Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

GONORE

Pembimbing / Penguji :

dr. Endang Soekmawati, Sp.KK

Disusun oleh:

Sharania Manivannan
11.2014.182

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE
29 JUNI 2015- 1 AUGUSTUS 2015
Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

BAB 1
PENDAHULUAN

Gonore merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri


diplokokus gram negatif Neisseria gonorhoeae yang menginfeksi lapisan uretra bagian
dalam, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan konjungtiva. Penyebaran gonore dalam tubuh
bisa melalui aliran darah terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke
saluran kelamin kemudian menginfeksi selaput yang ada di dalam pinggul sehingga
menimbulkan nyeri pinggul dan gangguan reproduksi. Pada umumnya gonore merupakan
penyakit yang mempunyai insidensi yang paling tinggi diantara penyakit menular seksual
lainnya. Penularan gonore selain ditularkan dengan cara berhubungan seksual yaitu genitogenital, oro-genital, dan ano-genital, akan tetapi dapat juga ditularkan secara manual melalui
barang perantara yang sudah dipakai oleh penderita seperti pakaian terutama pakaian dalam,
haduk, termometer, dan sebagainya.1,2
Gonore biasanya ditandai dengan uretritis purulen kelamin dan disuria. Infeksi juga
bisa tanpa gejala, terutama pada wanita. Penderita pembawa asimtomatik lebih mungkin
menularkan penyakit dibandingkan orang dengan infeksi terbuka. Demikian pula, infeksi
anorektal dan faring, yang tidak jarang terjadi pada wanita dan pria yang melakukan
hubungan seksual dengan pria, sering terjadi tanpa gejala akan tetapi tetap merupakan sumber
penularan yang potensial. Kejadian gonore diperkirakan Global adalah sekitar 62 juta orang
terinfeksi setiap tahunnya. Komplikasi yang terjadi pada penyakit gonore ini adalah termasuk
epididimitis pada pria dengan risiko berikutnya infertilitas dan kehamilan ektopik. Dalam
sekitar 1% kasus, gonococcus menjadi invasif dan bakteremia berkembang.1
BAB 2
PEMBAHASAN
I.

DEFINISI
Gonore adalah penyakit kelamin yang pada permulaannya keluar cairan putih kental

berupa nanah dari OUE (orifisium uretra eksternum) sesudah melakukan hubungan kelamin.
Gonore adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, sebuah

Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

diplococcus gram negatif yang

reservoirnya adalah manusia. Infeksi ini hampir selalu

dikontrak selama aktifitas seksual.


Menurut kamus saku dorlan gonore adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
kuman Neisseria gonorrheae yang sebagian besar kasus ditularkan melalui hubungan
seksual.1
II.

EPIDEMIOLOGI

a) Demografi
Demografi di seluruh dunia. Di Afrika, prevalensi rata-rata gonore pada wanita hamil
adalah 10%. Insiden disseminated gonococcal infection (DGI) bervariasi dengan kejadian
lokal strain gonococcus dari DGI.
b) Insidensi
Insidensi tertinggi terjadi di negara berkembang. Prevalensi DGI pada wanita hamil:
10% di Afrika, 5% di Amerika Latin, 4% di Asia. Insiden gonore di Amerika Serikat
meningkat secara dramatis pada tahun 1960 dan awal 1970 mencapai lebih dari 1 juta kasus
dilaporkan setiap tahun. Diperkirakan bahwa kurang dari sepertiga dari kasus baru
dilaporkan. Pada tahun 1980, terjadi penurunan lambat dalam kasus yang dilaporkan kepada
sekitar 700.000 per tahun. Penurunan bertahap terus dengan kurang dari 400.000 kasus
gonore dilaporkan pada tahun 2000. Tren penurunan infeksi melambat, tapi terus berlanjut
sampai 1997. Praktek seks yang aman di era Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
memiliki dampak tambahan pada penurunan kejadian semua penyakit menular seksual. Pada
tahun 1998, jumlah kasus yang dilaporkan naik sedikit dari 327.000 ke 360.000, di mana ia
tetap hingga tahun 2000. Skrining meningkat dan sensitivitas tes yang ikut bertanggung
jawab atas peningkatan ini, tetapi peningkatan benar dalam populasi tertentu tampaknya telah
terjadi.
Penyakit ini tersebar hampir secara eksklusif oleh aktivitas seksual, meskipun bayi
baru lahir dapat terinfeksi oleh eksposur selama proses kelahiran. Meskipun semua kelompok
umur rentan, infeksi lebih menonjol dalam 15 sampai 35 tahun kelompok usia.2

Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

III.

ETIOLOGI
Penyebab penyakit gonore adalah gonokokus yang ditemukan oleh Neisser pada tahun

1879. Setelah ditemukan kemudian kuman tersebut dimasukkan dalam grup Neisseria dan
pada grup ini dikenal 4 spesies dan diantaranya adalah N. gonorrhoeae, N. meningitidis
dimana kedua spesies ini bersifat patogen. Kemudian 2 spesies lainnya yang bersifat
komensel diantaranya adalah N. catarrhalis dan N. pharyngis sicca. Keempat spesies dari
grup neisseria ini sukar untuk dibedakan kecuali dengan menggunakan tes fermentasi.
Gonokokus termasuk golongan bakteri diplokokus berbentuk seperti biji kopi yang bersifat
tahan terhadap asam dan mempunyai ukuran lebar 0,8 dan mempunyai panjang 1,6. Dalam
sediaan langsung yang diwarnai dengan pewarnaan gram, kuman tersebut bersifat gram
negatif, tampak diluar dan didalam leukosit, kuman ini tidak tahan lama di udara bebas, cepat
mati dalam keadaan kering, tidak tahan terhadap suhu diatas 39 oC, dan kuman ini tidak tahan
terhadap zat desinfektan.
Secara morfologik Gonokokus ini terdiri atas 4 tipe yaitu tipe 1 dan 2 yang
mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan
bersifat nonvirulen. Pili tersebut akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan
suatu peradangan.3

Gamba
r 1 :Gram stain dari eksudat uretra

Gambar 2 : bakteri Neisseria gonorhoeae.4

yang menunjukkan N. gonore dalam PMN.4

Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

IV.

PATOFISIOLOGI
Bakteri Neisseria gonorhoeae merupakan bakteri diplokokus aerobic gram negatif,

intraseluler yang dapat mempengaruhi epitel kuboid atau kolumner host. Beberapa faktor
yang mempengaruhi cara Gonokokus memediasi virulensi dan patogenisitasnya. Pili dapat
membantu pergerakan Gonokokus ke permukaan mukosa. Membran protein luar seperti
protein opacity-associated (opa) dapat meningkatkan perlekatan antara Gonokokus dan juga
dapat meningkatkan perlekatan fagosit. Produksi yang dimediasi plasmid tipe TEM-1 beta
laktamase (penisilinase) juga berperan pada virulensinya. Dengan bantuan pili dan protein
opa Gonokokus dapat melekat pada sel mukosa host dan kemudian terjadi penetrasi
seluruhnya diantara sel dalam ruang subepitel. Karakteristik respon host oleh invasi dengan
netrofil, diikuti dengan pengelupasan epitel, kemudian pembentukan mikroanses submukosal
dan discharge puruen. Apabila tidak dilakukan pengobatan infiltrasi makrofag dan limfosit
akan digantikan oleh netrofil. Beberapa stran menyebabkan infeksi asimptomatik.4

Gambar 3 menunjukan patofisiologi terjadinya gonore.7

Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Gonococcus memiliki afinitas untuk epitel kolumnar; epitel skuamosa bertingkat dan
lebih tahan terhadap serangan. Epitel ditembus antara sel-sel epitel, menyebabkan radang
submukosa dengan polimorfonuklear (PMN) reaksi leukosit dengan keluarnya cairan purulen
yang dihasilkan. Strain gonococcus yang menyebabkan DGI cenderung menyebabkan
peradangan genital sedikit dan dengan demikian menghindari deteksi. Sebagian tanda-tanda
dan gejala DGI adalah manifestasi dari kekebalan kompleks pembentukan dan pengendapan.
Beberapa episode dari DGI mungkin berhubungan dengan kelainan faktor komponen
komplemen terminal.5
V.

