Anda di halaman 1dari 30

Pain

Management
dibimbing oleh:

dr. Hendra, Sp.An

disusun oleh:
Allen
2013-061-060
Pius Aries B. Langoday
2014-061-043
Kepaniteraan Klinik Departemen Anestesiologi
Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya
RSUD Syamsudin SH Sukabumi
27 April - 30 Mei 2015

Latar Belakang
Nyeri merupakan mekanisme pelindung diri.
Gejala yang paling sering membawa pasien
untuk menemui dokter.
Nyeri bersifat subjektif.
Manajemen nyeri tidak hanya terbatas pada
ahli anestesi, dokter pada bidang yang lain
maupun bukan dokter juga memiliki peran
dalam menangani nyeri.

Definisi
The International Association for the Study of
Pain mendefinisikan nyeri sebagai:
pengalaman sensorik dan emosional yang
tidak menyenangkan dari kerusakan jaringan
aktual maupun potensial, atau menjelaskan
kerusakan yang sedang terjadi

Definisi
Nyeri merupakan suatu pengalaman tidak
menyenangkan yang pernah dialami semua
manusia.
Nosisepstif berasal dari noci (bahasa latin
untuk kerugian atau cedera) dan digunakan
untuk menggambarkan respon saraf terhadap
rangsangan traumatik atau bahaya.
Semua nosiseptif menghasilkan nyeri, tetapi
tidak semua nyeri dihasilkan oleh nosiseptif.

Kategori
Nyeri akut
Nyeri akut terutama disebabkan nosiseptif seperti
karena cedera, proses penyakit, atau fungsi otot
maupun visceral yang tidak normal.
Nyeri somatik
Nyeri somatik superfisial
Nyeri nosiseptif yang berasal dari kulit, jaringan subkutan,
dan membran mukosa. Nyeri dapat dilokalisir, dirasakan
tajam, ditusuk, berdenyut, atau terbakar.

Nyeri somatik dalam


Nyeri somatik dalam berasal dari otot, tendon, sendi,
maupun tulang. Nyeri dirasakan tumpul dan kurang dapat
dilokalisir.

Nyeri visceral
Nyeri visceral disebabkan oleh
disfungsi pada organ dalam.

penyakit

maupun

Kategori
Nyeri akut membaik dalam beberapa hari atau
minggu secara sendirinya maupun dengan
pengobatan. Bila hal ini tidak terjadi, nyeri ini
menjadi nyeri kronik.
Nyeri kronik
Bersifat subjektif, dipengaruhi oleh faktor
psikologis dan perilaku.
Nyeri kronis seringkali diklasifikasikan sebagai
nyeri kanker atau nyeri bukan kanker.
Nyeri kronis muncul setelah fase penyembuhan
selesai, bervariasi dari 1 sampai 6 bulan dengan
faktor psikologis dan perilaku. Nyeri kronis dapat
disebut sebagai nyeri neuropatik.

Patofisiologi Nyeri
Kronik
Nyeri kronis dapat disebabkan oleh kombinasi
dari
mekanisme
perifer,
sentral,
dan
psikologis, diawali dari sensitisasi nosiseptor.
Mekanisme perifer peningkatan reseptor
adrenergik dan sensitisasi reseptor terhadap
rangsangan mekanik, termal, dan kimia.
Mekanisme sentral Peradangan saraf, sistem
saraf simpatik.
Mekanisme psikologis atau faktor lingkungan
kombinasi
tambahan
dengan
mekanisme
lainnya.

Patofisiologi Nyeri
Kronik
Mekanisme psikologis atau faktor lingkungan
yang berkaitan dengan nyeri kronik:
Mekanisme psikofisiologis faktor emosional
Perubahan perilaku yang berubah menjadi
kebiasaan
Psikopatologi
Gangguan afektif (depresi)
Skizofrenia
Gangguan somatisasi (histeria konversi)

Mekanisme psikogenik murni (merasa kesakitan


tanpa adanya impuls nosiseptif)

Patofisiologi Nyeri
Kanker
Nyeri kanker dapat terjadi karena lesi kanker
itu sendiri, penyakit metastasis, komplikasi
(kompresi
saraf
atau
infeksi),
atau
pengobatan (kemoterapi, terapi radiasi).
Pasien kanker dapat mengalami nyeri akut
atau kronis yang tidak berkaitan sama sekali
dengan penyakit kanker yang dimiliki.

