermark

Renungan 28 Oktober
28 Oktober 1928 dan 28 Oktober 1945 Tanggal 28 Oktober setiap tahun, bangsa Indonesia memeringati hari yang bersejarah, yang merupakan salah satu tonggak menuju pembentukan negara Republik Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi pemuda dari berbagai daerah di India Belanda, di akhir Kongres Pemuda ke II, mengeluarkan satu keputusan, yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Namun masih diperlukan beberapa tahun, untuk membentuk suatu wadah organisasi pemuda yang bersifat nasional. Wadah baru tersebut bernama Indonesia Muda yang diresmikan dalam Kongres Indonesia Muda I yang diselenggarakan di Surakarta (Solo) pada 29 Desember 1930 – 2 Januari 1931. Ada satu peristiwa heroik yang juga terjadi pada tanggal 28, yang hingga kini kurang atau belum memperoleh perhatian dari bangsa Indonesia, yaitu pertempuran dahsyat yang terjadi pada 28 Oktober 1945 di Surabaya, di mana para pemuda dari hampir seluruh daerah di Indonesia bertempur melawan tentara Inggris, untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Serangkaian perlawanan dahsyat rakyat Indonesia di berbagai daerah, telah merubah jalannya sejarah. Pertempuran-pertempuran melawan tentara Sekutu/Inggris yang lebih dikenal sebagai Pertempuran Surabaya, Pertempuran “Medan Area”, Palagan Ambarawa dan Bandung Lautan Api, merupakan perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Tentara Sekutu -3 British Indian Divisions- di bawah Admiral Lord Louis Mountbatten, Supreme Commander South East Asia Command, telah menyalahgunakan tugasnya dan berusaha membantu Belanda memperoleh kembali jajahannya. Tiga Divisi Inggris tersebut dibantu oleh dua Divisi tentara Australia di bawah Letnan Jenderal Lesley Morsehead. Tepat 17 tahun setelah Sumpah Pemuda 1928, yaitu pada 28 Oktober 1945 di Surabaya, semangat Sumpah Pemuda tersebut terwujud dalam peristiwa heroik yang patut dibanggakan, karena rakyat Indonesia di Surabaya berhasil mengalahkan tentara Inggris, yang adalah salah satu pemenang Perang Dunia II. Pada waktu itu Indonesia belum memiliki Tentara Nasional, yang ada hanyalah Badan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR) dan berbagai laskar serta pasukan pemuda/pelajar. Berikut ini disampaikan sekilas mengenai kedua peristiwa bersejarah tersebut, agar dalam renungan 28 Oktober, dapat digali kembali semangat yang tertanam dalam diri para pemuda Indonesia pada waktu itu, guna membangun bangsa yang kini sedang terancam bahaya disintegrasi. 28 Oktober 1928 Para pemuda dari hampir semua suku bangsa di wilayah India-Belanda mendirikan berbagai organisasi yang masih berlatar belakang wilayah atau etnis, seperti Jong Sumateranen Bond, Jong Java, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Kaoem Betawi, Jong Celebes, Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) dan Sekar Rukun. Dari tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta diselenggarakan Kongres Pemuda I, namun pada Kongres tersebut, belum berhasil mempersatukan seluruh organisasi pemuda Indonesia.

2 Setelah Kongres Pemuda I, pada bulan September 1926, beberapa mahasiswa jurusan hukum dan kedokteran mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). PPPI kemudian mengadakan pendekatan ke sejumlah organisasi pemuda dan mengusulkan diselenggarakannya Kongres Pemuda II. Pada bulan Juli 1928, disetujui pembentukan Panitia Kongres Pemuda II dengan susunan sebagai berikut : Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Pembantu I Pembantu II Pembantu III Pembantu IV Pembantu V : Sugondo Joyopuspito (PPPI) : Joko Marsaid (Jong Java) : Muhammad Yamin (Jong Sumateranen Bond) : Amir Syarifuddin Harahap (Jong Batak) : Johan M. Cai (Jong Islamieten Bond) : Katjasungkana (Pemuda Indonesia) : Senduk (Jong Celebes) : Josef Leimena (Jong Ambon) : Rohyani (Pemoeda Kaoem Betawi)

