Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemahaman konsep fisika merupakan hal yang paling dasar dalam


mempelajari fisika. Seorang siswa dituntut untuk memahami konsep atau fakta
yang diketahuinya, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuannya dan
menyelesaikan permasalahan yang ada. Sebagian besar konsep-konsep fisika
masih merupakan konsep yang abstrak dan bahkan mereka sendiri tidak
mengenali konsep-konsep kunci ataupun hubungan antara konsep yang diperlukan
untuk memahami konsep tersebut, akibatnya siswa tidak dapat membangun
pemahaman konsep yang fundamental pada awal mereka belajar fisika,
(Ihsanuddin, 2013).
Rendahnya pemahaman konsep fisika disebabkan adanya pemahaman
siswa yang dipengaruhi oleh tafsiran siswa terhadap suatu konsep. Siswa datang
ke kelas dengan membawa pengetahuan awal mengenai suatu konsep atau
penjelasan suatu fenomena sebagaimana yang mereka lihat. Terkadang
penjelasaan terhadap tafsiran tersebut tidak sesuai dengan penjelasan secara
ilmiah. Pengetahuan atau tafsiran konsep seperti ini sering terjadi dalam setiap
submateri fisika seperti panas (kalor).
Banyak siswa mempunyai pengertian bahwa suatu benda yang bersuhu
lebih tinggi selalu memiliki panas yang lebih tinggi pula. Mereka menyamakan
begitu saja pengertian suhu dengan panas/kalor. Beberapa siswa juga menganggap

bahwa suhu suatu benda tergantung pada besarnya benda. Bila benda itu besar,
maka suhunya akan lebih tinggi, sedangkan bila benda itu kecil maka suhunya
akan lebih rendah, Suparno, (2013). Pengetahuan atau tafsiran seperti inilah yang
menyebabkan pemahaman konsep siswa semakin menurun.
Rendahnya pemahaman konsep juga diakibatkan adanya proses belajar
mengajar di kelas yang cenderung bersifat analitis dengan menitikberatkan pada
penurunan rumus-rumus fisika melalui analisis matematis, (Mariati, 2013). ElRabadi, Ensaf, (et,al 2013) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran harus
menggunakan eksperimen laboratorium khususnya fisika, dan jadwal mengajar
harus mencakup kelas mingguan untuk melakukan percobaan di laboratorium,
karena ini sangat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Suparno, (2013) menyatakan bahwa untuk mengajarkan materi fisika,
khususnya fisika visual yang dilihat mata biasanya agak mudah dijelaskan kepada
siswa. Karena guru dapat menunjukkan kepada siswa gejala atau peristiwa yang
sesungguhnya yaitu lewat pengalaman atau percobaan. Menurut Sumintono,
(2010) percobaan adalah kegiatan penerapan metode ilmiah siswa, yang dapat
meningkatkan sikap kritis ataupun sikap ilmiah siswa serta dapat mengungkap
fakta-fakta ataupun memverifikasi teori-teori sains.
Percobaan dan pengamatan dapat menghilangkan miskonsepsi siswa, dan
menantang pemahaman awal mereka, apakah benar atau tidak. Untuk lebih
menyadarkan siswa akan miskonsepsi mereka, ada baiknya eksperimen yang
diambil adalah yang memberikan hasil berbeda dengan pemahaman konsep yang
mereka tafsirkan. Sehingga, dengan mengalami dan mengamati percobaan yang

hasilnya terus-menerus berbeda, siswa tertantang untuk mengubah gagasan atau


konsep mereka, (Suparno, 2013).
Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa lebih aktif dan model
pembelajaran yang diterapkan berdasarkan pada pengamatan siswa secara
langsung. Putri dan Sutarno, (2012) menyatakan bahwa pembelajar harus diberi
pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan,
merancang dan merakit instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan
menafsirkan data, menyusun laporan, serta mengkomunikasikan hasilnya baik
secara lisan maupun tertulis.
Berdasarkan permasalahan di atas perlu strategi atau model pembelajaran
yang dapat menghubungkan antara materi dan praktikum guna untuk
meningkatkan pemahaman konsep siswa. Diketahui bahwa eksperimen yang
sering dilakukan di sekolah adalah eksperimen model resep masakan, yaitu semua
hal yang berkaitan dengan praktikum mulai petunjuk praktikum sampai alat telah
disediakan oleh laboran. Model tersebut kurang menumbuhkan semangat untuk
menggali pengetahuan siswa, karena semua peralatan dan perlengkapan yang akan
digunakan dalam praktikum telah disediakan. Oleh sebab itu peneliti sangat
perhatian untuk mengembangkan proses berpikir kritis tersebut dengan mencoba
menerapkan model Problem Solving Laboratory. Karena pada dasarnya kegiatan
laboratorium merupakan bagian dari pembelajaran sains, tampaknya pemecahan
masalah (problem solving) juga cocok digunakan sebagai basis dari suatu kegiatan
laboratorium. Model pembelajaran Problem solving Laboratory adalah salah satu
model pembelajaran yang menitikberatkan keaktifan siswa dalam proses

