Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Lansia
1. Defenisi Lansia
Lansia (lanjut usia) didefinisikan sebagai karakteristik awal masyarakat
yang telah menunjukkan ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan kulit, dan
hilangnya gigi (Stanley, 2007). Lansia adalah periode penutup dalam rentang
hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai
meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan
psikologis yang semakin menurun (Darmojo, 2006).
Organisasi kesehatan dunia atau WHO (2004) menetapkan usia 60 tahun
sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara
nyata dan seseorang telah disebut lansia. Undang-undang No. 13 tahun 1998
tentang Kesejahteraan Lansia menjelaskan bahwa lanjutusia (lansia) adalah
seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Kemenkes, 2013).

2. Batasan Lansia
Usia yang dijadikan patokan untuk lanjut usia berbeda-beda,umumnya
dimulai dengan berkisar antara 60-65 tahun. Beberapa pendapat para ahli
tentang batasan usia adalah sebagai berikut (Padila, 2013) :

a. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) , ada empat tahapan lansia,


yaitu:
1) Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
9

10

2) Lanjut Usia (elderly) usia 60-74 tahun


3) Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun
4) Usia sangat tua (very old) usia > 90 tahun
b. Menurut Hurlock (1979)
1) Early old age ( usia 60-70 tahun)
2) Advanced old age ( usia > 70 tahun)
c. Menurut Bee (1996)
1) Masa dewasa muda ( usia 18-25 tahun)
2) Masa dewasa awal (usia 25-40 tahun)
3) Masa dewasa tengah (usia 40-65 tahun)
4) Masa dewasa lanjut (usia 65-75 tahun)
5) Masa dewasa sangat lanjut usia (usia > 75 tahun)
Di Indonesia batasan usia lanjut adalah 60 tahun keatas , terdapat dalam
UU no 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia. Menurut UU tersebut
lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke
atas, baik pria maupun wanita (Padila, 2013).

3. Tugas perkembangan lansia


Tugas perkembangan pada lansia menurut Potter and Perry (2010) adalah:
a. Beradaptasi terhadap penurunan kesehatan dan kekuatan fisik
Lansia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik yang terjadi
seiring penuaan. Waktu dan durasi perubahan ini bervariasi pada tiap
individu, namun seiring penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan dan
fungsi tubuh akan terjadi. Perubahan ini tidak dihubungkan dengan
penyakit dan merupakan perubahan normal. Adanya penyakit terkadang
mengubah waktu timbulnya perubahan atau dampaknya terhadap
kehidupan sehari-hari.
b. Beradaptasi terhadp masa pensiun dan penurunan pendapatan

11

Lansia yang telah pensiun harus berhadapan dengan masalah


kehilangan peran kerja. Lansia yang bekerja di rumah dan pasangan yang
bekerja di luar rumah juga menghadapi perubahan peran seiring penuaan.
Karena telah mengantisipasi masa pensiun, lansia biasanya memiliki
rencana finansial dan mempertimbangkan aktivitas pengganti. Banyak
lansia menyambut masa pensiun sebagai waktu untuk melakukan minat
dan hobi, berpartisipasi dalam kegiatan relawan, meneruskan pendidikan,
atau memulai karier bisnis yang baru.
c. Beradaptasi terhadap kematian pasangan
Sebagian besar lansia berhadapan dengan kematian pasangan. Pada
tahun 2010 sekitar 43% wanita lansia merupakan janda, dan 14% pria
lansia merupakan duda (AOA, 2011). Beberapa lansia harus berhadapan
dengan kematian anak atau cucu yang telah dewasa. Semua lansia
menghadapi kematian teman. Kematian ini merupakan suatu kehilangan
sekaligus pengingat akan ajal mereka sendiri.
d. Menerima diri sebagai individu yang menua
Beberapa lansia merasa sulit menerima kenyataan bahwa dirinya
telah menua. Ini terlihat dari sikap lansia yang menyatakan umurnya lebih
muda dari umur sebenarnya saat ditanya, mengadopsi gaya berpakaian
yang lebih muda, atau berusaha menyembunyikan bukti fisik penuaan
dengan kosmetik. Lansia lainnya melakukan hal ini dengan cara yang lebih
bermasalah. Sebagai contoh, beberapa lansia menyangkal penurunan
fungsi tubuh dan menolak bantuan untuk tugas yang membahayakan
keselamatan mereka. Lansia lainnya menghindari aktivitas yang dirancang

