Anda di halaman 1dari 14

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

TRAUMA OKULI
2.1.1. Definisi
Trauma okuli adalah trauma atau cedera yang terjadi pada mata yang dapat
mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan rongga orbita,
kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi mata sebagai indra
penglihatan. 1
2.1.2. Klasifikasi
Menurut Birmingham Eye Trauma Terminology (BETT), trauma mata dibagi menjadi:
a. Tertutup
-

Kontusio: tidak ada luka pada bola mata

Laserasi lamellar: hanya mengenai setengah dari ketebalan dinding bola mata.

b. Terbuka
-

Laserasi: mengenai seluruh ketebalan dinding bola mata yang disebabkan benda
tajam

Penetrasi: satu agen menyebabkan satu luka masuk

Benda asing dalam mata: sama dengan penetrasi tetapi dikelompokan sendiri
karena memerlukan penanganan berbeda.

Perforasi: terdapat luka masuk dan luka keluar

Ruptur: mengenai seluruh ketebalan dinding bola mata yang disebabkan benda
tumpul2

2.1.3. Etio-Patogenesis
Beratnya trauma yang terjadi ditentukan oleh ukuran benda, komposisi dan
kecepatan pada saat bertumbukan. Benda tajam seperti pisau akan menimbulkan luka
laserasi yang jelas pada bola mata. Berbeda dengan kerusakan akibat benda asing yang
terbang beratnya kerusakan ditentukan oleh energi kinetik yang dimiliki. Contohnya
pada peluru pistol angin yang besar dan memiliki kecepatan yang tidak terlalu besar
memiliki energi kinetik yang tinggi dan menyebabkan kerusakan mata yang cukup parah.
Kontras dengan pecahan benda tajam yang memiliki massa yang kecil dengan kecepatan

tinggi akan menimbulkan laserasi dengan batas yang jelas dan beratnya kerusakan lebih
ringan dibandingkan kerusakan akibat peluru pistol angin.1
Terdapat empat mekanisme yang menyebabkan terjadi trauma okuli yaitu coup,
countercoup, equatorial, dan global repositioning. Cuop adalah kekuatan yang disebabkan
langsung oleh trauma. Countercoup merupakan gelombang getaran yang diberikan oleh
cuop, dan diteruskan melalui okuler dan struktur orbita. Akibat dari trauma ini, bagian
equator dari bola mata cenderung mengambang dan merubah arsitektur dari okuli normal.
Pada akhirnya, bola mata akan kembali ke bentuk normalnya, akan tetapi hal ini tidak
selalu seperti yang diharapkan.1
Trauma pada mata dapat mengenai organ mata dari yang terdepan sampai yang
terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai :
1. Palpebra mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis dapat
menyebabkan suatu ptosis yang permanen.
2. Saluran Lakrimalis dapat merusak sistem pengaliran air mata dari pungtum lakrimalis
sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan air mata.
3. Congjungtiva dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan
sub konjungtiva.
4. Sklera bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekanan bola
mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera yang lebar dapat disertai
prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi injury.
5. Kornea, bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan karena fungsi
corneas ebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris
prolaps, korpus vitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus.
6. Lensa bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga
menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena daya
akomodasi tisak adekuat.
7. Iris bila ada trauma akan robekan pada akar iris (iridodialisis), sehingga pupil agak
kepinggir letaknya, pada pemeriksaan biasa terdapat warna gelap selain pada pupil,
tetapi juga pada dasar iris tempat iridodialisis.
8. Pupil, bila ada trauma akan menyebabkan melemahnya otot-otot sfinter pupil
sehingga pupil menjadi midriasis

