Anda di halaman 1dari 44

TRAUMA MAKSILOFASIAL

ALVIVIN
11.2014.249

DEFINISI
Trauma maksilofasial mengacu pada
setiap cedera pada wajah atau rahang
yang disebabkan oleh kekuatan fisik,
benda
asing,
hewan
atau
gigitan
manusia, atau luka bakar.

Klasifikasi
Trauma Maksilofacial dibagi atas fraktur pada
organ yang terjadi :

Fraktur tulang nasal


Fraktur tulang zigoma
Fraktur tulang maksila (mid facial)
Fraktur tulang mandibula
Fraktur orbita
Trauma bola mata

EPIDEMIOLOGI
Trauma Wajah
6-25% :
fraktur
maxilaris

36-70% :
fraktur
mandibula
5% : fraktur
zygomaticum
disertai
cedera mata

Laki-laki :
perempuan
rasio 4:1

> 50% pasien


dengan trauma
wajah
mengalami
multiple injury

ANATOMI WAJAH

ANAMNESIS
Dapat bernapas keluar dari kedua sisi
hidung?
Apakah mengalami kesulitan berbicara?
Apakah memiliki penglihatan ganda atau
masalah lain dengan lapang pandang?
Apakah pendengaran normal ?
Apakah mengalami mati rasa pada wajah?
Apakah pernah punya luka di wajah
sebelumnya atau operasi, termasuk
prosedur untuk memperbaiki penglihatan?
Apakah ada perubahan pada letak gigi?
Apakah ada gigi yang menyakitkan atau
longgar?

PEMERIKSAAN FISIS

Foto skull AP Lateral

CT-Scan 3D

Foto waters

Panoramic

TABEL PENYULIT CEDERA WAJAH


OTAK

-KESADARAN

SARAF OTAK

-SENSORIK: - KULIT
- PANCA INDRA
-MOTORIK: - MULUT, FARING, LARING
- OTOT WAJAH, PANCAINDRA

JALAN NAPAS

-UDEM JALAN NAPAS ATAS


- ASPIRASI
- PERDARAHAN
- DISLOKASI FRAKTUR

JALAN CERNA

-MENGUNYAH
-MENELAN
-KELENJAR LIUR

PANCAINDRA

-ORGAN MATA,TELINGA, HIDUNG,


LIDAH

KOSMETIK

-PATAH TULANG, DISLOKASI


- RETRAKSI BIBIR, KELOPAK MATA
-KONTRAKTUR KULIT

FRAKTUR NASAL
Pada pemeriksaan fisik ditemukan:
- pembengkakan
- epistaksis
- deviasi hidung
- nyeri tekan
- krepitasi
- teraba garis fraktur

Hampir selalu disertai dengan epitaksis


pemasangan tampon
Tampon biasa diangkat dalam 2-5 hari dan pada
saat yang bersamaan dapat dilakukan reduksi.
Elevasi kepala dan kompres hidung dengan es
dapat mengurangi udem dengan cepat sekaligus
mengurangi nyeri.

Reduksi fraktur dilakukan pada hari ke 5-10


pada orang dewasa dan 3-7 pada anak-anak.
Patahan dapat dilindungi dengan gips tipis
berbentuk kupu-kupu untuk satu hingga dua
minggu sambil mengatasi cedera lain yang
mengancam jiwa.

FRAKTUR ZYGOMATIKUM
Zygoma didukung oleh 4 regio
Sutura Zygomaticofrontal
(ZF)

Sutura
Zygomaticotemporal
Inferior orbital rim
Zygomaticomaxillary
buttress
(IO)
Fraktur
zygomatikum

Shear Type
Ada celah / deviasi
ZF

Shear tipe Medial

Shear tipe Lateral

Greenstick
Type
Tidak Ada celah /
deviasi ZF

Greenstick tipe
Medial

Greenstick tipe
Lateral

Pada pemeriksaan fisik ditemukan:


- adanya edema
- ekimosis periorbita
- hematoma subkonjungtiva
- retraksi kelopak mata bawah unilateral akibat
depresi os zigoma
- epistaksis unilateral
- maloklusi sisi yang terkena
- eksoftalmus
- pada palpasi teraba adanya pergeseran zigoma
ke inferior dan posterior
- asimetris tulang pipi

Pada rontgen foto posisi Waters, Caldwell atau


submentovertex dapat memperlihatkan proyeksi
arkus zigoma.
Reduksi fraktur zigoma dilakukan melalui insisi
kombinasi. Sebagai prinsip umum, kesegarisan
(alignment) os zigoma harus ditetapkan pada
setidaknya 3 area dan difiksasi di setidaknya 2
area dengan miniplate dan sekrup.

