Anda di halaman 1dari 13

Pendahuluan

Hipernatremia dan hiponatremia sering terjadi pada usia lanjut. Hipernatremia pada
usia lanjut paling sering disebabkan oleh kombinasi dari asupan cairan yang tidak
adekuat dan bertambahnya kehilangan asupan kehilangan cairan. Gangguan mekanisme
dari rasa haus dan hambatan akses terhadap cairan (sekunder dari gangguan mobilitas
atau menelan) terus berkontribusi dalam timbulnya hipernatremia pada usia lanjut selain
adanya keterlambatan eskresi natrium. Kehilangan air murni pada keadaan demam,
hiperventilasi dan diabetes insipidus.
Pada penderita dengan demensia sangat mudah mengalami hipernatremia karena
penurunan rasa haus dan rendahnya kadar vasopressin. Penyebab penting lainnya adalah
hiperkalsemia yang dapat menyebabkan kerusakan sel pada loop Henle dan berinteraksi
dengan vasopressin di duktus kolektus. Hipokalemia yang bermakna juga dapat
menyebabkan hipernatremia.
Pembahasan
Hipernatremia (kadar natrium darah yang tinggi) adalah suatu keadaan dimana kadar
natrium dalam darah lebih dari 145 mEq/L darah. Hipernatremia atau hypernatraemia
adalah sebuah gangguan elektrolit yang didefinisikan oleh tingkat natrium tinggi dalam
darah. Hipernatremia ini umumnya tidak disebabkan oleh kelebihan natrium, melainkan
disebabkan karena adanya peningkatan defisit relatif air dari dalam tubuh. Untuk alasan
ini, hipernatremia dikenal dengan istilah dehidrasi
Air hilang dari tubuh dalam berbagai cara, termasuk keringat, insensible loss dari
bernapas, dan dari tinja serta urin. Jika jumlah input cairan secara konsisten berada di
bawah jumlah output cairan, tingkat natrium serum akan mulai meningkat dan yang
terjadi hipernatremia. Jarang, hipernatremia dapat disebabkan oleh konsumsi garam
besar, seperti yang mungkin terjadi dari minum air laut.
Biasanya, bahkan peningkatan kecil di konsentrasi natrium serum di atas hasil batas
normal pada sensasi kuat haus, peningkatan asupan air bebas, dan koreksi abnormalitas.
Oleh karena itu, hipernatremia paling sering terjadi pada orang-orang seperti bayi, yang
dengan status mental terganggu, atau orang tua, yang mungkin memiliki mekanisme haus
utuh tetapi tidak dapat meminta atau mendapatkan air.
Natrium adalah salah satu elektrolit yang amat dibutuhkan tubuh untuk menjaga
metabolisme tubuh. Salah satu fungsi elektrolit ini adalah untuk kontraksi dan pergerakan
manusia, dan juga untuk menjaga cairan tubuh karena fungsi dari natrium ini yang dapat
menarik air.
Hipernatremia dan hiponatremia sering terjadi pada usia lanjut. Hpernatremia pada
usia lanjut paling sering disebabkan oleh kombinasi dari asupan cairan yang tidak
adekuat dan bertambahnya kehilangan asupan kehilangan cairan. Gangguan mekanisme
dari rasa haus dan hambatan akses terhadap cairan (sekunder dari gangguan mobilitas
atau menelan) terur berkontribusi dalam timbulnya hipernatremia pada usia lanjut selain
adanya keterlambatan eskresi natrium.
Kehilangan air murni pada keadaan demam, hiperventilasi dan diabetes insipidus.
Lebih sering, kehilngan airhipoteonik disebabkan oleh problem saluran cerna. , luka
bakar, terapi diuretika atau dieresis osmotic. Seringkali deteksi hipernatremia pada usia
lanjut terlambat dilakukan sehingga usia lanjut yang lemah dapat jatuh pada keadaan
hipernatremia yang bermakna. Pada penderita dengan demensia sangat mudah mengalami

