Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Definisi
Menurut WHO ( 2002 ), Stroke adalah gangguan peredaran darah
ke otak atau disebut cerebro vascular accident (VCA) atau, stroke adalah
tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat fungsi vocal (global),
dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih ataupun
menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang ada selain
vaskuler.
Menurut Feigin, 2006 Stroke atau sering disebut juga dengan
cerebrovasculer accident adalah gejala kelainan neurologi akibat dari
penyakit pembuluh darah otak. Stroke adalah penyakit otak yang paling
destruktif dengan konsekuensi berat, termasuk beban psikologis, fisik,
dan keuangan yang besar pada pasien, keluarga, dan masyarakat.
Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan
CVA (Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang
disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul
secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam
beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang
terganggu.(Harsono,1996, hal 67).
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak
yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini
adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun.
(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131).

2. Etiologi
Penyebab-penyebabnya antara lain:
a. Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )
Trombus yang lepas dan menyangkut di pembuluh darah yang lebih
distal disebut embolus.
b. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )
Emboli merupakan 5-15 % dari penyebab stroke. Dari penelitian
epidemiologi didapatkan bahwa sekitar 50 % dari semua serangan
iskemik otak, apakah yang permanen atau yang transien, diakibatkan
oleh komplikasi trombotik atau embolik dari ateroma, yang
merupakan kelainan dari arteri ukuran besar atau sedang, dan sekitar
25 % disebabkan oleh penyakit pembuluh darah kecil di intyrakranial
dan 20 % oleh emboli jantung. Emboli dapat terbentuk dari gumpalan
darah, kolesterol, lemak, fibrin trombosit, udara ,tumor, metastase,
bakteri, benda asing. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum
tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya
bergabung di dalam sebuah arteri.
c. Hemorargik cerebral (Pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perlahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).
Akibatnya adalah gangguan suplai darah ke otak , menyebabkan
kehilangan gerak, pikir, memori, bicara, atau sensasi baik sementara
atau permanen.
d. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak)\
Penurunan

tekanan

darah

yang

tiba-tiba

bisa

menyebabkan

berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan


seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya
sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami
kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan,
serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

Penyebab lain terjadinya stroke non hemoragik adalah :


a. Aterosklerosis, Terbentuknya aterosklerosis berawal dari endapan
ateroma (endapan lemak) yang kadarnya berlebihan dalam pembuluh
darah. Selain dari endapan lemak, aterosklerosis ini juga mungkin
karena arteriosklerosis, yaitu penebalan dinding arteri (tunika intima)
karena

timbunan

bertambahnya

kalsium

diameter

yang

pembuluh

kemudian
darah

mengakibatkan

dengan

atau

tanpa

mengecilnya pembuluh darah.


b. Infeksi, Peradangan juga menyebabkan menyempitnya pembuluh
darah, terutama yang menuju ke otak.
c. Obat-obatan, Ada beberapa jenis obat-obatan yang justru dapat
menyebabkan stroke seperti:

amfetamin dan kokain dengan jalan

mempersempit lumen pembuluh darah ke otak.


d. Hipotensi, Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan
berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan
seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika hipotensi ini sangat parah
dan menahun.
Ada beberapa faktor risiko stroke yang sering teridentifikasi, yaitu ;
a. Hipertensi
b.

Aneurisma pembuluh darah cerebral

c. Kelainan jantung / penyakit jantung,


d. Diabetes mellitus (DM),
e. Usia lanjut,
f.

Polocitemia,

g. Peningkatan kolesterol (lipid total),


h. Obesitas,
i.

Perokok,

j.

kurang aktivitas fisik,

3. Patofisiologi
Infark ischemic cerebri sangat erat hubungannya
aterosklerosis dan

dengan

arteriosklerosis. Aterosklerosis dapat menimbulkan

bermacam-macam manifestasi klinis dengan cara:


a. Menyempitkan

lumen

pembuluh

darah

dan

mengakibatkan

insufisiensi aliran darah.


b. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya thrombus dan
perdarahan aterm.
c. Dapat terbentuk thrombus yang kemudian terlepas sebagai emboli.
d. Menyebabkan aneurisma yaitu lemahnya dinding pembuluh darah
atau menjadi lebih tipis sehingga dapat dengan mudah robek.
Faktor yang mempengaruhi aliran darah ke otak:
a. Keadaan pembuluh darah.
b. Keadan darah : viskositas darah meningkat, hematokrit meningkat,
aliran darah ke otak menjadi lebih lambat, anemia berat, oksigenasi
ke otak menjadi menurun.
c. Tekanan

darah

sistemik

memegang

peranan

perfusi

otak.