12

untuk membantunya, seperti pusat warga lansia dan aktivitas promosi


kesehatan lansia, sehingga mereka tidak menerima manfaatnya.
e. Mempertahankan kehidupan hidup yang memuaskan
Perubahan kehidupan bagi lansia umumnya membutuhkan masa
penyesuaian yang panjang dan membutuhkan bantuan profesional dari
pelayanan kesehatan, teman, dan anggota keluarga agar lansa dapat
mempertahankan kehidupannya yang memuaskan.
f. Menetapkan kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa
Penentuan ulang hubungan dengan anak seiring pertumbuhan dan
perpindahan mereka dari rumah terus berlangsung saat lansia mengalami
penuaan. Berbagai hal dapat terjadi, seperti pergantian peran, kontrol atas
pengambilan keputusan, ketergantugan, konflik, rasa bersalah, dan
kehilangan. Cara munculnya masalah dan penyelesaiannya tergantung
pada hubungan antara lansia dan anak sebelumnya. Semua pihak yang
terlibat memiliki pengalaman masa lalu dan emosi yang kuat. Saat anak
yang telah dewasa membantu lansia di keluarganya, mereka juga harus
mencari cara untuk menyeimbangkan antar tuntutan karier dengan
tuntutan anak. Anak yangtelah dewasa juga berdebat tentang sejauh mana
bantuan dapat disediakan dan seberapa besar kewenangan yang harus
diemban.
g. Menemukan cara mempertahankan kualitas hidup
Seiring perubahan yang terjadi pada penuaan lansia harus mencari
cara untuk mempertahankan kualitas hidup. Definisi kualitas hidup

13

berbeda pada tiap orang, Dukungan dari pelayanan kesehatan, teman dan
anggota keluarga dianggap perlu untuk membantu lansia dalam
pemeliharaan hubungan sosial dan melanjutkan kehidupan yang mandiri
agar dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya.
4. Perubahan yang terjadi pada lansia
Perubahan pada lanjut usia dapat dilihat dari segi fisik, psikologis, sosial
dan spritual. Penuaan akan terjadi hampir pada semua sistem tubuh, namun
tidak semua sistem tubuh mengalami kemunduran fungsi pada waktu yang
sama (Nugroho, 2010). Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia
menurut Nugroho (2010) tersebut adalah sebagai berikut:
a. Perubahan fisik antara lain ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu
yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada
kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat
diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan dan berdebardebar. Selain itu terdapat perubahan yang umum dialami lansia,
misalnya perubahan sistem imun yang cenderung menurun, perubahan
sistem integumen yang menyebabkan kulit mudah rusak, perubahan
elastisitas arteri pada sistem kardiovaskular yang dapat memperberat
kerja jantung, penurunan kemampuan metabolisme oleh hati dan ginjal
serta penurunan kemampuan penglihatan dan pendengaran.Penurunan
fungsi fisik tersebut yang ditandai dengan ketidakmampuan lansia
untuk beraktivitas atau melakukan kegiatan yang tergolong berat.

