Anda di halaman 1dari 45

1.

1 Latar Belakang
Kasus pembunuhan di Indonesia masih sangat banyak terjadi. Dari sekian
banyak kasus pembunuhan yang terjadi, diantaranya korbannya adalah
perempuan. Dalam tempo tiga bulan saja, pada tahun 2014, 17 kasus
pembunuhan terhadap kaum hawa terjadi di Jakarta dan wilayah sekitarnya.
Indonesia Police Watch (IPW) menyatakan, angka itu menunjukkan kejahatan
terhadap perempuan semakin meningkat. Tragisnya, sebagian korban dari
belasan kasus itu diperkosa sebelum dibunuh, 11 kasus di antaranya dibuang
begitu saja di jalanan (Kompas, 2015).
Sebanyak 12 kasus menimpa korban dengan usia antara 14 tahun sampai
25 tahun. Sementara itu, usia 30 tahun sampai 51 tahun ada 5 orang.
Menurutnya, Jakarta termasuk sebagai kota yang tidak aman bagi wanita. Dari
17 kasus pembunuhan terhadap wanita itu, 14 diantaranya dilakukan oleh
orang dekat korban, di antaranya suami, pacar, mantan pacar, kenalan,
tetangga, keponakan, dan karyawan korban. Sedangkan motif pembunuhan
dikarenakan faktor yang berbeda-beda. Mulai dari masalah ekonomi hingga
cemburu buta. Tapi umumnya disebabkan hal sepele yang tidak masuk akal,
yakni diputus cinta dan menolak diajak kencan (Kompas, 2015).
Selain kasus pembunuhan, kejahatan seksual hingga saat ini juga masih
menjadi masalah baik di dalam maupun di luar negeri. Kejahatan seksual
dapat didefinisikan sebagai perilaku yang bertentangan dengan hukum-hukum
yang mengatur mengenai seksualitas. Salah satu bentuk kejahatan seksual
dengan bentuk senggama yang saat ini semakin marak terjadi adalah
persetubuhan. Oleh kalangan hukum, persetubuhan didefinisikan sebagai
perpaduan antara dua alat kelamin yang berlainan jenis guna memenuhi
kebutuhan biologis yaitu kebutuhan seksual. Perpaduan tersebut tidak harus
sedemikian rupa sehingga seluruh penis masuk ke dalam vagina. Penetrasi
yang paling ringan, yaitu masuknya ujung penis (glans penis) diantara kedua
labium mayor (bibir luar) sudah dapat dikategorikan sebagai senggama, baik
diakhiri atau tidak dengan orgasme atau ejakulasi (Kusuma, 2012).

Jumlah angka kejahatan seksual di Indonesia pada tahun 2014 sebanyak


342.084 orang dibagi menjadi dua macam, yaitu perkosaan 1960 orang dan
pencabulan 3160 orang. Kasus perkosaan Sumatra Utara 190 orang, Sumatra
Selatan 160 orang, Jakarta 68 orang, Jawa Barat 96 orang, Jawa Timur 97
orang, NTT 134 orang, Sulawesi Selatan 127 orang, Kalimantan Selantan 2
orang. Sedangkan kasus pencabulan: Sumatra Barat 277 orang, Jawa Timur
291 orang, Jakarta 148 orang, Kalimantan Barat 181orang, Sulawesi Utara 72
orang (Statistik Kriminal, 2014). Sementara di Amerika Serikat pada tahun
2001 (1,7 %) dan pada tahun 2002 (2,1%) dari seluruh tindak kejahatan yang
ada (Kusuma, 2012).
Kasus baru yang masih sangat hangat dibicarakan adalah kasus
pembunuhan Alfi, seorang pelacur, yang dibunuh oleh pelanggannya secara
sadis dengan motif dendam karena tersinggung atas perkataan korban. Kasus
ini cukup menggemparkan masyarakat. Hal ini membuktikan sampai saat ini
masih banyak terjadi kasus pembunuhan terhadap perempuan disertai
kejahatan seksual. Kepolisian dan tim kedokteran forensik memiliki tugas
untuk mengungkap semua kejahatan ini. Di sinilah tugas tim kedokteran
forensik untuk menemukan bukti-bukti di TKP, identifikasi korban,
membuktikan adanya persetubuhan dan kejahatan seksual, mencari penyebab
kematian, mengungkap motif pembunuhan, serta menemukan identitas pelaku
pembunuhan. Karena itu penulis tertarik membahas dan mempelajari tentang
masalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat di
rumuskan permasalahan dari penelitian ini Bagaimana peran tim kedokteran
forensik dalam
seksual?

1.3 Tujuan

membantu mengungkap kasus pembunuhan dan kejahatan

1.3.1 Tujuan Umum :


Untuk mengetahui peran tim kedokteran forensik dalam membantu
mengungkap kasus pembunuhan dan kejahatan seksual.
1.3.2

Tujuan khusus :

a. Untuk mengetahui dan memahami cara identifikasi korban.


b. Untuk mengetahui dan memahami cara pembuktian persetubuhan.
c. Untuk mengetahui dan memahami cara identifikasi pelaku.
d. Untuk mengetahui dan memahami mengenai kejahatan seksual.
e. Untuk mengetahui dan memahami mengenai motif-motif
pembunuhan.

1.4 Manfaat
Melalui penulisan referat ini diharapkan dapat memberikan manfaat
kepada:
a. Dokter muda
Memberikan pengetahuan tentang cara identifikasi korban pembunuhan,
cara pembuktian persetubuhan, cara identifikasi pelaku, kejahatan seksual,
dan motif-motif pembunuhan.
b. Dokter umum
Memberikan pengetahuan tentang cara identifikasi korban pembunuhan,
cara pembuktian persetubuhan, cara identifikasi pelaku, kejahatan seksual,
dan motif-motif pembunuhan sehingga diharapkan dapat menerapkan
dalam praktek sehari-hari.
c. Polisi
Memberikan wawasan tentang cara identifikasi korban pembunuhan, cara
pembuktian persetubuhan, cara identifikasi pelaku dari segi medis.

d. Masyarakat

Meningkatkan wawasan tentang pembunuhan, persetubuhan, dan


kejahatan seksual lain sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan

kasus-kasus tersebut.
Memberikan wawasan kepada korban kasus persetubuhan dan
kejahatan seksual lainnya bahwa hal tersebut dapat dibuktikan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kejahatan Seksual

2.1.1 Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kejahatan merupakan perilaku
yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku yang telah disahkan oleh
hukum tertulis. Seksual adalah (1) Berkenaan dengan seks (jenis kelamin). (2)
Berkenaan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Jadi kejahatan
seksual adalah perilaku yang bertentangan dengan hukum-hukum yang mengatur
mengenai seksualitas.
Definisi lain dari kejahatan seksual adalah semua tindakan seksual,
percobaan tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks,
dengan menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapapun saja tanpa
memandang hubungan dengan korban, dalam situasi apa saja, tidak terbatas pada
rumah dan pekerjaan.
Kejahatan seksual dapat dikelompokkan sebagai berikut:
KejahatanSeksual

Senggama:

Selingkuh

Senggamadenganwan
itatidakberdaya

Senggamadenganwan
ita di bawahumur

Incest

Perkosaan

Non Senggama:

PerbuatanC
abul

Gambar 2.1 Jenis Kejahatan Seksual


Senggama merupakan penetrasi penis ke dalam vagina baik sebagian
maupun total ke dalam vagina, yang disertai maupun tidak disertai dengan

ejakulasi. Senggama ini dibagi menjadi dua, yaitu senggama legal dan senggama
ilegal. Senggama ilegal adalah senggama yang tidak legal dimana syarat
senggama legal (tidak melanggar hukum) adalah dilakukan dengan prinsip-prinsip
sebagai berikut:

Ada izin dari wanita yang disetubuhi

Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang dalam keadaan
terikat perkawinan dengan lelaki lain dan bukan anggota keluarga dekat.
Kejahatan seksual kategori senggama dalam hukum dapat didefinisikan

sebagai berikut:
a. Selingkuh
Dalam kamus besar bahasa indonesia, selingkuh adalah (1) tidak berterus
terang. (2) tidak jujur atau serong. (3) suka menyembunyikan sesuatu. (4)
korup atau menggelapkan uang. (5) memudah-mudahkan perceraian. Syarat
disebut selingkuh adalah baik wanita atau pria tersebut sudah terikat dalam
hubungan pernikahan, tetapi melakukan senggama dengan orang lain yang
bukan merupakan pasangan suami atau istrinya.
Pada KUHPidana pasal 284 ayat (1) menentukan bahwa perzinahan
dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan:
1) a. Seorang laki-laki yang telah kawin yang melakukan perzinahan, sedang
diketahuinya bahwa pasal 27 Burgerlijk Wetboek berlaku baginya;
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan perzinahan.
2) a. seorang laki-laki yang turut serta melakukan perbuatan tersebut, sedang
diketahuinya bahwa orang yang turut bersalah telah kawin;
b. Seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan
tersebut, sedang diketahuinya bahwa orang turut bersalah telah kawin
dan pasal 27 Burgerlijk Wetboek berlaku baginya.
b. Senggama dengan wanita tidak berdaya
Wanita tidak berdaya yang dimaksudkan di sini adalah adalah wanita yang
pingsan, memiliki kecacatan mental, atau gangguan jiwa, atau dibuat tidak
berdaya dengan cara dibius. Pada KUHP pasal 286, tertulis bahwa barang
siapa bersetubuh dengan wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa

wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana
penjara paling lama 9 tahun.
c. Senggama dengan wanita di bawah umur
Terdapat tiga batasan umur mengenai senggama dengan wanita di bawah
umur, yaitu:

Kurang dari usia 12 tahun: apapun alasannya dalam melakukan senggama,


merupakan tindakan pidana.