2.1.4. Manifestasi Klinis


Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai tertinggalnya
benda asing di dalam mata. Benda asing yang tertinggal dapat bersifat tidak beracun
(seperti pasir, kaca) dan beracun (contohnya logam besi, tembaga serta bahan dari
tumbuhan misalnya potongan kayu). Bahan tidak beracun dapat pula menimbulkan
infeksi jika tercemar oleh kuman.
Bila trauma yang disebabkan benda tajam atau benda asing lainya masuk kedalam
bola mata maka akan mengakibatkan tanda-tanda bola mata tembus seperti :
a. Tajam penglihatan yang menurun akibat terdapatnya kekeruhan media refrakta secara
langsung atau tidak langsung akibat trauma tembus tersebut
b. Bentuk dan letak pupil yang berubah
c. Terlihat adanya ruptur pada kornea atau sclera
d. Terdapat jaringan yang prolaps, seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca atau retina
e. Konjungtivis kemotis
f. Mata merah, nyeri, fotofobia, blefarospasme dan lakrimasi
g. Tekanan bola mata rendah akibat keluarnya cairan bola mata
h. Bilik mata dangkal akibat perforasi kornea
i. Adanya hifema pada bilik mata depan1
2.1.5. Diagnosis
Anamnesis
-

Mekanisme trauma harus ditanyakan dengan detail dan lengkap

Bentuk dan ukuran benda penyebab trauma.

Asal dari objek penyebab trauma.

Kemungkinan adanya benda asing pada bola mata dan atau pada orbita.

Keadaan saat terjadinya trauma

Waktu dan lokasi terjadinya trauma.

Aksesoris mata yang dapat melindungi atau berkontribusi pada trauma akut.

Keadaan miopia berat menyebabkan mata lebih rentan terhadap trauna kompresi
anterior-posterior.

Riwayat medis

Riwayat mata

Operasi mata sebelumnya, dapat membuat jaringan lebih mudah ruptur.

Penglihatan sebelum terjadinya trauma pada kedua mata.

Penyakit mata yang ada.

Medikasi yang sedang dijalani termasuk obat tetes mata dan alergi.1

Pemeriksaan fisik

Orbita
Periksa adanya deformitas tulang, benda asing, dan dislokasi bola mata. Benda
asing pada mata yang tertanam atau bila terjadi perforasi harus dijaga hingga

dilakukan pembedahan.
Palpebra
Pelpebra dan trauma kelenjar lakrimal dapat menunjukan adanya trauma yang
dalam pada mata. Laserasi pada palpebra dapat menyebabkan perforasi bola mata.

Perbaikan palpebra ditunda hingga trauma bola mata ditentukan penyebabnya.


Konjungtiva
Laserasi konjungtiva dapat terjadi pada kerusakan sklera yang serius. Perdarahan

konjungtiva yang berat dapat mengindikasikan ruptur bola mata.


Kornea dan sclera
Laserasi kornea penuh atau yang melibatkan sklera merupakan bagian dari ruptur
bola mata dan harus diperbaiki di kamar operasi. Dapat terjadi prolapse iris pada
laserasi kornea penuh. Tekanan bola mata umumnya rendah, namun pengukuran

merupakan kontraindikasi untuk menghindari penekanan pada bola mata.4


Pupil
Periksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan afferent pupillary defect (APD). Bentuk
lancip, tetesan air, atau ireguler bisa terjadi pada ruptur bola mata.
Segmen anterior

Pada pemeriksaan dengan lampu sliIt, bisa ditemukan defek pada iris, laserasi kornea,
prolaps iris, hifema, dan kerusakan lensa. Bilik mata depan dangkal dapat menjadi
tanda ruptur bola mata dengan prognosis yang buruk. Pada ruptur posterior dapat

ditemukan bilik mata depan dalam pada ekstrusi vitreous pada segmen posterior.
Temuan lain
Perdarahan viteous setelah trauma menunjukan adanya robekan retina atau koroid,
avulsi saraf optikus, atau adanya benda asing. Robekan retina, edema, ablasio, dan

hemoragi dapat terjadi pada ruptur bola mata.1,2


Pemeriksaan penunjang
Foto polos orbita untuk mencari benda asing radioopak.
USG orbita pada keadaan media refraksi keruh untuk mendapatkan informasi tentang
status dari struktur intraokuler, lokalisasi dari benda asing intraokuler, deteksi benda
asing non metalik, deteksi perdarahan koroid, ruptur sklera posterior, ablasio retina,

dan perdarahan sub retina.