hipernatremia karena penurunan rasa haus, gangguan kemampuan untuk meminta air
karenan penurunanrasa haus, gangguan kemampuan untuk meminta air dan mungkin,
rendahnya kadar vasopressin. Penyebab penting lainnya adalah hiperkalsemia yang
mungkin dapat menyebabkan kerusakan sel pada gelung Henle dan berinteraksi dengan
vasopressin pada tingkat duktus kolektus. Hipokalemia yang bermakna juga dapat
menyebabkan hipernatremia.
Epidemiologi
Amerika Serikat
Insiden keseluruhan pasien rawat inap dengan hipernatremia berkisar 0,3-5,5%.
Insiden pasien yang memiliki hipernatremia pada masuk ke rumah sakit sangat rendah,
yang diperkirakan 0,12-1,4%. Lebih dari 60% kasus hipernatremia yang didapat di rumah
sakit. Prevalensi lebih tinggi dari 9-26% yang terlihat pada pasien sakit kritis, di
antaranya faktor risiko utama untuk hipernatremia termasuk ventilasi mekanik, koma, dan
sedasi. [10] Hipernatremia paling banyak ditemukan pada populasi geriatri.
Internasional
A, tunggal-pusat studi retrospektif dari Eropa, termasuk 981 pasien, menemukan
kejadian 9% dari hipernatremia di unit perawatan intensif pusat ini (ICU). Namun, itu
juga menemukan bahwa di antara pasien dengan hipernatremia, hanya 23% yang sudah
memiliki kondisi ketika dirawat di ICU. [11, 12]
Sebuah studi Kanada 8000 pasien dewasa diidentifikasi ICU didapat hiponatremia di
11% dari mereka dan ICU didapat hipernatremia di 26% dari pasien-pasien ini. [12]
Laporan ini menemukan bahwa tingkat kematian pada pasien dengan ICU didapat
hiponatremia atau hipernatremia lebih besar dibandingkan dengan pasien studi dengan
kadar natrium serum normal, menjadi 28% dibandingkan 16%, p <0,001, dan 34%
dibandingkan 16%, p <0,001, masing-masing.
Mortalitas / Morbiditas
Angka kematian 30-48% telah ditunjukkan pada pasien di ICU yang memiliki kadar
natrium serum melebihi 150 mmol / L. Dari 8140 pasien Ulasan dalam studi retrospektif,
1245 ditemukan memiliki ICU didapat hipernatremia (didefinisikan dalam penelitian ini
sebagai hipernatremia diperoleh 24 jam atau lebih setelah masuk ICU); ini termasuk 901
pasien (11,1%) dengan hipernatremia ringan dan 344 pasien (4,2%) dengan hipernatremia
sedang sampai parah. Membandingkan tingkat kematian di rumah sakit untuk pasien
tanpa hipernatremia dengan orang-orang untuk anggota kelompok dengan kondisi,
penulis menetapkan bahwa rasio hazard subdistribution untuk kematian dari ICU didapat
hipernatremia adalah 2.03 untuk bentuk ringan dari kondisi dan 2,67 untuk moderat
sampai berat hipernatremia. Namun, apakah asosiasi ICU didapat hipernatremia dengan
peningkatan risiko kematian mencerminkan efek langsung dari hipernatremia tidak pasti
atau penanda untuk kualitas suboptimal perawatan.
Satu studi menegaskan bahwa jumlah sodium harian maksimum merupakan faktor
risiko yang signifikan untuk pengembangan cedera ginjal akut pada pasien dengan
perdarahan subarachnoid (SAH) yang menerima terapi salin hipertonik. Terapi tersebut
sering digunakan untuk mengontrol hipertensi intrakranial dan mengelola hiponatremia
simtomatik. Dari 736 pasien dalam satu studi, 9% (64) dikembangkan cedera ginjal akut.

Untuk setiap 1 mEq / L peningkatan dalam tingkat natrium serum harian maksimum
berjalan, risiko mengembangkan cedera ginjal akut meningkat 5,4%, dan risiko kematian
lebih dari dua kali lipat lebih besar untuk pasien yang dikembangkan cedera ginjal akut.
Awal yang diperoleh hipernatremia di ICU telah ditemukan untuk menjadi komplikasi
yang sering pada pasien dengan sepsis berat dan berhubungan dengan volume 0,9%
garam yang diterima selama 48 jam pertama masuk di ICU. Dalam sebuah penelitian,
dari 95 pasien dengan sepsis berat, 29 (31%) mengembangkan hipernatremia dalam
waktu 5 hari. Untuk setiap 50 ml / kg peningkatan asupan garam 0,9% selama 48 jam
pertama, kemungkinan hipernatremia meningkat 1,61 kali. Pasien yang dikembangkan
hipernatremia meningkat durasi ventilasi mekanis dan peningkatan mortalitas.
Menurut sebuah studi oleh Leung et al, hipernatremia pra operasi dikaitkan dengan
peningkatan perioperatif 30-hari morbiditas dan mortalitas. Dalam studi mereka, 20.029
pasien dengan hipernatremia pra operasi (> 144 mmol / L) dibandingkan dengan 888.840
pasien dengan natrium dasar normal (135-144 mmol / L). Kemungkinan morbiditas dan
mortalitas meningkat sesuai dengan tingkat keparahan dari hipernatremia (P <.001 untuk
perbandingan berpasangan untuk ringan [145-148 mmol / L] vs parah [> 148 mmol / L]
kategori). Hipernatremia, dibandingkan natrium dasar normal, dikaitkan dengan
kemungkinan yang lebih besar untuk perioperatif kejadian koroner utama (1,6% vs
0,7%), pneumonia (3,4% vs 1,5%), dan tromboemboli vena (1,8% vs 0,9%)
Faktor resiko
Pasien dengan hipernatremia biasanya adalah lansia dan keadaan fisik lemah. Pasien
juga sering disertai dengan keluhan demam. Penting untuk mengetahui apakah
hipernatremi pasien merupakan keadaan akut atau kronik karena dapat mempengaruhi
penanganan yang akan diberikan.
Faktor resiko dari hipernatremia adalah:
Usia tua
Kelainan mental atau fisik
Diabetes tidak terkontrol
Poliuria
Pengobatan diuretik
Hospitalisasi
Penyebab hipernatremia pada pasien rawat inap yaitu:
Penurunan kesadaran
Pemakaian NGT
Infus hipertonik
Diuretik osmotik
Lactulosa
Ventilasi mekanik
Pengobatan dengan diuretik atau sedatif
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang dilakukan termasuk pemeriksaan statu volume dan fungsi kognitif.
Gejala dapapt berhubungan dengan defisit volume dan atau hipertonisitas dan penyusutan
sel otak yang dapat menyebabkan perdarahan di otak dan mengakibatkan perdarahan

