Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS UJIAN

OS ENDOPTHALMITIS ET CAUSA TRAUMA TUMPUL

Pembimbing / Penguji :

Dr. Djoko Heru, Sp. M

Disusun oleh:

Sharania Manivannan
11.2014.182

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT MATA
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE 25 MEI 2015- 27 JUNI 2015

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS KES UJIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RS MARDI RAHAYU, KUDUS, JAWA TENGAH

Nama : Sharania Manivannan


Nim : 11-2014-182

Tandatangan
............................................

Dr Pembimbing / Penguji : Dr Djoko Heru Sp.M

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Tanggal pemeriksaan
Pemeriksa
Moderator

II.

............................................
.

: Tn.B
: 29 tahun
: Islam
: Wiraswasta
: 15 Juni 2015
: Sharania Manivannan
: Dr Djoko Heru, Sp.M

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Auto anamnesis tanggal : 15 Juni 2015, jam 9.00 a.m
Keluhan utama
Mata kiri kelihatan kabur karena terpukul tang waktu lagi mengepel sejak
kelmarin sore jam dua.
Keluhan tambahan
Mata kiri terasa nyeri dan air mata keluar terus sejak kelmarin sore. Pasien juga
sering pusing disertai sakit kepala di sebelah kiri sejak masuk rumah sakit.
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke poliklinik mata RS Mardi Rahayu mengeluh mata kiri
kelihatan kabur karena terpukul tang waktu lagi mengepel sejak kelmarin sore jam
2

dua. Pasien mengatakan kelihatan seperti ada bayangan garis putih setelah
terpukul tang pada kelopak mata kiri pada jam dua sore. Pasien juga mengeluh
mata kirinya terasa nyeri dan air mata keluar terus sejak kelmarin sore jam lima.
Pada waktu pagi hari ini, pasien mengeluh mata kirinya terasa mengganjal dan
hanya kelihatan seperti ada selaput putih yang menutupi mata kiri. Pasien juga
sering pusing disertai sakit kepala di sebelah kiri sejak dirawat inap di RS Mardi
Rahayu. Menurut pasien tidak merasakan gatal-gatal dan tidak ada keluhan keluar
darah dari mata kirinya melainkan pandangannya yang semakin buram. Riwayat
pengobatan mata disangkal. Alergi obat-obatan dan makanan disangkal dan
riwayat penggunaan kacamata disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya dan riwayat darah tinggi
dan diabetes mellitus disangkal. Pasien juga mangatakan tidak pernah merokok
maupun minum alkohol.
Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah pasien menderita penyakit darah tinggi. Tidak ada ahli keluarga yang lain
dengan riwayat hipertensi, diabetes mellitus, stroke maupun gangguan penglihatan.
Kesimpulan Anamnesis

OD

III.

Proses

Trauma

Lokalisasi

Kornea

Sebab

Trauma

Perjalanan

Akut

Komplikasi

Endofthalmitis

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang


3

Tanda Vital
Tekanan darah
Nadi
Respiration rate
Suhu
Kepala
Telinga
Hidung
Tenggorokkan
Thoraks
Jantung
Paru
Abdomen
Ekstremitas

: 110/80 mmHg
: 80x/menit
: 22x/menit
: 36,7C
: Normosefali, rambut hitam, distribusi merata
: Normotia, serumen (-), secret (-)
: Deviasi septum (-), secret (-)
: Tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis
: BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-)
: SN vesikuler, wheezing (-), ronki (-)
: Nyeri tekan (-), bising usus (+) 6x/menit, supel.
: Akral hangat, udem -/-

STATUS OPHTHALMOLOGIS

OD

OS

Erosi kornea +
Perdarahan subkonjunctiva + mix
injeksi

OD
20/20
Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal.
Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-)
Strabismus (-)
Nyeri tekan (-)
Edema (-)
Hiperemis (-)
Blefarospasme (-)

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi
Bulbus Oculi

Palpebra superior dan

OS
1/~
Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal.
Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-)
Strabismus (-)
Nyeri tekan (+)
Edema (+)
Hiperemis (+)
Blefarospasme (-)
4

Lagopthalmus (-)
Ektropin (-)
Entropion (-)
Edem (-)
Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi siliar (-)
Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-)
Kemosis (-)
Sekret (-)

inferior

Camera Oculi Anterior

Lagopthalmus (-)
Ektropin (-)
Entropion (-)
Edem (-)
Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (+)
Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-)
Kemosis (-)
Sekret kental berwarna
putih (+)
Warna merah
Ikterik (-)
Keruh, batas irregular,
terdapat selaput putih
yang menutupi seluruh
kornea, erosi (+)
Edem (+)
Infiltrat (-)
Sikatrik (-)
kedalaman, hipopion,
hifema sulit dinilai.

Iris

Sulit dinilai

Pupil

Sulit dinilai

Lensa
Vitreus
Fundus Refleks
Retina

Sulit dinilai
Sulit dinilai
negatif
Sulit dinilai

Tekanan Intra Okuler


Sistem Lakrimasi

Normal
Normal

Conjunctiva

Normal, warna putih


Ikterik (-)
Bulat, jernih
Edem (-)
Infiltrat (-)
Sikatrik (-)

Jernih
Kedalaman cukup
Hipopion (-)
Hifema (-)
Kripta (-)
Warna coklat
Edema (-)
Sinekia (-)
Atrofi (-)
Reguler
Letak sentral,
Diameter 3 mm
Refleks pupil L/TL : (+/
+)
jernih
jernih
positif
C/D ratio 0.3, Eksudasi
(-), arteri : vena = 2:3,
perdarahan (-) ,
neovaskularisasi(-) ,
eksudasi (-)
Normal
Normal

V.

