Anda di halaman 1dari 20

Menurut bahasa, Ijma adalah kata benda verbal (mashdar) dari kata yang mempunyai dua

makna, memutuskan dan menyepakati sesuatu. Contoh pertama: ajmaa fulan ala kadza (si A
memutuskan begini). Contoh kedua: ajmaa al-qaum ala kadza (orang-orang sepakat bulat
tentang begini). Makna kedua dan pertama sering digabung, di mana bila ada kesepakatan bulat
tentang sesuatu, maka juga ada keputusan tentang soal itu.
Menurut istilah, al-Ghazali mengatakan bahwa pengertian Ijma adalah kesepakatan umat
Muhammad saw, khususnya atau suatu persoalan keagamaan. Menurut jumhur ulama ushul,
Ijma adalah kesepakatan para mujtahid umat Muhammad saw. setelah wafatnya di satu kurung
waktu, atas hukum agama di dalam suatu kejadian (warqiah).
Ijma atau kosensus, sumber hukum syariat ketiga setelah al-Quran dan al-Sunnah, didefinisikan
sebagai persetujuan para ahli hukum Islam pada masa tertentu tentang masalah hukum. AlSyafiiy menolak Ijma para ulama. Pengertian Ijma menurut al-Syafiiy adalah termasuk
persetujuan seluruh masyarakat. Sementara al-Ghazali menyusun sebuah modus vivendi yang
mengikat kebulatan masyarakat mengenai dasar-dasar yang meninggalkan masalah detail bagi
persetujuan ulama, sedang mazhab Syiah tidak menerima Ijma kecuali berasal dari keluarga
nabi. Ijma menurut mereka adalah konsensus yang mewujudkan pandangan imam yang
sempurna dan tidak semata-mata persetujuan ulama tentang suatu opini.
Mayoritas ahli ushul al-fiqh setelah al-Syafiiy memberikan pengertian Ijma sebagai
kesepakatan ulama atau mujtahid mengenai suatu hukum Islam. Misalnya al-Syiraziy (w. 476
H.), mengartikan Ijma sebagai kesepakatan ulama mengenai hukum suatu peristiwa. Sedang
menurut al-Amidiy (w. 631 H.) Ijma adalah kesepakatan semua anggota ahl al-hill wa al-aqd
dari umat Muhammad dalam satu priode tertentu mengenai suatu hukum peristiwa tertentu. Ijma
ialah kebulatan pendapat semua mujtahidin umat Islam atas sesuatu pendapat (hukum) yang
disepakati oleh mereka, baik dalam suatu pertemuan atau berpisah-pisah, maka hukum tersebut
mengikat (wajib ditaati) dan dalam hal ini Ijma merupakan dalil qathiy, akan tetapi kalau
hukum tersebut haya keluar dari kebanyakan mujtahidin maka hanya dianggap sebagai dalil
Dzanniy dan lagi perseorangan boleh mengikuti sedang bagi orang-orang tingkatan mujtahidin
boleh berpendapat lain, selama oleh para penguasa tidak diwajibkan untuk melaksanakannya.
Ijma harus mempunyai dasar yaitu al-Quran dan al-Sunnah.

Definisinya :

Ijma secara bahasa : ( ) Niat yang kuat dan Kesepakatan.

Dan secara istilah :

()

Kesepakatan para mujtahid ummat ini setelah wafatnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
terhadap suatu hukum syari.

Maka keluar dari perkataan kami : ( )kesepakatan : adanya khilaf walaupun dari satu orang,
maka tidak bisa disimpulkan sebagai ijma.

Dan keluar dari perkataan kami : ( )Para mujtahid : Orang awam dan orang yang
bertaqlid, maka kesepakatan dan khilaf mereka tidak dianggap.

Dan keluar dari perkataan kami : ( ) Ummat ini : Ijma selain mereka (ummat Islam),
maka ijma selain mereka tidak dianggap.

Dan keluar dari perkataan kami : ( ) Setelah wafatnya Nabi Shallallahu


alaihi wa sallam : Kesepakatan mereka pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka
tidak dianggap sebagai ijma dari segi keberadaannya sebagai dalil, karena dalil dihasilkan dari
sunnah nabi Shallallahu alaihi wa sallam baik dari perkataan atau perbuatan atau taqrir
(persetujuan), oleh karena itu jika seorang shahabat berkata : Dahulu kami melakukan, atau
Dahulu mereka melakukan seperti ini pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , maka
hal itu marfu secara hukum, tidak dinukil sebagai ijma.

Dan keluar dari perkataan kami : ( ) terhadap hukum syari : Kesepakatan mereka
dalam hukum akal atau hukum kebiasaan, maka hal itu tidak termasuk disini, karena pembahasan
dalam masalah ijma adalah seperti dalil dari dalil-dalil syari.

