P. 1
Peristiwa Tj Priok

Peristiwa Tj Priok

|Views: 2,446|Likes:
Dipublikasikan oleh naksintink

More info:

Published by: naksintink on Feb 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

A-PDF WORD TO PDF DEMO: Purchase from www.A-PDF.

com to remove the watermark

PERISTIWA TANJUNG PRIOK
Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984 Ditulis pada Februari 28, 2008 oleh Roemahcerdaz Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di tanjung Priok, tentu tidak akan pernah melupakan peristiwa tragis dan berdarah ini. Beberapa teman, tetangga dan seorang ustadz keturunan bugis, yang juga tetangga, turut menjadi korban atas kebiadaban dan kerakusan akan kekuasaan Orde baru. Semoga tidak akan pernah terulang lagi di masa datang……… Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sertu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sertu Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan. Rabu, 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !” Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi.

2 Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah. Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan lukaluka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat. Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia. Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah www.ummah.net/

Kronologi Peristiwa Tanjung Priok Kronologi Versi Abdul Qadir Djaelani
Abdul Qadir Djaelani adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh aparat keamanan sebagai salah seorang dalang peristiwa Tanjung Priok. Karenanya, ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sebagai seorang ulama dan tokoh masyarakat Tanjung Priok, sedikit banyak ia mengetahui kronologi peristiwa Tanjung Priok. Berikut adalah petikan kesaksian Abdul Qadir Djaelani terhadap peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, yang tertulis dalam eksepsi pembelaannya berjudul “Musuh-musuh Islam Melakukan Ofensif terhadap Umat Islam Indonesia”. Sabtu, 8 September 1984 Dua orang petugas Koramil (Babinsa) tanpa membuka sepatu, memasuki Mushala as-Sa'adah di gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka menyiram pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got (comberan). Pengumuman tadi hanya berupa undangan pengajian remaja Islam (masjid) di Jalan Sindang. Ahad, 9 September 1984 Peristiwa hari Sabtu (8 September 1984) di Mushala as-Sa'adah menjadi pembicaran masyarakat tanpa ada usaha dari pihak yang berwajib untuk menawarkan penyelesaan kepada jamaah kaum muslimin. Senin, 10 September 1984 Beberapa anggota jamaah Mushala As - Sa'adah berpapasan dengan salah seorang petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Terjadilah pertengkaran mulut yang akhirnya dilerai oleh dua orang dari jamaah Masjid Baitul Makmur yang kebetulan lewat. Usul mereka supaya semua pihak minta penengahan ketua RW, diterima. Sementara usaha penegahan sedang.berlangsung, orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada urusannya dengan permasalahan itu, membakar sepeda motor petugas Koramil itu. Kodim, yang diminta bantuan oleh Koramil, mengirim sejumlah tentara dan segera melakukan penangkapan. Ikut tertangkap 4 orang jamaah, di antaranya termasuk Ketua Mushala asSa'adah. Selasa, 11 September 1984 Amir Biki menghubungi pihak-pihak yang berwajib untuk meminta pembebasan empat orang jamaah yang ditahan oleh Kodim, yang diyakininya tidak bersalah. Peran Amir Biki ini tidak perlu mengherankan, karena sebagai salah seorang pimpinan Posko 66, dialah orang yang dipercaya semua pihak yang bersangkutan untuk menjadi penengah jika ada masalah antara penguasa (militer) dan masyarakat. Usaha Amir Biki untuk meminta keadilan ternyata sia-sia.

2 Rabu, 12 September 1984 Dalam suasana tantangan yang demikian, acara pengajian remaja Islam di Jalan Sindang Raya, yang sudah direncanakan jauh sebelum ada peristiwa Mushala as-Sa'adah, terus berlangsung juga. Penceramahnya tidak termasuk Amir Biki, yang memang bukan mubalig dan memang tidak pernah mau naik mimbar. Akan tetapi, dengan latar belakang rangkaian kejadian di hari-hari sebelumnya, jemaah pengajian mendesaknya untuk naik mimbar dan memberi petunjuk. Pada kesempatan pidato itu, Amir Biki berkata antara lain, "Mari kita buktikan solidaritas Islamiyah. Kita meminta teman kita yang ditahan di Kodim. Mereka tidak bersalah. Kita protes pekerjaan oknum-oknum ABRI yang tidak bertanggung jawab itu. Kita berhak membela kebenaran meskipun kita menanggung risiko. Kalau mereka tidak dibebaskan maka kita harus memprotesnya." Selanjutnya, Amir Biki berkata, "Kita tidak boleh merusak apa pun! Kalau ada yang merusak di tengah-tengah perjalanan, berarti itu bukan golongan kita (yang dimaksud bukan dan jamaah kita)." Pada waktu berangkat jamaah pengajian dibagi dua : sebagian menuju Polres dan sebagian menuju Kodim. Setelah sampai di depan Polres, kira-kia 200 meter jaraknya, di situ sudah dihadang oleh pasukan ABRI berpakaian perang dalam posisi pagar betis dengan senjata otomatis di tangan. Sesampainya jamaah pengajian ke tempat itu, terdengar militer itu berteriak, "Mundur-mundur!" Teriakan "mundurmundur" itu disambut oleh jamaah dengan pekik, "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Saat itu militer mundur dua langkah, lalu memuntahkan senjata-senjata otomatis dengan sasaran para jamaah pengajian yang berada di hadapan mereka, selama kurang lebih tiga puluh menit. Jamaah pengajian lalu bergelimpangan sambil menjerit histeris; beratus-ratus umat Islam jatuh menjadi syuhada. Malahan ada anggota militer yang berteriak, "Bangsat! Pelurunya habis. Anjing-anjing ini masih banyak!" Lebih sadis lagi, mereka yang belum mati ditendang-tendang dan kalau masih bergerak maka ditembak lagi sampai mati. Tidak lama kemudian datanglah dua buah mobil truk besar beroda sepuluh buah dalam kecepatan tinggi yang penuh dengan pasukan. Dari atas mobil truk besar itu dimuntahkan peluru-peluru dan senjata-senjata otomatis ke sasaran para jamaah yang sedang bertiarap dan bersembunyi di pinggir-pinggir jalan. Lebih mengerikan lagi, truk besar tadi berjalan di atas jamaah pengajian yang sedang tiarap di jalan raya, melindas mereka yang sudah tertembak atau yang belum tertembak, tetapi belum sempat menyingkir dari jalan raya yang dilalui oleh mobil truk tersebut. Jeritan dan bunyi tulang yang patah dan remuk digilas mobil truk besar terdengar jelas oleh para jamaah umat Islam yang tiarap di got-got/selokan-selokan di sisi jalan. Setelah itu, truk-truk besar itu berhenti dan turunlah militer-militer itu untuk mengambil mayat-mayat yang bergelimpangan itu dan melemparkannya ke dalam truk, bagaikan melempar karung goni saja. Dua buah mobil truk besar itu penuh oleh mayat-mayat atau orang-orang yang terkena tembakan yang tersusun bagaikan karung goni.

3 Sesudah mobil truk besar yang penuh dengan mayat jamaah pengajian itu pergi, tidak lama kemudian datanglah mobil-mobil ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang bertugas menyiram dan membersihkan darah-darah di jalan raya and di sisinya, sampai bersih. Sementara itu, rombongan jamaah pengajian yang menuju Kodim dipimpin langsung oleh Amir Biki. Kira-kira jarak 15 meter dari kantor Kodim, jamaah pengajian dihadang oleh militer untuk tidak meneruskan perjalanan, dan yang boleh meneruskan perjalanan hanya 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu, di antaranya Amir Biki. Begitu jaraknya kira-kira 7 meter dari kantor Kodim, 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu diberondong dengan peluru yang keluar dari senjata otomatis militer yang menghadangnya. Ketiga orang pimpinan jamaah itu jatuh tersungkur menggelepar-gelepar. Melihat kejadian itu, jamaah pengajian yang menunggu di belakang sambil duduk, menjadi panik dan mereka berdiri mau melarikan diri, tetapi disambut oleh tembakan peluru otomatis. Puluhan orang jamaah pengajian jatuh tersungkur menjadi syahid. Menurut ingatan saudara Yusron, di saat ia dan mayat-mayat itu dilemparkan ke dalam truk militer yang beroda 10 itu, kira-kira 30-40 mayat berada di dalamnya, yang lalu dibawa menuju Rumah Sakit Gatot Subroto (dahulu RSPAD). Sesampainya di rumah sakit, mayat-mayat itu langsung dibawa ke kamar mayat, termasuk di dalamnya saudara Yusron. Dalam keadaan bertumpuktumpuk dengan mayat-mayat itu di kamar mayat, saudara Yusron berteriakteriak minta tolong. Petugas rumah sakit datang dan mengangkat saudara Yusron untuk dipindahkan ke tempat lain. Sebenarnya peristiwa pembantaian jamaah pengajian di Tanjung Priok tidak boleh terjadi apabila PanglimaABRI/Panglima Kopkamtib Jenderal LB Moerdani benar-benar mau berusaha untuk mencegahnya, apalagi pihak Kopkamtib yang selama ini sering sesumbar kepada media massa bahwa pihaknya mampu mendeteksi suatu kejadian sedini dan seawal mungkin. Ini karena pada tanggal 11 September 1984, sewaktu saya diperiksa oleh Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, saya sempat berbincang-bincang dengan Kolonel Polisi Ritonga, Kepala Intel Kepolisian tersebut di mana ia menyatakan bahwa jamaah pengajian di Tanjung Priok menuntut pembebasan 4 orang rekannya yang ditahan, disebabkan membakar motor petugas. Bahkan, menurut petugaspetugas satgas Intel Jaya, di saat saya ditangkap tanggal 13 September 1984, menyatakan bahwa pada tanggal 12 September 1984, kira-kira pukul 10.00 pagi. Amir Biki sempat datang ke kantor Satgas Intel Jaya. Sumber: Buku Tanjung Priok Berdarah, Tanggungjawab Siapa: Kumpulan Fakta dan Data, Yogyakarta : Gema Insani Press.

Mohammad Syarifuddin Maloko Peristiwa Priok Dipicu Penangkapan Mubalig

Mohammad Syarifuddin Maloko saat bersaksi di Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta. Syarifuddin mengatakan Kasus Tanjungpriok berawal dari penculikan empat temannya. Mereka diculik karena dianggap memimpin massa memprotes anggota Koramil yang masuk masjid tanpa mencopot sepatu. Liputan6.com, Jakarta: Persidangan Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Tanjungpriok kembali digelar Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta, Senin (29/3). Sidang dengan terdakwa bekas Komandan Regu III Yon Arhanudse-06 Sutrisno Mascung ini mendengarkan kesaksian Mohammad Syarifuddin Maloko, mubalig yang dituduh bertindak subversif dan sempat dihukum selama 10 tahun. Sidang dipimpin Hakim Andi Samsan Nganro. Dalam kesaksiannya, Syarifuddin mengatakan kejadian 12 September 1984 berawal dari penculikan empat temannya. Mereka diculik karena dianggap memimpin massa untuk memprotes anggota Komando Rayon Militer yang masuk masjid tanpa mencopot sepatu serta menyiram dinding masjid dengan air selokan. Dua hari kemudian dalam ceramah yang dihadiri lebih dari 4.000 jemaah, Syarifuddin dan beberapa ulama melayangkan protes atas penculikan tersebut. Menurut Syarifuddin, usai acara itulah massa bergerak ke arah Markas Komando Distrik Militer dan Kepolisian Resor Jakarta Utara. Tapi para mubaliq tak ikut dalam rombongan tersebut. Belum lagi massa sampai di Polres Jakut, Syarifuddin mengaku, mendengar tembakan beruntun. Kemudian dia dan para mubalig lainnya menyelematkan diri serta menginap di rumah warga. Syarifuddin menambahkan, dirinya ditangkap beberapa bulan kemudian setelah aksi massa itu dan dipenjara pada 1986. Setelah dibebaskan, dia mengaku ikut memprakarsai berdirinya Solidaritas Nasional atas Peristiwa Tanjung Priok (Sontak). Lembaga ini kemudian melakukan investigasi dan menemukan sejumlah data mengenai peristiwa tersebut.

2 Satu data penting yang didapat Sontak di antaranya mengenai pembuangan mayat korban Tanjungpriok ke Pulau Seribu dan Pulau Ular. Data diperoleh lewat surat yang dikirim seorang penerbang helikopter dari TNI Angkatan Darat. Sang pilot mengatakan, pada malam setelah peristiwa Tanjungpriok dia mendapat instruksi pimpinan untuk menerbangkan mayat korban Tanjungpriok ke pulau itu.(ICH/Caecilia Susanti dan Dwi Guntoro) ABDI BANGSA YANG TAK PERLU Terdakwa kasus Priok dihukum. Beredar dalam banyak versi. Tragedi yang tak perlu. Hanya mengemban tugas negara. Wajahnya langsung tertunduk. Keringat menetes satu-satu di keningnya. "Yaa...secara pribadi saya kecewa, karena fakta sesungguhnya tidak begitu," kata Mayjen TNI (Purn) Rudolf Adolf Butar-Butar, yang tak berhasil menutupi kekecewaannya. Apa daya, palu sudah diketukkan di atas meja hijau Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu. Rudolf dihukum 10 tahun penjara. Sidang yang mengadili Rudolf, diketuai Cicut Sutiarso (hakim karir) dengan anggota Ridwan Mansyur (hakim karir), serta tiga hakim ad hoc Komariah Emong , Winarno Yudo , dan Kabul Supriadi. Majelis Hakim berpendapat terdakwa selaku Komandan Kodin 0502 Jakarta Utara terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar UU No 26 tahun 2000 tentang tindak pidana pelanggaran HAM berat dalam kasus Tanjung Priok, 12 September 1984. Seharusnya, sebagai Dandim 0502, Rudolf punya kuasa menghentikan peristiwa berdarah yang menewaskan 32 orang itu. Sebagai komandan Kodim yang sekaligus juga Dan Subgar serta Komandan Pasukan Pengamaman Wilayah, terdakwa memiliki kewenanagan efektif untuk mengendalikan pasukan di Kodim 0502 Jakarta Utara maupun pasukan lain yang di BKO-kan. Tapi, Rudolf berdalih. “Apa yang saya lakukan waktu itu, saya abdikan diri saya ke pada bangsa ini," katanya Rudolf Butar-Butar memang tak pernah menduga bila 20 tahun kemudian, pengabdiannya itu berbuah perkara. Ia harus duduk di kursi pesakitan dan menjadi tersangka pertama dalam kasus Priok yang dihukum. Sembilan belas tahun lalu, Butar-butar tak akan menyangka bisa duduk di depan jejeran hakim ini. Ada berbagai versi mengenai peristiwa ini. Ada versi resmi pemerintahan orde baru, versi intern Aparat Pemerintahan Orde Baru, versi lembaran putih yang ditandatangani oleh 22 orang tokoh terkait, dll. Tapi dari semua versi yang beredar, ada satu kesamaan. Yaitu peristiwa 12 September 1984 itu dipicu oleh ulah sersan Hermanu (Babinsa setempat) lalu terpancing dengan ceramah Amir Biki. Selain itu, semua versi ini punya benang merah: sebuah tragedy yang tak perlu. Masa itu, memang pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan politik. Diantaranya menerapkan azas tunggal Pancasila.

3 Demi kebijakan itu, pelajar putri dilarang menggunakan jilbab. Perintah ini diprotes keras oleh kelompok jamaah pengajian di sekitar kelurahan Koja, Jakarta Utara. Sejumlah tokoh juga mendokung penolakan ini. Diantaranya Abdul Qadir Jaelani, Sarifin Maloko, Yayan Hendrayana, Salim Qadar, dll. Rentetan peristiwa yang mengarah pada tragedy berdarah itupun dimulai. Pada Jumat, 7 September 1984, sekitar pukul 16.00 WIB, Sertu Hermanu, anggota Babinsa Kelurahan Koja Selatan melakukan patroli rutin. Seseorang melaporkan bahwa di Musholla As’Saadah, ada beberapa pamflet tertempel. Isinya menghina keputusan pemerintah dan menghasut masyarakat sekitar agar menolak keputusan tersebut. Hermanu kemudian mendatangi pengurus Mushollah, Ahmad Sahi agar melepas seluruh pamflet itu. Lalu Hermanu kembali berkeliling. Besoknya, Hermanu dating lagi ke Mushollah itu. Pamflet masih terpasang. Diapun mencabuti sendiri pamflet-pamflet tersebut. Tersiar kabar, Hermanu masuk ke Mushollah tanpa membuka Kabarnya juga, Hermanu menggunakan air got untuk membersihkan Rumor ini merembes cepat. Warga setempat terpancing emosinya. meminta Hermanu meminta maaf. Mereka juga melaporkan kasus ini muslim setempat, Amir Biki. sepatu. pamflet. Mereka ketokoh

Senin 10 September 1984, pagi, Hermanu datang mengendarai motor ke kantor RW 05 Kelurahan Koja. Warga pun rame-rame ke kantor RW 05. Merasakan gelagat yang tidak baik, Hermanu melarikan diri. Warga yang kecewa lantas membakar motor Hermanu. Sehari setelah peristiwa pembakaran itu, Ahmad sani, Sofyan Sulaiman, Syarifuddin Rambe dan M. Nur ditangkap oleh anggota Kodim 0502. Mendengar penangkapan ini, Amir Biki mendatangi Kolonel Sampurno selaku Asisten Intel Kodam V Jaya. Amir meminta agar keempat warga tersebut dibebaskan. Usahanya gagal. Pada 12 September, hujan turun sangat deras dan baru berhenti pada jam 19.00. Pada pukul 20.00 malam, diselenggarakan Tabligh akbar di jalan Sindang, Koja Selatan, Tanjung Priok. Diperkirakan, tiga ribu orang hadir dalam acara tersebut. Amir Biki tampil sebagai penceramah. Dalam ceramahnya kembali Amir menyerukan agar warga yang ditahan segera dilepaskan. “Jika tidak, Tanjung Priok akan banjir darah,” kata Amir dalam ceramah itu. Tak lupa pula, Amir memperlihatkan sebilah badik sambil berteriak lantang: “lebih baik mati saudara-saudara. Saya rela mati membela Islam !”. Lalu badik itu kemudian ditancapkan ke podium. Terdengar gemuruh Allahu Akbar saling bersahutan. Usai ceramah, peserta tabligh akbar yang dipimpin Amir ini berjalan kaki menuju Makodim, tempat teman mereka ditahan. Kapten Sriyanto –sekarang Mayjen Sriyanto-- yang mengetahui hal ini segera melapor ke atasannya, Dandim Letkol (inf) RA Butar-Butar. Saat itu, Butarbutar sedang berada dilapangan tennis PPL Pluit.

4 Menyadari kemungkinan adanya kerusuhan, Butar-butar memerintahkan Sriyanto untuk berkoordinasi dan meminta bantuan pasukan pada Yon Arhanudse-6 Tanjung Priok. Pasukan ini pun dikirim ke Makodim untuk di BKO-kan. Sebanyak satu peleton terdiri dari 40 personel masing-masing dilengkapi senjata semi otomatis SKS dan bayonet pun siaga ditempat. Butar-Butar kemudian juga menyusul di Makodim. Untuk menghadang massa, pasukan dibagi tiga regu. Regu I untuk menjaga didaerah Pertamina, Plumpang. Regu II menjaga Makodim dan Regu III dipimpin Sriyanto menghadang massa yang sedang menuju Makodim. Sekitar pukul 22.30, iring-iringan massa dalam jumlah ribuan orang itupun tiba di jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok. Mereka langsung dihadang oleh 13 orang serdadu dibawah pimpinan Sriyanto dengan komandan regu Serda Sutisno Masoung. Upaya dialog pun buntu. Pasalnya, kedua belah pihak sudah panas. Dalam kesaksiannya, Sriyanto mengatakan, “Kalau saya tidak lincahlincah, saya pun akan tewas”. Bentrokan memang tak dapat dihindari. Pasukan dengan senjata otomatis melawan massa dengan senjata tajamnya. Suasana kacau. Tiba-tiba Sutisno Masoung menjejalkan pelurunya kearah kerumunan massa. Tembakan ini kemudian terdengar berentetan. Anggota pasukan yang lain meniru tindakan Sutisno. Massa berhamburan menyelamatkan diri. Diantara kekacauan itu, situasi makin tak terkendali. Toh tak ada seruan untuk menghentikan pertikaian. 32 orang sudah terlanjur bersimbah darah. Amir Biki termasuk yang terkapar di jalan. Jadilah malam itu jalan Yos Sudarso kebanjiran darah. Kejadian 19 tahun itulah yang menyebabkan RA Butar-Butar harus ‘nongkrong’ di penjara selama 10 tahun. Butarbutar dinilai tak becus memimpin anak buahnya. Namun, terdakwa dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan jaksa dalam dakwaan ketiga. Selain menjatuhkan pidana penjara 10 tahun Majelis juga memberikan putusan untuk memberikan kompensasi kepada para korban peristiwa Tanjung Priok tersebut. Dalam pertimbangan hukumnya, Majelis menilai unsur-unsur yang didakwakan jaksa kepada terdakwa terbukti berdasarkan fakta persidangan dan keterangan para saksi. Sebagai komandan, terdakwa dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindak para anak buahnya yang melakukan pelanggaran HAM dan pada saat peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 itu. ASMAYANI KUSRINI

Sidang Kasus Tanjung Priok Mayjen Sriyanto Diadili
Jakarta, Sinar Harapan Sidang pertama kasus dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat Tanjung Priok dengan terdakwa mantan Kasi Ops II Kodim 0502 Jakarta Utara, Mayjen TNI Sriyanto, yang kini menjabat Danjen Kopassus, digelar Kamis (23/10) pagi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pada saat peristiwa terjadi, terdakwa masih berpangkat kapten. Dalam sidang yang diketuai Herman Heler Hutapea kali ini agendanya adalah pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ad-Hoc Darmono. Sidang berlangsung sejak pukul 09.30 WIB sampai 10.30 WIB. Dalam dakwaannya, jaksa menyatakan terdakwa diduga telah melakukan pelanggaran HAM berat berupa kejahatan kemanusiaan pada tanggal 12 September 1984. Kejahatan kemanusiaan itu berupa pembunuhan, percobaan pembunuhan, dan penganiayaan. Sesuai dengan Undang-undang No. 26 tahun 2000, ancaman hukuman maksimalnya adalah mati. Terdakwa diduga telah melakukan pembiaran terhadap anak buahnya yang dapat dianggap melakukan pelanggaran HAM berat yang mengakibatkan 64 korban yang terdiri atas 14 orang meninggal dunia dan 11 luka tembak, sisanya luka-luka. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu tanggal 12 September 1984 sekitar pukul 23.00 WIB di Jalan Yos Sudarso atau tepatnya di depan Polres Jakarta Utara. Pasukan Arhanudse VI yang oleh terdakwa telah diserahkan ke Polres Jakarta Utara untuk membantu keamanan dianggap telah melakukan pelanggaran HAM berat. Tindakan itu diduga sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas dan sistematik. Tindakan itu juga diketahui sebagai serangan yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. Dakwaan Subsider Sedangkan dalam dakwaan subsidernya terdakwa diduga melakukan penganiayaan terhadap sekelompok orang tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis lain atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. Dalam dakwaan disebutkan bahwa pada tanggal 7 September 1984 Sertu Hermanu, Babinsa Kodim Jakarta Utara mengetahui adanya poster yang ditempel di mushala Koja, Jakarta Utara. Isi dari poster itu menghasut dan menghujat pemerintah, TNI dan Polri. Melihat poster itu, Sertu Hermanu meminta kepada umat agar melepasnya. Namun permintaan Sertu Hermanu ditolak oleh jamaah. Sertu Hermanu juga memberikan ultimatum agar melepas poster itu sampai tanggal 8 September 1984. Namun pada saat batas terakhir yang telah ditentukan poster di mushola itu tidak juga diturunkan sehingga Sertu Hermanu melepasnya. Perbuatan Sertu Hermanu menimbulkan isu bahwa dia melepas poster tersebut dengan memakai sepatu. Sehingga diharapkan meminta maaf kepada remaja masjid dan seluruh umat. Para remaja tersebut oleh saksi Ahmad Sahi diberi pengertian supaya tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Namun hal itu sama sekali tidak dihiraukan. Selanjutnya pada tanggal 8 September Ahmad Sahi melaporkan hasil pertemuannya dengan remaja mushola Assadah ke Imam Amir Biki. Dalam pembicaraan itu Amir Biki menyatakan bahwa perkara itu hanya perkara kecil sehingga tidak perlu dibesar-besarkan.

2 Selanjutnya pada tanggal 9 September Ahmad Sahi mengumpulkan jemaat untuk tidak melanggar hukum. Namun pada tanggal 10 September massa yang sudah marah tersebut mendatangi kantor Koramil Koja Jakarta Utara karena di tempat itu ada Sertu Hermanu. Massa yang marah lantas membakar motor dan Sertu Hermanu diminta menyerahkan diri. Atas peristiwa itu Ahmad Sahi dan tiga orang lainnya ditahan di Kodim 0502. Melihat Ahmad Sahi ditahan, Amir Biki lantas menghubungi Asintel Kodam Jaya Kolonel Sampoerno. Bahkan Amir Biki juga meminta agar Pangdam Jaya Mayjen Try Sutrisno mengeluarkan empat orang yang ditahan di Kodim 0502. Namun permintaan itu tidak pernah dikabulkan. Sehingga Amir Biki mengeluarkan ultimatum di depan 3.000 peserta yang mengikuti pengajian untuk mengambil tindakan apabila pada pukul 23.00 WIB tanggal 12 September 1984 keempat orang tersebut tidak dikeluarkan. Amir Biki juga telah membicarakan hal itu kepada terdakwa dan terdakwa menanyakan jalan keluar supaya tidak terjadi kekerasan. Menanggapi dakwaan tersebut terdakwa mengaku keberatan. “Saya mengerti atas dakwaan yang didakwakan kepada saya, namun saya keberatan dan saya mohon agar diberi kesempatan menyatakan keberatan melalui penasihat hukum saya,” ujarnya. Ruangan sidang dipenuhi anggota Kopassus yang merupakan anak buah terdakwa. Bahkan ruangan sidang tidak mencukupi lagi untuk menampung mereka. Jumlah pasukan khusus yang menyaksikan jalannya sidang ratusan orang. Ketika persidangan selesai, dengan kompak mereka meneriakkan salam komando kepada terdakwa. Sidang rencananya dilanjutkan pada hari Kamis (30/10) dengan agenda pembacaan eksepsi dari penasihat hukum terdakwa. (ina)

YANG BENAR TENTANG TRAGEDI TANJUNG PRIOK
KESAKSIAN MEDIA MASSA Persidangan kasus HR. Dharsono Tragedi berdarah di Priok Seorang saksi kasus Tanjung Priok, yg mengadili terdakwa HR. Dharsono, dihadapkan ke meja hijau. Menjawab pertanyaan hakim, saksi menjelaskan : "Ketika saya diperiksa dijalanan, saya ditanya : mengapa ikut meneken lembaran putih?" Lalu saya balik bertanya: "Dimanakah rumah anda?" Kalau didepan rumah anda angjing-anjing ditembak pasti anda bertanya-tanya : Ada apa gerangan? Sekarang anda bertanya, mengapa saya ikut menandatangani lembaran putih? Karena manusia ditembak seperti menembak anjing!" "Apakah isi lembaran putih?" Hakim ketua bertanya. "Sebagian dari isinya merupakan pengungkapan kembali apa yg dirasakan oleh masyarakat. Sebab, rakyat tidak mampu mengubah keadaan melalui cara-cara demokratis, jawab saksi tegas. "Itu yg dikatakan oleh hakim, tidak oleh saya!" Ini kesaksian Ir. Slamet Bratanata bekas Menteri Perindustrian di zaman orde lama. Sidang berikutnya, menghadirkan Ali Sadikin mantan gubernur DKI sbg saksi ad de charge. Pertanyaan hakim masih diseputar pertemuan, 15 September 1985 dirumahnya yg kemudian melahirkan lembaran putih."Itu merupakan kesimpulan pertama, dan sifatnya spontanitas," ujar saksi. Tentang Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonsultasi dan Petisi 50, saksi menjelaskan : "Kelompok tsb hanya ingin mengingatkan pemerintah pd janji-janji orde baru : tetap konsekuen pd UUD45 dan Pancasila. Terlibatnya Dharsono dlm lembaran putih, menurut Bang Ali, itu "Karena semangat perjuangan yg sama-sama kita rasakan, dan adanya keinginan utk menyumbangkan sesuatu". Pernyataan bersama tsb dimaksudkan sbg seruan kepada pemerintah, sebagai surat terbuka, dan imbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yg simpang siur". Ketika tim pembela bertanya: "Apakah kiranya seorang gubernur, misalnya, akan punya cukup waktu utk menangani peristiwa Piok tanpa kekerasan?" "Cukup!" saksi menjawab tangkas. Bukankah ada walikota, ada Kodim sebelum sampai ke tingkat gubernur? Selanjutnya dikatakan: "Ada teknik anti huru hara, tapi tak digunakan. Kita harus meniru markas huru hara tanpa menjatuhkan korban", katanya. "Saya ini jenderal yg langsung jadi komandan dan pernah melatih anti huru hara di KKO. Yg mengajarkan bagaimana menahan gejolak tanpa tembakan. Tapi cara ini tidak dipakai...". ungkap saksi. Salah seorang pelaku peristiwa Tanjung Priok dihadapkan sbg saksi. Lelaki muda, 21, menuturkan pengalamannya, Rabu 12 September 1984 itu. "Saya mendengar ceramah Amir Biki, mengikuti massa yg bergerak ke Kodim utk membebaskan empat orang yg ditahan, dan akhirnya menjadi orang yg berada dibarisan terdepan. Lantas kami berhadapan dg petugas bersenjata, dan saya tersungkur oleh empat butir peluru. Sesudah itu diangkut dg sebuah truk, dirawat di selama RSPAD 36 hari tanpa boleh berkomunikasi. Di rumah sakit itu saya mengenali 67 orang rekan-rekan saya yg tergabung dlm barisan massa tadi. Dan pd malam itu ada tiga buah truk yg penuh oleh muatan para korban", demikian saksi.

2 Menjawab pertanyaan pembela, ia menyatakan: "Tidak ada massa yg menyerang petugas, tidak ada tembakan peringatan. Tembakan diarahkan ke massa yg paling depan." Atas keterangan ini, Bob Nasution --jaksa penuntut umum—mencurigai saksi sebagai telah "dibina" oleh tim pembela. Tetapi terdakwa, HR. Dharsono memberikan tanggapan: "Agar sidang tidak hanya terpaku pada keterangan resmi yg disampaikan Pangab Beny Murdani, yg sebenarnya tidak berdasarkan fakta (Menurut keterangan resmi, korban yg tewas hanya 6 orang). Saksi berikutnya, pemuda 20 tahun, pedagang pakaian di kaki lima, didepan Bioskop Permai Tanjung Priok. Ia menuturkan pengalamannya dimalam yg rusuh itu. "Ketika peristiwa terjadi, saya dalam perjalanan pulang sambil, menarik gerobak dagangan untuk disimpan di gudang, di Simpang Rawa Badak. Saya melihat massa bergerak menuju jalan by pass. Di jalan Sindang saya lihat seseorang tergeletak berlumur darah. Dari jauh terdengar suara tembakan. Massa berhenti ditengah jalan. Saya cepat-cepat masuk gudang, tidur. Pukul 02.00 saya terbangun karena lapar. Disitu ada warung, sekitar 200 meter dari gudang. Suasana sunyi. Sehabis makan, dua orang petugas datang, mengajak pergi dan mengancam akan menusuknya. Sayapun ikut. Sekitar 10 m dari warung, saya tersandung lubang yg tergenang air hujan. Saya terjatuh, lantas kaki saya ditembak, kemudian diseret dan ditinggalkan. Orang yg lewat mengantarku kembali ke gudang. Esok harinya, saya dibawa keluarga ke rumah sakit terdekat, tapi malah dianjurkan ke RSPAD. Disana, saya ditolak. Lalu ke RSCM, mendapat pertolongan pertama. Sebuah jip kemudian datang menjemput dan saya dibawa ke RSPAD. Disitu ya di rumah sakit itu, kaki kanan saya diamputasi sebatas lutut, dan diganti kaki palsu. Tiga setengah bulan dirawat disana, tanpa boleh berkomunikasi dg orang lain. Keluar dari sana, saya ditahan di Guntur, diperiksa 10 hari. Kemudian dibawa ke Cimanggis, ditahan satu malam. Besoknya dibawa ke Kodim Jakarta Utara bersama tiga puluh orang lainnya, disuruh mengisi formulir riwayat hidup, diberi pengarahan, diberi uang Rp 500 dan disuruh pulang. "Tidak menuntut pemerintah?", tanya pembela. "Bagaimana caranya?", sahutnya. Ia pun cacat seumur hidup akibat kebiadaban militer yg haus darah ! Jaksa penuntut umum mengadukan saksi yg memberatkan (a charge), Kapten Sriyanto. Ia adalah Asisten II Kodim Jakarta Utara, Kepala Seksi Operasi. Dialah yg memimpin pasukannya menghadapi massa yg bergerak menuju Kantor Polres. Dalam sidang, ia memberikan kesaksiannya sesuai dg permintaan jaksa. "Pada Rabu malam yg rusuh itu, pukul 22.00, saya menerima telepon yg bernada ancaman dari seseorang yg bernama Amir Biki. Penelpon minta agar pihak Kodim membantu membebaskan 4 orang yg ditahan Polres. Jika tidak, Cina-cina di Koja akan dibunuh dan dibakar, kata penelepon. Saya lapor pd atasan, Dandim Letkol R. Butarbutar.

3 "Siapkan satu peleton pasukan dan kewaspadaaan ditingkatkan", perintah Dandim setelah mendengar laporan itu. Sejam kemudian datang lagi telepon serupa, dg ancaman, jika tahanan tidak dibebaskan, akan dibikin perhitungan dg Polres dan Kodim. Pasukan yg sudah siap, kemudian dipecah tiga. "Saya memipin pasukan bergerak ke Polres, 12 orang, utk membendung massa yg sedang bergerak", tuturnya. Massa pd malam itu berjumlah 500-4000 orang. "Situasi semacam itu disebut apa?", tanya pembela. "Terserah, apa namanya. Saya tidak mendalami teori silakan tanyakan pd saksi ahli", elaknya. Keterangan dilanjutkan. "Saya memimpin pasukan utk mengamankan Polres, membentuk blokade, maju kedepan massa, mencari Amir Biki. Massa ternyata tak mau diajak kompromi", tuturnya. "Saya dilempari batu, dan nyaris kena clurit. Saya mundur kembali ke pasukan, dan lapangan memaksa kami menggunakan senjata". Setelah tembakan peringatan, peluru langsung diarahkan kebawah, ke kaki massa. Dalih Sriyanto : Kalau mundur Polres akan kebobolan dan juga gedung Pertamina yg ada di dekat situ. Tapi, katanya lagi "Tak ada niat saya utk membunuh". "Kenapa tak digunakan gas air mata, atau pemadam kebakaran, dan utk apa disiapkan panser satu peleton?" tanya pembela Adnan Buyung Nasution. "Brand Weer sudah siap di markas, gas air mata tidak sempat disiapkan, panser bermitraliyur kaliber 12,7 sebanyak 16 buah, hanya utk memberikan bantuan. Tapi senjata-senjata itu tidak dipakai, minta dicatat, Pak !", kata saksi. "Bagaimana mungkin tak sempat? Peristiwanya dimulai 7 September, apakah sebelumnya tidak ada briefing dari komanda saudara?" "Saya lupa ada briefing atau tidak. Saya keberatan ditanya soal sebelum tgl 12 September. Karena saya tidak tahu persis, hanya dengar-dengar." "Kalau menghadapi rakyat, seharusnya kan polisi yg maju, bukan tentara. Kenapa tidak diserahkan pd Polres saja?", pembela terus mengejar. "Tidak sempat koordinasi dg polisi. Massa sudah berada didepan gereja dekat Polres", kata saksi. "Apakah polisi tidak bergerak?" "Saya tidak tahu. Saya konsentrasi ke depan, bukan kesamping". Menjawab pertanyaan pembela berikutnya, saksi menyatakan : Korban tambahan ada 9 orang, yg kemudian diangkut dg pick up, setelah massa bubar satu per satu. Tetapi massa kemudian muncul lagi, sesudah pasukan mendapat bala bantuan. Peluru berdesingan lagi. Korban berjatuhan lagi, menjadi 31 orang, dinaikkan ke dalam truktruk diangkut ke RSPAD. "Ada yg mati, tapi tidak semuanya", ujar saksi. "Kemudian saya dengar, di Polres ada tembakan, di Koja ada kebakaran. Keterangan Sriyanto lalu dikonfrontir dg keterangan saksi Yusron. "Ketika massa berhadapan dg tentara beberapa meter, massa berhenti dan duduk. Kemudian seseorang maju membuat gerakan silat. Dia ditembak dan saya maju", ungkap Yusron. Saksi Sriyanto tersenyum.

4 Saksi Letkol R. Butarbutar, Komandan Kodim Jakarta Utara. Ia memberi kesaksian sbb "Peristiwa 12 September di jalan Yos Sudarso itu, katanya berawal dari isu bohong mengenai adanya anggota Babinsa yg pd Sabtu, 8 September. Memasuki masjid utk mencopoti pamflet bernada SARA dan menghasut --sebenarnya pamflet wanita berjilbab dan anjuran mengenakannya--setelah membasahinya dg air", demikian menurut saksi. Keesokan harinya sepeda motor Babinsa tadi, dibakar oleh beberapa pengacau. Empat orang lantas ditahan. Massa yg mengikuti pengajian di jalan Sindang, 12 September malam, diajak Amir Biki utk menyerbu Polres dan Kodim. Sehingga, kami lalu meminta bantuan satu peleton pasukan Arhanud (Artileri Pertahanan Udara). Jumlah korban yg jatuh, setelah dilakukan inventarisasi 2 hari sesudah kejadian, menjadi 53 orang yg mati dan luka-luka --belum termasuk mereka yg tidak melapor. Terdakwa HR. Dharsono mempersoalkan laporan mengenai jumlah korban yg simpang siur. "Inilah yg ingin disampaikan lembaran putih itu!" katanya tegas. "Apakah tidak ada waktu utk mengetahui berapa persisnya, dimana dikuburkannya...? Seakan-akan harga nyawa rakyat begitu murah!" "Apakah soal jumlah korban perlu dirahasiakan?" tanyanya. "Ini kan rakyat kita sendiri yg jadi korban. Ini kejam ! Tambahnya dengan suara lantang. Ia lalu mempertanyakan : Mengapa utk menghadapi massa dikerahkan satuan Arhanud, yg hanya cocok utk berperang? Pembela sekali lagi mempertanyakan peranan polisi, yg semestinya turun lebih dahulu menghadapi kasus semacam itu. "Waktunya terlalu singkat, sehingga tak sempat memikirkan cara penanganan huru hara yg biasa, sementara serangan massa tak terduga-duga", saksi berdalih. Ia pun mengaku tidak punya kesempatan utk berunding dg polisi. "Yg saya tahu polisi waktu itu, mengadakan pengamanan kedalam kantornya", katanya. Sidang kemudian menghadapkan saksi ahli (psikologi sosial), Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Ia menilai lembaran putih merupakan kritik yg memberikan alternatif: Merangsang atau tidak tergantung penerimanya", katanya. Sarlito dlm menjawab pertanyaan Jaksa dan Hakim, hampir selalu menggunakan kalimat: "Bisa ya, bisa tidak!" "Apakah melakukan penahanan dsb nya, dlm situasi rakyat sedang marah, termasuk usaha persuasif?" tanya pembela kemudian. "Kalau masih dilakukan dg aturan hukum, itu persuasif", jawabnya. "Justru tindakan itu tidak menurut hukum..." "Kalau itu benar, reaksi masyarakat akan tambah emosional atau disertai tindakan", tambah Sarlito. "Sistem dinegara kita tertutup, seperti sistem Jawa. Apakah sistem ini juga harus digunakan secara nasional?", tanya pembela lagi. "Tidak menjadi panutan dan tidak boleh", sahut saksi.

5 "Kalau masyarakat ditekan, akan menjadi takut atau berani?" "Tergantung. Bisa jadi berani kalau ada peluang". Secara bergantian para pembela terus bertanya. "Apakah anjuran pada pemerintah agar membentuk satu tim pencari fakta, positif?" "Positif, ya. Tapi apakah itu bisa menghilangkan isu, belum tentu. Rakyat yg sudah terlanjur tidak percaya, tidak akan berubah", jawab Sarlito. "Lalu, mana yg lebih baik?" "Sebaiknya mencari kebenaran!" Hakim kemudian memulai pemeriksaan terdakwa. Dan meminta penegasan Dharsono mengenai seluruh tuduhan jaksa. Terdakwa kontan memberikan sanggahannya atas seluruh dakwaan. Hakim lalu bertanya mengenai "Petisi 50". Dharsono, walaupun bukan anggota, mengaku mengikuti terbitan-terbitan kelompok tsb sejak awal. "Kalau dibaca, petisi itu isinya hanya keprihatinan dan sekitar koreksi", kata Dharsono. Keprihatinan itu muncul setelah Presiden Soeharto mengucapkan pidato pd Rapim ABRI di Pekanbaru --yg tertulis dan yg tanpa teks, mengenai perubahan UUD oleh MPR. "Justru yg tanpa teks itu, mengenai itu, yg menjadikan keprihatinan kami", ujarnya. Selain itu mereka juga prihatin mengenai dijadikannya Pancasila sbg asas tunggal. "Pengasas-tunggalan Pancasila sudah menyimpang dari Pancasila itu sendiri, dan merupakan penyimpangan optimal pemerintah". Ia lalu melukiskan bangkitnya keresahan dikalangan masyarakat. Sementara DPR, katanya, hanya merupakan stempel dari segala kemauan pemerintah; dan pengangkatan anggota-anggotanya tidak melalui proses yg demokratis. "Hal yg sama juga teradapat pd Orla...", Dharsono membandingkan. Tapi hakim Ketua Ali Budiarto langsung memotongnya dg mengajukan pertanyaan lain. Dharsono jadi naik pitam. "Saya belum selesai bicara. Saya tidak mau dipotong. Ini berhubungan dg perkara saya", katanya keras. "Nanti saja dlm pembelaan saudara", tukas Budiarto. "Ini hak saya!" Dharsono tak mau mengalah. Ali Budiarto kemudian mengancam akan mengeluarkan terdakwa dari ruang sidang. Dharsono malah menantang : "Saya keluar, boleh.....!" Ia pun membenahi tasnya. Sebagian hadirin berdiri. Hakim Ali Budiarto, kemudian mengajukan pertanyaan mengenai penyimpanganpenyimpangan yg dilakukan pemerintah Orba, sebagaimana disebutkan dlm lembaran putih. Menurut Dharsono : Pengasas-tunggalan Pancasila dan sistem pemilihan anggota DPR/MPR selama ini tidak sesuai dg UUD 45. "Pancasila tidak bisa berjalan sendiri dan diasastunggalkan", ujarnya. Muatan Pancasila terletak pd pengakuannya akan kebhinekaan.

6 Mengenai DPR/MPR, yg anggota-anggotanya sebagian besar diangkat dan ditunjuk pemerintah, Dharsono menyebut kedua lembaga tsb sbg, "tidak konstitusional", mengingat proses pengangkatannya yg tidak mencerminkan demokrasi dari bawah. "Benarkah mereka mewakili rakyat?" tanyanya. Kecuali itu, sehubungan dg peristiwa Priok, para anggota parlemen itu dinilainya : tidak punya rasa peka dan rasa ingin tahu lebih banyak. Pertanyaan selanjutnya mengenai dwifungsi ABRI dan Fosko AD. Dlm pledoinya berjudul: MENAGIH JANJI ORBA, Dharsono antara lain mempertanyakan relevansi dari dwifungsi ABRI. "Dwifungsi harus dipahami secara kontekstual. Sebab ia bukanlah doktrin yg kaku dan mati, yg bisa diberlakukan sepanjang zaman, tanpa melihat ruang sejarah ketika rumusan-rumusan itu dicetuskan. Dg alasan apapun, tidaklah bisa dibenarkan wujud implementasi dwifungsi ABRI seperti yg ada sekarang ini", katanya tegas. Forum Studi Komunikasi (Fosko) AD, dimana Dharsono duduk sbg Sekjen. Forum tsb didirikan awal 1978, setelah kelihatan adanya perpecahan antara ABRI dg rakyat. Anggotanya terdiri eks-AD yg berbintang satu ke atas. Tujuannya utk membicarakan masalah-masalah sekitar ABRI, demikian menurut Dharsono. Jenderal Widodo ketika menjabat KASAD melihat Fosko sbg dapur politik, tak boleh lagi berada dibawah TNI-AD, dan tidak boleh menonjolkan diri. Lantas tatkala meminta kesempatan utk berdialog dg KASAD Rudini dan Soeharto, mereka tak diladeni. Fosko pun dibubarkan. Tiba giliran jaksa penuntut umum utk bertanya. "Bagaimana tanggapan terdakwa ttg pernyataan pemerintah yg disampaikan Pangab Beny Moerdani mengenai Peristiwa Priok, yg disiarkan TVRI pd 13 September 1984?" tanya Bob. "Melihat wajah kedua panglima pendampingnya saja, saya bisa menarik kesimpulan, bahwa pernyataan itu tidak sesuai dg keadaan sebenarnya." "Hanya dg melihat wajah mereka saja", sahut Dharsono tangkas (Yg dimaksud adalah Try Sutrisno dan Murdopo). Jaksa kemudian menegaskan kembali ucapan-ucapan Dharsono di rumah AM. Fatwa, yg tetap dibenarkan terdakwa. "Peristiwa Priok merupakan lembaran hitam dalam sejarah perjuangan bangsa, dikalangan pejabat tinggi tdpt perbedaan pendapat mengenai politik Orba, didalam tubuh ABRI terjadi kegoncangan, semua itu benar", ungkap Dharsono. (Dikutip dari majalah Jakarta-Jakarta) HABIS ---------------------------------------------------------------------------Semua kisah diatas merupakan kutipan yg telah diringkas dari sebagian isi buku yg berjudul "FAKTA: Diskriminasi Rezim Soeharto Tehadap Umat Islam". Diterjemahkan dari "Mihnatul Islam Fi Indonesia", Karya Tim Peduli Tapol, 1985 (Iddatu Askhas Amilu Li Hisab Tapol), Penerjemah Arab Ismail Shadiq.

Penerbit: Zahratif (Az-Zahro lil I'lami al-Arabi) 1989, P.O. Box 102 Madinat Nasr, Cairo, Mesir Edisi Indonesia: FAKTA: Diskriminasi Rezim Soeharto Tehadap Umat Islam (Dari Tanjung Priok, Usrah, sampai negara Islam), Penerbit WIHDAH PRESS, Penerjemah: Mohammad Thalib. Ed.: Irfan S. Awwas. Cetakan I, 16 Juli 1998; Cetakan II, 1 Agustus 1998; Cetakan III, 21 Agustus 1998

Galery Tragedi Tanjung Priok 1984

Lokasi Kejadian Tragedi Berdarah Priok. Musholah Assaadah tempat awal kejadian peristiwa Tanjung Priok di Jl. Lorong 4 Tanjung Priok, Jakarta. [TEMPO/ Ilham Sunharjo.

Massa merusak sebuah mobil dan melakukan corat-coret anti Cina, Suharto, LB Murdani di Kampung Sindang pada peristiwa Tanjung Priok, Jakarta Jumat 14 September 1984 [Fakhri Amrulah/ Dok. TEMPO; 35b/106/84; 2000/09/08].

Apotik Tanjung dan sebuah bengkel Mobil disebelahnya dibakar Massa

Apotik Tanjung dan sebuah bengkel Mobil disebelahnya dibakar Massa

Pengangkatan Mayat yang Tewas Terbakar di dalam Ruko Apotik Tanjung

Masyarakat SHolat 1 hari setelah Peristiwa Priok

Prosesi Pemakaman Amir Biki

LB Moerdani dan Tri Soetrisno sedang Memberikan keterangan Pers

Photo AMIR BIKI Penggalian Kuburan 2000

Tengkorak korban yang berhasil diangkat saat penggalian kuburan/ makam korban peristiwa Tanjung Priok di Pemakaman Umum wakaf Kramat Ganceng, Pondok Rangon, Jakarta Timur, 13 September 2000. [TEMPO/Rully Kesuma]. Dimuat majalah TEMPO 20020127

Tim Forensik dengan kaos bertuliskan segala hak asasi manusia untuk semua orang saat penggalian kuburan/ makam korban peristiwa Tanjung Priok di Pemakaman Umum wakaf Kramat Ganceng, Pondok Rangon Jakarta Timur, 13 September 2000. [TEMPO/Rully Kesuma] Dimuat majalah TEMPO

Tengkorak dan tulang korban peristiwa Tanjung Priok bernama Tukimin di Mengkok Sukapura, RSCM Jakarta 7 September 2000.[TEMPO/Awaluddin R; 31D/299/2000; 2000/11/18]. Dimuat majalah TEMPO

Beni Biki bersama Dewi Wardah/ istri Amir Biki berdoa di makam Amir Biki di Masjid Raya Al A'raaf saat KPP HAM peristiwa Tanjung Priok ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) / tapak tilas, Jakarta 24 Mei 2000. [TEMPO/Bernard Chaniago; 30D/015/2000; 2000/06/07].

Dari Kasus Peledakan BCA: Menyembunyikan Sanusi dan Abdul Qadir
Katagori : Oleh :

Untold Story / the X files Erros Jafar 17 Jan 2006 - 11:00 pm

Oleh Sitti Juanita Damaryati

Rachmat Basoeki Soeropranoto (RBS) adalah salah seorang tokoh di balik terjadinya kasus peledakan BCA yang terjadi 22 tahun lalu. Melalui materi pembelaan yang disusunnya –yang kemudian dibukukan tahun 2000– dapat disimpulkan bahwa peranan RBS tidak terlalu dominan. Ia bukanlah penyandang dana, bukan pula perencana, bukan perakit bom, bukan pula pelaksana lapangan. RBS nampaknya hanya salah menempatkan posisi, sehingga harus mendekam belasan tahun di LP Cipinang. Atau boleh jadi RBS sengaja “berkorban” untuk menyembunyikan peranan almarhum Ir. H.M. Sanusi (HMS) dan Abdul Qadir Djaelani (AQD), sahabatnya hingga kini. Insinyur Haji Muhammad Sanusi yang meninggal dunia pada Juli 2002, adalah mantan Menteri Perindustrian pada masa pemerintahan Orde Baru (1966-1968), dan salah seorang pendiri sebuah lembaga nir laba yang cukup dikenal masyarakat yaitu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tahun 1973, juga pendiri HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) tahun 1947. Motif yang melatar-belakangi terjadinya kasus peledakan BCA 4 Oktober 1984 adalah ketidak-adilan di berbagai bidang, terutama dominasi ekonomi oleh etnik Cina. Rakyat pribumi yang diwakili oleh RBS, AQD dan lain-lainnya sudah mengekpresikan perlawanannya itu setidaknya sejak 1978, ketika mereka terlibat dalam Gerakan 20 Maret 1978 yang diikuti oleh berbagai kalangan seperti GPI (Gerakan Pemuda Islam), mahasiswa dan sebagainya. Gerakan ini membawa AQD masuk bui selama beberapa tahun. Seusai menjalani hukuman, AQD merencanakan peledakan. Gagasan ini ia bawa ke Ir. H.M. Sanusi, yang kemudian memberi dukungan sejumlah dana (yang tidak signifikan) dan penentuan lokasi (yaitu gedung BCA). Materi bom dipesan oleh AQD dari Amir Wijaya (AW), seorang aktivis mahasiswa yang pada 1978 ikut terlibat Gerakan 20 Maret 1978 dan bersama-sama AQD maupun RBS mendekam di LP Cipinang. Jadi, gagasan awal peledakan BCA sudah dirumuskan jauh sebelum tragedi Tanjung Priok (12 September 1984) terjadi, oleh AQD, HMS dan AW. Ketika AW menyanggupi pesanan yang diajukan AQD, ia melibatkan kawan satu almamaternya yaitu M. Umar Alkatiri (MUA), yang selama ini selalu bekerja sama melakukan eksperimen membuat bahan peledak dari bahan kimia tertentu sejak awal 1980-an. Selama lebih dua dasawarsa keterlibatan AQD dan HMS pada kasus peledakan BCA tersimpan dengan rapat. Kini, rasanya hal itu sudah tidak relevan lagi untuk ditutuptutupi, karena toh tidak akan memberi dampak politik apa-apa bagi keduanya. Apalagi HMS sudah meninggal dunia. Secara moral, perbuatan menutup-nutupi itu sangatlah tidak bermoral, apalagi bila mengingat nasib mereka yang mau ikut melestarikan skenario ketidak-terlibatan AQD dan HMS adalah orang-orang kecil yang untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja sangat sulit, seperti keluarga almarhum Eddy Ramly, Chaerulsyah, dan sebagainya. Berbeda dengan HMS yang di masa tuanya tetap hidup sejahtera, mereka yang dulu

dijadikan pion adalah orang-orang miskin yang sejak sebelum masuk penjara memang sudah miskin dan tetap miskin hingga kini. Sedangkan AQD akibat reformasi bernasib lebih baik bisa menjadi anggota DPR RI dari PBB (Partai Bulan Bintang) melalui mekanisme penggantian antar waktu (menggantikan Yusril yang diangkat sebagai Menteri). Sementara itu, bagi rakyat yang sudah “berkorban” untuk mereka berdua, ada reformasi atau tidak, nasib mereka tidak juga berubah. RBS pernah terserang stroke ringan, sedangkan AW dua kali terkena stroke sehingga membuatnya sulit berjalan. Sebagai pelaksana di lapangan, ketika itu AQD menunjuk M. Tashrif Tuasikal (MTT) dan kawan-kawan. Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, keburu pecah tragedi Tanjung Priok (12 September 1984), yang menyebabkan AQD harus berurusan dengan aparat keamanan bahkan masuk tahanan. Bersamaan dengan itu sejumlah bahan peledak yang dipesan AQD sudah rampung dikerjakan AW-MUA. Karena AQD sudah berurusan dengan aparat, maka wewenang mengambil pesanan bahan peledak diberikan kepada MTT. RBS adalah sahabat AQD, jadi ia tahu persis adanya rencana peledakan itu. Namun ia tidak ditunjuk AQD sebagai koordinator. RBS hanya mengetahui adanya rencana itu, kemudian dipertegas oleh kedatangan MTT ke rumahnya menyampaikan gagasan peledakan, “…sahabat saya Muhammad Tashrif Tuasikal memberitahukan saya, bahwa dia punya proyek peledakan yang sasarannya BCA, spontan pula saya setuju… Bagaimana pun harus dibuat sesuatu sebagai protes terhadap tragedi 'Peristiwa Priok' untuk menyatakan kepada semua pihak, bahwa rakyat Indonesia tidak pernah akan tinggal diam kalau disakiti…” begitu kata RBS dalam pembelaannya. Rasanya memang terlalu berat bagi RBS yang harus menerima tuntutan hukuman mati (kemudian setelah banding/kasasi Hakim memutuskan vonis 17 tahun), karena peranan yang ia ambil sangat tidak dominan, artinya peristiwa peledakan itu akan tetap terjadi tanpa ia setujui sekalipun. Namun, “pengorbanan” RBS dan kawan-kawan memang tidak sia-sia. Buktinya, AQD bisa menduduki kursi legislatif: sesuatu yang mustahil pada masa Orde Baru. Juga, berkat “pengorbanan” itu pulalah negara merehabilitir HMS, bahkan oleh Presiden Habibie kala itu HMS dianugerahi Bintang Mahaputera. Meski banyak menggugat dan mengecam perilaku negatif para hoakiau (cina perantauan) yang berkolusi dengan penguasa Orde Baru, namun RBS mengaku bukan seorang rasialis. “Sebagai penganut Islam, tidak mungkin saya menjadi rasialis. Saya tidak menentang ras-nya, yang saya tentang adalah ketidak-adilan yang saya perkirakan muncul dari kelompok ras itu…” Berarti yang menjadi faktor pendorong terjadinya peledakan BCA 1984, adalah ketidak-adilan, bukan sikap anti Cina. Sedangkan tragedi Tanjung Priok Berdarah hanya merupakan trigger factor semata. Tanpa ada kasus Priok pun, peledakan BCA tetap akan terjadi. Karena hal itu merupakan bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa kala itu, dan terhadap adanya dominasi ekonomi oleh kalangan tertentu (etnis Cina). Bagian menarik dari kasus ini adalah, mengapa hingga kini para pion itu masih setia mengikuti skenario tentang ketidak-terlibatan AQD dan HMS pada kasus peledakan BCA 1984 dua puluh dua tahun lalu? Pertanyaan lainnya adalah, mengapa AQD ditangkap untuk kasus Priok padahal ia tidak ikut berceramah bersama-sama Amir

Biki pada malam 12 September 1984 itu? Menurut sebuah sumber, AQD sebenarnya tidak hanya merencanakan kasus peledakan BCA, juga menjadi pemrakarsa pengajian di jalan Sindang Raya pada malam 12 September 1984 itu. Namun sebagai pemrakarsa ia tidak naik mimbar, sebagaimana dilakukan Amir Biki dan lain-lainnya. Dengan demikian, kematian ratusan ummat Islam di Priok kala itu, tidak hanya merupakan tanggung jawab Soeharto, Benny Moerdani dan Try Soetrisno, tetapi juga merupakan tanggung jawab AQD sebagai pemrakarsa pengajian malam nahas itu. Bila pengajian di jalan Sindang Raya itu tidak memanas-manasi jamaah, niscaya tragedi berdarah di Tanjung Priok bisa dicegah. Ratusan generasi muda Islam yang tidak berdosa tidak mati sia-sia diterjang peluru aparat. Setelah ditangkap aparat untuk kasus Priok, rencana peledakan BCA ternyata tidak surut. Ketika itu AQD menugasi MTT mengambil pesanan bahan peledak yang dirakit oleh AW-MUA, sekaligus menugasinya menjadi koordinator lapangan peledakan BCA 4 Oktober 1984. Maka terjadilah kasus peledakan itu, yang menewaskan dua orang, dan menyebabkan beberapa orang tak berdosa masuk penjara hanya karena namanya dikait-kaitkan. Dalam kasus peledakan ini, kepada HMS dan AQD tidak cukup bila hanya dituntut untuk bertanggung jawab secara moral, sebab telah jatuh sejumlah korban tak berdosa akibat kasus peledakan BCA kala itu. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Mengenang Kasus Tanjung Priok
Oleh : Redaksi 24 Jan, 08 - 4:40 am

Oleh Tontowy Djauhari Hamzah

Sersan Satu (purnawirawan) Hermanu –kini almarhum– pernah dituding sebagai “tentara Kristen yang memasuki Mushalla tanpa membuka sepatu”, sekitar 24 tahun lalu pada kasus Tanjung Priok yang terjadi 12 September 1984. Kenyataannya, Hermanu beragama Islam sejak lahir. Meskipun Hermanu katakanlah tergolong penganut Islam yang pengetahuannya lebih sering berada di bawah garis minimal –begitu juga dengan keaktifannya dalam melaksanakan ibadah pokok seperti shalat– namun siapa yang berhak mengatakan Hermanu bukan Islam? Dengan kualitas keislaman yang apa adanya, Hermanu tetaplah Islam. Bagi Hermanu ketika itu, ketika ia membaca pamflet yang mengumumkan acara pengajian remaja di dinding mushalla, dan imbauan agar setiap wanita Muslim mengenakan jilbab –padahal sikap “tak tertulis” pemerintah ketika itu adalah mencurigai jilbab dan aktivitas keagamaan (Islam)– maka yang pertama muncul dari dalam dirinya bukanlah keberpihakan kepada agamanya (Islam), tetapi keberpihakan kepada sikap “tak tertulis” pemerintah dan ABRI kala itu. Maka bisa dimengerti, bila Hermanu kemudian berinisiatif melumuri seruan itu dengan air comberan –atau katakanlah dengan siraman air yang mengalir dari tempat wudhu.

Bisa dimengerti pula bila Hermanu tegopoh-gopoh memasuki Mushalla tanpa membuka sepatu –atau katakanlah sudah membuka sepatu dan hanya mengenakan kaus kaki– untuk memberikan peringatan kepada pengurus dan jamaah Mushalla tentang keberadaan pamflet yang bertentangan dengan sikap “tak tertulis” pemerintah dan ABRI. Karena, Hermanu adalah prajurit saptamargais yang setia. Maka bisa dimengerti pula, bila Hermanu kemudian mengacung-acungkan pistolnya ketika ia masih melihat sejumlah pamflet masih juga menempel di dinding mushalla. Sebab, Hermanu meski beragama Islam sejak lahir, ia tidak mempunyai keberpihakan yang memadai terhadap agamanya. Tentu saja Hermanu sebagai babinsa merasa lebih punya power dibanding Ahmad Sahi, meskipun Ahmad Sahi adalah “tuan rumah” (pengurus Mushalla) yang pekarangannya dimasuki Hermanu. Hermanu tentu lebih mudah mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari institusi ABRI ketimbang “institusi” Islam. Ia tentu lebih merasakan bahwa ABRI adalah bagian dari dirinya, bagian dari jiwanya, bagian dari kesehariannya. Sedangkan Islam, bagi Hermanu mungkin sekedar sebuah status yang ditegaskannya kembali ketika ia dan keluarganya –misalnya– shalat Idul Fitri atau pulang kampung pada masa Lebaran. Jadi, meski Hermanu beragama Islam sejak lahir, boleh jadi ia tetap merasa asing dan bahkan merasa jauh dari Islam. Kalau saja kondisi keislaman Hermanu yang cuma sebegitu itu dipahami oleh tokoh dan warga Tanjung Priok, mungkin tragedi berdarah pada 12 September 1984 tidak akan pernah terjadi. Dari sudut pandang HAM (Hak Asasi Manusia), tindakan Hermanu jelas tidak bisa dibenarkan. Sebagai babinsa yang merupakan representasi dari umaro, ia tidaklah berhak mengatur gairah keberislaman sekelompok orang di Tanjung Priok. Undangan pengajian remaja dan imbauan berjilbab yang dipamfletkan sekelompok remaja, meski katakanlah bertentangan dengan sikap “tak tertulis” pemerintah dan ABRI, tidak seharusnya disikapi dengan cara-cara yang tidak etis, memancing emosi, dan tidak mengindahkan kebebasaan berekspresi. Namun, Hermanu hanyalah jebolan kelas dua SMP, dan merupakan elemen terbawah dari sebuah sistem yang kurang sehat. Sehingga, kita tidak bisa mengharapkan Hermanu bersikap dewasa dan cerdas, tidak kasar, tidak vulgar, dan tidak provokatif. Sayangnya sikap negatif Hermanu (yang dianggap representasi dari keseluruhan sistem yang berlaku saat itu), ternyata mendapat respon yang sama negatifnya dari tokoh Tanjung Priok (yang hingga kini dianggap representasi dari komunitas Islam Indonesia), padahal rata-rata tingkat pendidikan mereka lebih tinggi dari Hermanu, begitu juga dengan pengetahuan (ilmu) agama Islam mereka. Beberapa hari setelah Hermanu melakukan aksi pencopotan pamflet, 10 September 1984, ketika ia sedang berhenti di sebuah warung rokok bersama Sersan Satu Rahmat, di ujung gang IV dekat Mushalla Assa’adah, ia berpapasan dengan dua orang anak muda –yang setelah mengenali Hermanu sebagai tentara

“kafir” yang memasuki mushalla tanpa melepas sepatu– kemudian menggelandangnya ke Pos RW terdekat. Di situ, Hermanu disuruh meminta maaf atas tuduhan memasuki Mushalla tanpa membuka sepatu serta mencopoti pamflet dengan air comberan. Ketika itu Hermanu menolak tuduhan. Ada juga yang bilang, ketika Hermanu diminta mengucapkan “Allah” yang terdengar di telinga masyarakat kala itu adalah ucapan “Allah” yang tidak faseh, sehingga ia dicurigai bukan penganut Islam. Apalagi, yang terjadi kemudian, bukanlah dialog yang sehat dan bijaksana. Bahkan di luar forum dialog tadi, massa menunjukkan keberingasannya, ada yang berteriak-teriak memaki Hermanu yang diposisikan sebagai representasi dari umaro yang dianggap arogan dan pekak. Apalagi kemudian sepeda motor Honda GL-125 yang biasa ditunggangi Hermanu dibakar sejumlah orang. Dari sinilah musibah berdarah itu kemudian berawal. Penangkapan beberapa warga yang diduga membakar sepeda motor Hermanu, kemudian dilanjutkan dengan aksi pembebasan yang gagal. Kegagalan ini sayangnya tidak disikapi dengan arif dan cerdas, tetapi dengan emosional dan gegabah (tanpa perhitungan). Apalagi kemudian para tokoh masyarakat setempat justru membakar massa dengan materi ceramah yang mempertentangkan antara ideologi kafir dengan ideologi yang bukan kafir. Ketika massa sudah kian terbakar dan mengulangi tuntutan pembebasan kawankawannya, tidak ada satu pun tokoh ummat Tanjung Priok yang mendinginkan hati yang panas. Amir Biki memberi ultimatum, jika sampai pukul 11 malam pada 12 september itu, tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka Tanjung Priok akan banjir darah, cina-cina akan digorok. Apa salah dan dosa orang-orang cina pada kasus salah tangkap ini, sehingga mereka justru hendak dijadikan korban? Padahal, tidak ada korelasi antara orang-orang cina dengan tidak dibebaskannya empat tokoh Priok. Bahkan ketika itu terlihat sejumlah orang dalam balutan pangsi hitam dengan clurit di tangan, seperti hendak pergi berperang. Nampaknya memang sudah ada niatan dan rencana untuk perang. Bentrokan berdarah pun terjadi. Parahnya, yang menjadi korban bukan hanya massa yang sudah terbakar, tetapi juga sejumlah orang yang tak tahu apa-apa, yang malam itu kebetulan melintas di daerah tersebut (dengan berbagai keperluan, termasuk sejumlah massa yang baru pulang menonton film di sebuah bioskop), dan harus menerima berondongan peluru: ada yang tewas, ada yang luka ringan dan luka parah. Kalau saja setelah tuntutan pembebasan yang gagal itu para tokoh Priok bersikap arif dan cerdas, serta tidak frontal dan gegabah, maka boleh jadi mereka akan menempuh cara-cara yang persuasif dan kreatif, sehingga tidak menimbulkan korban begitu banyak. Sebab, biar bagaimana pun, kekuatan bersenjata yang terorganisir (ABRI) jauh lebih kuat dari sekedar massa yang banyak dan emosional, apalagi hanya menenteng clurit. Apalagi, bila sejak awal, para tokoh Priok kala itu, tidak memposisikan Hermanu sebagai “tentara (beragama) Kristen yang masuk tanpa membuka sepatu”, tetapi

sebagai tentara (beragama) Islam yang seharusnya dikasihani dan disayangi karena minimnya pengetahun serta ghirah ke-islamannya. Kemudian, alangkah bijaksananya bila Hermanu dijadikan sasaran dakwah, sehingga ia yang semula hanya Islam KTP itu, perlahan-lahan mempunyai ghirah dan keberpihakan yang seimbang kepada agamanya (Islam). Dengan memposisikan Hermanu sebagai “musuh” justru membuat keberislamannya yang tipis-tipis saja menjadi kian tipis, bahkan hilang tak berbekas. Nampaknya, baik Hermanu dan tokoh Priok kala itu sama-sama berasal dari komunitas yang terlanjur kurang sehat, kurang arif, kurang cerdas dan kurang santun. Benturan kedua sifat negatif tadi, memberikan akibat yang sangat dahsyat. Kesimpulannya, Hermanu dan mereka yang tewas atau luka-luka, adalah korban dari strategi dakwah yang keliru, tidak sabar dan tidak cerdas.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Stockholm, 6 Maret 2004 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. BAHTIAR HARUS TAHU ITU NKRI ATAU RI-JAWA-YOGYA DIKONTROL TNI-NYA SUTARTO, RYACUDU & YUDHOYONO Ahmad Sudirman Stockholm - SWEDIA.

