Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar belakang masalah
Penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas dan kematian anak di negara
berkembang, dan penyebab penting kekurangan gizi. Pada tahun 2003 diperkirakan 1.87
juta anak-anak di bawah 5 tahun meninggal karena diare. Delapan dari 10 kematian ini
terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan. Rata-rata, anak-anak di bawah usia 3 tahun
pada negara-negara berkembang mengalami tiga episode diare setiap tahun. Diare yang
terjadi pada banyak negara, termasuk kolera, juga merupakan penyebab penting
morbiditas di antara anak-anak dan orang dewasa.
Banyak kematian diare disebabkan oleh dehidrasi. Sebuah perkembangan penting
telah menemukan bahwa dehidrasi akibat diare akut dari setiap etiologi dan pada usia
berapa pun, kecuali bila parah, dapat dengan aman dan secara efektif diobati dengan
metode sederhana oral rehidrasi menggunakan cairan tunggal pada lebih dari 90% kasus.
Glukosa dan beberapa campuran garam yang dikenal sebagai Garam Rehidrasi Oral (Oral
Rehidration Salts (ORS) atau oralit) yang dilarutkan dalam air untuk membentuk larutan
ORS atau oralit. Larutan ORS diserap di usus kecil bahkan selama terjadi diare yang
berlebihan, sehingga menggantikan air dan elektrolit hilang yang dalam tinja. Larutan
ORS dan cairan lain juga dapat digunakan sebagai perawatan di rumah untuk mencegah
dehidrasi. Setelah penelitian selama 20 tahun, telah dilakukan perkembangan dari larutan
ORS. Disebut larutan ORS osmolaritas rendah, larutan ORS baru ini sebanyak 33%
mengurangi kebutuhan tambahan terapi cairan IV setelah rehidrasi awal bila
dibandingkan dengan standar larutan ORS WHO sebelumnya. Larutan oralit baru juga
mengurangi insiden muntah sebanyak 30% dan volume diare sebesar 20%. Larutan ORS
osmolaritas rendah baru ini, mengandung 75 mEq / l natrium dan 75 mmol / l glukosa,
dan sekarang perumusan ORS ini secara resmi direkomendasikan oleh WHO dan
UNICEF. Dalam dokumen yang direvisi ini, ketika ORS / ORT disebutkan, artinya
mengacu pada larutan ORS osmolaritas rendah baru ini.
Unsur penting dalam pengelolaan anak dengan diare adalah penyediaan terapi
rehidrasi oral dan terus menyusui, dan penggunaan antimikroba hanya untuk anak dengan
diare berdarah, kasus kolera yang parah, atau infeksi non-usus serius. Para pengasuh
anak-anak yang masih muda juga harus diajarkan tentang praktek-praktek cara pemberian
makanan dan kebersihan yang dapat mengurangi morbiditas diare.

Pedoman penatalaksanaan diare di Indonesia saat ini merujuk pada pedoman


penatalaksanaan diare yang dikeluarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(Depkes RI) pada tahun 1999. Sedangkan World Health Organization (WHO) telah
mengeluarkan pedoman penatalaksanaan diare terbaru pada tahun 2005.1
B Tujuan penulisan
Penulisan referat ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis, diagnosis dan
penatalaksanaan yang terbaru diare pada anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A Definisi Diare
Diare ialah buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari biasanya, 3 kali
per hari, dapat/tidak disertai dengan lendir/darah yang timbul secara mendadak dan
berlangsung kurang dari 2 minggu.
Diare adalah buang air besar yang sering dan cair, biasanya paling tidak tiga kali
dalam 24 jam. Namun, lebih penting konsistensi tinja daripada jumlah. Seringkali, buang
air besar yang berbentuk bukanlah diare. Hanya bayi yang diberi ASI sering buang air
besar, buang air besar yang "pucat" juga bukan diare.
B Jenis-jenis Diare
Diare terdiri dari beberapa jenis yang dibagi secara klinis, yaitu :
a Diare cair akut (termasuk kolera), berlangsung selama beberapa jam atau hari.
mempunyai bahaya utama yaitu dehidrasi dan penurunan berat badan juga dapat terjadi
jika makan tidak dilanjutkan.
Diare akut berdarah, yang juga disebut disentri, mempunyai bahaya utama yaitu

kerusakan mukosa usus,sepsis dan gizi buruk, mempunyai komplikasi seperti


c

dehidrasi.
Diare persisten, yang berlangsung selama 14 hari atau lebih, bahaya utamanya adalah

malnutrisi dan infeksi non-usus serius dan dehidrasi.


Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor) mempunyai bahaya utama
adalah infeksi sistemik yang parah, dehidrasi, gagal jantung dan kekurangan vitamin

dan mineral.
C Etiologi diare
Tabel 1. Etiologi Diare Akut
Infeksi
1 Enteral
Bakteri: Shigella sp, E. Coli patogen, Salmonella sp, Vibrio cholera, Yersinia entreo
colytica, Campylobacter jejuni, V. Parahaemoliticus, VNAG, Staphylococcus aureus,

Streptococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Aeromonas, Proteis, dll


Virus: Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Norwalk like virus, cytomegalovirus

(CMV), echovirus , virus HIV


Parasit Protozoa: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporadium

parvum, Balantidium coli.