Usia 12-15 tahun: boleh melakukan senggama asal kedua orang tua
menyetujuinya.

Lebih dari usia 15 tahun: orang tua sudah tidak memiliki kewenangan,
anak sudah dianggap mampu memberikan consent.
Batasan umur tersebut berdasarkan atas KUHP pasal 287 ayat 1, yang

berbunyi barang siapa bersetubuh dengan wanita di luar perkawinan, padahal


diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum 15
tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Wanita yang belum genap 15 tahun, secara hukum belum diperbolehkan
memberikan ijin (consent) sendiri, jadi wanita tersebut masih dianggap di
bawah asuhan dari orang tuanya. Hal ini disebabkan karena wanita tersebut
dinilai belum mampu memahami segala risiko yang timbul dari perbuatan
senggama.
Pada KUHP pasal 287 ayat 2, dijelaskan lebih lanjut apabila wanita
tersebut berumur kurang dari 12 tahun, tidak perlu menunggu adanya aduan
agar bisa dikatakan tindak pidana, sedangkan apabila berumur lebih dari 12
tahun diperlukan adanya aduan untuk dapat memprosesnya.
d. Incest
Incest merupakan senggama yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki
ikatan keluarga atau kekerabatan yang dekat, biasanya antara ayah dengan
anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara
kandung atau saudara tiri.

Dalam pasal 294 ayat (1) KUHPidana, menurut terjemahan Tim


Penerjemah

Badan

Pembinaan

Hukum

Nasional,

ditentukan

bahwa

barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak


angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan
orang yang belum dewasa yang pemeliharannya, pendidikan atau penjagannya
diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang
belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
e. Perkosaan
Dalam pasal 285 KUHP, ditentukan bahwa barangsiapa dengan kekerasan
atau ancama kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar
perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
Kejahatan seksual yang dimasukkan ke dalam kategori non senggama
adalah perbuatan cabul, dimana cabul adalah sesuatu yang melanggar
kesusilaan yang dilakukan dengan perbuatan-perbuatan. Perbuatan cabul
merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadapa kesusilaan yang diatur dalam
bab XIV Buku ke dua KUHP tentang kejahatan kesusilaan. Pengertian
perbuatan cabul adalah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan atau
perbuatan keji, yang semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin
misalnya mencium, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada.
Pencabulan diatur dalam Pasal 289 sampai Pasal 294 KUHPidana. Menurut
Pasal 289, barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
orang lain untuk melakukan tindakan-tindakan melanggar kesusilaan atau
membiarkan orang lain untuk melakukan tindakan-tindakan melanggar
kesusilaan, karma salahnya telah melakukan perbuatan merusak kesusilaan,
dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun.
Pemerkosaanadalahjeniskekerasanseksualbiasanyamelibatkanhubungansek
sual,

yang

diprakarsaiolehsatu

tanpapersetujuan

yang

orang

ataulebihterhadap

bersangkutan.

orang

Seseorang

lain
yang

melakukanperbuatanpemerkosaandikenalsebagaipemerkosa.
Tindakanitudapatdilakukandengankekuatanfisik,

pemaksaan,

penyalahgunaanwewenangataudengan orang yang tidakmampupersetujuan


yang

valid.

Korbanperkosaandapatmengalami

trauma

akibatseranganitudanmungkinmengalamikesulitanberfungsisertamerekatelahdi
gunakanuntuksebelumserangan,

dengangangguankonsentrasi,

polatidurdankebiasaanmakan (Bureau of Justice, 2014).


2.1.2

Epidemiologi
Sepanjangtahun

1998

hingga

2011

ini,

KomisiNasional

KekerasanterhadapPerempuanmencatatterdapat

Anti

400.939

kekerasanterhadapperempuan yang dilaporkan. Dari jumlahitu, 93.960 kasus di


antaranyamerupakankekerasanseksual,
denganperkosaanmenempatijumlahterbanyak,

4.845

KomnasPerempuanmencatat,

kasus.

dari

kasuskekerasanseksualterhadapperempuan,

hanya

93.960
8.784

kasus

yang

datanyaterpilah. Sisanyaadalahgabungandarikasusperkosaan, pelecehanseksual,


daneksploitasiseksual.
datanyatelahterpilah,

Sementaradari

8.784

kasuskekerasanseksual

perkosaanmenempatiurutanpertama

yang
(4.845),

berikutnyaperdaganganperempuanuntuktujuanseksual (1.359), pelecehanseksual


(1.049), danpenyiksaanseksual (672). Sisanyaantara lain berupaeksploitasiseksual,
perbudakanseksual, hinggapemaksaanperkawinan.
MenurutKomisiNasional
(KomnasPerempuan)

Anti

sejaktahun

KekerasanTerhadapPerempuan
1998

hingga

2010

hampirsepertigakasuskekerasanterhadapperempuanadalahkasuskekerasanseksual,
atautercatat

91.311

kasuskekerasanseksualdari

kasuskekerasanterhadapperempuan.

Selama

2010

295.836

total

tercatat

1.751

korbankekerasanseksual.Pasien-pasien

yang

Borenskebagiangawatdaruratsesudahkekerasanseksualmemberikantantangankhus
usbagidokter

yang

menanganinya.

Pasienmungkinmaluatautidakinginmengingatkembaliriwayatperistiwa

yang

dialami,

data

ketepatanwaktudalammengumpulkan

riwayatperistiwasangatpentinguntukpenanganantepatwaktudandokumentasiBoren
sic.
Perkosaanmerupakansuatuperistiwa

yang

sulitdibuktikanwalaupunpadakasustersebuttelahdilakukanpemeriksaandanpengum
pulanbarangbukti

yang

lengkap.

Pasal

285

tentangpemerkosaanberbunyi
:Barangsiapadengankekerasanataudenganancamankekerasanmemaksa

orang

perempuan di luarperkawinanbersetubuhdengandiakarenasalahnyaperkosaan,
dihukumdenganhukumanpenjaraselama-lamanyaduabelastahun.
Jadiharusdibuktikanterlebihdahuluadanyasuatupersetubuhan.
BilapersetubuhantidakBoredibuktikan, makajanggalbiladikatakansuatuperkosaan.
Suatupembuktian

yang

jelasbahwatelahterjadisuatupersetubuhansecaramedisadalahmendapatkanspermala
ki-laki

di

liangsenggamawanita

yang

dimaksud.

Beberapahal

yang

perludiketahuiadalahbahwa: (a) spermahidupdapatbertahanselama 3x24 jam


dalamronggarahim;
dalamronggarahim.

(b)

spermamatidapatbertahanselama

7x24

jam

Dapatdibayangkanadanyakesulitanbilaterjadisuatuoverspel,

maksudnyaantarapersetubuhan

yang

didugadanwaktupemeriksaanterdapatlagipersetubuhandengansuaminyasendiri,
sehinggasperma

yang

ditemukantidakdiketahuimiliksiapa.

Dalamkasus-

kasussepertiini,
ilmuforensikdapatdigunakanuntukmengungkappelakukejahatanseksual
Kalangitet al 2010).

(Amelia

Tabel 2.1 AngkaKejadianKejahatanSeksualdiLuarNegeri


Rape Statistics
Percent
Average number of rape cases reported in the US annually
89,000
Percent of women who experienced an attempted 16 %
or completed rape
Percent of men

who

experienced

an

attempted 3 %

or completed rape
Decline in rape rate since 1993
Percent of rapes that are never reported to authorities
Percent of college rapes that are never reported to authorities
Percent of rapes where both victim and perpetrator had been

60 %
60 %
95 %
47 %

drinking
College Rape Statistics
Percent
The following is from a study of 6,000 college students on 32 college
campuses nationwide in 1987
Percent of women who reported being raped
15 %
Percent of women who reported an attempted rape
12 %
The following is from a CDC study of 5,000 women on 138 college campuses in
1995
Percent who reported being raped
Rape Perpetrator Statistics
Percent of victims raped by a friend or acquaintance
Percent raped by "an intimate"
Percent raped by a stranger
Percent raped by a relative
Rape Location Statistics
Perpetrators home
Victims home
Perpetrator and victims shared home
At a party
In a vehicle
Outdoors
In a bar
Countries With Highest Rape Rates

20 %
Percent
38 %
28 %
26 %
7%
Percent
30.9 %
26.6 %
10.1 %
7.2 %
7.2 %
3.6 %
2.2 %
Rate

Lesotho
Trinidad and Tobago
Sweden
Korea
New Zealand
United States
Belgium
Zimbabwe

100,000
91.6
58.4
53.2
33.7
30.9
28.6
26.3
25.6

United Kingdom
Countries With Lowest Rape Rates

23.2
Rate

Egypt
Azerbaijan
Armenia
Syrian Arab Republic
Turkey
Sierra Leone
Canada
Ukraine
Kenya
Belarus

100,000
0.1
0.3
0.6
0.7
1.4
1.4
1.5
1.9
1.9
2.5

2.1.3 Persetubuhan yang MerupakanKejahatan


Pasal 285 KUHP
Barangsiapadengankekerasanatauancamankekerasanmemaksaseorangwanitaberset
ubuhdengandia

di

diancamkarenamelakukanperkosaandenganpidanapenjara
duabelastahun.

luarperkawinan,
paling

Padatindakpidana

lama
di

atasperludibuktikantelahterjadipersetubuhandantelahterjadipaksaandengankekeras
anatauancamankekerasan.
Dokterdapatmenentukanapakahpersetubuhantelahterjadiatautidak,
apakahterdapattandatandakekerasan.
Tetapiinitidakdapatmenentukanapakahterdapatunsurpaksaanpadatindakpidanaini.
Ditemukannyatandakekerasanpadatubuhkorbantidakselalumerupakanakibatpaksaa
n,

mungkinjugadisebabkanolehhal-hal

lain

yang

takadahubungannyadenganpaksaan. Demikian pula bilatidakditemukantandatandakekerasan,

makahalitubelummerupakanbuktibahwapaksaantidakterjadi.