cerebral.
Klasifikasi hipernatremia
Hipernatremia (natrium serum di atas 150 mEq/L) merupakan gangguan elektrolit
yang lazim dijumpai pada pasien di bangsal perawatan dan unit rawat intensif. Pasien
hipernatremia dikelompokkan dalam 3 kategori:
1)
Ringan, kadar serum 151 sampai 155 mEq/L;
2)
Moderate, 156 sampai 160 mEq/L; dan
3)
Berat, di atas 160 mEq/L.
Kategori ini walau terkesan ditentukan sepihak, berasal dari rekomendasi Bingham
and the Brain Trauma Foundation. Walaupun ada pasien dengan usia lanjut, gangguan
mental dan penghuni panti wreda masuk rumah sakit dengan hipernatremia, pada
kebanyakan kasus, hipernatremia berkembang selama perawatan. Biasanya hipernatremia
diakibatkan oleh kehilangan air bebas (renal, enteral, dan insensible) yang disertai
kurangnya asupan air bebas (gangguan mekanisme haus atau sukar mendapatkan air)
serta terapi yang tidak tepat dengan cairan isotonik. Pasien rawat-inap dengan
hipernatremia memiliki angka kematian lebih tinggi (40%-60%) dibandingkan pasien
tanpa hipernatremia ketika masuk rumah sakit. Kekerapan yang dilaporkan pada populasi
rumah sakit berkisar antara 0.3% sampai 3.5%.
Pasien yang masuk ICU lebih sering mengalami hipernatremia dibandingkan pasien
bangsal. Karena hipernatremia sering merupakan kondisi iatrogenik yang terkait dengan
mortalitas tinggi, beberapa ahli telah menyimpulkan bahwa ini bisa dipandang sebagai
indikator dari kualitas perawatan. Pasien sakit kritis dengan penyakit neurologi atau
bedah saraf memiliki banyak faktor yang membuat mereka lebih rentan mengalami
hipernatremia. Mereka sering memiliki mekanisme haus yang terganggu karena
berubahnya kesadaran atau penyakit sistem saraf yang mempengaruhi persepsi haus.
Pasien-pasien ini mungkin juga mengidap diabetes insipidus akibat disfungsi
hipofisis atau hipotalamus. Meningkatnya insensible loss akibat demam juga merupakan
faktor kontribusi. Lebih penting lagi, pada pasien dengan edema serebral dan peningkatan
tekanan intrakranial, hipernatremia sering merupakan akibat dari penggunaan diuretik
osmotik (mannitol) atau salin hipertonik. Hipernatremia mungkin memiliki peran
terapeutik pada pasien yang mendapat terapi osmotik. Pada orang dewasa dengan edema
serebral pasca bedah atau pasca trauma yang diterapi dengan NaCl; 3%, penurunan
tekanan intrakranial telah diperlihatkan berkorelasi dengan kenaikan kadar serum. Pada
pasien anak dengan trauma kepala yang diterapi dengan salin hipertonik, hipernatremia
berkorelasi dengan kontrol yang lebih baik terhadap tekanan intrakranial tanpa efek
samping bermakna.
Walaupun demikian, hipernatremia juga telah ditunjukkan berhubungan dengan
disfungsi ginjal pada populasi ini. Jadi, pada pasien yang mendapat terapi osmotik, kadar
natrium serum yang ideal sering sukar ditetapkan. Di satu sisi, hipernateremia mungkin
bermanfaat dalam mengendalikan tekanan intrakranial. Di sisi lain, berdasarkan kajiankajian yang dilaksanakan di basal penyakit dalam-bedah dan ICU, hipernatremia diikuti
dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.
Dalam memberikan terapi osmotik yang baik, perlu diantisipasi dampak
hipernatremia terhadap mortalitas pada populasi khusus ini. Juga penting ditentukan
ambang sampai mana kadar natrium serum bisa ditinggikan dengan aman. Hubungan