Ijma merupakan hujjah, dengan dalil-dalil diantaranya :

1. Firman Allah :

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia. (QS. Al-Baqoroh : 143)

Maka firmanNya : Saksi atas manusia, mencakup persaksian terhadap perbuatan-perbuatan


mereka dan hukum-hukum dari perbuatan mereka, dan seorang saksi perkataannya diterima.

2. Firman Allah :

Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS.
An-Nisa : 59)

menunjukkan atas bahwasanya apa-apa yang telah mereka sepakati adalah benar.

3. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam:

Umatku tidak akan bersepakat diatas kesesatan

4. Kami mengatakan : Ijma umat atas sesuatu bisa jadi benar dan bisa jadi salah, jika benar maka
ia adalah hujjah, dan jika salah maka bagaimana mungkin umat yang merupakan umat yang
paling mulia disisi Allah sejak zaman Nabinya sampai hari kiamat bersepakat terhadap suatu
perkara yang batil yang tidak diridhoi oleh Allah? Ini merupakan suatu kemustahilan yang paling
besar.

Macam-macam ijma :

Ijma ada dua macam : Qothi dan Dzonni.

1. Ijma Qothi : Ijma yang diketahui keberadaannya di kalangan umat ini dengan pasti, seperti
ijma atas wajibnya sholat lima waktu dan haramnya zina. Ijma jenis ini tidak ada seorangpun
yang mengingkari ketetapannya dan keberadaannya sebagai hujjah, dan dikafirkan orang yang
menyelisihinya jika ia bukan termasuk orang yang tidak mengetahuinya.

2. Ijma Dzonni : Ijma yang tidak diketahui kecuali dengan dicari dan dipelajari (tatabbu &
istiqro). Dan para ulama telah berselisih tentang kemungkinan tetapnya ijma jenis ini, dan
perkataan yang paling rojih dalam masalah ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
yang mengatakan dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah : Dan ijma yang bisa diterima dengan pasti
adalah ijmanya as-salafush-sholeh, karena yang setelah mereka banyak terjadi ikhtilaf dan umat
ini telah tersebar.

Ketahuilah bahwasanya umat ini tidak mungkin bersepakat untuk menyelisihi suatu dalil yang
shohih dan shorih serta tidak mansukh karena umat ini tidaklah bersepakat kecuali diatas
kebenaran. Dan jika engkau mendapati suatu ijma yang menurutmu menyelisihi kebenaran,
maka perhatikanlah! Mungkin dalilnya yang tidak shohih atau tidak shorih atau mansukh atau
masalah tersebut merupakan masalah yang diperselisihkan yang kamu tidak mengetahuinya.

Syarat-syarat ijma :

Ijma memiliki syarat-syarat, diantaranya :

1. Tetap melalui jalan yang shohih, yaitu dengan kemasyhurannya dikalangan ulama atau
yang menukilkannya adalah orang yang tsiqoh dan luas pengetahuannya.

1. Tidak didahului oleh khilaf yang telah tetap sebelumnya, jika didahului oleh hal itu maka
bukanlah ijma karena perkataan tidak batal dengan kematian yang mengucapkannya.

Maka ijma tidak bisa membatalkan khilaf yang ada sebelumnya, akan tetapi ijma bisa
mencegah terjadinya khilaf. Ini merupakan pendapat yang rojih karena kuatnya pendalilannya.
Dan dikatakan : tidak disyaratkan yang demikian, maka bisa ditetapkan atas salah satu pendapat
yang ada sebelumnya pada masa berikutnya, kemudian ia menjadi hujjah bagi ummat yang
setelahnya. Dan menurut pendapat jumhur, tidak disyaratkan berlalunya zaman orang-orang yang
bersepakat, maka ijma ditetapkan dari ahlinya (mujtahidin) hanya dengan kesepakatan mereka
(pada saat itu juga, pent) dan tidak boleh bagi mereka atau yang selain mereka menyelisihinya
setelah itu, karena dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ijma adalah hujjah, tidak ada padanya
pensyaratan berlalunya zaman terjadinya ijma tersebut. Karena ijma dihasilkan pada saat
terjadinya kesepakatan mereka, maka apa yang bisa membatalkannya?

Dan jika sebagian mujtahid mengatakan sesuatu perkataan atau mengerjakan suatu pekerjaan dan
hal itu masyhur di kalangan ahlul Ijtihad dan tidak ada yang mengingkarinya dengan adanya
kemampuan mereka untuk mengingkari hal tersebut, maka dikatakan : hal tersebut menjadi
ijma, dan dikatakan : hal tersebut menjadi hujjah bukan ijma, dan dikatakan : bukan ijma dan
bukan pula hujjah, dan dikatakan : jika masanya telah berlalu sebelum adanya pengingkaran
maka hal itu merupakan ijma, karena diam mereka (mujtahidin) secara terus-menerus sampai
berlalunya masa padahal mereka memiliki kemampuan untuk mengingkari merupakan dalil atas
kesepakatan mereka, dan ini merupakan pendapat yang paling dekat kepada kebenaran.