GEJALA KLINIS
Penularan gonore dapat terjadi malalui kontak seksual dengan penderita gonoroe.

Masa tunas penyakit ini terutama pada laki laki bevariasi berkisar antara 2-5 hari. Biasanya
bisa lebih lama berkisar 1-14 hari, hal ini disebabkan karena penderita sudah mengobati diri
sendiri. Pada wanita sulit ditemukan masa tunasnya karena pada umumnya asimtomatik.
Gejala yang paling sering ditemukan pada pria adalah uretritis anterior akut dan dapat
menjalar ke proksimal, keluhan subyektif yang dirasakan adalah rasa gatal dan panas
dibagian distal uretra, terutama disekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul
disuria, polakisuria, keluar duh tubuh yang kadang kadang disertai dengan darah dari ujung
uretra dan disertai rasa nyeri pada saat ereksi.
Pada saat pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum eritematosa, edematosa dan
ektropion. Pada wanita baik penyakitnya akut ataupun kronik gejala subyektif jarang
ditemukan dan hampir tidak pernah didapati adapun gejala yang didapatkan adalah berupa
keputihan atau duh tubuh yang mukopurulen, disuria, bisa juga uretritis, servisitis,
bartholinitis dan proktitis. Biasanya pada wanita gejala yang dikeluhkan timbul setelah terjadi
komplikasi. Wanita dapat merasakan nyeri perut yang sangat hebat, merasakan sakit yang
luar biasa saat buang air kecil, air kencing berwarna kuning kehijauan dan alat kelamin juga
bagian anus penderita terasa gatal-gatal, sakit, dan keluar pendarahan.6

Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Gambar 4 menunjukkan gejala klinis pada pasien laki- laki dan wanita dengan penyakit gonore. 4

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Sediaan Langsung
Pada sediaan langsung bahan sediaan yang digunakan diambil pada pasien pria dari
pus di uretra yang keluar spontan atau melalui pijatan, sedimen urin, masase prostat.
Sedangkan pada wanita muara uretra, muara kelenjar bartolini, servic, rektum. Bahan yang
diambil setelah dibuat sediaan kemudian dilakukan pewarnaan gram untuk melihat adanya
kuman diplococcus gram negatif berbentuk seperti biji kopi yang terletak intra dan ekstra
seluler.
2. Percobaan dua gelas (tes Thomson)
Digunakan untuk mengetahui infeksi sudah sampai uretra bagian anterior atau
posterior. Bahyan yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah urin pagi pada saat
kandung kencing masih penuh. Gelas 1 diisi dengan urin sebanyak 80cc gelas 2 sisanya.
Bila gelas 1 keruh dan gelas 2 jernih berarti infeksi pada uretra anterior, dan bila kedua
gelas keruh berarti infeksi sudah memasuki uretra posterior.7
3. Kultur
Pada pemeriksaan kultur digunakan media selektif berupa:
1. Thayer Martin
Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Media ini selektif untuk megisolasi gonokokus. media ini mengandung vankomisin
untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram, kolestimeta untuk menekan
pertumbuhan gakteri negatif-Gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan
jamur.
2. Media modifikasi Thayer Martin
Isi media ini adalah media thayer martin ditambah dengan trimethoprim untuk
mencegah pertumbuhan kuman proteus spp.
3. Agar coklat McLeod
Media ini berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman
gonokokus bakteri lain juga dapat tumbuh pada media ini.
4. Tes Definitif (dari hasil kultur yang positif)
a. Tes oksidasi
Coloni Gonokokus tersangka + laruan tetrametil-p-fenilendiamin hiroklorida 1 %
hasil positif bila warna koloni berubah dari jernih ke erah muda atau merah
lembayung.
b. Tes fermentasi
Menggunakan glukosa, maltosa dan sukrosa. Kuman Gonokokus hanya
memfermentasi glukosa.
c. Tes beta-laktamase
Menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung chromogenic
chepalosporin. Bila kuman megandung beta-laktamase akan terjadi perubahan
warna dari kuning menjadi merah.6,7
VII.

