Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan Kondisi parlemen Indonesia pasca reformasi telah
mencapai bentuk parlemen yang lebih baik daripada bentuk
parlemen pada masa orde lama dan orde baru. Namun
kekurangan-kekurangan masih terdapat dalam bentuk parlemen
kita. Kekurangan itu dapat kita lihat dalam proses pemilihan
legislatif tingkat daerah maupun tingkat pusat. Dimana banyak
kelompok kepentingan yang kecewa ketika calon pilihan mereka
tidak terpilih dalam pemilihan legislatif tersebut. Mereka kesal
dan marah ketika melihat hasil pemilu legislatif tersebut dan
menyalahkan semua pihak terutama Komisi Pemilihan Umum
(KPU) dengan menanamkan isu-isu politik demi mencapai tujuan
kelompok merekaFenomena politik seperti itu sering sekali terjadi
di Indonesia.
Kondisi parlemen seperti itu, muncullah tanggapan-tanggapan
negatif yang dikeluarkan oleh masyarakat bahwa tidak ada
parlemen di Indonesia yang bersih, adil, dan jujur. Opini
masyarakat yang seperti itu dapat merusak demokrasi pancasila
yang selama ini kita jaga kemurniannya dan dijunjung tinggi oleh
leluhur kita. Maka tidak ada lagi kepercayaan rakyat Indonesia
terhadap parlemen dan selalu berfikir negatif terhadap jalannya
pemerintahan di Indonesia.
Masyarakat mengharapkan adanya pemimpin yang benar-benar
memperhatikan kesejahteraan rakyat bukan sebaliknya. Banyak
kelompok kepentingan atau partai politik yang lebih
mementingkan kepentingan partai/ kelompoknya. Jumlah partai
yang semakin banyak tidak lagi menampung aspirasi masyarakat
secara keseluruhan dalam mengharapkan partisipasi politik dari
masyarakat yang benar-benar sadar akan pentingnya suara
mereka dalam mensukseskan pemilu tersebut. Partai politik yang
memainkan perannya sebagai agen untuk mempengaruhi suara

rakyat saat pemilu, dengan mengiming-imingkan sejumlah uang


agar dapat merelakan pilihan rakyat terhadap pilihan yang
merekapun tidak mengerti negara mereka ini akan mau dibawa
kemana, sungguh suatu pembodohan yang jelas dapat kita
perhatikan apabila kita melihat fenomena politik tersebut dengan
kaca mata ilmu sosial dan politik. Money politic, serangan
fajar, pemetaan suara, begitulah istilah yang biasa mereka
sebut untuk memudahkan tujuan yang ingin mereka capai. Begitu
juga dalam perolehan dana yang mereka dapatkan untuk
membiayai proses pemilihan, apakah dana untuk kampanye,
pendaftaran calon, dan alokasi dana yang lain untuk
memenangkan proses pemilihan tersebut. Bisa dikatakan bahwa
segala cara yang dilakukan oleh masing-masing partai untuk
memenangkan calon pilihan mereka

B. Masalah
Masalah yang di ambil dari latar belakang tersebut adalah :
Adakah munculnya golongan baru dalam perebutan kekuasaan
pemerintahan khususnya di Mauluku maupun kota Ambon?
C. Tujuan
Mengatahui adakah muncul golongan baru dalam perebuan
kekuasaan pemerintahan, khususnya yang di Maluku maupun
kota Ambon?