Otoregulasi otak yaitu kemampuan intrinsik pembuluh darah otak


untuk mengatur agar pembuluh darah otak tetap konstan walaupun
ada perubahan tekanan perfusi otak.
d. Kelainan jantung menyebabkan menurunnya curah jantung dan
karena lepasnya embolus sehingga menimbulkan iskhemia otak.
Suplai darah ke otak dapat berubah pada gangguan fokal (thrombus,
emboli, perdarahan dan

spasme vaskuler) atau oleh karena

gangguan umum (Hypoksiakarena gangguan paru dan jantung).


Arterosklerosis sering/cenderung sebagai faktor penting terhadap
otak. Thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotikatau darah
dapat beku pada area yang stenosis, dimana aliran darah akan lambat
atau terjadi turbulensi. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh
embolus menyebabkan oedema dan nekrosis diikuti thrombosis dan
hipertensi pembuluh darah.

4. Pathway

Faktor-faktor penyebab / pencetus


Stroke Non Hemoragik

Terganggunya Kerja Jantung

Suplai darah dari ventrikel kiri

Jantung memompa darah ke seluruh tubuh/sistemik

Arteroklerosis

Trombosis

Emboli

TIA

Suplai darah ke serebral menurun

NDx: Perubahan Perfusi


Jaringan

Iskemia

Hipoxia Jar. Otak

Kerusakan Otak

Reversibel

Menurunnya Kesadaran

Ireversibel

Edema Jar. Otak

Defisit Jar. Otak

Koma

Bed Rest

Dekubitu
s

Pneumonia

Hemaparasis

NDx:
Difisit Perawatan diri

Paralisis

NDx: Gangguan
Harga diri

Afasia

NDx:
Kerusakan
komunikasi
Verbal

NDx: Kerusakan
Mobilitas Fisik

Inkontinensia Uri

5. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala bervariasi, tergantung pada arteri yang diserang (dan,
akibatnya, bagian otak yang disuplainya), keparahan kerusakan, dan
perluasan sirkulasi kolateral yang berkembang untuk membantu otak
mengimbangi suplai darah yang berkurang.
a. Stroke hemisfer kiri: gejala di sisi tubuh sebelah kanan
b. Stroke hemisfer kanan : gejala di sisi tubuh sebelah kiri
c. Stroke yang menyebabkan kerusakan saraf kranial : tanda disfungsi saraf
kranial disisi yang sama dengan terjadinya hemoragi
d. Gejala biasanya diklasifikasikan menurut arteri yang diserang :
1) Arteri serebral tengah : afasia, disfasia, potongan bidang visual dan
hemiparesis disisi yang diserang (lebih parah diwajah dan lengan
daripada di kaki)
2) Arteri karotid : lemah, paralisis, mati rasa, perubahan sensorik, dan
gangguan visual disisi yang diserang ; perubahan tingkat kesadaran ;
bunyi abnormal ; sakit kepala; afasia dan ptosis.
3) Arteri vertebrobasilar : lemah disisi yang diserang, mati rasa disekitar
bibir dan mulut, potongan bidang visual, diplopia, koordinasi buruk,
disfagia, bicara mencerca, pusing, amnesia dan ataksia.
4) Arteri serebral anterior : konfusi, lemah dan mati rasa (terutama
dikaki) disisi yang diserang, inkontinensi, hilang koordinasi, gangguan
fungsi motorik dan sensorik, dan perubahan kepribadian.
5) Arteri serebral posterior : potongan bidang visual, gangguan sensorik,
disleksia, koma, dan kebutaan kortikal.
e. Gejala juga diklasifikasikan sebagai premonitorik, tergeneralisasi, atau
fokal
f. Premonitorik (jarang) :mengantuk, pusing, sakit kepala, dan konfusi
mental.
g. Tergeneralisasi : sakit kepala, muntah, gangguan mental, sawan, koma,
rigiditas nukal,demam, dan disorientasi.