Mereka memperoleh dukungan dan nasihat dari sejumlah tokoh yang lebih tua antara lain Mr. Sartono, Mr. Muhammad Nazief, Mr. Arnold I.Z. Mononutu dan Mr. Sunario. Pada 27 dan 28 Oktober 1928 -juga di Jakarta- diselenggarakan Kongres Pemuda II, dihadiri sekitar 750 pemuda dari berbagai organisasi. Jong Java dipimpin oleh Joko Marsaid, Jong Islamieten Bond dipimpin oleh Johan M. Cai, Jong Sumateranen Bond dipimpin oleh Muhammad Yamin, Jong Batak dipimpin oleh Amir Syarifuddin Harahap, Pemuda Indonesia dipimpin oleh Katjasungkana (ayahanda dari Nursyahbani Katjasungkana, anggota DPR RI 2004-2009 dari Fraksi PKB), Jong Celebes dipimpin oleh Senduk, Jong Ambon dipimpin oleh Josef Leimena, dan Pemoeda Kaoem Betawi dipimpin oleh Rohyani. Sejumlah tokoh yang lebih tua yang ikut hadir antara lain Mr. Sartono, mewakili PNI Cabang Jakarta, Kartakusuma mewakili PNI Cabang Bandung, Abdulrachman mewakili Budi Utomo Cabang Jakarta, Mr. Sunario mewakili PAPI (Persaudaraan Antara Pandu Indonesia) dan INPO, Arnold Mononutu mewakili Persatuan Minahasa, Sigit mewakili Indonesische Club, Muhidin mewakili Pasundan dan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo mewakili Pengurus Besar PSI (Partai Sarikat Islam). Selain itu hadir juga kaum nasionalis Indonesia seperti S. Mangunsarkoro, Nona Purnomowulan, Mr. Mohammad Nazief, Siti Sundari, E. Puradireja, Kuncoro Purbopranoto, Sukmono, Suryadi, Jaksodipuro (Wongsonegoro), Muhammad Rum, Dien Pantouw, Suwiryo, Sumanang, Dali, Syahbudin Latif, Sulaiman Kartomenggolo, Sumarto, Masdani, Anwari, Nona Tumbel, Tamzil, A.K. Gani, Jo Tumbuan, Pangemanan, Halim, Antapermana, Suwarni dan Kasman Singodimejo. Anggota Volksraad yang hadir adalah Suryono dan Sukowati. Selain Polisi-polisi Belanda juga selalu dalam setiap sidang dengan senjata lengkap, Pemerintah Belanda mengutus Dr. Pyper dan Dr. Charles Olke van der Plas untuk hadir dalam Kongres tersebut. Rapat pertama diselenggarakan di gedung Katholieke Jongelingen Bond, Waterlooplein. Sebelum dibuka, dibacakan amanat tertulis Ir. Sukarno, Ketua PNI, amanat Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, dan juga amanat Tan Malaka. Dalam acara sambutan, terjadi dua kali insiden. Yang pertama terjadi ketika seorang pembicara mempergunakan kata “kemerdekaan” yang mengakibatkan polisi Belanda menegur ketua sidang dan mengancam akan mengeluarkan semua pemuda di bawah usia 18 tahun, karena menganggap pertemuan ini adalah rapat politik.

3 Insiden kedua timbul, karena seorang pembicara menganjurkan agar Indonesia menjadi suatu negeri seperti Inggris, Jepang dll. Perbandingan ini juga membuat polisi Belanda melakukan peneguran kepada ketua sidang dan meminta agar semua pemuda di bawah 18 tahun dikeluarkan dari ruang sidang. Namun permintaan tersebut ditolak oleh ketua sidang Rapat kedua tanggal 28 Oktober, di gedung Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord, dan rapat ketiga, juga tanggal 28 Oktober 1928, dilangsungkan di gedung Indonesische Clubhuis, Kramat Raya 106. Rapat ketiga diawali dengan kekecewaan para anggota kepanduan Indonesia, yang dilarang polisi Belanda untuk ikut hadir. Selama sidang-sidang tersebut, para pembicara menyampaikan pendapat serta gagasannya mengenai bangsa dan negara Indonesia. Setelah itu, dilakukan istirahat untuk merangkum dan merumuskan seluruh pendapat dan gagasan yang disampaikan selama kongres. Di waktu istirahat, W.R. Supratman, seorang wartawan yang gemar musik meminta izin kepada ketua sidang, Sugondo, untuk dapat memperdengarkan lagu gubahannya yang dinamakan “Indonesia Raya.” Karena dalam syair terdapat banyak kata “Indonesia”, Sugondo kuatir akan timbul lagi insiden dengan polisi Belanda. Oleh karena itu ia hanya mengizinkan Supratman untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya. Demikianlah lagu Indonesia Raya untuk pertama kali diperdengarkan dalam suatu acara resmi, yaitu dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Setelah istirahat, rapat ketiga dibuka kembali dan Sugondo sebagai ketua sidang membacakan usul resolusi sbb (Dikutip sesuai aslinya dengan ejaan lama) : POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDI INDONESIA Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia; Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahoen 1928 di negeri Djakarta; Sesoedahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini; Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan : Pertama : KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATU, TANAH INDONESIA. Kedoea : KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA Ketiga : KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOEN DJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan kebangsaan Indonesia.