Padahakekatnyadoktertakdapatmenentukanunsurpaksaan

yang

terdapatpadatindakpidanaperkosaan;
sehinggaiajugatidakmungkinmenentukanapakahperkosaantelahterjadi.
berwenanguntukmenentukanhaltersebutadalah

Yang
hakim,

karenaperkosaanadalahpengertianhukumbukanistilahmedissehinggadokterjangan
menggunakanistilahperkosaandalamVisumetRepertum.

2.2

Pembuktian Persetubuhan

Pemeriksaan Kasus Persetubuhan


2.2.1 Pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara
Dalam proses penyidikan untuk mengungkapkan suatu perkara pidana
yang menyangkut nyawa manusia, pemeriksaan di TKP, merupakan kunci
keberhasilan upaya pengungkapan tersebut berdasarkan pasal 7 KUHP, butir (h)
maka penyidik berwenang minta bantuan dokter untuk datang di tempat kejadian.
Selama melakukan pemeriksaan harus dihindari tindakan yang dapat menganggu
atau merusak keadaan kejadian tersebut.
Tugas seorang dokter di TKP pada tindak pidana perkosaan adalah
mencari data-data tentang :
1. Tanda-tanda pergumulan
2. Tanda-tanda kekerasan
3. Tanda-tanda persetubuhan
4. Mencari benda-benda milik korban/tersangka
-

Adanya tanda-tanda pergumulan dapat berupa : ketidakrapian atau


ketidakteraturan tempat kejadian perkosaan misalnya tempat tidur yang
sepreinya kusut, dahan tumbuh-tumbuhan yang terpatah, adanya rumput
bekas tekanan, debu lantai yang terhapus badan korban yang meronta-ronta.

Adanya tanda-tanda kekerasan biasanya berupa : bercak darah yang


berceeran, sisa obat tidur, obat bius, benda tumpul atau benda tajam, tali
untuk mengikat korban dan sebagainya yang digunakan oleh pelaku sehingga
korban tidak berdaya.

Adanya tanda-tanda persetubuhan dapat berupa bercak cairan mani, bercak


darah yang berasal dari deflerasi dan benda lainnya seperti pakaian, sapu
tangan, handuk, kertas yang dapat digunakan oleh pelaku untuk menghapus
alat kelaminnya. Benda tersebut disita untuk kemudian diperiksa di
laboratorium.

Benda-benda lain yang dibuang atau tertinggal di tempat kejadian seperti


puntong rokok, kotak rokok, korek api, rambut kepala, sidik jari dan lain-lain
harus diperiksa, karena benda-benda tersebut bisa memperkuat bukti.

2.2.2 Pemeriksaan Korban


Berdasarkan pasal 133 KUHAP penyidik berwenang minta bantuan dokter
untuk memeriksa korban. Disini diperlukan pemeriksaan yang teliti guna
menemukan beberapa hal yang menjadi unsur tidak pidana, yakni unsur
persetubuhan dan kekerasan.
Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan dapat disimpulkan kebenaran
terjadinya persetubuhan. Hanya saja, apakah persetubuhan tersebut dilakukan
secara paksaan atau tidak, sangat mustahil dokter dapat menyimpulkannya. Sebab
bukti medik antara persetubuhan antara persetubuhan dengan paksaan dan tanpa
paksaan tidak ada bedanya.
Bukti-bukti medik juga dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya
unsur kekerasan sebab pada ancaman kekerasan tidak ditemukan bukti-bukti
medik. Seyogyanya sebelum melakukan pemeriksaan terhadap korban perkosaan,
dokter perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Harus ada surat permintaan Visum Et Repertum dari polisi dan keterangan
mengenai kejadiannya
2. Harus ada persetujuan tertulis dari korban atau orang tua/wali korban yang
menyatakan tidak keberatan untuk diperiksa seorang dokter
3. Harus ada seorang perawat wanita atau polisi wanita yang mendampingi dokter
selama melakukan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan korban adalah :
1. Mencari keterangan tentang korban
2. Mencari keterangan tentang peristiwa persetubuhan
3. Mencari adanya bekas-bekas kekerasan
4. Mencari adanya perubahan-perubahan pada alat kelamin korban
5. Mencari adanya spermatozoa
6. Mencari akibat dari persetubuhan
Pemeriksan medis untuk korban persetubuhan pada umumnya dilakukan secara
berurutan yaitu sebagai berikut :
-

Anamnesa

Pemeriksaan fisik

Laboratorium

Anamnesa
Anamnesa merupakan yang tidak dilihat dan tidak ditemukan oleh dokter,
jadi bukan hasil pemeriksaan obyektif. Oleh karena itu, anamnesa tidak
dimasukkan dalam visum et repertum. Anamnesa dibuat terpisah dan dilampirkan
pada visum et repertum di bawah kalimat keterangan yang diperoleh dari
korban. Pada anamnesa untuk korban perkosaan ditujukan untuk :
1. Mencari keterangan tentang diri korban :
a. Nama, umur, alamat, dan pekerjaan korban
b. Status perkawinan korban
c. Persetubuhan yang pernah dialami korban sebelum terjadi peristiwa
perkosaan ini
d. Tanggal menstruasi terakhir
e. Kehamilan, riwayat persalinan atau keguguran
f. Penyakit dan operasi yang pernah dialami korban
g. Kebiasaan korban terhadap alcohol atau obat-obatan
2. Mencari keterangan tentang peristiwa perkosaan :
a. Tanggal, jam, dan tempat terjadinya
b. Keadaan korban saat sebelum kejadian
c. Posisi korban pada waktu kejadian
d. Persetubuhan yang dilakukan si pelaku terhadap korban
e. Cara perlawanan korban
f. Hal-hal yang diperbuat korban setelah mengalami perkosaan
g. Pelaporan peristiwa perkosaan kepada polisi oleh siapa, kapan, dimana,
serta hubungan si pelapor dengan korban
Pemeriksaan Fisik
Dalam

pemeriksaan

ini

dokter

diharapkan

untuk

melaksanakan

pemeriksaan secara teliti guna mendapatkan data-data seobyektif mungkin

sehingga mendapatkan suatu kesimpulan yang akurat. Sehingga diharapkan


adanya kerja sama yang baik antara dokter dan penyidik.
Pemeriksaan fisik pada korban berbagai kejahatan seksual kurang lebih
sama. Dalam pemeriksaan fisik meliputi pencarian adanya tanda kekerasan dan
tanda persetubuhan/pergumulan. Tanda-tanda atau kelaianan yang ada pada tubuh
korban perlu dicatat serapi-rapinya, apa yang tidak dicatat dlam status klinik
berarti tidak pernah diperiksa atau dikerjakan. Pemeriksaan fisik korban terdiri
dari :
1. Pemeriksaan baju korban
Pada pemeriksaan baju korban diperhatikan apakah :
- Ada yang hilang
- Ada robekan-robekan
- Ada kancing yang hilang
- Ada bekas-bekas tanah, pasir, lumpur, bahan lain
- Ada noda darah
- Ada noda sperma
2. Pemeriksaan tubuh korban dibagi atas :
a. Pemeriksaan tubuh korban secara umum
Setiap korban perkosan mutlak diperlukan pemeriksaan yang teliti
guna menemukan beberapa hal yang menjadi unsur tindak pidana tersebut
yaitu unsur-unsur persetubuhan dan kekerasan.
Berdasarkan

bukti-bukti

medic

yang

ditemukan

akan

dapat

disimpulkan kebenaran terjadinya senggama. Hanya saja, apakah senggama


dilakukan dengan paksaan atau tidak. Sangat mustahil dokter dapat
menyimpulkannya sebab bukti medik antara senggama dengan paksa dan
tidak dengan paksa tidak ada bedanya. Bukti-bukti medik juga dapat
digunakan untuk menyimpulkan adanya kekerasan. Yang tidak dapat
dibuktikan adalah ancaman kekerasan sebab pada ancaman kekerasan tidak
ditemukan bukti-bukti medik.

Bagaimana keadaan tingkah laku korban misalnya gelisah, depresi,


hysteri, sedih dan apakah ada tanda bekas minum alcohol, obat bius, dan
obat tidur.
Tanda-tanda kekerasan
Sebenarnya yang dimaksud dengan kekerasan adalah tindakan pelaku yang
bersifat fisik dan dilakukan dalam rangka memaksa korban agar dapt disetubuhi.
Kekerasan tersebut dimaksud untuk menimbulkan ketakutan atau untuk
melemahkan daya lawan korban.
Pada pemeriksaan dicari tanda-tanda bekas kekerasan pada tubuh korban
berupa goresan, garukan, gigitan, serta luka lecet maupun luka memar dan ini
dicari pada :
-

Daerah sekitar mulut sewaktu korban dibungkam

Daerah sekitar leher sewaktu korban dicekik

Pergelangan tangan, lengan, sewaktu korban disergap

Payudara sewaktu digigit atau diremas-remas

Sebelah dalam paha sewaktu korban dipaksa membuka kedua tungkainya

Punggung sewaktu korban dipaksa tidur di tanah


Diperiksa juga tekanan darah, jantung, paru, abdomen, reflek-reflek serta

pupil mata. Pemeriksaan rectum dan kavum oris juga perlu untuk mengetahui
apakah korban setelah diperkosa masih dilanjutkan dengan perbuatan seperti
coitus peranum atau fatalis untuk benar-benar memuaskan hasrat seksnya
mengingat korban sudah tidak berdaya sama sekali.
Dalam hal pembuktian adanya kekerasan bahwa tidak selamanya kekerasan
ini menimbulkan bekas yang berbentuk luka. Dengan demikian tidak
ditemukannya luka tidak berarti bahwa pada korban tidak terjadi kekerasan.
Tindakan pembiusan dikategorikan sebagai kekerasan maka dengan
sendirinya diperlukan pemeriksaan untuk menentukan ada tidaknya obat-obat atau
racun yang kiranya membuat korban pingsan. Sehingga dalam setiap tindakan
kejahatan seksual pemeriksaan toksikologi menjadi prosedur rutin dikerjakan.

b. Pemeriksaan tubuh korban secara khusus


Yang diperiksa secara khusus disini adalah perubahan-perubahan
pada alat kelamin korban. Mencari adanya benda asing, perdarahan, luka
robekan, dan pembengkakan pada daerah pubis, vulva, vagina, fornik
anterior dan fornik posterior. Bagaimanakah dengan keadaan hymen :
- Bentuknya dan sifat hymen
- Besarnya lubang hymen
- Adanya robekan hymen
- Sifat dan lokalisasi robekan hymen
Ukur diameter lubang selaput dara, dapat dilalui satu jari
kelingking, telunjuk, atau 2 jari dengan mudah atau sukar.
Tabel Macam-Macam Bentuk Hymen
Bentuk Hymen

Keterangan
Hymen

Bentuk Hymen

Keterangan
Hymen

anular

cribriform

dimana

yang

lubang

dikarakteristikk

hymen

an

berbentuk

beberapa lubang

cincin.

kecil.