h. Fokal (misalnya perubahan sensorik dan refleks): merefleksikan tempat


hemoragi atau inarksi dan bisa memburuk.
Tanda dan gejala lain dari stroke adalah (Baughman, C Diane.dkk,2000):
a. Kehilangan motorik.
Disfungsi motorik paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada
salah satu sisi) dan hemiparesis (kelemahan salah satu sisi) dan
disfagia.
b. Kehilangan komunikasi Disfungsi bahasa dan komunikasi adalah disatria
(kesulitan berbicara) atau afasia (kehilangan berbicara).
c. Gangguan persepsi
Meliputi

disfungsi

persepsi

visual

kehilangan penglihatan perifer dan

humanus,

heminapsia

atau

diplopia, gangguan hubungan

visual, spesial dan kehilangan sensori.


d. Kerusakan

fungsi

kognitif,

parestesia (terjadi

pada

sisi

yang

berlawanan).
e. Disfungsi kandung kemih, meliputi : inkontinensia urinarius transier,
inkontinensia urinarius peristen atau retensi urin (mungkin simtomatik
dari kerusakan otak bilateral), Inkontinensia urinarius dan defekasi
yang berlanjut (dapat mencerminkan kerusakan neurologi ekstensif).
Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung dengan daerah otak yang
terkena:
a. Pengaruh terhadap status mental: tidak sadar, konfus, lupa tubuh sebelah.
b. Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan sensasi,
gangguan penglihatan.
c. Pengaruh terhadap komunikasi: bicara tidak jelas, kehilangan bahasa.
d. Dilihat dari bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa

6. Pemeriksaan Diagnosis
a. Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah :
1) laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit,
kolesterol, dan bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.
2) Computed tomography (CT) scan kepala untuk mengetahui lokasi
dan luasnya perdarahan atau infark. Menunjukkan adanya stroke
hemoragis dengan segera tetapi bisa jadi tidak mnenunjukkan adanya
infarksi trombotik selama 48-72 jam.
3) MRI( magnetic resonance imaging ),

untuk mengetahui adanya

edema, infark, hematom dan bergesernya struktur otak, bisa


membantu mengidentifikasi area yang mengalami iskemia atau
infarksi dan pembengkakan serebral. MRI menunjukan daerah yang
mengalami infark, hemoragik.
4) Angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas
mengenai pembuluh darah yang terganggu
b. Pemeriksaan penunjang :
1) Oftalmoskopi bisa menunjukkan tanda hipertensi dan perubahan
aterosklerotik dalam arteri retina.
2) Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya
infark
3) Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti
perdarahan atau obstruksi arteri
4) Fungsi Lumbal
menunjukan adanya tekanan normal tekanan meningkat dan cairan
yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan
5) EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
6) Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
7) Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng
pineal
(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

7. Penatalaksanaan
a. Medis
Pemilihan intervensi fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi
pasien. Dimana dalam metode pendekatan fisioterapi itu harus banyak
variasinya agar pasien tidak bosan dalam melakukan rehabilitasi. Ada
yang berpendapat bahwa pendekatan fisioterapi pada pasien stroke itu
tidak menggunakan satu metode saja melainkan dengan penggabungan
yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kondisi dan kemampuan
pasien agar memperoleh hasil yang maksimal.
Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi
latihan, yang terdiri dari latihan perbaikan postur, latihan weight
bearing, latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan aktifitas
fungsional.
1) Latihan dengan mekanisme reflek postur
Gangguan tonus otot (spastisitas) secara postural pada pasien
stroke, dapat mengakibatkan gangguan gerak. Melalui latihan
dengan mekanisme reflek postur mendekati status normal, maka
seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan
mengontrol spastisitas otot secara postural.
Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan
kemampuan untuk mencegah spastisitas dengan menghambat
gerakan yang abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan.
Dalam upaya melakukan penghambatan maka perlu adanya
penguasaan teknik pemegangan (Key Point of Control)
2) Latihan weight bearing
Bertujuan untuk mengontrol tonus pada ekstrimitas dalam keadaan
spastis. Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali
fungsi pada persendian untuk menyangga (Rahayu, 1992 ).