antara hipernatremia dan mortalitas pada pasien ini belum pernah dikaji sebelumnya.
Salah satu tanda hipernatremia adalah dehidrasi, pada kebanyakan kasus,
penyebabnya adalah net water loss. Overloading natrium (Meylon) juga bisa menjadi
penyebab. Hipernatremia lebih sering pada bayi dan lansia. Pada lansia gejala belum
terlihat sebelum kadar > 160 mmol/L. Pada hipernatremia akut (terjadi dalam beberapa
jam), laju penurunan yg dianjurkan 1 mmol/L/jam. Pada hipernatremia kronis, laju
koreksi adalah 0.5 mmol/L/jam untuk mencegah edema serebral. Lebih tepatnya adalah
10 mmol/L/24jam.
Besarnya perubahan kadar Na+ plasma bisa dihitung dengan rumus:
Na+ larutan infus Na+ serum
Air tubuh + 1
(Air tubuh pada dewasa adalah 60% berat badan, sedangkan pada anak 70% berat badan)
Penyebab
Pada hipernatremia, tubuh mengandung terlalu sedikit air dibandingkan dengan
jumlah natrium. Konsentrasi natrium darah biasanya meningkat secara tidak normal jika
kehilangan cairan melampaui kehilangan natrium, yang biasanya terjadi jika minum
terlalu sedikit air. Konsentrasi natrium darah yang tinggi secara tidak langsung
menunjukkan bahwa seseorang tidak merasakan haus meskipun seharusnya dia haus, atau
dia haus tetapi tidak dapat memperoleh air yang cukup untuk minum.
Hipernatremia juga terjadi pada seseorang dengan:
fungsi ginjal yang abnormal
diare
muntah
demam
keringat yang berlebihan.
Hipernatremia paling sering terjadi pada usia lanjut. Pada orang tua biasanya rasa
haus lebih lambat terbentuk dan tidak begitu kuat dibandingkan dengan anak muda. Usia
lanjut yang hanya mampu berbaring di tempat tidur saja atau yang mengalami demensia
(pilkun), mungkin tidak mampu untuk mendapatkan cukup air walaupun saraf-saraf
hausnya masih berfungsi.
Selain itu, pada usia lanjut, kemampuan ginjal untuk memekatkan air kemih mulai
berkurang, sehingga tidak dapat menahan air dengan baik. Orang tua yang minum
diuretik, yang memaksa ginjal mengeluarkan lebih banyak air, memiliki resiko untuk
menderita hipernatremia, terutama jika cuaca panas atau jika mereka sakit dan tidak
minum cukup air.
Hipernatemia selalu merupakan keadaan yang serius, terutama pada orang tua.
Hampir separuh dari seluruh orang tua yang dirawat di rumah sakit karena hipernatremia
meninggal. Tingginya angka kematian ini mungkin karena penderita juga memiliki
penyakit berat yang memungkinkan terjadinya hipernatremia.
Hipernatremia dapat juga terjadi akibat ginjal mengeluarkan terlalu banyak air,
seperti yang terjadi pada penyakit diabetes insipidus. Kelenjar hipofisa mengeluarkan
terlalu sedikit hormon antidiuretik (hormon antidiuretik menyebabkan ginjal menahan

