Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Campuran
Campuran adalah zat yang terbentuk dari beberapa zat berbeda melalui
proses fisika. Ketika dua atau lebih zat dicampurkan membentuk suatu
campuran, campuran tersebut dapat dikategorikan sebagai campuran
homogen atau tidak homogen. Campuran homogen adalah campuran yang
tersusun atas satu fasa saja, yaitu zat yang terlarut terurai menjadi molekul zat
sehingga pembentuk campuran tidak dapat diamati dengan mata meskipun
menggunakan mikroskop. Sementara campuran heterogen adalah campuran
yang zat-zat penyusunnya masih dapat dibedakan secara visual (dengan
penglihatan) sehingga terdiri atas beberapa fasa yang berbeda. Istilah
campuran cenderung digunakan untuk campuran non-reaktif, yaitu proses
pencampuran dengan molekul-molekul penyusunnya hanya saling berbaur
sehingga zat-zat pembentuk campuran mudah dipisahkan dengan cara fisika.
Beberapa sifat asli campuran adalah sebagai berikut.

Campuran terbentuk tanpa melalui reaksi kimia.

Campuran mempunyai sifat zat asalnya.

Terdiri dari dua jenis zat tunggal atau lebih.

Komposisinya tidak tetap, yaitu dapat diatur sesuai kebutuhan.

Campuran yang terdiri dari dua komponen disebut campuran biner.


Sistem biner dapat bersifat ideal atau nonideal. Sifat keidealan dari campuran
didasarkan kepada interaksi diantara komponen- komponen penyusunnya.
Berikut adalah penjelasan mengenai campuran ideal dan nonideal.
2.1.1. Campuran Ideal
Campuran dikatakan ideal bila partikel zat terlarut dan partikel pelarut
tersusun sembarang dan pada proses pencampurannya tidak terjadi efek kalor.
Untuk larutan biner, proses pencampuran dengan tidak terjadinya efek kalor
dapat dipenuhi bila energi interaksi antara partikel zat terlarut dan partikel
4

pelarut sama dengan energi interaksi antara sesama partikel zat terlarut
maupun sesama partikel pelarut. Dalam sebuah larutan, beberapa molekul
yang berenergi besar dapat menggunakan energinya untuk mengalahkan daya
tarik intermolekuler permukaan cairan dan melepaskan diri untuk kemudian
menjadi uap seperti ditunjukkan oleh gambar 2.1.(a) Semakin kecil daya
intermolekuler, semakin banyak molekul yang dapat melepaskan diri pada
suhu tertentu. Pada larutan kedua, hal yang sama pun terjadi. Pada suhu
tertentu, sebagian dari molekul-molekul yang ada akan mempunyai energi
yang cukup untuk melepaskan diri dari permukaan larutan seperti ditunjukkan
oleh gambar 2.1.(b)

+
Gambar 2.1. Molekul berpindah dari fasa cair menjadi fasa uap pada
komponen 1 (a) dan komponen 2 (b).
Ketika kedua komponen tersebut dicampurkan, kecenderungan dari
dua macam molekul di dalamnya untuk melepaskan diri tidak berubah seperti
ditunjukkan oleh gambar 2.2. Campuran semacam ini yang disebut sebagai
campuran ideal.

Gambar 2.2. Kecenderungan setiap molekul untuk berpindah dari fasa


cair ke fasa uap pada larutan ideal
Pada campuran ideal, fugasitas komponen-komponennya dalam
keadaan murni akan sama dengan fugasitas komponen-komponennya dalam
campuran. Potensial kimia dapat ditulis sebagai berikut:

i = io + RTln xi .......................................................................................(pers. 2.1)