Sclera
Kornea

PEMERIKSAAN PENUNJANG
5

Lab darah rutin: dilakukan untuk mengetahui kadar leukosit apakah terjadi
peningkatan sebagai tanda adanya infeksi.
Hasil pemeriksaan darah lengkap
Haemoglobin
Lekosit
DIFF COUNT

11.4 g/dL
9.59 10^3/ul
0.30

13.2-17.3
3.6-11.0
1-3

Eosinofil
Basofil

0.20

0-1

Neutrofil
Limfosit

65.40
27.10

50-70
25-40

Monosit

7.00

2-8

Pemeriksaan kadar gula darah: dilakukan untuk memantau keadaan gula darah
pasien.
Hasil Gula Darah Sewaktu
87 mg/dL ( N: 75-110)
Pemeriksaan tonometri: dilakukan untuk memantau tekanan intraokuler pasien
Hasil: (+) Normal
VI.

RESUME
Subjektif
Pasien datang ke poliklinik mata RS Mardi Rahayu mengeluh mata kiri
kelihatan kabur karena terpukul tang waktu lagi mengepel sejak kelmarin sore jam
dua. Pasien mengatakan kelihatan seperti ada bayangan garis putih setelah
terpukul tang pada kelopak mata kiri pada jam dua sore. Pasien juga mengeluh
mata kirinya terasa nyeri dan air mata keluar terus sejak kelmarin sore jam lima.
Pada waktu pagi hari ini, pasien mengeluh mata kirinya terasa mengganjal dan
hanya kelihatan seperti ada selaput putih yang menutupi mata kiri. Pasien juga
sering pusing disertai sakit kepala di sebelah kiri sejak dirawat inap di RS Mardi
Rahayu. Menurut pasien tidak merasakan gatal-gatal dan tidak ada keluhan keluar
darah dari mata kirinya melainkan pandangannya yang semakin buram.
Obyektif
Pada pemeriksaan ophtalmologis :
OD ditemukan : dalam batas normal
OS ditemukan :
6

Visus OS: 1/~


Palpebra: edema, nyeri tekan, hiperemis
Konjungtiva: hiperemis, injeksi siliar dan injeksi konjungtiva, terdapat
sekret kental berwarna putih.
Sklera: berwarna merah
Kornea: keruh, edem, batas irregular, terdapat selaput putih yang menutupi
seluruh kornea, erosi (+)
COA: kedalaman, hipopion, hifema sulit dinilai.
Fundus refleks: negatif
VII.

DIAGNOSIS BANDING
1. OS Endopthalmitis et causa trauma tumpul
2. OS Contusio Oculli dengan suspek ablatio retina
3. OS Katarak Traumatik

VIII. DIAGNOSIS KERJA


OS Ruptur Bulbi et causa Trauma Tumpul
Dasar diagnosis:
Subjektif

Nyeri pada bola mata dan air mata keluar terus


Penurunan tajam penglihatan
Nyeri kepala di bagian kiri
mata kirinya terasa mengganjal dan ada selaput putih yang menutupi mata
kiri

Objektif
Visus OS: 1/~
Palpebra: edema, nyeri tekan, hiperemis
Konjungtiva: hiperemis, injeksi siliar dan injeksi konjungtiva, terdapat
sekret kental berwarna putih.
Sklera: berwarna merah
Kornea: keruh, edem, batas irregular, terdapat selaput putih yang menutupi
seluruh kornea, erosi(+)
COA: kedalaman, hipopion, hifema sulit dinilai.
Fundus refleks: negatif
IX.

PENATALAKSANAAN

Medica Mentosa.
1.

Kompres mata kiri dengan Nacl steril

2.

Infus mannitol 100cc dan ringer laktat (20 tetes per menit)

3.

Tobro ed 61 tts ODS merupakan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi


sekunder.

4.

SA 1% 31 OS sebagai sikloplegik untuk merelaksasikan iris sehingga


mengurangi nyeri dan mencegah sinekia posterior.

5.

Timolol 0,5% 21 OS sebagai agen penghambat beta adrenergik yang mengurangi


efek saraf simpatis dalam mendilatasi pupil.

6.

Doksisiklin 2100 mg merupakan antibiotik sistemik untuk memperkuat efek


antibiotik topikal.

7.

Vit C 2000 mg untuk membantu reepitelialisasi kornea dan mempercapat


penyembuhan.

8.

Oculotect eg 41 ODS untuk mencegah kekeringan mata dan mempercepat


reepitelialisasi kornea.

9.

Repithel eo 41 ODS merupakan air mata buatan dengan kandungan vitamin A


untuk mempercepat reepitelialisasi kornea.

10.

Glaukon 2250 mg merupakan agen antiglaukoma yang bekerja sebagai inhibitor


karbonik anhidrase sehingga dapat mengurangi produksi humor aqueous.
Sosial
Tentukan ketajaman, catat apakah satu atau kedua mata terlibat
Rasionalisasi : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progesif, bila bilateral, tiap mata dapat
berlanjut pada laju yang berbeda tetapi, biasanya hanya satu mata diperbaiki per
prosedur.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain diareanya
Rasionalisasi : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan
menurunkan cemas.
Operatif
Eviserasi Bulbi

X.

PROGNOSIS
8

Ad Vitam
Ad Fungsionam
Ad Sanationam
Ad Cosmetikum
XI.