DIAGNOSIS KERJA

Gonorrhea adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea
yang penularannya melalui hubungan kelamin baik melalui genito-genital, oro-genital, anogenital. Penyakit ini menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan
konjungtiva. Gonorrhea adalah salah satu penyakit kelamin yang yang disebabkan oleh
infeksi kuman Neisseria gonorrhoea ( diplokokkus gram negatif ).
Gonorrhea adalah sejenis penyakit yang berjangkit melalui hubungan kelamin yang
disebabkan oleh bakteria Neisseria Gonorrhoeae, yaitu sejenis bakteria yang hidup dan
Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

mudah membiak dengan cepat di dalam saluran pembiakan seperti pangkal rahim (cervix),
rahim(uterus), dan tuba fallopi (saluran telur) bagi wanita dan juga saluran kencing (urine
canal) bagi wanita dan lelaki. Bakteria ini juga bisa berkembang biak di dalam mulut,
kerongkong, mata dan dubur.7
VIII. DIAGNOSA BANDING
Non gonore Uretritis
Ditandai dengan disuria, sering dengan keluarnya cairan dari uretra atau frekuensi
kencing, dan dengan tidak adanya N. gonorrhoeae, masa inkubasi lebih lama, onset yang
kurang akut, dan keluarnya cairan dari uretra hanya sedikit sekali kali, cairan tidak jelas,
rasa tidak nyaman atau nyeri hanya pada uretra.
Trichomonas vaginalis
Pada wanita biasanya muncul sebagai eksudat, warna kekuning kuningan, berbusa, bau
tidak enak, dinding vagina tampak kemeahan dan sembab. Pada laki laki gejalanya berupa
disuria, poliuria dan sekret uretra mukoid dan mukopurulen, urin biasanya jernih dan
kadang kadang ada benang benang halus.8
IX.

PENCEGAHAN

Karena gonore ini sangat menular namun seringkali tidak menampakkan gejala gejala
khusus, seseorang yang pernah melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan
sebaiknya memeriksakan dirinya dengan teratur. Penggunaan kondom dan diafragma dapat
mencegah penularan. Selain itu perlu terus waspada, karena sekali seseorang terinfeksi, tidak
berarti selanjutnya ia menjadi kebal atau imun. Banyak orang terserang gonore ini lebih dari
sekali.
Pencegahan jauh lebih baik dan lebih mudah dibandingkan dengan pengobatan. Perlu di
tinjau kembali perilaku seksual sekarang, dan segera meninggalkan perilaku yang beresiko
dan tidak bertanggung jawab. Jika sudah terlanjur terinfeksi, segeralah memeriksakan diri ke
dokter.8

X.

KOMPLIKASI
Alamat korespondensi
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Komplikasi pada pria :

Uretritis
Uretritis yang sering dijumpai adalah uretitis anterior akut dan dapat menjalar ke

proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asendens, dan diseminata. Keluhan


subyektif biasanya berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra disekitar orifisium uretra
eksternum, kemudian disusul disuria, polakisuria, duh tubuh yang keluar dari ujung uretra
dan biasanya disertai dengan darah dan disertai juga dengan perasaan nyeri pada waktu
ereksi. Pada pemeriksaan yang dilakukan terlihat orifisium uretra ekstrnum eritematosa,
edematosa dan ekstropion.