pembelajaran. Pembelajaran diarahkan agar siswa lebih aktif dan mampu


menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis, yaitu dengan menyajikan
suatu permasalahan yang bersifat nyata dengan dunia realita siswa yang dapat
dipecahkan melalui aktivitas di laboratorium (Hariani, 2013).
Banyak penelitian yang sudah dilakukan dengan menerapkan model
pembelajaran Problem Solving Laboratory. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan Putri dan M. Sutarno (2012), menunjukkan bahwa peningkatan
keterampilan proses sains mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan
menerapkan model kegiatan laboratorium berbasis problem solving secara
signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang mengikuti
pembelajaran dengan menerapkan kegiatan praktikum verifikasi. Penelitian yang
dilakukan Fitri Hariani (2013) bahwa dengan pembelajaran Problem Solving
Laboratory dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar fisika
siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Tanggul. Maka diharapkan model pembelajaran
Problem Solving Laboratory juga dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah


penelitian adalah apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran
problem

solving

laboratory

terhadap

perpindahannya pada siswa SMA?

pemahaman

konsep

kalor

dan

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka penelitian bertujuan untuk


mengetahui ada tidaknya pengaruh penerapan

model pembelajaran problem

solving laboratory terhadap pemahaman konsep kalor dan perpindahannya pada


siswa SMA.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Dapat

dijadikan

mengembangkan

sebagai
model

bahan

pertimbangan

pembelajaran

yang

dalam

akan

memilih

digunakan

dan
untuk

meningkatkan pemahaman konsep siswa.


2. Membantu siswa untuk membangun pengetahuannya serta meningkatkan

aktivitas dan kreativitasnya sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep


siswa.

1.5 Batasan Istilah


1)

Model pembelajaran problem solving laboratory Pembelajaran diarahkan agar


siswa lebih aktif dan mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan
logis, yaitu dengan menyajikan suatu permasalahan yang bersifat nyata
dengan dunia realita siswa yang dapat dipecahkan melalui aktivitas di
laboratorium.

2)

Sedangkan pemahaman konsep dalam pembelajaran fisika adalah tingkat


kemampuan yang menuntut siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi
serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini, siswa tidak hanya hapal secara
verbal, tetapi mengerti atau paham terhadap konsep atau fakta yang
dinyatakannya. Pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding

yang diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi yang dipelajari . Dalam
kamus Besar Bahasa Indonesia, paham berarti mengerti dengan tepat,
sedangkan konsep berarti suatu rancangan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Penelitian Yang Relevan

Banyak penelitian yang dilakukan dengan menggunakan model


pembelajaran Problem Solving Laboratory di antaranya yaitu, Sujarwata, (2009)
telah melakukan penelitian yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Elektronika
Dasar II Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Laboratory
dari hasi penelitiannya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar
Elektronika Dasar II melalui penerapan model pembelajaran Problem Solving
Laboratory sebesar 75%, serta mahasiswa mengalami ketuntasan belajar. Model
Praktikum Problem Solving Laboratory sebagai suatu model pembelajaran yang
berorientasi pada keterlibatan mahasiswa dalam proses belajarnya, dimana
mahasiswa menggali atau menjumpai permasalahan selanjutnya mahasiswa
dengan bantuan dan media praktikum yang terintegrasi berusaha mencari
pemecahannya sendiri.
Ellianawati , B. Subali, (2010) telah melakukan penelitian yang berjudul
Penerapan Model Praktikum Problem Solving Laboratory Sebagai Upaya Untuk
Memperbaiki Kualitas Pelaksanaan Praktikum Fisika Dasar dari hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa melalui penerapan model praktikum problem
solving laboratory telah berhasil meningkatkan kualitas pelaksanaan praktikum
Fisika Dasar 1. Indikator dari meningkatnya kualitas praktikum tercermin dari
peningkatan hasil belajar mahasiswa dan aktivitas belajarnya. Berdasarkan hasil
pengamatan pelaksanaan praktikum fisika dasar terlihat pada saat kegiatan
praktikum pada setiap siklusnya terjadi peningkatan aktivitasnya, baik untuk
kegiatan pra praktikum, pada saat praktikum dan presentasi hasilnya.

Eka Cahya Prima, dkk, (et.al 2010) dalam penelitiannya yang berjudul
Problem Solving Laboratory As An Alternative Physics Experiment Activity
Model Implemented In Senior High School bahwa Semua siswa 100% dapat
menyiapkan peralatan dan unsur yang diperlukan dalam melakukan suatu
eksperimen, dapat menerapkan konsep yang terkait di dalam aktivitas eksperimen,
dan siswa dapat membuat prosedur eksperimen dengan tepat, serta meneliti
kesalahan eksperimen.
Desy Hanisa Putri, (2012) telah melakukan penelitian yang berjudul
Model Kegiatan Laboratorium Berbasis Problem Solving Pada Pembelajaran
Gelombang Dan Optik Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains
Mahasiswa

dari

hasil

penelitiannya

menunjukkan

bahwa

peningkatan

keterampilan proses sains mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan


menerapkan model kegiatan laboratorium berbasis problem solving secara
signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang mengikuti
pembelajaran dengan menerapkan kegiatan praktikum verifikasi.
Fitri Hariani,

(2013) telah melakukan penelitian yang berjudul

Pengaruh Model Problem Solving Laboratory Terhadap Keterampilan Proses


Sains Dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas Xi Di Sma Negeri 2 Tanggul dari
hasil penelitiannya menunjukan bahwa (1) model problem solving laboratory
berpengaruh signifikan terhadap keterampilan proses sains siswa kelas XI di SMA
Negeri 2 Tanggul, dan (2) model problem solving laboratory berpengaruh
signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Tanggul.