CT Scan untuk evaluasi struktur intraokuler dan periorbita, deteksi adanya benda
asing intraokuler metalik dan menentukan terdapatnya atau derajat kerusakan

periokuler, keikutsertaan trauma intrakranial misalnya perdarahan subdural.


MRI sangat baik untuk menilai jaringan lunak tetapi kontraindikasi pada benda asing

yang terbuat dari metal.


Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola
mata (normal 12-25 mmHg). Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop:
mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi. Pemeriksaan
Laboratorium, seperti : SDP, leukosit, kemungkinan adanya infeksi sekunder.
Pemeriksaan kultur untuk mengetahui jenis kumannya. Perlu pemeriksaan tonometri
Schiotz, perimetri, gonioskopi, tonografi, maupun funduskopi.

2.1.6. Penatalaksanaan2
Teknik yang digunakan tergantung dari beratnya luka dan adanya komplikasi

seperti

inkarserasi iris, COA yang datar, dan kerusakan intraokular.

Laserasi kornea kecil


Tidak membutuhkan penjahitan karena bisa menyembuh sempurna atau dengan
bantuan lensa kontak yang seperti perban lembut.

Laserasi kornea ukuran medium


Biasanya membutuhkan jahitan terutama jika COA datar. COA yang datar dapat
kembali berubah semula secara spontan jika kornea telah dijahit, jika tidak, harus
dikembalikan dengan solusio garam seimbang. Bandage contanct lens post operatif
juga berguna selama beberapa hari untuk meyakinkan bahwa COA tetap dalam.

Laserasi kornea dengan inkarserasi iris


Manajemen tergantung dari durasi dan luasnya inkarserasi. Kebocoran kecil dari
inkarserasi yang baru terjadi dapat digantikan oleh konstriksi pupil. Inkarserasi iris
yang besar harus di absisi terutama jika iris terlihat non-viabel.

Laserasi kornea dengan kerusakan lensa


Diterapi

dengan

menjahit

laserasi

dan

memindahkan

lensa

dengan

phacoemulsification atau dengan vitreus cutter jika vitreus terlibat.


Luka pada sklera anterior dapat berhubungan dengan komplikasi serius seperti
prolaps uvea dan inkarserasi vitreus. Inkarserasi vitreus meskipun dengan manajemen
yang tepat, dapat menimbulkan traksi vitreoretina dan ablasio retina.
2.1.7. Komplikasi
Komplikasi yang ditentukan setelah trauma okuli perforans :
a. Infeksi : endoftalmitis, panoftalmitis
b. Katarak traumatic
c. Galukoma sekunder
d. Oftalmika simpatika
e. Ablasi retina
f. Perdarahan intraokuler
g. Ptisis bulbi
Endoftalmitis dapat terjadi dalam beberapa jam hingga dalam beberapa minggu
tergantung pada jenis mikroorganisme yang terlibat. Endoftalmitis dapat berlanjut menjadi
panoftalmitis.
Simpatetik oftalmika adalah inflamasi yang terjadi pada mata yang tidak cedera
dalam jangka waktu 5 hari sampai 60 tahun dan biasanya 90% terjadi dalam 1 tahun. 8
Diduga akibat respon autoimun akibat terekposnya uvea karena cedera, keadaan ini

menimbulkan nyeri, penurunan ketajaman penglihatan mendadak, dan fotofobia yang dapat
membaik dengan enukleasi mata yang cedera.1
2.1.8. Prognosis
Prognosis berhubungan dengan sejumlah faktor seperti visus awal, tipe dan luasnya
luka, adanya atau tidak adanya ablasio retina, atau benda asing. Secara umum, semakin
posterior penetrasi dan semakin besar laserasi atau ruptur, prognosis semakin buruk.
Trauma yang disebabkan oleh objek besar yang menyebabkan laserasi kornea tapi
menyisakan badan vitreus, sklera dan retina yang tidak luka mempunyai prognosis
penglihatan yang baik dibandingkan laserasi kecil yang melibatkan bagian posteror.
Trauma tembus akibat benda asing yg bersifat inert pun mempunyai prognosis yang baik.
Trauma tembus akibat benda asing yang sifatnya reaktif magnetik lebih mudah dikeluarka
dan prognosisnya lebih baik. Pada luka penetrasi, 50-75% mata akan mencapai visus akhir
5/200 atau lebih baik.2

