Anda di halaman 1dari 13

Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem


Ekonomi Islam
Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri
Stainta 2007

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (tatkala) tiada seorangpun
diantara mereka yang tidak akan memakan (harta) ribâ. Siapa saja yang (berusaha)
tidak memakannya, maka ia tetap terkena debu (ribâ)nya.” [HR. Ibnu Majah].

Pendahuluan
Dalam kehidupan sekarang, baik dalam taraf individu maupun taraf negara, kita
dihadapkan kondisi yang serba sulit untuk melepaskan diri dari ribâ. Baik itu ribâ
yang pelaksanaannya masih sederhana seperti halnya ribâ yang dilakukan oleh
masyarakat jahiliyah seperti ribâ nasiah, ribâ fadhl, ribâ qordh, ribâ yadd atau pun
jenis ribâ yang sudah berkembang seiring dengan perkembangan aktivitas
ekonomi manusia seperti seperti bunga tabungan bank, deposito, asuransi,
transaksi obligasi, penundaan dalam transaksi valas, bunga kartu kredit yang
melewati jatuh tempo pembayaran, dan lain-lain, walaupun nama dan ragamnya
berbeda-beda namun tetap saja tergolong ribâ yang di definisikan As-syar’î.
Berbagai ragam riba berkembang, yang kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak
di dalamnya, semuanya muncul akibat diterapkan sistem ekonomi kapitalis dan
akibat dari tidak diterapkannya syariat Islam yang menjamin dan menjaga
kehidupan kaum muslimin dan umat lainnya.
”Ribâ itu mempunyai 73 macam. Sedangkan dosa yang paling ringan (dari
berbagai jenis ribâ itu) adalah seperti seseorang yang menikahi (baca: menzinahi)
ibu kandungnya sendiri.” [HR. Ibnu Majah].

Ar-Ribâ
Kata ar-ribâ secara etimologis/bahasa (al-ma’nâ al-lughawi) bermakna
“pertambahan” atau “peningkatan”. Sementara secara tradisional/konvensional (al-
ma’nâ al-urf) kata ar-ribâ bermakna pertambahan yang ditetapkan sebagai
kompensasi penangguhan utang. Secara syar’î (al-ma’nâ as-syar’î) telah
memberikan definisi tersendiri bagi kata ar-ribâ, yakni pertambahan dalam

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (1 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

muamalah tertentu secara bathil yang tidak termasuk sebagai muamallah jual beli.
Maksud pertambahan pada muamallah tertentu secara bathil adalah pertambahan
pada transaksi pertukaran/jual beli secara barter atau pun transaksi pinjam
meminjam, baik yang disebabkan oleh kelebihan dalam pertukaran dua harta yang
[1]
sejenis tertentu di tempat pertukaran (majlis at-tabâdul), seperti yang terjadi
dalam ribâ al-fadhl, ataupun disebabkan oleh kelebihan tenggang waktu (al-ajal),
sebagaimana yang terjadi dalam ribâ an-nasî’ah aw at-ta’khîr. Dengan demikian,
keberadaan makna syar’î mengalihkan makna ar- ribâ dari makna bahasa maupun
makna konvensional semata sebagai pertambahan menjadi makna ribâ yang
semisal ribâ al-fadhl atau pun yang semisal ribâ an-nasî’ah aw at-ta’khîr. Definisi
syar’î ini mencakup segala jenis ribâ, baik ribâ seperti yang pernah ada dalam
jaman jahiliyah maupun ribâ di zaman sekarang.