Hatice Gungor Seyhan & Gulseda Eyceyurt Turk , et.al (2013) telah
melakukan penelitian yang berjudul An Investigation Of The Relationship
Between Performance In The Problem Solving Laboratory Applications And
Views About Nature Of Science Of Pre-Service Science Teachers dari hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa Setelah aplikasi pemecahan masalah pada lab
kimia dilaksanakan, tingkat pengetahuan guru tentang sains meningkat secara
statistik. Analisis Data menyimpulkan bahwa aplikasi problem solving laboratory
dapat memperpanjang pengetahuan guru tentang sifat ilmu pengetahuan. Hasil
penelitian ini membuktikan bahwa pendapat pada sifat dari ilmu pengetahuan
dapat

ditingkatkan

dengan

bantuan

dari

berbagai

aplikasi

pendidikan.

Laboratorium mengaktifkan siswa untuk melihat menggunakan teori pengetahuan


mereka dalam praktik dan membuat untuk menjelaskannya di dalam memperoleh
bukti.
Sutarno, (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Penerapan
Praktikum Virtual Berbasis Problem Solving Terhadap Kemampuan Berpikir
Kritis Mahasiswa bahwa terdapat pengaruh penerapan praktikum virtual berbasis
problem solving terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa
kelompok kemampuan sedang sebesar 5,8% dan kelompok kemampuan rendah
sebesar 12,7%. Pengaruh tersebut tergolong pada kategori lemah. Sedangkan pada
kelompok kemampuan tinggi penerapan praktikum virtual berbasis problem
solving tidak berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Tidak
terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara mahasiswa

kelompok kemampuan tinggi, sedang, dan rendah setelah mengikuti pembelajaran


dengan menerapkan praktikum virtual berbasis problem solving.

2.2 Kajian Pustaka


2.2.1

Pengertian Model Pembelajaran Problem Solving Laboratory


Model Pembelajaran Problem Solving Laboratory adalah model

pembelajaran yang memberikan permasalahan dalam kelas, dan teknik


penyelesaian permasalahan tersebut dilakukan dengan kegiatan laboratorium.
Setelah permasalahan terpecahkan melalui kegiatan laboratorium, siswa
melakukan diskusi dalam kelas untuk menyampaikan konsep yang telah
ditemukan. Model Problem Solving Laboratory adalah salah satu model
pembelajaran fisika yang dapat memberikan pengalaman langsung dan
menghendaki sebanyak mungkin keterlibatan siswa dalam belajar. Pembelajaran
diarahkan agar siswa lebih aktif dan mampu menyelesaikan masalah secara
sistematis dan logis, yaitu dengan menyajikan suatu permasalahan yang bersifat
nyata dengan dunia realita siswa yang dapat dipecahkan melalui aktivitas di
laboratorium, (Subali, 2010).
Menurut Walton dan Matthews (1989) yang dikutip oleh Friedman dan
Deek dalam Journal International of Interactive Learning Research (2002) dalam
Subali, (2010) menyatakan bahwa metode Problem Solving Laboratory
memberikan stimulus dan tantangan kepada peserta didik untuk berusaha
memecahkan permasalahan dilingkungannya dengan mengaplikasikan ilmu
pengetahuan dan pengalaman tertentu.

10

Pembelajaran Masalah Berbasis Laboratorium atau Problem Solving

2.2.2

Laboratory
Proses pembelajaran yang digariskan oleh kurikulum sekarang lebih
menitikberatkan peran aktif peserta didik dalam kegiatan belajar, seorang pendidik
hanya sebagai fasilitator dan motivator. Dengan demikian terjadi perubahan
paradigma pembelajaran yaitu dari lecture based format menjadi student active
atau approach student centered instruction. Salah satu bentuk pembelajaran yang
menerapkan student active Approach adalah model Problem Solving, (Subali,
2010).
Model Pembelajaran Problem Solving Laboratory merupakan elaborasi
dari model pembelajaran berbasis masalah. Sintaks permasalahan sama, namun
teknik penyelesaian masalah dilakukan melalui kegiatan laboratorium. Langkah
Model Pembelajaran yang dielaborasi dari Bound & Ton, (dalam Sujarwata, 2009)
dengan karakteristik sebagai berikut;
1.

Siswa dapat memecahkan masalah sesuai tahapan yang terpilih, dengan


menggunakan curah pendapat dan teknis investigasi masalah.

2.