Klasifikasi Fraktur Zigoma (Knight and


Nort)
GRUP I

Tidak ada pergeseran ( displacement) yang signifikan;


fraktur terlihat pada foto rontgen namun fragme tetap
segaris: 6%

GRUP II

Fraktur arkus zigoma; dengan arkus melesak kedalam


tanpa keterlibatan orbita atau bagian anterior: 10%

GRUP III

Fraktur korpus; bergeser ke bawah dan ke dalam,


namun tidak ada rotasi: 33%

GRUP IV

Fraktur korpus zigoma dengan yang berotasi ke


medial; bergeser ke bawah; ke dalam dan ke belakang
dengan rotasi medial: 11%

GRUP V

Fraktur korpus dengan rotasi ke lateral; bergeser ke


bawah, belakang dan medial dengan rotasi zigoma ke
lateral: 22%

GRUP VI

Semua kasus fraktur zigoma yang disertai dengan


garis fraktur tambahan yang melewati fragmen utama:
18%

KLASIFIKASI
TRAUMA WAJAH
TRAUMA
WAJAH
FRAKTUR MAKSILLA

Le Fort I & II

Le Fort III

Fraktur Le Fort tipe I (Guerins)/


(transversal)
merupakan jenis fraktur
yang paling sering
terjadi,
Fraktur Le Fort I meliputi
fraktur horizontal bagian
bawah antara maxilla dan
palatum/arkus alveolar
kompleks.
menyebabkan
terpisahnya prosesus
alveolaris dan palatum
durum.
Garis fraktur berjalan ke
belakang melalui lamina
pterigoid. Fraktur ini bisa
unilateral atau bilateral.

Fraktur ini menyebabkan rahang atas mengalami


pergerakan yang disebut floating jaw.
Pergerakan palatum durum dan gigi bagian atas.
Edema pada wajah
Hipoestesia nervus infraorbital kemungkinan
terjadi akibat dari adanya edema.
Hal ini dievaluasi dengan memegang gigi
seri dan palatum durum dan mendorong
masuk dan keluar secara lembut.

Fraktur Le Fort tipe II


Fraktur Le Fort tipe II = fraktur
piramidal.
Berjalan melalui tulang hidung
dan diteruskan ke tulang
lakrimalis, dasar orbita, pinggir
infraorbita dan menyebrang ke
bagian atas dari sinus maksila
juga ke arah lamina pterigoid
sampai ke arah fossa
pterigopalatina.
Fraktur pada lamina kribriformis
dan atap sel sel etmoid dapat
merusak sistem lakrimalis.
Karena sangat mudah
digerakkan maka disebut juga
fraktur ini sebagai floating
maxilla (maksila yang
melayang) .

Fraktur Le Fort III


Garis Fraktur melalui
sutura nasofrontal
diteruskan sepanjang
ethmoid junction melalui
fissure orbitalis superior
melintang kearah dinding
lateral ke orbita, sutura
zigomatico-frontal dan
sutura temporozigomatikum.
Disebut juga sebagai
cranio-facial
disjunction. Merupakan
fraktur yang memisahkan
secara lengkap sutura
tulang dan tulang cranial.

OPERASI
Fraktur Maxilaris
ORIF apabila ada fraktur
berat yang menyebabkan
mobilitas rahang atas
Dilakukan dengan fiksasi
intermaxillary tepi tulang
piriform dan
zygomaticomaxillary buttres.

FRAKTUR MANDIBULA
Kondilar /
Subkondilar
Simpisis

Angulus
Korpus mandibula

ANATOMI
MANDIBULA

KLASIFIKASI
MANDIBULA

FRAKTUR
MANDIBULA
1/3 fraktur mandibula terjadi di
daerah kondilar-subkondilar,
1/3 terjadi di daerah angulus,
dan
1/3 lainnya terjadi di daerah
korpus, simfisis, dan
parasimfisis.
Daerah-daerah tersebut
merupakan daerah lemah pada
mandibula. Angulus diperlemah
oleh adanya gigi molar ketiga dan
ke anterior, daerah parasimfisis
diperlemah oleh akar gigi taring
yang panjang, dan daerah
subkondilar merupakan daerah
yang tipis.

Fraktur Mandibula
Fraktur simfisis atau korpus
mandibula fiksasi sementara
dengan kawat pengantin (kawat
24-gauge dibungkus sekitar 2 gigi
di kedua sisi fraktur)
Fraktur mandibula tanpa disertai
displacement

reduksi tertutup dan


fiksasi
intermaxillary selama 5-6
minggu.
namun banyak pasien
memilih
ORIF

FRAKTUR NOE (NASAL-ORBITAL-ETMOID)


NOE merupakan kompleks anatomi yang terdiri
dari os frontal, nasal, maksila, lakrimal, etmoid,
dan sfenoid.
Fraktur NOE dapat disertai gangguan jalan
napas, penglihatan, pendengaran, fungsi oklusi,
dan gangguan saraf kranial.
Adanya cairan dari hidung harus dicurigai
sebagai cairan serebrospinal.
Terapi operatif harus dilakukan secepatnya.

FRAKTUR PANFASIAL
Fraktur yang mencakup:
Os frontal
Wajah tengah
Mandibula
CT scan 3 dimensi: keparahan dan pola fraktur panfasial dapat
ditentukan.
Insisi yang sering digunakan adalah insisi koronal, karena
menghasilkan visualisasi luas terhadap sepertiga atas area
wajah.
Kalau diperlukan, prosedur bedah saraf dilakukan dalam waktu
bersamaan.