10

3) Latihan keseimbangan dan koordinasi


Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium
recovery sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien.
Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk
membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan
perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau
kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal (Pudjiastuti,
2003).
Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non
haemoragik stadium recovery dapat dilakukan secara bertahap
dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya
repetisi.
4) Latihan aktifitas fungsional
Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery pasien terjadi
gerak anggota tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga
dapat membatasi dalam gerak untuk aktifitas fungsional dan
membentuk

pola

abnormal.

Latihan

aktifitas

fungsional

dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan


aktifitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh
kepada orang lain.
b. Keperawatan
Terapi suportif awal :
1) Seringkali kajilah status neurologis pasien untuk menentukan
deficit.
2) Pantaulah tekanan darah, berih labelatol ( trandate ) untuk
hipertensi.
3) Jaga kepatenan jalan napas dan status oksigenasi.
4) Pantau kadar glukosa darah
5) Jika pasien mengalami sakit kepala beri analgesic.

11

6) Penyuluhan tentang harus mengontrol tekanan darah Merokok


secara langsung terkait dengan risiko stroke. berolahraga secara
teratur senam ringan perlu membuat jantung lebih kuat dan
meningkatkan sirkulasi. Fokus pada diet yang sehat. mengontrol
diabetes.
8. Komplikasi
Komplikasi pada stroke non hemoragik adalah:
a. Berhubungan dengan imobilisasi: infeksi pernafasan, nyeri pada daerah
tertekan, konstipasi.
b. Berhubungan dengan

paralise: nyeri punggung, dislokasi sendi,

deformitas, terjatuh.
c. Berhubungan dengan kerusakan otak: epilepsy, sakit kepala.
d. Hidrosefalus

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Adapun hal yang perlu di kaji pada klien dengan penyakit SNH yaitu :
a. Identitas diri klien
1) Pasien (diisi lengkap) : Nama, Tempat/Tgl. Lahir, Umur, Jenis
Kelamin, Alamat, Status

Perkawinan, Agama, Suku Bangsa,

Pendidikan, Pekerjaan, Lama bekerja, Tgl Masuk RS.


2) Penanggung Jawab (diisi lengkap) : Sumber informasi, Keluarga
terdekat yang dapat dihubungi, Pendidikan, Pekerjaan, Alamat.
b. Status kesehatan saat ini
1) Alasan Kunjungan/Keluhan Utama,
2) Faktor Pencetus,
3) Lamanya keluhan,
4) Timbulnya Keluhan,
5) Faktor yang memperberat,
6) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya,
7) Diagnosa Medik.
c. Riwayat kesehatan yang lalu
d. Riwayat keluarga dalam bentuk Genogram
e. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
1) Keadaan umum

: Dalam keadaan kronis Buruk


12

2) Kesadaran
: Somnolen GCS 12
Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
1) Tekanan darah
: 130/80 mmHg
2) Nadi
: 100x/menit
3) Suhu
: 370 C
4) Pernapasan
: 35 x/menit
f. Head To toe
1) Pemeriksaan kulit dan rambut
Kaji nilai warna, turgor, tekstur dari kulit dan rambut pasien
2) Pemeriksaan kepala
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

3) Mata
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

4) Hidung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

5) Telinga
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

6) Mulut
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

:
:
:
:

7) Pemeriksaan dada
Paru-paru
Inspeksi
: kesimetrisan, gerak napas
Palpasi
: kesimetrisan taktil fremitus