Membangun ilmu yang telah dimiliki dan memperoleh ilmu yang baru
melalui studi kasus.

3.

Dapat mengoperasikan alat-alat laboratorium yang berkaitan dengan teori


yang diberikan.

4.

Siswa dapat mempergunakan media yang ada, dan dapat melakukan teknik
analisis.

11

5.

Siswa dapat menganalisis dan mendiskripsikan, mendiskusikan hasil data


praktikum dengan cara laporan tertulis, poster, dan presentasi lisan,

6.

Siswa dapat bekerja dalam kelompok dengan mengorganisasi tiap-tiap


kelompok.
Salah satu model pembelajaran yang sangat konstruktivistis adalah model

inquiry (penyelidikan). Model Pembelajaran Problem Solving Laboratory


merupakan cerminan dari kontruktivisme. Dalam model ini siswa sungguh
dilibatkan untuk aktif berfikir dan menemukan pengertian yang ingin
diketahuinya (Suparno, 2007).
.
2.2.3

Kegiatan Laboratorium Berbasis Problem Solving


Inovasi pembelajaran dalam kegiatan praktikum ini diilhami oleh

kegiatan praktikum yang didesain dan dikembangkan di Universitas Minnesota


serta di Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI, yang memberikan penekanan
utama pada aspek problem solving. Kegiatan laboratorium ini terintegrasi dengan
pembelajaran. Tujuannya seperti dikemukakan oleh Heller & Heller adalah
menjadikannya sarana bagi siswa untuk : (a) mengkonfrontasi konsep awal
mereka dengan bagaimana alam bekerja; (b) melatih skill problem solving; (c)
belajar menggunakan alat; (d) belajar mendesain ekperimen; (e) mengobservasi
sebuah peristiwa yang memerlukan penjelasan yang tidak mudah sehingga mereka
menyadari bahwa diperlukan ilmu untuk menjawabnya; (f) mendapatkan apresiasi
kesulitan

dan

kegembiraan

saat

melakukan

eksperimen;

(g)mengalami

pengalaman seperti ilmuwan asli dan (h) merasa senang melakukan kegiatan yang

12

lebih aktif daripada duduk dan mendengarkan. Berdasarkan desain problem


solving laboratory yang dikembangkan di universitas Minnesota dan FPMIPA
UPI, komponen-komponen kegiatan laboratoriumnya diuraikan sebagai berikut:

a. Petunjuk Praktikum
Perbedaan yang mencolok adalah tidak adanya dasar teori dan langkahlangkah percobaan pada petunjuk praktikum yang akan dikembangkan. Peniadaan
dasar teori didasarkan pada alasan untuk menegaskan bahwa kegiatan praktikum
ini merupakan bagian terintegrasi dengan pembelajaran, sehingga teori yang
mendasari praktikum dapat digali dan dibaca sebanyak-banyaknya dari buku-buku
paket sekolah. Adanya prediksi dan pertanyaan metode dalam petunjuk praktikum
dimaksudkan untuk men-trigger penggalian teori oleh siswa. Sedangkan
peniadaan langkah-langkah percobaan yang mendetil dalam petunjuk praktikum
dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada siswa untuk melatih skill
problem solving-nya, sehingga dengan demikian kemampuan problem solving-nya
dapat terus dipertajam. Berikut perbandingan antara petunjuk praktikum lama dan
petunjuk praktikum problem solving.

Tabel 2.1 Perbandingan Petunjuk Praktikum verifikasi dan Problem Solving

13

Petunjuk praktikum verifikasi


Tujuan
Alat dan Bahan
Dasar Teori
Prosedur Percobaan
Tugas Sebelum Percobaan
Tugas Setelah Percobaan

Petunjuk prakrtikum problem solving


Masalah (Problem)
Peralatan ( Equipment)
Prediksi (Prediction)
Pertanyaan metode (Method questions)
Eksplorasi (Exploration)
Pengukuran (Measurement)
Analisis (Analysis)
Kesimpulan (conclusion)

(Sumber : Feranie. 2005)


Petunjuk praktikumnya terdiri dari langkah-langkah: permasalahan yang
dijumpai dalam kehidupan siswa disajikan, kemudian disediakan alat dan bahan
yang diperlukan. Siswa diarahkan untuk memprediksi tentang alternatif solusi dari
masalah yang disajikan. Untuk mengarahkan siswa agar dapat melakukan
eksplorasi dengan benar, maka guru memberikan pertanyaan-pertanyaan
metode/pengarah. Jika langkah kerja yang akan dilakukan siswa sudah sesuai,
kemudian dilakukan eksplorasi dan pengukuran untuk memperoleh data yang
akan dianalisis. Dari hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan berupa suatu
konsep yang utuh.

b. Setting Kegiatan Praktikum


Perbedaan seting kegiatan praktikum lama adalah diawali dengan
pengumpulan tugas awal untuk dinilai dan tanya jawab tentang penggunaan alat
dan proses pengukuran, pada seting baru diadakan tahap pra eksperimen (preexperiment) yang berbentuk diskusi. Diskusi ini diadakan untuk memonitor
prediksi dan jawaban pertanyaan metode dari setiap anggota kelompok untuk
kemudian diseragamkan menjadi prediksi kelompok. Sedangkan tujuan pasca