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

Campuran biner yang bersifat ideal maka akan mengikuti hukum


Raoult pada seluruh kisaran komposisi, sehingga akan memiliki perubahan
volum, Vcamp dan perubahan entalpi, Hcamp yang berharga nol
(Castellan, 1971: 305), sedangkan perubahan entropi, Scamp dan perubahan
energi bebas Gibbs, Gcamp didefinisikan seperti Persamaan (1) dan (2)
(Atkins, PW, 1986:169).
Scamp = -nR xi ln xi.............................................................(pers. 2.2)
Gcamp = nRT xi ln xi............................................................(pers. 2.3)
Dengan xi adalah fraksi mol komponen i dalam campuran. Persamaan
di atas adalah persamaan yang mendasari hukum Raoult untuk campuran
ideal. Bila sistem mengikuti hukum Raoult maka Vcamp dan Hcamp
berharga nol, tetapi hal ini tidak berlaku kebalikannya, bila suatu sistem
memiliki Vcamp dan Hcamp berharga nol tidak selalu mengikuti hukum
Raoult. Artinya, larutan dapat bersifat ideal atau tidak ideal.
Nilai Hcamp yang bernilai nol disebabkan oleh fenomena berikut.
Ketika membuat suatu campuran larutan-larutan berarti harus mengalahkan
daya tarik intermolekuler (yang membutuhkan energi) dan membuat daya
tarik baru (yang menghasilkan energi). Apabila besar semua daya tarik ini
sama, tidak akan ada panas yang dihasilkan atau panas yang diserap sehingga
campuran

akan mempunyai energi entalpi sebesar nol. Apabila suhu

campuran naik atau turun pada saat anda mencampur keduanya, ini berarti
campuran tersebut bukan campuran ideal.
2.1.2. Campuran Non Ideal
Sistem biner tidak ideal melibatkan sifat-sifat molal parsial, seperti
volum molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan, entalpi molal
parsial atau entalpi diferensial larutan, perubahan energi dalam parsial molal,
dan energi bebas molal parsial atau potensial kimia. (Smith, JM., Van Ness,
HC., and Abbott, MM., 2001:371-381). Besaran-besaran ini dapat ditentukan
dengan metoda grafik, analitik atau dengan menggunakan suatu fungsi.
Pada campuran ideal, fugasitas komponen dalam keadaan murni dan
dalam campuran berbeda. Ini terjadi karena pada proses pencampuran,
kesetimbangan gaya-gaya antar molekul dalam sistem akan berubah.

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

................................................................................
...(pers. 2.4)
...................................................................... .........

Selain
itu,2.5)
entalpi pencampuran tidak sama dengan nol.
...(pers.
...............................................................................
Dalam campuran biner(pers.
terjadi2.6)
interaksi A-B sementara sebelum pencampuran
hanya ada interaksi antar molekul sejenis A-A dan B-B. Jika energi yang
dibutuhkan untuk memutuskan ikatan sejenis lebih besar dari energi yang
dihasilkan untuk membentuk ikatan beda-jenis, maka entalpi pencampuran
akan positif (pencampuran endotermik). Ini disebut penyimpangan positif
terhadap hukum Raoult. Jika yang terjadi sebaliknya, pencampuran bersifat
eksotermik dan akan menjadi penyimpangan negatif terhadap hukum Raoult.
Perbedaan antara campuran ideal dan campuran nonideal ditujukkan
pada tabel 1.1.
Tabel 1.1. Perbedaan antara campuran ideal dan campuran nonideal

Campuran ideal

Sesuai dengan hukum


Raoult pada setiap
komposisi. campuran
Hmix = 0
Vmix = 0

P= PA +PB
= PA0XA + PB0XB
Interaksi antara A-A, AB, B-B sama, yaitu A
dan B memiliki bentuk,
ukuran dan karakter
yang identik
Kecenderungan A dan
B untuk melepaskan
diri dari larutan sama
saat larutana murni atau
campuran

Campuran nonideal
Penyimpangan
positif Penyimpangan negatif
terhadap hukum Raoult
terhadap hukum Raoult

Tidak sesuai
hukum Raoult.

dengan Tidak sesuai


hukum Raoult.

Hmix > 0 (endotermik)


Vmix > 0, volume
meningkat
setelah
pencampuran
PA > PA0XA
PB > PB0XB
Interaksi A-B lebih
lemah
dibandingkan
interaksi A-A dan B-B.
A dan B memiliki
bentuk, ukuran dan
karakter yang berbeda
A dan B dapat dengan
mudah melepaskan diri
dari larutan ditunjukan
oleh nilai tekanan uap
yang lebih tinggi dari
nilai seharusnya

dengan

Hmix < 0 (eksotermik)


Vmix < 0, volume
berkurang
setelah
pencampuran
PA < PA0XA
PB < PB0XB
Interaksi A-B lebih kuat
dibandingkan interaksi
A-A dan B-B. A dan B
memiliki bentuk, ukuran
dan
karakter
yang
berbeda
A dan B cukup sulit
melepaskan diri dari
larutan ditunjukan oleh
nilai tekanan uap yang
lebih rendah dari nilai
seharusnya