2.2. Ruptur Kornea


2.2.1. Definisi
Ruptur kornea merupakan trauma pada kornea baik sebagian / partial- maupun
seluruh ketebalan / full-thickness. Luka partial-thickness tidak mengganggu bola mata
(abrasi) sedangkan Luka full-thickness penetrasi penuh pada kornea, menyebabkan ruptur
dari bola mata. 3
2.2.2. Etiologi
a. Ruptur kornea (luka terbuka atau open globe) diakibatkan oleh trauma yang bersifat
tumpul. Luka terjadi akibat peningkatan tiba-tiba melalui mekanisme inside-out
(dalam ke luar) sebagai mekanisme cedera.
b. Laserasi adalah luka full thickness pada dinding mata akibat objek yang tajam.
Mekanisme adalah outside in (luar ke dalam). Termasuk di bawah laserasi adalah
luka perforasi, luka penetrasi, dan akibat benda asing.3

2.2.3. Diagnosis

a. Anamnesis, perlu ditanyakan bagaimana cedera pada mata terjadi, ketajaman


penglihatannya, dan mengetahui mekanisme bagaimana mata itu rusak secara spesifik.
b. Inspeksi, diperhatikan apakah adanya darah di belakang kornea (hifema), ini
menunjukkan cedera yang signifikan pada kornea, perhatikan jika terdapat laserasi pada
kornea dan jika terdapat prolaps iris yang ditandai dengan pupil yang berbentuk iregular.
c. Pemeriksaan dengan slitlamp menunjukkan kamera okuli anterior yang dangkal,
penumpukkan darah di segmen anterior atau posterior,lensa yang opak,dan prolaps
iris,dengan menggunakan teknik iluminasi retrograde dimana kornea diiluminasi dengan
cahaya yang dipantulkan dari iris melalui slitlamp yang diarahkan langsung ke dalam
mata3
2.2.4. Penatalaksanaan
a. Penyembuhan Luka Kornea
Dalam waktu satu jam setelah trauma, sel epitel parabasilar mulai membelah dan
bermigrasi ke seluruh denudation area secara terus menerus untuk menutup defek.
Penyembuhan yang lengkap, termasuk restorasi ketebalan epitel (4-6 lapis) dan reformasi
fibril, membutuhkan waktu 4-6 minggu.
Penyembuhan stroma kornea avascular. Tidak sepeti jaringan lainnya,
penyembuhan pada stroma kornea terjadi karena fibrosis daripada proliferasi
fibrovaskular.
Epitelium dan endothelium merupakan bagian yang penting untuk penyembuhan luka.
Jika epitelium tidak menutupi luka dalam waktu beberapa hari, penyembuhan stroma di
bawahnya akan terbatas dan luka akan rapuh. Factor pertumbuhan dari epitelium
merangsang dan meneruskan penyembuhan. Sel endotel di atas luka menyebrang ke
posterior kornea, beberapa sel diganti melalui aktivitas mitosis. Endothelium
membentang di bawah lapisan tipis yang baru dari membrane Descemet. Jika batas
interna luka tidak ditutupi oleh membrane Descemet, fibroblast stroma berproliferasi
terus-menerus ke ruang anterior sebagai fibrous ingrowth, atau posterior luka mungkin
terbuka permanen. Kolagen fibrillar pertama diganti oleh kolagen yang lebih kuat pada
pada akhir bulan-bulan penyembuhan. Lapisan Bowman tidak berdegenerasi ketika luka
ataupun hancur.

Pada partial-thickness corneal laceration luka biasanya akan menutup sendiri.