Tysonitis
Kelenjar tyson adalah kelenjar yang menghasilkan segmen, dimana infeksi biasanya

dapat terjadi pada penderita yang mempunyai preputium sangat panjang dan kebersihan yang
kurang baik, pada komplikasi ini biasanya diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir
pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan.

Parauretritis
Biasanya terjadi pada penderita dengan orifisium uretra eksternum yang terbuka atau

hipospadia. Infeksi ini dapat ditandai dengan adanya pus yang ditemukan pada kedua muara
parauretra.

Cowperitis
Jika infeksi hanya mengenai duktus biasanya tanpa disertai gejala. Akan tetapi jika

yang terkena pada kelenjar cowper dapat ditandai dengan terjadinya abses. Keluhan yang
dirasakan berupa nyeri dan adanya benjolan pada daerah perinium disertai rasa penuh dan
panas, nyeri pada waktu defekasi, dan disuria. Jika tidak diobati maka abses akan pecah
melalui kulit perineum, uretra atau rektum dan mengakibatkan proktitis.

Prostatitis
Alamat korespondensi 10
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan
suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai hematuria, spasme otot uretra sehingga
dapat terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air besar dan obstipasi. Pada pemeriksaan
didapatkan pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri tekanan didapatkan fluktuasi
bila telah terjadi abses. Pada pemeriksaan prostat didapatkan prostat terasa kenyal, berbentuk
nodus, dan terasa nyeri pada penekanan dan biasanya didapatkan fluktuasi jika terdapat
abses.9

Vesikulitis
Vesikulitis merupakan suatu radang akut yang mengenai bagian vesikula seminalis

dan duktus ejakulatoris, dapat juga timbul menyertai prostatitis akut atau epididimitis akut.
Gejala subyektif yang timbul hampir menyerupai gejala prostatitis akut berupa demam,
polakisuri, hematuria terminal, nyeri pada waktu ereksi atau ejakulasi, dan spasme
mengandung darah. Pada pemeriksaan yang dilakukan melalui rektum dapat teraba vesikula
seminalis yang membengkak dan keras seperti sosis, memanjang diatas prostat.

Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis biasanya disertai oleh

deferenitis ( infeksi duktus deferen). Keadaan yang dapat menimbulkan epididimitis biasanya
adalah trauma pada uretra posterior, biasanya disebabkan oleh kesalahan dalam penanganan
atau kelalaian yang dilakukan oleh penderita sendiri. Faktor yang dapat mempengaruhi
keadaan ini antara lain irigasi yang sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas atau pekat,
instrumentasi yang kasar, pengurutan prostat yang terlalu berlebihan. aktivitas seksual dan
jasmani yang terlalu berlebihan. Epididimis teraba panas dan membengkak, juga testis,
menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai kedua
epididirmis dapat mengakibatkan sterilitas.

Trigonitis
Infeksi asenden dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria.

Trigonitis menimbulkan gejala berupa poliuria, disuria terminal, dan hematuria.

Alamat korespondensi 11
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita,
baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak
pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang kalau sudah ada komplikasi.
Sebagian penderita ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan keluarga
berencana.
Pada mulanya hanya servik uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang mukopurulen
dan mengandung banyak gonokokus mengalir keluar dan menyerang uretra, duktus
parauretra, kelenjar bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah
kandung telur. Komplikasi pada wanita terdiri dari :

Uretritis
Gejala utama yang ditimbulkan berupa disuria, biasanya juga bisa terjadi poliuria.

Gejalanya biasanya bervariasi, nanah dapat terlihat dipancarkan dari meatus, urin berwarna
merah di luar. Pada pemeriksaan yang dilakukan didapatkan orifisium uretra eksternum
tampak merah, edematosa, dan terdapat sekret yang mukopurulen.9

Servisitis
Pada infeksi ini dapat berupa asimtomatik biasanya menimbulkan rasa nyeri pada

punggung bawah. Pada pemeriksaan leher rahim bisa terlihat normal, atau mungkin
menunjukkan perubahan inflamasi ditandai dengan erosi serviks dan nanah memancar dan
sekret mukopurulen, duh tubuh terlihat lebih banyak.