4 Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannya : KEMAOEAN SEDJARAH BAHASA HOEKOEM ADAT PENDIDIKAN DAN KEPANDOEAN dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan. Sidang menerima usulan resolusi tersebut, yang kemudian menjadi keputusan Kongres yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pada 23 April 1929, di Gedung IC di Kramat 106, diselenggarakan pertemuan antara wakil-wakil Jong Jawa,Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) dan Jong Sumateranen Bond dan menghasilkan keputusan, untuk mendirikan suatu wadah bagi seluruh organisasi kepemudaan di India Belanda. Disepakati pembentukan komisi persiapan yang dinamakan Komisi Besar Indonesia Muda. Wadah baru tersebut, Indonesia Muda, yang merupakan peleburan dari Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, Jong Jawa, Jong Indonesia dan Sekar Rukun, diresmikan dalam Kongres I tanggal 29 desember 1930 – 2 Januari 1931 di Surakarta (Solo). 28 Oktober 1945 Di Surabaya dan sekitarnya pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dipelopori antara lain oleh K.R.M.H. Yonosewoyo, Sungkono, Surachman, Abdul Wahab, dr. Wiliater Hutagalung, R. Kadim Prawirodirjo, drg. Mustopo, dan lain-lain. Selain BKR, juga didirikan berbagai laskar dan pasukan pemuda, seperti TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Perebutan senjata dari tentara Jepang di Surabaya dimulai sejak pertengahan September 1945. Melihat bahwa Jepang sangat mengalah kepada Belanda dan bahkan memberikan berbagai fasilitas serta pengawalan bagi pimpinan Belanda yang baru dilepaskan dari interniran, membuat kemarahan rakyat terhadap tentara Jepang makin berkobar. Kalangan pejuang Republik di Surabaya semakin kuat berprasangka, bahwa Jepang telah bekerjasama dengan Sekutu untuk memberikan peluang kepada Belanda kembali menjajah Indonesia. Di Don Bosco, Sawahan, terdapat salah satu arsenal tentara Jepang terbesar di Asia Tenggara. Pertempuran untuk merebut senjata yang menimbulkan korban besar di kedua belah pihak, berakhir dengan menyerahnya tentara Jepang kepada pasukan Indonesia yang menyerbu. Jumlah senjata yang dapat direbut dari tentara Jepang demikian banyaknya, sehingga untuk membantu perjuangan di Jakarta dan Yogyakarta, pimpinan Indonesia di Surabaya dapat mengirim 4 gerbong senjata (sekitar 1000 pucuk senapan) ke Jakarta, dan dua gerbong senjata ke Yogyakarta. Penyerbuan dan perebutan senjata yang sangat dramatis di Surabaya dilakukan pada tanggal 1 dan 2 Oktober terhadap markas Kempeitai (Polisi Militer) dan markas Kaigun (Angkatan Laut) Jepang. Kempeitai dianggap sebagai simbol kekejaman tentara Jepang selama masa pendudukan. Mereka sangat ditakuti rakyat karena kekejamannya, sehingga pembalasan dendam terutama terhadap anggota Kempeitai juga tidak kalah kejamnya.