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

Contoh : benzene dan Aseton-etanol


toluena, n-heksana dan Air-metanol
Air-etanol
n-heptana

Aseton-anilin
Aseton-Kloroform

2.2 Sifat Fisik Zat


2.2.1. Densitas
Densitas merupakan perbandingan antara dua besaran pokok, yaitu
massa dan volume. Dengan kata lain, semakin tinggi massa jenis atau
densitas dari suatu benda, maka massa setiap volume benda tersebut akan
semakin besar. Karena volume berubah menurut suhu, maka besarnya
densitas suatu zat dengan massa yang tetap akan sangat tergantung pada
suhu. Lalu, pada massa benda yang tetap, sebuah benda yang memiliki
densitas lebih tinggi akan memiliki volume yang lebih rendah daripada
benda dengan massa jenis yang lebih rendah. Densitas berfungsi untuk
menentukan karakteristik sifat fisik atau jenis zat karena setiap zat
memilki densitas yang berbeda-beda.
Secara matematis, densitas suatu cairan didefinisikan sebagai
berikut.
=

m
V ...................................................................................(pers.

2.7)
Dengan = densitas (kg/m3)
m=massa zat (kg)
V = volume zat (m3)
Campuran yang ideal dan tidak ideal akan memiliki densitas yang
berbeda. Hal ini disebabkan volume setelah pencampuran dan sesudah
pencampuran dapat mengalami perubahan, sementara massa akan selalu
konstan.

Pengukuran campuran multikomponen dilakukan dengan

menggunakan piknometer.
Keidealan suatu sistem campuran multikomponen dapat dilakukan
dengan membandingkan densitas hasil percobaan dengan densitas teori
yang diturunkan dari hukum Raoult. Pada campuran ideal, volume total

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

campuran adalah sama dengan jumlah volume komponen-komponennya.


Karena volume berbanding terbalik dengan densitas, maka persamaan
densitas sistem campuran ideal ditunjukkan dengan persamaan berikut
ini.
1
1 1
1
=x1 .
+
m
1 2 2 ..............................................(pers.

2.8)
Persamaan 2.9 dapat menunjukkan model linear densitas sistem
campuran fasa cair dengan 1 adalah densitas larutan 1, 2 adalah densitas
larutan 2 dan m adalah densitas senyawa campuran.

2.2.2. Viskositas
Viskositas adalah ukuran ketahanan zat cair untuk mengalir. Untuk
mengetahui kekuatan mengalir (flow rate) zat cair digunakan viskometer.
Viskositas dari suatu fluida dapat didefinisikan sebagai suatu tahanan
yang dimiliki suatu lapisan fluida terhadap lapisan lainnya.
Viskositas pada suatu cairan murni dapat disebut sebagai indeks
hambatan aliran cairan. Berdasarkan hukum viskositas Newton, tekanan
geser suatu fluida akan berbanding lurus dengan viskositas untuk laju
perubahan bentuk sudut suatu fluida tertentu. Viskositas dari suatu cairan
akan menimbulkan gesekan antar bagian atau lapisan cairan yang
bergerak satu terhadap yang lainnya. Hambatan yang terjadi disebabkan
oleh gaya kohesi di dalam zat cair. Pada molekul gas, viskositas
ditimbulkan oleh adanya tumbukan di antara molekul-molekul gas.
Setiap zat cair memiliki viskositas (kekentalan) yang berbeda-beda.
Hal ini menyebabkan daya alir setiap zat cair pun berbeda-beda.

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

10

Gambar 2.3. Viskositas cairan yang berbeda-beda


Bila suatu cairan dalam viscometer mengalir dengan cepat, maka berarti
viskositas dari cairan tersebut rendah (misalnya air) dan bila suatu cairan
mengalir dengan lambat, maka cairan tersebut memiliki viskositas yang
tinggi (misalnya madu).
Penentuan viskositas suatu fluida dapat dilakukan dengan metoda
Ostwald. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju cairan yang
melalui tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara
yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas.
Nilai viskositas menentukan kecepatan mengalirnya suatu cairan..
Penentuan ini dilakukan dengan mengukur waktu tempuh fluida untuk
mengalir dari batas atas viskometer hingga batas bawah viskometer.
Tekanan P merupakan perbedaan tekanan antara kedua ujung pipa U
yang besarnya diasumsikan sebanding dengan densitas cairan. Fluida
yang tidak memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluida ideal.
Nilai viskositas dapat dinyatakan dalam viskositas spesifik, kinematik
dan intrinsik. Viskositas spesifik ditentukan dengan membandingkan
secara langsung kecepatan aliran suatu larutan dengan pelarutnya.
Viskositas kinematik diperoleh dengan memperhitungkan densitas
larutan. Beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain
sebagai berikut.
Viskometer Ostwald
Yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah cairan
tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang
disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Didalam percobaan diukur