13

Perkusi
: suara paru (pekak, redup, sono, hipersonor, timpani)
8) Jantung
Inspeksi
: amati iktus cordis
Palpalsi
: raba letak iktus cordis
Perkusi
: batas-batas jantung
Batas normal jantung yaitu: Kanan atas: SIC II RSB, kiri atas: SIC II
LSB, kanan bawah: SIC IV RSB, kiri bawah: SIC V medial 2 MCS
9) Pemeriksaan abdomen
Inspeksi
: keadaan kulit, besar dan bentuk abdomen, gerakan
Palpasi
: hati, limpha teraba/tidak, adanya nyeri tekan
Perkusi
: suara peristaltic usus
Auskultasi
: frekuensi bising usus
10) Pemeriksaan ekstremitas
Inspeksi

: Kaji warna kulit, edema, kemampuan gerakan dan

adanya alat bantu


Palpasi
:
Perkusi
:
Auskultasi
:
g. Pola Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang
dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien? Kaji apakah klien
merokok atau minum alkoohol?
Pada pasien dengan stroke biasanya menderita obesitas,dan
hipertensi.
2) Pola nutrisi metabolic
Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan
pola makan setelah sakit? Apakah ada perubahan pola makan klien?
Kaji apa makanan kesukaan klien?kaji riwayat alergi klien.
Pada pasien dengan penyakit stroke non hemoragik biasanya terjadi
penurunan nafsu makan, mual dan muntah selama fase akut
(peningkatan tekanan intracranial), kehilangan sensori (rasa kecap)
pada lidah, pipi dan tenggorokan, peningkatan lemak dalam darah.
3) Pola eliminasi
Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien? Apakah mengalami
gangguan? Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk
eliminasi nya?
14

Pada pasien dengan penyakit stroke biasanya terjadi perubahan pola


berkemih seperti inkontinensia urine, distensi abdomen (distensi
kandung kemih berlebihan), dan bising usus negative.
4) Pola aktivas latihan
Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari, apakah
klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga?
Pada pasien dengan penyakit stroke biasanya merasa kesulitan untuk
melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensasi atau
paralysis (hemilegia), merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat
(nyeri / kejang otot) serta kaku pada tengkuk.
5) Pola istirahat tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama
klien tidur dalam sehari? Apakah klien mengalami gangguan dalam
tidur, seperti nyeri dan lain lain.
Selama fase akut (peningkatan tekanan intracranial), pasien dengan
penyakit stroke mengalami ketergangguan / kenyamanan tidur dan
istirahat karena nyeri dan sakit kepala.
6) Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan
penglihatan,pendengaran,

dan

kaji

bagaimana

klien

dalam

berkomunikasi?atau lakukan pengkajian nervus cranial.


Pasien dengan penyakit stroke terjadi gangguan pada fungsi kognitif,
penglihatan, sensasi rasa, dan gangguan keseimbangan.
7) Pola persepsi diri dan konsep diri
Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang
dideritanya? Apakah klien merasa renddah diri?
Pada pasien dengan penyakit stroke akan terjadi pada peningkatan
rasa kekhawatiran klien tentang penyakit yng dideritanya serta pada
pasien juga akan mengalami harga diri rendah.
8) Pola peran hubugan
Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan
selama dirawat di Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan social
klien dengan masyarakat sekitarnya?

15

Pada pasien dengan penyakit stroke peran hubungannya akan


terganggu

karena

pasien

mengalami

masalah

bicara

dan

ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.


9) Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada
perubahan kepuasan pada klien?
Pada pasien dengan penyakit stroke akan terjadi masalah pada pola
reproduksi dan seksualitasnya karena kelemahan fisik dan gangguan
fungsi kognitif.
10) Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien
menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?
Dengan adanya proses penyembuhan penyakit yang lama, akan
menyebabkan meningkatnya rasa kekhawatiran dan beban pikiran
bagi pasien.
11) Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi
penyakitnya?

Apakah

ada

pantangan

penyembuhan klien?
Karena nyeri kepala,pusing,kaku

agama

dalam

proses

tengkuk,kelemahan,gangguan

sensorik dan motorik menyebabkan terganggunya aktivitas ibadah


pasien

16

C. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/ Intervensi serta Rasional


1. Diagnosa

Perubahan perfusi jaringan, serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah :

gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema serebral.


Tujuan

: Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik, fungsi kognitif dan motorik/sensori.


Mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Menunjukan tidak adanya kelanjutan deteriorasi/kekambuhan defisit.
Perencanaan/intervensi

Rasional

Mandiri
1. Tentukan
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengankeadaan/penyebab khusus selama koma/penurunan perfusi
serebral dan potensial terjadi peningkatan TIK.
2. Pantau/catat status neurologis sesering mungkin
bandingkan dengan keadaan normalnya/standar.

dan
-

3. Pantau tanda-tanda vital, seperti catat :


Adanya hipertensi/hipotensi, bandingkan tekanan darah yangterbaca pada kedua lengan.

Frekuensi dan irama jantung : auskultasi adnaya mur-mur.

Mempengaruhi
penetapan
intervensi.
Kerusakan/kemunduran tanda/gejala neorologis atau kegagalan
memperbaikinya setelah fase awal memerlukan tindakan
pembedahan daan/atau pasien harus dipindahkan ke ruang
perawatan kritis untuk melakukan pematangan terhadap
peningkatan TIK.
Mengetahui kecenderungan tingakat kesadaran
dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas dan
kemajuan kerusakan SSP. Dapat menunjukan TIA yang
merupakan tanda terjadi thrombosis CVS baru.
Variasi mungkin terjadi oleh karena tekanan
serebral pada daerah vasomotor otak. Hipertensi/hipotensi
postural dapat menjadi faktor pencetus. Hipotensi dapat terjadi
karena syok. Penningkatan TIK dapat terjadi karena edema
adanya faktor pembekuan darah. Tersumbatnya arteri subklavia
dapat dinyatakan dengan adanya perbedaan tekanan pada ke
dua lengan.

Catat pola dan irama dari pernapasan, seperti adanya periode


apnea setelah pernapasan hiperpentilas, pernapasan cheyne-strokes.
4. Evaluasi pupil catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi
terhadap cahaya.
-

5. Catat perubahan dalam penglihatan, seperti adanya kebutaan,


gangguan lapang pandang/kedalaman persepsi.
6. Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi, seperti fungsi bicara jika
pasien sadar.
7. Letakan kepala dengan posisi agak ditinggikan dan dalam
posisi anatomis/netral.
8. Pertahankan keadaan tirah baring ; ciptakan lingkungan yangtenang; batasi pengunjung/aktivvitas pasien sesuai indikasi.
Berikan istirahat secara periodic antara aktivitas perawatan,batasi lamanya setiap prosedur.
9. Cegah terjadinya mengejan saat defekasi, dan pernapasan
yang memaksa (batuk terus-menerus).

Perubahan terutama adanya bradikardia dapat


terjadi sebagai akibat adanya kerusakan otak. Distrimia dan
mur-mur mungkin mencerminkan adanya penyakit jantung
yang mungkin telah menjadi pencetus CSV.
Ketidakteraturan pernapasan dapt memberikan
gambaran lokasi kerusakan serebral/peningkatan TIK dan
kebutuhan untuk intervensi selanjutnya termasuk kemungkinan
perlunya dukungan terhadap pernapasan.
Reaksi pupil diatur oleh saraf kranial okulomotor
dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut
masih baik. Ukuran dan kesamaan pupil ditentukan oleh
keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang
mempersarafinya.
Respon
terhadap
refleks
cahaya
mengkombinasikan fungsi dari saraf kranial optikus dan saraf
kranial okulomotor.
Gangguan
penglihatan
yang
spesifik
mencerminkan daerah otak yang terkena, mengindikasikan
keamanan yang harus mendapat perhatian dan mempengaruhi
intervensi yang akan dilakukan.
Perubahan dalam isi kognitif dan bicara
merupakan indikator dari lokasi/derajat gangguan serebral dan
mungkin mengindikasikan penurunana/peningkatan TIK.
Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan
drainase dan meningkatkan sirkulasi/perfusi serebral.
Aktivitas/stimulasi
yang
kontinu
dapat
meningkatkan TIK istirahat total dan ketenangan mungkin
diperlukan untuk pencegahan terhadap pendarahan dalam kasus
stroke hemoragik/pendarahan lainnya.

