Anda di halaman 1dari 5

ARSITEKTUR DALAM

PEMIKIRAN & PERADABAN ISLAM

Ayyubiyah
REVIANTO B. SANTOSA

RESTORING THE MUSLIM WORLD


Melemahnya kuasa Dinasti Abbasiyah yang diikuti dengan disintegrasi
wilayah yang semula di bawah kekuasaan dinasti ini diikuti dengan
serangan bertubi-tubi dari berbagai penjuru terhadap kekuasaan dan umat
Islam. Di akhir abad ke-11, koalisi Eropa di bawah kepemimpinan Paus
Urbanus II mempermaklumkan Perang Salib dan berhasi merebut
Yerusalem.Di pertengahan abad ke-13 pasukan Mongol di bawah Hulagu
Khan menghancurkan Baghdad dan kota-kota di jantung kekuasaan
Abbasiyah. Dan akhirnya, setelah lebih dari 300 tahun melancarkan
serangan, di akhir abad ke-15, Katholik Spanyol di bawah Ratu Isabella
berhasil menumbangkan kubu terakhir Islam di Granada.
Dalam keterpurukan itu muncul tokoh dan dinasti baru yang berupaya
mengembalikan kejayaan Islam. Pejuang dari Suku Kurdi, Salahuddin
merebut kembali Yerusalem dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah. Berasal
dari kalangan tentara budak dari Turki, Sultan Baibar berhasil memukul
pasukan Mongol di Pertempuran Ain Jalut dan mendirikan Dinasti Mamluk.

Maulana
Jalaluddin Rumi

Ahmad
ibn Taymiyah

Abd al-Rahman
ibn Khaldun

Wafat 1275 di Anatolia

Wafat 1328 di Damaskus

Wafat 1406 di Kairo

Rumi lahir di Khurasan


dan melarikan diri d, Rumi
ari serangan Mongol ke
Konya.
Meyakini bahwa
penderitaan sejati adalah
keterpisahan manusia dari
Tuhannya, Rumi
menggeluti ajaran mistik
untuk dapat
menghilangkan duka
karena keterpisahan
tersebut. Perjumpaan
kembali dapat dicapai jika
manusia dapat
menepiskan egonya yang
menutupinya dari cinta
Ilahi.
Ajaran cinta Rumi yang
tertuang dalam kitab
Mathnawi memiliki
dimensi universal

Lahir dari kalangan


madhab Hanbali, Ibn
Taymiyah yang merasakan
derita di bawah serangan
Mongol menegaskan
bahwa faham yang
berkembang (Syiah,
Fialsafah dan Sufi) serta
para penguasa (Mongol
dan Mamluk) tidak sesuai
dengan ajaran Islam.
Semua harus kembali
kepada al-Quran dan
Sunnah. Namun dia juga
membuka peluang untuk
melakukan ijtihad agar
penerapan syarian dapat
sesuai dengan
perkembangan zaman,
meskipun mungkin
bertentangan dengan
pemahaman (fiqh) para
ulama saat itu.

Ibn Khaldun berhijrah dari


Spanyol ke Tunisia saat
wilayah itu jatuh ke
tangan Kristen dan
akhirnya menjalani karir
panjang sebagai qadhi
(hakim) di Kairo.
Dia yakin bahwa di balik
jatuh bangunnya
kekuasaan saat itu ada
kebenaran ilmiah (al ilm
al-umran) yang
melandasinya.
Menurutnya, solidaritas
kelompok menjadikan
masyarakat bertahan dan
jika situasinya tepat dapat
menaklukkan yang lain.
Dengannya, penguasa
dapat membentuk
peradaban. Namun jika
penguasa hidup

Dinasti
Ayyubiy
ah
1171- 1250

Benteng pertahanan di
Aleppo yang diperkuat pada
masa Ayyubiyah dan Masjid,
madrasah dan makam
Sultan Salih di Kairo.

Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Sirukh yang


semula adalah gubernu Aleppo di Syria
dalam pemerintahan Fathimiyah di Kairo.
Sirukh digantikan oleh keponakannya,
Salahuddi al Ayyubi yang menggulingkan
Dinasti Fathimiyah dan beribukota di Kairo.
Dinasti ini memiliki dua agenda besar,
yakni: menahan serangan balasan dari
Tentara Salib dan mengendalikan pengaruh
Syiah sisa Fathimiyah. Keduanya didukung
secara fisik dengan membangun bentengbenteng pertahanan di berbagai kota dan
mendirikan madrasah untuk memperkuat
pengajaran keagamaan Sunni terutama di
Kairo.

Cairo
Citadel
Mulai 1176

Kompleks fisik terpenting yang dibangun Salahuddin alAyyubi adalah Citadel atau Benteng pertahanan di Bukit
Muqattam di luar kota. Kota Kairo terdiri atas al-Fustat atau
kota lama yang tak berbenteng dan al-Qahirah atau kota
baru yang dilingkupi benteng oleh Fatimiyah. Pertumbuhan
penduduk di al-Qahirah telah melampaui batas bentengnya.
Untuk itu, Salahuddin merasa perlu untuk membuat
permukiman berbenteng yang sekaligus menjadi kubu
pertahanan. Dia membangun Citadel ini dengan tenaga
puluhan ribu tawanan dari Perang Salib.