Terapi yang dibutuhkan berupa antibiotik topikal dan siklopegik topikal untuk
mengurangi spasme siliar sehingga nyeri berkurang. Dapat juga digunakan lensa kontak
sebagai pelindung luka.
Pada simple full-thickness lacerations, tatalaksana dilakukan berdasarkan ukuran
luka, kebocoran luka, dan keterlibatan organ okular lain. Jika ukuran kecil (<2mm), maka
luka bisa menutup sendiri dengan baik. Terapi yang diberikan ssama seperti pada laserasi
partial-thickness, yaitu antibiotik, siklopegik dan lensa kontak perban. Jika COA tidak
bertambah dalam atau kebocoran luka tidak menutup dalam 48 jam, maka dilakukan
penutupan luka dengan jahitan atau lem jaringan (cyanoacrylate).
Pasien dengan ukuran luka lebih dari 3 mm, terdapat lepasnya jaringan korneal,
laserasi yang sampai ke iris atau kornea harus di tatalaksana bedah. Intervensi pada
trauma tembus bola mata idealnya dilakukan secepat mungkin, meskipun dari berbagai
penelitian menyatakan bahwa tidak ada kerugian yang ditimbulkan jika operasi ditunda
hingga 36 jam.
Laserasi kornea dapat menyebabkan tissue loss pada mata. Defek yang sangat
kecil dapat ditutup dengan cara dijahit atau menggunakan lem jaringan cyanoacrylate.
Untuk defek yang lebih besar membutuh terapi autograf. Jika ukuran defek <5 mm dapat
dilakukan autograf lamelar. Defek yang lebih besar dari itu dapat diberikan graf fullthickness patch. Kedua teknik ini membutuhkan donor kornea.
Laserasi pada kornea juga bisa menyebabkan terjadinya prolaps uvea. Jika luka di
kornea itu disertai prolaps iris, iris yang keluar harus dipotong dan sisanya di repossisi,
Jika jaringan uvea prolaps lebih dari 24 jam jangan direposisi karena beresiko terjadi
infeksi atau epithelial seeding ke COA. Prolap jaringan uveal yang lama atau prolap
jaringan yang sudah tidak vial lagi harus dieksisi.
Kalau luka telah berlangsung beberapa jam, sebaiknya bilik mata depan dibilas
terlebih dahulu dengan larutan penisilin 10.000 U/cc, sebelum kornea dijahit. Sesudah
selesai seluruhnya, berikan antibiotika dengan spektrum luas dan sistemik, juga
subkonjungtiva

Untuk terapi konservatif dapat diberikan Antibiotik agar tidak terjadi endoftalmitis
postraumatika. Sebaiknya diberikan antibiotika spektrum luas untuk Gram positif dan
Gram negatif. Obat yang dapat digunakan adalah Vankomisin intravitreal 1 mg atau
intravena 1 gram tiap 12 jam, Ofloksasin 1 tetes 4 kali sehari, atau Seftazidim 250 mg-2 g
IV/IM tiap 8-12 jam atau 2,25 mg intravitreal. 3
2.2.5 Komplikasi
Komplikasi sebelum penatalaksanaan, dapat berupa :
a. Terdapatnya benda asing intraokuler bisa memperberat keadaan menjadi
endoftalmitis, panoftalmitis, ablasio retina, perdarahan intraocular,dan ptisis bulbi
b. Katarak traumatika. Lensa menjadi putih segera setelah masuk benda asing karena
lubang pada kapsul lensa menyebabkan aquous humour dan kadang-kadang
viterus masuk ke dalam struktur lensa.
Komplikasi setelah penatalaksanaan, dapat berupa :
a. Jaringan sikatrik pada kornea
b. Glaukoma sekunder karena sinekia anterior, atau inflamasi yang diinduksi oleh
lensa
c. Pembentukan membran pada pupil
d. Kerusakan epitel okular permanen, timbul ulserasi stromal steril.
e. Downgrowth epitelial
Epitelium bisa tumbuh melewati luka dan terus ke bagian belakang kornea. Lebih
jarang ditemukan sekarang karena adanya teknologi mikrosurgeri. Walaupun
ditemukan, pengobatan yang efektif adalah sukar. Downgrowth tersebut harus
dieksisi dan kawasan sekeliling downgrowth tersebut dikrioterapi.
f. Astigmatisme
Komplikasi yang sangat sering setelah luka kornea walau sekecil manapun luka
tersebut. Pertama, ini karena jaringan korneal lebih berkompresi daripada elastis.
Karena sifat tidak elastisnya, sutura yang diikat keras bisa mendistorsi bentuk
kornea dan mengakibatkan astigmatisme. Keduanya, fibrosis pada penyembuhan
luka adalah sangat bervariasi. 3
2.2.6. Prognosis
Pada trauma kornea sederhana yang tidak melibatkan struktur okular lain atau
tissue loss, memperlihatkan hasil yang baik. Laserasi kornea kompleks, yang melibatkan