OD
ad bonam
ad bonam
ad bonam
ad bonam

OS
dubia ad malam
ad malam
dubia ad malam
dubia ad malam

USUL
a) Foto polos orbita untuk mencari benda asing radioopak.
b) USG orbita pada keadaan media refraksi keruh untuk mendapatkan
informasi tentang status dari struktur intraokuler, lokalisasi dari benda
asing intraokuler, deteksi benda asing non metalik, deteksi perdarahan
koroid, ruptur sklera posterior, ablasio retina, dan perdarahan sub retina.
c) CT Scan untuk evaluasi struktur intraokuler dan periorbita, deteksi adanya
benda asing intraokuler metalik dan menentukan terdapatnya atau derajat
kerusakan

periokuler,

keikutsertaan

trauma

intrakranial

misalnya

perdarahan subdural.
d) MRI sangat baik untuk menilai jaringan lunak tetapi kontraindikasi pada
benda asing yang terbuat dari metal.
XII.

SARAN
-

Awasi tanda-tanda vital dan skala nyeri


Anjurkan tirah baring
Pemberian alat pelindung pada mata untuk menghindari trauma dan tekanan

lebih lanjut.
Jika pasien belum menerima imunisasi tetanus dalam 5 tahun terakhir, perlu

diberi imunisasi tetanus.


Tindakan bedah, jika persepsi cahaya pasien nol (0) dan temuan yang ada

mengarah pada trauma okuler ekstrim atau infeksi seperti endofthalmitis.


Hindari pekerjaan berat dan gunakan obat secara rutin
Jaga kebersihan mata dan hindari mata dari air, debu, sinar matahari,
mengucak mata.

Tinjauan Pustaka
Endopthalmitis et causa Trauma tumpul
Latar Belakang
Trauma okuli bisa merupakan penyebab kebutaan unilateral yang umum terjadi pada
anak-anak dan orang dewasa muda, mereka yang termasuk dalam golongan umur ini
merupakan bagian terbesar penderita cidera. World Health Organization (WHO)
memperkirakan 55 juta trauma okuli terjadi setiap tahun. Dari jumlah ini, 750 ribu
membutuhkan perawatan di bangsal rumah sakit, kira-kira 200 ribu merupakan trauma bola
mata terbuka. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 10 % pasien rawat inap di bangsal
mata, disebabkan oleh trauma (Supartoto, 2007).
Secara umum trauma mata dibagi menjadi dua yaitu trauma okuli perforans dan
trauma okuli non perforans. Sedangkan klasifikasi trauma okuli berdasarkan mekanisme
trauma terbagi atas trauma mekanik (trauma tumpul dan trauma tajam), trauma radiasi (sinar
inframerah, sinar ultraviolet, dan sinar X) dan trauma kimia (bahan asam dan basa) (Rahman,
2009). Trauma tumpul sering terjadi pada kasus-kasus trauma okuli. Akibat yang ditimbulkan
dapat berupa kontusio (trauma tertutup) atau jika gaya yang mengenai orbita sangat kuat

10

dapat mengakibatkan ruptur bola mata (trauma terbuka) (Supartoto, 2007). Trauma tumpul
pada mata yang berupa kontusio dapat disertai dengan hifema. Hifema merupakan keadaan
dimana terjadi perdarahan pada bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul pada
mata. (Sankar, 2002). 1
Struktur wajah dan mata sangat sesuai untuk melindungi mata dari cedera. Bola mata
terdapat di dalam sebuah rongga yang dikelilingi oleh bubungan bertulang yang kuat.
Kelopak mata bisa segera menutup untuk membentuk penghalang bagi benda asing dan mata
bisa mengatasi benturan yang ringan tanpa mengalami kerusakan. Meskipun demikian, mata
dan struktur di sekitarnya bisa mengalami kerusakan akibat cedera, kadang sangat berat
sampai terjadi kebutaan atau mata harus diangkat. Cedera mata harus diperiksa untuk
menentukan pengobatan dan menilai fungsi penglihatan.
Trauma tumpul, meskipun dari luar tidak tampak adanya kerusakan yang berat, tetapi
transfer energi yang dihasilkan dapat memberi konsekuensi cedera yang fatal. Kerusakan
yang terjadi bergantung kekuatan dan arah gaya, sehingga memberikan dampak bagi setiap
jaringan sesuai sumbu arah trauma. Trauma tumpul dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kontusio, yaitu kerusakan disebabkan oleh kontak langsung dengan benda dari luar
terhadap bola mata, tanpa menyebabkab robekan pada dinding bola mata
2. Konkusio, yaitu bila kerusakan terjadi secara tidak langsung. Trauma terjadi pada
jaringan disekitar mata, kemudian getarannya sampai ke bola mata. Baik kontusio
maupun konkusio dapat menimbulkan kerusakan jaringan berupa kerusakan
molekular, reaksi vaskular, dan robekan jaringan. Menurut Duke-Elder, kontusio dan
konkusio bola mata akan memberikan dampak kerusakan mata, dari palpebra sampai
dengan saraf optikus.2
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat trauma okuli adalah erosi kornea, iridoplegia,
hifema, iridosiklitis, subluksasi lensa, luksasi lensa anterior, luksasi lensa posterior, edema
retina dan koroid, ablasi retina, ruptur koroid, serta avulsi papil saraf optik. Jika komplikasi
tersebut keluar maka terapi yang diberikan juga meliputi penanganan terhadap komplikasi
yang timbul.
Anatomi dan Fisiologi
A.Kornea
11