5 Tentara Jepang yang tewas dalam perebutan senjata selama dua hari tersebut berjumlah 16 orang dan luka-luka 26 orang, serta beberapa tentara Jepang dilaporkan sebagai hilang. Di pihak Indonesia jatuh korban lebih banyak, yaitu 26 orang gugur, 50 orang luka-luka. Jumlah yang tewas dan luka-luka di kedua belah pihak menunjukkan betapa sengitnya pertempuran dua hari tersebut guna merebut senjata dari tentara Jepang. Seluruh korban di pihak Jepang dalam perebutan senjata di Surabaya dan sekitarnya tercatat: 240 tewas, 18 orang hilang dan 36 orang luka-luka. Korban di pihak Indonesia sangat besar. Kurang diketahui dengan pasti jumlah korban tewas dan luka-luka. Beberapa sumber menyebutkan, diperkirakan sekitar 500 orang Indonesia tewas dalam perebutan senjata di Surabaya dan sekitarnya. Penguasaan rakyat Indonesia atas persenjataan di pos-pos pertahanan Jepang di Surabaya sangat bervariasi. Selain perebutan, ada juga yang sukarela diserahkan oleh komandan tentara Jepang, dan ada juga ditemukan sejumlah besar senjata, amunisi, pakaian, obat-obatan, gula, beras, dll. yang rupanya ditimbun oleh tentara Jepang; mungkin dimaksudkan sebagai persediaan rahasia. Dalam waktu kurang dari dua bulan, di Surabaya dan sekitarnya telah terbentuk lebih dari 60 satuan BKR dan Laskar, di mana jumlah rakyat bersenjata diperkirakan mencapai 30.000 orang. Hal tersebut dimungkinan, karena sebagian terbesar adalah mantan anggota Peta, Heiho, Gyugun, Keibodan, Seinendan, Hizbullah, yang memperoleh pendidikan dan pelatihan militer atau semi militer dari Jepang, yang semula dirancang untuk membantu Jepang dalam pertahanan dan keamanan di India Belanda. Jenis persenjataan yang dimiliki dari mulai senjata ringan, senjata setenagh berat sampai senjata berat, tank dan meriam kaliber besar. Pada 1 September 1945, van Mook bersama van der Plas menemui Admiral Lord Louis Mountbatten di Kandy, Ceylon (Sri Lanka), untuk melaksanakan persetujuan Civil Affairs Agreement (CAA) antara Belanda dan Inggris, serta tindaklanjut hasil keputusan konferensi Yalta dan Deklarasi Potsdam. Nampaknya, misi van Mook dan van der Plas berhasil, karena setelah pertemuan tersebut, Mountbatten mengeluarkan perintah tertanggal 2 September 1945 kepada pada komandan Divisi, termasuk komandan Divisi 5 (Divisi 5 ikut dalam pertempuran di El Alamein, Afrika Utara pada Juni–Juli 1942 dan kemudian 23 Oktober – 6 November 1942 di mana akhirnya tentara Inggris di bawah Jenderal Bernard Law Montgommery berhasil memukul mundur pasukan Jerman di bawah pimpinan perwira legendaris Marsekal Erwin Rommel ke Libya), yang kemudian berakibat fatal bagi rakyat Indonesia, terutama di Surabaya : Headquarters, S.E. Asia Command 2 Sept. 1945. From : Supreme Commander S.E.Asia To : G.O.C. Imperial Forces. Re. Directive ASD4743S. You are instructed to proceed with all speed to the island of Java in the East Indies to accept the surrender of Japanese Imperial Forces on that island, and to release Allied prisoners of war and civilian internees. In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-establish civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, when it is in a position to maintain services. The main landing will be by the British Indian Army 5th Division, who have shown themselves to be most reliable since the battle of El Alamein.

5 Intelligence reports indicate that the landing should be at Surabaya, a location which affords a deep anchorage and repair facilities. As you are no doubt aware, the local natives have declared a Republic, but we are bound to maintain the status quo which existed before the Japanese Invasion. I wish you God speed and a sucessful campaign. (signed) Mountbatten Vice Admiral. Supreme Commander S.E.Asia. Kalimat : “In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-establish civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, when it is in a position to maintain services.” dan kalimat berikutnya : “……the local natives have declared a Republic, but we are bound to maintain the status quo which existed before the Japanese Invasion.” menyatakan secara jelas dan gamblang maksud Inggris untuk “…..mengembalikan koloni (Indonesia) kepada Administrasi Belanda…” dan “………mempertahankan status quo yang ada sebelum invasi Jepang.” Secara resmi, tugas pokok yg diberikan oleh pimpinan Allied Forces kepada Mountbatten adalah : 1. Melucuti tentara Jepang serta mengatur pulangkan kembali ke negaranya (The disarmament and removal of the Japanese Imperial Forces), 2. membebaskan para tawanan serta interniran Sekutu yang ditahan oleh Jepang di Asia Tenggara (RAPWI - Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees), termasuk di Indonesia, 3. menciptakan keamanan dan ketertiban (Establishment of law and order). Namun ternyata ada hidden agenda (agenda rahasia) yang dilakukan oleh tentara Inggris -dengan mengatasnamakan Sekutu- yaitu mengembalikan Indonesia sebagai jajahan kepada Belanda, sebagaimana tertera secara gamblang dalam surat perintah Mountbatten tertanggal 2 September 1945 kepada komandan-komandan Divisi, sehari setelah kunjungan van Mook di markas Besar Tentara Sekutu di Kandy, Sri Lanka. Jumlah tentara Jepang yang harus dilucuti dan ditahan di Sumatera, Jawa, Sunda Kecil, Kalimantan, Papua Barat dll. mencapai lebih dari 300.000 orang. Setelah dilucuti, mereka juga akan dipulangkan kembali ke Jepang. Selain itu masih terdapat sekitar 100.000 tawanan dan interniran Sekutu yang harus dibebaskan dari tahanan Jepang dan juga akan dipulangkan ke negara masing-masing. Semula, Mountbatten memperkirakan akan diperlukan 6 Divisi untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut, namun kenyataannya, mereka hanya dapat menyiapkan 3 Divisi, itupun dengan keterlambatan, sehingga ketika mereka tiba di bekas India Belanda, boleh dikatakan hampir seluruh tentara Jepang telah dilucuti oleh pihak Republik Indonesia, yang kemudian menguasai persenjataan tersebut, seperti yang terjadi di Surabaya.