struktur okular lain seperti uvea atau vitreu ataupun adanya tissue loss, tidak hanya sulit
pada penatalaksanaannya, tetapi lebih sulit lagi untuk memperbaiki komplikasi yang
ditimbulkan setelah penanganan. Semakin tinggi derajat komplikasi makin buruk
prognosis visualnya. 3
2.3. Prolapsus Iris
2.3.1. Definisi
Merupakan keadaan trauma pada mata dimana bagian dari iris atau ada jaringan iris yang
keluar dari tempat seharusnya.4
2.3.2. Patofisiologi
Prolaps iris dapat terjadi misalnya saat kornea mengalami perforasi karena berbagai hal,
danya perforasi pada kornea mengakibatkan humor aqueous secara cepat keluar dan
terakumulasi didepan iris sehingga mendorong iris keluar.4
2.3.3. Insidensi
Tidak diketahui secara pasti insidensi terjadinya prolaps iris, hal ini tidak dipengaruhi
oleh factor ras, maupun usia meskipun dilaporkan lebih sering mengenai laki-laki dewasa muda.4
2.3.4. Mortalitas dan morbiditas
Prolaps iris merupakan suatu kondisi yang membahayakan jika tidak ditangani karena
dapat menimbulkan infeksi pada mata dan hilangnya penglihatan. Jika prolaps iris bersifat massif
atau terbuka misalnya akibat adanya laserasi kornea maka diperlukan tindakan pembedahan
segera untuk mencegah adanya infeksi pada irisyang menyebar pada seluruh bagian mata.
Namun apabila
prolaps iris terlindungi oleh konjungtiva misalnya akibat pengaruh dari tindakan pembedahan
maka penanganan bedah tidak bersifat segera. 4
2.3.5. Manifestasi perjalanan penyakit

Iris merupakan salah satu jaringan sensitive pada mata, pada saat terjadi prolaps maka
penderita akan merasakan nyeri, msalnya penderita dengan ulkus kornea yang mengalami
prolaps iris akan mengalami nyeri hebat yang sebelumnya sudah mereda. Iris dapat mengalami
prolaps misalnya pada tindakanbedah (ex : katarak, transplantasi kornea), didahului danya
trauma pada mata (ex :laserasi kornea, laserasi sclera), perforasi ulkus kornea, akibat kornea
yang melarut berhubungan dengan penyakit rheumathoid arthritis. Akan tetapi dengan semakin
berkembangnya tehnik bedah micro pada mata maka jarang dijumpai prolaps iris akibat
pembedahan begitu pula prolaps iris akibat perforasi ulkus kornea. Yang saat ini sering dijumpai
adalah prolaps iris akibat adanya trauma pada mata meskipun insidensinya tidak diketahui secara
pasti. Pada kasus prolaps iris perifer dapat menimbulkan sinekia anterior parsial, akan tetapi bila
prolaps iris berada ditengah maka dapat menimbulkan sinekia anterior total. Prolaps iris dapat
diamati dengan jelas pada kasus perforasi kornea. Manifestasi klinisnya bervariasi tergantung
dari durasi atau lama terjadinya prolaps iris, pada kasus dini maka iris masih terlihat viable tapi
jika terlalu lama maka iris akan terlihat kering dan tidak viable. Tekanan intraocular dapat kurang
dari normal tapi jarang menimbulkan hipotoni pada kasus prolaps iris. Pada stadium lanjut
prolaps iris dapat terjadi iridocyclitis, cystoids macular edema atau glaucoma. Prolaps iris dapat
memacu terjadinya infeksi pada mata, menurunkan proses epitelisasi, peningkatan jaringan fibros
bahkan meskipun jarang dapat juga menimbulkan ophtalmia symphatica. 4
2.3.6. Diagnosis banding
a.
b.
c.
d.