Kornea adalah selaput bening mata yang dapat tembus cahaya, dan merupakan
jaringan penutup bola mata sebelah depan yang terdiri dari :
1. Epitel, terdiri dari 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih. Satu lapis sel basal, sel polygonal, dan sel gepeng.
2. Membrane Bowman, merupakan kolagen yang tersusun
tidak teratur seperti stroma. Membrane Bowman ini terletak di bawah
membrane basal epitel kornea.
3. Stroma, terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan yang lainnya.
4. Membrane descement, merupakan membrane aseluler, bersifat sangat elastik.
5. Endotel, yang berasal dari mesotelium, berlapis satu, berbentuk heksagonal.
Kornea disarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar
longus dan saraf nasosiliar, masuk ke dalam stroma kornea,
menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya.
Daya

regenerasi

saraf

sesudah

dipotong

didaerah

limbus

terjadi

dalam

waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akanmengakibatkan sistem pomp
a endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Kornea
merupakantempat pembiasan sinar terkuat, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar
masuk kornea dilakukan oleh kornea.1
Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan
deturgenes. Deturgenes, atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih
penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik pada
endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya
menyebabkan edema lokal stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu
telah beregenerasi.
Penguapan air dari film air mata prakornea akan mengkibatkan film air mata akan
menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-faktor yang yang
menarik air dari stroma kornea superfisialis untuk mempertahankan keadaan dehidrasi.
12

Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut lemak dapat melalui epitel
utuh, dan substansi larut air dapat melalui stroma yang utuh. Karenanya agar dapat melalui
kornea, obat harus larut lemak dan larut air sekaligus.1,2
Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran yang tipis dan transparan yang melapisi permukaan
posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva
bulbaris). Arteri konjungtiva berasal dari arteri cilliaris anterior dan arteria palpebralis. Kedua
arteri ini beranastomosis dengan bebas, dan bersama banyak vena konjungtiva membentuk
jaring-jaring vaskular konjungtiva yang sangat banyak. Konjungtiva menerima persarafan
dari percabangan oftalmik pertama nervus V. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif
sedikit.
Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan kebutuhan
oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata dengan mekanisme
pertahanan non spesifik yang berupa barier epitel, aktivitas lakrimasi, dan menyuplai darah.
Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa mekanisme imunologis seperti sel mast,
leukosit, adanya jaringan limfoid pada mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA. Pada
konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua grup besar yaitu:
1. Penghasil musin.
a. Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada daerah
inferonasal.
b.Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas darikonjungtiva tarsalis superior
dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis inferior.
c.Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.2
2. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause dan kelenjar
Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi propria.
Pada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun karena
suhunya yang cukup rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah yang rendah
menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. Selain itu, air mata bukan merupakan
medium yang baik.
13

Lensa Mata
Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dari zat tembus cahaya
yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadi akomodasi. Lensa berbentuk cakram
bikonveks dan terletak di dalam bilik mata belakang. Pada keadaan normal, cahaya atau
gambar yang masuk akan diterima oleh lensa mata, kemudian akan diteruskan ke retina,
selanjutnya rangsangan cahaya atau gambar tadi akan diubah menjadi sinyal / impuls yang
akan diteruskan ke otak melalui saraf penglihatan dan akhirnya akan diterjemahkan sehingga
dapat dipahami. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di
dalam kapsul lensa. Epitel lensa membentuk serat lensa secara terus-menerus sehingga
mengakibatkan memadatnya seat di bagian sentral sehingga membentuk nukleus lensa.
Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang
paling tua. Di bagian luar nukleus terdapat serat yang lebih muda disebut korteks lensa.
Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus disebut korteks anterior, sedangkan yang di
belakang nukleus disebut korteks posterior. Nukleus memiliki konsistensi yang lebih keras
dibandingkan korteks. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat Zonula Zinn yang
menggantungkan lensa di seluruh equatornya pada badan siliar. Secara fisiologik, lensa
memiliki sifat tertentu:
a. Kenyal atau lentur karena memegang peranan penting dalam
akomodasi untuk menjadi cembung.
b. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan.
c. Terletak di tempatnya
Keadaan patologik lensa dapat berupa:
1. Kekenyalan berkurang pada orang tua sehingga mengakibatkan presbiopi.
2. Keruh atau disebut katarak.
3. Tidak berada di tempatnya atau subluksasi atau luksasi.3

Trauma Kornea
Trauma kornea adalah segala bentuk perlukaan yang mengenai kornea, yang
menyebabkan kerusakan baik sebagian maupun keseluruhan lapisan kornea. Perlukaan yang
ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata,
mulai dari erosi kornea, laserasi sampai perforasi kornea.3
Erosi kornea
14