14

eksperimen (post-experiment) adalah mendiskusikan data yang diperoleh dari


hasil pengukuran untuk memantau kelengkapan data dan ketepatannya, jika terjadi
kekeliruan dapat segera diadakan perbaikan. Perbedaannya dapat dilihat pada
Tabel 2.2 .
Tabel 2.2 Perbedaan Kegiatan Praktikum Verifikasi dan Praktikum
Problem Solving
Seting kegiatan praktikum verifikasi Seting kegiatan praktikum problem
solving
Mengumpulkan tugas awal
Pre-eksperimen (diskusi)
Tanya jawab
Eksplorasi
Merangkai alat
Pengambilan data
Melakukan pengambilan data
Post-eksperimen (diskusi)
(Sumber : Feranie,., 2005)
Pada setting kegiatan praktikum problem solving, dapat dijelaskan bahwa
dua hari menjelang pembelajaran dilakukan, kelompok siswa diberi LKS pre
eksperimen yang berisi tahap: penyajian masalah, pengenalan alat-alat
eksperimen, prediksi yang harus dilakukan siswa dan penyampaian pertanyaanpertanyaan metode/pengarah.

LKS pre eksperimen ini dikerjakan secara

berkelompok di rumah siswa. Pada saat pembelajaran berlangsung maka hasil


rumusan masalah, pemilihan alat eksperimen, hasil prediksi siswa dan langkahlangkah eksperimen didiskusikan sebelum melakukan eksplorasi. Jika langkah
kerja yang akan dilakukan siswa sudah sesuai, kemudian dilakukan eksplorasi dan
pengukuran untuk memperoleh data yang akan dianalisis. Dari hasil analisis data
maka diperoleh kesimpulan berupa suatu konsep yang utuh. Kegiatan analisis
data, perolehan kesimpulan dan penentuan solusi masalah disebut kegiatan post
eksperimen.

15

2.2.4

Pengertian Konsep
Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek.,

kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan, yang mempunyai


atribut-atribut yang sama (Ratna Wilis Dahar, 1989).
Sementara menurut Ausabel, et al (1978), (dalam Ihsanuddin, 2012) konsep
adalah benda-benda, kejadian-kejadian, situasi-situasi, atau ciri-ciri yang memiliki
ciri khas yang mewakili dalam setiap budaya oleh suatu tanda atau simbol
(objects, events, situation, or properties that posses common critical attribute
and are designated in any given culture by some accepted sign or symbol).
Jadi konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri dari sesuatu yang
mempermudah komunikasi antar manusia dan yang memungkinkan manusia
berpikir (bahasa adalah alat berpikir). Secara singkat dapat kita katakan, bahwa
suatu konsep merupakan suatu abstraksi mental yang mewakili suatu kelas
stimulus-stimulus.
2.2.5

Pemahaman Konsep
Pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding yang

diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi yang dipelajari . Dalam kamus
Besar Bahasa Indonesia, paham berarti mengerti dengan tepat. Pemahaman adalah
suatu proses mental terjadinya adaptasi dan tranformasi ilmu pengetahuan,
Gardner (dalam Simanjuntak, 2012). Sedangkan konsep berarti suatu rancangan.
Dalam matematika, konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan
seseorang untuk menggolongkan suatu objek atau kejadian. Jadi pemahaman
konsep adalah pengertian yang benar tentang suatu rancangan atau ide abstrak.

16

Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan


sejumlah materi pelajaran, tetapi mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk
lain yang mudah dimengerti, memberikan interprestasi data dan mampu
mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya,
Sanjaya, (dalam Ihsanuddin 2013).
Nasution (2006) mengungkapkan Konsep sangat penting bagi manusia,
karena digunakan dalam komunikasi dengan orang lain, dalam berpikir, dalam
belajar, membaca, dan lain-lain. Tanpa konsep, belajar akan sangat terhambat.
Hanya dengan bantuan konsep dapat dijalankan pendidikan formal. Kemampuan
pemahaman matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pem-belajaran,
memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan
hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu. Dengan pemahaman siswa dapat
lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis
juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru,
sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang
diharapkan.

2.2.6

Pemahaman Konsep dalam Pembelajaran Fisika


Konsep belajar juga dikenal sebagai kategori pembelajaran dan

pencapaian konsep, sebagian besar didasarkan pada karya-karya psikolog kognitif


pencapaian konsep yang didefinisikan (atau belajar konsep) sebagai "pencarian
dan daftar atribut yang dapat digunakan untuk membedakan eksamplar dan non
eksamplar dari berbagai kategori. Lebih sederhananya, konsep kategori mental