Benda asing intraocular


Laserasi kornea-sklera
Melanoma iris
Uveitis anterior granulomatosa4

2.3.7. Pemeriksaan penunjang


Pada kasus prolaps iris yang sudah berjalan lama apabila dicurigai mengalami cystoids
macular edema maka diperlukan adanya pemeriksaan flourescein angiography. CT scan pada
mata diindikasikan pada kasus prolaps iris yang diakibatkan oleh trauma untuk mengetahui
kemungkinan terjadinya trauma pada bagian mata yang lain. Sementara itu CT scan dan juga
ocular ultrasound berguna untuk mengetahui lokasi benda asing pada mata serta melihat kondisi
segmen posterior mata. 4

2.3.8. Penatalaksanaan
Prolaps iris merupakan suatu kondisi yang membahayakan dan bersifat serius,
penanganan harus diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut. Penanganan secara medikamentosa hanya dapat dilakukan jika prolaps
iris kecil, terlindung oleh konjungtiva dan tanpa komplikasi atau penyulit lain. Pemberian obat
tetes antibiotic dan cyclopegikdapat dilakukan selama fase akut. Antibiotic secara intravena
dapat diberikan pada kasus yang berat atau massif untuk menghindari penyebaran infeksi
intraocular, sementara tetaus toxoid dapat pula diberikan tergantung dari riwayat imunisasi
pasien dan jenis dari lukanya. Tindakan bedah dilakukan ketika konjungtiva tidak dapat
melindungi atau menutupi prolaps iris dan terdapat penyulit atau komplikasi. Tujuannya adalah
untuk mengembalikan integritas anatomi mata dan mengembalikan fungsi visual mata. Melalui
tehnik incisi paracentesis pada kasus incarserata iris perifer dapat diberikan acetylcoline
sementara pada kasus incarserata iris central dapat diberikan epinephrine intraocular. Jika tehnik
incise paracentesis tidak berhasil maka dapat dilakukan injeksi viscoelastic pada bilik anterior di
region iris yang mengalami prolaps dengan syarat : prolaps yang terjadi tidak > 24-36 jam, iris
masih viable atau masih ada tanda-tanda untuk epitelisasi. Jika tetap tidak berhasil maka
dilakukan tehnik spatula cyclodialisis dengan ujung panjang, dilakukan sepanjang incise
paracentesis. Pemberian antibiotik sistemik sebagai profilaksis hal ini untuk menghindari
terjadinya endophthalmitis, karena walaupun jarang terjadi akan tetapi dampaknya buruk,
hendaknya menggunakan antibiotic broadspektrum (membunuh bakteri gram negative maupun
positif), bakteri yang sering mengakibatkan endophthalmitis misalnya Bacillus. 4

2.3.9. Komplikasi
Komplikasi berat akibat prolaps iris yang mungkin terjadi antara lain : endophthalmitis,
adanya epitelisasi berlebih dan pembentukan jaringan fibros pada mata, opthalmia simpatika
(jarang), iritis, cystoid macular edema, dan glaukoma sekunder. 4
2.3.10. Prognosis

Prognosis tergantung dari beberapa faktor, semakin kecil prolaps maka prognosis akan
jauh lebih baik, adanya infeksi ikutan serta epitelisasi dan pembentukan jaringan fibros berlebih
akan memperburuk prognosis. 4