Jenis-Jenis ar-Ribâ
Secara umum syar’î membagi ribâ menjadi dua jenis, yakni ribâ al-fadhl dan ribâ
an-nasî’ah. Pertama, Ribâ al-fadhl, yaitu ribâ yang berupa tambahan pada
transaksi pertukaran/jual beli dua harta yang sejenis tertentu di tempat pertukaran
(dilakukan secara kontan). Contohnya adalah pertukaran satu kilogram kurma
kualitas tinggi dengan dua kilogram kurma kualitas rendah meskipun dilakukan
secara kontan. Pertukaran ini dilarang oleh nash syar’î, sebab nash mensyaratkan
pertukaran sama timbangan dalam barter untuk barang-barang tertentu, meskipun
berbeda kualitas atau jenisnya.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ra., ia berkata:
Rasulullah mempekerjakan seorang laki-laki di Khaibar, kemudian datang kepada
Rasul dengan membawa kurma janib, lalu Rasul bertanya kepada kepadanya:
“Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?” Abu Hurairah menjawab: “Tidak,
Demi Allah Ya Rasulullah, kami memperoleh satu sha’ kurma ini dengan
menyerahkan dua sha’ kurma yang kami miliki atau dua sha’ dengan tiga sha’.”
Rasulullah Saw berkata: “Jangan kalian lakukan yang demikian, juallah kurma
dengan dirham, kemudian beli kurma dengan dirham tersebut.”
Ribâ al-fadhl pada harta sejenis hanya dibatasi pada enam jenis harta yaitu emas,
perak, gandum, sya’ir, kurma, dan garam. Batasan ini merujuk kepada dalil:

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (2 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

Dari ‘Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Nabi Saw bersabda:


“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan
sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, sama, seimbang, dan
kontan. Dan jika berbeda jenis barangnya, maka perjual belikanlah sesuai cara
yang kalian suka apabila dilakukan secara kontan.” [HR. Muslim].
Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitabnya al-Majmu’:
Selain emas, perak, yang dimakan dan yang diminum tidak diharamkan ribâ
(pertambahan), boleh menjualnya dengan berlebih dan bertempo dan boleh
berpisah sebelum serah terima —salah satu barang terlambat diserahkan
sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia mengatakan bahwa:
“Rasulullah menyuruhku untuk mempersiapkan pasukan tentara, lalu saya
membutuhkan seekor unta dewasa, kemudian belia menyuruhku untuk datang ke
[2]
tempat unta shadaqah maka saya mengambil dua ekor unta muda.”
Dan dari Jabir ra. bahwa Nabi Saw membeli seorang budak dengan dua orang
budak hitam [HR. Muslim].
Contoh lain ribâ al-fadhl yang sering terjadi saat ini adalah pertambahan pada
pertukaran mata uang sejenis dengan nilai yang berbeda, misal pertukaran
selembar uang sepuluh ribu rupiah ditukar dengan recehan seribu rupiah sebanyak
sembilan lembar (nilai sepuluh ribu diganti dengan sembilan ribu). Meskipun uang
kartal yang beredar sekarang tidak termasuk dalam batasan jenis harta ribâ al-
fadhl, uang kartal tersebut merupakan alat tukar pokok yang memiliki wewenang
[3]
tersendiri menggantikan posisi emas dan perak sebagai mata uang.
Kedua, ribâ an-nasî’ah, yaitu ribâ yang berupa tambahan yang disebutkan menjadi
imbalan penundaan pembayaran pada pinjam meminjam. Contohnya adalah
peminjaman satu kuintal gandum pada musim paceklik dibayar dengan tiga
kuintal gandum pada masa subur. Kelebihan dua kuintal tersebut semata-mata
sebagai ganti dari penundaan pembayaran, karena itu disebut sebagai ribâ an-
nasî’ah. Jadi ribâ an-nasî’ah adalah tambahan yang muncul dari pinjam meminjam
akibat pemberian tempo pembayaran.
Istilah ribâ qardh yang sering dipakai masyarakat dimaksudkan pengkhususan dari
ribâ an-nasî’ah, yakni pertambahan pinjam-meminjam untuk komoditas uang.
Ribâ dalam aktivitas ini lebih dikenal masyarakat sebagai bunga pinjaman atau
pun interest.
file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (3 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]
Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

Istilah ribâ jahiliyah[/] lebih dimaksudkan untuk aktifitas ribâ bunga-berbunga,


yang sebenarnya fakta [i]ribâ jahiliyah ini juga termasuk kategori ribâ an-nasî’ah.
Contohnya peminjaman uang sampai tempo tertentu, namun dengan imbalan
tambahan yang telah ditentukan. Apabila telah sampai jatuh tempo pembayaran
sementara penghutang tidak bisa melunasinya, maka pihak yang memberikan
pinjaman akan menambah bunga hutang sebagai imbalan tempo waktu yang
berikutnya dan begitu seterusnya berulang kali, sehingga hutang yang tadinya
sedikit menjadi berlipat-lipat.
Pertambahan pertukaran barang sejenis dilarang (ribâ al-fadhl) untuk enam jenis
harta yang ditetapkan oleh syar’î (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma, dan garam)
dan diperbolehkan untuk harta diluar batasan tersebut secara kontan. Sementara
pertukaran/barter antara barang yang tidak sejenis boleh dilakukan dengan jumlah
yang berbeda asal dilakukan secara kontan juga, contohnya lima gram emas
ditukar dengan sepuluh kilogram beras, 1 set pakaian dengan seperangkat
elektronik, 1 dinar emas dengan 12 dirham perak, uang Rp. 9000,00 dengan uang
1US $ yang semua akad pertukaran tersebut dilakukan secara kontan (barang
diserahkan pada saat terjadi akad pertukaran). Pertambahan kuantitas pada
pertukaran barang tidak sejenis yang dilakukan secara tidak kontan/bertempo
[4]
dikenal sebagai ribâ al-yadd. Penjelasan ribâ al-yadd adalah hadits yang
diriwayatkan dari Usamah bin Zaid:
“Ribâ itu tiada lain adalah penundaan waktu.”
Dan di riwayat lain:
“Tidak ada ribâ selama tunai.”
Dan digabungkan dengan penjelasan dari HR. Muslim dari Ubadah bin Shamit ra.,
pada bagian akhir hadits tersebut bahwa jika berbeda jenis barangnya boleh
diperjual belikan asalkan tunai.
Dari ‘Ubadah bin Shamit ra, ia berkata : Nabi Saw bersabda:
“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan
sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, sama, seimbang, dan
kontan. Dan jika berbeda jenis barangnya, maka perjual belikanlah sesuai cara
yang kalian suka apabila dilakukan secara kontan.”
Demikianlah istilah umum ribâ qardh, ribâ jahiliyah, dan ribâ al-yadd adalah jenis-
jenis pengembangan dari definisi ribâ al-fadhl dan ribâ an-nasî’ah yang dilarang

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (4 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

oleh Asy-syar’î.
Riba di zaman modern ini telah menjelma dalam berbagai bentuk terutama dari
golongan ribâ an-nasî’ah seperti transaksi valas tidak tunai, bunga kartu kredit
melebihi tempo pembayaran, transaksi leasing, bunga deposito, bunga tabungan,
asuransi, penundaan dalam transaksi valas, dan lain-lain. Beberapa orang
menyebutkan bahwa bunga yang diperoleh dari transaksi keuangan dan perbankan
bukanlah riba mengingat adanya inflasi/penurunan nilai mata uang yang
dipergunakan, yakni uang sekarang lebih berharga daripada uang pada masa yang
akan datang. Sebenarnya pendapat tersebut tidaklah tepat karena permasalahan
inflasi dimunculkan karena system uang yang dipakai adalah system uang kertas
inkonvertibel (tidak distandarkan kepada emas) dan penggunaan sistem mata uang
flat yang standar nilainya disesuaikan dengan mekanisme pasar atas mata uang
lain. Sementara, riba adalah pembahasan hukum tersendiri untuk objek
pertambahan harta dari transaksi yang bathil. Dalih tersebut sudah diisyaratkan
oleh Rasulullah
akan muncul sekelompok manusia yang menghalalkan ribâ dengan dalih “bisnis”.
Rasulullah bersabda:
“Akan datang suatu saat nanti kepada umat ini tatkala orang-orang menghalalkan
ribâ dengan dalih bisnis.” [HR. Ibnu Bathah dari Al-Auza’i].
Bencana Akibat Diterapkannya ar-Ribâ dalam Kehidupan Sehari-Hari
Menurut Syaikh an-Nabhani, orang yang melakukan riba, keuntungan yang dia
peroleh memiliki sifat mengeksploitasi tenaga orang lain sehingga tanpa bekerja
sedikitpun keuntungan tersebut dia peroleh. Selain itu, keuntungan tersebut
diperoleh secara pasti (tidak ada peluang mengalami kerugian perdagangan)
[5]
karena sudah menjadi aqad dalam transaksinya.
Riba dihidupkan oleh masyarakat dengan memberikan pinjaman kepada pihak
lainnya dengan mengenakan bunga. Biasanya para peminjam adalah orang-orang
kecil seperti para petani, pedagang kecil, nelayan, sedangkan para pemberi
pinjaman kebanyakan para juragan kaya. Ketika pasar riil mengalami
ketidakstabilan harga, para pemodal/juragan selalu aman mempertahankan
keuntungannya sementara para petani kecil selalu menanggung resiko kerugian.
Pada saat yang sama, riba pun keberadaannya dilegitimasi oleh negara. Bank
Indonesia sebagai bank sentral yang mengatur kebijakan moneter dan kebijakan

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (5 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

yang memperngaruhi sektor riil menjadikan riba/bunga yang dikenal sebagai suku
bunga Serifikat Bank Indonesia, suku bunga SBI, sebagai instrument pengatur
jumlah uang yang beredar di masyarakat, penjaga inflasi dan stabilitas kurs rupiah
di sektor moneter.
Kebijakan penentuan suku bunga SBI sangat berpengaruh terhadap kebijakan
ekonomi yang sedang dijalankan, contohnya ketika kurs rupiah melemah atas
dolar, maka pemerintah berusaha mendongkrak nilai mata uang rupiah dengan
cara menarik sejumlah rupiah yang beredar di pasaran dengan cara memberikan
iming-iming kenaikan suku bunga SBI dengan harapan masyarakat akan
memasukkan uang-uang mereka ke bank untuk mendapatkan keuntungan bunga
yang tinggi. Dunia usaha menjadi jadi lesu. Orang lebih suka menyimpan uang di
bank dengan bunga tinggi ketimbang menginvestasikannya di sektor usaha riil,
karena di sektor riil terdapat resiko rugi. Dengan demikian lapangan kerja
berkurang, gelombang PHK terjadi, dan semakin banyaklah angkatan kerja yang
tidak tertampung. Dalam keadaan ini yang paling terpukul adalah masyarakat
kelas bawah.
Kenaikan suku bunga pinjaman otomatis akan menaikkan suku bunga kredit,
sehingga para pengusaha yang mengambil kredit di bank —terutama dalam
jumlah besar, seperti pengusaha sektor properti— akan menjadi pihak yang
pertama kali terpukul dan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain yang gulung
tikar karena tak mampu membayar kredit hutang beserta bunganya ke bank,
sehingga terjadilah gelombang PHK. Lagi-lagi yang paling terpukul adalah
masyarakat kelas bawah.
Kalaupun ada bidang usaha yang masih mampu bertahan saat suku bunga kredit
tinggi, maka kenaikan pembayaran bunga kredit akan dikejar dengan cara
menaikkan harga jual produksinya. Terjadilah High Cost Economy harga barang-
barang menjadi mahal sementara pendapatan rakyat tidak bertambah. Lagi-lagi
yang paling menderita akibat inflasi ini adalah masyarakat kelas bawah. Sehingga
jelaslah bahwa kebijakan ekonomi ribawi yang diterapkan negara akan selalu
menguntungkan para pemodal/juragan, sementara masyarakat kelas bawah akan
terus dan semakin menderita.
Dalam perekonomian yang lesu akibat suku bunga tinggi, bank-bank ternyata
tidak menyalurkan dana yang disimpannya ke masyarakat, karena takut
mengalami kredit macet apalagi dengan tingkat suku bunga yang masih tinggi.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (6 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

Bank-bank tersebut justru menanamkan dananya pada aktivitas bunga yang tidak
berhubungan sama sekali dengan sektor produksi. Mereka lebih senang
mendepositokan ke bank lain, membungakan uang di pasar uang antar bank, jual
beli surat berharga seperti obligasi, commercial paper serta transaksi derivatif
lainnya, dan yang terbanyak dengan membungakannya pada SBI. Hal ini membuat
geram Memperindag Rini Suwandi dengan mengirimkan surat kepada BI karena
dana masyarakat yang dikelola bank 90 persen (meminjam istilah Hilmi) “menari-
[6]
nari” di Bank Indonesia.
Di tingkat negara riba pun mewabah, hal ini merupakan kewajaran karena ide
kapitalisme telah menjadi ide yang mengglobal di dunia, sehingga menjadikan
negara yang bermodal besar/juragan selalu diuntungkan sementara negara-negara
miskin —notabene negara dunia ketiga yang mayoritas adalah negri muslim—
akan selalu menderita akibat belitan bunga hutang.
Hampir seluruh negara di dunia melakukan utang-piutang baik terhadap negara
lainnya maupun dengan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia
(World Bank), IMF dan ADB dengan tingkat bunga tertentu dan syarat yang
memberatkan (zhalim). Contoh persyaratan dalam hutang adalah negara-negara itu
akan melakukan pembangunan infrastruktur yang dikerjakan oleh perusahaan
yang ditunjuk oleh pemberi pinjaman, sehingga sebagian besar dari hutang itu
akan kembali kepada pemberi pinjaman. Contoh lainnya adalah persyaratan yang
diberikan IMF kepada negeri-negeri penghutang, diharuskan negeri tersebut
menurunkan nilai mata uang, mengurangi subsidi, meningkatkan pajak,
menswastanisasi perusahaan negara, menarik investor asing, dan sebagainya.
Syarat tersebut dimaksudkan agar pihak yang memberi pinjaman dapat selalu
mengontrol perekonomian negara penerima pinjaman dan juga memperkuat
ketergantungan pihak penerima pinjaman terhadap pemberi pinjaman (menambah
kucuran dana hutang atau pun memperpanjang jatuh tempo pembayaran yang
berarti memperbesar bunga hutang).
Sistem pinjaman ribawi akan menggandakan bunga hutang berlipat-lipat dalam
jangka waktu tertentu melebihi pokok hutang, sebagai contohnya adalah Brazil, ia
mempunyai hutang pokok sebesar 39 milyar dolar AS, ditambah bunga yang
[7]
besarnya 120 milyar dolar AS.
Hingga akhirnya beban hutang menjadi tidak rasional terhadap APBN sebuah
file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (7 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]
Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

negara, contohnya terdapat 33 negara Afrika berhutang sebesar 127 milyar dolar
AS, yang pembayaran hutang tersebut menghabiskan 76 % produk nasionalnya
setiap tahun. Sementara pendapatan per kapitanya —karena adanya hutang di 33
[8]
negara tersebut— besarnya hanya 218 dolar AS/tahun. Indonesia selama tahun
1996-2000 total utang luar negeri Indonesia yang dibayar kepada kreditur luar
negeri adalah US $ 128,748 miliar. Dari jumlah tersebut, beban bunga yang
dibayar Indonesia sebesar US $ 38,025 miliar atau 29,53 persen. Jika dirupiahkan
dengan kurs Rp. 9000/$, maka beban bunga hutang yang dibayarkan Indonesia
setara dengan Rp. 342,225 trilyun, nilai bunga hutang ini lebih besar dari rencana
penerimaan RAPBN 2003 sebesar Rp 327,834 trilyun yang disampaikan presiden
[9]
pada pidato kenegaraannya bulan Agustus 2002. Untuk menutupi kebutuhan
ini, rakyat harus berkorban membayar pajak karena memang sektor penerimaan
negara terbesar adalah dari sektor pajak, lagi-lagi rakyat yang terpukul akibat
jebakan hutang ribawi.
Dalam RAPBN 2003, pemerintah menganggarkan Rp 80,89 trilyun untuk
membayar bunga utang dalam negeri dan luar negeri atau memakan porsi 43,4
persen dari belanja rutin. Bandingkan anggaran bunga utang ini dengan anggaran
pendidikan yang hanya berjumlah Rp 13,6 trilyun. Akibat beban bunga ini,
RAPBN 2003 mengalami defisit yang cukup besar yaitu Rp 26,263 trilyun. Defisit
ini oleh pemerintah sebagaimana biasanya berusaha ditutupi dengan privatisasi
BUMN, penjualan aset-aset yang ditangani BPPN, penghapusan subsidi untuk
rakyat dan meningkatkan penerimaan dari pajak. Tentu saja kebijakan ini akan
kembali semakin memberatkan rakyat. Jelas APBN ini menggambarkan keuangan
[10]
negara tidak rasional.
Sehingga yang dilakukan negara-negara kapitalis adalah membuat hutang raksasa,
yang sebagian besar dari hutang tersebut akan kembali kepada mereka, sementara
negeri itu akan mendapat beban utang dengan bunga yang besar, sehingga mudah
untuk dikontrol kebijakan-kebijakan perekonomian dan politiknya oleh negara
kapitalis dan ujung-ujungnya rakyat negeri tersebut yang akan menderita
sementara hutang biasanya untuk mendanai pembangunan infrastruktur yang
kemanfaatannya hanya dinikmati sebagian kecil dari rakyat saja.
Larangan Pengembangan Harta Melalui Aktifitas ar-Ribâ

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (8 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

Demikianlah kerusakan ekonomi akibat penerapan ekonomi ribawi baik di sektor


informal maupun sektor formal, padahal telah jelas dan tegas As-syar’î melarang
aktifitas ribâ. Ayat final yang melarang aktivitas ribâ di dalam al-Qur’an adalah:
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-
sisa (dari berbagai jenis) ribâ jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika
kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa ribâ) maka ketahuilah, bahwa Allah
dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
ribâ), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula
dianiaya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 278-279).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw berkata, “Pada malam
perjalanan mi’raj, aku melihat orang-orang yang perut mereka seperti rumah, di
dalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku bertanya kepada
Jibril siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang
yang memakan ribâ.”
Turunnya ayat tersebut sebagai ayat terakhir tentang riba telahmengharamkan ribâ
secara menyeluruh. Tidak lagi membedakan banyak maupun sedikit. Juga, telah
dijelaskan bahwasannya ribâ telah diharamkan dalam segala bentuknya. Dalam hal
ini tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai keharamannya.
Sebab, hal ini telah ditetapkan berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul dan Ijma’
[11]
sahabat, termasuk madzhab yang empat.
Kemudian siapa sajakah yang terkena dosa riba sehingga mereka mendapatkan
ancaman dari Allah? Dalam hadits riwayat Muslim, Jabir berkata bahwa
Rasulullah Saw mengutuk orang yang menerima ribâ, orang yang membayarnya,
dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda,
“Mereka itu semuanya sama.” [HR. Muslim].
Penutup
Telah nyata kerusakan akibat penerapan ekonomi berbasis ribawi, dan islam pun
telah mengecam keras para pelakunya. Namun pertanyaannya adalah apakah
sistem ekonomi islam memiliki mekanisme perekonomian modern, seperti
keberadaan suatu badan yang bisa menggantikan lembaga keuangan kapitalis,
sehingga sistem islam benar-benar mampu menggusur perekonomian kapitalis?
Paradigma tentang sistem ekonomi islam harus dibangun dengan cara menemukan
akar permasalahan sistem ekonomi yang berlaku saat ini, sehingga tampak bahwa

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (9 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

permasalahan tentang perbankan, bursa saham, penjualan obligasi, transaksi valas


tenggat waktu, asuransi, dan lain-lain, memang hanya akan muncul dari sistem
ekonomi kapitalis dan tidak akan pernah muncul dalam sistem ekonomi Islam.
Hutang-piutang yang dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah untuk
memenuhi kebutuhan maupun untuk mengembangkan usaha atau lebih dikenal
sebagai hutang konsumtif dan hutang produktif. Untuk konteks kebutuhan dana
konsumtif, yakni untuk menyambung hidup, sistem islam telah memenuhinya
dengan jaminan hidup bagi tiap anggota masyarakat baik muslim ataupun kafir.
Sementara untuk kebutuhan dana produktif misalnya untuk membuka usaha atau
pun mengelola pertanian, islam telah menetapkan aturan tentang konsep
perserikatan atau pun melalui aturan peminjaman tanpa ribâ. Ibnu Hibban
meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak seorang muslim pun yang meminjami muslim yang lain dengan pinjaman
sebanyak dua kali, kecuali seperti shadaqah sekali.”
Dalam hal ini, islam menetapkan bahwa status hukum meminjami adalah sunnah,
sehingga pada sistem yang islami kaum muslim secara individu akan saling
berlomba-lomba mendapat kebaikan amalan sunnah. Dan secara institusi/lembaga,
baitul mal sajalah yang akan bertindak untuk memberi dana konsumtif untuk
orang-orang lemah (seperti ahlul suffah, orang-orang tua, janda tanpa wali, orang-
orang fakir, orang-orang miskin, dan sebagainya) dan baitul mal sajalah yang akan
meminjami dana produktif tanpa riba bagi siapa saja yang ingin mengembangkan
usahanya. Umar bin Khatab telah menyuplai para petani di Irak dari harta baitul
mal untuk mengolah tanah mereka. Hukum syara’ menyatakan, bahwa para petani
bisa diambilkan harta dari baitul mal, yang memungkinkan mereka untuk
[12]
mengolah tanah-tanah mereka hingga tanah tersebut mengeluarkan hasilnya.
Dari Imam Abu Yusuf:
“Orang yang lemah hendaknya diberi pinjaman untuk memenuhi kebutuhannya
dari baitul mâl, agar ia bisa mengolahnya.”
Pun baitul mal akan memberikan pinjaman kepada orang-orang yang melakukan
kegiatan usaha-usaha pribadi yang usaha/bisnis tersebut dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya para petani kaya dan pengusaha
kaya tidak akan diberi sepeser pun dalam rangka meningkatkan penghasilan
mereka. Mereka dipersilahkan untuk melakukan akad-akad syirkah dengan