Bartholinitis
Pada infeksi ini labia mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri

tekan. Kelenjar bartolini membengkak dan terasa nyeri sekali apabila penderita berjalan dan
selain itu juga penderita sukar untuk duduk. Bartholin yang bengkak dapat teraba sebagai
massa membengkak jauh di setengah bagian belakang labia majora jika saluran kelenjar
tersebut timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau kulit.

Salpingitis
Alamat korespondensi 12
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Pada peradangan yang terjadi dapat bersifat akut, subakut, ataupun kronik. Ada
beberapa faktor sebagai predisposisi diantaranya masa puerperium (nifas), dilatasi setelah
kuretase, dan pemakaian AIU, tindakan AKDR. Cara infeksi dapat langsung melalui tuba
falopi sampai pada daerah salping dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang
panggul. Kurang lebih 10% wanita dengan mengalami penyakit gonore akan berakhir dengan
penyakit radang panggul. Gejala yang dirasakan berupa nyeri yang dirasakan pada daerah
abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuri, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.8,9
Penyakit gonore selain menginfeksi genitalia dapat juga menginfeksi organ lain( nongenitalia).
1. Proktitis
Proktitis yang terjadi pada pria dan wanita pada umumnya asimtomatik. Pada wanita
biasanya terjadi karena kontaminasi dari vagina dan kadang - kadang terjadi karena hubungan
seksual genetoanal seperti pada pria. Keluhan yang dirasakan pada wanita biasanya lebih
ringan dari pada pria, terasa panas seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan
yang dilakukan tampak mukosa eritematosa, edematosa, dan tertutup pus mukopurulen.
2. Orofaringitis
Cara infeksi pada penyakit ini melalui kontak langsung secara orogenital. Faringitis
gonore dan tonsilitis gonore lebih sering daripada gingivitis, stomatis, atau laringitis. Keluhan
yang dirasakan biasanya bersifat asimtomatik. Pada pemeriksaan yang dilakukan di daerah
orofaring tampak eksudat mukopurulen.
3. Konjungtivitis
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita servisitis
gonore. Gejala pada bayi ditemukan kelainan bilateral dengan sekret kuning kental, sekret
dapat bersifat serous tetapi kemudian menjadi kuning kental dan purulen. Kelopak mata
membengkak, sukar dibuka dan terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal.
Konjungtiva bulbi merah, kemotik dan tebal. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena
penularan konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhan yang dirasakan pada penderita
berupa fotofobia, konjungtiva bengkak, konjungtiva merah dan keluar eksudat mukopurulen.

Alamat korespondensi 13
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Gambar 5 menunjukkan konjunctivitis gonore pada bayi.4


4. Gonore diseminata
Penyakit gonore akan berkelanjutan menjadi penyakit gonore diseminata
kurang lebih 1% kasus gonore. DGI adalah infeksi sistemik yang mengikuti penyebaran
hematogen dari gonococcus dari situs mukosa yang terinfeksi ke kulit, tenosynovium, dan
sendi. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada penderita dengan gonore asimtomatik
sebelumnya terutama terjadi pada wanita. Gejala yang timbul pada penyakit ini dapat berupa
demam, lesi acral petechial atau berjerawat, arthralgias asimetris, tenosynovitis, atau arthritis
septik.9
PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa

Memberikan edukasi kepada pasien dengan menjelaskan tentang:


-

Bahaya penyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya.

Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan.

Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya.

Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tidak
dapat dihindarkan.

Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang.

Pengobatan pada pasangan seksual tetapnya.