Erosi kornea merupakan keadaan terlepasnya epitel kornea yang disebabkan trauma tumpul
ataupun tajam pada kornea. Defek pada epitel kornea memudahkan kuman menyerang kornea
sehingga mengakibatkan terjadinya infeksi sekunder. Erosi kornea sering kali diawali dengan
trauma pada mata. Segera sesudah trauma atau masuknya benda asing, penderita akan merasa
sakit sekali, akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata
menjadi berair, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media yang keruh. Dapat pula
disertai dengan blefarospasme, yaitu kelopak mata menjadi kaku dan sulit dibuka. Kornea
memiliki sifat penyembuhan yang luar biasa. Epitel yang berdekatan dapat mengembang
untuk mengisi daerah yang luka, biasanya dalam waktu 24-48 jam. Lesi yang murni pada
epitel sering sembuh dengan cepat dan tanpa jaringan parut, sementara lesi yang menembus
hingga lapisan Bowman lebih cenderung meninggalkan bekas luka permanen. Penegakkan
diagnosis pada kasus erosi kornea dapat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
terutama pada mata, serta pemeriksaan tambahan seperti tes fluoresein. Kertas tes fluoresein
dapat digunakan untuk mengetahui adanya kerusakan pada kornea.4
Laserasi kornea
Laserasi kornea adalah luka pada keseluruhan tebal dinding kornea yang disebabkan oleh
benda tajam. Bila sampai terjadi robekan kornea, akan terjadi pengeluaran isi bola mata
dimulai dari lapisan yang paling depan. Keluarnya bagian bola mata di sebut dengan prolaps.
Bila yang keluar iris maka disebut prolaps iris. Robekan kornea bila sembuh akan
menimbulkan sikatrik yang disebut Lekoma cornea, apabila iris ikut melekat kearah cornea
karena proses penyembuhan disebut lekoma adheren. Synechia anterior yang terjadi dapat
menyebabkan aliran aquos terganggu, menyebabkan glaucoma sekunder. Kenaikan TIO yang
terjadi selama proses penyembuhan akan di teruskan ke seluruh penjuru, karena bagian
lekoma paling lemah, maka peningkatan TIO menimbulkan penonjolan disebut stapyloma
cornea. Penatalaksanaan laserasi berdasarkan beratnya laserasi dan komplikasi:
Laserasi kornea kecil: tidak membutuhkan penjahitan karena bisa menyembuh sempurna
atau dengan bantuan lensa kontak yang seperti perban lembut.
Laserasi kornea ukuran medium: biasanya membutuhkan jahitan terutama jika COA datar.
COA yang datar dapat kembali berubah semula secara spontan jika kornea telah dijahit, jika
tidak, harus dikembalikan dengan solusio garam seimbang. Bandage contact lens post
operatif juga berguna selama beberapa hari untuk meyakinkan bahwa COA tetap dalam.

15

Laserasi kornea dengan inkarserasi iris


Manajemen tergantung dari durasi dan luasnya inkarserasi.Kebocoran kecil dari inkarserasi
yang baru terjadi dapat digantikanoleh konstriksi pupil dengan intrakamera Miochol.
Inkarserasi irisyang besar harus di absisi terutama jika iris terlihat non-viabel.
Laserasi tanpa prolaps jaringan
Jika bola mata ditembus dari depan tanpa adanya bukti prolaps intraocular dan jika lukanya
bersih dan kelihatan bebas dari kontaminasi, biasanya dapat diperbaiki dengan jahitan
interrupted menggunakan benang silk atau catgut. Bekuan darah dapat dibersihkan dengan
mudah dari bilik depan dengan irigasi kemudian bilik di bentuk kembali setelah kornea
diperbaiki dengan injeksi dari larutan salin atau air. Midriatik sebaiknya diberikan dan larutan
antibiotic harus dimasukkan ke dalam kantung konjungtiva lalu pinggir mata diplester. Pasien
harus tirah baring untuk beberapa hari dan antibiotik sistemik diberikan untuk mengurangi
infeksi intraocular.4
Laserasi dengan prolaps
Jika sebagian kecil dari iris prolaps melalui luka, maka harus dipegang dengan forsep dan
dipotong tepat pada batas luka. Jaringan uveadalam jumlah yang sedikit juga dapat dibuang
dengan cara yang sama. Luka harus ditutup dengan cara yang sama seperti menutup luka
pada laserasi tanpa prolaps. Jika jaringan uvea mengalami cedera, maka ophtalmia simpatetik
kemungkinan akan muncul. Jika lukanya luas dan kehilangan isi intraocular berat sehingga
prognosis fungsi mata buruk, maka eviserasi dan enukleasi diindikasikan sebagai prosedur
pembedahan utama.3,4
Laserasi kornea dengan kerusakan lensa
Diterapi dengan menjahit laserasi dan memindahkan lensa dengan phacoemulsification atau
dengan vitreus cutter jika vitreus terlibat.
Laserasi sklera anterior yang tidak melewati bagian posterior terhadap insersi otot
ekstraokular mempunyai prognosis yang lebih baik dari pada lesi yang lebih posterior dan
melibatkan retina. Luka pada sklera anterior dapat berhubungan dengan komplikasi serius
seperti prolaps uvea dan inkarserasi vitreus. Inkarserasi vitreus meskipun dengan manajemen
yang tepat, dapat menimbulkan traksi vitreoretina dan ablasio retina. Setiap usaha harus

16

dikerjakan untuk reposit jaringan uvea viabel yang terekspos dan memotong vitreus yang
prolaps.4

ENDOFTHALMITIS
Pendahuluan
Endophthalmitis merupakan inflamasi atau radang pada bagian dalam bola mata
termasuk rongga orbita yang diisi oleh cairan seperti gel yang bersifat transparan yang
disebut Vitreus Humor dan juga mengenai Aqueous Humor. Inflamasi juga melibatkan

jaringan disekitarnya yang berpengaruh terhadap fungsi penglihatan.

