Anda di halaman 1dari 5

http://johanjojo57.blogspot.com/2014/08/fenomena-dasarii.

html
https://www.scribd.com/doc/99632208/Diktat-Fdm-2008Ftmd
BAB I
BUCKLING
PENDAHULUAN
1.1.

1.
2.

Latar Belakang
Dalam prakteknya, buckling (tekuk) ditandai oleh kegagalan tiba-tiba
anggota struktural mengalami tegangan tekan yang tinggi, di mana
tegangan tekan aktual pada titik kegagalan kurang dari tekan utama
menekankan bahwa materi mampu menahan. Analisis matematis dari
buckling (tekuk) sering memanfaatkan eksentrisitas beban aksial yang
memperkenalkan momen lentur sekunder, yang bukan merupakan bagian
dari gaya yang diterapkan primer yang anggota tersebut dikenakan. Sebagai
beban yang diterapkan meningkat pada anggota, seperti kolom, akhirnya
akan menjadi cukup besar untuk menyebabkan anggota untuk menjadi tidak
stabil dan dikatakan telah lemas.
Beban lebih lanjut akan menyebabkan deformasi yang signifikan dan
agak tak terduga, mungkin mengarah untuk menyelesaikan hilangnya
kapasitas membawa beban anggota. Jika deformasi yang mengikuti
backling (tekuk) tidak bencana anggota akan terus membawa beban yang
menyebabkannya melengkung. Jika anggota melengkung adalah bagian dari
kumpulan besar komponen seperti bangunan, beban apapun diterapkan
pada struktur di luar itu yang menyebabkan anggota melengkung akan
didistribusikan dalam struktur.
Sebagian besar struktur yang memiliki dimensi kecil atau tipis dan
mengalami tegangan tekan akan mengalami masalah instabiltas buckling
(tekuk). Buckling merupakan suatu proses dimana suatu struktur tidak
mampu mempertahankan bentuk aslinya, sedemikian rupa berubah bentuk
dalam rangka menemukan keseimbangan baru. Konsekuensi buckling pada
dasarnya adalah masalah geometrik dasar, dimana terjadi lendutan besar
sehingga akan mengubah bentuk struktur. Fenomena tekuk atau buckling
dapat terjadi pada sebuah kolom, lateral buckling balok, pelat dan cangkang
(shell).
Pada praktikum kali ini kita akan mencoba mengetahui gaya kritis dari
beberapa bahan yang akan kita uji melalui uji buckling. Pengujian ini dibagi
atas 3 tahap, yaitu:
Pengujian engsel-engsel
Pengujian engsel-jepit

3.
1.2.

Pengujian jepit-jepit
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui kekuatan tekuk dari masing-masing material yang berbeda.
2. Memahami cara menghitung dan menentukan gaya kritis setiap bahan yang
diuji.
3. Mengetahui fenomena-fenomena dasar material dalam buckling.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Teori Dasar
Suatu batang (benda uji) yang dibebani oleh sebuah gaya tertentu sulit
sekalimenjaga agar resultan gaya tepat berada pada sumbu batang. Selain
bahayanya tidak homogen disepanjang batang juga kemungkinan
pembagian muatan yang terbagi rata sangat kecil. Oleh karena itu pada
batang selain timbul tegangan tekanan juga terjadi lengkungan. Pada batang
yang lebih panjang kemungkinan terjadinya tekukan semakin besar, dengan
kata lain apabila perbandingan antara panjang dan luas penampang batang
semakin
besar,
kemudian
tekukannya
semakin
besar.
Pengujian buckling (tekuk) dilakukan dengan melakukan pembebanan
terhadap suatu benda oleh sebuah gaya terhadap suatu benda oleh suatu
gaya pada kondisi benda vertikal dimana pada ujung (atas - bawah) ditumpu
oleh sebuah mekanisme tumpuan.