Alamat korespondensi 14
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Medikamentosa
Tidak ada Fasilitas Laboratorium

Ada Fasilitas Laboratorium ( Mikroskop )


Alamat korespondensi 15
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Fasilitas Laboratorium Lengkap

Alamat korespondensi 16
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

Disamping fasilitas pemeriksaan laboratorium, penatalaksanaan gonore juga bergantung pada


insiden galur NGPP. Akan tetapi apabila kita melihat laporan Centers for Disease Control
(C.D.C) pada tahun 1989, maka pola penatalaksanaan uretritis gonore mengalami beberapa
perubahan yang disebabkan oleh:
1. Tingginya insidensi klamidia bersamaan dengan gonore (25-50%)
Alamat korespondensi 17
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

2. Tingginya insiden infeksi klamidia dan gonore disertai komplikasi


3. Kesukaran teknik pemeriksaan klamidia
4. Makin banyaknya laporan galur gonore yang resisten terhadap tetrasiklin
5. Makin tingginya laporan galur NGPP
Mengingat hal tersebut diatas, Maka CDC (1989) menganjurkan agar pada pengobatan
uretritis gonore tidak digunakan lagi penisilin atau derivatnya, dan disamping itu diberikan
juga obat untuk uretritis non gonore (klamida) secara bersamaan.9

Uretritis

GO :

Seftriakson 250 mg i.m., atau


Spektinomisin 2 gr i.m., atau
Siprofloksasin 500 mg, oral.
+
Doksisiklin 2x100 mg, selama 7 hari,
atau
Tetra siklin 4x500 mg, selama 7 hari,
atau
Eritromisin 4x500 mg, selama 7 hari.

Alternatif lain untuk GO : Sefuroksim 1 gr. Oral + 1 gr probenesid


Sefotaksim 1 gr. i.m. + Doksisiklin 2x100 mg, selama 7 hari/
Tetrasiklin 4x500 mg, selama 7 hari, atau
Eritromisin 4x500 mg, selama 7 hari
Gonore Tanpa komplikasi (cerviks, uretra, rectum dan faring)
Alamat korespondensi 18
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

ciprofloxacine 500 mg per oral dosis tunggal


ofloxaxine 400 mg per oral dosis tunggal
cefixime 400 mg per oral dosis tunggal
ceftriaxone 250 mg i.m. dosis tunggal.

Bila diduga ada infeksi campuran dengan chlamydia ditambah

Azithromycin 1 g per oral dosis tunggal


erytromycine 500 mg sehari 4 kali per oral selama 7 hari
doxycycline 100 mg sehari 2 kali per oral selama 7 hari

Gonore dengan komplikasi sistemik

Meningitis dan endocarditis


o cetriaxone 1-2 g i.v. setiap 24 jam,
o untuk meningitis dilanjutkan 10-14 hari
o untuk endokarditis diteruskan paling sedikit 4 minggu
artritis, tenosynovitis dan dermatitis
o ciprofloxacine 500 mg i.v setiap 12 jam
o ofloxacine 400 mg setiap 12 jam
o cefotaxime 1 g i.v. setiap 8 jam
o ceftriaxone 1 g i.m/i.v tiap 24 jam

Gonore pada bayi dan anak

sepsis, arthritis, meningitis atau abses kulit kepala pada bayi


o ceftiaxone 25-50 mg/kg/hari i.m/i.v 1 kali sehari selama 7 hari
o cefotaxime 25 mg/kg i.v/i.m setiap 12 jam selama 7 hari
o bila positif meningitis lama pengobatan 10-14 hari
vulvovaginitis, cervicitis, uretritis, faringitis atau proctitis pada anak
o ceftriaxone125 mg i.m dosis tunggal + pengobatan infeksi chlamydia
o untuk anak dengan berat badan > 45 kg obat dan dosis obat sama seperti orang
dewasa
bakterimia atau arthritis pada anak
o ceftriaxone 50 mg/kg (maks.1 g untuk BB < 45 kg dan 2 g untuk BB > 45 kg)
i.m/i.v 1 kali sehari selama 7 hari atau 10-14 hari untuk BB >45

Gonore pada wanita hamil

Ceftriaxone 250 mg dosis tunggal


amoxicillin 3 g + probenesid 1 g
cefixime 400 mg dosis tunggal.