Evaluasi Nyeri
Evaluasi setiap pasien dengan
mencakup informasi tentang:

nyeri

harus

Lokasi
Onset
Kualitas nyeri
Faktor yang memperingan dan memperburuk nyeri
Riwayat nyeri pada terapi sebelumnya
Perubahan gejala dari waktu ke waktu

Selain gejala fisik, nyeri kronis biasanya juga


melibatkan komponen psikologis yang harus
ditangani dengan baik.

Evaluasi Nyeri
Kuesioner, diagram, dan skala nyeri adalah alat
yang berguna dalam membantu pasien
menggambarkan karakteristik nyeri yang
mereka rasakan dan bagaimana hal itu
mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Pemeriksaan
fisik
dapat
membantu
membedakan lokasi nyeri, jenis, dan gejala sisa
sistemik.
Pemeriksaan penunjang dengan menggunakan
pencitraan radiologi seperti radiografi polos,
CT-scan, MRI, dan bone scans dapat membantu
mencari petunjuk dari penyebab fisiologis.

Pengukuran Nyeri
Numerical rating scale
Skala numerik menggunakan angka 0 sampai
dengan 10. Angka 0 diartikan dengan tidak ada
rasa sakit dan angka 10 diartikan sebagai rasa
sakit yang terburuk.

Pengukuran Nyeri
Wong-Baker FACES rating scale
Wong-Baker FACES rating scale dirancang untuk
anak-anak berusia 3 tahun atau lebih, pada
pasien
yang
memiliki
kesulitan
untuk
berkomunikasi. Pasien diminta untuk menunjuk
salah satu dari berbagai ekspresi wajah pada
gambar yang disediakan, mulai dari wajah
tersenyum (tidak sakit), hingga wajah yang
mengekspresikan rasa sakit terburuk.

Pengukuran Nyeri
Visual analog scale (VAS)
VAS adalah garis horizontal 10 cm berlabel "tidak
sakit" di salah satu ujung dan "rasa sakit terburuk
yang bisa dibayangkan" di ujung satunya. Pasien
diminta untuk memberikan tanda pada garis
tersebut untuk menentukan intensitas nyeri. Jarak
tersebut dikonversi secara numerik untuk
menentukan kuantitas nyeri.

Pengukuran Nyeri
McGill Pain Questionnaire(MPQ)
MPQ merupakan daftar kata-kata yang menggambarkan
gejala. Tidak seperti metode skala pengukuran nyeri lainnya,
MPQ mencoba untuk menentukan rasa sakit dalam tiga
kategori utama:
Sensorik-diskriminatif (jalur nosiseptif)
Motivasi-afektif (retikular dan struktur limbik)
Kognitif-evaluatif (korteks serebral)
MPQ berisi dari 20 pasang kata deskriptif yang dibagi dalam
empat kelompok besar yaitu 10 sensorik, 5 afektif, 1
evaluatif, dan 4 lain-lain.
Pasien memilih pasangan yang berlaku untuk rasa sakit dan
lingkaran kata-kata dalam setiap pasang yang paling
menggambarkan rasa sakit.
Kata-kata di setiap kelas diberikan peringkat menurut
keparahan nyeri. Indeks peringkat nyeri ditentukan
berdasarkan kata yang dipilih.

Evaluasi Psikologis
Evaluasi psikologis berguna ketika evaluasi medis
gagal untuk mengungkapkan penyebab yang
jelas dari nyeri.
Evaluasi ini membantu dalam menentukan peran
faktor psikologis dan perilaku. Tes yang paling
umum digunakan adalah:
Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
digunakan terutama untuk mengkonfirmasi kesan
klinis tentang peran faktor psikologis terhadap
nyeri, tidak dapat digunakan untuk membedakan
antara rasa sakit organik dan fungsional.
Beck Depression Inventory merupakan tes yang
berguna untuk mengidentifikasi pasien dengan
depresi berat. (pasien dengan nyeri kronis seringkali
mengalami depresi).