Ketika
hymen
mulai robek
(akibat
hubungan
seksual atau
aktivitas
lain), maka
lubang
tersebut
tidak

jarang,
oleh

berbentuk
cincin lagi.
Hymen

Hymen

crescentic

denticular yang

atau lunar

jarang,

berbentuk

berbentuk

bulan sabit.

seperti satu set


gigi

yang

mengelilingi
Hymen

lubang vagina.
Hymen fimbria

seorang

yang

wanita yang

berbentuk

pernah

ireguler,

melakukan

mengelilingi

hubungan

lubang vagina.

jarang,

seksual atau
masturbasi
beberapa
kali
Hymen

Hymen labialis

seorang

yang

wanita yang

seperti

hanya

vulva.

pernah
melakukan
aktivitas
seksual
sedikit atau
pernah
kemasukan
benda.

terlihat
bibir

Vulva

dari

Hymen

seorang

mikroperforat

wanita yang

us

dengan

pernah

lubang

sempit

melahirkan.

pada

hymen

Hymen

sehingga

secara

memerlukan

lengkap

operasi

hilang

atau

hampir
hilang
seluruhnya.
Satu
dari

Hymen

2000

bifenestratus

anak

perempuan

atau

bersepta

dilahirkan

yang

jarang

dengan

sekali

oleh

hymen

karena

ada

imperforate

jembatan

menyeberangi

yang

lubang vagina.
Hymen yang
jarang,
hymen
subsepta,
mirip
dengan
hymen
bersepta,
hanya septa
tidak

menyeberan
gi

seluruh

lubang
vagina.

Gambar Hymen belum robek

Gambar Hymen yang mengalami sedikit perubahan ( robek sedikit) karena


kecelakaan, terkena benda keras, jatuh, masturbasi, dll

Gambar Hymen yang sudah robek

Gambar Hymen Yang Sudah Pernah Melahirkan

Tanda-tanda persetubuhan
Persetubuhan merupakan peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke
dalam vagina. Penetrasi tersebut dapat lengkap atau tak lengkap dengan atau tanpa
disertai ejakulasi.
Tanda-tanda langsung :
- Robeknya selaput dara akibat penetrasi penis
- Lecet atau memar akibat gesekan-gesekan penis
- Adanya sperma akibat ejakulasi
Tanda-tanda tidak langsung :
- Terjadinya kehamilan
- Terjadinya penularan penyakit kelamin

Dalam pembuktikan adanya persetubuhan dipengaruhi oleh faktor :


- Besar penis dan derajat penetrasi
- Bentuk dan derajat elastisitas selaput dara
- Ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulasi itu sendiri
- Posisi persetubuhan
- Keaslian barang bukti serta pada waktu pemeriksaan
Adanya robekan pada hymen hanya menandakan adanya sesuatu benda
yang masuk ke dalam vagina. Dan sebaliknya tidak terdapat robekan hymen tidak
dipastikan tidak terjadi penetrasi.
Mengenai ejakulasi dapat dibuktikan secara medik dengan ditemukannya
sperma pada liang vagina, sekitar alat kelamin atau pada pakaian korban. Adanya
sperma di liang vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Pemeriksaan
sperma tersebut sangat penting karena bukan hanya mengungkapkan adanya
persetubuhan tetapi juga identitas pelakunya melalui pemeriksaan DNA dan
golongan darah pelakunya.
Dan apabila ejakulat tersebut tidak mengandung spermatozoa maka
adanya pembuktian persetubuhan dapat dikatakan dengan melakukan pemeriksaan
terhadap ejakulat tersebut. Komponen yang terdapat dalam ejakulat antara lain
enzim asam fosfatase, kholin, spermin. Bila persetubuhan tidak sampai berakhir
dengan ejakulasi maka pembuktiannya tidak dapat dilakukan secara pasti, hanya
disini perlu disebutkan tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan yang mencakup
dua kemungkinan. Pertama memang tidak ada persetubuhan dan persetubuhan ada
tetapi tanda-tandanya tidak dapat ditemukan.
Adanya sperma merupakan tanda pasti persetubuhan maka perlu saat
terjadinya persetubuhan harus ditentukan karena menyangkut alibi pelaku, sperma
di liang vagina masih bergerak dalam 4-5 jam post senggama masih dapat
ditemukan bergerak sampai 36 jam. Pada jenazah masih dapt ditemukan sampai 1
minggu.
Pada pemeriksaan pubis dilihat apakah ada perlekatan rambut atau adanya
benda-benda asing. Bila rambut saling melekat sebaiknya digunting dan dikirim
ke laboratorium.

Adanya kehamilan dan penyakit kelamin merupakan bukti tak langsung


tentang adanya persetubuhan. Hanya saja untuk menghubungkan apakah
kehamilan itu sebgai akibat dari perbuatan yang dilakuakn pelaku, perlu dilakukan
pemeriksaan DNA.
Pemeriksaan Laboratorium Korban Perkosaan
Pemeriksaan laboratorium pada korban perkosaan bertujuan untuk mengetahui:
-

Pemeriksaan adanya sperma


Pemeriksaan adanya cairan semen (air mani)
Pemeriksaan adanya penyakit kelamin
Pemeriksaan adanya kehamilan
Pemeriksaan bahan lain dalam tubuh korban yang bisa dipakai sebagai
petunjuk
Pemeriksaan cairan mani dapat digunakan untuk membuktikan adanya

persetubuhan melalui penentuan ada tidaknya cairan semen dalam vagina yang
diambil melalui swab atau irigasi. Cairan mani merupakan cairan agak putih
kekuningan, keruh dan berbau khas. Cairan mani saat ejakulasi kental kemudian
akibat enzim proteolitik menjadi cair dalam waktu singkat (10-20 menit). Dalam
keadaan normal, volume cairan mani 3-5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7,2
7,6.
Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang
tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung
spermion dan beberapa enzim seperti fosfatase asam. Spermatozoa mempunyai
bentuk yang khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya
antara 60 sampai 120 juta per ml.
Sperma itu sendiri di dalam liang vagina masih dapat bergerak dalam
waktu 4-5 jam post-coitus; sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai
sekitar 24-36 jam post coital dan bila wanitanya mati masih akan dapat ditemukan
7-8 hari.
Cairan mani mengandung spermatozoa sel, enzim fosfatase asam, choline,
spermin, dan lain sebagainya. Enzim fosfatase asam adalah enzim yang dihasilkan
oleh kelenjar prostat. Dalam percobaan penentuan adanya enzim fosfatase asam,
enzim ini akan menghidrolisis natrium a naftil fosfat. a naftol yang dihasilkan

akan bereaksi dengan brentamin menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru
ungu. Sedangkan choline adalah produk degradasi dari lesitin dan terdapat dalam
konsentrasi tinggi dalam cairan sperma, dengan larutan lugol kolin akan bereaksi
membentuk Kristal-kristal kolin periodida yang berbentuk jarum dengan ujung
sering terbelah. Kandungan lain adalah spermin yang merupakankandungan dari
semen. Spermin juga akan membentuk Kristal spermin pikrat yang berwarna
kekuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul.
a. Pemeriksaan adanya spermatozoa
Bahan pemeriksaan : cairan vagina.
Metode : Sediaan basah, tanpa pewarnaan: Setetes cairan vagina diletakkan
di atas kaca benda dan diperiksa dengan pembesaran 500x dengan
kondensor diturunkan. Perhatikan apakah spermatozoa bergerak. Dapat
diambil sebagai patokan bahwa spermatozoa masih bergerak kira-kira 4 jam

postkoital.
Hasil yang diharapkan : spermatozoa yang bergerak.
Metode lain: sediaan kering dengan pewrnaan gram, giemza, atau methylene
blue, atau dengan pengecatan Malachite-green.

b. Pengecatan Malachite-green
- Cara pemeriksaan dengan pengecatan Malachite-green adalah:
Taruh sediaan hapusan dari cairan vagina ke objek glass
Keringkan di udara
Fiksasi dengan api
Warnai dengan malachite green 1% dalam air
Tunggu 10-15 menit
Cuci dengan air
Warnai dengan eosin-yellowish 1% dalam air
Tunggu 1 menit
Cuci dengan air
Keringkan di udara
Lihat di mikroskop
- Hasil yang diharapkan pada pengecatan Malachite-green: basis kepala
sperma berwarna ungu, bagian hidung merah muda dan pada pengecatan
gram akan terlihat sperma yang terdiri atas kepala berwarna kemerahan,

leher dan ekor yang berwarna kebiruan. Dikatakan positif, apabila


-

ditemukan sperma paling sedikit satu sperma utuh.