7 Untuk pelaksanaan tugas tersebut, Mountbatten membentuk Allied Forces in the Netherlands East Indies (AFNEI) –Tentara Sekutu di India Belanda; dan jabatan Komandan AFNEI, semula dijabat oleh Rear Admiral Sir Wilfred Patterson, yang kemudian digantikan oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison, Panglima Tentara 15 Inggris, yang juga seorang bangsawan Inggris. Christison sendiri baru tiba di Jakarta tanggal 30 September 1945. Pasukan yang akan ditugaskan dari British-Indian Divisions, adalah Divisi 5 di bawah Mayor Jenderal Robert C. Mansergh untuk Jawa Timur, Divisi 23 di bawah Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah, sedangkan Divisi 26 di bawah Mayor Jenderal H.M. Chambers untuk Sumatera. Mountbatten mendapat bantuan dua Divisi Australia di bawah Letnan Jenderal Lesley Morsehead. Kedua Divisi Australia tersebut ditugaskan untuk menduduki kota-kota penting di Kalimantan dan Indonesia Timur lainnya. Pasukan Australia datang bersama kesatuan-kesatuan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) di sebagian besar kota-kota itu sebelum adanya suatu gerakan Republik yang terorganisasi dengan baik. Oleh karena itu, mereka relatif tidak banyak menghadapi kesulitan untuk melaksanakan rencana semula guna mempersiapkan pengambilalihan pemerintahan oleh pihak Belanda. Dengan demikian, Australia sangat berjasa dalam membantu Belanda menduduki wilayah-wilayah tersebut, karena pada waktu itu Belanda belum memiliki satuan bersenjata yang terorganisir; yang ada hanya bekas tawanan Jepang yang kondisi fisiknya belum mampu untuk bertempur. Kemudian, atas desakan pihak Belanda, Inggris menyerahkan wewenang atas Kalimantan serta kepulauan lain di bagian timur Indonesia -kecuali Bali dan Lombokkepada tentara Australia. Setelah “membersihkan” wilayah Indonesia Timur dari kekuatan bersenjatan pendukung Republik Indonesia, pada 13 Juli 1946 Australia secara resmi “menyerahkan” seluruh wilayah Indonesia Timur kepada Belanda. Belanda tidak membuang waktu, dan tanggal 15 – 22 Juli digelar “Konferensi Malino”, dekat Makassar, yang menjadi cikal bakal pembentukan Negara Indonesia Timur. Pada 25 Oktober 1945, Brigade 49 dari Divisi 23 yang berkekuatan sekitar 5.000 tentara, mendarat di Surabaya di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Mereka segera masuk ke dalam kota dan mendirikan pos pertahanan di 8 tempat. Awalnya, mereka ingin segera melucuti semua persenjataan yang telah dikuasai rakyat, namun karena mendapat tentangan yang sangat keras dari pimpinan Indonesia di Surabaya, akhirnya mereka mengalah. Tanggal 26 Oktober 1945 dicapai kesepakatan antara pimpinan Indonesia dengan komandan Brigade 49, Brigadir Mallaby, yang isinya a.l.: 1. Yang dilucuti senjata-senjatanya hanya tentara Jepang. (The disarmament shall be carried out only in the Japanese Forces). 2. Tentara Inggris selaku wakil Sekutu akan membantu Indonesia dalam pemeliharaan keamanan dan perdamaian. (The Allied Forces will assist in the maintenace of law, order and peace). 3. Setelah semua tentara Jepang dilucuti, maka mereka akan diangkut melalui laut. (The Japanese Forces after being disarmed, shall be transported by sea).