Madzhab dalam islam adalah salah satu pedoman dan panutan kita dalam beribadah.
Karena dalam beribadah harus ada panutan yang jelas. Panutan yang benar tentunya
adalah Rosulallah SAW. Namun kita tidak mungkin langsung berhujjah pada Rosul
karena jarak yang ssekian lama. maka di perlukan satu pedoman yang ahli dalam hadist,
quran dan beberapa hal yang lain. Dari sinilah di perlukan madzhab.Dalam islam ada
banyak sekali madzhab yang ada. Namun dari sekian banyak madzhab ada 4 madzhab
yang termashur :
1.

Madzhab

Hanafiah

Nama aslinya adalah Nu'man bin Tsabit bin zuthi. Beliau lahir pada tahun 80.H di
kufah. Abu hanifah adalah seorang pedagang sukses. Beliau berdagang sambil berdialog
dan diskusi masalah islam dengan teman-teman nya. Dari sinilah fatwa-fatwanya di
anut oleh orang banyak dan merupakan madzhab termasyhur di kawasa timur tengah.
Kemudian beliau wafat pada usia 70 tahun di kufah dan di makmkan pula di kufah
2.

Madzhab

Malikiyah

Nama aslinya adalah Abdilah malik bin anas bin malik bin abi amir bin muharist. Beliau
lahir di madinah al munawarah pada tahun 93.H. beliau berada dalam kandungan
ibunya selama 3 th. Beliau belajar tentang agama dari kakeknya yang merupakan murid
dari para sahabat rosul SAW. Beliau wafat pada tahun 173.H dan di makamkan di
madinah.
Adapun
madzhab
ini
berkenbang
di
afrika.
3.

Madzhab

Syafiah

Syafi'i

Nama aslinya adalah abu abdilaah muhamad bin idris assyafi'i. Beliau lahir di giza
(palestina) pada taun 150 H. Kemudian beliau belajar di makkah almukaromah dan
madinah al munawarah sejak usia 2 th. Beliau merupakan ahli bahasa arab dan karena
keahlian inilah beliau menguasai alquran dan hadist. Beliau banyak belajar tentang fikih
kepada imam malik kemudian beliau pergi ke irak untuk ziarah saudarnya yang di
makamkan di irak. Di sinilah beliau mulai mengeluarkan fatwa-fatwanya yang
kemudian
di
sebut
kalam
qodim.
Kemudian belliau hijrah ke mesir dan kemudian ada perbedaan fatwa antara di mesir
dan di irak. Kemudian yang di mesir di sebut kalam jadid dan inilah yang sampai saat
ini banyak di pakai oleh umat islam di indonesia. Belaiu wadat pada tahun 204 Hijriah
di mesir dan di makamkan di mesir. Madzhab ini berkembang di kawasan asia.
4.

Madzhab

Hanbali

Hambali

Nama aslinya hilal bin asad in idris. Lahir di baghdad pada tahun 164.H. Beliau
sebagaimana imam yang lain belajar agama di berbagai penjuru makkah, madinah,
kufah, dll. Beliau merupakan salah satu sahabat imam syafi'i. Oleh karena itu apabila
kita membaca fatwa-fatwa beliau, di sana banyak kesaamaan dengan fatwa imam syafi'i.
Kemudian beliau wafat pada tahun 241 H da di makamkan di baghdad.

Islam merupakan agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hukum-hukum islam banyak
diperuntukkan bagi kemaslahatan umat. Begitu banyaknya hukum islam, hingga banyak ulama
yang memberikan penjelasan tentang hukum-hukum itu. Akhirnya, hukum islam ini terbagi
dalam beberapa mazhab, yang kita kenal sekarang.
Mazhab secara bahasa berarti jalan yang dilalui dan dilewati sesuatu yang menjadi tujuan
seseorang. Sedangkan menurut para ulama dan ahli agama islam, mazhab adalah metode
(manhaj) yang dibuat setelah melalui pemikiran dan penelitian sebagai pedoman yang jelas untuk
kehidupan umat. Lain lagi menurut para ulama fiqih. Menurut mereka, yang dimaksud dengan
mazhab adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid,
yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang mengantarkannya memilih sejumlah hukum dalam
kawasan ilmu furu.
Sebenarnya mazhab dalam islam cukup banyak. Hal ini karena begitu banyaknya ulama-ulama
sejak masa para sahabat yang berijtihad. Namun dari sekian banyak mazhab yang ada tersebut,
hanya sedikit yang mampu bertahan dan masih terus dijadikan panduan hingga saat ini. Mazhab
yang digunakan saat ini terbagi atas dua kelompok besar, yaitu mazhab golongan Sunni (Ahlussunnah wal Jamaah) dan mazhab golongan Syiah.
Mazhab Sunni
Mazhab yang digunakan oleh golongan sunni pada saat ini, yang terkenal ada 4 mazhab. Mazhab
yang emat tersebut adalah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafii, dan Mazhab
Hambali. Keterangan tentang mazhab yang empat tersebut adalah sebagai berikut:
Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi merupakan buah ijtihad dari Imam Abu Hanifah. Beliau dikenal sebagai seorang
ahli fiqih pada masanya. Beliau merupakan salah satu ulama yang tinggal di Irak. Dalam
kehidupannya, beliau pernah merasakan dua pemerintahan, yaitu pemerintahan Umaiyah dan
Abbasiyah.
Beliau merupakan ulama yang sering mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, baik itu ilmu
politik maupun ilmu agama. Beliau sering pula mengikuti berbagai diskusi ilmu. Meskipun
terkenal sebagai ulama yang berilmu, namun beliau merupakan ulama yang rendah hati. Salah
satu ucapan beliau yang cukup terkenal, sekaligus sebagai tanda kerendahan hati beliau adalah:
Bahawasanya pendapat kami adalah salah satu dari pendapat dan jika didapati pendapat yang
lebih baik dan tepat maka pendapat itu lebih benar dan utama.
Banyak juga Megara yang menggunakan Mazhab Hanafi. Negara-negara tersebut diantaranya
adalah Pakistan, India, Banglades, Sri Lanka, Maladewa, Mesir bagian utara, sebagian Irak,
Syria, Libanon, Palestina, dan Kaukasia (Chechnya dan Dagestan).
Mazhab Maliki

Mazhab Maliki bersumber pada ijtihad yang dilakukan oleh Imam Malik. Beliau adalah seorang
ulama dan guru ilmu fiqih yang cukup dikenal pada masanya. Cukup banyak kitab hadist yang
dihafal oleh beliau. Selain itu, beliau merupakan salah seorang hafiz Al-Quran.
Imam Malik adalah seorang yang aktif dalam menuntut ilmu. Beliau banyak berhubungan
dengan ahli-ahli hadits dan ulama. Imam Malik dianggap sebagai ketua atau imam bagi ilmu
hadits. Sanad-sanad (sandararan-sandaran) yang dibawa oleh beliau termasuk salah satu sanadsanad yang terbaik dan benar. Beliau seorang yang dipercayai, adil dan kuat ingatannya, cermat
dan halus memilih rawi-rawi hadits.
Hukum-hukum fiqh yang diberikan oleh Imam Malik adalah berdasarkan Al-Quran dan hadits.
Beliau menjadikan hadits sebagai pembantu dalam memahami Al-Quran, Imam Malik sangat
cermat dalam memberi penerangan dan hukum-hukum. Beliau berfikir panjang sebelum
memberi suatu hukum atau fatwa. Beliau pernah berkata : Kadangkala aku berjaga satu malam
suntuk untuk mencari jawaban atas sebuah persoalan yang disampaikan kepadaku. Apabila
beliau ditanya satu-satu hukum, beliau terus berkata kepada penanya Pulanglah dahulu supaya
aku dapat berfikir.
Mazhab Maliki dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara. Mazhab ini memiliki
keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk Madinah sebagai sumber hukum karena
Nabi Muhammad saw hijrah, hidup, dan meninggal di sana.
Mazhab Syafii
Mazhab Safii merupakan mazhab yang paling banyak digunakan oleh umat muslim di
Indonesia. Mazhab ini merupakan hasil ijtihad Imam Syafii. Beliau banyak mengembara dalam
menceduk dan menimba ilmu. Imam Syafie dianggap seorang yang dapat memadukan antara
hadith dan fikiran dan membentuk undang-undang fiqh. Beliau merupakan mujtadid pada abad
ke-2 Hijriyah. Imam Ahmad Bin Hambal pernah berkata: diceritakan kepada nabi Muhamad
saw bahwa Allah menghantar kepada umat ini seorang Mujtadid, Umar Bin Abdul Aziz dihantar
untuk abad yang pertama dan aku harap Imam Syafie merupakan mujadid abad yang kedua.
Nama asli Imam Syafii adalah Muhammad bin Idris. Beliau dilahirkan di Ghizah, Palestina pada
tahun 105 Hijriyah. Pada masa mudanya, beliauhidup dalam kemiskinan. Hal ini membuat beliau
menulis ilmu fiqihnya pada batu, tulang, dan pelepah tamar yang dikumpulkannya. Beliau
belajar pada beberapa ulama fiqih terkemuka. Diantara ulama-ulama yang pernah mengajarkan
ilmu fiqih kepada beliau adalah Imam Malik.
Banyak negara yang menggunakan Mazhab Syafii sebagai panduan dalam ilmu fiqih. Negaranegara tersebut diantaranya adalah Indonesia, Turki, Irak, Syria, Mesir, Somalia, Yaman,
Thailand, Singapura, Filipina, dan Sri Lanka. Bahkan Mazhab SyafiI merupakan mazhab resmi
untuk negara Malaysia dan Brunei Darussalam.
Mazhab Hambali

Imam Hambali merupakan seorang ulama yang sarat dengan ilmu fiqih. Karena banyaknya ilmu
beliau, maka murid-murid beliau menggunakan ijtihad Imam Hambali sebagai mazhab dalam
ilmu fiqih. Saratnya ilmu agama yang dimiliki oleh Imam Hambali, membuat banyak ulama
yang berguru kepada beliau.
Mazhab Hambali banyak dianut oleh negara-negara di semenanjung Arab. Salah satu negara
yang menganut Mazhab ini adalah Saudi Arabia.
Mazhab Syiah
Selain golongan Sunni, golongan Syiah juga memiliki mazhab mereka sendiri. Pada awalnya
banyak mazhab yang terdapat pada golongan Syiah. Namun dalam perkembangannya, saat ii
hanya ada tiga mazhab yang masih bertahan. Ketiga mazhab tersebut adalah Itsna Asyariah
(paling banyak diikuti), Ismailiyah dan Zaidiyah. Di dalam keyakinan utama Syiah, Ali bin Abu
Thalib dan anak-cucunya dianggap lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan
sebagai khalifah dan imam bagi kaum muslimin. Di antara ketiga mazhab Syiah terdapat
perbedaan dalam hal siapa saja yang menjadi imam dan pengganti para imam tersebut pada saat
ini.
Mazhab Jafari
Mazhab Jafari atau Mazhab Dua Belas Imam (Itsna Asyariah) adalah mazhab dengan penganut
yang terbesar dalam Muslim Syiah. Dinisbatkan kepada Imam ke-6, yaitu Jafar ash-Shadiq bin
Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Keimaman kemudian berlanjut yaitu
sampai Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-Asykari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin
Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Jafar ash-Shadiq. Mazhab ini menjadi mazhab resmi dari
Negara Republik Islam Iran.
Mazhab Ismailiyah
Mazhab Ismaili atau Mazhab Tujuh Imam berpendapat bahwa Ismail bin Jafar adalah Imam
pengganti ayahnya Jafar as-Sadiq, bukan saudaranya Musa al-Kadzim. Dinisbatkan kepada
Ismail bin Jafar ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Garis
Imam Ismailiyah sampai ke Imam-imam Aga Khan, yang mengklaim sebagai keturunannya.
Mazhab Zaidiyah
Mazhab Zaidi atau Mazhab Lima Imam berpendapat bahwa Zaid bin Ali merupakan pengganti
yang berhak atas keimaman dari ayahnya Ali Zainal Abidin, ketimbang saudara tirinya,
Muhammad al-Baqir. Dinisbatkan kepada Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Setelah
kematian imam ke-4, Ali Zainal Abidin, yang ditunjuk sebagai imam selanjutnya adalah anak
sulung beliau yang bernama Muhammad al-Baqir, yang kemudian diteruskan oleh Jafar ashShadiq. Zaid bin Ali menyatakan bahwa imam itu harus melawan penguasa yang zalim dengan
pedang. Setelah Zaid bin Ali syahid pada masa Bani Umayyah, ia digantikan anaknya Yahya bin
Zaid.

Mazhab-mazhab yang ada pada agama islam ini merupakan panduan pengikutnya dalam
mempelajari ilmu fiqih. Mazhab manapun yang digunakan, sebaiknya kita tetap berpegang teguh
pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Wallahu alam..

Pengaruh Mazhab dalam KHI


Ab
dillah Mustari
Al
Risalah
| Volume 10
Nomor
1
Mei
2010

95

PENGARUH
MAZHAB
DALAM MATERI KHI
Abdillah Mustari
Dosen Fakultas Syariah
dan Hukum U
niversitas
I
slam
N
egeri
Alauddin Makassar
Abstra
ct
Muslim scholars such as Abu Hanifah, Malik, SyafiI and Hambali provide their own
methodology in explaining ij
tihad categories that used for justifications in law decision.
Although they did not perform certain schools (mazhab), the critical analysis of their
concepts in Islamic laws has been confirmed as representative Islamic laws within their
generation.
The de
velopment of Islamic schools of thoughts has been shaped in multicultural society
in Indonesia. As in a religious doctrine, Indonesian Muslims are categorized as Asyary
and mostly they include in SyafiI schools. They realize that they are SyafiI schoo
l but
they do not realize that they are under Asyary teology. However, Indonesian Muslims
believe as Ahl Sunnah wa al
Jamaah.

Kata Kunci
:
Mazhab dan KHI
Pengaruh Mazhab dalam KHI
Abdillah Mustari

96
Al
Risalah
| Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

PENDAHULUAN
ndonesia adalah negara berdasarkan hukum yang moderen,
karena pemerintah
dan raky
atnya bergerak dan berpedoman pada hukum Pancasila dan Undang
Undang Dasar 1945 sebagai hukum dasar negara Republik Indonesia yang
menentukan dan mengacu arah, sifat serta sikap aparatur dan masyarakat dalam
menegakkan hukum dan menaati hukum.
Hukum Islam
sebagai tatanan hukum yang dipegangi oleh mayoritas
penduduk dan rakyat Indonesia adalah hukum yang telah hidup di dalam
masyarakat, merupakan sebagian dari ajaran dan keyakinan Islam dan ada dalam
kehidupan hukum nasional, serta merupakan bahan dalam pemb
inaan dan
pengembangannya..
1

Seiring dengan pesatnya pembangunan sejak kemerdekaan Indonesia hingga


sekarang ini, telah banyak muncul dan berkembang praktek kehidupan dan peradaban
baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa pengaruh
terh
adap sikap dan cara hidup bangsa Indonesia. Selanjutnya memberikan dampak
terhadap praktek kehidupan beragama yang menuntut perubahan
perubahan hukum
Islam. Hal ini dirasakan bahwa hukum dan agama adalah dua hal yang sangat
berpengaruh dalam interaksi sosi
al.
Selama ini umat Islam Indonesia telah terbiasa dengan pemahaman bahwa
hukum Islam adalah semua yang ditemui dalam kitab
kitab fikih karya para ulama
(fuqaha) mazhab
mazhab. Pada hal kitab
kitab fikih tersebut adalah uraian
uraian dan
keterangan
keteran

gan yang dihasilkan oleh ijtihad para mujtahid dahulu, pada kurun
waktu yang telah lama sekali.
2

Hukum Islam dalam pemahaman masyarakat adalah hukum fikih hasil


penafsiran imam
imam mazahab pada abad kedua, dan beberapa abad berikutnya.
Apa yang tertuang d
alam kitab
kitab klasik (kitab kuning) berhadapan dengan
1

Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli mengenai berlakunya
hukum Islam
di Indonesia, yaitu: 1) Teori
Receptio in Complexu
yang mengatakan bahwa bagi orang Islam
berlaku penuh hukum Islam, sebab ia telah memeluk agama Islam walaupun dalam
Pelaksanaannya terdapat penyimpangan
penyimpangan. Teori ini dikemukakan oleh
Lodwijk Van
Den Berg (1845
1927); 2) Teori
Receptie
yang menyatakan bahwa rakyat pribumi pada dasarnya
berlaku hukum adat. Hukum Islam berlaku jika norma hukum Islam itu telah diterima oleh
masyarakat sebagai hukum adat.; 3) Teori Receptie Exit, maksudnya
bahwa teori
receptie
harus
keluar dari hukum nasional Indonesia karena bertentangan dengan Undang
Undang Dasar 1945
serta bertentangan dengan Alquran dan sunnah Rasul; 4) Teori
Receptie a Contrario
yang
menyatakan bahwa hukum yang berlaku bagi rakyat adal
ah hukum agamanya, lihat Ichtijanto,
Perkembangan Teroi Berlakunya Hukum Islam di Indonesia dalam Tjun Sumarjan (Ed),
Hukum
Islam di Indonesia Pengembangan dan Pembentukan
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 100
102.
2

Lihat Muhammad Atho Mudzhar, Fi


qh dalam Reaktualisasi Ajaran Islam dalam Budi
Munawar (Ed.),
Kotekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah
(Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina,
1995), h. 369.

I
Pengaruh Mazhab dalam KHI
Ab

dillah Mustari
Al
Risalah
| Volume 10
Nomor
1
Mei
2010

97
masalah
masalah kekinian, terkhusus perubahan struktur sosial dan perubahan
masyarakat Islam di Indonesia.
Pelembagaan hukum Islam pada dekade terakhir ditandai dengan lahirnya
Kompilasi Hukum Islam,
yang kehadirannya merupakan rangkaian sejarah hukum
nasional yang dapat mengungkapkan ragam makna kehidupan masyarakat Islam
Indonesia akan adanya norma hukum yang hidup dalam interaksi sosial masyarakat
Indonesia.
Rumusan Kompilasi Hukum Islam mengarah k
epada unifikasi mazhab hukum,
dan berbentuk kodifikasi dalam sistem hukum Indonesia. Tetapi dirasakan belum
menjawab seluruh permasalahan hukum yang terjadi dalam masyarakat, serta
menjamin tingkat kesadaran hukum umat Islam Indonesia, baik materi hukum
ma
upun ketentuan hukum konstitusionalnya. Maka dengan demikian, diperlukan
kajian lebih lanjut terhadap pengembangan materi Kompilasi Hukum Islam tersebut,
dan mengerahkannya pada kekuatan konstitusional dalam sistem hukum Indonesia.
Dari latar belakang di a
tas, dirumuskan permasalahan pokok yaitu sejauhmana
paham mazhab mempengaruhi kodifikasi hukum Islam
.
PEMBAHASAN
Berlakunya UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan UU No. 7 Tahun
1989 tentang Peradilan Agama, umat Islam Indonesia telah memiliki peratu
ran
perundang
undangan yang amat memadai untuk mengatur masalah
masalah
keluarga; perkawinan, perceraian, dan warisan. Sementara sebagian ulama masih
ada yang belum sepenuhnya memahami atau menyetujui barbagai aturan dalam
kedua undang
undang tersebut kare
na dianggap tidak selamnaya sesuai dengan
apa yang termuat dalam kitab
kitab fikih. Akan tetapi, sebahagian ulama lain
merasa bangga dengan lahirnya undang