Bahan pemeriksaan pakaian

Pemeriksaan pendahuluan: noda sperma pada pakaian terlihat


sebagai noda yang berwarna putih kelabu, kadang-kadang mengkilat
seperti perak dan pada perabaan kaku.
Pemeriksaan dengan sinar ultraviolet: noda sperma akan menunjukkan

adanya fluoresensi, yaitu warna putih kebiruan. Pemeriksaan ini tidak


spesifik, sebab nanah dan fluor albus juga memberikan warna

fluoresensi yang sama.


Metode: pakaian yang mengandung bercak diambil sedikit pada bagian

tengahnya (konsentrasi sperma terutama di bagian tengah)


Bahan pewarnaan Baeechi: acid fuchsin 1% (1ml), Methylen blue 1%

o
o
o
o

(1ml), HCl 1% (40ml).


Cara kerja:
Ambil pakaian pada bagian tengahnya (ukuran 2x2 cm)
Warnai dengan Baeechi selama 2-3 menit
Cuci dengan HCl 1% selama 5 detik.
Dehidrasi dengan alkohol 70%, 85% dan absolut, bersihkan dengan

xilol dan keringkan, letakkan pada kertas saring.


o Ambil dengan jarum, pakaian yang mengandung bercak diambil
benangnya 1-2 helai, kemudian diuraikan sampai menjadi serabutserabut pada gelas objek.
o Teteskan Canada balsem, tutup dengan penutup, lihat dibawah
mikroskop dengan pembesaran 500 kali.
o Hasil: kepala sperma merah, ekor biru mudah, kepala sperma
menempel pada serabut benang.

c. Pemeriksaan adanya air mani (semen)


Kadang kesulitan dalam mencari spermatozoa, misalnya bila pelakunya
menderita azoospermia, telak koitus berulang-ulang. Dalam keadaan seperti ini
perlu dipakai cara pemeriksaan yang lain yaitu berdasarkan atas pemeriksaan
yang lain berdasarkan atas komposisi cairan semen, berupa asam fosfatase
yang berasal dari fosfat dan kristal kaolin yang berasal dari vesica seminalis.

Penentuan asam fosfatase

Bahan pemeriksaan : Cairan Vagina


Metode : Cairan vagina ditaruh pada kertas saring (Whatman) yang sudah
dibasahi dengan aquadest, diamkan sampai kering, semprot dengan
reagensia, perhatikan warna un gu yang timbul dan catat dalam beberapa

detik warna ungu muncul


Hasil yang diharapkan : warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30
detik, berarti asam fosfatase berasal dari prostat dan termasuk dalam
indikasi besar , warna ungu timbul kurang dari 65 detik, indikasi sedang.
Warna ini timbul karena dalam reagensia mengandung alpha naphthyl

fosfat yang bereaksi dengan asam fosfatase.


Penentuan : Kristal kholin
Bahan pemeriksaan : cairan vagina
Metode Florence Test: Cairan vaginal ditetesi larutan yodium (larutan
Florence), maka terbentuk kristal. Kristal yang terbentuk dilihat di

mikroskop.
Hasil yang diharapkan : kristal-kristal kholin peryodida tampak berbentuk
jarum-jarum yang berwarna coklat.

d. Penentuan kristal spermin


Bahan pemeriksaan : pakaian
Metode :
o Inhibisi asam fosfatase dengan L(+) asam tartrat.
- Pakaian yang diduga mengandung bercak mani dipotong kecil dan
-

diekstraksi dengan beberapa tetes aquades.


Pada dua helai kertas saring diteteskan masing-masing satu tetes
ekstrak; kertas saring pertama disemprot dengan reagens 1, yang

kedua disemprot dengan reagensia 2,


Bila pada kertas saring pertama timbul warna ungu dalam waktu
menit sedangkan pada waktu kedua tidak terjadi warna ungu, maka
dapat disimpulkan bahwa bercak pada pakaian yang diperiksa

adalah bercak air mani.


Bila dalam jangka waktu tersebut warna ungu timbul pada
keduanya, maka bercak pada pakaian bukan air mani, asam
fosfatase yang terdapat berasal dari sumber lain.

o Reaksi dengan asam fosfatase


- Kertas saring yang sudah dibasahi dengan aquades diletakkan pada
pakaian atau bahan yang akan diperiksa selama 5-10 menit,
-

kemudian kertas saring diangkat dan dikeringkan.


Semprot dengan reagensia, jika timbul warna ungu berarti pakaian

atau bahan tersebut mengendung air mani.


Bila kertas saring tersebut diletakkan pada pakaian atau bahan
seperti semula, maka dapat dketahui letak air mani atau bahan yang

diperiksa.
o Sinar ultraviolet, visual, taktil dan penciuman
- Pemeriksaan dengan UV: bahan yang akan diperiksa ditaruh dalam
ruang gelap, kemudian disinari dengan sinar ultra violet bila
-

terdapat air mani, terjadi fluoresensi.


Pemeriksaan secara visual, taktil dan penciuman tidak sulit untuk
dikerjakan.

e. Pemeriksaan penyakit kelamin


Dilakukan dengan pemeriksaan smear dari cairan vulva vagina, dan cervix
yang kemudian dicat dengan pewarnaan Gram. Maka dicari adanya kuman
Nasseria Gonorhea (G.O) dengan membuat sediaan kemudian dilakukan
pemeriksaan melalui dark field microscope kita cari adanya kuman Treponema
Pallidum.
Bahan pemeriksaan : secret urethra dan secret cervix uteri
Metode : pewarnaan Gram
Hasil yang diharapkan : Kuman N. Gonorrheae
f. Pemeriksaan kehamilan
Untuk mengetahui adanya kehamilan dilakukan dengan memeriksa adanya
HCG dalam urine. Setelah persetubuhan membutuhkan waktu yang lama agar
kadar HCG dapat memberi hasil reaksi yang positif.
Tujuannya adalah mengetahui apakah korban hamil sebelum/sesudah terjadi
perkosaan.

Bahan pemeriksaan : Urine


Metode :
- Hemagglutination inhibition test (Pregnoticon)

- Agglutination inhibition test (Grav-index).

Hasil yang diharapkan : Terjadi agglutinasi pada kehamilan.

g. Pemeriksaan bahan lain dari dari tubuh korban yang dpat dipakai sebagai
petunjuk
Pemeriksaan Toksikologi
Tujuan pemeriksaan toksikologi untuk mengetahui apakah korban sebelum
terjadi perkosaan telah diberi obat-obatan yang dapat menurunkan kesadaran.
Pada pemeriksaan ini diperlukan darah dan urine dari korban.
Bahan pemeriksaan : darah dan urine
Metode :
- TLC
- Mikrodiffusi, dsbnya.
Hasil yang diharapkan : adanya obat yang dapat menurunkan atau
menghilangkan kesadaran
Pemeriksaan substansi golongan darah dari cairan semen
Penentuan golongan darah A,B,O dari cairan semen dengan menggunakan
teknik absorbsi inhibisi atau absorbsi eliminasi. Untuk menentukan golongan
darah pemerkosa dari cairan semen yang ditemukan di vagina kadang-kadang
tidak sulit asal korban mempunyai golongan darah yang berbeda dengan
pemerkosa tersebut.
Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menyingkirkan seorang pria
tertentu atau menunjang bukti lain yang melibatkan seorang pria.
Bahan pemeriksaan : Cairan vaginal yang berisi air mani dan darah.
Metode :
o Serologi (ABO grouping test)
o Hasil yang diharapkan : golongan darah dari air mani berbeda dengan
golongan darah korban.
o Pemeriksaan ini hanya dapat dikerjakan bila tersangka pelaku kejahatan
termasuk golongan secretor.
Pemeriksaan Laboratorium Pelaku Perkosaan
- Pemeriksaan sel epitel vagina
Tujuan: menentukan adanya sel epitel vagina pada penis
Bahan pemeriksaan: cairan yang masih melekat di sekitar korona gland
Metode: dengan gelas objek ditempelkan mengelilingi korona glands,
kemudian gelas objek tersebut diletakkan di atas cairan lugol

Hasil yang diharapkan: epitel dinding vagina yang berbentuk hexagonal


tampak berwarna coklat atau coklat kekuningan.
- Pemeriksaan penyakit kelamin
Tujuan: menentukan adanya kuman N. Gonorrheae (GO)
Bahan pemeriksaan: sekret uretra
Metode: sediaan langsung menggunakan pewarnaan gram
Hasil yang diharapkan: ditemukan kuman N. Ginirrheae

2.3

Pembunuhan dan Motif Pembunuhan

2.4

Identifikasi Korban

2.5

Identifikasi Pelaku
ldentitas seseorang dapat diketahui dengan melakukan berbagai cara,

antara lain, dengan cara mempelajari, mengamati dan meneliti profil wajah
seseorang, pas foto, bentuk kepala, bentuk badan, gigi, sidik jari, atau suara.
ldentifikasi merupakan bagian dari suatu proses untuk mengetahui atau mengenal
sesorang berdasarkan organ tubuh atau barang miliknya sehingga seorang yang
identitasnya sebelumnya tidak jelas menjadi jelas. ldentifikasi melingkupi
beberapa hal antara lain: sidik jari, DNA, dan lain-lain.
1. Metode ldentifikasi Sidik Jari
a. Pengertian ldentifikasi Sidik Jari
ldentitas seseorang yang sering digunakan dan dapat dijamin kepastian
hukumnya adalah dengan mempelajari sidik jari, sidik jari seseorang disebut
sebagai daktiloskopi. Daktiloskopi adalah ilmu yang mempelajari sidik jari untuk
keperluan pengenalan kembali identitas orang dengan cara mengamati garis yang
terdapat pada guratan garis jari tangan dan telapak kaki. Penyelenggaraan
daktiloskopi adalah kegiatan mencari, menemukan, mengambil, merekam,
mempelajari, mengembangkan, merumuskan, mendokumentasikan, mencari
kembali dokumen dan membuat keterangan sidik jari seseorang. Data sidik jari
adalah rekaman jari tangan atau telapak kaki yang terdiri atas kumpulan alur
garis-garis halus dengan pola tertentu, baik yang sengaja diambil dengan tinta atau
dengan cara lain maupun bekas yang tertinggal pada permukaan benda karena

terpegang atau tersentuh oleh jari tangan atau telapak kaki. Keterangan sidik jari
adalah uraian yang menjelaskan tentang identifikasi data sidik jari seseorang yang
dibuat oleh pejabat daktiloskopi.
Daktiloskopi dilaksanakan atas dasar prinsip bahwa sidik jari tidak sama pada
setiap orang dan sidik jari tidak berubah seumur hidup, kecuali menderita luka
bakar. Fungsi daktiloskopi adalah untuk memberikan kepastian dan perlindungan
hukum terhadap identitas seseorang.
b. Metode ldentifikasi Sidik Jari
Penggunaan sidik jari untuk menangkap pelaku kejahatan pertama kali
diusulkan oleh Henry Faulds (seorang dokter dari Skotlandia), dalam suratnya
yang dimuat di majalah Nafure pada Oktober 1880.