Alamat korespondensi 19
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

PROGNOSIS
Pengobatan secara dini dan tepat memberi prognosis yang lebih baik, yakni masa
penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih jarang. Biakan setelah pengobatan
perlu dilakukan untuk memeriksa kesembuhan. Pada pria, gonore yang tidak diobati akan
menghilang setelah beberapa minggu, walaupun sedikit lendir mukoid dan uretra mungkin
masih keluar selama berbulan-bulan. Striktur uretra sering terjadi, terutama setelah serangan
berulang-ulang kambuh atau yang tidak diobati.
Wanita yang tidak diobati mungkin tetap merupakan carrier selama berbulan-bulan dan
menimbulkan infeksi gonokok ekstragenital. Angka kegagalan pengobatan tetap tinggi kirakira 3%-8% walaupun pengobatan sesuai dengan yang diigariskan.10

BAB 3
KESIMPULAN

Gonore adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.
Gonore mempengaruhi baik laki-laki maupun perempuan yang ditularkan melalui hubungan
seksual vaginal, oral maupun anal dan dapat masuk ke dalam uretra, anus, tenggorokan,
cerviks (leher rahim) atau rahim. Orang bisa juga mendapatkan infeksi dari mata. Pada lakilaki gejala yang timbul berupa terjadi uretritis, keluar cairan seperti nanah dari penis, uretra
meradang, perih saat buang air kecil, terjadi epididimitis. Sedangkan pada perempuan akan
timbul gejala berupa terjadi cervicitis, keluar cairan seperti nanah dari vagina, nyeri saat
buang air kecil, susah buang air kecil, menstruasi pendarahan. Pemeriksaan untuk gonore
dilakukan dengan mengambil sampel dari cervix atau penis bila melakukan hubungan seksual
oral diambil sampel dari tenggorokan dan mengambil contoh urine.
Pencegahan untuk penyakit gonore yaitu melakukan seks yang aman dengan
menggunakan kondom. Mengobati gonore dengan menggunakan antibiotik. Rehabilitasi yang
dilakukan dengan sikap kepatuhan penderita terhadap pengobatan, konsultasi ke klinik
kesehatan seksual, serta dukungan dan simpati dari mitra seksual. Gonore jika didiagnosis

Alamat korespondensi 20
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana

dini dan pengobatan tepat dan segera menghasilkan prognosis baik, tetapi bila telah sampai
pada tahap lanjut memberikan prognosis buruk.
DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, Adhi, Mochtar, Aisah, Siti. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima.
FKUI, Jakarta: 2008
2. Sukmayanti. E, 2008. Penyakit Hubungan Seksual. Karya Tulis Ilmiah. Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada. Bandung.
3. Doudier B, Garcia S, Quennee V: Prognostic factors associated with severe
leptospirosis. Clin Microbiol Infect 2006 Apr; 12(4): 299-300.
4. Wong, Brian. 2011. Gonococcal Infections. diakses 12

Juli

2015

dari

http://emedicine.medscape.com/article/218059-overview.
5. Siregar,R.S.2004. Gonore. Sari Pati Penyakit Kulit. EGC : Jakarta, hal : 299
6. Perpustakaan nasional. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorlan. Ed.25.EGC. Jakarta.
7. Larry I, Lutwick. 2009. Gonococcal Infection. diakses 11 Juli 2015 dari
http://emedicine.medscape.com/article/218059-treatment.
8. Ilyas, Sidarta. Atlas Ilmu Penyakit Mata. Sagung Seto, Jakarta: 2001. 23
9. Wolff K, Richard AJ, Dick S. 2005. fitzpatrick's color atlas and synopsis of clinical
dermatology. McGraw-Hill Professional. English.
10. Freedberg IM, dkk. 2003. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. McGrawHill.

Alamat korespondensi 21
shania_flora@yahoo.com
Universitas Kristen Krida Wacana