air) atau ginjal tidak memberikan respon yang semestinya terhadap hormon. Penderita
diabetes insipidus jarang mengalami hiponatremia jika mereka memiliki rasa haus yang
normal dan minum cukup air.
Tubuh kita ini adalah ibarat suatu jaringan listrik yang begitu kompleks, didalamnya
terdapat beberapa pembangkit lokal seperti jantung, otak dan ginjal. Juga ada rumahrumah pelanggan berupa sel-sel otot. Untuk bisa mengalirkan listrik ini diperlukan ionion yang akan mengantarkan perintah dari pembangkit ke rumah-rumah pelanggan. Ionion ini disebut sebagai elektrolit. Ada dua tipe elektrolit yang ada dalam tubuh, yaitu
kation (elektrolit yang bermuatan positif) dan anion (elektrolit yang bermuatan negatif).
Masing-masing tipe elektrolit ini saling bekerja sama mengantarkan impuls sesuai dengan
yang diinginkan atau dibutuhkan tubuh.
Beberapa contoh kation dalam tubuh adalah Natrium (Na+), Kaalium (K+), Kalsium
(Ca2+), Magnesium (Mg2+). Sedangkan anion adalah Klorida (Cl), HCO3, HPO4,
SO4. Dalam keadaan normal, kadar kation dan anion ini sama besar sehingga potensial
listrik cairan tubuh bersifat netral. Pada cairan ektrasel (cairan diluar sel), kation utama
adalah Na+sedangkan anion utamanya adalah Cl-.. Sedangkan di intrasel (di dalam sel)
kation utamanya adalah kalium (K+).
Disamping sebagai pengantar aliran listrik, elektrolit juga mempunyai banyak
manfaat, tergantung dari jenisnya. Contohnya :
Natrium
:
fungsinya sebagai penentu utama osmolaritas dalam darah dan pengaturan volume
ekstra sel.
Kalium
:
fungsinya mempertahankan membran potensial elektrik dalam tubuh.
Klorida
:
fungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi air pada berbagai
cairan
tubuh dan keseimbangan anion dan kation dalam cairan ekstrasel.
Kalsium
:
fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot, deposit utamanya
berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan, kalsium ini dapat berpindah ke dalam
darah.
Magnesium :
Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur pergerakan Ca2+ ke
dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi jantung dan kekuatan pembuluh
darah tubuh.
terdapat dua macam kelainan elektrolit yang terjadi kadarnya terlalu tinggi (hiper)
dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi Natrium dalam plasma
darah atau disebut hipernatremia akan mengakibatkan kondisi tubuh terganggu seperti
kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan otot tubuh. Natrium yang juga berfungsi
mengikat air juga mengakibatkan meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi
penderita yang sudah menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam
konsumsi makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak
mengandung elektrolit termasuk natrium.
Banyak kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar natrium dalam plasma
darah. Kondisi dehidrasi akibat kurang minum air, diare, muntah-muntah, olahraga berat,

sauna menyebabkan tubuh kehilangan banyak air sehingga darah menjadi lebih pekat dan
kadar natrium secara relatif juga meningkat. Adanya gangguan ginjal seperti pada
penderita Diabetes dan Hipertensi juga menyebabkan tubuh tidak bisa membuang
natrium yang berlebihan dalam darah. Makan garam berlebihan serta penyakit yang
menyebabkan peningkatan berkemih (kencing) juga meningkatkan kadar natrium dalam
darah.
Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat
disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang
menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan elektrolit), terapi
ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan jantung, terutama yang
disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga
dapat menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat menyebabkan
hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi
darah yang terlalu asam (asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain
misalnya diabetes juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia
sendiri relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan
gangguan syaraf.
Disamping natrium, elektrolit lain yang penting adalah kalium. Fungsi kalium sendiri
mirip dengan natrium, karena kedua elektrolit ini ibarat kunci dan anak kunci yang saling
bekerja sama baik dalam mengatur keseimbangan osmosis sel, aktivitas saraf dan otot
serta keseimbangan asam basa.
Penyebab utama dari hipernatremi:
1.
Cedera kepala atau pembedahan saraf yang melibatkan kelenjar hipofisa
2.
Gangguan dari elektrolit lainnya (hiperkalsemia dan hipokalemia)
3.
Penggunaan obat (lithium, demeclocycline, diuretik)
4.
Kehilangan cairan yang berlebihan (diare, muntah, demam, keringat berlebihan)
5.
Penyakit sel sabit
6.
Diabetes insipidus.
Penyebab umum hipernatremia meliputi:
1. Hipovolemik
Hipovolemik adalah penyebab paling umum hipernatremia.berlebihan kerugian air
dari saluran kencing, yang mungkin disebabkan oleh glycosuria, atau diuretik osmotik
lainnya. Pengeluaran air dari tubuh secara berlebih seperti berkeringat ekstrim maupun
diare berat dapat menyebabkan hipernatremia
2. Hypervolemic
Pengambilan cairan hipertonik (cairan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi
daripada sisa tubuh) dapat menyebabkan hipernatremia. Hal ini jarang terjadi, walaupun
bisa terjadi seperti setelah dilakukan resusitasi yang kuat di mana pasien menerima suatu
volume besar dari larutan natrium bikarbonat terkonsentrasi. Menelan air laut juga
menyebabkan hipernatremia karena air laut adalah hipertonik. Selain itu, keadaan
penyakit seperti sindrom Conn atau Cushings Disease Mineralcorticoid juga dapat
menyebabkan hipernatremia.
Jumlah kadar natrium normal dalam tubuh
Seorang peneliti dari New York yang bernama Dr. Lewis K Dahl menginformasikan,