BAB II
ISI

Pembahasan
Kalau melihat sekilas tentang parlemen Indonesia, tampak bahwa
Indonesia adalah negara yang demokratis, bebas mengeluarkan
pendapat, pers secara leluasa menyiarkan berita terkait tentang
pemerintahan terlepas dari baik dan buruknya, serta jaminan
keselamatan seseorang dalam mengeluarkan kritik dan sarannya
terhadap jalannya pemerintahan. Namun negara ini masih tetap
terjajah oleh para pemegang kekuasaan.
Sistem pemilihan parlemen yang masih dianut oleh negara Indonesia
dengan mengandalkan partai-partai politik yang ada untuk menjadi
partisipan dalam mencalonkan menjadi anggota parlemen, menjadikan
lembaga pemerintahan itu menjadi ajang perebutan kekuasaan oleh
antek-antek para penguasa yang menginginkan kekuasaan tanpa
batas. Karena sesuai dengan konsep kekuasaan yang bisa dijadikan
acuan yaitupower tends to corrupt, absolute power corrupt
absolutely, tampak jelas bahwa setiap orang yang memiliki kekuasaan
cenderung menyalahkan kekuasaannya, kekuasaan mutlak sudah
dipastikan menyalahkan kekuasaanya.
Adapun yang namanya muncul golongan-golongan baru yang terdapat
dalam perebutan kekuasaan pemerintahan yang terjadi di Indonesia.
Golangan baru yang terdapat di daerah-daerah yang merupakan
kepercayaan masyarat dalam menanggung aspirasi masyarakat
setempat. Golang-golanga tersebutlah yang menjadi dipercayai
masyarakat sebagai pemimpin yang akan mensejahterakan kehidupan
rakayat. Dimana masyarakat memberikan kepercayaan
seutuhnyakepada golongan-golang tersebut. Salah satu contohnya
adalah golongan kiyai yang terdapat di Madura, yang merupakan
kepercayaan masyarakat Madura, yang mampu menjadi pemimpin di
Madura. Golongan-golongan orang tersebutlah yang dipercai
masyarakat sebagai pemimpin.

Namun setiap daerah memiliki perbedaan dalam berfikir, lain hal yang
terjadi di Maluku. Maluku dengan Ambon Sebagai Ibu kota, memiliki
cara tersendiri dalam memilih pemimpin bagi daerah tersebut. Maluku
sebelum pernah terjadi perang anatar Agama yang menewaskan
banyak masyarakat. Akibat dari insiden tersebutlah, maka timbul cara
pemilihan pemimpin yang terdapat di Maluku.

Pemilihan pemimipin atau kepala daerah masih merupakan anggota


atau merupakan bagian dari politisi, namun yang lebih ditekankan
adalah para calon pemimpin. Cotohnya saja, apabila pada saat
pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur maupun pemilihan Walikota
maupun wakil Walikota, dimana apabila Seorang Gubernur maupun
Walikota yang mencalonkan diri beragama Islama maka, Sang wakil
Gubernur maupun wakil Walikota haruslah Bergama Kristen, maupun
sebaliknya Seorang Gubernur maupun Walikota yang mencalonkan diri
beragama Kristen maka, Sang wakil Gubernur maupun wakil Walikota
haruslah Bergama Islam. Itulah bagaimana sistem pemilihan
pemerintahan di Maluku maupun Kota Ambon yang merupakan akibat
dari insiden perang antar agam yang terjadi Maluku seingga tidak
terjadi kecemburuan antar agama yang mengatakan bahwa pemimpin
yang ini lebih memihak ke agama yang ini maupun pada agama yang
ini, sehingga terjadi keharmonisan antar umat beragama.

BAB III
Penutup

Kesimpulan
Di maluku tidak terdapat munculnya golongan baru dalam perebutan
kekuasaan melainkan bagaimana cara pemilihan atau menetapkan
calon pemimpin yang akan menjabat sebagai Gubernur dan wakil
Gubernur maupun pemilihan calon Walikota maupun wakil Walikota
sehingga terjadi keharmonisan dalam masyarakat maupun umat
beragama yang terdapat di Maluku, Kota Ambon

Saran
Kita sebagai umat Bergama seharusnya dapat hidup dengan rukun,
karena setiap agama selalu mengajarkan hal-hal yang baik, dan tidak
peduli beragama apapun pemimpin yang akan menjabat kita sebagai
umat beragama harus hidup denga rukun. Asalakan pemimpin tersebut
menjalakan tugas dan tanggujawabnya sesuai dan tidak meyalahi
aturan masyarakat akan lebih sejahtera

MAKALAH
PEMBANGUNAN POLITIK

Nama
NPP
KELAS

OLEH
: Hanifa Mutia MaRifah Hukom
: 23.1748
: F- Nindya Praja

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM


NEGERI
KAMPUS SULAWESI SELATAN
TAHUN 2015