Pada banyak kasus,

penyebab dari inflamasi ini adalah infeksi (dapat oleh bakteri, jamur,virus ataupun parasit).
Noninfectious (sterile) endophthalmitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti post
operasi katarak atau adanya agen toksik. Di Amerika, penyebab endophthalmitis terbanyak
adalah

infeksi

bakteri

post

operasi

mata,

seperti operasi katarak

atau glaukoma. Bakteri juga dapat masuk bila terjadi trauma yang menembus pada mata.
Yang jarang terjadi adalah penyebaran infeksi dari darah yang dapat menuju ke mata disebut
hematogenous endophthalmitis. Ada 2 tipe endophthalmitis :
Endogenous endophthalmitis
Penyebaran infeksi

secara

hematogen

dari

tempat

asal atau

sumber

infeksi

(contohendocarditis).5
Exogenous endophthalmitis
Patofisiologi
Inokulasi langsung infeksi sebagai komplikasi dari operasi mata, adanya benda asing,
taruma tumpul atau trauma tajam pada mata. Pada keadaan normal, blood-ocular barrier dapat
melindungi mata dari invasi mikroorganisme. Pada Endogenous endophthalmits, organisme
dapat menembus blood-ocular barrier dengan invasi langsung (contoh : septic emboli) atau
dengan merubah permeabilitas vaskuler endotel. Destruksi jaringan intraokular mungkin
17

berhubungan dengan invasi langsung mikroorganisme dan atau dari pelepasan mediator
inflamasi karena respon imun. Endophthalmitis dapat ditemukan adanya nodule putih pada
kapsul lensa, iris, retina, atau koroid. Juga dapat mengenai berbagai tempat diseluruh jaringan
mata, dimana yang utama adalah terbentuknya eksudat purulen pada bola mata. Dapat
menyebar ke jaringn lunak dari mata. Semua prosedur operasi yang mengganggu integritas
dari bola mata dapat menyebabkan Exogenous endophthalmitis (misalnya : operasi katarak,
glaukoma, radial keratotomy).6
Epidemiologi
Endophthalmitis endogenous jarang ditemukan, terjadi 2 15 % dari seluruh kasus
endophthalmitis. Insiden rata-rata pertahun adalah 5 dari 10.000 pasien yang dirawat.
Biasanya mata kanan lebih sering terkena daripada mata kiri karena terletak lebih proximal
atau lebih dekat denagn peredaran darah arteri Inominata kanan yang juga menuju arteri
carotis kanan. Sejak tahun 1980, terjadi peningkatan infeksi candida pada pengobatan dengan
yang dilakukan secara IV. Pada saat ini peningkatan resiko terjadinya infeksi disebabkan
antara lain oleh penyakit AIDS, peningkatan penggunaaan obat-obat imunosupresan dan
prosedur operasi yang invasif (seperti transplantasi sumsum tulang). Sekitar 60 % kasus
Exogenous endophthalmitis terjadi setelah intraocular surgery. Pada 3 tahun terakhir ini di
Amerika terjadi peningkatan komplikasi post cataract endophthlamits. Post traumatic
endophthalimitis terjadi pada 4 13 % dari seluruh kasus trauma tajam mata. Gangguan atau
perlambatan penyembuhan pada trauma tajam mata meningkatan resiko terjadinya
endophthlamitis. Insiden endophthalmitis karena adanya intraocular foreign body adalah 7
31 %.6

Gambar ini menunjukkan edema kornea akibat trauma tumpul.


18

Gejala Klinik
Endophtalmitis dapat memberikan gejala yang dikeluhkan secara subyektif seperti :

Penurunan tajam penglihatan.


Sakit pada mata dan iritasi.
Mata merah.
Sakit kepala.
Fotofobia.
Adanya sekret.

Gejala yang paling sering ditemukan pada endophtalmitis adalah kehilangan


penglihatan. Biasanya gejala yang timbul tergantung dari penyebab-penyebabnya.

Postoperative endophthalmitis.

Pada kasus ini problem yang serius adalah kehilangan penglihatan yang permanen. Gejala
biasanya tidak terlalu menonjol, tergantung dari kapan terjadinya infeksi, dini (6 minggu
ataukurang) atau lanjut (bulan atau tahunan) setelah operasi. Gejala pada stadium dini adalah
penurunan penglihatan yang dramatis pada mata yang terlibat, sakit pada mata setelah
operasi, mata merah dan pembengkakan kelopak. Gejala pada stadium lanjut biasnya lebih
berat pada stadium dini. Seperti penglihatan buram, penurunan sensitivitas terhadap cahaya
(fotofobia) dan sakit yang berat pada mata.5,6

Post traumatic endophthalmitis

Gejala pada endophthalmitis yang disebabkan trauma tembus biasanya lebih berat termasuk
penurunan visus yang cepat, sakit mata yang lebih hebat, mata merah dan pembengkakan
kelopak.

Hematogenous endophthalmitis

Pada saat infeksi menyebar melalui aliran darah dan masuk ke dalam mata, gejalanya akan
timbul perlahan-lahan/ bertahap dan lebih ringan. Sebagai contoh, pasien mungkin tidak akan
mengeluh penglihatannya turun setelah 5 minggu, biasanya akan terlihat floaters berwarna
hitam, semi transparan yang akan mengganggu penglihatan. Penemuan dari pemeriksaan fisik
berhubungan dengan struktur mata yang terlibat dan derajat dari infeksi atau inflamasi.
Pemeriksaan mata harus dilakukan dengan cermat termasuk pemeriksaan visus, pemeriksaan
19

external, pemeriksaan dengan funduskopi, dan slit lamp biomicroscpy. Penemuan-penemuan


yang dapat ditemukan secara objektif adalah :

Pembengkakkan dan eritema kelopak mata.


Injeksi conjungtiva dan siliar .
Cornea oedema.
Hipopion ( adanya sel dan exudat karena inflamasi pada bilik mata depan).
Tanda dini berupa Roths spot (bercak bulat, putih paad retina yang dikelilingi

perdarahan).
Retinal periphlebitis.
Vitreitis.
Chemosis.
Penurunan atau hilangnya red refleks.
Proptosis.
Papilitis.
Cotton-wool spots.
White lesion di koroid dan retina.
Uveitis kronis.
Vitreal mass dan debris.