bahwa tubuh idealnya butuh sekitar 2 gr atau sendok teh garam per hari. Tapi,
umumnya dalam kehidupan sehari-hari, kita justru mengkonsumsi garam yang mencapai
5 gr hingga 6 gr per hari atau bahkan lebih. Hal itu akan membuat ginjal bekerja keras
untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan asam-basa agar sistem tubuh tak kacau
dan tubuh tidak terganggu akibat kelebihan sodium.
Dengan tanpa mengkonsumsi garam dapur tubuh seseorang tidak akan kekurangan
sodium dan natrium, karena kita dapat memperoleh garam alami dari makanan lain
seperti sayur-sayuran dan hasil laut.
Makanan yang mengandung natrium
Kelebihan natrium pada tubuh manusia dapat menyebabkan kelebihan cairan,
sehingga elektrolit ini dapat menyebabkan peningkatan dari tekanan darah dikarenakan
fungsi jantung yang bekerja keras dalam memompakan cairan yang banyak. Tentunya
sudah tidak asing lagi mungkin beberapa dari Anda sudah pernah mendengar kalau bagi
yang menderita hipertensi adalah dengan mengurangi jumlah garam pada makanan Anda
karena fungsi dari natrium yang sudah dijelaskan diatas.
Selain garam, natrium juga banyak terkandung dalam beberapa jenis makanan dan
minuman yang Anda konsumsi sehari-hari diantaranya adalah:
1. Minuman bersoda
Soda itu mengandung suatu natrium bikarbonat, tentunya bagi Anda yang
memiliki hipertensi dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi soda dalam jumlah yang
banyak apalagi terlalu sering.
2. Makanan kaleng
Makanan kaleng mengandung natrium benzoat sebagai pengawet agar makanan
kaleng ini dapat bertahan dalam waktu yang lama.
3. Ikan asin
Sudah pasti dalam pengawetannya ikan asin ini menggunakan garam dalam
jumlah yang tidak sedikit, sehingga dianjurkan untuk mengurangi bahkan
menghindari ikan asin pada pasien yang menderita hipertensi.
4. Minuman elektrolit
Minuman berelekrolit atau minuman isotonik di buat sedemikian rupa kaya akan
elektrolit terutama natrium supaya lebih mudah diserap oleh tubuh dan menggantikan
cairan yang hilang. Bagi penderita hipertensi sebaiknya mengurangi minuman.
5.

6.

7.

Daging asap & sosis


Minuman berelekrolit atau minuman isotonik di buat sedemikian rupa kaya akan
elektrolit terutama natrium supaya lebih mudah diserap oleh tubuh dan menggantikan
cairan yang hilang. Bagi penderita hipertensi sebaiknya mengurangi minuman jenis
ini.
Daging asap & sosis
Penyedap rasa, kecap, saus tomat & sambal, bumbu perendam, dan bumbubumbu penyedap lainnya ternyata mengandung tinggi natrium, sebaiknya Anda
mengurangi jumlah pemakaian bumbu-bumbu ini bagi penderita hipertensi dalam
jumlah banyak.
Makanan instan: bubur & mie
Memang beras dan tepung gandum dalam bentuk alamiah mengandung rendah

sekali natrium, namun bila sudah diproses dalam bentuk kemasan akan mengandung
tinggi sekali natrium baik berasal dari zat pengawet dan juga bumbu-bumbu untuk
rasanya.
Patofisiologi
Hipernatremia terjadi ketika ada kehilangan air bersih atau keuntungan natrium dan
mencerminkan terlalu sedikit air dalam kaitannya dengan jumlah natrium dan kalium
tubuh. Dalam pandangan disederhanakan konsentrasi natrium serum (Na +) dapat dilihat
sebagai fungsi dari total natrium tukar dan kalium dalam tubuh dan total air tubuh [4]
Rumus dinyatakan di bawah ini.:
Na + = Na + tubuh total + K + tubuh total / total air tubuh
Akibatnya, hipernatremia hanya dapat berkembang sebagai hasil dari baik kehilangan
air bebas atau keuntungan dari natrium atau kombinasi keduanya. Hipernatremia menurut
definisi adalah keadaan hiperosmolalitas, karena natrium adalah kation ekstraseluler
dominan dan zat terlarut. [5]
Osmolalitas plasma normal (POSM) terletak di antara 275 dan 290 mOsm / kg dan
terutama ditentukan oleh konsentrasi garam natrium. (Dihitung plasma osmolalitas: 2
(Na) mEq / L + glukosa serum (mg / dL) / 18 + BUN (mg / dL) /2.8). Peraturan POSM
dan konsentrasi natrium plasma dimediasi oleh perubahan dalam asupan air dan ekskresi
air. Hal ini terjadi melalui 2 mekanisme:
Konsentrasi urin (melalui sekresi hipofisis dan efek ginjal dari antidiuretik arginin
vasopressin hormon [AVP]) [6, 7]
Haus [8]
Dalam individu yang sehat, haus dan rilis AVP distimulasi oleh peningkatan
osmolalitas cairan tubuh di atas ambang osmotik tertentu, yang kira-kira 280-290 mOsm /
L dan dianggap sama jika tidak identik untuk kedua haus dan rilis AVP. Peningkatan
osmolalitas menarik air dari sel-sel ke dalam darah, sehingga dehidrasi neuron tertentu di
otak yang berfungsi sebagai osmoreseptor atau "reseptor tonisitas." Hal ini mendalilkan
bahwa deformasi ukuran neuron mengaktifkan sel-sel ini (sehingga bertindak seperti
mechanoreceptors). Pada stimulasi, mereka sinyal ke bagian lain dari otak untuk memulai
haus dan rilis AVP, mengakibatkan peningkatan konsumsi air dan konsentrasi urin, cepat
mengoreksi keadaan hypernatremic.
Konservasi dan ekskresi air oleh ginjal tergantung pada sekresi normal dan aksi AVP
dan diatur sangat ketat. Stimulus untuk sekresi AVP adalah aktivasi osmoreseptor
hipotalamus, yang terjadi ketika osmolalitas plasma mencapai batas tertentu (sekitar 280
mOsm / kg). Pada osmolalitas plasma bawah ambang batas ini, sekresi AVP ditekan ke
tingkat rendah atau tidak terdeteksi. Rangsangan aferen lainnya, seperti penurunan efektif
arteri volume darah, nyeri, mual, kecemasan, dan berbagai obat-obatan, juga dapat
menyebabkan pelepasan AVP.
AVP disintesis dalam neuron magnoselular khusus yang sel tubuh yang terletak di
inti supraoptik dan paraventrikular hipotalamus. Prohormon diproses dan diangkut ke
bawah akson, yang berakhir di kelenjar hipofisis posterior. Dari sana, itu dikeluarkan
sebagai hormon AVP aktif ke dalam sirkulasi dalam menanggapi stimulus yang tepat