8 Pada 27 Oktober pukul 11.00 pagi, sebuah pesawat Dakota langsung dari Jakarta, atas perintah Mayjen Hawthorn menyebarkan pamflet yang isinya adalah perintah, agar dalam waktu 2 x 24 jam, seluruh senjata yang dimiliki oleh rakyat Indonesia diserahkan kepada tentara Sekutu, dan barangsiapa setelah batas waktu tersebut, terlihat membawa senjata, akan ditembak di tempat. Ini jelas bertentangan dengan kesepakatan sehari sebelumnya, yang telah disetujui oleh komandan tertinggi tentara Inggris di Surabaya, Brigadir Jenderal Mallaby. Walaupun dikabarkan, bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan adanya pamflet terserbut, namun dia mematuhi perintah pimpinannya di Jakarta, dan segera memerintahkan pasukannya untuk mulai melucuti persenjataan yang dimiliki rakyat Indonesia di Surabaya. Rakyat Indonesia di Surabaya menilai bahwa pihak Inggris telah melanggar perjanjian; maka pimpinan militer Indonesia di Surabaya memberikan perintah untuk menyerbu seluruh pos pertahanan Inggris. Serangan total dilakukan tanggal 28 Oktober 1945, pukul 4.30 pagi. Delapan pos pertahanan Inggris diserbu oleh sekitar 30.000 rakyat bersenjata, dan masih ditambah sekitar 100.000 bonek -artinya benar-benar bermodal nekad- dengan bersenjata bambu runcing, clurit, pedang, golok dsb. Tercatat sekitar 60 pasukan/laskar yang ikut dalam penyerbuan terhadap tentara Inggris pada 28 Oktober 1945 tersebut. Hampir seluruh sukubangsa yang ada di Indonesia terwakili oleh para pemuda yang tergabung dalam berbagai pasukan /laskar, antara lainPasukan Pemuda Sulawesi (KRIS – Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pasukan Sadeli Bandung, Pasukan Magenda Bondowoso, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan Sriwijaya (sebagian besar berasal dari Aceh dan Batak), Pasukan Sawunggaling, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, Pasukan TKR Laut, Pasukan BKR/TKR Morokrembangan, Pasukan BKR Kereta Api, Pemuda Ponorogo, Pasukan Jarot Subiantoro Pemuda Banten, Corps Pegadaian, Corps PTT, Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan Narapidana Kalisosok (penjara), dan bahkan banyak pemuda-pemuda dari Papua, Maluku dan Pulau Rote. Dengan demikian, bersatunya para pemuda Indonesia dalam perlawanan terhadap tentara Sekutu pada 28 Oktober 1945 merupakan perwujudan dari semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa heroik ini terjadi tepat 17 tahun kemudian. Suatu kebetulan? Atau suatu predistinasi? Setelah digempur total selama sehari-semalam, tentara Inggris yang tidak dipersiapkan untuk suatu pertempuran, mengibarkan bendera putih, minta berunding. Pada tahun 1975, seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith, dalam suratnya kepada J.G.A. Parrot menuliskan, bahwa Brigjen Mallaby menyadari, apabila pertempuran dilanjutkan, mereka akan disapu bersih (wiped out). Bahkan Kolonel A.J.F. Doulton, dalam bukunya menulis : “The heroic resistance of the British troop could only end in the extermination of the 49th Brigade, unless somebody could quell the passion of the mob. There was no such person in Surabaya and all hope rested on the influence of Sukarno.” (Perlawanan heroik dari tentara Inggris hanya akan berakhir dengan musnahnya Brigade 49, kecuali ada seorang yang dapat mengendalikan nafsu rakyat banyak itu. Tak ada tokoh seperti itu di Surabaya dan semua harapan tertumpu pada pengaruh Sukarno).

9 Menyadari bahwa apabila pertempuran dilanjutkan hanya akan mengakibatkan kehancuran total Brigade 49, malam itu juga, tanggal 28 Oktober 1945, mereka menghubungi pimpinan Republik di Jakarta. Inggris tidak dapat segera mendatangkan bantuan pasukan, baik dari Brigade Bethell di Jawa Tengah –yang juga sedang menghadapi perlawanan rakyat Indonesia-, apalagi dari Malaya, yang akan memerlukan waktu beberapa hari, sedangkan keadaan Brigade 49 di Surabaya sudah sangat kritis. Tak ada jalan lain, selain meminta bantuan pimpinan Republik di Jakarta, untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Inggris yang sudah terkepung di pos-pos pertahanan mereka di dalam kota Surabaya. Pimpinan tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan bagi mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera dibangunkan. Pada 29 Oktober sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat militer yang disediakan oleh Inggris. Segera hari itu juga Presiden Sukarno bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan yang dituangkan dalam “Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident; a provisional agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and Brigadier Mallaby, concluded on the 29th October 1945.” Perundingan dilanjutkan keesokan harinya dengan atasan Mallaby, Mayjen Hawthorn, yang datang ke Surabaya tanggal 30 Oktober. Dalam perundingan pada hari itu, dicapai kesepakatan antara Bung Karno dengan Panglima Divisi 23, Mayjen Hawthorn, yang isinya a.l.: mencabut perintah dalam pamflet tertanggal 27 Oktober, dan pengakuan terhadap keberadaan TKR dan polisi Indonesia. Pada pertempuran yang berlangsung di Surabaya tanggal 28 dan 29 Oktober 1945, Inggris mencatat: 18 perwira dan 374 serdadu, yang tewas, luka-luka dan hilang. Sedangkan di pihak Indonesia diperkirakan sekitar 6.000 orang yang tewas, luka-luka dan hilang. Pada 30 Oktober 1945 dicapai kesepakatan antara Presiden Sukarno dengan Mayjen Hawthorn untuk diadakan gencatan senjata dan pengakuan Inggris terhadap TKR di Surabaya. Ketika dilakukan penyebarluasan hasil kesepakatan tersebut, di depan Gedung Internatio di Jembatan Merah terjadi tembak-menembak yang dimulai oleh tentara Inggris, di mana Brigadir Jenderal Mallaby tewas. Pihak Inggris menyalahkan Indonesia atas terjadinya tembak-menembak, dan menuduh orang Indonesia membunuh Mallaby. Kedua tuduhan tersebut ternyata tidak benar, namun tentara Inggris tetap melaksanakan penghancuran kota Surabaya yang dimulai dengan pemboman besar-besaran tanggal 10 November 1945. Inggris mengerahkan lebih dari 30.000 tentaranya yang dilengkapi dengan persenjataan mutakhir yang dimiliki tentara Inggris. Akibat agresi militer Inggris terbesar setelah Perang Dunia II usai, yang berlangsung selama sekitar 3 minggu, diperkirakan lebih dari 20.000 penduduk Surabaya tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta hancurnya hampir separuh kota Surabaya. Dalam Seminar di LEMHANNAS tanggal 27 Oktober 2000 yang diselenggarakan oleh Komite Pembela Hak Asasi Rakyat Surabaya Korban Pemboman November ’45 bersama LEMHANNAS, Richard Gozney, Duta Besar Inggris, atas nama Pemerintah dan Rakyat Inggris menyampaikan penyesalan atas pemboman yang dilakukan tentara Inggris di Surabaya, dan mengakui terus terang, bahwa pada waktu itu memang Inggris membantu Belanda untuk menguasai Indonesia kembali sebagai jajahan. Disadur dari Batara R. Hutagalung, “10 November 1945. Mengapa Inggris Membom Surabaya?”

Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) (Malari) Malari
Peristiwa Malari di Senen Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara.

Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan. Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan oleh Yoga Sugama. Moertopo dan Peristiwa Malari Dalam peristiwa Malari Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari.

Mengenang Malari 15 Januari 1974
Oleh H.Rosihan Anwar

HARI ini tanggal 15 Januari, 32 tahun yang silam, terjadi Peristiwa Malari (Malapetaka Januari) yang dilukiskan oleh sejarawan Australia M.C. Ricklefs sebagai "salah satu huru-hara paling buruk di ibu kota sejak jatuhnya Soekarno". Peristiwa yang dipicu oleh kunjungan resmi Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka, didahului oleh aksi demonstrasi mahasiswa terhadap dominasi ekonomi Jepang di negeri ini dan kecaman-kecaman ke alamat Asisten Pribadi (Aspri) Ali Murtopo dan Sudjono Humardani, menimbulkan korban 11 orang tewas, 200 luka berat dan lebih dari 800 orang ditangkap oleh Kopkamtib (Komando Pemeliharaan Keamanan Ketertiban). Sebanyak 800 mobil, terutama buatan Jepang, 100 gedung dan rumah dibakar. Toko-toko yang menjual barang made in Japan dijarah. Pasar Senen dibakar oleh gerombolan preman yang dipimpin oleh kaki tangan Ali Murtopo dalam upaya membendung aksi demo mahasiswa. Tokoh pemimpin mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hariman Siregar dan dari Fakultas Ekonomi Sjahrir ditangkap, kemudian dihukum penjara. Begitu juga Prof. Sarbini Sumawinata dari UI dan Soebadio Sastrosatomo pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibubarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1960 ditangkap, kemudian menyusul Pemred Indonesia Raya Mochtar Lubis. Sejumlah surat kabar dilarang terbit buat selama-lamanya yaitu Abadi, Harian Kami, Indonesia Raya, Nusantara, dan Pedoman. Mendadak sontak posisi saya berubah dari pemimpin redaksi Pedoman menjadi penganggur. Saya tidak ditangkap seperti Mochtar Lubis, mungkin karena tahun 1973 saya bersama B.M. Diah, Jakob Oetama menjadi penerima Bintang Mahaputera dari Presiden Soeharto. Pemerintah mengambil tindakan keras. Tanggal 17 Januari kerusuhan dipadamkan. Buat pertama kali alih-alih mengatakan bahwa kaum komunis (sisa-sisa PKI) yang bertanggung jawab atas huru-hara, pemerintah menyalahkan bekas PSI dan Masyumi sebagai dalang kerusuhan. Menjadikan PSI sebagai kambing hitam segala kesusahan adalah pekerjaan Ali Murtopo. Pada waktu itu hubungan saya dengan Ali Murtopo normal dan zakelijk (lugas). Tapi kalau dia datang pribadi ke rumah saya untuk berdiskusi saya perhatikan dalam arus pikirannya betapa pada hematnya PSI adalah the bad guy, bahkan the villain, artinya "orang jelek dan bandit" dalam perkembangan lakon. Ini terjadi sebelum pecah Malari. Pada satu saat dalam percakapan saya interupsi "Pak Ali bicara tentang keburukan PSI. Apa Pak Ali lupa saya ini kan juga orang PSI?" Serta merta dijawabnya dengan berkilah: "Oh ya, tapi Pak Rosihan sudah kami evaluasi dan kami anggap bukan PSI". Dalam hati saya berpikir, ini contoh ngomong seenaknya, lidah tak bertulang. Sebelum Malari, tatkala suasana politik tegang, mahasiswa mengancam akan turun ke jalan. Di Yogyakarta saya berjumpa dengan Hariman Siregar.