BAHTIAR RIFAI HARUS TAHU ITU NKRI ATAU RI-JAWA-YOGYA DIKONTROL TNINYA SUTARTO, RYACUDU & YUDHOYONO "Sejak masa SMA, pernah terbesit pertanyaan di pikiran saya tentang distribusi tentara / militer di Indonesia yang sangat merata sekali dari tingkat propinsi (KODAM) hingga ke kabupaten-kabupaten (KODIM) bahkan sampai dengan di kecamatan-kecamatan (KORAMIL), kalau saya salah menyebut istilahnya mohon dikoreksi. Begitu meratanya distribusi tentara, sehingga kalau ada "riak-riak" di NKRI ini tidak pernah lepas dari campur tangan tentara, ini dapat dilihat sejak peristiwa Malari 1975, Geger Anti China di Solo-Semarang 1982, Peristiwa Tanjung Priok 1984, Geger Talang Sari Lampung, Pembebasan Tanah Waduk Nipah Madura, Kasus 27 Juli PDI-Megawati, Penembakan Mahasiswa Tri Sakti, Kerusuhan Medio Mei 1998, Kerusuhan Ambon Maluku, hingga Pergolakan di Negara Acheh dan Papua dan lain sebagainya: semua melibatkan militer dan mengesampingkan tugas Polisi Sipil. Pertanyaan saya pada Bapak : apakah di negara-negara Eropa juga sedemikian model distribusi tentaranya hingga ke tingkat distrik (kecamatan) seperti di Indonesia?" (Bahtiar Rifai , bahtiar_rifai@yahoo.com , Fri, 5 Mar 2004 03:14:19 -0800 (PST)) Terimakasih saudara Bahtiar Rifai di Yogyakarta, Indonesia. Dan sekaligus saya mengucapkan selamat datang di mimbar bebas ini. Baiklah saudara Bahtiar Rifai.

Dalam isi pandangan saudara Bahtiar yang berisikan masalah peranan dan organisasi TNI di NKRI yang begitu besar dari pusat sampai ke Desa-Desa dan mempertanyakan apakah peranan dan organisasi Angkatan Bersenjata di Negara Eropa, seperti Swedia juga sama seperti di NKRI. Sebelum saya memberikan penjelasan mengenai peranan dan organisasi Angkatan Bersenjata di Negara Eropa, misalnya di Negara Swedia, maka disini saya akan sedikit kupas mengenai peranan dan organisasi TNI di NKRI ini. Dimana saya melihat tubuh struktur organisasi Mabes TNI ini adalah merupakan hasil penerapan konsepsi Wawasan Nusantara ciptaan Soeharto selama 32 tahun yang sudah digulingkan 6 tahun yang lalu. Memang kalau sepintas dilihat tubuh struktur organisasi Mabes TNI ini bagai barisan tentara yang rapi dan siap bergerak untuk menyerbu lawan atau siap menghadang gempuran lawan, tetapi kalau diteliti secara mendalam maka akan terbukalah bahwa sebenarnya tubuh struktur organisasi Mabes TNI ini benarbenar keropos dan penuh dengan benturan meja birokrasi. Coba saja telusuri dimulai dari jalur pintu masuk Panglima TNI kemudian masuk kepintu Tingkat Mabes TNI yang berisikan 30 kamar dari mulai kamar Inspektorat Jenderal & Perbendaharaan TNI sampai kepada kamar Pusat Pembinaan Mental TNI. Setelah itu baru masuk kepintu Tingkat Angkatan yang berisikan 3 kamar yang masing masing kamarnya dihuni oleh TNI AD, TNI AL dan TNI AU. Selanjutnya turun kebawah kepintu Tingkat Komando Utama Operasi. Nah, baru saja keliling ruangan yang berisikan tiga puluh kamar sudah tersesat bagaikan masuk kedalam perangkap labirin. Apalagi kalau terus masuk kepintu kamar Tingkat Angkatan dimulai dari kamar TNI AD, terus ke kamar TNI AL dan diakhiri ke kamar TNI AU, maka sudah dijamin tidak akan bisa keluar lagi. Kamar TNI AD saja sudah bagaikan hutan lebat yang tidak pernah dijamah manusia. Coba kita telusuri kamar pohon beringin TNI AD ini yang memiliki 42 kamar. Dimulai dengan Tingkat Mabes AD yang memiliki 4 tingkatan eselon, eselon pimpinan yang diduduki oleh KASAD dan Wakilnya. Eselon pembantu pimpinan yang mengisi 11 kamar. Eselon pelayanan yang memenuhi 3 kamar. Eselon pelaksana pusat yang berdesak-desak di 26 kamar. Kemudian diteruskan ketingkat bawah yaitu tingkat Komando Utama yang dipenuhi oleh 3 kamar yang diisi oleh KOSTRAD, KOPASSUS dan KODAM. Nah ini baru sampai ke tingkat KODAM saja, belum lagi turun ke KOREM, KODIM, KORAMIL, BABINSA yang ada diseluruh NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya, maka belum selesai terjelajahi sudah keburu tua. Apalagi kalau sudah masuk ke pintu gerbang KOSTRAD dan diteruskan ke pintu KOPASSUS, memang betul-betul akan tersesat. Selanjutnya kalau kita masuki itu pintu kamar ikan duyung TNI AL, maka akan ditemukan 39 kamar. Diawali dengan tingkat Mabes AL yang memiliki 4 tingkat eselon. Eselon pimpinan diduduki oleh KASAL dan Wakilnya. Eselon Badan Pimpinan yang berdesak-desak di 9 kamar. Eselon Pelaksana Staf yang memenuhi 3 kamar. Eselon Pelaksana Pusat yang berjubel di 23 kamar. Kemudian diteruskan

ke Tingkat Komando Utama yang memilki 3 tangga tingkatan. Tingkat tangga Komando Utama Fungsional yang diduduki Komando Pendidikan TNI AL. Kemudian tingkat tangga Komando Utama Pembinaan yang dijejali Korps Marinir, dan tingkat tangga Komando Utama Pembinaan dan Operasi yang memilki 3 kamar yang dihuni oleh Komando Armada Wawasan Barat, Komando Armada Wawasan Timur dan Komando Lintas Laut Militer. Coba bayangkan, bagaimana Soeharto menerapkan dan menjalankan konsepsi Wawasan Nusantaranya. Memang benar-benar TNI ini dijadikan sebagai kacungkacung bukan saja bergerak di bidang pertahanan melainkan juga bergerak disegala bidang sampai berjubel memenuhi puluhan kamar yang setiap kamarnya disekat dengan dinding birokrasi dengan meja-meja tempat membicarakan proyek, bisnis dan becking. Seterusnya kita jelajahi itu udara TNI AU yang tidak kalah oleh pohon beringin TNI AD dan ikan duyung TNI AL. TNI AU inipun tidak kalah birokrasinya. Dimulai dengan Tingkat Mabes AU yang memiliki 4 tingkatan eselon. Eselon pimpinan dibawah KASAU dan Wakilnya. Eselon Badan Pimpinan Staf yang berjejal di 9 kamar. Eselon Pelaksana Staf yang berdesak di 3 kamar. Eselon Pellaksana Pusat yang berdesakan di 22 kamar. Seterusnya Tingkat Komando Utama yang memiliki 3 tingkat tangga. Tingkat tangga Komando Utama yang memiliki 2 staf yaitu Komando Pendidikan TNI AU dan Komando Pemeliharaan Material TNI AU. Kemudian tingkat tangga Komando Utama Pembinaan yang memnuhi kamar Korps Pasukan Khas TNI AU. Seterusnya tingkat tangga Komando Utama Pembinaan dan Operasi yang diduduki oleh Komando Operasi TNI AU I dan Komando Operasi TNI II. Nah sekarang, dalam rangka meningkatkan efisiensi kerja, pengurangan tenaga dan penghematan dana, maka saya melihat perlu adanya usaha pembedahan dalam tubuh struktur organisasi TNI ini. Contoh pembedahan tubuh struktur organisasi TNI AD ini adalah dengan secara bertahap membubarkan Bintara Pembina Desa, kemudian mengubur Komando Rayon Militer, seterusnya secara pelan-pelan mengikis Komando Distrik Militer, kemudian secara perlahan mengupas Komando Resort Militer dan tentu saja secara setahap demi setahap menghilangkan Komando Daerah Militer. Karena kalau masih tetap dipelihara BABINSA, KORAMIL, KODIM, KOREM itu hanya menghabiskan sumber dana yang ada dan tidak menjadikan TNI efisien dan hemat. Menurut saya BABINSA, KORAMIL, KODIM, KOREM itu semuanya hanyalah tempat sampah dan penampungan anggota TNI saja yang hanya menghabiskan uang pajak sumber pemasukan APBN. Kemudian unsur lain lagi yang perlu dibenahi dalam tubuh struktur organisasi TNI AD ini adalah penggalakan dalam bidang militer harus dikurangi. Misalnya tidak perlu secara menggebu-gebu mendidik calon bintara, tamtama, perwira, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan. Karena mereka yang habis menempuh pendidikan harus diberikan tempat kerja, dan tentu saja tempat kerja itu dalam tubuh TNI. Kalau BABINSA, KORAMIL, KODIM, KOREM itu secara perlahan dikikis, tidak ada gunanya lagi mendidik bintara, tamtama, perwira secara besar-besaran.

Kemudian sekarang bandingkan dengan organisasi Markas Besar Angkatan Bersenjata Swedia. Ternyata jauh berbeda. Angkatan Bersenjata yang berada dibawah Pemerintah ini, membawahi 3 Angkatan, Angkatan darat, Anngkatan Laut dan Angkatan Udara. Dilengkapi dengan Akademi Militer dan Komando Sentral. Selanjutnya setiap Angkatan ditempat di 4 Militer Distrik. Distrik Militer Utara dibagi kedalam 7 militer Grup yang masing-masing grup ditempatkan ditingkat Distrik. Distrik Militer Tengah dibagi kedalam 10 militer Grup yang masingmasing grup ditempatkan ditingkat Distrik (setingkat Kotamadia). Distrik Militer Selatan dibagi kedalam 10 militer Grup yang masing-masing grup ditempatkan ditingkat Distrik. Dimana tugas dan fungsi Markas Besar Angkatan Bersenjata Swedia adalah bekerja dengan masalah kegiatan dan aktifitas Angkatan Bersenjata Swedia, berbagai masalah yang menyangkut strategi militer, perkembangan dalam tubuh Angkatan Bersenjata, dan sebagai tali penghubung dengan Pemerintah. Sedangkan tugas dan fungsi Militer Distrik Grup adalah mempertahankan wilayah masing-masing, memimpin grup-grup pertahanan sipil yang ada diwilayah masing-masing, bisa menyiapkan segera kekuatan pasukan menurut perintah Atasan, dan memimpin kekuatan-kekuatan yang kemungkinan ada disetiap wilayah masing-masing. Nah, sekarang secara jelas dan gamlang bahwa struktur organisasi Angkatan Bersenjata Swedia cukup sederhana, memiliki tugas dan fungsi yang sangat jelas, yaitu semuanya hanya yang menyangkut kegiatan militer dan memimpin aktifitas militer, tidak ada hubungannya dengan aktifitas dan masalah administrasi yang menyangkut rakyat sipil. Dimana terlihat dari struktur Angkatan Bersenjata yaitu dimulai dari Parlemen turun ke Pemerintah kemudian diteruskan ke Markas besar Angkatan Bersenjata dilanjutkan kesetiap Angkatan dan diturunkan kepada Militer Distrik Grup di setiap distrik atau setingkat Kotamadia. Atau kalau di NKRI bisa disamakan dengan KODAM (Komando Daerah Militer). Tidak ada itu yang namanya, misalnya Angkatan Darat dipecah lagi menjadi KODAM (Komando Daerah Militer), terus turun menjadi KOREM (Komando Resort Militer), turun lagi menjadi KODIM (Komando Distrik Militer), masih turun lagi menjadi KORAMIL (Komando Rayon Militer), tidak sampai disini saja tetapi terus turun menjadi Bintara Pembina Desa (Bintara Pembina Desa). Karena itulah kalau saya melihat struktur organisasi Angkatan Darat dibawah pimpinan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu ini bagaikan orang yang pakai celana kedodoran. Apalagi sudah disusupi oleh itu yang bernama Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono. Wah, sudahlah habis itu rakyat di desa-desa di mata-matai, kalau-kalau ada aktifis dan pengikut ASNLF atau GAM dan TNA, dan orang-orang yang dianggap teroris dan pembuat makar. Memang akhirnya, menjadilah itu NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya menjadi Negara yang terus makin terpuruk.

Bagaimana tidak, lihat saja itu Presiden Megawati menyerah begitu saja kepada pihak TNI dalam soal Aceh. Ketika Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu , Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, dan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono menyuarakan "bisnis dan pertahankan Aceh", maka dijawab oleh itu Presiden Megawati sambil senyum-senyum: "bisnis dan pertahankan Aceh" sambil tangannya pegang pena untuk membubuhkan tandatangannya diatas kertas yang bertuliskan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003. Dan dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003. Makanya, rusak itu NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini, karena terus digerogoti TNI dari mulai tingkat atas sampai tingkat Desa. Misalnya salah satunya habis dimasuki unsur-unsur racun penjajahan di Negeri Aceh buatan Soekarno. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman

Sudomo Dimintai Keterangan Kasus Talang Sari, Lampung
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Sudomo, Rabu memenuhi panggilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai saksi kasus Talang Sari, Lampung, pada 1989 atau 19 tahun lalu. Empat anggota Komnas HAM menanyai Sudomo seputar kasus Talang Sari yang berlangsung sekitar tiga jam dari pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB. Ketua Tim Advokasi Peristiwa Talang Sari, Johny Nelson Simanjuntak, mengatakan kedatangan Sudomo ke Komnas HAM sebagai saksi kasus Talang Sari, karena Komnas HAM juga melakukan pemanggilan baik terhadap saksi korban maupun saksi nonkorban.

"Komnas HAM meminta keterangan Pak Sudomo terkait peristiwa Talang Sari, Pak Sudomo kooperatif yang ditunjukkan dengan memenuhi permintaan Komnas HAM," katanya. Selain itu, kata dia, Komnas HAM juga sudah memintai keterangan saksi lainnya sebanyak 80 orang dan akan memintai keterangan dari pihak yang terkait lainnya. Hasil keterangan itu dijadikan referensi untuk mengumpulkan bahan terkait pengungkapan kasus tersebut yang ditargetkan pada Juni 2008 mendatang sudah dapat selesai dan diserahkan kepada pemerintah melalui Kejaksaan Agung (Kejagung). "Pemeriksaan kasus Talang Sari itu merupakan mandat dari komisioner Komnas HAM yang baru, yang harus diselesaikan," katanya. Sementara itu, Sudomo mengatakan kedatangannya ke Komnas HAM sebagai saksi dalam kasus Talang Sari. Selain dirinya, AM Hendropriyono (Komandan Korem 043 Garuda Hitam Lampung) turut diminta menjadi saksi. "Kasus Talang Sari itu kan soal Pondok Pesantren (Pontren) yang menolak asas tunggal dan hutan lindung diduduki," katanya. Kemudian, kata dia, saat itu dari pihak Korem setempat melakukan pengecekan ke lapangan, namun diamuk warga hingga dibunuh. "Itu awalnya peristiwa Talang Sari," katanya. Secara struktural, ia menyebutkan dalam penanganan kasus itu, yakni Koramil atau Korem yang kemudian melaporkan kepada Pangdam kemudian Kasad hingga ke Pangab. "Saat itu jabatan saya sebagai Pangkopkamtib hanya berkaitan dengan koordinasi saja. Danrem yang bertanggung jawab," katanya. Ketika ditanya kasus itu diungkap kembali, ia menyatakan terserah saja untuk diungkapkan kembali. "Saya siap memberikan keterangan apapun yang diketahui," katanya. Sebelumnya, Komnas HAM melalui salah satu Komisionernya, HM Kabul Supriyadhie, kendati tidak menyebutkan batas waktu dan target, menjanjikan pihaknya segera menuntaskan penyelidikan pro-yustisia kasus Talangsari yang ditengarai terjadi pelanggaran HAM berat oleh aparat pada 6-8 Februari 1989 atau 19 tahun lalu, sehingga dapat menjadi rekomendasi untuk disampaikan kepada penegak hukum melalui Kejaksaan Agung (Kejagung). "Sampai saat ini kami masih melanjutkan penyelidikan yang pernah dilakukan Komisioner Komnas HAM sebelumnya atas Kasus Talangsari Lampung ini," kata Kabul, kepada wartawan, pada peringatan 19 tahun Tragedi Talangsari, di Dusun Talangsari III, Desa Labuhan Ratu VII, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Kamis petang. Dia menyebutkan, penyelidikan yang dijalankan Komnas HAM itu hampir rampung, mendekati 100 persen, khususnya pemeriksaan terhadap saksi korban sekitar 80-an orang. "Saat ini kami sedang melakukan penyelidikan dan mendapatkan keterangan dari para saksi pejabat pada saat itu, baik yang ada di Lampung maupun tempat lain," kata dia.