undang itu, karena dianggap sebagai


kemajuan besar dalam perkembangan pemikiran hukum Islam di Indon
esia.
Apalagi dengan disepakatinya Kompilasi Hukum Islam oleh para ulama
Indonesia pada Tahun 1988 yang kemudian diikuti Instruksi Presiden No. 1
tanggal 10 Juni 1991 untuk menyebarluaskan dan sedapat mungkin menerapkan
isi kompilasi tersebut, maka hal ini
telah menandai lembaran baru dalam
perkembangan pemikiran hukum Islam di Indonesia khususnya dalam bidang
hukum keluarga.
Dalam rentang sejarah perkembangan dn pembinaan hukum Islam,
kegiatan dan penggunaan lembaga ijtihad telah memainkan peran sangat pen
ting
bgai kemajuan syiar Islam dan kejayaan khazanah Hukum Islam, serta telah
pernah mencapai masa keemasannya. Dari zaman keemasan ini lahir sejumlah
tokoh mujtahid besar yang kemudian aktifitas ijtihadnya dilanjutkan generasi
sesudahnya yang dalam perkem
bangan berikutnya terbentuklah mazhab
nazhab
hukum, namun di antara di antara sekian banyakmazhab itu, yang bertahan dan
populer hingga kini hanya mazhab Hanafi, Malik, Syafii dan Hanbali.
Keempatnya juga Berkembang di Indonesia serta Syii yang sebahagia
n besar
Pengaruh Mazhab dalam KHI
Abdillah Mustari

98
Al
Risalah
| Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

penganutnya di negra
mullah
Iran. Produk
produk ijtihad dalam mazhab
mazhab
tersebut kini telah terhimpun dalam ribuan buku, sebagai khazanah kekayaan
hukum Islam, yang tetap terpelihara, beredar luas dan dijadikan pedoman umat
Islam dalam mengamal
kan ajaran agamanya.
Pola pemikiran mazhab fikih dalam perkembangannya juga
mempenagruhi pola pikir dan pola hidup umat Islam di Indonesia. Kenyataan ini
terlihat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). sekalipun materi KHI tidak
menyebutkan pendapat
pendapat m
azhab, namun dapat ditegaskan ia
merupakan hal penyeleksan dan pemilihan materi hukum mazhab yang tertulis
dalam buku

buku fikih arya fqaha pada masa lalu, yang mempunya dalil kuat
dari Alquran dan hadis Nabi.
Meskipun dalam penyusunan KHI diusahakan tidak
terlihat hanya mazhab
tertentu, namun nampaknya mazhab Syafii cukup mendominasi dibanding
mazhab lainnya.
Misalnya dalam buku I bidang perkawinan KHI pasal 53 tentang kawin
hamil aitu mengawini seorang wanita hamil yang tidak pernah bersuami. Dalam
rumus
an KHI tersebut, nampaknya memihak pada aturan hukum adat bahwa
laki
laki yang menghamli gadis tersebut harus mengawininya.
Dalam pandangan ulama mazhab, mazhab syafii memperkuat ketentuan
adat di atas dengan membolehkan pernikahan gadis hamil. Pandangan
Syafii
bahwa wanita hamil yang tidak pernah bersuami dihukumkan hamilnya itu
bukan hamil iddah. Hamil iddah hanyalah yang bercerai mati suaminya atau cerai
talak. Oleh karena itu, gadis hamil tidak mempunyai iddah dan setiap laki
laki
bisa saja menikahiny
a dan kemudian menggaulinya. Sementara Hanafi
berpendapat tidak boleh menggaulinya, kecuali laki
laki yang menghamilinya
dan setelah menikah bisa terus menggaulinya.
3

Maliki mengatakan bahwa hanya laki


laki yang menghamilinyalah yang
boleh menikahinya, kem
udian sah pergaulannya sebagai suami isteri. Adapun
pendapat Hanbali, gadis hamil tidak boleh dinikahi oleh siapa saja termasuk laki
laki yang menghamilinya.
4