14

b. Perubahan psikologis, dalam bidang mental atau psikis pada lanjut usia,
dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, bertambah
pelit atau tamak jika memiliki sesuatu, short term memory,frustasi,
kesepian,depresi, kecemasan, takut menghadapi kehilangan, takut
menghadapi kematian, dan perubahan harga diri. Yang perlu dimengerti
adalah sikap umum yang ditemukan pada hampir setiap lanjut usia,
yaitu keinginan berumur panjang dengan sedapat mungkin tenaganya
dihemat, ingin tetap berwibawa dengan mempertahankan hak dan
hartanya, ingin meninggal secara terhormat.
c. Perubahan psikososial yaitu nilai seseorang sering diukur melalui
produktivitasnya dan identitasnya dengan peranan dalam pekerjaan.
Ketika seseorang mengalami pensiun (purna tugas), maka yang
dirasakan

adalah

pendapatan

berkurang

(kehilangan

finansial);

kehilangan status (dulu mempuyai jabatan/ posisi yang cukup tinggi,


lengkap dengan semua fasilitas); kehilangan relasi; kehilangan kegiatan,
serta perubahan cara hidup.
d. Perubahan spiritual pada lansia ditandai dengan semakin matangnya
lansia dalam kehidupan keagamaan. Agama

dan kepercayaan

terintegrasi dalam kehidupan dan terlihat dalam pola berfikir dan


bertindak sehari-hari. Perkembangan spiritual yang matang akan
membantu lansia untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam
kehidupan, maupun merumuskan arti dan tujuan keberadaannya dalam
kehidupan.
B. Kualitas Hidup
1. Defenisi Kualitas Hidup

15

World Health Organization (WHO) (2004) mendefenisikan kualitas hidup


sebagai persepsi individu mengenai posisi mereka dalam kehidupan dilihat
dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal serta
hubungannya dengan tujuan, harapan, standar, dan hal-hal lain yang menjadi
perhatian individu tersebut. WHO mengimplikasikan bahwa kualitas hidup
ditentukan oleh persepsi individual mengenai kondisi kehidupannya saat ini.
Menurut Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto, kualitas
hidup adalah tingkat dimana seseorang menikmati hal-hal penting yang
mungkin terjadi dalam hidupnya. Masing-masing orang memiliki kesempatan
dan keterbatasan dalam hidupnya yang merefleksikan interaksinya dan
lingkungan. Sedangkan kenikmatan itu sendiri terdiri dari dua komponen yaitu
pengalaman dari kepuasan dan kepemilikan atau prestasi (University of
Toronto, 2004).
Hornuist mengartikan kualitas hidup sebagai tingkat kepuasan hidup
individu pada area fisik, psikologis, sosial, aktivitas, materi, dan kebutuhan
struktural. Menurut Taylor, kualitas hidup menggambarkan kemampuan
individu untuk memaksimalkan fungsi fisik, sosial, psikologis, dan pekerjaan
yang merupakan indikator kesembuhan atau kemampuan beradaptasi dalam
penyakit kronis (Vergi, 2013).
2. Komponen Kualitas Hidup
Menurut World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL) (2004)
kualitas hidup memiliki empat aspek yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan
psikologis, hubungan sosial dan hubungan dengan lingkungan.
a. Aspek Kesehatan fisik

16

Kesehatan fisik dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk


melakukan aktivitas. Aktivitas yang dilakukan individu akan
memberikan pengalaman-pengalaman baru yang merupakan modal
perkembangan ketahap selanjutnya. Kesehatan fisik mencakup
aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat-obatan dan bantuan
medis, energi dan kelelahan, mobilitas (keadaan mudah bergerak),
sakit dan ketidaknyamanan, tidur dan istirahat, kapasitas kerja.
b. Aspek psikologis
Aspek psikologis yaitu terkait dengan keadaan mental individu.
Keadaan mental mengarah pada mampu atau tidaknya individu
menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai
dengan kemampuannya, baik tuntutan dari dalam diri maupun dari
luar dirinya. Aspek psikologis juga terkait dengan aspek fisik, dimana
individu dapat melakukan suatuaktivitas dengan baik bila individu
tersebut sehat secara mental. Kesejahteraan psikologis mencakup
body image dan appearance, perasaan positif, perasaan negatif, self
esteem, spiritual/agama/keyakinanpribadi, berpikir, belajar, memori
dan konsentrasi.
c. Aspek hubungan sosial
Aspek hubungan sosial yaitu hubungan antara dua individu atau
lebih

dimana

tingkah

laku

individu

tersebut

akan

saling

mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku individu


lainnya. Mengingat manusia adalah mahluk sosial maka dalam

17

hubungan sosial ini, manusia dapat merealisasikan kehidupan serta


dapat berkembang menjadi manusia seutuhnya. Hubungan sosial
mencakup hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual.

d. Aspek lingkungan
Aspek lingkungan yaitu tempat tinggal individu, termasuk di
dalamnya keadaan, ketersediaan tempat tinggal untuk melakukan
segala aktivitas kehidupan, termasuk di dalamnya adalah saran dan
prasarana yang dapat menunjang kehidupan. Hubungan dengan
lingkungan mencakup sumber finansial, kebebasan, keamanan dan
keselamatan fisik, perawatan kesehatan dan social care termasuk
aksesbilitas dan kualitas; lingkunganrumah, kesempatan untuk
mendapatkan berbagai informasi baru maupun keterampilan (skill),
partisipasi dan mendapat kesempatan untuk melakukan rekreasi dan
kegiatan yang menyenangkan di waktu luang, lingkungan fisik
termasuk polusi/kebisingan/keadaan air/iklim, serta transportasi.
3. Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
Berbagai penelitian mengenai kualitas hidup menemukan beberapa faktorfaktor lain yang mempengaruhi kualitas hidup. Berikut beberapa faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup yaitu :
a. Gender atau Jenis Kelamin
Moons, dkk mengatakan bahwa gender adalah salah satu faktor
yang mempengaruhi kualitas hidup, dimana kualitas hidup laki-laki

18

cenderung

lebih

baik

daripada

kualitas

hidup

perempuan.

Kesejahteraan laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda, namun


perempuan lebih banyak terkait dengan aspek hubungan yang bersifat
positif sedangkan kesejahteraan tinggi pada pria lebih terkait dengan
aspek pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik (Sianturi, 2013).
b. Usia
Moons, dkk mengatakan bahwa usia adalah salah satu faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian yang dilakukan oleh Wagner,
Abbot, & Lett menemukan adanya perbedaan yang terkait dengan usia
dalam aspek-aspek kehidupan yang penting bagi individu (Sianturi,
2013).
c. Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kualitas hidup subjektif. Kualitas hidup akan
meningkat seiring dengan lebih tingginya tingkat pendidikan yang
didapatkan oleh individu (Sianturi, 2013).
d. Pekerjaan
Terdapat perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang berstatus
sebagai pelajar, penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak bekerja
(atau sedang mencari pekerjaan), dan penduduk yang tidak mampu
bekerja (atau memiliki disablity tertentu) (Sianturi, 2013).
e. Status pernikahan

19

Penelitian empiris di Amerika secara umum menunjukkan bahwa


individu yang menikah memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi
daripada individu yang tidak menikah, bercerai, ataupun janda/duda
akibat pasangan meninggal (Sianturi, 2013).
f. Hubungan dengan orang lain
Faktor hubungan dengan orang lain memiliki kontribusi yang
cukup besar dalam menjelaskan kualitas hidup subjektif. Pada saat
kebutuhan akan hubungan dekat dengan orang lain terpenuhi, baik
melalui hubungan pertemanan yang saling mendukung maupun
melalui pernikahan, manusia akan memiliki kualitas hidup yang lebih
baik baik secara fisik maupun emosional (Sianturi, 2013).
g. Standard referensi
Kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh standard referensi yang
digunakan seseorang seperti harapan, aspirasi, perasaan mengenai
persamaan antara diri individu dengan orang lain. Hal ini sesuai
dengan definisi kualitas hidup yang dikemukakan oleh WHOQoL
bahwa kualitas hidup akan dipengaruhi oleh harapan, tujuan, dan
standard dari masing-masing individu (WHO, 2004)
h. Harga diri
Harga diri berhubungan dengan kesejahteraan psikologis dan
kesehatan fisik (Liu, 2012). Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Myo (2010) di Myanmar , harga diri mempunyai pengaruh yang besar
terhadap kualitas hidup lansia.

20

4. Kualitas Hidup Lansia


Kualitas hidup lansia adalah persepsi lansia terhadap posisi mereka dalam
kehidupan pada konteks budaya dan nilai dimana mereka tinggal, dan
berhubungan dengan tujuan hidup, harapan, standar, dan fokus hidup. Kualitas
hidup lansia diartikan sebagai kondisi fungsional lansia berada pada kondisi
maksimum atau optimal, sehingga memungkinkan mereka untuk menikmati
masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan, berguna dan berkualitas
(Ekawati, 2011).
Lingkungan tempat tinggal berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.
Lingkungan tempat tinggal yang berbeda mengakibatkan perubahan peran
lansia dalam menyesuaikan diri. Bagi lansia, perubahan peran dalam keluarga,
sosial ekonomi, dan sosial masyarakat tersebut mengakibatkan kemunduran
dalam beradaptasi dengan lingkungan baru dan berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya. Berbeda dengan lansia di komunitas, lansia yang tinggal
di panti akan mengalami paparan terhadap lingkungan dan teman baru yang
mengharuskan lansia beradaptasi secara positif ataupun negatif. Perbedaan
tempat tinggal dapat menyebabkan munculnya perbedaan lingkungan fisik,
sosial, ekonomi, psikologis dan spiritual pada lansia yang dapat berpengaruh
terhadap kualitas hidup lansia yang tinggal di dalamnya (Setyoadi, 2012)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Yani (2010), sebagian
besar lansia yang tinggal di panti (62,7%) mempersepsikan kualitas hidupnya
rendah. Sebaliknya, sebagian besar lansia yang tinggal di rumah (55,4%)
mempersepsikan kualitas hidupnya tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh

21

Yuliati (2014), terdapat perbedaan berdasarkan domain fisik, psikologis,


sosial, dan lingkungan antara lansia yang tinggal di komunitas dengan di
Pelayanan Sosial Lanjut Usia.

C. Harga Diri
1. Definisi Harga Diri
Nathanel (2005) mengemukakan bahwa harga diri adalah penilaian dari
individu yang memiliki pengaruh yang amat sangat terhadap proses pemikiran,
emosi, keinginan , nilai dan tujuan individu. Harga diri merupakan kebutuhan
mendasar bagi manusia karena bisa berfungsi sebagai kontributor utama dalam
proses kehidupan seseorang. Harga diri sangat diperlukan bagi tercapainya
pengembangan hidup yang sehat dan normal serta mengandung nilai-nilai
kelangsungan hidup.
Menurut Maslow, self esteem merupakan salah satu kebutuhan dari setiap
individu yang harus dipenuhi untuk mencapai aktualisasi diri sebagai puncak
kebutuhan individu. Tetapi kebutuhan itu baru akan dicapai apabila kebutuhan
yang lebih dasar sudah terpenuhi, seperti kebutuhan biologis, kebutuhan
sandang, pangan dan papan, kebutuhan rasa aman dan nyaman,serta kebutuhan
kasih sayang (Nurdin, 2011).
Rosenberg mendefinisikan harga diri sebagai penerimaan diri atau suatu
perasaan dasar akan diri berharga. Rosenberg menyatakan harga diri sebagai
suatu sikap positif atau negatif seseorang terhadap suatu objek khusus, yaitu
diri (Mass, 2010).
Rosenberg mengatakan harga diri berhubungan dengan keseluruhan
kesejahteraan psikologis individu. Harga diri sebenarnya dapat menjadi motif
utama dalam hubungan personal dan interpersonal seseorang. Harga diri

22

memiliki kemampuan yang unik untuk merefleksikan persepsi dan perasaan


dan bertindak dalam menanggapi perasaan itu. Seseorang dapat merasakan
keadaan baik buruknya diri mereka sendiri dan termotivasi untuk
meningkatkan harga diri mereka jika merasa harga diri mereka rendah, dan
menjaga apabila harga diri mereka tersebut tinggi (Owens, 2006).

2. Aspek-aspek harga diri


Harga diri bukanlah sifat atau aspek tunggal saja, melainkan sebuah
kombinasi dari beragam sikap dan perilaku. Michinton menjabarkan 3 aspek
harga diri yaitu perasaan mengenai diri sendiri, perasaan terhadap hidup serta
dengan kaitannya dengan orang lain (Okhtavia, 2014).
a. Perasaan mengenai diri sendiri
1) Menerima diri sendiri, maksudnya individu menerima dirinya
secara nyata dan penuh, nyaman dengan dirinya sendiri, dan
memiliki perasaan yang baik tentang diri sendiri, apapun kondisi
yang dihadapi saat ini. Individu memanang bahwa dirinya memiliki
keunikan tersendiri, menghargai potensi yang dimiliki tanpa
mengeluh
2) Menghormati diri sendiri. Individu memiliki self respect dan
keyakinan yang dalam bahwa dirinya penting. Kalaupun bukan
bagi orang lain, setidaknya bagi dirinya sendiri. Individu dengan
harga diri yang akan merasa kasihan dan memaafkan dirinya
sendiri, menyukai dirinya sendiri dengan ketidaksempurnaan yang
dimiliki

23

3) Menghargai keberhargaan dirinya. Individu tidak terpengaruh


dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Individu tidak
merasa lebih baik bila dipuji dan tidak merasa lebih buruk jika
dirinya dihina oleh orang lain. Perasaan baik pada dirinya tidak
bergantung pada keadaan kondisi luar atau sesuatu yang akan atau
telah dilakukan
4) Memegang kendali atas emosi diri sendiri. Individu merasa
terbebas dari perasaanyang tidak menyenangkan atas rasa bersalah ,
rasa marah, rasa takut, dan kesedihan. Emosi yang umum yang
paling kuat terjadi adalah rasa bahagia karena individu merasa
senang dengan dirinya dan kehidupannya.
b. Perasaan atas hidup
1) Menerima kenyataan. Perasaan terhadap hidup berarti menerima
tanggung jawab atas bagian hidup yang dijalani. Individu dengan
harga diri yang tinggi akan dengan lapang dada dan tidak
menyalahkan keadaan hidup ini (orang lain) atas segala masalah
yang dihadapinya. Ia sadar bahwa semua itu terjadi berkaitan
dengan pilihan dan keputusannya sendiri, bukan karena faktor
eksternal. Individu menyadari bahwa ia memiliki kekuatan
untukmengubh kehidupannya seperti yang mereka pilih. Individu
mengetahui apa yang benar dan terbaik untuk dirinya.
2) Memegang kendali atas diri sendiri. Individu yang meiliki harga
diri yang tinggi tidak berusaha untuk mengendalikan orang lainatau
situasi yang ada. Sebaliknya, ia akan dengan mudah menyesuaikan
dengan keadaan
c. Perasaan dalam kaitannya dengan orang lain

24

1) Menghormati orang lain. Individu menghargai hak-hak orang lain


sebagaimana mereka berada, melakukan seperti yang mereka pilih,
dan hidup seperti mereka selama mereka juga menunjukkan rasa
hormatatau kesopanan yang sama pada dirinya dan orang lain.
Individu dengan harga diri yang tinggi tidak memaksakan nilainilai atau keyakinannya pada orang lain.
2) Memiliki toleransi terhadap orang lain. Individu dengan harga diri
tinggi akan menerima kekurangan orang lain, fleksibel dan
bertanggung jawab dalam hubungannya dengan orang lain.
Individu memanadang semua orang memliki kebehargaan yang
sama dan layyak untuk dihormati. Ia menghormati kebutuhan
dirinya serta mengakui kebutuhan orang lain
3. Tingkatan dan Karakteristik Harga Diri
Rosenberg membagi harga diri menjadi 2 tingkatan, yakni harga diri
rendah dan harga diri tinggi. Rosenberg menyatakan bahwa orang dengan
harga diri tinggi lebih mungkin untuk mencapai pertumbuhan, pengembangan
pribadi, dan perbaikan diri mereka ke arah yang lebih baik dari pada orang
dengan harga diri yang rendah (Owens, 2006).
Orang dengan harga diri yang tinggi tidak memiliki perasaan superioritas,
arogan, kesombongan, penghinaan bagi orang lain, dan kebanggaan yang luar
biasa terhadap dirinya. Orang yang memiliki harga diri tinggi menghargai apa
yang sudah mereka lakukan dan dapat menerima kesalahan-keselahan yang
mereka alami dengan baik. Orang dengan harga diri yang tinggi tidak

25

menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, tapi ia juga tidak menganggap
dirinya lebih rendah daripada orang lain (Owens, 2006).
Orang dengan harga diri rendah lebih cenderung merasa canggung, malu,
dan tidak mampu mengekspresikan diri mereka dengan baik. Rendahnya harga
diri membuat seseorang selalu khawatir akan membuat kesalahan, membuat
malu atau menjadi bahan ejekan orang lain dan menghindar dari orang lain.
Mereka juga lebih banyak tertekan dan tidak bahagia, memiliki tingkat
kecemasan yang tinggi, menunjukkan dorongan yang lebih besar untuk agresi,
iritabilitas, dan kebencian, serta merasa tidak puas terhadap kehidupannya.
Mereka memiliki kerentanan yang lebih besar terhadap kritik dan kurangnya
stabilitas konsep diri. Hampir setiap kepribadian dengan harga diri yang
rendah memotong spontanitas dan kreativitas dirinya. Akibatnya, mereka tidak
pernah bisa menemukan apa yang dapat mereka lakukan sehingga mereka
kehilangan potensi yang mereka miliki (Owens, 2006).

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Diri


Hawari (2007) mengemukakan bahwa untuk tetap memelihara harga
dirilansia maka beberapa faktor dibawah ini perlu diperhatikan, yaitu:
a. Adanya jaminan sosial ekonomi yang cukup memadai untuk hidup di
lansia. Seseorang yang berasal dari tingkat ekonomi rendah memiliki
harga diri yang lebih rendah daripada yang berasal dari keluarga
dengan tingkat sosial ekonomi tinggi
b. Adanya dukungan dari orang-orang yang melindungi dirinya dari
isolasi sosial dan memperoleh kepuasan dari kebutuhan serta

26

ketergantungannya pada pihak lain. Terbentuknya harga diri diperoleh


dari

interaksi

individu

dengan

lingkungannya,

penerimaan,

penghargaan serta perlakuan orang lain terhadap individu yang


bersangkutan.
c. Kesehatan jiwa

agar

mampu

beradaptasi

dengan

perubahan

perkembangan pada tahapan lanisa (bebas dari stress, cemas, dan


depresi)
d. Kesehatan fisik agar mampu menjalankan berbagai kegiatan secara
produktif dan menyenangkan. Indvidu yang memiliki ukuran, bentuk
dan kekuatan tubuh yang kurang dibandingkan dengan orang lan
cenderung mempunyai harga diri yang rendah.
e. Kebutuhan keagamaan, agar terpenuhi ketenangan batiniah.

5. Harga Diri Lansia


Ketika memasuki masa tua, sebagian lansia dapat menjalankannya dengan
bahagia, namun tidak sedikit dari mereka yang mengalami hal sebaliknya,
dimana masa tua dijalani dengan ketidakbahagiaan sehingga menyebabkan
rasa ketidaknyamanan. Perkembangan zaman akhir-akhir ini menyebabkan
lansia sering danggap tidak ada gunanya lagi.
Efisiensi, kecepatan, dan kekuatansangat dihargai sehingga lansia
dianggap tidak mampu lagi bersaing dengan orang-orang yang lebih muda.
Hal ini menyebabkanpengurangan jumlah kegiatan yang dapat dilakukan
lansia yang akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak berguna, perasaan
rendah diri dan kemarahan sehingga tidak menunjang bagi penyesuaian diri
lansia (Hurlock, 2004).

27

Kemenarikan fisik juga mempengaruhi harga diri pada lansia. Lansia yang
kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, merasa
tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan
femininitas akibat fungsi reproduksi yang mengalami penurunan (Kuntjoro,
2002).
Penelitian mengungkapkan bahwa 80 % lansia yang berumur 65 tahun atau
lebih akan mengalami paling sedikit satu masalah kesehatan yang dapat
mengakibatkan stress yang akhirnya mempengaruhi harga diri lansia (Miller,
2004). Harga diri pada lansia dapat mengalami perubahan dimana seringkali
akan muncul perasaan tidak berguna dan tidak berharga. Penelitian yang
dilakukan oleh Ranzijn, et al (Syamani, 2011) pada lansia di AdelaideAustralia menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
perasaan tidak berguna dan harga diri lansia yang pada tahap lanjut dapat
mempengaruhi cara hidup mereka.

D. Hubungan Harga Diri dengan Kualitas Hidup Lansia


Menurut World Health Organization Quality of Life (WHOQoL), kualitas
hidup merupakan persepsi individuterhadap posisinya dalam kehidupan, dalam
konteks budaya dan sistem nilai dimanaindividu tersebut hidup, dan hubungan
terhadap tujuan, harapan, standar dan keinginan (WHO, 2004). Kualitas hidup
lansia sendiri dapat dipengaruhi oleh keadaan fisik dan psikososial karena aspekaspek tersebut mengalami perubahan dan cenderung mengalami kemunduran
(Syamani, 2011).

28

Pada umumnya perubahan pada masa lanjut usia meliputi perubahan dari
tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan,
pendengaran,

penglihatan,

kardiovaskuler,

sistem

pengaturan

tubuh,

muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integument.


Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi, kesepian,
takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan,
depresi,kecemasan dan merasa tidak berguna (Nugroho, 2010). Perasaan tidak
berguna dan tidak diinginkan membuat banyak orang berusia lanjut mengalami
perubahan harga diri (Hurlock, 2004).
Rosenberg mendefinisikan harga diri sebagai penerimaan diri atau suatu
perasaan dasar akan diri berharga. Rosenberg menyatakan harga diri sebagai
suatu sikap positif atau negatif seseorang terhadap suatu objek khusus, yaitu
diri (Mass, 2008).
Harga diri berpengaruh besar terhadap kualitas hidup lansia. Sebuah studi
baru yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology, yang dilakukan
oleh Liu (2012) dari Concordia University menemukan bahwa mempertahankan
atau bahkan meningkatkan harga diri dapat membantu mencegah masalah
kesehatan pada lansia, karena harga diri berhubungan dengan kesejahteraan
psikologis dan kesehatan fisik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Naing
(2010) di Myanmar , harga diri mempunyai pengaruh yang besar terhadap
kualitas hidup lansia. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh penelitian yang
dilakukan Kermode (2001) di Australia, yang mengatakan bahwa lansia dengan
harga diri yang tinggi mempunyai kualitas hidup yang lebih baik daripada lansia
dengan harga diri rendah.

29