17

yang membantu kita mengklasifikasikan benda-benda, peristiwa, atau ide-ide dan


masing-masing objek, peristiwa, atau ide memiliki seperangkat fitur yang relevan.
Dengan demikian, konsep pembelajaran merupakan strategi yang mengharuskan
seorang pelajar untuk membandingkan kelompok kontras dan atau kategori yang
berisi fitur-konsep yang relevan dengan kelompok atau kategori yang tidak berisi
fitur-konsep yang relevan, Bruce Joice dkk, (dalam Arief, 2012).
Kemampuan pemahaman konsep dalam pembelajaran fisika adalah
tingkat kemampuan yang menuntut siswa mampu memahami arti atau konsep,
situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini, siswa tidak hanya hapal
secara verbal, tetapi mengerti atau paham terhadap konsep atau fakta yang
dinyatakannya. Selanjutnya, Agus Martawijaya dan Muhammad Natsir (dalam
Arief, 2012) mengemukakan bahwa : pemahaman berkenaan dengan inti sari dari
sesuatu, yaitu suatu bentuk pengertian yang menyebabkan seseorang mengetahui
apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat menggunakan materi itu tanpa harus
menghubungkannya dengan materi lain. Pemahaman dapat dibedakan atas :
1. Translasi, yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide yang
dinyatakan dengan cara asli yang di kenal sebelumnya.
2. Interpretasi, yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide
yang direkam, di ubah, atau di susun dalam bentuk lain (grafik, tabel, atau
diagram).
3. Ekstrapolasi,

yaitu

kemampuan

untuk

meramalkan

kelanjutan

kecenderungan yang ada menurut data tertentu dengan mengemukakan

18

akibat, konsekuensi, implikasi, dan sebagainya sejalan dengan kondisi


yang digambarkan dalam komunikasi yang ada.
2.2.7

Kalor dan Perpindahannya

1. Pengertian Kalor

Kalor adalah perpindahan energi kinetik dari satu benda yang bersuhu
lebih tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah. Pada waktu zat mengalami
pemanasan, partikel-partikel benda akan bergetar dan menumbuk partikel tetangga
yang bersuhu rendah. Hal ini berlangsung terus menerus membentuk energi
kinetik rata-rata sama antara benda panas dengan benda yang semula dingin. Pada
kondisi seperti ini terjadi keseimbangan termal dan suhu kedua benda akan sama.
2. Hubungan Kalor dengan Suhu Benda

Sewaktu Anda memasak air, Anda membutuhkan kalor untuk menaikkan


suhu air hingga mendidihkan air. Nasi yang dingin dapat dihangatkan dengan
penghangat nasi. Nasi butuh kalor untuk menaikkan suhunya. Berapa banyak
kalor yang diperlukan air dan nasi untuk menaikkan suhu hingga mencapai suhu
yang diinginkan? Secara induktif, makin besar kenaikan suhu suatu benda, makin
besar pula kalor yang diserapnya. Selain itu, kalor yang diserap benda juga
bergantung massa benda dan bahan penyusun benda. Secara matematis dapat di
tulis seperti berikut.
Q=m x c x T

..(2.1)

Keterangan:
Q : kalor yang diserap/dilepas benda (J)
m : massa benda (kg)

19

c : kalor jenis benda (J/kgC)


T

: perubahan suhu ( C)

3. Azas Black

Anda ketahui bahwa kalor berpindah dari satu benda yang bersuhu tinggi
ke benda yang bersuhu rendah. Perpindahan ini mengakibatkan terbentuknya suhu
akhir yang sama antara kedua benda tersebut. Kalor yang dilepaskan air panas
akan sama besarnya dengan kalor yang diterima susu yang dingin. Kalor
merupakan energi yang dapat berpindah, prinsip ini merupakan prinsip hukum
kekekalan energi. Hukum kekekalan energi di rumuskan pertama kali oleh Joseph
Black (1728 1899). Oleh karena itu, pernyataan tersebut juga di kenal sebagai
asas Black. Joseph Black merumuskan perpindahan kalor antara dua benda yang
membentuk suhu termal sebagai berikut.
Q pas =Q te rima

..(2.2)

Keterangan:
Q pas : besar kalor yang diberikan (J)
Q te rima : besar kalor yang diterima (J)

4. Perpindahan Kalor
a. Konduksi

Peristiwa perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa disertai dengan


perpindahan partikel-partikelnya disebut konduksi. Perpindahan kalor dengan cara

20

konduksi disebabkan karena partikelpartikel penyusun ujung zat yang bersentuhan


dengan sumber kalor bergetar. Makin besar getarannya, maka energi kinetiknya
juga makin besar.
b. Konveksi

Konveksi adalah perpindahan kalor yang disertai dengan perpindahan


partikel-partikel zat. Perpindahan kalor secara konveksi dapat terjadi pada zat cair
dan gas.
c. Radiasi

Perpindahan kalor yang tidak memerlukan zat perantara (medium)


disebut radiasi. Contoh ; perpindahan kalor dari matahari sampai ke bumi tidak
memerlukan perantara.