Pengambilan sidik jari

bukanlah teknik modern, karena sesungguhnya bangsa Cina kuno sudah memakai
sidik jari sebagai alat identiflkasi. sementara itu, bangsa Babilonia mencetak sidik
jari pada tanah liat.
Menurut M. syamsa Ardisasmita pada artikelnya yang berjudul :
Pengembangan Model Matematika Untuk Analisis Sistem ldentifikasi Jari
Otomatis, menjelaskan bahwa sidik jari memiliki suatu orientasi dan struktur
periodik berupa kompolisi dari garis-garis gelap dan kulit yang naik (ndges) dan
garis-garis terang dari kulit langlurun (furrows) yang berliku-liku membentuk
pola yang berbeda-beda. Walaupun garis-garis alur tangan terbentuk berbedabeda, tetapi sifat-sifat khusus dari sidik jari yang disebut dengan minutiae adalah
unik untuk setiap individu. Ciri-ciri ini membentuk pola khusus yang terdiri dari
terminasi atau percabangan dari alur. Untuk memeriksa apakah dua sidik jari
berasal dari jari yang sama atau bukan, para ahli mendeteksi minutiae tersebut
menggunakan Sistem Identifikasi Sidik Jari Otomatis yang akan mengambil dan
membandingkan ciri-ciri tersebut untuk menentukan suatu kecocokan. Metode
klasik pengenalan sidik jari sekarang ini tidak terlampau sesuai untuk
implementasi langsung dalam bentuk algoritma komputer. Pembuatan suatu
model sidik jari diperlukan dalam pengembangan algoritma analisis baru. Dalam
makalah ini dikembangkan metode numerik baru untuk pengenalan sidik jari yang

berdasarkan pada penggambaran model matematik dari dermatoglyphics dan


pemuatan minutiae, digambarkan juga rancangan dan penerapan suatu sistem
identifikasi sidik jari otomatis yang beroperasi dalam dua tahap, yaitu ekstraksi
minutiae dan pencocokan minutiae (www.batan.go.id)
2. Pemeriksaan DNA
Pertama kali diperkenalkan oleh Jeffrey pada tahun 1985. Beliau
menemukan bahwa pita DNA dari setiap individu dapat dilacak secara simultan
pada banyak lokus sekaligus dengan pelacak DNA (DNA probe) yang
diciptakannya. Pola DNA ini dapat divisualisasikan berupa urutan pita-pita yang
berbaris membentuk susunan yang mirip dengan gambaran barcode pada barang
di supermarket. Uniknya ternyata pita-pita DNA ini bersifat spesifik individu,
sehingga tak ada orang yang memiliki pita yang sama persis dengan orang lain.
Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau karban
yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka menunjukkan bahwa
tersangkalah yang menjadi donor sperma. Adanya kemungkinan percampuran
antara sperma pelaku dan cairan vagina tidak menjadi masalah, karena pada
proses kedua jenis DNA ini dapat dipisahkan satu sama lain. Satu-satunya
kesalahan yang mungkin terjadi adalah kalau pelakunya memiliki saudara kembar
identik. Perkembangan lebih lanjut pada bidang forensik adalah ditemukannya
pelacak DNA yang hanya melacak satu lokus saja (single locus probe). Berbeda
dengan tehnik Jeffreys yang menghasilkan banyak pita, disini pita yang muncul
hanya dua. Penggunaan metode ini pada kasus perkosaan sangat menguntungkan
karena ia dapat digunakan untuk membuat perkiraan jumlah pelaku pada kasus
perkosaan dengan pelaku lebih dari satu.
Ditemukannya metode penggandaan DNA secara enzimatik (Polymerase
Chain Reaction atau PCR) membuka lebih banyak kemungkinan pemeriksaan
DNA. Dengan metode ini bahan sampel yang amat minim jumlahnya tidak lagi
menjadi masalah karena DNAnya dapat diperbanyak jutaan sampai milyaran kali
lipat di dalam mesin yang dinamakan mesin PCR atau thermocycler. Dengan
metode ini waktu pemeriksaan juga banyak dipersingkat, lebih sensitif serta lebih

spesifik pula. Pada metode ini analisis DNA dapat dilakukan dengan sistem
dotblot yang berbentuk bulatan berwarna biru, sistim elektroforesis yang
berbentuk pita DNA atau dengan pelacakan urutan basa dengan metode
sekuensing.
2.6

Visum et Repertum Korban Pembunuhan

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kejahatan Seksual pada Kasus Terkait
PrioSantosodapatdijeratolehpasal

284

ayat

(1)

karenakeduanyatelahterlibatdalamsuatukejahatanseksualjenissenggamadalamk
ategoriperselingkuhan. Syarat disebut selingkuh adalah baik wanita atau pria
tersebut sudah terikat dalam hubungan pernikahan, tetapi melakukan
senggama dengan orang lain yang bukan merupakan pasangan suami atau
istrinya.
Pada KUH Pidana pasal 284 ayat (1) menentukan bahwa perzinahan dihukum
dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan:
1) a. Seorang laki-laki yang telah kawin yang melakukan perzinahan, sedang
diketahuinya bahwa pasal 27 Burgerlijk Wetboek berlaku baginya;
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan perzinahan.
2) a. seorang laki-laki yang turut serta melakukan perbuatan tersebut, sedang
diketahuinya bahwa orang yang turut bersalah telah kawin;
b. Seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan
tersebut, sedang diketahuinya bahwa orang turut bersalah telah kawin dan
pasal 27 Burgerlijk Wetboek berlaku baginya.
Pasal
27BW/KUH
Perdataberbunyi:Padawaktu

yang

sama,

seoranglelakihanyabolehterikatperkawinandengansatu orang perempuansaja;


danseorangperempuanhanyadengansatu orang lelakisaja.
Untuk penjelasan disini, status dari Prio Santoso (25 tahun) sudah memiliki
seorang istri dan satu orang anak berusia satu tahun, dan satu orang anak lagi
yang masih didalam kandungan sang istri. Sedang Alfi Syahrin (26 tahun)
adalah seorang janda yang bercerai sejak tahun 2007 silam, dan memiliki
seorang anak berusia 10 tahun yang dirawat oleh ibu mertuanya.

Oleh karena itu, Prio Santoso dapat dijerat pasal 284 ayat (1) KUH Pidana,
karena telah melakukan perselingkuhan dengan hukuman maksimal sembilan
bulan.
Sedangkan

dari

sudut

pandang

prostitusi

online,

cybercrime

merupakansalahsatubentukataudimensikejahatanmasakini

yang

merupakansalahsatusisigelapdarikemajuanteknologi.

Salah

satubentukkejahatan di bidang cybercrime yaitutindakpidanaprostitusi online.


Dalamketentuanhukumpositif yang ada di Indonesia hanyamelarangmereka
yang

membantudanmenyediakanpelayanansekssecara

artinyalaranganhanyadiberikanuntukmucikariataugermo,

illegal,
para

calo,

danpelacursedangkanpenggunajasasekskomersialsendirisamasekalitidakadapas
al

yang

mengaturnya.