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (10 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

muslim lainnya.
Dengan demikian, riba memang tidak akan pernah terjadi dalam sistem kehidupan
islam yang kaffah. Penerapan ekonomi islam non ribawi terkait dengan kebijakan
politik ekonomi islam dan berarti terkait dengan sistem-sistem lainnya, oleh sebab
itu sistem yang ada saat ini harus diganti secara menyeluruh agar sesuai dengan
islam. Ketika sistem islam diterapkan, maka masyarakat tidak akan melihat
urgensitas riba dalam kehidupan karena memang pelaksanaan ekonomi islam
menjamin pemenuhan kebutuhan manusia.
Saat ini, tidak akan ada yang mampu menghentikan sistem ekonomi ribawi ini,
kecuali dengan berdirinya Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya kekuatan yang
akan menggusur segala bentuk perekonomian kapitalis dan kegiatan derivar-
derivatnya yang hanya didasarkan pada kekuasaan modal dan harta benda. Kaum
muslim wajib untuk meninggalkan aktivitas yang terkait dengan riba dan wajib
bersegera melaksanakan syariat secara kaffah dalam format Daulah Khilafah
Islamiyah. Daulah Khilafah Islamiyah-lah satu-satunya kekuatan yang akan
mampu menyelamatkan umat manusia dari bahaya-bahaya kelaparan, kebinasaan,
dan kehan-curan yang dihasilkan oleh sistem kehidupan kapitalisme. Pada
hakikatnya, kaum muslimin tak akan pernah mampu menghadapi penghinaan dan
penindasan akibat diterapkannya sistem kehidupan kapitalisme, kecuali dengan
berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam, dengan berdirinya negara
Khilafah Rasyidah dengan seizin Allah SWT semata.
Bacaan Lanjut:
1. Ahmad AdDa’ur, M., Bantahan Atas Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum
Ribâ dan Bunga Bank, Al Azhar Press, 2004
2. Al-Maliki, Abdurrahman, Politik Ekonomi Islam, Al-Izzah, 2001
3. An-Nabhani, Taqyuddin, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif
Islam, Risalah Gusti, 1996
4. Hizbut Tahrir , Sebab-Sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam,
Pustaka Thariqul ‘Izzah, 1998
5. Jurnal Politik dan Dakwah Al Wa’ie, No. 4 Thn. I, 1-31 Desember 2000, hal. 36

DAFTAR PUSTAKA
file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (11 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]
Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

1) Harta sejenis tertentu di batasi pada enam jenis barang yaitu emas, perak,
gandum, sya’ir, kurma, dan garam. Batasan ini merujuk kepada dalil: Dari
‘Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Nabi Saw bersabda: “Emas dengan emas, perak
dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan
kurma, dan garam dengan garam, sama, seimbang, dan kontan. Dan jika berbeda
jenis barangnya, maka perjual belikanlah sesuai cara yang kalian suka apabila
dilakukan secara kontan.” [HR. Muslim].
2) Ahmad Ad-Da’ur, M., Bantahan Atas Kebohongan-kebohongan Seputar
Hukum Ribâ dan Bunga Bank, Al Azhar Press, 2004, halaman 184-185
3) Lihat perbedaan fulus dengan uang, Ahmad Ad-Da’ur, M., Bantahan Atas
Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum Ribâ dan Bunga Bank, Al Azhar Press,
2004, halaman 193-196. Juga lihat Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, juz: 29, halaman
468-482.
4) Lihat, Ahmad Ad-Da’ur, M., Bantahan Atas Kebohongan-kebohongan Seputar
Hukum Ribâ dan Bunga Bank, Al Azhar Press, 2004, halaman 62.
5) Taqyuddin An-Nabhani (2000), Membangun Sistem Ekonomi Alternatif
Persfektif Islam, Risalah Gusti, Surabaya, halaman 201.
6) Hidayatullah Muttaqin, Saatnya Menggusur Riba dari Percaturan Ekonomi
Indonesia, PEI online www.e-syariah.net 18 juni 2005
7) Hizbut Tahrir , Sebab-Sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum
Islam, Pustaka Thariqul ‘Izzah, 1998, halaman 10
Hizbut Tahrir , Sebab-Sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam,
Pustaka Thariqul ‘Izzah, 1998, halaman 10
9) Hidayatullah Muttaqin, Saatnya Menggusur Riba dari Percaturan Ekonomi
Indonesia, PEI online www.e-syariah.net 18/06/2005
10) ibid
11) M.Harun al-Rasyid Ramadhana, Ribâ Dalam Pandangan Islam,
www.hayatulislam.net, 14/10/2003
12) An-Nabhani, Taqyuddin, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif
Islam, Risalah Gusti, 1996, halaman 202-203

[1]
Harta sejenis tertentu di batasi pada enam jenis barang yaitu emas, perak, gandum, sya’ir,

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (12 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]


Saatnya Mengganti Sistem Ekonomi Ribâ dengan Sistem Ekonomi Islam

kurma, dan garam. Batasan ini merujuk kepada dalil: Dari ‘Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Nabi
Saw bersabda: “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan
sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, sama, seimbang, dan kontan. Dan jika
berbeda jenis barangnya, maka perjual belikanlah sesuai cara yang kalian suka apabila dilakukan
secara kontan.” [HR. Muslim].
[2]
Ahmad Ad-Da’ur, M., Bantahan Atas Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum Ribâ dan
Bunga Bank, Al Azhar Press, 2004, halaman 184-185
[3]
Lihat perbedaan fulus dengan uang, Ahmad Ad-Da’ur, M., Bantahan Atas Kebohongan-
kebohongan Seputar Hukum Ribâ dan Bunga Bank, Al Azhar Press, 2004, halaman 193-196. Juga
lihat Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, juz: 29, halaman 468-482.
[4]
Lihat, Ahmad Ad-Da’ur, M., Bantahan Atas Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum Ribâ
dan Bunga Bank, Al Azhar Press, 2004, halaman 62.
[5]
Taqyuddin An-Nabhani (2000), Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Persfektif Islam,
Risalah Gusti, Surabaya, halaman 201.

[6]
Hidayatullah Muttaqin, Saatnya Menggusur Riba dari Percaturan Ekonomi Indonesia, PEI
online www.e-syariah.net 18 juni 2005
[7]
Hizbut Tahrir , Sebab-Sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam, Pustaka
Thariqul ‘Izzah, 1998, halaman 10
[8]
Hizbut Tahrir , Sebab-Sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam, Pustaka
Thariqul ‘Izzah, 1998, halaman 10
[9]
Hidayatullah Muttaqin, Saatnya Menggusur Riba dari Percaturan Ekonomi Indonesia, PEI
online www.e-syariah.net 18/06/2005
[10]
ibid
[11]
M.Harun al-Rasyid Ramadhana, Ribâ Dalam Pandangan Islam, www.hayatulislam.net,
14/10/2003
[12]
An-Nabhani, Taqyuddin, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam, Risalah
Gusti, 1996, halaman 202-203

file:///C|/Documents%20and%20Settings/Administrat...%20Ekonomi%20Ribâ%20dengan%20Sistem%20Ekonomi.htm (13 of 13) [14/01/1430 12:41:56 ÿ•]