(hiperosmolalitas, hipovolemia).
AVP berikatan dengan reseptor V2 terletak pada membran basolateral dari sel-sel
utama dari saluran koleksi ginjal. The mengikat ini G-protein coupled receptor memulai
kaskade transduksi sinyal, menyebabkan fosforilasi aquaporin-2 dan translokasi dan
penyisipan ke apikal (luminal) membran, menciptakan "saluran air" yang memungkinkan
penyerapan air bebas dalam ini sebaliknya segmen air kedap sistem tubular
Haus
Haus merupakan mekanisme tubuh untuk meningkatkan konsumsi air dalam
menanggapi defisit terdeteksi dalam cairan tubuh. Seperti sekresi AVP, haus dimediasi
oleh peningkatan osmolalitas plasma efektif hanya 2-3%. Haus diduga dimediasi oleh
osmoreseptor terletak di hipotalamus anteroventral. The osmotik rata-rata ambang haus
sekitar 288-295 mOsm / kg. Mekanisme ini sangat efektif bahkan di negara-negara
patologis di mana pasien tidak mampu berkonsentrasi urin mereka (diabetes insipidus)
dan mengeluarkan jumlah berlebihan urin (10-15 L / d), hipernatremia tidak berkembang
karena haus dirangsang dan cairan tubuh osmolalitas dipertahankan dengan
mengorbankan polidipsia sekunder yang mendalam.
Mengembangkan hipernatremia hampir tidak mungkin jika respon haus utuh dan air
yang tersedia. Dengan demikian, hipernatremia berkelanjutan dapat terjadi hanya ketika
mekanisme haus terganggu dan asupan air tidak meningkatkan respon terhadap
hiperosmolalitas atau ketika menelan air dibatasi.
Hipovolemia signifikan merangsang sekresi AVP dan haus. Penurunan tekanan darah
hasil 20-30% di level AVP berkali-kali yang dibutuhkan untuk antidiuresis maksimal.
Negara Hypernatremic dapat diklasifikasikan sebagai defisit terisolasi air (yang
umumnya tidak terkait dengan perubahan volume intravaskular), defisit cairan hipotonik,
dan keuntungan natrium hipertonik.
Peraturan volume sel otak
Hipernatremia akut dikaitkan dengan penurunan cepat dalam intraseluler kadar air
dan otak volume yang disebabkan oleh pergeseran osmotik air bebas keluar dari sel.
Dalam waktu 24 jam, penyerapan elektrolit ke dalam kompartemen intraseluler hasil
restorasi parsial volume otak. Fase kedua dari adaptasi, yang ditandai dengan peningkatan
kadar zat terlarut organik intraseluler (akumulasi asam amino, poliol, dan methylamines),
mengembalikan volume otak normal. Beberapa pasien menyelesaikan respon adaptif ini
dalam waktu kurang dari 48 jam. Akumulasi zat terlarut intraselular menanggung risiko
edema serebral selama rehidrasi. Respon sel otak untuk hipernatremia sangat penting.
Lihat gambar di bawah ini.

Gejala
Gejala utama dari hipernatremia merupakan akibat dari kerusakan otak. Pada
hipernatremia yang berat dapat menyebabkan kebingungan, kejang otot, kejang seluruh

tubuh, koma, bahkan kematian.