Rumusan KHI tentang masalah ini lebih dekat pada pemikiran mazhab
Syafii. Karena apa yang diatur
pasal 53 dapat diartikan sebagai upaya penekanan
sekecil mungkin terjadinya kehamilan di luar nikah.
Masalah hak dan kewajiban suami isteri diatur dalam bab XII pasal 77
84.
pengaturanini nampaknya sudah cukup dapat merelaisasikan tujuan
perkawinan.
5

Pene
gasan tentang suami sebagai kepala rumah tangga yang mempunyai
tanggung jawab diuraikan dalam pasal 80
-

81, dan isteri sebagai ibu rumah tangga


3

Lihat Hasb ash


Shiddieqy,
Kumpulan Soal Jawab
(Jakarta: Bulan Bintang, 1971), h. 19.
4

Lihat Ha
sbullah Bakri,
Pedoman Islam di Indonesia
(Jakarta: UI
Press, 1988), h.202.
5

QS. Al
Rum (30);21. QS. An
Nisa (4):19.
Pengaruh Mazhab dalam KHI
Ab
dillah Mustari
Al
Risalah
| Volume 10
Nomor
1
Mei
2010

99
dan kewajibannya sebagaimana dikemukakan padal pasal 81
84, disamping
masing
masing mempunyai kedudukan sembang.
Hal ini sejalan dengan maksud
tersurat dan tersirat dalam QS. Al
Baqarah (2)233 dan QS. An
Nisa (4):34.
Para ulama sepakat tentang wajibnya pemberian nafka kepada isteri dan
melindunginya (pasal 80 (2)), juga tentang nafkah atas wanita yang menjalani
idda
h karena ditingal mati saminya, baik dalam keadaan mengandung atau tidak.
Tetapi dalam pandangan Malik dan Syafii, bahwa wani
t
a yang cerai mati
hanya berhak memperoleh nafkah berupa tempat tinggal. Kemudian Syafii
menambahkan bahwa apabila seorang wanita
talak
bain
dalam keadaan hamil,
kemudian suaminya meninggal sementara isterinya dalam keadaan iddah, maka

atas isterinya tidak terputus.


6

Sementara Hanafi mengatakan bahwa wanita yang


ditalak bain, baik dalam keadaan hamil atau tidak, berhak atas nafkah
sepanjang
masa idahnya tidak meninggalkan rumah.
7

Bahasa KHI bersifat global, tidak membedakan kewajiban suami


memberikan rezeki dan menyediakan tempat tinggal bagi isterinya, baik dalam
ikatan perkawinan maupun dalam iddah talak atau iddah mati. Kecuali
isteri
nusyuz
yang ke
nusyuz
annya diatur dalam pasal 84 KHI.
Fuqaha sependapat bahwa isteri yang nusyuz tidak berhak memperoleh
nafkah. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang batasan nusyuz yang
mengakibatkan gugurnya nafkah.
Hanafi berpendapat, manakala is
teri tetap tinggal dalam rumah suami dan
tidak meninggalkan rumah tanpa izin suaminya, maka dia masuh dianggap patuh
(
mutiah
). Sekalipun menolak dicampuri tanpa ala
s
an yang dibenarkan syara.
Penolakan seperti itu sekalipun haram, tetapi tidak menggugurka
n haknya atas
nafkah. Pada intinya, sami berkewajiban memeberi nafkah kepada isterinya yang
masih berada di rumah suaminya.
Berbeda dengan mazhab lain yang menitikberatkan kenusyuzan isteri
apabila tidak bersedia digauli dan ber
khalwat
tanpa alasan yang
dibenarkan
syara maupun rasio, dan hal ini menghilangkan haknya menerima nafkah.
Bahkan Syafii lebih tegas dalam menilai kesediaan isteri dicampuri. Isteri
dipandang bersedia bila dia menawarkan diriny dengan ucapan tegas aku
menyerahkan diriku kepadamu
.
8

Silang pendapat ini disebabkan adanya pertentangan antara dalil yang


bersifat
kulli
dengan pengertian nafkah. Ketentuan tersebut adalah sabda Nabi
saw., :
6

Muhammad Jawad Mughniyah,


Fiqh ala al
Mazahib al
-

Khamzah
(Beirut: Dar al
Jawad, 1417
H./1996 M.), h. 401.
7

Wizarah al
Adli,
Ahkam al
Sy
ariyat fi ahwal al
Syakhsiyat ala Mazhab al
Imam al
Azam Abi
Hanifah al
Numan
(t.t.: Maktanah wa Mutbaah Muhammad Ali Sabyh wa Auladuhu, 1380
H./1969 M.), h. 401.
8

Mughniyah,
op. cit.,
h. 402.

Web : http://www.uin-alauddin.ac.id/download-8.%20pengaruh%20mazhab-Abdillah
%2099-108.pdf