Temuan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyebutkan dalam Tragedi Talangsari pada Februari 1989 itu, terdapat 88 warga yang hilang, 164 orang ditangkap dan ditahan secara sewenang-wenang, 48 diadili secara tidak fair, dan 167 orang meninggal dunia. (*)

Warga Talang Sari Datangi Komnas HAM
27 Pebruari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sekitar 80 orang menamakan diri sebagai Forum Masyarakat peduli Talang Sari (FORMAT) mendatangi kantor Komnas HAM, Jumat (27/2). Mereka meminta Komnas HAM menghentikan rencana investigasi terhadap kasus Talang Sari Lampung, yang terjadi pada 7 Februari 1989. Selain itu, mereka juga menolak KPP HAM kasus Talang Sari, Lampung, serta meminta Komnas HAM untuk measpadai aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Busuk, yang mengatasnamakan dan mengkomersialkan isu isu HAM demi kepentingan dan ambisi kelompok. Di Komanas, mereka bertemu dengan Taheri Noor dan Yuwaldi. Dari keterangan yang diperoleh Tempo News Room, Taheri mengatakan tim investigasi untuk kasus Talang Sari sudah terbentuk. Komnas HAM juga telah menyusun rencana kerja dan anggaran serta waktu pelaksanaan investigasi. Namun, hal itu belum bisa dilakukan, karena SK dari Komnas belum keluar. FORMAT sendiri, kata Taheri, dapat memahami dan menerima rencana investigasi tersebut setelah dijelaskan oleh pihak Komnas HAM. Namun, FORMAT menekankan, tim yang akan diterjunkan dalam investigasi itu harus berbentuk imparsial. FORMAT sebelumnya mempertanyakan motivasi Komnas HAM dalam investigasi kasus Talang Sari, Lampung. Karena untuk kasus Ambon tahun 1999 dan Poso yang jauh lebih banyak menimbulkan korban jiwa dan materil saja, belum ada rencana Komnas HAM untuk melakukan investigasi. Menurut FORMAT, kehidupan jamaah Talang Sari, sudah terbina dan tertata apik kembali. Tapi menjadi terusik setelah adanya rencana Komnas HAM membentuk KPP HAM. Tindakan Komnas ini dianggap sama saja dengan menguak kembali luka lama dan mengganggu ketenangan serta stabilitas hidup warga Talang Sari. xxxxxxxxxxxxxxxxx OPINI Talangsari dan Kepahlawanan Soeharto Fadilasari Penulis Buku Talangsari 1989, Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung. Ketika mantan Presiden Soeharto dirawat di rumah sakit pada 10 Januari 2008, semua media massa seperti saling berlomba mengabarkan ihwal kesehatan sang bapak pembangunan. Setiap media seolah tidak mau ketinggalan menyajikan informasi sekecil dan sedetail mungkin tentang perkembangan kesehatannya, yang sempat naik turun. Dari sekian banyak pemberitaan soal Soeharto, kebanyakan media hanya

membentuk opini publik untuk mengasihani sang jenderal besar yang terbaring gering, terutama media televisi yang selalu mengabarkan detik per detik kesehatan penguasa Orde Baru tersebut. Saat Soeharto dinyatakan wafat, secepat kilat perhatian media massa pun tertumpah pada peristiwa yang dianggap teramat sangat dahysat tersebut. Media televisi menghapus acara-acara reguler, dan menggantinya dengan berita seputar kematian dan pemakaman Soeharto. Seolah-olah kebutuhan informasi rakyat Indonesia hanya soal Soeharto seorang. Lebih serunya lagi, kisah-kisah keberhasilan Soeharto selama 32 tahun pun diputar ulang siang dan malam di televisi. Media tidak lagi independen karena nyaris tidak mengulas sisi buruk Soeharto yang sarat dengan kekejaman, pelanggaran HAM, dan pembunuh demokrasi. Belum lagi kisah keberhasilan Soeharto hapus dari media, muncul lagi wacana untuk menobatkan Soeharto sebagai pahlawan. Jelas, rencana itu mendapat tentangan keras kelompok pejuang demokrasi karena dinilai hanya akan menyakiti para korban pelanggaran hak asasi manusia, yang tersebar di Aceh, Tanjungpriok, Talangsari, dan korban-korban peristiwa G-30-S/PKI. Soeharto dinilai tidak layak menyandang gelar pahlawan karena semasa kepemimpinannya banyak sekali pelanggaran HAM dan menewaskan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan masyarakat Indonesia. Di Lampung sendiri, jejak pelanggaran HAM Soeharto yang teramat nyata dan belum selesai hingga kini adalah kasus pembunuhan terhadap komunitas pengajian pimpinan Warsidi di Dukuh Cihideung, Dusun Talangsari III, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur (dahulu masuk Kecamatan Way Jepara, Lampung Tengah). Menurut data Komite Solidaritas Mahasiswa Lampung (Smalam), tim investigasi dan advokasi korban peristiwa Talangsari, setidaknya 246 penduduk sipil tewas dihajar senjata aparat pada 7 Februari 1989. Tanggal 7 Februari besok, berarti telah 19 tahun pelanggaran HAM itu terjadi. Ratusan umat Islam itu dibantai hanya karena mengkritik pemerintah Orde Baru, yang kerap melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Jemaah Warsidi mengecam pemerintah yang gagal menyejahterakan rakyat dan gagal menciptakan keadilan. Kemelaratan terjadi di mana-mana. Ekonomi hanya dikuasai kaum elite yang dekat dengan kekuasaan. Hukum tidak berpihak para rakyat kecil. Dalam semua sisi kehidupan baik ekonomi, politik, maupun hukum, pemerintah Orde Baru tidak berpihak pada rakyat. Jemaah Warsidi kemudian menyimpulkan Pancasila, UndangUndang Dasar 1945, Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah produk gagal. Kritik yang digencarkan "pada masa yang tidak tepat" itu langsung membuat penguasa Orde Baru tersulut emosinya. Pendekatan kekuasaan pun dilakukan, dengan menghabisi komunitas tersebut. Jemaah Warsidi ditembak dan sebagian dibakar hidup-hidup dalam pondok. Kebanyakan yang dibakar hidup-hidup adalah wanita dan anak-anak. Mereka yang selamat kemudian dipenjarakan. Orde Baru memang pemerintahan yang antikritik. Jangankan komunitas pengajian di perkampungan macam Talangsari, kaum intelektual dan mahasiswa pun dijebloskan ke bui. Mereka dituduh menghina kepala negara. Kritik dianggap distruktif yang hanya akan mengganggu proses pembangunan. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi telah membunuh partisipasi publik dalam berdemokrasi. Setelah Soeharto tiada, bukan berarti peristiwa pelanggaran HAM itu dihapus begitu saja. Momen itu justru menjadi harapan bagi korban pelanggaran HAM untuk mendapatkan keadilan, yang selama ini terbenam dalam jubah kebesaran The Smiling General. Kini, harusnya membawa kasus itu ke pengadilan HAM menjadi relatif lebih mudah karena pengambil keputusan tertinggi dalam peristiwa tersebut telah tiada. Bagaimanapun pelaku pelanggaran HAM bukan Soeharto seorang. Melainkan juga para pengambil keputusan (decision maker) lainnya dan pelaku di lapangan, baik sipil maupun militer.

Walaupun begitu, mengadili pelaku pelanggaran HAM tetap akan diadang berbagai kendala. Menurut Mahfud M.D., menyelesaikan kasus pelanggaran HAM pasti menemui kendala teknis prosedural dan kendala politis. Persoalan prosedural menyangkut Undang-Undang Pengadilan HAM yang belum secara tegas mengatur proses dan tata cara pelaksanaan pengadilan HAM berat. Sedangkan kendala politis terkait dengan banyaknya tangan-tangan kuat yang menghalangi proses hukum pelanggaran HAM. Kendala politik merupakan persoalan yang lebih serius dibanding dengan masalah teknis prosedural. Banyak pejabat penting di birokrasi pemerintahan yang secara langsung maupun tidak terlibat pelanggaran yang dilakukan rezim Orde Baru. Sistem yang dibangun Orde Baru telah memaksa banyak pejabat masuk jebakan sistem yang menyeretnya dalam kasus pelanggaran HAM. Mereka kini masih tersebar di berbagai instansi atau lembaga negara di tingkat pusat maupun daerah. Hal yang terpenting dari sebuah pengadilan HAM adalah rehabilitasi nama baik dan memberikan hak para korban. Sampai kini para korban peristiwa Talangsari masih hidup dalam stigma Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), Komunitas Antipemerintah atau Islam PKI. Mereka terus menanggung beban sosial di masyarakat, dan tidak mendapatkan hak sebagai warga negara. Seperti kisah seorang guru agama di Lampung Timur, yang ditangkap saat akan berangkat mengajar ketika aparat "membersihkan" gerakan Talangsari, pada 9 April 1989. Setelah 15 bulan ditahan, tidak ditemukan kaitan antara si bapak guru dan peristiwa Talangsari. Ketika kembali mengajar, dia hanya menerima separo gaji hingga pensiun pada 2005, dan tidak pernah mendapat kenaikan pangkat baik. Tragisnya setelah pensiun, guru sekolah dasar itu tidak pernah mendapat tunjangan pensiun seperti pegawai negeri sipil pada umumnya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menggapai hak, tapi hingga kini masih mentok. Usulan yang menginginkan Soeharto dinobatkan menjadi pahlawan pasti akan ditolak para korban pelanggaran HAM. Logikanya, bila sang mantan Presiden dikukuhkan sebagai pahlawan, para korban pelanggaran HAM tetap dipandang sebagai "kaum pemberontak" atau GPK seumur hidup. Karena apa yang dilakukan pahlawan semasa hidup pastilah sudah benar. Penobatan sebagai pahlawan juga akan mempersulit aparat kejaksaan yang ingin mengembalikan uang negara yang sudah dikorupsi keluarga Soeharto dan kroni-kroninya. (Cukup Soeharto bergelar Bapak Pembangunan karena pada masa Orde Baru ekonomi dan pembangunan cukup baik). Wacana itu juga akan berdampak pada para pelaku pelanggar HAM yang masih hidup. Status pahlawan bagi Soeharto akan menjadi tempat berlindung yang empuk bagi mereka dari kejaran hukum sehingga pengadilan HAM pun bakal menemui jalan buntu. Pembunuhan yang dilakukan pada masa lalu pun akan terus dislogankan sebagai upaya untuk menciptakan stabilitas nasional atau menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kepergian Soeharto seperti yang disiarkan media massa memang teramat syahdu. Dia telah meninggalkan pelajaran yang tak lengkap bagi penegakan hukum. Namun kita yang masih hidup tentunya tidak boleh membunuh optimisme bahwa satu saat dewi keadilan pasti menampakkan dirinya. Bila hukum bagi pelaku pelanggar HAM tidak ditegakkan, peluang terjadinya kejahatan HAM seperti pada masa lalu akan mudah terulang. Jangan sampai penegakan hukum di negara ini terus seperti menari poco-poco--meminjam istilah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri--satu langkah maju, satu langkah mundur. Dua langkah maju, lalu mundur pun dua langkah. xxxxxxxxxxxxxxxxx

Sungguh merupakan hal yang wajar, jika kita memandang Negara Indonesia ini adalah Negara yang belum menjalankan hukum dengan baik dan benar. Hal itu terbukti dengan belum selesainya beragam kasus kejahatan yang berhubungan dengan Hak Asasi Manusia. Pembunuhan demi pembunuhan berlangsung dengan sangat wajar, seakan itulah tontonan yang selalu disajikan para penjahat HAM untuk rakyat Indonesia. Dan Pemerintah, seakan hanya bertopang dagu tanpa mampu menjawab misteri demi misteri ini. Salah satu peristiwa kejahatan HAM yang sampai saat ini belum diindahkan oleh Pemerintah adalah Kasus kematian 246 Jamaah di desa Talangsari, Kecamatan Way Jepara, Lampung pada tanggal 7 Februari 1989 lalu. Peristiwa ini berawal dari penyerangan militer yang dilakukan oleh Danrem Garuda Hitam, yang dipimpin oleh Kol. Hendropriyono pada pukul 04.00 pagi kepada masyarakat yang saat itu dituduh subversive dan bermaksud melakukan penghianatan terhadap Pancasila dengan mendirikan Negara Islam. Padahal hal tersebut jelas tidak terbukti secara hukum. Warga yang memang mayoritas beragama Islam sebenar-benarnya hanya bermaksud untuk melaksanakan syariat Islam dengan benar. Tindakan kekerasan yang dilakukan aparat militer tidak tanggung-tanggung. Dengan membabi buta, pasukan berseragam ini membumi hanguskan kampung transmigran yang masyoritas berasal dari pulau Jawa dengan menggunakan persenjataan lengkap. Bukan hanya itu, pembunuhan massal dengan cara membakar hidup-hidup perempuan dan anak-anak di dalam rumah serta meratakan tempat-tempat peribdatan, juga membuang mayat-mayat ke sumur dilakukan dengan cara mengerikan. Peristiwa Talangsari ini, sampai saat ini belum mendapatkan perhatian sedikitpun dari pemerintah. Komnas HAM yang berjanji untuk menuntaskan kasus ini, sejauh ini hanya memberikan angin segar tapi tidak membuahkan apa-apa. 17 Tahun berlalu dengan tanpa hasil memuaskan, tentu membuat korban hidup dan keturunannya juga kita sebagai warga negara menjadi bertanya-tanya, benarkah keadilan di Indonesia benar-benar ada? xxxxxxxxxx Sembilan Belas Tahun Peristiwa Talangsari (1989); Saatnya Penuhi Hak Korban, Bukan Memaafkan Pelaku!

Tangal 6-7 Februari 2008 ini tepat 19 tahun peristiwa Talangsari Lampung. Hingga kini belum ada jaminan hak-hak korban akan dipenuhi oleh pemerintah. Bahkan psikologi korban Talangsari harus dihadap-hadapkan dengan wacana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto oleh Pemerintah. Peristiwa Talangsari Lampung terjadi pada 6-7 Februari pada 1989. Peritiswa tersebut merupakan bentuk serangan yang dilakukan oleh Korem Garuda Hitam 043 Lampung terhadap sebuah kelompok pengajian di Way Jepara Talangsari Lampung. Kelompok tersebut dituduh sebagai kelompok yang ingin mendirikan negara Islam dan sebaliknya dianggap anti Pancasila. Bahkan distigma dengan Islam sesat. Akibat dari serangan tersebut banyak korban berjatuhan, termasuk perempuan yang menjadi peserta kelompok pengajian tersebut dan anak-anak mereka. Banyak diantara mereka yang hilang hingga tak diketahui rimbanya sampai saat ini.

Terhadap korban yang masih hidup dan selamat, kekerasan demi kekerasan terus terjadi. Banyak diantara mereka yang ditangkap dan diadili secara tidak jujur serta dihukum untuk waktu yang lama. Demikian pula dengan harta benda mereka yang hilang atau diambil secara paksa. Turunnya Soeharto dari penguasa Orde Baru dan adanya pemerintahan baru belum menjamin pengembalian hak korban Talangsari Lampung secara penuh. 10 tahun kebebasan masa reformasi hanya membuka peluang bagi para korban menuntut keadilan, pengungkapan kebenaran dan pengembalian hak-hak korban. Namun hal ini tidak cukup. Para korban masih harus hidup dengan ancaman/teror/pembatasan dari sejumlah pihak yang tidak menghendaki kasus talangsari diselesaikan lewat mekainsme Pengadilan HAM. Terlebih-lebih pemerintah sangat lambat dalam merespon kasus Talangsari Lampung. Hingga saat ini Komnas HAM masih belum merampungkan hasil penyelidikannya. Kematian Soeharto seharusnya menjadi lonceng pengingat bagi semua pihak bahwa penting untuk segera membongkar “apa peran Soeharto dimasa lalu?” Kasus Talangsari menjadi sebuah hutang yang harus dibongkar bagi siapapun yang memimpin bangsa ini. Menutupi kasus ini sama dengan membangun watak takut untuk mempelajari masa lalu, dimana dominasi kekuasaan secara tunggal mendahului esensi kemanusiaan bangsa Indonesia. Oleh karenanya KontraS meminta agar, pertama, Pemerintah menolak memberikan gelar Pahlawan kepada Presiden Soeharto sebelum mengungkap kebenaran atas kasus Talangsari Lampung 1989. Kedua, Meminta Komnas HAM segera menuntaskan penyelidikan kasus Talangsari Lampung 1989, dengan cara segera meriksa sejumlah mantan petinggi Korem Garuda Hitam 043, memeriksa TKP. Ketiga, meminta Kepolisian RI dan dinas-dinas pemerintah (daerah) di Lampung untuk memberikan jaminan keamanan dan kemudahan dalam pemenuhan hak-hak keperdataan korban Talangsari Lampung. Hormat kami, Jakarta 5 Februari 2008 Badan Pekerja KontraS,

Haris Azhar Wakil Koordinator II
xxxxxxxxxxxxxxxx

Oh...Talang Sari.......

MANTAN Menko Polkam Sudomo tak mau bertanggung jawab atas kasus pelanggaran berat HAM Talangsari, yang terjadi pada Orde Baru. Dia menuding Hendropriyono, yang menjadi komandan Korem Garuda Hitam saat peristiwa itu terjadi, sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Kepada wartawan, mantan Pangkopkamtib itu mengungkapkan, dalam struktur keamanan darat, Danrem Hendropriyono paling bertanggung jawab atas kondisi di lapangan dalam peristiwa yang terjadi 1989 itu. Sedangkan dirinya mengaku tak tahu bagaimana kondisi lapangan. ’’Menurut urutannya, komandan Korem (yang bertanggung jawab, Red),” ujarnya usai diperiksa 2,5 jam di lantai II gedung Komnas HAM kemarin. Sudomo menepis anggapan kasus itu ada hubungannya dengan Pangkopkamtib yang dikenal sebagai lembaga perpanjangan tangan kekuasaan Soeharto dalam membungkam aktivis. Pasalnya, lembaga yang dipimpinnya itu dibubarkan pada 1988. Saat peristiwa itu, Sudomo menjadi Menko Polkam (1988–1992). Menurut dia, yang bertanggung jawab atas keamanan darat adalah kepala staf Angkatan Darat, Pangdam, komandan Korem, komandan Kodim, dan komandan Koramil. ’’Itu yang berlaku untuk keamanan di darat,” tambahnya. Apakah Sudomo berniat lepas tangan? ’’Saya tidak angkat tangan. Saya sebagai Menko Polkam kan hanya mengoordinasi,” ujarnya. Dia lantas menyebutkan sebagian di antara sembilan lembaga di bawah koordinasinya, yakni Menlu, Mendagri, Setneg, panglima ABRI, dan Menhankam. Sudomo bersikukuh tak tahu soal kejadian tersebut. ’’Pangab juga tidak tahu. Dia belum ngecek lagi ke bawah. Yang tahu kan KSAD, dari komandan Korem,” ujarnya. Seharusnya sejak dulu dibentuk tim investigasi yang menentukan apakah kasus tersebut bisa dibawa ke pengadilan. ’’Tidak ada penyelesaian secara itu (pengadilan, Red). Ketentuannya (dulu, Red) sudah ada, tapi tak dilakukan,” tambahnya. Pria yang juga pernah menjabat Menaker itu menyayangkan mengapa baru

sekarang mengungkapkan kasus Talangsari. ’’Susah kalau peristiwa sudah terlalu lama. Kenapa sekarang ini baru. Kenapa tidak sebelumnya,” tambahnya. Dia menambahkan, kalau memang cukup bukti dan saksi, boleh saja kasus yang terjadi pada 1989 itu diajukan ke pengadilan. Sudomo pun mengaku siap bekerja sama. ’’Pokoknya sejauh mungkin memberikan keterangan apa adanya seperti yang diketahui. Pokoknya, ada uruturutannya (pertanggungjawaban, Red),” ujarnya lantas memasuki lift. Peristiwa Talangsari Lampung terjadi pada Februari 1989. Korem Garuda Hitam 043 Lampung yang dipimpin Kolonel (Inf) A.M. Hendropriyono menyerang sebuah kelompok pengajian di Talangsari, Wayjepara, Lampung Timur (kala itu masuk Lampung Tengah). Alasannya, kelompok tersebut dituduh ingin mendirikan negara Islam dan antiPancasila. Stigma Islam sesat pun dilekatkan pada kelompok pengajian itu. Korban pun berjatuhan. Berdasarkan data Kontras, terungkap 167 orang meninggal dunia dalam kasus itu. Tak hanya itu, 88 orang dinyatakan hilang, 164 ditangkap, dan ditahan sewenang-wenang. Lalu, 48 orang diadili secara tidak fair. Sudomo punya versi tersendiri soal peristiwa berdarah itu. Diakuinya, kasus itu berhubungan dengan penerapan Pancasila sebagai asas tunggal. ’’(Danrem, Red) Mau ngecek di sana (di Talangsari, Red) termasuk hutan lindung. Tapi, hutan lindung itu diduduki, lalu anak buahnya ada yang dibunuh,” ujarnya mengungkapkan versi cerita yang dia ketahui. Ketua Tim Ad Hoc Peristiwa Talangsari Yoseph Adi Prasetyo mengungkapkan, keterangan Sudomo membantu pihaknya melihat peristiwa Talangsari lebih jelas. ’’Nama-nama yang disebutkan menjadi referensi kami untuk memanggil sejumlah nama,” tambahnya. Dia mengatakan, ada dua pihak yang dimintai keterangan, yakni saksi korban dan saksi nonkorban. ’’Sebanyak 80 persen dari saksi korban sudah kami panggil,” ujar pria yang akrab dipanggil Stanley itu. Sudomo, lanjutnya, adalah saksi keempat, di luar saksi korban yang telah dipanggil. Siapa tiga nama yang sudah dimintai keterangan? ’’Kita tidak sebut sekarang karena masih mungkin dipanggil lagi,” ujarnya. Ketika ditanya apakah Hendropriyono sudah dipanggil, dia hanya mengungkapkan, mantan Pangdam Jaya itu sudah diagendakan untuk memberi keterangan. Yang jelas, pada akhir Maret seluruh pemanggilan sudah selesai. Selanjutnya Komnas HAM melakukan proses lain, misalnya membongkar makam para korban. ’’Juni kami sudah konsultasi ke Kejaksaan Agung,” tambahnya. Menurut dia, masih terlalu jauh untuk mengumumkan siapa tersangka maupun calon tersangka. Komisioner Sub Komisi Penyuluhan dan Pendidikan lantas mengungkapkan, selain amanat Komnas HAM terdahulu, desakan publik jadi pemacu lembaganya untuk menuntaskan kasus tersebut. ’’Tak ada tekanan dari pemerintah atau desakan atau intervensi,” ujarnya..

Diposting oleh wisanggeni(gogone) di 10:45

Anak Tiri Bernama Tanjung Priok Berkali-kali keluarga korban Peristiwa Tanjung Priok meminta agar kasus 14 tahun silam itu diusut. Namun, semuanya kandas di tengah jalan. EMPAT belas tahun silam, Fatimah -warga Tanjung Priok- kehilangan Zaini, adik kesayangannya, dalam Peristiwa Tanjung Priok. Kala itu, Zaini baru saja tiba di Jakarta setelah beberapa lama kuliah di sebuah universitas di Ujungpandang. Kedatangannya ke Jakarta tak lain untuk mencari tempat kuliah yang lebih baik. Sebelum memasuki kampus baru, Zaini mengisi waktu luangnya dengan mengikuti pengajian-pengajian Amir Biki, tokoh masyarakat Tanjung Priok yang disegani. Malam itu, 12 September 1984, ia bersikeras untuk menghadiri acara yang diselenggarakan Amir Biki. Sebenarnya, Fatimah sudah berusaha mencegahnya. Namun, semangat muda Zaini tak terbendung. Dan sejak malam itu, Fatimah tak pernah lagi mendengar kabar, apalagi melihat, adik kesayangannya itu. Fatimah mencari informasi ke sana kemari, ke Markas Polisi Militer Kodam Jaya, ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan tempattempat lain. Namun, upayanya sia-sia. Semangatnya kembali bangkit setelah Soeharto lengser. Fatimah bergabung dengan Yayasan 12 September untuk melakukan investigasi. Berkat informasi dari seseorang, mereka pun menggali kuburan di kawasan Pondok Rangon, Jakarta. Kuburan itu diduga menyimpan korban Peristiwa Tanjung Priok. Kemudian mereka melaporkan penemuan itu kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dan meminta lembaga itu untuk menindaklanjutinya, sekaligus berharap bahwa pemerintah menindak orang-orang yang bertanggung jawab. Namun, Komnas HAM masih meminta bukti yang lebih kongkret. Lantaran upaya ke Komnas HAM mentok, belakangan Yayasan 12 September meminta bantuan Asosiasi Pembela Islam (API) yang dipimpin Hamdan Zoelva, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang dan mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Badan Koordinasi Indonesia Timur. Segera saja, API menyanggupi dan melakukan investigasi. Mereka mengaku menemukan delapan kuburan korban Peristiwa Tanjung Priok, antara lain di Pemakaman Tugu, Tanjung Priok. Selain itu, API juga menerima laporan dari 54 korban luka, 18 di antaranya menderita cacat fisik. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, API siap menggugat mereka yang bertanggung jawab atas tragedi itu ke pengadilan, serta menuntut ABRI agar meminta maaf. Kalau gugatan API benar-benar dilakukan, maka inilah untuk pertama kalinya upaya hukum dilakukan. Sebelumnya, sering pecah unjuk rasa yang menginginkan supaya Try Sutrisno, Benny Moerdani, Soeharto, dan pimpinan ABRI yang terlibat Peristiwa Tanjung Priok diajukan ke

pengadilan. Ketika tragedi itu terjadi, Try adalah Panglima Kodam Jaya, Benny Moerdani menjabat Panglima ABRI, dan Soeharto masih Presiden RI. Merekalah yang dianggap paling bertanggung jawab dan harus diseret ke pengadilan. Namun, tuntutan itu tak memperoleh sambutan sepantasnya. Bukan cuma kali itu keluarga korban serta mereka yang bersimpati pada korban Peristiwa Tanjung Priok dibikin kecewa oleh pemerintah dan para pejuang HAM. Berkali-kali tuntutan serupa diperdengarkan, baik lewat diskusi, unjuk rasa, maupun pembentukan tim pencari fakta "swasta". Namun, semuanya kandas di tengah jalan. Hanya lima hari selepas tragedi, persisnya 17 September 1984, kelompok Petisi 50 pimpinan Ali Sadikin mengeluarkan "lembaran putih". Mereka meminta supaya pemerintah membentuk komisi independen untuk mengumpulkan keterangan (fact finding commission) yang jujur mengenai kejadian di Tanjung Priok, serta jumlah korbannya. Seminggu kemudian, 24 September, Gerakan Rakyat Marhaen meluncurkan surat terbuka dengan tuntutan serupa. Waktu itu, memang terbit kecurigaan: pemerintah tak jujur dalam mengungkap fakta, terutama mengenai angka korban. Ketika melakukan konferensi pers, Benny Moerdani hanya menyebut sembilan korban. Lalu, di depan anggota DPR, pada 13 Oktober 1984, ia menyebut angka 18 orang meninggal. Tapi di lapangan beredar aneka "angka tebakan": puluhan, bahkan ratusan. Sebuah majalah yang terbit ketika itu menyebut angka perolehan dari investigasi yang cukup berani: 28 meninggal. Di masyarakat muncul jumlah ratusan, belum termasuk yang hilang tanpa jejak. Semua versi angka itu sampai sekarang belum diklarifikasikan oleh tim pencari fakta yang bersifat independen. Belakangan, tatkala pemerintah membebaskan para tahanan politik, Petisi 50 mengajukan tuntutan lebih keras. Mereka bukan cuma meminta agar para narapidana dan tahanan politik Islam dibebaskan, melainkan juga mendesak agar pemerintah mengusut serta menindak petugas keamanan, dan pimpinan militer serta pejabat pemerintah yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban dalam Peristiwa Tanjung Priok. Menurutnya, pemerintahan Habibie harus meminta pertanggungjawaban Try Sutrisno. "Nyawa manusia harus dihormati. Kalau sekarang ada gerakan orang Islam yang mengejar Try dan Benny Moerdani, Soeharto juga harus bertanggung jawab," kata Ali Sadikin suatu ketika, seraya menyodorkan angka 400-500 korban Peristiwa Tanjung Priok. Dengan berapi-api pula, Ali Sadikin menuding pemerintahan Orde Baru telah membunuh begitu banyak rakyat -khususnya yang beragama Islam- di Aceh, Lampung, Madura, dan lain-lain. Organisasi-organisasi Islam jelas tak tutup mulut. Agustus 1996, jauh sebelum Yayasan 12 September bicara, sekitar 700 wakil organisasi pemuda Islam mengadakan "Simposium Generasi Muda Islam" di Asrama Haji

Pondok Gede, Jakarta. Masih pada bulan dan tahun yang sama, sekitar 20 pemuda yang menamakan diri Majelis Taklim Cilosari 17 datang ke Kantor Komnas HAM -waktu itu masih di Jalan Pemuda, Jakarta. Angka 17 adalah nomor kantor Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta. Seperti rekomendasi Simposium Generasi Muda Islam, kelompok ini pun mendesak pemerintah untuk mengusut dan menyelesaikan Peristiwa Tanjung Priok. Mereka menyerahkan segepok dokumen. Di antaranya terselip "dokumen rahasia" tentang penjelasan Benny Moerdani kepada lurah se-Jakarta Utara pada 13 September 1984, sehari setelah tragedi terjadi. Dalam penjelasannya, Benny menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal mencapai 40 orang. Akhir Mei lalu, keluarga korban membentuk Front Keadilan Peristiwa Berdarah Tanjung Priok (FKPBT) 1984. Maksudnya tak lain, menuntut pemerintahan Habibie untuk mengusut kasus itu. Keinginan mereka memperoleh dukungan dari Komite Independen untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI). Dalam apel-apel akbarnya, organisasi yang dikenal gencar menyuarakan kepentingan umat Islam ini meminta pemerintah agar merespons keluhan keluarga korban Peristiwa Tanjung Priok. Tuntutan FKPBT dan KISDI tak muluk-muluk. Mereka cuma meminta kejujuran pemerintah untuk mengungkapkan jumlah korban yang sebenarnya, tidak mendesak supaya pimpinan militer dan petugas keamanan yang terlibat dalam peristiwa itu dihukum. Pada bulan yang sama, Sekolah Tinggi Agama Islam, Jakarta, pun mengadakan tablig akbar di Masjid Raya Al-Husnah, Tanjung Priok, dengan tema "Menggugat Kepastian dan Keadilan Hukum Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984". Komite Solidaritas Muslim pun mendatangi Komnas HAM untuk maksud serupa. Mei lalu pula, keluarga korban Peristiwa Tanjung Priok meminta bantuan Komnas HAM dan mendesak pemerintah untuk melacak makam para korban, sekaligus mengusut kembali peristiwa itu. Namun, entah mengapa, semua upaya itu kandas pula termakan angin. Padahal, untuk kasus-kasus lain, lembaga-lembaga pembela HAM begitu bersemangat memperjuangkannya. Mereka segera membentuk tim pencari fakta, lalu mendorong lembaga hukum untuk memprosesnya. Mereka juga mengeluarkan rekomendasi, misalnya agar pemerintah membebaskan tahanan politik, seperti gembong Fretilin Xanana Gusmao, Ketua Partai Rakyat Demokratik Budiman Sudjatmiko, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Banyak di antaranya yang diluluskan. Para tahanan dan narapidana politik, misalnya, sebagian besar sudah dibebaskan. Kasus-kasus pelanggaran HAM, seperti penculikan aktivis LSM, sudah dilakukan dan hampir selesai. Insiden Universitas Trisakti, 12 Mei lalu, telah ditangani, walau hingga kini belum selesai juga.

Tapi mengapa sampai sekarang Peristiwa Tanjung Priok bagaikan anak tiri yang dibiarkan terlunta-lunta? Komnas HAM sendiri dianggap cuma diam, tak berbuat apa-apa. Desakan masyarakat agar lembaga ini membentuk tim pencari fakta belum juga dikabulkan. "Peristiwanya terjadi 14 tahun silam. Ini menyulitkan kami untuk mengumpulkan bukti-bukti. Kedaluwarsa atau tidaknya suatu kasus menjadi pertimbangan kami untuk mengusutnya," begitu jawaban Albert Hasibuan, anggota Komnas HAM, kepada Gatra, beberapa waktu lampau. Kalau itu pertimbangannya, maka para pembela Peristiwa Tanjung Priok punya sanggahan. Mereka menunjuk perburuan terhadap para penjahat perang Nazi Jerman yang hingga kini terus dilakukan. Juga penggalian kembali kuburan para mahasiswa yang dibantai di Kwangju, Korea Selatan, pada 1980 untuk memperkuat tuduhan terhadap Chun Doo Hwan dan Roh Tae Woo, dua jenderal yang pernah menjadi presiden negeri itu. Mereka dianggap bertanggung jawab atas pembantaian mahasiswa di Kwangju itu. Artinya, di Korea Selatan, Peristiwa Kwangju yang lebih tua ketimbang Peristiwa Tanjung Priok tetap bisa dibongkar. Padahal, pengusutan Peristiwa Tanjung Priok relatif lebih gampang. Saksinya masih ada. Pejabat yang bertanggung jawab pun masih hidup untuk dimintai keterangan. Lagi pula, menurut Hamdan Zoelva, berdasarkan patokan hukum nasional, sebuah kasus baru bisa dianggap kedaluwarsa bila telah berlalu 16 tahun. "Jadi, Peristiwa Tanjung Priok yang terjadi pada 1984 masih bisa dibuka. Sedangkan berdasarkan patokan hukum internasional, untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran HAM tak ada istilah kedaluwarsa," kata Hamdan. Argumen itu dibenarkan Eko Dahana Djajakarta, dosen Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia. Menurutnya, masa 14 tahun untuk kasus pidana pembunuhan, apalagi yang bersifat massal, belum tergolong kedaluwarsa. Sebetulnya, di kalangan anggota Komnas HAM juga ada yang berpikir begitu. Baharuddin Lopa, misalnya, menganggap kasus HAM yang belum terungkap tak bisa dibilang kedaluwarsa. Tapi mengapa Komnas HAM tak segera turun tangan? "Siapa bilang? Itu salah besar. Selama ini, kami sudah berupaya mencari bukti adanya kuburan korban Tanjung Priok. Kami memang memperoleh masukan dari masyarakat. Tapi masih simpang siur. Itu sebabnya, kami belum dapat menyimpulkan benar atau tidaknya masukan itu," kata Lopa. Priyono B. Sumbogo, A. Latief Siregar, dan Dewi Sri Utami
xxxxxxxxxxxxxx

Hersri Setiawan: Di Sela Intaian catatan tapol g30s/Suharto-CIA pulau buru nomor foto 5397 Penjara Dari Dua Sudut Pandang ADA pepatah mengatakan, "di tengah orang buta, orang bermata satu ialah raja". Benar kah itu? Jawaban nya "ya". Tentu saja kalau kita bertolak dari pendirian: Orang bermata dua sebagai "yang wajar" atau "yang normal", dan yang selain itu sebagai "tidak wajar" atau "tidak normal". Dan tolok ukur untuk "yang wajar" atau "yang normal" itu terletak pada "yang banyak". Jadi, "kewajaran" atau "kenormalan" menurut hukum mayorokrasi! Sehingga dengan sendiri yang minoritas dipandang dan diperlakukan sebagai "kambing hitam" di hadapan yang mayoritas. Nah ini lagi: "kambing hitam"! Dalam ungkapan Belanda, "kambing hitam" ialah "zondebok". Harfiah tak lain ialah "bandot yang berdosa". Tentu saja itu benar dari sudut hukum mayorokrasi alam hewani di belahan dunia yang bermusim dingin. Di sana, di belahan dunia bermusim dingin itu, domba berbulu putih tebal adalah mayoritas, sedangkan kambing berbulu hitam dan tipis nyaris tidak ada. Maka, seandainya kita ini hidup di "jaman ketika Kancil masih pandai berbicara", dan kita lempar ungkapan ini ke tengah dunia binatang di Jawa (baca: Indonesia), masyarakat Kambing Hitam di negeri kita ini pasti akan meng-"kik balik": Kambing Hitam? Apaan tuh! Ganti: Domba Putih! Bilang sama orang orang Belanda itu. Di sini jangan mencari "zondebok", tapi cari lah "zondeschaap"! Sesungguhnya, kiranya, bukan saja ilmu sejarah harus "diputar balik", dari "Barat dan India Sentris" ke "Nusantara Sentris", tapi juga ungkapan ungkapan dalam dunia kebahasaan. Ya, mengapa misalnya, kita ikut ikut latah bilang "Timur Jauh" atau "Timur Dekat", padahal kita ada di kawasan yang disebut Timur itu?! Sekali lagi, di situ pun tampak berlaku hukum mayorokrasi menindas hukum minorokrasi. Padahal, seandainya di tengah masyarakat kambing yang hitam itu ada satu Bandot yang berjenggot panjang, dan arif bijaksana seperti Abunawas, barangkali dengan sabar dia akan menasihati: "Sudah lah, jangan berebut besar. Sebaik nya buang saja lah segala pepatah dan ungkapan yang berbau jenis keturunan, yang tentu saja tidak Sesama-Kratis itu! Seperti di Jaman nabi Suleman itu lho! Atau, nggak usah jaman setua dan di negeri sejauh itu. Di Jawa sendiri di jaman Kleting Kuning itu. Ketika Bango Thonthong membantu Kleting Kuning mencuci dandang, dan Yuyu Kangkang membantu para Kleting menyeberangi Bengawan Silugangga ..." mBeeek! Itu lah pelajaran kebijaksanaan Kambing yang ke-3

pada manusia. Yang pertama ketika Dewi Setyawati di atas pancaka, dan Prabu Anglingdarma urung bersatyagraha. Dan yang kedua, ketika tapol RTC Salemba tak sadar bersorak sorai menyoraki diri sendiri, selagi melihat kambing kambing di lapangan apel memberontak terhadap "konsinyes kawin" yang dipaksakan oleh manusia. * ORANG mengatakan, penjara ialah dunia abnormal. Itu benar. Tapi tentu saja sejauh dipandang dari kacamata "dunia orang baik baik". Dunia "normal". Yang tolok ukur nya tak lain demi langgeng nya kekuasaan dan aman nya harta kekayaan. Mereka yang tak tahan ditindas oleh kekuasaan, lantas mengambil langkah memberontak atau sekedar menggerundel sekali pun, paling sedikit akan dikucilkan dari "masyarakat umum" seperti hal nya Ranggawarsita [1] atau Pramudya Ananta Toer. Lebih dari itu bahkan bisa terjadi akan diculik atau diciduk, dan dilempar ke penjara atau langsung didor atau dipetrus. Mereka ini orang orang "abnormal" alias "tidak baik". Karena itu Romo Mangun menulis, yang aku setujui seratus prosen, begini al.: "Gerundelan adalah hak (dan kadang-kadang kewajiban) orang dina lemah miskin."[2] Golongan orang orang "abnormal" dan "tidak baik" yang lain ialah mereka yang, oleh orang orang baik dan normal, digolongkan sebagai "penjahat" dan "pelacur". Terhadap mereka ini absah absah saja hukum nya jika mereka digaruk atau dibersihkan, dan dilempar ke hotel perdeo atawa bahkan langsung dipetrus, dibungkus karung, dan lalu di buang di tempat sepi. Marsinah, contoh nya! Celakanya, di Indonesia, cap "abnormalitas" atau "tidak baik" itu akan berlaku abadi turun temurun, jika pada nya berembel embel sebutan "G30S-PKI". Embel embel cap yang demikian itu akan menjadi tambahan kebusukan untuk apa yang disebut "dosa asal", yaitu dosa yang turun temurun sejak dari Adam dan Hawa. "Dosa asal" G30S-PKI ini tidak akan mungkin dibersih kan selama lamanya, karena pintu ritus penyucian yang disebut "P4" adalah tabu dimasuki para tapol G30S-PKI dan pelacur. Di dalam golongan orang orang "abnormal" dan "tidak baik" seperti itu lah aku termasuk. Karena itu aku akan menolak, jika kepada ku hendak dipaksakan pendapat bahwa "dunia penjara" ialah "dunia abnormal" atau "dunia tidak baik". Yang benar ialah, bahwa "dunia penjara" bukan "dunia bebas". Karena itu masing masing mempunyai nilai nilai dan kaidah kaidah nya sendiri sendiri. Di "dunia bebas" tidak akan terjadi orang orang dewasa mandi bersama, bertelanjang bulat bulat di sekitar sumur yang terbuka. Di "dunia bebas" tidak akan terjadi satu cangkir berangkap gawai: siang hari alat minum, malam hari menjadi pispot. Di "dunia bebas" tidak akan terjadi satu batang rokok

diisap oleh tujuh mulut berganti ganti. Tapi semuanya itu terjadi dengan amat sangat wajar saja di "dunia penjara". *** WAKTU itu kami bertiga sekeluarga masih tinggal di Tebet Jakarta Selatan. Suatu siang istriku, pulang bekerja, diliputi suasana risau yang luar biasa. Sesudah meneguk segelas air putih di atas meja, tangan nya langsung menyambar gagang telpon. Segera pula suara nya terdengar gemetaran meledak ledak. Wajah nya merah oleh bakaran matahari Jakarta, ditambah oleh amarah yang tertahan. Lawan bicara, di ujung telpon sana, seorang nyonya Belanda, ibu salah seorang murid. Istriku pengajar di sekolah internasional Belanda NIS (Nederlandse Internationaal School) di Slipi waktu itu. "Apa yang terjadi?" Tanya ku setelah gagang telpon ditaruh, dan kami bersiap memulai makan siang. "Kasih peringatan saja pada ibu itu," katanya menyebut sebuah nama. "Supaya jangan suka membicarakan privacy rumah tangga orang. Apalagi kalau tidak tahu duduk soal nya, dan di depan anak kecil lagi!" "Kita yang mereka bicarakan?" "Ya." Istriku lalu cerita tentang apa yang terjadi pada menit menit terakhir di klas siang itu. Pada menjelang akhir pelajaran, dalam kesempatan tanya jawab, salah seorang anak mengacung dan bertanya: 'Kata Mama suami Ibu bekas orang tahanan. Benar itu, Bu?' Kata istriku menirukan pertanyaan murid itu. Untung jam pelajaran segera habis, sehingga persoalan itu sementara selesai. "Karena itu kau jadi panik?" "Ya. Karena aku tidak tahu, harus menjawab bagaimana. Seperti petir suara anak itu! Petir masih bisa dielakkan, tapi pertanyaan murid di dalam klas?" "Tapi anak itu tidak salah, bukan?' "Memang tidak." "Dia cuma ingin mencari tahu, pada orang yang bersangkutan, yaitu kamu atau kita, apakah yang dikatakan mama nya itu benar. Dan sebenarnya memang benar .... Bukan?" "Memang benar. Cuma ..." "Nah, kenapa mesti panik di depan kebenaran?" Istri ku terbelalak. Bola matanya berkilatan, digenangi bening air mata nya yang bersembulan. Kuhampiri ia di tempat duduk nya. Kurapat kan wajah nya ke dadaku, dan kucium ubun ubun nya. "Tidak usah panik." Bisik kata ku menghibur. "Mari kita terima kebenaran itu dengan lapang dada. Itu lah beban mu, sebagai istri tapol G30S-PKI di Indonesia!" "Aku tahu itu, dan aku tidak takut. Aku bukan hendak menutupi kebenaran. Bukan itu. Jangan kamu salah terima!" Ia memrotes aku. Karena ia merasa aku telah menuduhnya. "Kamu tahu, aku tidak menyukai kebohongan," tegasnya. "Tapi soal ini terlalu sulit untuk dimengerti anak sepuluh

tahun, bagaimana soal itu harus dijelaskan. Orangtua anak itu yang kusesali. Kenapa dia ceroboh di depan anak. Bicara tentang soal yang sama sekali tidak mereka ketahui!" Istriku benar. Tapi aku tidak tahu harus bicara apa. Ya, bagaimana besok pertanyaan anak itu harus dijelaskan. Penjelasan itu tidak hanya penting untuk si anak dan orangtuanya, tapi juga untuk guru guru dan bahkan semua masyarakat Belanda yang ada hubungan nya dengan sekolah di mana istriku mengajar. Kehadiran istriku, aku dan anak tunggal kami menjadi pertaruhan di situ. Aku lalu mengerti, mengapa istriku begitu panik karenanya. "Anak anak Belanda itu lahir dan dibesarkan di tengah keluarga dan masyarakat yang serba tenteram dan teratur." Kata istriku lagi. "Buat mereka itu kata "penjara" sama tabunya dengan kata "mati". Harus disingkiri dan tidak jadi bahan pembicaraan." Pada akhir pembicaraan kami istriku memperoleh kesimpulan. Begini antara lain: Mengapa aku harus menjadi kalut? Apakah salah orang pernah dipenjarakan? Apakah penjara itu sejatinya? Siapa kah yang membangun penjara, dan dengan tujuan apakah penjara dibangun? ... Sesungguhnya aku sama sekali tidak perlu gundah mendengar pertanyaan semacam itu. Di sekolah aku mengajar agama. Dan di dalam sejaarh agama ada cerita Paskah, yang menceritakan tentang Barabas si penjahat dan Yesus sang Politikus. Si penjahat, walaupun jelas bersalah, dibebaskan. Sedangkan sang Politikus, justru dibunuh. Padahal tanpa kesalahan. Bagaimana itu bisa terjadi? Ini lah yang harus kuceritakan di depan klas. Supaya menjadi pengetahuan anak anak, bahwa penjara bukan "hotel prodeo" untuk penjahat menurut kacamata pemegang kekuasaan. Kemudian hari raya Paskah tiba. Aku kembali bercerita tentang Yesus dan Barabas. Kali ini titik perhatian ceritaku tidak pada pembukaan kesadaran anak tentang apa penjara, tapi kuletak kan pada kenyataan ketidakadilan yang aneh tapi berlaku itu. Yesus tidak sekedar seseorang yang mati demi dosa dosa orang orang yang hidup saja. Perhatian cerita Paskah ku kutumpahkan pada cara bagaimana Yesus dijatuhi hukuman mati ... Dengan demikian Kisah Paskah sesungguhnya bukan merupakan suatu kejadian di dalam sejarah agama di masa lalu saja. Tapi merupakan kenyataan hidup yang setiap hari bisa terulang terjadi. Kenyataan ketidakadilan ini lah yang terlebih membikin gundah hatiku, dan bukan pertanyaan si gadis cilik murid ku itu. Aku justru harus berterima kasih untuk pertanyaan nya. Karena dia lah kesadaran baru timbul padaku, tentang penjara dan tentang Yesus Sang Penebus. Yesus, seorang Tokoh Politik yang menjadi kurban belaka di antara berjuta juta kurban lain lain nya ...[3]

Penjara, kata orang yang suka dan mau belajar, adalah ibarat balai pendidikan dan pengajaran. Suatu ibarat yang tidak berlebihan. Karena penjara, yang bagi penglihatan "orang merdeka" merupakan "dunia tidak normal" itu, justru telah membukakan mata orang kepada keserba tidak normalan yang diabsah kan di "dunia normal". Di dalam penjara bukan hanya tubuh orang orang nya yang tampil telanjang, tapi juga setiap ceruk dan liku pribadi masing masing terbuka dengan terang. Di sini harkat manusia terhampar seperti ada nya, tanpa hiasan simbul simbul yang direkayasa dan disemat kan oleh kekuasaan apa pun bentuk nya. Maka dari itu, di tengah kehidupan penjara, yang pemimpin di dunia merdeka belum tentu tetap pemimpin; yang tokoh terhormat dan berjaya di masa damai boleh jadi telah berubah sebagai sampah yang tak bernilai. Pendek kata, di tengah kehidupan tapol ini aku seperti berhadapan dengan gelanggang pertandingan. Aku tapol Jakarta, yang tak mengenal dan tak dikenal, merasa seperti sendiri duduk di sudut. Di depan ku berlangsung, seperti apa yang pernah ditulis Ho Chi Minh, "perlombaan di mana mana, yang satu harus kalah, yang lain harus menang". Perlombaan antara para calon pemuka yang saling bersaing suara dan berebut tempat di tengah massa. Sementara itu di angan angan pendengaran ku terdengar lagu dolonan anak anak desa: "Paman paman tani yutun den emut aja age age nyebar srantek na den sabar yen udan tumurun ndang sebarna mesthi becik tandurane ..." Paman paman tani tekun, ingat lah jangan buru buru nyebar tunggu dengan sabar sampai hujan turun baru sebar lah pasti bagus tumbuh nya ...*** (BERSAMBUNG) Catatan: [1] Tentang gerundelan Ki Ranggawarsita, lazim nya orang merujuk pada Benedict R.O'G.Anderson yang mengajukan bait ke-1 dan ke-2 "Serat Kalatidha", disusul dengan bait ke-7 ("Amenangi jaman edan") yang terkenal itu. Tapi tentu boleh juga ditambahkan di sini dengan, misalnya, "Serat Sabdajati" (Megatruh) bait ke-12 dan ke-13: Para janma sajroning jaman pakewuh / kasudranira andadi / daurune saya ndarung / keh tyas

mirong murang margi / kasetyan wus ora katon // Katuwone winawas dahat matrenyuh / kenyaming sasmita yekti / sanityaseng tyas malatkung / kongas welase kapati / sulaking jaman prihatos // Terjemahan: Orang orang di jaman sulit / rendah budi menjadi jadi / tindak rusuh makin berlarut / banyak niat sesat salah jalan / kesetiaan tak lagi menampak // Kenyataan terlihat sangat mengharukan / menurut rasa sasmita yang benar / senantiasa menyedihkan hati / tampak betapa sangat ibanya / oleh suasana jaman prihatin//. [2] YB. Mangunwijaya, Gerundelan Orang Republik, Pustaka Pelajar 1995. hal.i. [3] Jitske Mulder, N.I.S. dalam The Quartering, naskah 1987.

xxxxxxxxxxxxxxxxxx Di Sela Intaian (catatan tapol g30s/sht-cia pulau buru) nomor foto: 5937 Perjalanan Menuju "Pulau Harapan" Meninggalkan Tangerang Seluruh penghuni Kamp Tangerang baru saja dilepas dari isolasi berat. Dilepas bukan karena bisikan hati nurani penguasa. Tapi karena dua alasan, paling tidak. Pertama, ke mana muka akan disembunyikan dari tatapan mata hari, jika setiap hari ada sekitar sepuluh tapol mati kelaparan - seperti yang terjadi dalam tahun tahun 1967-68? Kedua, kesibukan penguasa menyusun skenario "Buru Pulau Harapan", yang ibarat gunting bermata dua. Mata yang satu berujung pada pembuangan dan pembunuhan tapol perlahan lahan jauh dari pusat kekuasaan, dan mata yang lain berujung pada pemanfaatan tenaga kerja yang mubazir. Demi menunjang "program pembangunan nasional" di kawasan timur Indonesia. Dalam dunia pewayangan, sama seperti keluarga Pandawa yang digelandang untuk dijadikan sebagai "bekakak" kesejahteraan kerajaan Astina. Dari sudut ini maka apa yang disebut "Peristiwa Tangerang", dari terbunuhnya tapol Silitonga sampai tergulungnya PKI bawah tanah Slamet Wijaya, hanya satu atau dua adegan dari skenario panjang "Buru Pulau Harapan", yang sedang sibuk mereka rancang itu. Hari-hari itu suasana dalam kamp juga berubah. Tidak ada kegiatan mengaji dan pengkajian Pancasila. Waktu lalu kuisi dengan menemui teman-teman yang pernah kukenal, yang dalam satu blok tentu saja, mendengarkan cerita pengalaman mereka, khususnya tentang proyek pertanian Kodam V Jaya yang dikerjakan Tapol Tangerang. Dalam pada itu ada sementara teman tertentu, barangkali sisa-sisa kader Slamet Wijaya yang lolos

dari pembersihan, mengajak bicara tentang apa yang harus dilakukan selama di kapal, bagaimana mengatur tenaga menggendong teman-teman yang tua atau lumpuh dari sejak mendarat sampai ke unit dan sebagainya. Tidak kurang penting masalah me-"rehab" 1) teman-teman yang lumpuh dan kurus kering, sebagai akibat isolasi berat beberapa bulan di Tangerang. Teman-teman yang gemar merajin lain lagi kesibukan mereka. Mereka menawarkan jasa untuk membuat ransel dari bahan goni, karung bekas pupuk urea, atau kantung gandum. Entah dari mana mereka pada bisa mendapatkan bahan bahan itu, aku tak mengerti. Tentu saja dengan sekedar imbalan dari si peminta jasa. Misalnya, gula merah, tembakau, singkong rebus, sejumlah uang dari tiga ringgit sampai dua puluh lima rupiah. Pendeknya apa atau berapa saja. Ada lagi yang membuat label indah-indah, dengan "benang" warna-warni yang dilolosi dari berbagai gombalan. Ada lagi yang menganyam tas tas dari pintalan tali tali plastik, kemudian dijual dengan harga sepuluh sampai lima belas rupiah. Tidak usah heran jika kusebut perkara uang. Sudah sejak di Salemba kuketahui, tentang adanya peredaran uang di kalangan tapol yang sudah bertahun-tahun di penjara itu. Tapol "kaya" dan tapol "miskin" sesungguhnya sudah terbelah sejak masih di tempat tahanan operasional, yaitu sebelum mereka dipindah ke RTC RTC Salemba, Bukitduri atau Tangerang. Seorang pemuda bernama Suripto, berasal Solo, anggota Cabang Lekra dan Pemuda Rakyat. Sesudah dimutasi 2) ke Jakarta, ia aktif di Paduan Suara "Gembira" yang semasa dipimpin Subronto K. Atmodjo pernah sangat terkenal. Pagi itu ia menyodorkan kepadaku sebait syair untuk lirik lagu "Mars Ransel Goni" yang sedang disiapkan nya. Bukan saja untuk menyemangati teman-teman sependeritaannya yang hendak "diburukan", tapi juga untuk mengabadikan kejadian itu dalam sebuah lagu. Rupanya ia terpengaruh oleh kecenderungan pimpinan nya, Bung Bronto, yang selalu rajin berusaha mengabadikan kejadian-kejadian sejarah dalam lagu, khususnya pidato-pidato 17 Agustus Bung Karno setiap tahun. Lagu lagu "jenis sejarah" komposisi Bung Bronto itu, di antara, "Nasakom Bersatu", "Resopim" (Revolusi - Sosialisme - Pimpinan Nasional), "Sukarelawan". Sebuah lagu berirama mars, enam baris sederhana, akhirnya jadi tersusun oleh Bung Ripto. Ia menulis seluruh notasinya, dan aku memoles kata-kata syairnya. "Sayang" sekali Bung Ripto sendiri tidak pernah ikut "diburukan", sehingga sejak itu sampai sekarang tak kutahu di mana dia berada ... * Jatah satu muk 3) air bening panas dari penjara sudah dibagibagi. Sepotong singkong rebus, sisa besukan teman seriungan

kemarin, juga sudah di tangan kami masing-masing. Terlalu pagi hari itu kami sarapan. Tergerak oleh suasana tak menentu yang semakin terasa memburu. "Ambil cepat tiap sempat!", memang menjadi semboyan kami setiap tapol. Juga dalam hal makan. Masuk mulut dan telan selagi sempat. Memang tidak jarang terjadi, kami sudah duduk bersila "ngariung". Makanan jatah penjara ditambah besukan sudah dibagi-bagi, suap pertama sudah diangkat ... tiba-tiba, sebelum sendok masuk mulut, petugas sudah berdiri di depan pintu sel, dan berteriak menyerukan nama-nama. Itu berarti yang terpanggil harus segera berdiri, dan bersiap menghadap ke depan! Dan "menghadap ke depan" itu bisa berarti macam macam. Interogasi ulang, dan ini biasanya berangkai dengan caci maki dan siksaan; pindah sel, pindah blok, pindah kamp; atau dibon 4) Dan "dibon" ini bisa berakhir dengan hal yang paling buruk: "dimangkubumikan" 5). Karena itu tidak ada tapol yang menundanunda waktu makan. Kecuali jika dia sedang terlalu sakit. "Jatah makan sendiri saja, sebelum masuk perut, belum tentu itu milik kita!" Begitu Siswondo berkata. Lain lagi Karta bin Deris, tapol muda yang tak pernah bermuram muka, bekas Pemuda Rakyat Pasar Minggu Jakarta. "Ayo, mau apa sekarang? Sesumbar nya seusai makan. Mau perang kek, samber geledek kek ... pokonya gue udah makan nih!" Pagi hari itu pun demikian. Air belum diminum, dan singkong belum habis dimakan. Tibatiba di pintu gerbang blok sudah muncul seorang petugas. "Semua siap!" Perintahnya. "Panggilan ke depan segera akan mulai!" Memang. Dari arah lapangan apel pengeras suara segera terdengar bunyi dengung dan cuat cuit memekakkan. Kemudian bunyi kepala mikrofon diketuk ketuk: "satu dua tiga satu dua tiga percobaan percobaan ... satu ..." Langit Tangerang terasa seperti sesak tiba-tiba. Pengeras suara, megafon, deram derum entah berapa puluh kendaraan bermotor. Belum lagi teriakan perintah para petugas dari sel ke sel, kata kata caci maki, bentakan dan jerit tapol yang kena pukul atau tendang. Aku pun telah siap menunggu giliran. Sejak pindah dari Salemba ke Tangerang aku memang terus selalu siap. Bahkan pada waktu tidur pun kemeja dan celana panjang selalu kupakai.

Sehingga kapan saja panggilan datang, aku tinggal menggulung tikar. Dan siap. Nama nama tapol demi tapol, lengkap dengan bin atau bintinya, ditambah dengan nomor register dan nomor foto 6), diteriakkkan melalui megafon berturut-turut. Pada sekitar jam sepuluh, melihat ketinggian matahari, nama ku diserukan. Aku segera bergabung dalam barisan tapol yang berjalan sangat perlahan, satu demi satu, meliwati pagar para petugas. Suasana hiruk pikuk seperti keramaian pasar malam. Di depan beberapa petugas di ujung sana, kami harus membuka barang bawaan kami masing-masing. Kecuali pakaian, sikat gigi dan sabun - bagi yang punya - tidak ada barangbarang lain boleh dibawa. Tikar, selimut, bantal dan kasur aku heran ada sejumlah tapol yang punya bantal dan kasur! alat makan dan minum juga tidak boleh dibawa. Petugas-petugas penggeledah melempar lemparkan barang-barang larangan itu ke pinggir lapangan apel. Wasga, seorang teman tapol asal Indramayu, sembunyisembunyi berusaha menyelamatkan piring dan cangkir miliknya. + Buang! Perintah petugas dengan mata mengancam. - Ini baru Pak! Kata Wasga. Kiriman keluarga saya. Baru kemarin ... + Goblok! Tinggal! Dan ditendangnya tangan Wasga. Piring dan cangkir di tangan nya melayang jatuh berkeping-keping. + Goblok! Di sana kamu semua nanti dibagi piring cangkir porselen bagus-bagus dari Cinkom 7). Kesukaanmu!" Suara petugas lain. "Juga kasur, bantal dan tikar. Kamu semua akan dikasih. Tinggal saja kasur dan tikar bodol-bodol begitu. Biar nanti dibakar para petugas ..." Memang bukan main banyak nya petugas hari itu. Melihat seragam yang mereka pakai, terdiri dari berbagai kesatuan: Hansip, Korpri penjara dan kejaksaan, dan terutama Angkatan Darat tentu saja. Selesai penggeledahan satu demi satu kami dibariskan ke tempat lain. Di sana seorang petugas meneriakkan nama kami, yang harus kami jawab dengan teriakan tak kalah lantang: nomor register dan nomor foto. Sesudah tunduk menghormat, petugas lain memberi kami anugerah: kemeja lengan pendek dan celana panjang keki berwarna coklat-hijau, dan topi bambu bikinan Tangerang. Topi bambu. Aku lalu ingat pelajaran sekolah, ketika masih di kelas I SD. Pak Bei Harjautama, dalam pelajaran "ilmu bumi", mengatakan, sejak jaman Belanda dulu Tangerang terkenal dengan kerajinan anyaman bambu.

"Nomor bajumu (sekian)." Kata petugas itu sambil menulisnulis di lembaran kertas lebar. "Hafalkan itu. Jangan sampai lupa!" Perintahnya. "Awas kalau lupa!" Timpal yang lain. Aduh! Batinku. Tambah sederet angka-angka lagi harus kuhafal. Dengan otak yang setiap hari ditunjang dengan sepuluh suap nasi apak dan secangkir air bening! Harus menghafal begitu banyak deretan angka angka? Kami lalu digiring ke penjuru lain di lapangan itu. Bergabung dengan banyak teman yang sudah lebih dulu menunggu di sana. Di sini kami harus telanjang. (Pemandangan yang aneh juga! Begitu banyak petugas, tapi tidak ada seorang pun petugas perempuan? Negri ini memang negri laki laki serdadu saja rupanya!). Kami semua mengganti pakaian sendiri yang melekat di badan, dengan pakaian jatah pembagian dari "pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Bapak Jendral Suharto yang baik hati". Kata-kata itu entah sudah berapa puluh kali pagi itu kami dengar dalam setiap pidato, setiap kali kami pindah dari barisan satu ke barisan lain. Benar. Di dada kemejaku tercetak angka berwarna hitam, besar: 348. Demikian juga di pantat celana, tercetak angka yang sama. Ingatanku melayang ke abatoar di pinggir Kali Gajahwong di Yogya. Sapi sapi yang digiring ke pembantaian, semua dicap dengan angka angka dari logam panas yang dibakar, pada kedua sisi pinggul mereka yang gembung itu. Andai kata sapi sapi itu bercelana dan berbaju, tentu saja mereka tak perlu menderita merasai panasnya logam bakar. Ah, kami para tapol masih beruntung ketimbang sapi. Benar. Pak Harto dan Orde Baru nya memang baik hati. Terimakasih, ya Pak! Tanpa diberi kesempatan beristirahat, jangan sebut makan dan minum, kami harus menunggu sampai semua urusan rampung. Jarum pendek jam tembok tua di atas pintu gerbang penjara menunjuk angka dua. Kami diperintahkan meninggalkan lapangan, berbaris menuju truk truk terbuka, yang sudah menunggu kami, berderet deret di halaman dan jalan depan penjara. Setiap truk diisi satu kelompok lima puluh orang, yang berdasar atas urutan nomor baju. Kelompok dan urutan nomor ini diharuskan terus berlaku, baik nanti di kapal maupun suatu hari jika sudah mendarat, dan masuk ke barak barak di unit yang dituju. Hampir semua tapol menggendong ransel goni. Satu dua saja tapol yang kaya. Mereka menggendong ransel dari kantung urea atau kantung terigu. Ada yang tipis gendongan mereka, tapi banyak juga yang bukan main besar - entah apa saja isinya! Barangkali sekedar gombalan gombalan, seperti layaknya jika

orang tua sudah "nyusuh". (Kata orang Jawa, orang tua yang sudah mulai suka "membuat sarang" demikian, pertanda ia sudah pasrah pada akhir hidup nya). Pada umumnya hanya menggendong satu ransel, atau menjinjing satu bungkusan kecil, tapi tidak sedikit juga yang merepot diri sendiri dengan terlalu banyak bawaan. Seperti orang mau berangkat transmigrasi. Aku sudah di atas truk. Sepatah keharusan sudah tertunai. Ketegangan mulai sedikit mengendur. Mataku punya kesempatan melihat kawan-kawan di sekitar. Aneh, pikirku. Sesudah lima tahun lebih di penjara, masih ada juga yang tidak canggung bersepatu dan berarloji tangan. Lagi pula, pikirku lagi, bagaimana mereka bisa menyembunyikan barang-barang itu dari mata petugas? Sedang aku? Alat pemotong kuku pun aku tidak bisa menyelamatkan! Aku pun masih bersepatu dan berarloji, ketika dipindah dari tempat penahahan KKO-AL di Pasar Minggu dan masuk ke RTC Salemba. Jadi selama masih di tahanan operasional "Ikan Paus" 8) belum semua hak ku dirampas sama sekali. "Arloji dan sepatu tinggal saja sini!" Perintah seorang Peltu, yang menerima aku di Salemba hari itu. "Kami simpan semua di gudang. Besok kalau sudah bebas boleh diambil." Tambahnya, tanpa menyebut kapan "besok" itu. Aku turuti perintah Peltu itu. Kenapa tidak? Jangan lagi sepatu dan arloji, bahkan pemotong kuku terlarang dimiliki tapol. Tapi aku tidak ada nafsu untuk bertanya. Ah, apa guna pertanyaan seorang daif di depan kekuasaan? Ya. Aku cuma bisa berdialog dengan diri sendiri. Sesungguhnya apa salahnya tapol, bahkan takrim pun, bersepatu dan berarloji. Aku lantas ingat salah satu foto ilustrasi Di Bawah Bendera Revolusi Bung Karno. Bung Karno sedang menaiki tangga kapal, yang hendak membawanya ke pulau pembuangan, Endeh. Gagah dia. Berpeci hitam, bercelana panjang putih, kemeja putih lengan panjang, berdasi bersepatu hitam mengkilap. Sudah pasti dia berarloji. Dan di belakang dia, para pengiring terutama Ibu Inggit. Istrinya. Jadi, ketika itu, bahkan membawa istri pun boleh. Tapi Bung Karno tapol tahun 30-an, dan kami tapol tahun 70-an. Bung Karno tapol pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sipil, sedang kami tapol pemerintah merdeka Republik Indonesia yang militer. Bayangkanlah, andai kata ketika itu Bung Karno dan Ibu Inggit juga diberi pakaian keki bernomor besar-besar di dada dan di pantat, dan menggendong ransel goni! Berangan-angan begitu aku menarik napas dalam dalam. Mudahmudahan, betapa juga pun, rombongan ini - juga seperti Bung Karno dan kawan kawan - berangkat menyongsong hari depan

mereka dengan kepala tegak dan dada membusung ... Hari masih panjang. Kisah belum lagi habis. Justru sedang hendak dimulai. Menjadi tapol yang dibuang berarti menjadi orang yang telah kehilangan segala-galanya. Sampai "nama" atau "j=EAn=EAng" pun hilang sudah. Bagi tapol, dalam keadaan yang seperti itu, kesempatan untuk berusaha memperpanjang umur pun telah menjadi semakin sempit. Kesempatan itu, tidak bisa lain, harus dicuri untuk mendapatkannya. Pada teman-teman tapol muda dari Tangerang, yang sekarang di sekitar ku inilah, aku perlu belajar banyak. Belajar mencuri pertama-tama. Memb=E8b=E8d, istilah mereka. Membebed hak untuk hidup. Kepandaian mereka mencuri hasil produksi pertanian itu, yang notabene hasil keringat kerja sendiri, tak lain adalah pernyataan usaha pembebedan kesempatan agar tetap survive. Truk truk yang mengangkut kami bercat hijau tua. Truk truk Angkatan Darat, yang kelihatan masih serba baru. Di samping sopir, duduk seorang pengawal berpangkat kopral. Memegang karaben, dengan bayonet terpasang. Dua orang CPM berpestol di pinggang, di atas sepeda motor, mengapit setiap truk. Setiap truk diisi dengan 50 tapol, dihitung berurut sesuai dengan nomor baju. Truk yang kunaiki diisi tapol dari yang bernomor baju 401 sampai dengan 450. Tidak disediakan tempat duduk di atas truk itu. Semuanya berdiri, saling berpegang tubuh sesama kawan. Ada tiga yang lumpuh, akibat masa isolasi di Tangerang, dan harus selalu digendong, yaitu: Pak Ruslan (Purwokerto), Pak Aminta Kemo (Indramayu), dan Mang Jumsa bin Ebed (Jakarta). Heru Santoso, tapol muda bekas pemimpin CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) Surabaya, bernomor baju 436. Dua angka di bawah nomor ku. Satu angka langsung di bawah ku Syamsudin Gobel, Pemuda Rakyat, anggota regu pengawal Wakil Ketua II CCPKI Njoto. Ia baru khitan pada suatu hari, sesudah lama menjadi tapol dan menghuni Unit XV Indrapura Buru. Entah bagaimana ceritanya, Komandan Unit menjadi tahu bahwa ia tidak khitan, padahal tercatat sebagai Islam. Mungkin karena kulit nya yang kuning dan matanya yang agak sipit, seperti Tionghoa, sehingga dicurigai keislamannya. Atau karena dilapurkan oleh sesama "kawan" tapol. Sehingga tubuhnya "digeledah". Nomor 441, Slamet Karyadi, anggota barisan keamanan kantor CCPKI di Jalan Kramat Raya 81 Jakarta. Julukan "Slamet Kondor" dari kami, diterimanya dengan lapang dada. "Kondor" ialah penyakit burut atau hernia. Karena penyakit nya itu, bola kemaluan nya membesar sebesar cengkir, akibat siksaan yang dialami selama masa pemeriksaan di Jakarta. + Pak Her! Kata Heru sambil menghadap ke belakang, bertelekan pada kepala truk. Aku tentang matanya dengan dada berdebar. Aku takut dia mau mengajak beramai-ramai