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

11

waktu aliran untuk volume V (antara tanda batas atas dan batas
bawah) melalui pipa kapiler yang vertikal. Jumlah tekanan (P) dalam
hokum

Poiseuille

adalah

perbedaan

tekanan

antara

kedua permukaan cairan, dan berbanding lurus dengan berat jenis cai
ran. Dalam praktek R dan L sukar diukur secara teliti
dalam persamaan Poiseuille sehingga viskositas cairan ditetapkan
dengan cara membandingkannya dengan cairan yang mempunyai

viskositas tertentu, misalnya air.


Viskometer Hoppler
Yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sebuah bola untuk
melewati cairan pada jarak atau tinggi tertentu. Karena adanya
gravitasi benda yang jatuh melalui medium yang berviskositas
dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan
maksimum. Kecepatan maksimum akan dicapai jika terjadi
kesetimbangan sehingga gaya gravitasi (g) sama dengan gaya tahan
medium (f) besarnya gaya tahan (frictional resistance) untuk benda
yang berbentuk bola stokes. Sehingga, metode ini dilakukan dengan
menggelindingkan bola melalui tabung gelas yang berisi zat cair

yang ingin diketahui viskositasnya.


Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerja pada viskometer ini adalah sampel digeser dalam
ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup
dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viskometer
ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang
tinggi di sepanjang keliling bagian pipa sehingga menyebabkan
penurunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkan
bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut

aliran sumbat.
Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah
papan, kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut
digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

12

digeser di dalam ruang semi transparan yang diam dankemudian


kerucut yang berputar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi viskositas cairan adalah sebgai
berikut.

Gaya Intermolekuler
Viskositas juga dihubungkan dengan adanya gaya intermolekuler
pada cairan. Jika gaya intermolekuler kuat, viskositas akan tinggi.
Sebagai contoh, air mempunyai viskositas yang lebih tinggi
dibandingkan metanol karena gaya intermolekuler air lebih besar

daripada metanol.
Temperatur
Kenaikan temperatur menyebabkan penurunan viskositas pada
cairan. Hal ini menyebabkan kenaikan energi kinetik rata-rata. Maka

dari itu gaya intermolekuler dapat ditahan.


Ikatan Hidrogen
Cairan dengan ikatan hidrogen yang kuat mempunyai viskositas
lebih tinggi karena peningkatan ukuran dan massa mmolekul.
Sebagai contoh, gliserol dan asam sulfat mempunyai viskositas yang
lebih tinggi daripada air karena adanya ikatan hidrogen yang lebih
kuat.

Tekanan
Semakin tinggi tekanan yang diberikan pada suatu fluida, maka
viskositas cairan juga akan meningkat. Namun, viskositas gas tidak

dipengaruhi oleh adanya perubahan tekanan pada fluida.


Ukuran dan berat molekul
Semakin tinggi berat molekul, maka viskositas dari suatu fluida juga
akan meningkat. Meningkatnya viskositas disebabkan oleh ikatan
rangkap yang ada pada fluida akan semakin banyak pada fluida
dengan berat molekul yang lebih tinggi.