2 Waktu bercakap-cakap saya kasih nasihat, supaya Hariman berhati-hati dengan para jenderal seperti Sumitro dan Ali Murtopo. Mereka itu sama saja. "Nanti kau dimakan oleh mereka yang sedang bentrokan". Entah kenapa Antara menyiarkan keterangan tadi yang benarnya saya berikan kepada Hariman secara confidential, tidak untuk diumumkan kepada publik. Lalu tersiarlah berita mengenai konflik antara Jenderal Sumitro (Pangkopkamtib) dengan Mayjen Ali Murtopo (Aspri Presiden). Ketika Hariman Siregar dibawa ke sidang pengadilan negeri dalam berkas perkaranya tercantum berita Antara tadi sebagai ilustrasi pemanasan isu konflik intern tentara. Akan tetapi pengacara pembela Hariman yang pernah jadi pemred Abadi Suardi Tasrif mengatakan bahwa statement saya di Yogya dianggap tidak relevan dan karena itu tidak perlu didalami lebih jauh. Bertahun-tahun kemudian waktu menghadiri tahlilan memperingati meninggalnya Brigjen Sunardi (Sekjen PWI) saya berjumpa dengan Sumitro yang sudah diberhentikan sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soeharto. Sumitro curhat dan menegaskan bahwa tidak ada bentrokan antara Sumitro dengan Ali Murtopo, sebagaimana saya katakan di Yogya. "Mana mungkin Pak Rosihan, saya ini jenderal empat bintang, sedangkan Ali berbintang dua. Dia turut perintah saya. Dan tidak ada konflik di antara kami berdua." Sumitro bercerita panjang lebar dan akhirnya berkata "Sudah lama saya ingin menyampaikannya kepada Pak Rosihan, dan kini saya puas". Benarkah tidak ada konflik? Versi Ali Murtopo lain pula. Dia ceritakan kepada saya bahwa Sumitro dan dia dipanggil oleh Pak Harto di Jalan Cendana. Mereka membicarakan situasi. Selesai pertemuan Ali meminta pertanggungjawaban dan malah sampai menantang Sumitro berduel dengan senjata pistol untuk menyelesaikan perkara. Sumitro menolak. Omongnya saja keras, tapi hatinya kecil, ujar Ali. Mana yang benar dari cerita tadi saya tidak bisa mengecek sampai sekarang. Seperti juga saya tidak bica mengecek keterangan seorang jenderal bahwa ketika demo mahasiswa sedang memuncak, situasi seperti tak bisa dikendalikan, maka Pak Harto di istana sendirian tampaknya kebengong-bengongan. Begitu pengalaman saya sekitar peristiwa Malari. Tanggal 17 Januari pagi hari dengan memakai helikopter PM Tanaka diterbangkan dari istana ke bandar udara untuk balik ke Jepang. Soeharto mengadakan rapat. Diputuskan Sumitro diberhentikan sebagai Pangkopkamtib, Ali Murtopo tidak lagi jadi Aspri, begitu juga Sudjono Humardani, para jenderal yang dekat dengan Sumitro seperti Sutopo Yuwono, Kharis Suhud, Sayidiman diberi kedudukan lain. Katakanlah juga tidak ada konflik intern di kalangan tentara? (PR) Penulis, wartawan senior Indonesia.

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah
KEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal "Peristiwa Malari", tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan. Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam. PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar. Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan "jenderal kalajengking" (scorpion general). Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono "didubeskan", diganti Yoga Sugama. Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah. Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria "pernah jadi ajudan Presiden". Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental. Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represip dijalankan secara lebih sistematis.

2 Malari sebagai wacana Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai "petrus" (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ. Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN. Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan "Petisi 24 Oktober". Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan. Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani "membina" orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru. Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166). Sebaliknya, "dokumen Ramadi" mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, "Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh". Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam "dokumen" itu tentu mengacu Jenderal Soemitro. Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo? berbeda, bahkan

Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan. Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap. Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->