Tatalaksana
Tatalaksana farmakologis
Tatalaksana Prosedural
Tatalaksana Multidisiplin

Tatalaksana
Farmakologis
Pemilihan terapi tangga
Health Organization (WHO).

analgesik World

Dikembangkan dan divalidasi hanya untuk


pengobatan nyeri kanker, tangga analgesik
dapat
digunakan
sebagai
guideline
pengobatan dasar nyeri akut maupun kronis.
Penilaian dan diagnosis dengan hati-hati
merupakan
kunci
untuk
memulai
farmakoterapi yang tepat.
Diperlukan
evaluasi
berkala
terhadap
efektifitas penghilang rasa sakit dan efek
samping obat.

Tatalaksana
Farmakologis

Tangga Analgesik WHO

Tatalaksana
Farmakologis

Obat Farmakologis Penanganan Nyeri

Tatalaksana
Farmakologis

Obat AnalgesikOral Pilihan Non-Opioid

Tatalaksana
Farmakologis

Opioid Oral

Tatalaksana
Opioid
Parenteral
Farmakologis
Injeksi Subkutaneus dan Intramuskular
Intravena
Patient-Controlled Analgesia (PCA)
Pasien dewasa dibutuhkan 2-3 mg/jam dalam
24-48 jam pertama dan 1-2 jam dalam 36-72
jam berikutnya

Tatalaksana
Farmakologis

Opioid Parenteral

Tatalaksana
Prosedural
Diagnostik dan blok terapeutik
Blok saraf somatik

Blok saraf simpatik


Injeksi epidural
Radiofrequency Ablation & Cryoneurolysis
Neurolisis kimia
Differential Neural Blockade
Neuromodulasi
Augmentasi vertebra

Tatalaksana
Multidisiplin
Intervensi psikologis

Dilakukan oleh psikolog atau psikiater.


Membantu pasien mengubah persepsi
mengenai rasa sakit maupun mengatasi
rasa sakit itu sendiri.
Individual maupun dalam kelompok.

Terapi kognitif
Terapi perilaku
Biofeedback,
Teknik relaksasi
Hipnosis.

Tatalaksana
Multidisiplin
Terapi fisik
Terapi panas
Terapi panas superfisial
Terapi konduktif
fluidotherapy)
Radiasi (infrared)

(hot

packs,

paraffin

baths,

Terapi panas dalam


Ultrasound

Terapi dingin
Cold packs, ice massage, vapocoolant sprays
Latihan mencegah kekakuan sendi, atrofi
otot, dan kontraktur

Tatalaksana
Multidisiplin
Akupuntur

Penusukan jarum ke titik-titik anatomis


yang disebut meridian.
Literatur ilmiah kontroversial, beberapa
studi menunjukkan bahwa akupunktur
merangsang pelepasan opioid endogen,
dan efek ini dapat diantagonis oleh
nalokson.

Kesimpulan
Nyeri merupakan suatu pengalaman tidak
menyenangkan yang pernah dialami semua
manusia.
Setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda
dalam merasakan nyeri.
Nyeri kronis dapat disebabkan oleh kombinasi
dari mekanisme perifer, sentral, dan psikologis.
Evaluasi setiap pasien dengan nyeri tidak hanya
dengan memperhatikan gejala fisik, melainkan
melihat komponen psikologis yang juga harus
ditangani dengan baik guna memberikan terapi
yang efisien dan dibutuhkan oleh pasien.

Saran
Semua pihak terlibat dalam manajemen
nyeri, baik dokter maupun bukan.
Sebagai
seorang
klinisi,
kita
wajib
memberikan solusi terbaik dalam menangani
masalah tersebut dengan menggunakan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
yang tersedia.
Selain pemeriksaan secara klinis, pendekatan
psikologis juga diperlukan untuk pasien
dengan nyeri kronik agar dapat memberikan
terapi dengan hasil yang terbaik.