2.3 Kerangka Pemikiran

Pemahaman konsep fisika merupakan hal yang paling dasar dalam


mempelajari fisika. Seorang siswa dituntut untuk memahami konsep atau fakta
yang diketahuinya, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuannya dan
menyelesaikan permasalahan yang ada. Rendahnya pemahaman konsep fisika
disebabkan adanya pemahaman siswa yang dipengaruhi oleh tafsiran siswa
terhadap konsep, pembelajaran yang berpusat pada guru, dan siswa jarang
melakukan ekperimen. Sehingga siswa cenderung pasif, dan tidak dapat
menemukan konsep fisika secara langsung. Pembelajaran akan lebih bermakna
jika siswa lebih aktif dan model pembelajaran yang diterapkan berdasarkan pada
pengamatan siswa secara langsung. Karena pada dasarnya kegiatan laboratorium

21

merupakan bagian dari pembelajaran sains, tampaknya pemecahan masalah


(problem solving) juga cocok digunakan sebagai basis dari suatu kegiatan
laboratorium. Sehingga solusi untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa
dengan menerapkan model pembelajaran Problem solving Laboratory. Yaitu
model pembelajaran yang menitikberatkan keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran. Pembelajaran diarahkan agar siswa lebih aktif dan mampu
menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis, yaitu dengan menyajikan
suatu permasalahan yang bersifat nyata dengan dunia realita siswa yang dapat
dipecahkan melalui percobaan di laboratorium. Percobaan adalah kegiatan
penerapan metode ilmiah siswa, yang dapat meningkatkan sikap kritis ataupun
sikap ilmiah siswa serta dapat mengungkap fakta-fakta ataupun memverifikasi
teori-teori sains. Percobaan dan pengamatan dapat menghilangkan miskonsepsi
siswa, dan menantang pemahaman awal mereka, apakah benar atau tidak.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disusun paradigma penelitian sebagai berikut :


Pemahaman konsep fisika rendah

22

Jarang
melakukan eksperimen

Pembelajaran berpusat pada guru

Siswa tidak menemukan konsep fisika secara langsung


Siswa pasif

Pembelajaran Problem Solving Laboratory

Menyelesaikan masalah melalui aktivitas laboratorium/penemuan secara langsung


Siswa aktif

Pemahaman konsep fisika meningkat

2.4

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran


Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh model

pembelajaran problem solving laboratory terhadap pemahaman konsep kalor dan


perpindahannya pada siswa kelas X SMA.

23

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian dengan rancangan

eksperimen kuasi (quasi-experimental design).

24

3.2

Desain/Rancangan penelitian

3.2.1

Desain penelitian
Adapun desain penelitian menggunakan Rancangan Prates-Pascates yang

tidak Ekuivalen (the non equivalen pretest-postest design).


Jenis

rancangan

ini

biasanya

dipakai

pada

eksperimen

yang

menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompoknya, dengan memilih


kelas-kelas yang diperkirakan sama keadaan/kondisinya (Taniredja,T. 2011)

Tabel 3.1 Desain Penelitian


Kelompok

Pretes

Perlakuan

Postes

Eksperimen

O1

O2

Kontrol

O1

3.3

Lokasi dan Waktu Penelitian

3.3.1

Lokasi Penelitian

O2

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA NEGERI 4 Palu, pada kelas X


MIA 5 dan X MIA 6.

3.3.2

Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April 2015.

3.4

Populasi dan Sampel

25

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri
4 Palu. Sedangkan sampel dalam penelitian terdiri atas 2 kelas yaitu siswa kelas X
MIA 5 dan X MIA 6. Satu kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas lainnya
sebagai kelas kontrol.

Definisi Operasional Variabel

3.5

Variabel bebas : model pembelajaran problem solving laboratory


Variabel terikat : pemahaman konsep.

Tekhnik Pengumpulan Data

3.6

Tahapan dalam penelitian meliputi 3 tahap yaitu :


a. Tahap Persiapan
1)

Mencari literatur yang berkaitan dengan judul penelitian

2)

Menentukan populasi dan sampel penelitian

3)

Menyusun instrumen yang akan digunakan dalam penelitian

4)

Melakukan Validitas ahli dan validitas konstruksi

b. Tahap pelaksanaan
1)

Penentuan kelas yang akan dijadikan sampel

2)

Pemberian tes awal

3)

Pemberian perlakuan (penyajian materi)

4)

Pemberian tes akhir

c. Tahap Akhir

Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah mengolah dan
menganalisis data dengan menggunakan teknik analisis. Hasil analisa data akan
digunakan untuk menyimpulkan hasil penelitian.

26

Instrumen Penelitian

3.7

1. Tes Pemahaman Konsep Fisika

Tes ini digunakan untuk mengetahui pemahaman konsep fisika pada


kelas yang menjadi sampel penelitian. Tes dibuat dalam bentuk tes esai. Untuk
memperoleh tes yang standar, dilakukan validitas ahli yang ditekankan
validitas isi dan validitas konstruksi.
2. Perangkat Pembelajaran

Instrumen ini terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP),


silabus, bahan ajar dan LKS.

3. Lembar Observasi

Instrumen ini digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran di


kelas berupa penilaian efektif dan psikomotor.

3.8

Tehnik Analisa Data

3.8.1

Analisis Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini akan divalidkan oleh

validator yang memiliki keahlian di bidangnya.

