Anda di halaman 1dari 4

Riska and Rony (^_^) 10

TINEA CORPORIS

Tinea korporis adalah penyakit karena infeksi jamur dermatofita pada kulit halus
(glabrous skin) seperti di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal.1 Faktor
yang berpengaruh disini adalah keadaan lembab oleh karena keringat dan
obesititas

1 Sinonim
Sinonim dari Tinea Korporis adalah Tinea sirsinata, Tinea glabrosa, Scherende
Flechte, kurap, herpes sircine trichophytique.

2 Etiologi
Penyebab tersering Tinea Korporis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton
mentagrophytes.

3 Gejala
Pasien mengeluh gatal yang kadang-kadang meningkat waktu berkeringat.1
Riska and Rony (^_^) 10

4 Gambaran Klinis

Kelainan yang dilihat dari Tinea korporis dalam klinik merupakan lesi bulat atau
lonjong , berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan
vesikel dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang, sementara yang
di tepi lebih aktif ( tanda peradangan lebih jelas ) yang sering disebut dengan
sentral healing. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi
pada umumnya merupakan bercak – bercak terpisah satu dengan yang lain.
Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik,
karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda radang yang
lebih nyata, lebih sering dilihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena
umumnya mereka mendapat infeksi baru pertama kali.5

Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang mendadak biasanya tidak terlihat
lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan
kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea corporis et cruris atau
sebaliknya tinea cruris et corporis.5

5 Diagnosis

Diagnosis dibuat berdasarkan gambaran klinis, hasil pemeriksaan sediaan langsung


yang positif dan biakan. Kadang – kadang diperlukan pemeriksaan dengan lampu
Wood, yang mengeluarkan sinar ultraviolet dengan gelombang 3650 Ao.
Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH 10-20% bila positif memperlihatkan
elemen jamur berupa hifa panjang dan artrospora.2
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan
langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap
paling baik pada waktu ini adalah medium agar dekstrosa Sabouraud.5 Biakan
memberikan hasil lebih cukup lengkap, akan tetapi lebih sulit dikerjakan, lebih
mahal biayanya, hasil diperoleh dalam waktu lebih lama dan sensitivitasnya kurang
(± 60%) bila dibandingkan dengan cara pemeriksaan sediaan langsung.2

6 Diagnosis Banding

Tidaklah begitu sukar untuk menentukan diagnosis tinea korporis pada umumnya,
namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan diagnosis itu, misalnya
dermatitis seboroika, psoriasis, dan pitiriasis rosea.5
Kelainan kulit pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea korporis,
Riska and Rony (^_^) 10
biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya di kulit kepala
(scalp), lipatan-lipatan kulit, misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan
sebagainya.. Kulit kepala berambut juga sering terkena penyakit ini. Gambaran
klinis yang khas dari dermatitis seboroika adalah skuamanya yang berminyak dan
kekuningan.
Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada tubuh
dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa
herald patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis.
Perbedaannya pada pitiriasis rosea gatalnya tidak begitu berat seperti pada tinea
korporis, skuamanya halus sedangkan pada tinea korporis kasar. Pemeriksaan
laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya.5
Psoriasis pada stadium penyembuhan menunjukkan gambaran eritema pada bagian
pinggir sehingga menyerupai tinea. Perbedaannya ialah pada psoriasis terdapat
tanda-tanda khas yakni skuama kasar, transparan serta berlapis-lapis, fenomena
tetes lilin, dan fenomena auspitz. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada
tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung

7 Pengobatan
a. Pengobatan topikal3
- Kombinasi asam salisilat (3-6%) dan asam benzoat (6-12%) dalam bentuk salep
( Salep Whitfield).
- Kombinasi asam salisilat dan sulfur presipitatum dalam bentuk salep (salep 2-4,
salep 3-10)
- Derivat azol : mikonazol 2%, klotrimasol 1%, ketokonazol 1% dll.

b. . Pengobatan sistemik3
¬ Griseofulvin 500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-anak 10-25 mg/kgBB
sehari.
Lama pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah 3-4 minggu, diberikan bila
lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal tidak ada perbaikan.
¬ Ketokonazol 200 mg per hari selama 10 hari – 2 minggu pada pagi hari setelah
makan
¬ Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder.
Pada kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan deriivat azol seperti
itrakonazol, flukonazol dll.

8 Pencegahan
Riska and Rony (^_^) 10
Faktor-faktor yang perlu dihindari atau dihilangkan untuk mencegah terjadi tinea
korporis antara lain :6
a. Mengurangi kelembaban dari tubuh pasien dengan menghindari pakaian yang
panas (karet, nylon), memperbaiki ventilasi rumah dan menghindari berkeringat
yang berlebihan.
b. Menghindari sumber penularan yaitu binatang, kuda, sapi, kucing, anjing, atau
kontak pasien lain.
c. Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki.
d. Meningkatkan hygiene dan memperbaiki makanan.
e. Faktor-faktor predisposisi lain seperti diabetes mellitus, kelaian endokrin yang
lain, leukemia, harus dikontrol.
Beberapa faktor yang memudahkan timbulnya residif pada tinea kruris harus
dihindari atau dihilangkan antara lain :
a. Temperatur lingkungan yang tinggi, keringat berlebihan, pakaian dari karet atau
nilon.
b. Pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air misalnya berenang
c. Kegemukan , selain faktor kelembaban, gesekan kronis dan keringat berlebihan
disertai higiene yang kurang, memudahkan timbulnya infeksi jamur.

9 Prognosis
Prognosis pada umumnya baik.1,2,4