melakukan "aksi perlawanan". + Begitu pintu gerbang kita liwati, kita menyanyi bersama. - Lagu apa saja? + Apa saja. Nanti akan berantai dari truk paling depan sampai paling belakang. Iring iringan truk mulai bergerak. Satu demi satu meninggal kan halaman dalam RTC Tangerang. Maka bergemalah paduan suara dari atas belasan truk. Syair demi syair membahana, "Bangun lah kaum", maksudnya "Internasionale", Halo Halo Bandung, Sorak Sorak Bergembira, Darah Rakyat, Dua Belas November, dan berbagai lagu revolusioner lainnya. Udara siang Jakarta seperti bertambah panas. Siang itu diberangkatkan 850 tapol. Truk yang kunaiki, kira-kira berada di tengah tengah konvoi. Dalam konvoi yang amat panjang, di tengah derum deram bunyi berbagai kendaraan bermotor yang melaju sangat cepat, hingar bingar suara paduan suara itu sebenarnya hanya menambah bising saja. Lebih tertuju kepada diri para penyanyi sendiri ketimbang pada siapa pun. Lagi pula sepanjang jalan yang kami lalui sunyi lengang belaka. Lalu lintas umum ditutup. Orang lalu lalang dilarang. Masyarakat dilarang menampak kan diri di sepanjang jalan yang diliwati konvoi. Yang menampak di pinggir jalan, hanya deretan serdadu-serdadu Angkatan Darat dalam siaga tempur, yang berdiri membelakangi jalan pada jarak sekitar setiap 50 meter. Paduan suara dari atas barisan truk yang melaju terus membahana. Perhatian ku lebih pada jalan raya sepanjang Tangerang - Jakarta yang belum pernah kukenali. Tak ada nafsu ku untuk ikut menyanyi. Entah mengapa semua lagu-lagu yang perkasa itu terdengar hambar belaka. Lagu "Bangun lah kaum" itu misalnya. Padahal sekitar dua puluh tahun lalu aku pernah dibikin nya menitik kan air mata. Ketika itu aku, bersama rombongan siswa-siswa Unra (Universitas Rakyat) 9) Yogyakarta, berziarah ke makam Ngalihan Solo. Di makam yang terletak di pojok sawah, di sebuah desa kecil ini, terkubur jasad tokohtokoh FDR (Front Demokrasi Rakyat): Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Jokosuyono, Oei Gee Hwat, Suripno, dan seterusnya sampai sebelas orang. Berdiri di depan kubur mereka itu kami, dengan khidmat, bersama sama menyanyikan "Internasionale". Angan-angan ku melayang ke masa kanak kanak. Suatu hari di tahun '48 koran koran di ibukota RI saat itu, Yogyakarta, memuat foto sebelas tokoh FDR beberapa detik sebelum mereka dieksekusi. Tidak begitu terang foto itu. Tapi wajah dan sosok Mr. Amir Sjarifuddin, yang sangat akrab bagi angan-angan ku, dengan mudah kukenali. Kacamata, rambut ikal,

tapi tanpa huncue di foto itu. Ia, seperti sepuluh yang lain, berdiri tegak menatap ke depan. Kedua tangan mereka di belakang - tentunya diikat. Di latar belakang foto, sebuah lubang kubur bersama yang panjang, sepanjang deretan mereka berdiri. Berita yang menyertai foto menyebut, antara lain, Bung Amir - begitu ia saat itu dikenal - minta waktu untuk menyanyikan dua lagu: Indonesia Raya dan Internasionale. Dan menyanyilah langit Ngalihan, yang masih basah dengan embun pagi buta itu, mengantar sebelas tokoh Komunis Indonesia, mengakhiri perjalanan peranan sejarah mereka. Paduan suara masih tetap membahana. Serdadu-serdadu pengawal seperti cuek saja. Pasti bukan karena belum pernah dengar, atau lupa pada lagu-lagu itu. Mereka tentu ingat, sedang lagu "Genjer Genjer" 10) dan "Blanja Wurung" 11) pun menjadi larangan Negara. Apa lagi lagu lagu "merah", seperti yang dinyanyikan ratusan tapol dengan penuh semangat siang hari itu. Barangkali komandan pengawal konvoi ini berpikir sama, seperti komandan regu tembak yang menghabisi nyawa sebelas tokoh FDR tiga puluh tahun yang lalu. Biarlah mereka menyanyi, sebentar lagi toh hilang sudah dari pemandangan ... (BERSAMBUNG) _______________________________ 1. Dari kata "rehabilitasi", pemulihan ke kedudukan semula; tapi dalam kamus tapol G30S mempunyai arti lebih khusus: pemulihan kesehatan. 2 "Mutasi", istilah yang lazim dipakai di kalangan organisasi PKI dan ormas ormas di bawah pengaruh nya. dan dikenakan pada "pemindahan" kader, biasanya ke tingkat yang lebih atas atau ke ibukota. 3 Istilah penjara untuk cangkir alat minum dari aluminium; mungkin dari kata Belanda "mok". 4 Harfiah berarti "dipinjam"; tetapi di penjara tapol berarti dipanggil ke depan dan tidak kembali, untuk selama-lamanya, atau untuk sementara waktu. 5 Kata pelembut untuk "dibunuh" (terjemahan harfiah "dipangkutanahkan"); istilah ini tidak lahir dari kalangan tapol, tapi dari kalangan penguasa. Kata itu juga yang diucap kan Kodim pada istri dan anak anak Trubus Sudarsono, pelukis dan pemahat "Pelukis Rakyat" Yogya (1966). 6 Nomor register ialah nomor daftar induk sebagai tapol; sedang nomor foto, ialah nomor urut sebagai tenaga kerja "Tefaat" Buru. 7 Akronim untuk "Cina Komunis". 8 Dinas intelijen ALRI, ketika setiap angkatan masih mempuinyai dinas intel sendiri-sendiri; Komandan "Ikan Paus" ketika itu Kol (P.) Sardjono Suprapto yang, dalam awal 70-an sampai awal 80-an, menjadi Wakil Gubernur Jakarta Raya. 9 Universitas Rakyat, didirikan oleh PKI di berbagai kota, antara lain di Yogya dan Semarang, di mana aku salah seorang

pengajar nya. Murid-murid yang diterima, selain tamatan SMA yang tak mampu melanjutkan belajar, juga kader-kader PKI tingkat CS (Comite Seksi). 10 Lagu rakyat Banyuwangi, diaransemen M. Arief, anggota Lekra Cabang Banyuwangi (1964), yang segera menjadi populer. Sesudah G30S terjadi, dituduhkan sebagai lagu yang sengaja disiapkan oleh Lekra/PKI untuk iringan tari "Harum Bunga", tarian "upacara pembantaian enam jendral" di Lubang Buaya oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat. 11 Lagu Jawa gubahan Suyud, Sekretaris Lekra Jawa Tengah. Judul lagu yang berarti "Tak jadi belanja" itu berisi kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah Sukarno. Untuk membantu menaggulangi kesulitan hidup rakyat kecil, PKI melancarkan gerakan ekonomi tambal sulam, yang diberi nama "Gerakan Seribu Satu" (lk. 1962).

xxxxxxxxxxxxxxx

SURAT TERBUKA UNTUK MENHANKAM/PANGAB JENDRAL TNI WIRANTO SOAL "PERKOSAAN MASSAL" Oleh: Prof DR Saparinah Sadli Akhir-akhir ini muncul berbagai tanggapan negatif sehubungan dengan terjadinya perkosaan massal selama 13-14 Mei yang lalu. Yang menarik perhatian adalah adanya pihak-pihak yang mempertanyakan kebenaran pemberitaan media massa tentang perkosaan massal tersebut, dan menduga pemberitaan itu sebagai propaganda politik untuk menjatuhkan nama Indonesia, serta hanya 'upaya sistematis' untuk menambah buruk citra Indonesia di luar negeri. Berita seperti ini sangat menyesatkan, menutup mata terhadap kenyataan, dan perlu segera disikapi bersama, demi pemulihan luka mendalam yang telah dialami bangsa kita yang menjunjung tinggi asas keadilan sosial. Dalam tulisan ini, saya khusus menyoroti tulisan Sri Mulyono dari Kantor Berita Antara yang dimuat di Harian Republika edisi Minggu 2 agustus 1998. Dalam tulisan berjudul "Benarkah Terjadi perkosaan Massal", Sri Mulyono, antara lain mengutip pendapat Eddy Noor, seorang pengamat sosial, bahwa 'perkosaan massal sulit dipercaya secara logis dan hanya diungkapkan secara sepihak oleh aktivis-aktivis LSM tanpa disertai keberanian untuk menunjukkan korban dan mengadukan kepada polisi'. Pasal 285 KUHP, yang menjadi landasan pemikiran dari tuntutan konvensional mengenai pembuktian, merupakan warisan kolonial yang didunia modern sudah usang. Pengadilan internasional atas kejahatan perang di Yugoslavia dan Rwanda, memberlakukan bahwa pengusutan terhadap kasus-kasus perkosaan bisa dilakukan secara anonim oleh para korban demi keselamatan korban. Perlu disadari bahwa meragukan terjadinya perkosaan massal disebabkan adanya dua stereotip (pikiran dalam kepala orang yang dia percayai tanpa memerlukan pembuktian). Dua stereotip itu, pertama, tidak mungkin laki-laki dapat ereksi dan kemudian mengadakan hubungan seksual di depan banyak orang, dan ke dua, stereotip bahwa perkosaan terhadap perempuan didasari dorongan seksual. Pengaruh kedua stereotip tersebut sangat besar, baik pada orang awam, maupun pada para pakar ilmu-ilmu sosial dan psikologi, terutama yang tidak mengikuti perkembangan mutakhir tentang masalah perkosaan massal seperti yang terjadi di Cina (Nanking Rape), dan Pakistan, dan pada dasawarsa terakhir ini, di Bosnia dan Rwanda. Teori mutakhir tentang perkosaan massal menyatakan bahwa berdasarkan teori belajar (psikologi behaviorism), seseorang bisa dilatih untuk melakukan apa saja yang diinginkan orang lain. "Brainwashing' merupakan salah satu contoh cara untuk menumbuhkan rasa benci atau prasangka. Yang bisa dilatihkan, dengan demikian, termasuk menumbuhkan benci atau prasangka (stereotip) terhadap orang atau kelompok lain. Sehingga jelas bahwa melakukan perkosaan massal dapat dilatih untuk bisa melakukannya tanpa merasa dosa atau bersalah setelah melakukannya. Dengan demikian polemik lebih jauh tentang ada-tidaknya serta mungkin-tidaknya perkosaan massal harus segera dihentikan. Polemik seperti itu merugikan semua pihak dan ketidakmampuan kita sendiri dalam menyikapi masalah perkosaal massal secara jelas bisa mendatangkan intervensi dunia internasional.

2 Perlu di-ingat bahwa sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi PBB Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita dengan UU No. 7/1984, kita bisa saja didatangi oleh Special Rapporteur on Violence Against Women dari PBB. Sehingga kami sangat setuju bahwa persoalan ini harus segera mendapatkan kejelasan dari pihak yang berwajib. Oleh karena itu Pemerintah perlu menjawab secara tuntas. Pertama, mengapa pada 13-14 Mei aparat keamanan sama sekali tidak ada di berbagai tempat kerusuhan? Kedua, mungkinkah kalau mereka ada, tidak terjadi suatu perkosaan massal? Ketiga, megapa waktu Jakarta "terbakar" mobil pemadam kebakaran (yang biasanya cukup tanggap mendatangi tempat kebakaran) tidak muncul pada hari itu sehingga sangat meresahkan masyarakat? Keempat, siapa yang bertanggung-jawab atas penggunaan cara-cara biadab seperti yang dilakukan di Bosnia dan Rwanda, dengan memilih tubuh perempuan sebagai sasaran penyerangan? Kita sebagai bangsa Indonesia telah mengalami luka yang sangat mendalam, secara fisik (ekonomi) maupun secara psikologis (mental-emosional). Yang diperlukan saat ini, adalah bersama-sama memulihkan secara optimal luka mendalam yang telah ditinggalkan oleh kerusuhan 13-14 Mei. Oleh karena itu, tulisan Sdr Sri Mulyono itu, samasekali tidak mencerminkan usaha tersebut. Pada pertemuam 31 Juli dengan anggota Masyarakat Anti Kekerasan Terhadap Perempuan , Menhankam/Pangab jenderal Wiranto telah memberi komitmen ABRI dan menjanjikan pernyataan publik dan langkah-langkah nyata. Pada kesempatan ini, kami Masyarakat Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, mendesak dan menuntut Menhankam/Pangab untuk segera menempatkan posisi dan komitmen ABRI, bahwa setiap warga masyarakat, siapapun dia, terjamin keamanannya. ***

Ketika Dewi Soekarno “meluruskan” sejarah Oleh: A. A. Ariwibowo “API sejarah mungkin bisa didapatkan, tetapi kayu arang yang menjadikan api itu hidup, menjadi terlupakan,” kata seorang sejarawan. Adalah Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang dengan pernyataan itu agaknya hendak mengoreksi sebagian sejarawan profesional yang berusaha mendapatkan kebenaran sejarah. Argumen Abdullah yang juga sastrawan itu adalah, esensi terpenting dari suatu sejarah bukanlah peristiwanya, melainkan pelajaran dan pesan yang dipantulkan sebagai simbol suatu peristiwa. “Pada saat Bapak meninggal 21 Juni 1970 berdekatan dengan hari kemerdekaan dan Pemilu. Mungkin Jenderal Soeharto tidak merasa enak kalau Bapak masih hidup, jadi dia pendekkan kehidupan Bapak. Saya yakin karena the way he died was not natural (cara meninggalnya tidak wajar),” kata Dewi Soekarno, janda mendiang Presiden pertama RI. Ini kesaksian wanita berusia 57 tahun dengan nama asli Naoko Nemoto. Lima tahun lalu, ia mengundang kontroversi ketika tampil dalam berbagai pose artistik - yang disebutnya sebagai karya seni tinggi fotografi - dalam buku Madame D Syuga. Kini Dewi Soekarno berusaha “meluruskan” sejarah tentang saat-saat terakhir Bung Karno. Dengan memanfaatkan angin reformasi yang berhembus di Indonesia - ditandai tumbangnya Soeharto setelah berkuasa 32 tahun - Madam Soekarno memaparkan semua pengalamannya seputar detik-detik menjelang peristiwa G-30-S/PKI, kup Soeharto, Supersemar, hingga wafatnya Soekarno. Berbagai reaksi muncul baik dari birokrat pemerintah maupun saksi sejarah peristiwa waktu itu. Sebuah media nasional, Kompas kemudian mewawancarai satu-satunya tim dokter Bung Karno yang masih hidup hingga kini. Prof. Dr. Mahar Mardjono membantah pernyataan Dewi dengan mengatakan, “Jika itu yang dikatakannya, berarti melecehkan profesi kedokteran. Tidak ada pemberian obat tidur, tidak ada injeksi racun.” Mahar Mardjono menambahkan, “Bung Karno memang meninggal karena sudah tua. Saya tidak dapat memberitahukan penyakit apa yang dideritanya karena kode etik kedokteran. Jika keluarga menghendaki, barulah saya dapat memberi jawaban.” Hal senada juga dikatakan Mensesneg Akbar Tanjung, secara terpisah, Rabu (7/10). Katanya, mantan Presiden Soekarno meninggal dunia karena sakit. Pemerintah tidak perlu lagi mengklarifikasi masalah tersebut, karena pernyataan itu didasarkan pada keterangan resmi dokter, kata Mensesneg. Mencoba untuk “mendapatkan api sejarah dan kayu arangnya”, Jaksa Agung Andi M. Ghalib siap memanggil Ratna Sari Dewi untuk dimintai keterangan. “Dia bisa dijerat hukum,” katanya di Semarang, Kamis (8/10). “Saya akan minta Ibu Dewi untuk datang

ke Kejakgung sehubungan dengan pernyataannya yang menyatakan Presiden pertama RI, Soekarno, meninggal secara tidak wajar”. Sebelum Dewi datang memenuhi undangan Kejagung - karena ia hadir dalam Kongres PDI Perjuangan di Bali pekan ini - Ketua Dewan Pertimbangan Agung, Dr. A.A. Baramuli meminta mantan Presiden Soeharto untuk memberi jawaban atau tanggapan atas pengakuan Dewi Soekarno. “Saya pikir mantan Presiden Soeharto harus menjawab dan beliau punya hak untuk itu,” kata Baramuli. Ini karena masalah pembunuhan Presiden merupakan soal nasional dan internasional, bahkan bisa sampai kepada PBB atau Mahkamah Internasional. Kronologi Kendati Mahar Mahardjono dan Mensesneg Akbar Tanjung sudah menegaskan sikapnya seputar peristiwa 1 Oktober 1965, namun pernyataan pelaku sejarah yang terlibat di dalamnya cukup relevan. Dalam buku Jejak Langkah Pak Harto digambarkan kronologi peristiwa tersebut. Jumat, 1 Oktober, Pagi-pagi sekali hari ini terjadi kesibukan luar biasa di Markas Kostrad di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Panglima Kostrad Mayjen Soeharto, beserta stafnya sedang mengadakan pembahasan dan penilaian atas terjadinya penculikan terhadap sejumlah perwira AD beberapa jam lalu. Pukul 07.20 pagi, malalui RRI, Letkol Untung mengeluarkan sebuah pengumuman dari apa yang dinamakan Gerakan Tigapuluh September. Untung menyatakan bahwa gerakan yang dipimpinnya itu ditujukan kepada para jenderal, yang disebutnya Dewan Jenderal, yang bermaksud jahat terhadap Republik Indonesia dan Presiden Soekarno. Menurut Untung, gerakannya bermaksud untuk menyelamatkan Presiden. Lebih jauh, Untung mengumumkan bahwa sebagai tindak lanjut dari gerakannya, maka akan dibentuk suatu Dewan Revolusi Indonesia dan disusul Dewan Revolusi Daerah. Pangkostrad Mayjen Soeharto mengadakan dua kali rapat staf hari itu, yaitu pukul 10.00 dan 14.00. Dalam rapat tersebut Soeharto menjelaskan secara pasti bahwa gerakan pimpinan Letkol Untung pasti didalangi oleh PKI. Letkol Untung pernah menjadi salah satu komandan kompi Batalyon 444 Resimen XV Solo di mana Soeharto waktu itu menjadi komandan resimennya. Dikatakan Soeharto waktu itu, bahwa di masa revolusi Letkol Untung adalah seorang tentara yang dibina dan dididik kader komunis oleh tokoh komunis Indonesia, Alimin. Untuk memberitahu keadaan darurat, Soeharto menelepon para panglima angkatan. Secara langsung Soeharto berbicara dengan Pangal Laksamana Madya (L) RE Martadinata, Pangak Komjen (Pol) Sutjipto Judodihardjo dan Deputi Operasi AU Komodor (U) Leo Wattimena. Dalam pembicaraan telpon itu Soeharto memberitahu bahwa untuk sementara pimpinan Angkatan Darat dipegang olehnya, dan meminta agar jangan mengadakan pergerakan pasukan tanpa sepengetahuan Pangkostrad. Kemudian Soeharto meminta Presiden Soekarno yang berada di Halim Perdana Kusuma untuk meninggalkan pangkalan AURI sebelum jam 12 malam. Pesan ini disampaikan oleh ajudan Presiden, Kolonel Bambang Widjanarko.

Pukul 18.30 Mayjen Soeharto memerintahkan pasukan RPKAD dipimpin Kolonel Sarwo Edhi Wibowo untuk merebut studio RRI dan gedung telekomunikasi. Presiden Soekarno meninggalkan pangkalan Halim menuju Istana Bogor pada jam 23.00 malam. Persatuan bangsa Pesan apa yang didapat seputar peristiwa itu? Apakah sekadar kontroversi seperti dikemukakan oleh Dewi Soekarno ataukah tetap bersikukuh untuk mencari kebenaran sejarah? “Masih banyak lubang di seputar peristiwa G30S/PKI, sebab banyak hal yang tidak terekam, sementara sumber-sumber yang bisa menceritakan hal itu makin hari makin terbatas,” kata Taufik Abdullah. Ini yang menjadi kendala bagi peneliti untuk mengungkap tragedi nasional itu demi generasi bangsa di masa depan. Menurut dia, tragedi nasional itu, walaupun telah berlalu 33 tahun, masih mencekam sebagian nara sumber, sehingga menyulitkan peneliti. “Tidak pernah ada tragedi sebesar itu sebelumnya, yang dialami oleh Indonesia. Saudara bunuh saudara, tetangga juga saling bunuh,” katanya. Dengan kenyataan itu, ia khawatir bila masalah itu diungkap secara utuh akan menimbulkan konflik sosial. “Masalah persatuan dan kesatuan adalah penting. Memang itu membosankan, tetapi tetap penting. Dalam mempertahankannya, mungkin terpaksa ada hal-hal yang harus dilupakan dan hal-hal yang harus tetap diingat,” kata Abdullah. Selain menggarisbawahi pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa di tengah pencarian kebenaran sejarah seputar tragedi nasional itu sejarawan Taufik Abdullah mengemukakan, “Kejadiannya sudah 33 tahun lalu, gedung-gedung sudah berdiri, orang-orang sudah tambah kaya, apa lagi ceritanya?” * Wartawan Antara

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->