Penyulit endophthalmitis adalah bila proses peradangan mengenai ketiga lapisan mata
(retinakoroid dan sklera) dan badan kaca akan mengakibatkan panophthalmitis.
Panophthalmitis sendiri mempunyai penyulit yaitu terbentuknya jaringan granulasi disertai
vaskularisasi dari koroid. Panophthlamitis dapat berakhir dengan terbentuknya fibrosis yang
akan menyebabkan phtisis bulbi. Biasanya pada kasus ini membutuhkan terapi enukleasi.7

Tabel 1 menunjukan perbedaan antara endofthalmitis dan panopthalmitis.


Etiologi
20

Organisme

gram-positif

merupakan

penyebab

56

90

dari

seluruh

endophthalmitis. Organisme yang merupakan penyebab terbanyak adalah Staphylococcus


epidermitis, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus. Gram-negatif seperti Pseudomonas,
Escherichiacoli dan Enterococcus biasanya ditemukan pada trama tajam mata.7

Endogenous endophthlamitis

Pada penderita Diabetes Melitus, gagal ginjal kronik, kelainan katup jantung, sistemik lupus
eritematosus, AIDS, leukimia, keganasan gsartointestinal, neutropenia, lymphoma, hepatitis
alkoholik, transplantasi sumsum tulang meningkatkan resiko terjadinya Endogenous
endophthalmitis. Prosedur-prosedur invasif yang dapat menyebabkan bakterimia seperti
hemodialisis,kateterisasi vesika urinaria, endoskopi gastrointestinal, total perenteral nutrition,
kemoterapi, dan dental prosedur dapat menyebabkan endophthalmitis. Operasi atau trauma
nonocular yang baru terjadi, prostetic katup jantung, imunosupresan, dan pemakaian obatobat IV merupakan predisposisi terjadinya endogenous endophthalmitis.
Sumber infeksi endogen pada endophthlamitis adalah meningitis, endocarditis,infeksi
saluran kemih, dan infeksi berat. Faringitis, infeksi paru, septik artritis, pielonefris, dan
intraabdominal abses juga terlibat sebagai sumber infeksi. Organisme jamur terdapat pada
50% dari seluruh kasus endogenous endophthlamitis. Frekuensi Candida albicans adalah 78
80 % dari kasus penyebab jamur. Penyebab terbanyak ke-2 adalah Aspergilosis, terutama
pada pengobatan secara IV. Penyebab yang jarang adalah Torulopsis, Sporotrichum,
Cryptococcus, Coccidiodes, dan spesies Mucor. Organisme gram-positif merupakan
penyebab tersering dari endogenous endopthlamitis. Bakteri tersering adalah Staphylococcus
aureus yang biasanya trelibat pada infeksi kulit atau penyalit sistemik kronis seperti Diabetes
Melitus atau gagal ginjal. Spesies Streptococcus seperti Streptococcus pneumonia,
streptococcus viridans dan group A Streptococcus juga sering sebagai penyebab.
Spesies Streptococcal lain, misalnya group B pada bayi baru lahir dengan meningitis
atau group G pada pasien dewasa dengan infeksi berat atau keganasan, juga telah diisolasi.
Bacillus cereus terlibat dalam infeksi melalui penggunaan obat-obatan secara IV. Spesies
Clostridium mempunyai hubungan dengan keganasan usus. Bakteri Gram-negatif merupakan
bakteri penyebab yang lain. E coli adalah yang tersering. Haemophilus influenzae, Neisseria
meningitidis, Klebsiela pneumonia, Serratia spesies dan Pseudomonas aeruginosa juga dapat
menyebabkan endogenuos endophthlamitis.6,7

21

Exogenous endophthlamitis

Organisme yang normal berada di conjungtiva, kelopak mata, ataupun bulu matayang terlibat
sewaktu operasi dapat menyebabkan postoperative endophthalmitis. Pada banyak kasus
exogenous endophthalmitis terjadi karena komplikasi dari postoperasi atau trauma pada mata.
Pada kasus ini, organisme gram-positif merupakan penyebab terbanyak sekitar 56-90% yaitu
Staphylococcus yang merupakan flora conjungtiva yang normal; organisme gram-negatif
terdapat pada 7-29 %; dan jamur ditemukan pada 3-13 % kasus.
Penyebab tersering pada exogenous endophthalmitis adalah Staphylococcus
epidermitis, yang merupakan flora normal dari kulit dan conjungtiva. Bakteri garm-negatif
lainnya adalah S aureus dan Streptococcal species. Penyebab terbanyak organisme gramnegatif yang berhubungan dengan postoperativeendophthalimitis adalah P aueruginosa,
Proteus dan Haemophils species. Walaupun jarang, berbagai macam jamur dapat
menyebabkan postoperative endophtalmitis termasuk Candida, Aspergillus dan Penicillium
species. Pada traumatic endophthalmitis, bakteri atau jamur biasanya terlibat sewaktu trauma.
Pada trauma biasanya benda-benda sekitar yang menjadi penyebab sudah
terkontaminasi oleh berbagai agen yang infeksius. Staphylococcal, Streptococcal dan Bacillus
species biasanya merupakan penyebab dari traumatic endophthalmitis. Baureus terlibat dalam
25 % kasus traumatic endophthalmitis. Adanya riwayat trauma tajam dengan benda asing
intraokular yang terkontaminasi oleh bahan-bahan organik dapat melibatkan Bacillus
species.8
Penatalaksanaan
Ketika diagnosa sudah dapat ditetapkan, konsultasi ke ahli mata atau ophthalmologist sangat
diperlukan. Penatalaksanaan tergantung pada penyebab utama dari endophthalmitis.
Walaupun banyak sumber yang mengungkapkan tentang berbagai pengobatan, pada
umumnya semua menggunakan prinsip yang sama. Penatalaksanaan pada postoperative
endophtalmitis terdiri dari,
Pars plana vitrectomy atau aspirasi vitreous mungkin akan dianjurkan oleh ophthalmologist
yang diikuti dengan injeksi antibiotik intravitreal (misalnya :vancomycin, amikacin,
ceftazidine)
Dipertimbangkan antibotik sistemik atau steroid intravitreal.