2.1.1. Tekuk Lokal


Tekuk lokal terjadi diakibatkan oleh adanya rasio kelangsingan yang
relatif sangat besar antara tinggi pelat badan terhadap tebalnya . Tekuk lokal
meninjau kondisi kelangsingan bagian penampang. Akibat adanya gaya yang
terjadi pada penampang maka akan bekerja momen lentur, sebagian
penampang akan mengalami tarik dan sebagian lagi mengalami tekan. Tekuk
lokal meninjau kelangsingan bagian penampang yang mengalami tekan.
Kelangsingan bagian penampang didefinisikan sebagai perbandingan lebartebal pelat bagian penampang.
2.1.2. Tekuk Lateral
Ketika sebuah balok yang menerima beban pada kekakuan lentur
terbesarnya, balok tersebut akan membengkok dan memutar pada saat
beban yang diberikan mencapai nilai kritisnya. Tetapi hal itu biasa tidak
terjadi jika pada balok tersebut diberikan lateral support ( sokongan). Untuk
balok dalam keadaan geometris yang sempurna, beban kritis ini sesuai
dengan
titik bifurkasi kesetimbangan
ketika
penampang
mengalami
deformasi, penampang menjadi tidak stabil. Deformasi tersebut
mengakibatkan adanya pembengkokan dan putaran yang kemudian
menjadikan penampang tersebut dalam keadaan stabil kembali. Kasus ini
sama seperti pada kasus kolom dimana untuk mencari beban kritis
penampang balok tersebut, pertama sekali harus ditentukan persamaan
kesetimbangan penampang balok dalam keadaan terdeformasi. Beban tekuk
kritis atau beban lateral merupakan nilai yang diperoleh sebagai nilai eigen
terendah yang memenuhi nilai karakteristik persamaan diferensial dari
persamaan tersebut.

Tekuk lateral adalah deformasi yang terjadi pada arah lateral/samping


(keluar bidang pembebanan) yang terjadi pada elemen yang dibebani
momen lentur. Panjang elemen balok tanpa kekangan secara lateral dapat
mengalami tekuk torsi lateral akibat beban lentur yang terjadi. Dapat
ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.1 Balok tanpa kekangan lateral mengalami tekuk torsi lateral
akibat beban lentur
2.1.3. Perilaku Balok Tanpa Kekangan Lateral
Pada balok yang memikul beban transversal selain melentur terhadap
sumbu kuatnya, juga dapat melentur kearah sumbu lemahnya. Sebagaimana
kita ketahui bahwa bagian sayap tekan balok dihubungkan dengan bagian
sayap tarik melalui badan balok sehingga dapat mencegah terjadinya
ketidakstabilan sayap tekan terhadap tekuk. Komponen tekan dari suatu
balok disokong seluruhnya oleh komponen tarik yangstabil. Jadi, tekuk global
dari komponen tekan tidak terjadi sebelum kapasitas momen batas
penampang belum tercapai. Namun apabila sayap tekan cukup besar, bagian
sayap tekan dapat tertekuk kearah lateral yang dikenal sebagai lateral
torsional buckling.Untuk mencegah terjadinya lateral torsional buckling ini,
balok dapat diberi lateral support pada jarak tertentu, atau dengan memilih
balok yang mempunyai momen inersia terhadap sumbu lemah mendekati
sama besar dengan momen inersia sumbu kuatnya.
2.1.4. Kekuatan Balok Akibat Beban Momen Murni
Ada empat (5) kategori perilaku balok yang memikul momen lentur:
1. Kekuatan momen plastis Mp tercapai dengan kapasitas rotasi cukup besar.
Penampang seperti ini diijinkan dalam analisis dengan metoda plastis.

2. Kekuatan momen plastis tercapai dengan kapasitas rotasi kecil. Hal ini
disebabkan kekakuan sayap atau badan kurang untuk menahan tekul lokal
atau lateral support tidak memadai untuk menahan tekuk lateral ketika
sayap dalam keadaan kondisi inelastis. Penampang ini tidal diijinkan pada
analisis dengan metoda plastis.
3. Kekuatan momen tercapai, dimana diatas nilai tersebut tegangan sisa yang
ada akan menyebabkan mulainya perilaku inelastis balok. Adanya tekuk lokal
pada sayap atau badan atau tekuk lateral mencegah tercapainya kapasitas
momen plastis.
4. Kekuatan momen Mr tercapai, dimana diatas nilai tersebut tegangan sisa
yang ada akan menyebabkan mulainya perilaku inelastis balok. Adanya
tekuk lokal pada sayap atau badan atau tekuk lateral mencegah tercapainya
kapasitas momen plastis Mp.
5. Kekuatan penampang balok dibatasi oleh tekuk elastis baik akibat local
buckling pada sayap atau badan, atau lateral torsional buckling.