3.8.2 Analisa Data Hasil Penelitian

Data yang dikumpulkan dari penelitian ini selanjutnya diolah dengan


menggunakan teknik statistik. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan
ini adalah sebagai berikut :

27

a. Uji Peningkatan Hasil Tes

Untuk mengetahui peningkatan hasil tes pemahaman konsep pada kelas


eksperimen yang menggunakan model pembelajaran problem solving laboratory
maupun kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional dihitung
berdasarkan skor N-gain. Untuk memperoleh skor N-gain digunakan rumus yang
dikembangkan oleh Hake (Cheng, et.al, 2004):
g

S Post S Pr e
x100 %
S maks S pre

.......................................................(3. 3)

keterangan:
Spost
Spre
Smax

: Skor tes akhir


: Skor tes awal
: Skor maks ideal
Tabel 3.3 Kriteria Tingkat Gain
Tingkat Gain
g > 70
30 g < 70
g < 30

Kriteria
Tinggi
Sedang
Rendah

b. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah kelas eksperimen


dan kelas kontrol setelah dikenai perlakuan berdistribusi normal atau tidak. Untuk
menguji normalitas, data yang digunakan adalah nilai semester gasal dan uji yang
digunakan adalah uji Chi-Kuadrat, dengan hipotesis:
H0 : data berdistribusi normal
H1 : data tidak berdistribusi normal
Pengujian hipotesis:

28

x 2=
i=1

(OiEi )2
. (3.4)
Ei

Keterangan :

2 : Chi Kuadrat
Oi : Frekuensi hasil pengamatan
Ei : Frekuensi yang diharapkan
Kriteria yang digunakan diterima

H 0=x 2h itung< x2tabel 2 0

Adapun langkah-langkah uji normalitas data awal sebagai berikut:


a. Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.
b. Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas.
c. Menghitung rata-rata dan simpangan baku.
d. Membuat tabulasi data ke dalam interval kelas.
e. Menghitung nilai Z dari setiap batas kelas dengan rumus sebagai
berikut:
Z i=

x ix
s

..(3.5)

f. Mengubah harga Z menjadi luas daerah kurva normal dengan


menggunakan tabel.
g. Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva dengan rumus sebagai
berikut :

29

x 2=
ei

(O iE i )2
Ei

.(3.6)

dengan:

2 Chi Kuadrat
Oi : Frekuensi pengamatan
Ei : Frekuensi yang diharapkan
h. Membandingkan harga Chi Kuadrat hitung dengan Chi Kuadrat tabel
dengan taraf signifikansi 5%.
i. Menarik kesimpulan, yaitu H0 diterima jika hitung 2 < tabel 2 maka data
berdistribusi normal, jika

hitung

2 2

tabel,

maka H0 ditolak artinya

populasi tidak berdistribusi normal.

c. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kelas kontrol dan


kelas eksperimen setelah dikenai perlakuan mempunyai varian yang sama
(homogen) atau tidak. Statistik yang digunakan untuk uji homogenitas sampel
adalah menggunakan uji F dengan rumus :

F=

v a rianst e rbesar
v arians t e rkecil

(3.7)

Hipotesis yang digunakan :


H0 : 12 = 22
H1 : 12 22

30

Kedua kelompok mempunyai varian yang sama, atau dengan kata lain
Ho diterima apabila menggunakan = 5 % menghasilkan F hitung Ftabel

21

Ftabel diperoleh dengan: dk pembilang= N 1 dan dk penyebut = N 1.


1

d.

Uji Hipotesis
Untuk melihat seberapa jauh hipotesis yang telah dirumuskan didukung

oleh data yang dikumpulkan, maka hipotesis tersebut harus diuji. Jika sebaran
data berdistribusi normal dan homogen, maka data yang diperoleh dianalisis
dengan menggunakan Uji Statistik Parametrik (uji t). Menguji hipotesis dengan
menggunakan uji-t satu pihak (1-tailed). Jika tidak terdistribusi normal, maka data
diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji Statistik Non Parametrik. Rumus
yang digunakan untuk uji-t satu pihak (1-tailed) adalah sebagai berikut (Sudjana,
2005: 239) :

t hit

x1 x 2
S n11 n12

.(3.8)

dimana

n1 1 S12 n 2 1 S 22
n1 n 2 2

.(3.9)

dengan :
x1

: Gain rata-rata kelas eksperimen

31

x2

: Gain rata-rata kelas kontrol

n1
n2

: Jumlah siswa kelas eksperimen


: Jumlah siswa kelas kontrol

: Simpangan baku

Dengan pasangan hipotesis adalah :

H0

: 0 1

Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran


problem solving laboratory terhadap pemahaman
konsep pada siswa SMA.

H1 : 0 1

Terdapat pengaruh model pembelajaran problem


solving laboratory terhadap pemahaman konsep
pada siswa SMA.

Ketentuan uji-t satu pihak (1-tailed) dengan derajat kebebasan (dk = n 1 +


n2 - 2) pada taraf nyata = 0,05 adalah :

1) Jika

t hitung

> t tabel berarti H1 diterima.

2) Jika

t hitung

< t tabel berarti H1 ditolak.

32