2014pengaturanhukumpositif

SebuahpenelitianolehCandradkk,
di

Indonesia

terhadappenggunajasabelumberlakuefektifdalammenjeratdanmenanggulangipr
ostitusi

online,

karenasamasekalitidakmengaturmengenaipenggunajasadalamtindakpidanapros
titusi

online.

berdasarkanNomor

Tinjauanyuridisterhadappenggunajasaprostitusi
11

Tahun

online
2008

tentangInformasidanTransaksiElektronikdanUndang-undangNomor 44 Tahun
2008
tentangPornografitidakmenyebutkanketentuanmengenaipenggunajasaprostitusi
online

secarakhusus,

sehinggakeduaundang-

undanginipuntidakdapatmenjeratpenggunajasadalampraktekprostitusi online.
3.2 Pembuktian Persetubuhan pada Kasus Terkait
Persetubuhan merupakan peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam
vagina. Penetrasi tersebut dapat lengkap atau tak lengkap dengan atau tanpa
disertai ejakulasi.
Tanda-tanda langsung :
- Robeknya selaput dara akibat penetrasi penis
- Lecet atau memar akibat gesekan-gesekan penis
- Adanya sperma akibat ejakulasi
Tanda-tanda tidak langsung :
- Terjadinya kehamilan
- Terjadinya penularan penyakit kelamin

Pada kasus persetubuhan Alfi Syahrin (26 tahun) dengan Prio Santoso (25
tahun) ditemukan barang bukti berupa air mani yang terdapat pada organ
kemaluan korban dan terdapat dikondom yang ditemukan di tempat kejadian
perkara (TKP), rambut pubis yang tercecer dikasur, dan sidik jari pelaku pada
tubuh korban dan kamar korban.
3.3 Pembunuhan dan Motif Pembunuhan pada Kasus Terkait
3.4 Identifikasi Korban pada Kasus Terkait
3.5 Identifikasi Pelaku pada Kasus Terkait
Pada kasus pembunuhan Alfi Syahrin (26 tahun) dengan Prio Santoso (25
tahun) ditemukan barang bukti penting berupa air mani yang terdapat pada organ
kemaluan korban dan terdapat di kondom yang ditemukan di tempat kejadian
perkara (TKP), rambut pubis yang tercecer dikasur, sidik jari pelaku pada tubuh
korban dan kamar korban, buku catatan korban yang berisi tentang pelangganpelanggan korban, kaos kaki yang dipakai untuk menyumpal mulut korban, serta
catok rambut korban yang digunakan untuk mencekik leher korban.
Dari semua barang bukti tersebut, dapat ditemukan identitas pelaku
kejahatan seksual dan pembunuhan Alfi Syahrin. Salah satu barang bukti adalah
sidik jari, "Tiada suatu kejahatan tanpa meninggalkan bekas", istilah itulah yang
menjadi salah satu pedoman atau dasar penyidik dalam melakukan penyidikan.
Sidik jari ini dapat ditemukan di berbagai barang bukti yang terdapat di TKP,
diantaranya di catok rambut korban, kaos kaki yang digunakan untuk menyumpal
mulut korban, dan di tubuh korban. Proses identifikasi sidik jari hanya dilakukan
oleh aparat penegak hukum, khususnya penyidik Kepolisian unit Reserse
Kriminal (Reskrim) bagian ldentifikasi. Pada proses ldentifikasi sidik jari dalam
tindak pidana pembunuhan dilakukan oleh penyidik bagian ldentifikasi apabila
korban dan pelaku belum diketahui atau masih kabur identitasnya maupun sudah
diketahui identitasnya. Jadi, semua kasus (khususnya tindak pidana pembunuhan)
lebih menekankan untuk dilakukannya proses identifikasi sidik jari.
Apabila korban atau pelaku yang sudah diketahui identitasnya, sidik
jarinya diambil sebagai berkas atau kelengkapan data yang nantinya akan
dimasukkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan sebagai arsip di
Kepolisian. Sedangkan dalam hal korban atau pelaku yang belum diketahui

identitasnya, identifikasi sidik jari dilakukan untuk mencari tahu identitas korban
atau pelaku dengan beberapa bahan perbandingan disertai alat bukti lainnya.
Bahan perbandingan yang dimaksud adalah sidik jari laten yang ditemukan di
TKP dengan sidik jari dari orang yang dicurigai berdasarkan keterangan saksi atau
dengan arsip di Kepolisian. Alat bukti yang biasanya menjadi dasar pengambilan
sidik jari orang yang dicurigai sebagai pelaku yaitu alat bukti keterangan saksi.
Jadi para penyidik harus pro-aktif untuk mengambil keterangan saksi sebanyakbanyaknya.
Selain itu, penyidik bagian identifikasi sidik jari juga harus mengambil
sidik jari orang yang berada di dalam rumah itu atau di TKP (keluarga korban)
agar tidak terjadi kesalahan dalam pengidentifikasian pelaku yang belum
diketahui identitasnya. Penyidik wajib mengungkap bukti segitiga di TKP yaitu
korban, pelaku dan alat kejahatan untuk mengungkap kasus kejahatan yang
terjadi. Jadi adanya keterkaitan satu sama lain hingga terjadinya suatu peristiwa
tindak pidana di TKP, seperti gambar berikut :

Pengungkapan suatu kejahatan oleh pihak kepolisian diawali dengan kasus


penyelidikan, sama halnya dalam kasus tindak pidana pembunuhan (yang penulis
jadikan sampel dalam penelitian ini), pihak kepolisian bagian SPK (Sentra
Pelayanan Kepolisian) melakukan Tindakan Pertama di TKP (Tempat Kejadian
Perkara) di antaranya mengamankan TKP dengan memasang police line (garis
polisi) di sekitar TKP demi kelancaran proses penyidikan. Pihak penyidik
kepolisian yang tiba di TKP akan menerima laporan dari pihak yang melakukan
Tindakan Pertama di TKP sebagai tanda pelimpahan kasus ke tahap penyidikan
untuk melakukan Olah TKP. Penyidik yang akan masuk ke TKP sebelumnya

mendapat arahan dari ketua tim olah TKP di antaranya jalur yang akan dilalui tim
penyidik (alur silang) di TKP, perlengkapan, dan banyaknya personil.
Apabila pada saat itu pelaku tidak tertangkap tangan atau identitas pelaku
masih kabur dan tim penyidik menemukan adanya bekas sidik jari yang
ditinggalkan pelaku di TKP, maka penyidik bekerja sama dengan tim identifikasi
sidik jari untuk mengungkap pelaku berdasarkan sidik jari laten di TKP. Penyidik
mengambil informasi sebanyak-banyaknya dari para saksi di sekitar TKP. Mereka
yang dicurigai oleh penyidik diambil sidik jarinya untuk dicocokkan dengan sidik
jari laten di TKP. Mereka yang dicurigai tidak dapat menolak untuk diambil sidik
jarinya berdasarkan wewenang penyidik (Pasal 7 KUHAP).
Jadi, identifikasi sidik jari pelaku tidak dapat diungkap apabila tidak ada
bahan pembanding yaitu sidik jari orang-orang yang dicurigai berdasarkan
keterangan saksi ataupun berdasarkan data di Kepolisian. Pihak identifikasi pada
khususnya mencari atau mengungkap pelaku berdasarkan pembuktian ilmiah
bukan dengan pengakuan ilmiah. Penyidik wajib mengungkap bukti segitiga di
TKP, yaitu korban, pelaku dan alat kejahatan untuk mengungkap kasus kejahatan
yang terjadi. Kelengkapan untuk melakukan identifikasi sidik jari di Tempat
Kejadian Perkara (TKP) adalah :
1. Serbuk biasa;
2. Serbuk magnet;
3. Kuas sidik jari;
4. Tinta sidik jari;
5. Blanko AK 23;
6. Lifter;
7. Kaos tangan.
Tindakan yang diambil penyidik dalam melakukan identifikasi sidik jari yaitu:
1. Mencari dan angkat sidik jari laten di TKP;
2. Mengambil sidik jari mayat di TKP;
3. Mengambil sidik jari keluarga korban atau yang ada hubungan /
kepentingan dengan korban di TKP;
4. Mengambil sidik jari orang-orang yang dicurigai berdasarkan keterangan
saksi.

Dalam kasus pembunuhan, fungsi identifikasi sidik jari sangat penting


untuk mengungkap pelaku tindak pidana. Penyidik yang telah melakukan olah
TKP menemukan sidik jari di TKP (kamar kos korban).
Pembuktian dengan menggunakan identifikasi sidik jari biasanya disertai
keterangan saksi sebagai bahan perbandingan dengan sidik jari laten di TKP.
Namun, apabila tidak ditemukan saksi yang dapat memberikan keterangan
mengenai suatu kasus untuk menemukan pelaku maka penyidik identifikasi
mencari bahan perbandingan di arsip Kepolisian mengenai data penduduk
Indonesia yang sidik jarinya ada dalam data / arsip Kepolisian. Pembuktian
dengan menggunakan identifikasi sidik jari merupakan pembuktian ilmiah yang
sangat akurat. Pada umumnya pembuktian dengan menggunakan identifikasi sidik
jari sebagai alat bukti pembantu alat bukti lainnya. Namun alat bukti keterangan
ahli (dokter yang mengidentifikasi sidik jari) merupakan alat bukti yang sangat
akurat jika dilihat dari segi ilmiah.
ldentifikasi sidik jari terhadap korban tindak pidana pembunuhan
umumnya sebagai sarana untuk mengenal atau mengetahui, mendata dan
memproses korban untuk dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya. Dalam hal
korban tindak pidana pembunuhan yang tidak diketahui identitasnya (korban yang
diketemukan) proses identifikasi sidik jari dilakukan demi mengenal identitas
korban untuk dilaporkan kepada keluarganya dan untuk dilakukan visum / otopsi
terhadap korban agar dapat dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya. Dalam hal
korban yang sudah diketahui identitasnya pengambilan sidik jari korban berfungsi
untuk kelengkapan berita acara dan sebagai sarana pembantu untuk memperjelas
identitas korban.
ldentitas korban dan pelaku dalam suatu kasus tindak pidana sangatlah
penting. Dalam kasus tindak pidana pembunuhan identitas korban dan pelaku
adalah hal mutlak yang lebih dahulu diungkap oleh penyidik. Suatu kasus tindak
pidana pembunuhan tidak dapat diproses atau di peradilankan apabila korban dan
pelaku tidak diketahui identitasnya, walaupun sudah jelas ada korban tindak
pidana pembunuhan. Oleh karena itu, maka identitas korban adalah hal mutlak
yang harus diungkap terlebih dahulu oleh penyidik. Namun, dengan tidak