22

Pasien dengan postoperative endophthalmitis mungkin tidak dianjurkan untuk dirawat di


rumah sakit. Tetapi keputusan tersebut sangat tergantung dari ophthalmologist.
Penatalaksanaan pada traumatic Endophthalmitis adalah
Sarankan pasien untuk dirawat di rumah sakit
Tangani ruptur bola mata (bila ada)
Antibiotik sistemik termasuk vancomycin, aminoglikosid atau cefalosporin generasike-3.
pertimbangkan clindamycin bila ditemukan Bacillus spasies.
Antibotik topikal
Antibiotik intravitreal mungkin diperlukan.
Pertimbangkan pars plana vitrektomi
Imunisasi tetanus bila sebelumnya belum pernah diimunisasi.
Siklopegik mungkin diperlukan.8
Pencegahan
Jika anda pernah mengalami riwayat operasi mata seperti operasi katarak, anda dapat
menurunkan resiko infeksi dengan mengikuti seluruh intruksi dokter setelah operasi dan
melakukan pemeriksaan reguler (follow-up) yang teratur. Untuk mencegah endophthalmitis
karena trauma, gunakan pelindung mata saat bekerja dan pada saat olahraga. Kacamata atau
helm dapat membantu melindungi dari debris industri yang dapat menembus mata.7.8
Prognosis
Prognosisnya sangat bervariasi karena banyaknya organisme yang terlibat. Ketajaman
visus saat pertama kali di diagnosa dan agen penyebab dapat memprediksi prognosis.
Prognosis dari endogenous endophthalmitis biasanya lebih buruk dibandingkan exogenous
endophthalmitis, karena organisme yang menyebabkannya lebih virulen,terjadi keterlambatan
diagnosis, dan biasanya terjadi pada pasien yang imunokompromise. Pada penelitian
retrospective, hanya sekitar 40 % pasien mengalami perbaikan visus menjadi dapat
menghitung jari atau lebih. Pada endophthalmitis vitrectomy study group, 74 % pasien
mengalami perbaikan visus menjadi 20/100 atau lebih.
23

Prognosis juga bergantung pada adanya penyakit yang mendasari, dimana pada suatu
penelitian terbukti prognosis yang buruk pada pasien dengan diabetes melitus. Prognosis
endophthalmitis sangat buruk bila disebabkan jamur atau parasit.
Kesimpulan
Endoftalmitis adalah peradangan berat yang terjadi pada seluruh jaringan intraokular,
yang mengenai dua dinding bola mata, yaitu retina dan koroid tanpa melibatkan sklera, dan
kapsula tenon. Endoftalmitis dapat diklasfikasikan menjadi supuratif, non supuratif dan
endoftalmitis fakoanafilaktik,
Penyebab endoftalmitis dapat di kelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu infeksi
yang dapat bersifat endogen dan eksogen serta yang disebabkan oleh imunologis. Gejala
subjektif antara lain adalah nyeri pada bola mata, penurun tajam penglihatan, nyeri kepala,
mata terasa bengkak kelopak mata merah, bengkak kadang sulit dibuka. Sedangkan dari
pemeriksaan fisik didapatkan udem pada palpebra superior, reaksi konjungtiva berupa:
hiperemis dan kemosis, udem pada kornea.8
DAFTAR PUSTAKA
1. Doyle J. 2009. Patient options after a ruptured globe in
Journal of Ophthalmic Medical Technology : Vol 5 Number 2 August 2009.
2. Acerra J.R. 2012. Globe Rupture. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/798223-overview#a0104 pada 16 Juni
2015
3. Acerra J.R. 2012. Globe Rupture Clinical Presentation. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/798223-clinical#a0217 pada 16 Juni
2015.
4. Gerstenblith A.T dan Rabinowitz M.P. 2012.The Wills eye manual: office
and emergency room diagnosis and treatment of eye disease sixth
edition.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Pp: 46-7
5. Schueler, S.J. Beckett J.H. Gettings D.S. 2011. Ruptured Globe Symptoms.
Diunduh dari http://www.freemd.com/ruptured-globe/symptoms.htm pada 16
Juni 2015.
6. Schueler, S.J. Beckett J.H. Gettings D.S. 2011. Ruptured Globe
Symptoms.http://www.freemd.com/ruptured-globe/symptoms.htm

24

7. Smiddy W.E. 2002. Ruptured Globe in Singh K. Smiddy W.E. Lee


A.G. Ophthalmology Review: A Case-Study Approach. New York: Thieme
Medical Publishing. Pp: 223-6.
8. Miller, JW. Endopthalmitis. Diunduh dari www.emedicine.com pada tanggal
15 Juni 2015.

25