10. Kaji ragiditas nukal, kedutan, kegelisahan yang meningkat,peka rangssang dan serangan kejang.
Kolaborasi :
11. Berikan oksigen sesuai indikasi.
12. Berikan obat sesuai indikasi :
antikoagulasi, seperti natrium warfarin (coumadin), heparin. Antifibrolatik, seperti asam aminokaproid (amicar).
Antihipertensi

Vasodilatasi perifer,
isoksupresin.
Steroid, deksametason.

seperti

siklandelat,

papaverin,
-

Fenitoin, fenobarbital.
Pelunak feses.

Maneuver valsalva dapat meningkatkan TIK dan


memperbesar resiko terjadinya pendarahan
Merupakan indikasi adanya iritasi maningeal.
Kejang dapt mencerminkan adanya peningkatan TIK/trauma
serebral yang memerlukan perhatian dan intervensi selanjutnya.
Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan
vasodilatasi serebral dan tekanan meningkat / terbentuknya
edema.
Dapat
digunakan
untuk
meningkatkan/
memperbaiki aliran darah serebral dan selanjutnya dapat
mencegah pembekuan saat embolus/trombus merupakan faktor
masalahnya. Merupakan kontraindikasi pada pasien dengan
hipertensi sebagai akibat dari peningkatan resiko perdarahan.
Pengunaan dengan hati-hati dalam perdarahan
untuk mencegah lisis bekuan yang terbentuk dan perdarahan
berulang yang serupa.
Hipertensi lama/ kronis memerlukan penanganan
yang hati-hati, sebab penenganan yang berlebihan
meningkatkan resiko terjadinya perluasan kerusakan jaringan.
Hipertensi sementara seringkali terjadi selama fase stroke akut
dan penangulangannya seringkali tanpa intervensi terapeutik.
Digunakan untuk memperbaiki sirkulasi kolateral
atau menurunkan vasospasme.
Pengunaannya
kontrolversial
dalam
mengendalikan edema serebral.
Dapat digunakan untuk mengontrol kejang dan /

13. Persiapan untuk pembedahan, endarterektomi, bypass


mikrovaskuler.
14. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, seperti
masa protrombin, kadar dilantin.
-

atau untuk aktivitas sedatif. Catatan : Fenobarbital memperkuat


kerja dari anti epilepsi.
Mencegah proses mengejan selama defekasi dan
yang berhubungan dengan peningkatan TIK.
Mungkin bermanfaat untuk mengatasi situasi.
Memberikan informasi
pengobatan/ kadar terapeutik.

tentang

keefektifan

2. Diagnosa : Kerusakan mobilitas fisik, berhubungan dengan Keterlibatan neuromuskuler : Kelemahan, parestesia,
Paralisis hipotonik (awal), Paralisis spastis.
Tujuan

: Mempertahankan posisi optimal dari fungsi yang dibuktikan oleh takadanya kontraktur, footdrop.
Mempertahankan/ meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena atau kompensasi.
Mendemonstrasikan teknik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.
Mempertahankan integritas kulit.

Perencanaan/intervensi

Rasional

Mandiri
1.
klien dalam melakukan aktifitas

Kaji

2.

Ubah posisi minimal

kemampuan -

Mengidentifikasi
kelemahan/kekuatan
dapat
memberikan informasi bagi pemulihan
Menurunkan resiko trejadinya trauma/iskemia
jaringan

setiap 2 jam (terlentang/miring)


3.

4.

5.

Mulailah melakukan
latihan rentang gerak aktif aktif dan pasif dan semua
ektermitas
Anjurkan
pasien
untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstermitas yang tidak sakit
Kolaborasikan
dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan
ambulasi pasien.

Meminimalkan
atrofi
otot,
sirkkulasi, membantu mencegah kontraktur

meningkatkan

Dapat berespon dengan baik jika daerah yang sakit


tidak menjadi lebih terganggu
Program khusus dapat dikembangkan untuk
menemukan kebutuhan yang berarti/menjaga kekurangan tsb
dalam keseimbangan, koordinasi dan kekuatan.

3. Diagnosa :
Tujuan

Kerusakan komunikasi verbal, berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler/perseptual.

: Mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah.
Mempertahankan berat badan yang diinginkan.
Perencanaan/intervensi

Mandiri :
1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi
2. Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana

Rasional
-Perubahan dalam isis kognitif dan bicara merupakan indicator
dari derajat ganggu serebral
-Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik

3. Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda -Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik
tersebut
4. Ajarkan klien teknik berkomunikasi non verbal (bahasa -Bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi pesan
isyarat)
yang dimaksud

4. Diagnosa : Defisit perawatan diri


Tujuan

: ADL klien dapat terpenuhi


Perencanaan/intervensi

Mandiri :
1. Pantau tingkat kekuatan dan toleransi aktivitas
2. Pantau peningkatan dan penurunan kemampuan untuk
berpakaian dan melakukan perawatan diri
3. Bantu klien memilih dan memakai pakaian yang mudah
dipakai dan dilepas
4. Bantu klien mengganti pakaian setelah eliminasi
5. Monitor kemampuan klien menelan

Rasional
-

Mengetahui tingkat ketergantungan klien


Sebagai acuan untuk melihat kemampuan klien dalam
melakukan perawatan diri khususnya berhias
Memudahkan klien dalam menganti pakaian
Membantu menjaga kebersihan diri klien
Melihat kemampuan fisik termasuk
menelan

kemampuan

5. Diagnosa : Gangguan Harga diri

Tujuan

: Perkembangan persepsi negative terhadap diri sendiri tidak terjadi


Perencanaan/intervensi

Mandiri :
1. Dorong pasien mengidentifikasi kekuatan yang dimilikinya
2. Monitor frekuensi komunikasi verbal yang negatif
3. Beri motivasi klien dalam menerima tantangan/keadaan
dirinya saat ini
4. Pantau tingkat perubahan emosional klien
5. Anjurkan keluarga untuk tetap membei motivasi untuk klien

Rasional
-

Membantu meningkatkan pikiran positif klien terhadap


dirinya
Menilai tingkat derajat penilaian negative tentang
dirinya sendiri
Sebagai acuan untuk tindakan selanjutnya
Keluarga sebagai orang terdekat yang dipercaya lebih

efektif membantu klien dalam mengontrol emosi dan


pemikiran negative klien

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes Marilynn. E, dkk. 2000, Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Penerbit
buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Novak, Patricia D. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland Cetakan I. Buku Kedokteran
EGC: Jakarta.
Akperppnisolo. 2008, Sistem Persarafan Stroke Non Hemoragik. Blogspot. Dalam
http://www.akperppni.ac.id/sistem-persarafan/stroke-non-hemoragik .

Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 20:00 WITA.


Anonim. 2000, Manifestasi Klinik Stroke Non Hemoragik. Blogspot. Dalam
http://www.infofisioterapi.com/manisfestasi-klinik-stroke.html .

Diakses

pada 05 Mei 2011 20:43 wita.


Anonim. 2000, Konsep Dasar Stroke Non Hemoragik . Adobe Acrobat Dokument.
Dalam

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptunimus-gdl-

garniscint-5431-2-babii.pdf. Diakses pada 05 Mei 2011 Pukul 19:22 WITA.

Boy. 2008, Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Stroke. Blogspot. Bengkulu.
Dalam http://mhs.blog.ui.ac.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatanpada-klien-dengan-stroke/. Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 20:01 WITA.

Hidayat.

2009,

Stroke

Non

Hemoragik.

Wordpress.

Dalam

http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/23/askep-stroke-nonhemoragik/. Diakses pada 05 Mei 2011 20:17 WITA.

Indeks . 2011, Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit. Cetakan I.


www.indeks-penerbit.com. Jakarta Barat. Diakses pada 05 Mei 2011 pukul

21:00.
Fariyansyah, Nurhadi Febrian. 2009, Patofisiologi Dan Diagnosis Stroke. Blogspot.
Dalam

http://kedokteran-febrian.blogspot.com/2009/02/patofisiologi-

dan-diagnosis-stroke.html. Diakses pada 06 Mei 2011 pukul 11: 05 WITA.

Wikipedia. 2000, Stroke. Wikipedia. Dalam

http://en.wikipedia.org/wiki/Stroke.

Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 20:15 WITA.