mengesampingkan identitas pelaku juga, sebab suatu tindak pidana pembunuhan


tanpa identitas pelaku bukanlah suatu tindak pidana yang dapat di peradilankan.
Demi keadilan (pro justitia) identifikasi korban dan pelaku tindak pidana
pembunuhan harus dapat dibuktikan secara ilmiah bukan hanya dengan
pengakuan atau keterangan saksi.
Setiap perkara tindak pidana pembunuhan yang di peradilankan selalu
menyertakan identitas pelaku dan korban yang jelas. Akibat hukum apabila
terdapat kesalahan identitas (eror in persona) terdakwa terhadap suatu perkara
dalam proses peradilan adalah batal demi hukum (Pasal 143 ayat 3 KUHAP)
sehingga terdakwa bebas dari dakwaan yang didakwakan kepadanya, sedangkan
jika terjadi kesalahan identitas pada korban maka terdakwa bebas dari dakwaan
yang didakwakan kepadanya tetapi tidak berarti tersangka lepas dari proses
hukum karena tersangka harus menunggu proses penyidikan ulang terhadap
identitas korban sebenarnya sampai batas waktu ditentukan oleh jaksa untuk
dilanjutkan ke proses peradilan.
Oleh sebab itu, pentingnya identifikasi terhadap korban dan pelaku agar
tidak terjadi kesalahan ldentitas pelaku atau korban tidak dapat dibuktikan hanya
dengan pengakuan atau keterangan saksi saja tetapi juga dengan pembuktian
secara ilmiah, salah satunya adalah identifikasi sidik jari sebagai sarana
identifikasi yang lebih mudah, ekonomis dan akurat. Alat bukti keterangan ahli
menjadi petunjuk bagi hakim dalam memutus suatu perkara.
Barang bukti sidik jari dilihat dari segi ilmiah merupakan barang bukti
yang sangat akurat, oleh karena tidak ada seorangpun di dunia ini yang
mempunyai sidik jari yang sama. Salah satu hak terdakwa di peradilan adalah
menyangkal perbuatan yang didakwakan kepadanya. Namun jika dapat dibuktikan
secara ilmiah baik oleh ahli forensik; ahli identifikasi sidik jari Kepolisian atau
ahli lain di bidangnya akan tindak pidana yang dilakukannya, terdakwa tidak
dapat menyangkal lagi akan tindak pidana yang dilakukanya (di dakwakan
terhadapnya). Semakin banyak barang bukti atau keterangan yang ditemukan
dalam proses penyidikan atau peradilan berarti semakin mudah mengungkap
tindak pidana tersebut.

Dalam pelaksanaannya identifikasi sidik jari juga menemukan banyak


kendala atau hambatan sebagai sarana identifikasi baik terhadap korban maupun
pelaku. Hambatan-hambatan tersebut terbagi atas dua yaitu :
1. Hambatan di TKP;
2. Hambatan di luar TKP
Hambatan di TKP merupakan kendala atau masalah yang terjadi selama
proses pengidentifikasian berada di TKP khususnya dalam mencari sidik jari laten
sedangkan hambatan di luar TKP merupakan hambatan yang terjadi selama proses
pengidentifikasian baik di dalam laboratorium forensik maupun di tempat lain
selain di TKP.
Hambatan-hambatan yang dihadapi pihak identifikasi sidik jari selama di
TKP antara lain :
a. Iklim/Cuaca
Salah satu hambatan pengambilan identifikasi sidik jari di TKP yaitu
iklim/cuaca. Hal ini disebabkan iklim/cuaca yang mengakibatkan hilangnya atau
kaburnya sidik jari laten di TKP, contohnya : seseorang menghilangkan nyawa
orang lain dengan cara menusuk benda tajam ke tubuh korban di sekitar halaman
rumah korban (outdoor). Polisi (petugas identifikasi) berupaya mencari sidik jari
tersangka di TKP namun akibat hujan deras sehingga sidik jari pelaku berupa
jejak kaki menjadi kabur sehingga menyulitkan petugas identifikasi untuk
melakukan identifikasi terhadap sidik jari berupa jejak kaki di TKP.
b. Hewan/Binatang
Hambatan juga bisa datang dari hewan/binatang. Hambatan dari
hewan/binatang ini berupa binatang buas dan hewan mikroorganisme (bakteri)
yang merusak TKP dengan cara mecabik-cabik; menggerogoti. tubuh korban yang
sudah tidak bernyawa sehingga petugas identifikasi sulit untuk mengidentifikasi
korban yang tanpa identitas. Selain korban yang sulit diidentifikasi akibat
binatang buas atau mikroorganisme, binatang buas juga dapat merusak TKP
dengan cara memindahkan korban atau mengaburkan jejak pelaku sehingga
menyulitkan penyidik untuk mengadakan orah TKP dalam rangka mengungkap
identitas korban maupun pelaku tindak pidana pembunuhan.
c. Masyarakat
Masyarakat yang berada di sekitar TKP juga menjadi hambatan bagi
petugas identifikasi. Hal ini disebabkan antusias/rasa ingin tahu masyarakat

terhadap tindak pidana yang terjadi di TKP sehingga secara tidak sengaja
masyarakat sudah merusak TKP, akibatnya petugas identifikasi sulit melakukan
identifikasi di TKP, contohnya : seseorang dihilangkan nyawanya di sebuah rumah
oleh pelaku yang tidak dikenal identitasnya. sewaktu mengetahui kejadian itu,
warga yang berada di sekitar TKP berupaya untuk mengetahui atau melihat
kondisi korban di TKP sehingga terdapat sidik jari (jejak kaki) masyarakat di TKP.
Hal ini dapat berakibat petugas bisa salah mengidentifikasi pelaku nantinya.
d. Petugas Identifikasi
Petugas identifikasi juga dapat menjadi kendala akibat salah
mengidentifikasi (eror in persona) di TKP. Keprofesionalan seorang petugas
identifikasi dalam menjalankan tanggung jawabnya sangat penting agar tidak
terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi yang dapat mengakibatkan terjadi
kesalahan dalam penagkapan bahkan penjatuhan hukuman.
e. Tersangka
Kendala dalam melakukan identifikasi di TKP juga berasal dari tersangka.
Tersangka yang profesional dalam melakukan tindak pidana juga menjadi
hambatan petugas identifikasi dalam mengidentifikasi koban atau pelaku di TKP.
Tersangka dapat mengaburkan tindak pidana yang dilakukannya baik berupa
memutilasi korban, merusak atau mengaburkan barang bukti, memindahkan
korban ke tempat yang jauh dari jangkauan masyarakat, sehingga pada saat
diketemukan korban sudah dalam keadaan membusuk atau tulang belulang
sehingga sulit untuk diidentifikasi oleh petugas.
Sedangkan hambatan-hambatan yang umumnya dari luar TKP yaitu
kesalahan petugas identifikasi (error in persona) selama membandingkan sidk jari
laten dengan sidik jari saksi atau orang lain yang dicurigai sebagai pelaku tindak
pidana. Dalam melakukan perbandingan biasanya petugas melakukannya di ruang
kantor atau ruang laboratorium forensik Kepolisian wilayah/daerah setempat.
Perbandingan yang dilakukan di laboratorium forensik biasanya
disebabkan sewaktu mengambil sidik jari laten di TKP menggunakan bahan
kimia, oleh karena itu harus dibandingkan di laboratorium untuk menjaga
kesterilan tempat dan kelangkapan alat dalam melakukan identifikasi sidik jari.
Selain itu, hambatan juga dalam pendataan sidik jari seluruh warga Indonesia,
minimal warga di setiap daerah belum terdata di setiap kepolisian wilayah atau

kepolisian daerah. Minimnya data di setiap kepolisian wilayah/daerah setempat


dalam hal identitas sidik jari warga setempat juga menjadi kendala pihak
identifikasi dalam mencari data sebagai bahan perbandingan dengan sidik jari
laten di TKP apabila tidak terdapat bahan perbandingan di sekitar TKP untuk
mengungkap pelaku atau korban tindak pidana pembunuhan khususnya yang
belum teridentifikasi.
Barang bukti lain yang ditemukan adalah air mani yang terdapat pada
organ kemaluan

korban dan terdapat di kondom yang ditemukan di tempat

kejadian perkara (TKP), dan rambut pubis yang tercecer dikasur, barang bukti
tersebut juga dapat digunakan untuk pembuktian adanya persetubuhan. Dalam
memastikan siapa pelaku kejahatan tersebut, dilakukan pemeriksaan DNA
terhadap barang bukti tersebut, yang kemudian dicocokkan dengan tersangka.
Selain itu, dari barang bukti lain yang ditemukan, yang cukup mendukung
ditemukannya identitas pelaku adalah buku catatan korban mengenai pelangganpelanggan korban, dan dari situ didapatkan bahwa, bila sesuai jadwal, maka orang
terakhir yang dilayani oleh korban adalah sang tersangka. Maka sangat mudah
bagi polisi untuk menemukan tersangka dan tersangka pun menyerahkan diri serta
mengakui kesalahannya.

BAB III
PENUTUP
Kejahatan seksual merupaan suatu bentuk kejahatan yg meliputi
tubuh, kesehatan, nyawa manusia yg berhubungan dg persetubuhan.
Dimana kejahatan seksual terdiri dari kejahatan dalam perkawinan dan
diluar perkawinan. Dalam kasus ini termasuk ke dalam kejahatan seksual
diluar perkawinan, pasal yang bisa mengenai pelaku yaitu persetubuhan
disetujui, sehingga pasal yang bisa dikenakan pada adalah pasal

284

KUHP. Bukti adanya persetubuhan yaitu adanya sperma, rambut pubis,


dan kondom. Kasus ini termasuk dalam pembunuhan disengaja yang
sesuai dengan pasal 338 KUHP, cara kematian korban merupakan
kematian tidak wajar, kausa kematian akibat trauma olehpembekapan, dan
mekanisme kematian yang terjadi akibat asfiksia oleh karena pembekapan
(smothering). Identitas pelaku dapat dilacak melalui identifikasi primer
yaitu sidik jari dan pemeriksaan DNA. Sedangkan identitas korban dapat

diketahui melalui identifikasi primer yaitu sidik jari dan identifikasi


sekunder yaitu properti yang ditemukan di TKP serta melalui metode
visual.