FRAKTUR ORBITA
Terjadi akibat trauma langsung pada tepi tulang
orbita atau pada os zigomatikus. Trauma tidak
langsung disebabkan oleh benda bulat misalnya
bola yang menyebabkan tekanan besar sehingga
timbul efek letupan dalam orbita yang merusak
tulang dasar orbita. Akibatnya sebagian isi orbita
masuk ke sinus maksilaris. Kejadian ini disebut
patah tulang letup keluar ( blow-out fracture)

Gambaran klinis:
- hematoma monokel yang dapat disertai diplopia,
- hemomaksila,
- mati rasa pipi akibat cedera n.infraorbitalis atau
mati rasa dahi karena kerusakan n. supraorbitalis.
Fraktur letup dapat menyebabkan enoftalmos dan
sering disertai dengan terjepitnya m.rektus inferior
di dalam patahan sehingga gerakan mata sangat
terganggu dan penderitanya mengalami diplopia.
Pengelolaan cedera letup ini memerlukan keahlian
khusus.

Fraktur Orbita
Kerjasama dengan bagian oftalmologi
Pendekatan operasi
subciliary (banyak komplikasi)
subtarsal
transconjunctival (komplikasi
minimal)
transconjunctival dengan
canthotomy lateral

TRAUMA BOLA MATA


Digolongkan menjadi 3:
- kombustio bola mata
- trauma tumpul
- trauma tajam

KOMBUSTIO BOLA MATA


Penyebab : paparan bahan kimia yang bersifat asam
atau basa.
Pertolongan darurat dapat berupa irigasi segera dengan
air bersih atau larutan garam 0,9% secara terus
menerus sampai penderita tiba di rumah sakit. Mata
tidak boleh ditutup agar bola mata dapat terus
bergerak.
Rangsangan sinar matahari, pantulan salju dan api
pengelasan menyebabkan tukak kecil pada kornea
(punktata). Radiasi atom dapat merusak retina dan
pleksus koroideus.

Gejala:
- blefarospasme
- mata berair terus
- konjungtivitis sehingga penderita selalu
mengucek matanya.
Pada pemeriksaan tampak pembengkakan
kornea, stroma bagian luar berawan, dan
tampak sel-sel mengapung di kamar depan.
Pupil semakin melebar dan tidak bereaksi.

Penyulit berupa ulserasi kornea yang dapat


berlanjut menjadi perforasi.
Untuk mencegah infeksi diberikan tetes mata
antibiotik, tetapi jika infeksi tetap terjadi, dapat
disuntikkan antibiotika langsung ke
subkonjungtiva untuk mencegah perforasi.
Jika bahaya perforasi mengancam kornea
maupun sklera, atau ulkus menunjukkan tanda
meluas, sebaiknya diusahakan penutupan dengan
flap konjungtiva atau cangkok kornea.
Penyulit lanjut dapat berupa katarak, glaukoma
sekunder, iridosiklitis dan simblefaron.

TRAUMA TUMPUL DAN TAJAM


Trauma tumpul dapat menyebabkan ekimosis,
perdarahan subkonjungtiva, hifema, iris lepas dan
luksasio lensa.
Bila trauma hebat dapat terjadi perdarahan korpus
vitreum. Trauma tajam berupa luka tembus cukup
berbahaya dan menimbulkan kebutaan.
Pemeriksaan dimulai dengan menilai visus. Kalau
mata tidak dapat dibuka, sebaiknya diberikan
anestetik yang diteteskan pada mukosa kelopak
mata bagian bawah secukupnya.

Perdarahan subkonjungtiva terbatas umumnya


bukan disebabkan oleh cedera yang berarti,
sedangkan hematoma subkonjungtiva yang luas
menandai trauma berat.
Benda asing di konjungtiva dapat ditemukan
dan dikeluarkan setelah kelopak mata atas
dibalik tanpa perlu anestetik. Sebaliknya,
pengambilan benda asing dari kornea
memerlukan anestesia sehingga sebaiknya
penderita segera di rujuk.

PENATALAKSANAAN
Penangan
an Awal
Airway
Breathing
Circulation
Disability
Exposure

Konservat
if

Operasi

KONSERVATIF
Resusitasi
Oksigenasi
Cairan
kristaloid
isotonik

Antibiotik
Luka pada
wajah :
cefazolin
Luka dalam
rongga mulut :
klindamisin
atau penisilin
Fraktur +
sinus :
amoksisilin
Fraktur +
kebocoran
CSF :
vancomycin
dan
sefalosporin

Manajemen nyeri
Kontrol antiinflamasi :
Ibuprofen,
naproxen, atau
ketorolac
(Toradol)
Kontrol pusat
nyeri : Kodein,
oxycodone,
hydrocodone,
meperidine

KOMPLIKASI
Mengalami kesulitan untuk makan
Mengalami
kesulitan
untuk bicara
Mengalami
kesulitan

bernafas

Gangguan penglihatan
Pendarahan yang parah
Mati rasa pada wajah

KOMPLIKASI TRAUMA WAJAH