2.2.3. Titik Didih

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

13

Penguapan adalah proses berpindahnya molekul dari fasa cair ke


fasa gas. Uap dan cairan selalu berada dalam kesetimbangan, di mana
dengan kenaikan suhu kesetimbangan makin mengarah ke fasa uap.
Mendidih adalah keadaan di mana penguapan terjadi di seluruh bagian
cairan. Pada saat dipanaskan, cairan terus menguap hingga jumlah uap
membuat tekanan uap cairan sama dengan tekanan luar, saat itulah terjadi
proses mendidih. Suhu di mana proses mendidih terjadi pada tekanan
tertentu disebut titik didih.
Suatu campuran biner ideal akan memenuhi hukum Raoult yang
menyatakan bahwa tekanan uap di atas cairan merupakan fungsi linear
dari fraksi mol komponennya di fasa cair sesuai persamaan berikut:
P = PA + PB..............................................................................................................(pers. 2.9)
P = xAPA 0 + xB PB0...........................................................(pers. 2.10)
dengan PA0 dan PB0 adalah tekanan uap jenuh A dan B dalam keadaan
murni. Selain itu, melalui hukum Raoult untuk tekanan uap di atas, dapat
dilihat bahwa komposisi di fasa uap akan berbeda di fasa cair. Jika A
adalah komponen yang lebih sukar menguap, maka untuk konsentrasi A
dan B yang sama akan lebih sedikit molekul A yang berpindah ke fasa
uap.
Semakin kuat gaya tarik-menarik antar molekul dalam cairan,
energi yang dibutuhkan untuk memindahkan molekul cairan ke fasa gas
semakin besar sehingga titik didih akan semakin tinggi. Titik didih akan
lebih tinggi jika lebih banyak komponen A dalam campuran cair. Nilai
maksimum titik didih campuran adalah titik didih A, sementara nilai
minimum adalah titik didih komponen B.
Untuk campuran yang tidak ideal akan terjadi penyimpangan
positif atau penyimpangan negatif, yang kadang diikuti dengan
terbentuknya azeotrop. Penyimpangan positif dan negatif berturut-turut
ditunjukkan dengan titik didih yang lebih tinggi dan rendah dari model
hukum Raoult. Azeotrop adalah kondisi di mana komposisi fasa uap dan
fasa cair sama. Dampaknya adalah campuran pada komposisi azeotrop
atau yang telah mencapai komposisi terzebut tidak dapat dimurnikan lagi
B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

14

dengan distilasi biasa. Pada komposisi azeotrop campuran biner seolah


mendidih sebagai zat tunggal dengan titik didih yang tidak berada di
antara kedua titik didih komponennya. Azeotrop ditunjukkan pada
Gambar 2.1. Gambar di sebelah kiri adalah fenomena yang disebut high
boiling azeotrope sementara yang di kanan disebut low boiling azeotrope.

Gambar 2.4. Bentuk umum kurva T-x,y azeotrop


Secara garis besar, perbandingan antara campuran ideal dan
campuran nonideal dengan penyimpangan positif dan penyimpangan
negatif berturut-turut ditunjukkan oleh gambar 2.5. berikut ini.

Gambar 2.5. Campuran ideal, campuran nonideal-penyimpangan positif,


campuran nonideal penyimpangan negatif
2.3 Gaya Interaksi Antarmolekul
Gaya antar molekul yang ada dalam sistem sangat bergantung pada
karakteristik molekul penyusunnya, yaitu gugus fungsi dan geometri
molekulnya. Senyawa molekuler, yaitu senyawa yang terbentuk dari ikatan
kovalen, memiliki 3 jenis gaya antar molekul dasar, yaitu interaksi dipoldipol, ikatan hidrogen dan gaya London. Secara umum, ikatan hidrogen
adalah bentuk interaksi molekul yang paling kuat, diikuti oleh interaksi dipoldipol dan gaya London, namun hal tersebut tidak mutlak karena masingmasing memiliki faktor yang dapat memperbesar kekuatan masing-masing.
B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

15

2.4.1. Interaksi dipol-dipol


Jika suatu molekul adalah molekul polar, yaitu molekul dengan
distribusi elektron asimetris, maka
salah

satu

memiliki

ujung
kerapatan

molekul

akan

electron

lebih

tinggi

dibandingkan ujung satunya. Ujung tersebut


dikatakan sebagai kutub (dipol) negatif, sementara

ujung

lainnya adalah kutub positif. Sekalipun muatannya

kecil,

kutub positif dan negatif dari dua molekul yang


bertetangga akan mengalami gaya
tarik menarik. Kekuatan gaya tarik

Gambar 2.6. Interaksi


dipol-dipol

menarik makin bebas jika molekul makin polar.


2.4.2. Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen

dapat

terjadi

antara

atom

yang

sangat

elektronegatif (F,O,atau N) dengan atom hidrogen berikatan dengan


atom sangat elektronegatif. Ikatan hidrogen adalah interaksi antar
molekul terkuat per satuan massa molekul. Artinya molekul yang kecil
dapat memiliki interaksi antar molekul yang kuat jika dapat
membentuk ikatan hidrogen. Secara umum, ikatan hidrogen suatu
atom H dengan F lebih kuat dibanding dengan O, dan jauh lebih kuat
dibanding dengan N karena perbedaan keelektronegatifan yang lebih
besar. Sementara untuk atom yang sama, makin banyak ikatan
hidrogen yang dapat dibentuk, makin kuat interaksi antar molekul
yang dihasilkan.

2.4.3. Gaya london


Gambar 2.7. Ikatan
hidrogen

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

16

Semua molekul, baik polar maupun tidak, memiliki atom


elektronegatif maupun tidak, tersusun dari atom dan elektron-elektron
ikatan. Elektron bergerak relative bebas di sekitar atom secara acak,
dan menurut probabilitas, ada saat-saat tertentu di mana kerapatan
elektron lebih tinggi di satu titik dibanding titik lainnya, menjadikan
titik tersebut sebagai dipol negatif selama sesaat. Dipol sesaat ini
menghasilkan efek tarik menarik yang setipe dnegan interaksi dipoldipol, hanya saja jauh lebih lemah. Kekuatannya akan meningkat
dengan bertambahnya luas permukaan molekul, karena polarisabilitas
molekul meningkat. Kekuatan gaya London juga dapat meningkat jika
ada spesi, baik ion maupun molekul lain yang dapat menginduksi
terjadinya dipol sesaat lebih sering.

Gambar 2.8. Gaya london


2.4 Sistem dengan Aseton-Etanol
2.4.1. Aseton
Aseton adalah senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan
mudah

terbakar. Aseton

paling sederhana dan

merupakan senyawa

mempunyai rumus

keton

CH3COCH3.

yang
Aseton

memiliki berat enis 0,787 g/ml, titik didih 56,3 0C pada 1 atm,
titik beku -950C dan memiliki berat molekul 58 g/mol.. Bentuk
molekul dari aseton ditunjukkan oleh gambar 2.9. berikut.

Gambar 2.9. Struktur molekul aseton

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

17

Antar molekul aseton dapat terjadi gaya antarmolekul. Salah satu gaya
yang dapat terbentuk dapat dilihat pada gambar 2.10. berikut.

Gambar 2.10. Ikatan dipol-dipol pada aseton


2.4.2. Etanol
Etanol merupakan cairan tak berwarna yang dengan rumus molekul
C2H5OH dan bentuk molekul ditunjukkan pada Gambar 2.10. berikut.

Gambar 2.10. Struktur molekul etanol


Etanol memiliki sifat polar dengan momen dipol 1,69. Etanol dapat
membentuk ikatan hidrogen juga dengan 1 gugus hidroksil yang
dimilikinya.

Etanol

dapat

larut

dalam air

dengan

berbagai

perbandingan. Etanol dan air membentuk azeotrop pada komposisi


etanol 95,6 % massa, sehingga sulit memperoleh etanol yang murni
dari air. Senyawa murninya mendidih pada suhu 78,2C pada 1 atm.
2.5 Persamaan NRTL (Non Random Two Liquids ) untuk Campuran Tidak Ideal
Persamaan NRTL dikenalkan oleh Renon dan Prausnitz pada tahun 1968.
Persamaan NRTL dikembangkan berdasarkan prinsip ketidakacakan nilai
sehingga persamaan tersebut dapat diaplikasikan pada berbagai jenis
campuran dengan memilih nilai yang sesuai dengan jenis campuran fluida.
Persamaan tersebut mengandung tiga parameter, yaitu , G, dan . Berikut
adalah persamaan NRTL untuk energy bebas Gibbs.
..................................... (pers. 2.11)
B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

18

Dengan
........................................................(pers. 2.12a)
..................................................................(pers. 2.12b)
.........................................................................(pers. 2.13a)
.........................................................................(pers. 2.13b)
Nilai Gij merupakan parameter karakteristik energi dari interaksi antara
senyawa i dengan j. Berikut adalah koefisien aktivitas persamaan NRTL.
............................(pers. 2.14a)
........................(pers.
2.14b)
Ketika larutan yang digunakan sangat encer, maka persamaan yang
digunakan untuk menetukan koefisien aktivitasnya adalah sebagai berikut.
...........................................(pers. 2.10a)
............................................(pers. 2.10b)

B.1415.3K.26/sem-II/2014-2015

Anda mungkin juga menyukai