Worm: A. Lumbricoides, cacing tambang, Trichuris trichura, S. Sterocoralis,

cestodiasis dll
Fungus: Kardia/moniliasis
3

Parenteral: Otitits media akut (OMA), pneumonia, Travelers diartthea: E.Coli, Giardia
lamblia, Shigella, Entamoeba histolytica, dll
Intoksikasi makanan: Makanan beracun atau mengandung logam berat, makanan
mengandung bakteri/toksin: Clostridium perfringens, B. Cereus, S. aureus,

Streptococcus anhaemohytivus, dll


Alergi: susu sapi, makanan tertentu
Malabsorpsi/maldifesti: karbohidrat: monosakarida (glukosa, galaktosa, fruktosa),
disakarida(laktosa, maltosa, sakarosa), lemak: rantai panjang trigliserida, protein:
asam amino tertentu, celiacsprue gluten malabsorption, protein intolerance, cows
milk, vitamin &mineral

Imunodefisiensi
Terapi obat, antibiotik, kemoterapi, antasid, dll
Tindakan tertentu seperti gastrektomi, gastroenterostomi, dosis tinggi terapi radiasi
Lain-lain: Sindrom Zollinger-Ellison, neuropati autonomik (neuropatik diabetik)

Tabel 2. Etiologi Diare kronik berdasarkan patofisiologi


Jenis Diare
Etiologi
1Diare osmotik

AEksogen
1 Makanan cairan yang aktif osmotik, sulit diabsorbsi
seperti katartik sulfat dan fosfat, antasida, laktulosa
2

dan sorbitol
Obat-obatan lain: kolkisin, paraamino asam salisilac,
antibiotika, anti kanker, anti depresan, anti hipertensi,
anti konvulsan, obat penurun kolesterol, obat diabetes

mellitus, diuretika, theofilin


B Endogen
1 Kongenital: kelainan malabsorpsi spesifik, penyakit
2
2Diare sekretorik

malabsorpsi umum
Didapat: kelainan malabsorpsi spesifik, penyakit

malabsorpsi umum
AInfeksi
B Neoplasma: Gastrinoma, sindrom Zollinger Ellison, Ca
meduler

tirois,

pankreatik/vasoaktif

Adenoma
intersinal

Vilosa,

Kolera

polypeptide

(vipoma),

yumor/sindrome karsinoid
C Hormon & Neurotransmiter:Secretine, Prostaglandin E,
Cholecystokinine,

Kolinergik,

Serotonin,

Calcitonine,
4

Gastric Inhibitory Polipeptide, Glukagon, Substansi P


DKatartik: hidroksi asam empedu (asam dioksilat dan
kenodioksilat) dan hidroksi asam lemak (resinoleat kastroli)
E Kolitis mikroskopik (limfositik), kolagen
F Lain-lain: Dioctyl natrium sulfosuccinaat, diare asam
empedu karena pasca kolesistektomi, reseksi ileum
3Malabsorbsi asam empedu,
malansorbsi lemak

terminal, alergi makanan, enterokolitis iskemik


AMaldigesti intraluminal: Sirosis hati, obstruksi saluran
empedu, pertumbuhan bakteri yang berlebihan (Bacterial
overgrowth), insufisiensi eksokrin pankreas, insufisiensi
endokrin pankreaik kronik, fibrosis kistik, somatostatinoma
B Malabsorpsi mukosa: Obat, penyakit infeksi, penuakit sistem
imun (systemic mastocytosis, gastroenteritis eosinofilik),
spru tropik, spru seliak, dermatitis herpetiformis, penyakit
Whipple, Abetalipoprote inemia
C Obstruksi pasca mucosa: limflangiektasia

intestinal

kongenital atau didapat karena trauma, limfoma, karsinoma


4Defek

pada

sistem

pertukaran

atau penyakit Whipple


DCampuran: sindrom usus pendek (short bowel), penyakit
metabolik (tirotoksikodid, indufisiensi adrenal, malnutrisi

protein-kalori), enterokolitis radiasi


AInfeksi usus
aktif di enterosit
B Kongenital:
5Motilias dan waktu transit
1 Diare klorida kongenital
2 Diare karena kelainan transpor Na+ usus
usus abnormal
Sindrom kolon iritabel (psikogen), hipertiroid,
6Gangguan
permeabilitas
diabates melitus dengan polineuropati
usus
otonom, skleroderma, amiloidosis, pasca
anion/transport elektrolit

reseksi lambung dan vagotomi, sindrom


7Eksudasi cairan, elektrolit
dan mukus berlebihan

karsinoid, obat prostigmin


APenyakit seliak
B Penyakit usus inflamatorik
C Infeksi usus
Kolitis ulseratif, Penyakit Srohn, Amubiasis, Shigelasis,
Kampilobakteriasis,

Yersiniasis,

Enterokolitis

radiasi,

Gandidiasis, TB usus, Kanker usus, Kolitis pseudomembran


D Patogenesis
Diare terjadi karena adanya gangguan proses absorpsi dan sekresi cairan serta
5

elektrolit di dalam saluran cerna. Pada keadaan normal, usus halus akan
mengabsorbsi Na+, Cl-, HCO3-. Timbulnya penurunan dalam absorpsi

dan

peningkatan sekresi mengakibatkan cairan berlebihan melebihi kapasitas kolon dalam


mengabsorpsi.Mekanisme ini sangat dipengaruhi oleh faktor mukosa maupun faktor
intra luminal saluran cerna. Faktor mukosa dapat berupa perubahan dinamik mukosa yaitu
adanya peningkatan cell turnover dan fungsi usus yang belum matang dapat
menimbulkan gangguan absorpsi-sekresi dalam saluran cerna. Penurunan area
permukaan mukosa karena atrofi vilus, jejas pada brush border serta pemotongan
usus dapat menurunkan absorpsi. Selain itu, gangguan pada sistem pencernaan
(enzim spesifik) atau transport berupa defisiensi enzim disakaridase dan enterokinase serta
kerusakan pada ion transport (Na+/H+, Cl-/HCO3-) juga menimbulkan gangguan absorpsi.
Faktor-faktor dalam intraluminal sendiri juga ikut berpengaruh, seperti peningkatan
osmolaritas akibat malabsorpsi ( defisiensi disakaridase) dan bacterial overgrowth.
Insufisiensi pankreatik eksokrin, defisiensi garam empedu dan

parasit

adalah

faktor intra luminal lain penyebab penurunan absorbsi. Sedangkan peningkatan


sekresi disebabkan oleh toksin bakteri ( toxin cholera, E. coli), mediator inflamasi
( eicosanoids, produk sel mast lain), asam empedu dihidroksi, asam lemak hidroksi dan
obat-obatan.
E Diagnosis
1 Gejala klinis
Mula mula bayi dan anak menjadi cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai
lendir dan atau darah. Pada diare oleh karena intoleransi, anus dan daerah sekitarnya lecet
karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya
asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.
Gejala muntah dapat terjadi sebelum / sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lembung
yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai
tampak, berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun ubun besar menjadi
cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
Berdasarkan banyak cairan yang hilang dapat dibagi menjadi :
- Dehidrasi ringan
- Dehidrasi sedang
- Dehidrasi berat
Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi :
- Dehidrasi hipotonik
- Dehidrasi isotonik
6

- Dehidrasi hipertonik
Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan hipovolemik
dengan gejala gejala yaitu denyut jantung menjadi cepat, denyut nadi cepat dan kecil,
tekanan darah menurun, penderita menjadi lemah, kesadaran menurun (apatis, somnolen
sampai soporokomatous). Akibat dehidrasi, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
Bila sudah ada asidosis metabolik, tampak pucat dengan pernafasan yang cepat dan dalam
(pernafasan Kussmaul).
Asidosis metabolik terjadi karena :
1. Kehilangan NaHCO3 melalui tinja
2. Ketosis kelaparan
3. Produk produk metabolik yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (karena
oliguria atau anuria).
4. Berpidahnya ion Na dari cairan ekstrasel ke cairan intrasel
5. Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan tubuh).
Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponetremia) yaitu kadar Na dalam plasma < 130 mEq/l,
dehidrasi isotonik (dehidrasi isonatremia) bila kadar Na dalam plasma 130 150 mEq/l,
sedangkan dehidrasi hipertonik (hipernatremia) bila kadar Na dalam plasma > 150 mEq/l.
2 Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare,
frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir, dan darah.
Bila disertai muntah: volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang,
jarang, atau tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir. Makanan dan minuman
yang diberikan selama diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai
seperti batuk, pilek, otitis media, campak.
Tindakan yang telah dilakukan ibu selama anak diare: member oralit,
membawa berobat ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit dan obat-obatan yang
diberikan serta riwayat imunisasinya.
3 Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi
denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari
tanda-tanda utama dehidrasi: kesadara, rasa haus, dan turgor kulit abdomen
dan tanda-tanda tambahan lainnya, seperti ubun-ubun besar cekung atau tidak,
mata cowong atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut,
dan lidah kering atau basah.
Pernafasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolic.
Bisingusus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan
4 Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet elinitest, bila diduga

2.

intoleransi gula.
c. Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan / uji resistensi.
Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan pH

dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut
ASTRUP (bila memungkinkan).
7

3.
4.

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.


Pemeriksaan kadar elektrolit terutama natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam

serum (terutama bila ada kejang).


5. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara
kualitatif dan kuantitatif, terutama pada penderita diare kronik.
F Penatalaksanaan
DepartemenKesehatanmulaimelakukansosialisasiPanduanTataLaksanaPengobatan
diare pada balita yang barudidukung olehIkatanDokterAnakIndonesia,dengan
merujukpadapanduanWHO.Tatalaksanainisudah mulaiditerapkandirumahsakit
rumah sakit. Rehidrasi bukan satusatunya strategi dalam penatalaksanaan diare.

Memperbaiki kondisi usus dan menghentikan diare juga menjadi cara untuk
mengobati pasien. Untuk itu, Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar
penatalaksanaandiarebagisemuakasusdiareyangdideritaanakbalitabaikyangdirawat
dirumahmaupunsedangdirawatdirumahsakit,yaitu:
1. Rehidrasidenganmenggunakanoralitbaru
2. Zincdiberikanselama10hariberturutturut
3. ASIdanmakanantetapditeruskan
4. Antibiotikselektif
5. Nasihatkepadaorangtua
Rehidrasidenganoralitbaru,dapatmengurangirasamualdanmuntah
Berikansegerabilaanakdiare,untukmencegahdanmengatasidehidrasi.Oralit

formulalamadikembangkandarikejadianluarbiasadiarediAsiaSelatanyangterutama
disebabkankarenadisentri,yangmenyebabkanberkurangnyalebih banyakelektrolittubuh,
terutamanatrium.Sedangkandiareyanglebihbanyak

terjadiakhirakhirinidengantingkatsanitasiyanglebihbanyakterjadiakhirakhir
inidengantingkatsanitasiyanglebihbaikadalahdisebakanolehkarenavirus.
Diarekarenavirustersebuttidakmenyebakankekuranganelektrolitseberatpadadisentri.
Karenaitu,paraahlidiaremengembangkanformulabaruoralitdengan tingkatosmolaritas
yanglebihrendah.Osmolaritaslarutanbarulebihmendekati osmolaritasplasma,sehinggakurang

menyebabkanrisikoterjadinyahipernatremia.

Oralit
Oralitbaruiniadalahoralitdenganosmolaritasyangrendah.Keamananoralitini
samadenganoralityangselamainidigunakan,namunefektivitasnyalebihbaik

daripadaoralitformulalama.Oralitbarudenganlowosmolaritasinijuga
menurunkankebutuhansuplementasiintravenadanmampumengurangi
pengeluarantinjahingga20%sertamengurangikejadianmuntahhingga30%.
Selainitu,oralitbaruinijugatelahdirekomendasikanolehWHOdanUNICEFuntuk
diareakutnonkolerapadaanak.

Ketentuanpemberianoralitformulabaru
a
b
c
d
e

Beriibu2bungkusoralitformulabaru
Larutkan1bungkusoralitformulabarudalam1literairmatanguntukpersediaan24
jam
Berikanlarutanoralitpadaanaksetiapkalibuangairbesar,dengan
ketentuan:
Untukanakberumur<2tahun:berikan50100mltiapkaliBAB
Untukanak2tahunataulebih:berikan100200mltiapBAB
Jikadalamwaktu24jampersediaanlarutanoralitmasihtersisa,makasisalarutan
harusdibuang.

Zincdiberikanselama10haribertururturut
Zincmengurangilamadanberatnyadiare.Zincjugadapatmengembalikannafsumakan
anak.Penggunaanzincinimemangpopularbeberapatahunterakhirkarena
memilikevidencebasedyangbagus.Beberapapenelitiantelahmembuktikannya. Pemberian
zinc yang dilakukan di awal masa diare selam 10 hari ke depan secara signifikan menurunkan
9

morbiditasdanmortalitaspasien.Lebihlanjut,ditemukanbahwapemberianzincpadapasienanak
penderita kolera dapat menurunkan durasidanjumlahtinja/cairanyangdikeluarkan.Zinc

termasukmikronutrienyangmutlakdibutuhkanuntukmemelihara kehidupanyangoptimal.
Meskidalamjumlahyangsangatkecil,darisegifisiologis,zincberperanuntukpertumbuhan
dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap,
pengecapan,sertanafsumakan.Zincjugaberperandalamsystemkekebalantubuhdanmeripakan

mediatorpotensialpertahanantubuhterhadapinfeksi.Dasarpemikiranpenggunaanzincdalam
pengobatandiareakutdidasarkanpadaefeknyaterhadapfungsiimunatauterhadapstrukturdan
fungsisalurancernadanterhadapprosesperbaikanepitelsalurancernaselamadiare.Pemberian
zinc pada diare dapat meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus

halus,meningkatkankecepatanregenerasiepitelusus,meningkatkanjumlahbrushborder
apical,danmeningkatkan respon imunyang mempercepat pembersihan pathogendari
usus.PengobatandenganzinccocokditerapkandinegaranegaraberkembangsepertiIndonesia
yangmemilikibanyakmasalahterjadinya kekuranganzincdidalamtubuhkarenatingkat

kesejahteraanyangrendahdandayaimunitasyangkurangmemadai.Pemberianzincdapat
menurunkanfrekuensidanvolume buang airbesarsehingga dapat menurunkanrisiko
terjadinyadehidrasipadaanak.
Dosiszincuntukanakanak
Anakdibawahumur6bulan:10mg(tablet)perhari
Anakdiatasumur6bulan:20mg(1tablet)perhari
Zincdiberikanselama1014hariberturutturutmeskipunanaktelahsembuh
daridiare.Untukbayi,tabletzincdapatdilarutkandenganairmatangmASIm
atauoralit,Untukanakanakyanglebihbesar,zincdapatdikunyahataudilarutkandalamair
matangatauoralit.
Group

RDA Zinc

Bayi

4-5 mg

Anak usia 1-3 tahun

3 mg

Anak usia 4-8 tahun

4-5 mg

Wanita yang tidak hamil

8-9 mg

Wanita

9-13mg

menyusui
Pria

hamil

dan

13-19mg
10

ASIdanmakanantetapditeruskansesuaiumuranakdenganmenuyangsama
pada waktuanaksehat untukmencegahkehilanganberat badanserta penggantinutrisis
yanghilang.Pada diare berdarah nafsumakanakanberkurang.Adanyaperbaikannafsu
makanmenandakanfasekesembuhan.
Antibiotikjangandiberikankecualiadaindikasimisalnyadiareberdarahataukolera.
Pemberianantibioticyangtidakrasionaljustruakanmemperpanjang
lamanyadiarekarenaakanmegganggukeseimbanganfloraususdan Clostridium difficile
yangakantumbuhdanmenyebabkandiaresulitdisembuhkan.Selainitu, pemberianantibiotic
yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotic, serta
menambahbiayapengobatanyangtidakperlu.Pada penelitianmultipleditemukanbahwatelah
terjadi peningkatan resistensi terhadap antibiotic yang sering dipakai seperti ampisilin,

tetrasiklin,kloramfenikol,dantrimetoprimsulfametoksazoledalam15tahunini.Resistensi
terhadapantibiotikterjadimelaluimekanismeberikutinaktivasiobatmelaluidegradasi
enzimatikolehbakteri,perubahanstrukturbakteri yang menjadi target antibiotikdan
perubahanpermeabilitasmembranterhadapantibiotic.
Nasihatpadaibuataupengasuh:kembalisegerajikademam,tinjaberdarah,berulang,makan
atauminumsedikit,sangathalus,diaremakinsering,ataubelum membaikdalam3hari.

Terapimedikamentosa
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare, seperti antibiotika,
antidiare,adsorben,antiemetic,danobat yang mempengaruhi mikroflorausus.Beberapa
obatmempunyailebihdarisatumekanismekerja,banyakdiantaranyamempunyaiefektoksik
sistemikdansebagianbesartidak direkomendasikanuntukanakumurkurang dari 23tahun.
Secara umum,, dikatakanbahwa obatobat tersebut tidak diperlukanuntukpengobatan

diareakut.

Antibiotik
Antibiotikapadaumumnyatidakdiperlukanpadasemuadiareakutoleh
karenasebagianbesardiareinfeksiadalahrotavirusyangsifatnyaselflimited

dantidakdapatdibunuhdenganantibiotika.
11

Hanyasebagiankecil(1020%)yangdisebabkanolehbakteripathogenseperti

V.cholera,Shigella,EnterotoksigenikE.coli,Salmonella,Campylobacter,
dansebagainya.

Rencana Terapi A : Terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi


a

Anak-anak tanpa tanda-tanda dehidrasi memerlukan tambahan cairan dan garam


untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. Jika ini tidak diberikan,

tanda-tanda dehidrasi dapat terjadi.


Ibu harus diajarkan cara untuk mencegah dehidrasi di rumah dengan memberikan
anak lebih banyak cairan daripada biasanya, bagaimana mencegah kekurangan gizi
dengan terus memberi makan anak, dan mengapa tindakan-tindakan ini penting.
Mereka harus juga tahu apa tanda-tanda menunjukkan bahwa anak harus dibawa ke
petugas kesehatan. Langkah-langkah tersebut dirangkum dalam empat aturan Rencana
Terapi A.

Aturan 1 : Memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, untuk


mencegah dehidrasi

12

Cairan yang diberikan adalah cairan yang mengandung garam (oralit), dapat juga
diberikan air bersih yang matang.
Komposisi larutan oralit baru :
-Natrium klorida 2,6 gram/liter
-Glukosa 13,5 gram/liter
-Kalium klorida 1,5 gram/liter
-Trisodium sitrat 2,9 gram/liter
Komposisi larutan oralit lama :
-Natrium klorida 3,5 gram/liter
-Glukosa 20 gram/liter
-Kalium klorida 1,5 gram/liter
-Trisodium sitrat 2,55 gram/liter
Dengan menurunkan osmolaritas dengan mengurangi konsentrasi glukosa dan garam
(NaCl) dimaksudkan untuk menghindari hipertonisitas cairan selama absorpsi cairan
oralit.
Cairan yang mengandung garam, seperti oralit, minuman asin (seperti minuman
youghert), atau sayuran dan sup ayam dengan garam. Ajari ibu untuk memasukan garam
(kurang lebih 3g/L) pada minuman yang tidak bergaram (seperti air matang, air teh, jus
buah-buahan yang tidak diberi gula) atau sup selama diare.
Larutan oralit yang dapat dibuat dirumah mengandung 3g/L garam dapur (1 sendok teh
penuh garam) dan 18g/L dari gula dapur (sukrosa) sangat efektif namun tidak dianjurkan
karena seringkali lupa resepnya.
Minuman yang tidak boleh diberikan ialah minuman bersoda, teh manis, jus buah-buahan
yang manis. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare osmotik dan hipernatremia.
Sedangkan kopi tidak boleh diberikan karena bersifat diuretik.
Umur (tahun)

Jumlah

cairan

yang

<>
2-10
>10

harus diberikan
50-100 ml cairan
100-200 ml cairan
>200 ml atau sebanyak

yang mereka mau


Tabel Jumlah Cairan yang Harus Diberi Sesuai Umur Menurut WHO 2005
13

Aturan 2 : Berikan tambahan zinc (10 - 20 mg) untuk anak, setiap hari selama 10 -14
hari
Zinc dapat diberikan sebagai sirup atau tablet, dimana formulasinya tersedia dan
terjangkau. Dengan memberikan zinc segera setelah mulai diare, durasi dan tingkat
keparahan episode serta risiko dehidrasi akan berkurang. Dengan pemberian zinc selama 10
sampai 14 hari, zinc yang hilang selama diare diganti sepenuhnya dan risiko anak memiliki
episode baru diare dalam 2 sampai 3 bulan ke depan dapat berkurang.
Pada pedoman penatalaksanaan diare sebelumnya tidak ada anjuran untuk
memberikan zinc, namun pada pedoman penatalaksanaan diare WHO 2005 ada anjuran
seperti ini.
Aturan 3 yaitu berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi
Diet bayi yang biasanya harus dilanjutkan selama diare dan ditingkatkan setelahnya.
Makanan tidak boleh ditahan dan makanan anak yang biasa tidak boleh diencerkan.
pemberian ASI harus dilanjutkan. Tujuannya adalah untuk memberikan makanan yang kaya
nutrisipada anak. Sebagian besar anak-anak dengan diare cair mendapatkan kembali nafsu
makan mereka setelah dehidrasi diperbaiki, sedangkan orang-orang dengan diare berdarah
seringkali nafsu makan tetap buruk sampai penyakitnya sembuh. Anak-anak ini harus
didorong untuk mau makan secara normal sesegera mungkin.
Ketika makanan diberikan, gizi yang cukup biasanya diserap untuk mendukung
pertumbuhan dan pertambahan berat badan. Makan juga mempercepat pemulihan fungsi usus
normal, termasuk kemampuan untuk mencerna dan menyerap berbagai nutrisi. Sebaliknya,
pada anak-anak yang dibatasi makannya dan makanan yang diencerkan dapat menurunkan
berat badan, menyebabkan diare lebih lama dan lebih lambat memulihkan fungsi usus.
Secara umum, makanan yang sesuai untuk anak dengan diare adalah sama dengan
yang diperlukan oleh anak-anak yang sehat.

Bayi segala usia yang menyusui harus tetap diberi kesempatan untuk menyusui
sesering dan selama mereka inginkan. Bayi sering menyusui lebih dari biasanya dan
ini harus didukung.

14

Bayi yang tidak disusui harus diberikan susu biasa mereka makan (atau susu formula)

sekurang-kurangnya setiap tiga jam, jika mungkin dengan cangkir.


Bayi di bawah usia 6 bulan yang diberi makan ASI dan makanan lain harus diberikan
ASI lebih banyak. Setelah anak tersebut sembuh dan meningkatnya pasokan ASI,

makanan lain harus diturunkan.


Jika anak usia minimal 6 bulan atau sudah diberikan makanan lunak, ia harus diberi
sereal, sayuran dan makanan lain, selain susu. Jika anak di atas 6 bulan dan makanan
tersebut belum diberikan, maka harus dimulai selama episode diare atau segera
setelah diare berhenti. Daging, ikan atau telur harus diberikan, jika tersedia. Makanan
kaya akan kalium, seperti pisang, air kelapa hijau dan jus buah segar akan bermanfaat.
Berikan anak makanan setiap tiga atau empat jam (enam kali sehari). Makan porsi

kecil yang Sering, lebih baik daripada makan banyak tetapi lebih jarang. Setelah diare
berhenti, dapat terus memberi makanan dengan energi yang sama dan membrikan satu lagi
makan tambahan daripada biasanya setiap hari selama setidaknya dua minggu. Jika anak
kekurangan gizi, makanan tambahan harus diberikan sampai anak telah kembali berat badan
normal-untuk-height.
Aturan 4 Bawa anak ke petugas kesehatan jika ada tanda-tanda dehidrasi atau masalah
lainnya
Ibu harus membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak:
Buang air besar cair sering terjadi
Muntah berulang-ulang
Sangat haus
Makan atau minum sedikit
Demam
Tinja Berdarah
Anak tidak membaik dalam tiga hari.
WHO 2005 menambahkan pemberian zinc pada rencana terapi A ini.
15

Rencana Terapi B: Terapi rehidrasi oral untuk anak-anak dengan dehidrasi ringansedang
Jika berat badan anak diketahui maka hal ini harus digunakan untuk menentukan
jumlah larutan yang tepat. Jumlah larutan ditentukan dari berat badan (Kg) dikalikan 75 ml.
Jika berat badan anak tidak diketahui maka penentuan jumlah cairan ditentukan berdasarkan
usia anak. Seperti yang terlihat pada tabel.

Jumlah cairan yang harus diberikan dalam 4 jam pertama


Usia
<>
4-11
122-4
5-14

Berat

<>

Bada

>15

bulan

23

tahun

tahun

tahun

5-7,9

bulan
8-

11-

16-

>30

kg

10,9

15,9

29,9

kg

n
Juml

200-

400-

kg
600-

kg
800-

kg
1200

2200

ah

400

600

800

1200

2200

4000

(ml)

Pedoman Pengobatan Dehidrasi Pada Anak dan Dewasa dengan Dehidrasi Sedang
Jika pasien menginginkan lebih banyak oralit, maka dapat diberikan.
Dorong ibu untuk terus menyusui anaknya.
Untuk bayi di bawah 6 bulan yang tidak menyusui, jika menggunakan larutan oralit WHO
yang lama yang mengandung 90 mmol / L natrium, juga memberi 100-200ml air bersih
selama periode ini. Namun, jika menggunakan larutan oralit osmolaritas rendah yang baru
mengandung 75mmol / L natrium, hal ini tidak perlu menambah air bersih.
Edema (bengkak) kelopak mata adalah tanda dari over-hidrasi. Jika hal ini terjadi,
hentikan penggunaan oralit, tapi dapat diberi ASI atau air putih, dan makanan. Jangan beri
diuretik. Bila edema telah hilang, lanjutkan pemberian oralit atau cairan rumah sesuai dengan
Rencana Terapi A.

16

Keluarga harus diajarkan cara memberikan larutan oralit. Larutan dapat diberikan
pada anak-anak menggunakan sendok atau cangkir. Botol minum tidak boleh digunakan.
Untuk bayi dapat digunakan pipet atau syringe.
Jika tanda-tanda dehidrasi parah telah muncul, terapi intravena (IV) harus dimulai
sesuai Rencana Terapi C.
Jika anak masih memiliki tanda-tanda yang menunjukkan dehidrasi beberapa,
teruskan terapi rehidrasi oral dengan mengulangi Rencana Terapi B. Pada saat yang sama
dimulai pemberian makanan, susu dan cairan lain, seperti yang dijelaskan dalam Rencana
Terapi A, dan terus menilai kembali anak.
Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, harus dipertimbangkan rehidrasi telah lengkap.
Bila rehidrasi adalah lengkap:
Turgor kulit normal
Tidak haus
Urin
Anak menjadi tenang, tidak lagi mudah marah dan seringkali tertidur.
Ajarkan ibu cara untuk merawat anaknya di rumah dengan larutan oralit dan makanan
seperti pada Rencana Terapi A.
Dengan larutan oralit yang sebelumnya, tanda dehidrasi dapat menetap atau muncul
kembali selama pemberian oralit pada 5% anak-anak. Namun dengan larutan oralit
osmolaritas rendah yang baru, diperkirakan kegagalan pengobatan sebelumnya dapat
berkurang menjadi 3%, atau kurang.
Penyebab kegagalan tersering ialah:
Intake larutan oralit yang kurang (lebih dari 15-20 ml/kg/jam), seperti yang terjadi pada
beberapa anak-anak dengan kolera
Tidak cukup asupan larutan oralit karena kelelahan atau kelesuan
Sering terjadi muntah-muntah yang parah.

17

Anak-anak tersebut harus diberikan larutan oralit dengan selang nasogastric (NG) atau
larutan Ringer laktat intravena (IV) (75 ml/kg/4jam), biasanya dilakukan di rumah sakit.
Mulailah untuk memberikan tambahan zinc, seperti dalam Rencana terapi A, segera
setelah anak dapat makan setelah 4 jam pertama periode rehidrasi.
Kecuali untuk ASI, makanan tidak boleh diberikan selama empat jam pertama periode
rehidrasi. Namun, anak-anak yang terus dalam Rencana Terapi B lebih dari empat jam harus
diberikan makanan setiap 3-4 jam seperti yang dijelaskan dalam Rencana terapi A. Semua
anak yang lebih tua dari 6 bulan harus diberikan makanan sebelum pulang. Ini membantu
untuk menekankan kepada para ibu pentingnya terus makan selama diare.
Rencana Terapi C : untuk Pasien dengan Dehidrasi Berat
Pengobatan bagi anak-anak dengan dehidrasi berat adalah rehidrasi intravena cepat,
mengikuti Rencana Terapi C. Jika mungkin, anak harus dirawat di rumah sakit.
Anak-anak yang masih dapat minum, walaupun buruk, harus diberikan oralit secara
peroral sampai infus berjalan. Selain itu, ketika anak dapat minum tanpa kesulitan, semua
anak harus mulai menerima larutan oralit (sekitar 5 ml/kg/jam), yang biasanya dalam waktu
3-4 jam (untuk bayi) atau 1-2 jam (untuk pasien yang lebih tua). Ini memberikan tambahan
dasar dan potasium, yang mungkin tidak dapat secara memadai disediakan oleh cairan infus.
Mulai diberi cairan i.v segera. Bila pasien dapat minum berikan oralit sampai cairan
i.v dimulai. Berikan 100 ml/Kg cairan Ringer Laktat (atau cairan normal salin bila ringer
laktat tidak tersedia)
Lihat dan rasakan untuk semua tanda-tanda dehidrasi:
o Jika tanda-tanda dehidrasi berat masih ada, ulangi infus cairan IV seperti yang diuraikan
dalam Rencana terapi C.
o Jika anak membaik (dapat minum), tetapi masih menunjukkan tanda-tanda dari dehidrasi
sedang, hentikan infus IV dan berikan larutan oralit selama empat jam, sebagaimana
ditetapkan dalam Rencana terapi B.
o Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, ikuti Rencana terapi A. Ingatlah bahwa anak
membutuhkan terapi dengan larutan oralit sampai diare berhenti.

18

Jika fasilitas terapi IV tidak tersedia, tetapi dapat diberikan dalam jangka waktu dekat
(yaitu dalam waktu 30 menit), kirimlah anak untuk pengobatan IV segera. Jika anak dapat
minum, berikan ibu beberapa larutan oralit dan tunjukkan kepadanya cara untuk
memberikannya kepada anaknya selama perjalanan.
Jika terapi IV tidak tersedia di dekatnya, petugas kesehatan yang telah dilatih dapat
memberikan larutan oralit menggunakan selang Naso Gastrik, dengan kecepatan 20 ml/kg BB
/jam selama 6 (enam) jam (total 120 ml/kg BB). Jika perut menjadi bengkak, larutan oralit
harus diberikan perlahan-lahan sampai menjadi kurang buncit.
Jika tidak bisa menggunakan selang NGT namun anak dapat minum, larutan oralit
harus diberikan melalui mulut dengan kecepatan 20 ml/kg BB/jam selama 6 (enam) jam (total
120 ml / kg berat badan). Jika terlalu cepat, anak dapat muntah berulang. Jika terjadi hal ini,
maka memberikan larutan oralit secara lebih lambat sampai muntah mereda.
Anak-anak menerima terapi NGT atau per oral harus dinilai ulang paling sedikit
setiap jam. Jika tanda-tanda dehidrasi tidak membaik setelah tiga jam, anak harus segera
dibawa ke fasilitas terdekat di mana terapi IV tersedia.
Kalau tidak, jika rehidrasi maju memuaskan, anak harus dinilai ulang setelah enam
jam dan keputusan pada perawatan lebih lanjut dibuat seperti yang dijelaskan di atas untuk
terapi IV yang diberikan.
Jika tidak ada fasilitas NGT dan tidak dapat dilakukan secara peroral, anak harus
segera dibawa ke fasilitas terdekat di mana terapi IV atau NGT tersedia.

KESIMPULAN
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak
di negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia. Diare didefinisikan sebagai
peningkatan dari frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap
19

abnormal oleh ibunya. Secara garis besar, diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronis
atau persisten. Sebagian besar bersifat self limiting sehingga hanya perlu diperhatikan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Rehidrasi bukan satusatunya strategi dalam
penatalaksanaandiare.Memperbaikikondisiususdanmenghentikandiarejugamenjadi
cara untukmengobati pasien.Untukitu,DepartemenKesehatanmenetapkanlimapilar
penatalaksanaandiarebagisemuakasusdiareyangdideritaanakbalitabaikyangdirawatdi
rumahmaupunsedangdirawatdirumahsakit.

DAFTAR PUSTAKA
Hery Garna, Emelia Suroto, Hamzah, Heda Melinda D Nataprawira, Dwi Prasetyo. Diare
Akut Dalam: Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi Ke-3. Bandung:
Bagian /SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Padjajaran/ RSUP HASAN SADIKIN
BANDUNG. 2005. Hal. 271-278
20

Subagyo B. Nurtjahjo NB. Diare Akut, Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY, Oswari H, Arief S,
Rosalina

I. Buku Ajar Gastroentero-hepatologi IDAI. Jilid 1. Jakarta

UKK

Gastroenterohepatologi. 2011; 87-120


Buku Ajar Diare. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.1999. Hal. 81,154.
Buku Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah
Sakit Mohammad Hoesin, 2010
Translametion of Evidence for the Safety and Efficacy of Zinc Supplementation in the
Management of Diarrhea- oliver fontaine- Dept. of Child and Adolescent Health and
Development. Sari Pediatri Vol.10 No 1 Suplemen, juni 2008 distributed during KONIKA
2008 Surabaya, Indonesia
6. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Pada Balita.2011.Depkes RI
7. Subagyo B. Nurtjahjo NB. Diare Akut, Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY,
Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar
Gastroentero-hepatologi:jilid 1. Jakarta : UKK Gastroenterohepatologi
IDAI 2011; 87-120
8.Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Juffrie M, Soenarto
SSY, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar
Gastroentero-hepatologi:jilid 1. Jakarta : UKK Gastroenterohepatologi
IDAI 2011; 121-136

21