Manifestasi klinis dari hipernatremia bisa halus, terdiri dari kelesuan, kelemahan,
lekas marah, dan edema. Dengan peningkatan yang lebih berat dari tingkat natrium,
kejang dan koma dapat terjadi.
Gejala berat biasanya karena elevasi akut konsentrasi natrium plasma di atas 158
mEq / L (Normal biasanya sekitar 135-145 mEq / L. Nilai di atas 180 mEq / L .Yang
berhubungan dengan tingkat kematian tinggi, terutama pada orang dewasa. tingkat tinggi
Namun seperti natrium jarang terjadi tanpa parah kondisi medis berdampingan. Diagnosis
hipernatremia dapat ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan darah dan gejalagejalanya.
Pengobatan
Terapi hipernatremia adalah mengganti kehilangan cairan atau hentikan pemberian
natrium pada kasus dengan pemberian natrium yang berlebihan. Karena adapatasi
susunan saraf pusat terhadap pengerutan sel dank arena koreksi terlalu cepat dapat
menyebabkan edema serebral yang berbahaya, hipernatremia kronik harus diatasi
perlahan dan hati hati. Aturan umum dengan menggunakan rumus
Defisit cairan = [(Na Plasma 140)/140] X Air tubuh total
Koreksi 50% deficit cairan dalam 12-24 jam pertama dan sisanya diberikan dalam
satu hingga dua hari berikutnya. Pada hipernatremia akut deficit cairan harus diganti lebih
cepat. Defisit air bersih dikalkulasi dengan memperkirakan air tubuh total dalam liter.
Memburuknya status neurologis selama pemberian cairan dapat menunjukkan terjadinya
edema serebral dan membutuhkan reevaluasi segera dan pengehantian sementara cairan
Pemeriksaan darah atau air kemih tambahan dilakukan untuk mengetahui penyebab
tingginya konsentrasi natrium. Jika penyebabnya telah ditemukan, bisa diobati secara
lebih spesifik. Misalnya untuk diabetes insipidus diberikan hormon antidiuretik
(vasopresin).
Contoh Kasus
Pria 76 tahun dengan penurunan kesadaran, selaput lendir kering, turgor kulit kurang,
demam,takipnea dan tekanan darah 142/82 mmHg tanpa perubahan ortostatik. Kadar
natrium serum 168 mmol per liter, dan berat badan 68 kg. Ditegakkan diagnosis
hipernatremia yang disebabkan oleh deplesi air murni akibat kehilangan air insensible.
Infus KAEN 4A ( Na+ 30, Cl- 30 mmol/L) direncanakan. Tatalaksana koreksi Na+ dalam
24 jam untuk menurunkan sampai 158 mmol/L,dengan harapan kesadaran membaik.
Berapa jumlah dan laju pemberian KAEN 4A yang dibutuhkan?
Na+ cairan infus Na+ serum
Air tubuh + 1
30 168
= -3.2
60%BB+ 1
41.80

Artinya 1 L KAEN 4A akan menurunkan Na+ plasma sebanyak kira-kira 3.2 mmol/L.
Tujuan terapi adalah menurunklan kadar natrium serum sebesar kira-kira 10 mmol per
liter dalam 24 jam.
Oleh karena itu, dibutuhkan 3 liter KAEN 4A ( 10 : 3.2). Dengan 1.5 liter ditambahkan
untuk mengganti kebutuhan rumatan, total diberikan 4.5 liter dalam 24 jam berikutnya.
Catatan: hipernatremia selalu menunjukkan dehidrasi.
Kesimpulan
Natrium adalah salah satu elektrolit yang amat dibutuhkan tubuh untuk menjaga
metabolisme tubuh. Salah satu fungsi elektrolit ini adalah untuk kontraksi dan pergerakan
manusia, dan juga untuk menjaga cairan tubuh karena fungsi dari natrium ini yang dapat
menarik air.
Kelebihan natrium pada tubuh manusia dapat menyebabkan kelebihan cairan,
sehingga elektrolit ini dapat menyebabkan peningkatan dari tekanan darah dikarenakan
fungsi jantung yang bekerja keras dalam memompakan cairan yang banyak.
Hipernatremia atau hypernatraemia adalah sebuah gangguan elektrolit yang
didefinisikan oleh tingkat natrium tinggi dalam darah. Hipernatremia ini umumnya tidak
disebabkan oleh kelebihan natrium, melainkan dengan defisit relatif gratis air dalam
tubuh. Pada hipernatremia, tubuh mengandung terlalu sedikit air dibandingkan dengan
jumlah natrium. Konsentrasi natrium darah biasanya meningkat secara tidak normal jika
kehilangan cairan melampaui kehilangan natrium, yang biasanya terjadi jika minum
terlalu sedikit air.

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai