Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang ditandai
dengan batuk disertai napas cepat dan/atau kesukaran bernafas. Untuk klasifikasi kejadian
penyakit ini pada bailta, dibagi menjadi kelompok umur 2 bulan sampai <5tahun, dengan
kelompok umur <2bulan. Ia merupakan penyakit penyebab utama kematian balita di dunia.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, di Indonsia sendiri prevalensi
nasional ISPA sebanyak 25.5% (16 provinsi di atas angka nasional), angka morbiditas
pneumonia pada bayi 2.2%, balita 3%, sedangkan angka mortalitas pada bayi 23.8%, balita
15.5%. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan
yaitu sebanyak 40%-60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15%-30% kunjungan berobat di
bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit. (www.depkes.go.id) Sehingga dibutuhkan
penyelenggaran pelayanan kesehatan sesuai SPM (Standar Pelayanan Minimal) kesehatan yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai dengan kualifikasi dan konpetensi yang dibutuhkan.
Yakni melalui pendekatan MTBS serta penyediaan obat dan peralatan untuk Puskesmas
Perawatan dan di daerah terpencil.
Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis Dinas kesehatan kabupaten/kota, serta sebagai
mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang memiliki tanggungjawab penyelenggaraan
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya, membutuhkan data dan gambaran yang akurat
mengenai kejadian dan penyebaran penyakit pneumonia ini sebagai bahan melaksanakan
kegiatan yang tepat sasaran sebagai satu langkah kegiatan. Untuk langkah teknisnya telah diatur
dalam KEPMENKES RI No.1537A/MENKES/SK/XII/2002 tentang Pedoman Pemberantasan
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia Balita. Sehingga,
sebagai langkah awal pelayanan penderita sebelum pengobatan, fasilitasi rujukan, serta
pembinaan care seeking, dibutuhkan deteksi dini penderita pneumonia balita sesuai klasifikasi.
(KEPMENKES RI No.828/MENKES/SK/IX/2008)
Dalam definisi operasional SPM Bidang kesehatan kabupaten/kota, dipaparkan bahwa
jumlah perkiraan penderita pneumonia balita adalah 10% dari jumlah balita di satu wilayah kerja

dalam kurun waktu satu tahun. Sedangkan target presentase balita dengan pneumonia yang
ditemukan dandiberikan tatalaksana sesuai standar di Sarana Kesehatan di satu wilayah dalam
waktu satu tahun adalah 100%.(KEPMENKES RI No.828/MENKES/SK/IX/2008)Untuk
mengetahui kesesuaian lapangan dengan target yang diarahkan melalui SPM ini, maka
dibutuhkan pelaksanaan screening dan pendataan balita dengan diagnosis penumonia di dalam
wilayah kerja Puskesmas Mulyoharjo selama kurun waktu satu bulan (Desember 2012).

1.2. Pernyataan Masalah


Kurangnya data yang terkumpul mengenai angka cakupan balita dengan pneumonia yang
ditangani di wilayah kerja Puskesmas Mulyoharjo Pemalang
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Mendapatkan data cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani di wilayah kerja
Puskesmas Mulyoharjo Pemalang
1.3.2. Tujuan Khusus

Penemuan kasus ISPA pada balita dan pengklasifikasian yang tepat oleh tenaga kesehatan

kompeten
Mengetahui pola penyebaran dan kejadian ISPA khususnya pneumonia pada balita guna
melakukan intervensi yang sesuai di wilayah kerja Puskesmas Mulyoharjo Pemalang

1.4. Manfaat

Mengetahui cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani


Sebagai landasan menuju Millennium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan,
yang salah satunya adalah menurunkan 2/3 angka kematian balita pada rentang waktu
antara 1990-2015