Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

B AS ALI O M A

Oleh:
Nita Chrisnawati, S.Ked

07700202

LAB/SMF Ilmu Bedah


Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
RSD dr. Soebandi Jember
2013

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Basalioma adalah tumor epithelial kulit yang berasal dari sel basal epidermis. Basalioma
sering disebut sebagai basal cell epithelioma (BCE), ulkus rodent, ulkus Jacob, Tumor
Komprecher, Basal Cell Carsinoma.
Basalioma adalah tumor ganas yang berasal dari sel-sel pluripotensial (sel-sel yang belum
berdiferensial) pada stratum basalis.

Gambar 1 Lapisan Kulit pada Basallioma

B. EPIDEMIOLOGI
Basalioma sering menyerang orang kulit putih. Variasi terjadinya berbeda-beda tergantung
letak geografik. Insiden pada kulit putih laki-laki 33-39% pada wanita 23-28%. Jarang terjadi
pada usia kurang dari 40 tahun.
C. FAKTOR RESIKO
Penyebab dari basalioma sampai saat ini belum diketahui, hanya ada beberapa faktor yang
menyebabkan basalioma, antara lain:
1. Paparan sinar matahari (Ultraviolet B/UVB dengan frekuensi 290-320 nm yang dapat
menyebabkan pertumbuhan sel basal lebih besar jika dibanding Ultraviolet A/UVA) dan
merusak DNA dan sistem perbaikian yang menghasilkan sistem imun lebih progresif
terhadap perubahan neoplasma. Faktor resiko ini meningkat dengan terpaparnya kulit oleh
2

sinar ultraviolet sejak anak-anak dan dewasa. Pemaparan sinar matahari yang sebentar
sama halnya dengan pemaparan sinar ultraviolet yang terus menerus.
2. Paparan sinar ultraviolet secara langsung, misalnya pada para pekerja di sawah dan
pengguna terapi sinar ultraviolet.
3. Paparan radiasi ion, misalnya pengguna terapi sinar X yang dipakai untuk jerawat.
4. Papararan arsen, misalnya yang digunakan pada pengobatan yaitu pottasium arsenic pada
penderita asma dan psoriasis.
5. Immunosupressi.
Seseorang dengan immunosupressan juga menjadi salah satu faktor resiko terjadinya
basalioma. Perbandingan antara penderita karsinoma sel basal dan sel skuamosa dengan
imunosupressan yang menerima transplantasi organ adalah 4:1. Pada penduduk Australia,
tercatat 21 kasus dan 123 kasus terjadi pada orang Amerika yang menderita basalioma
berasal dari seseorang yang menerima transplantasi hati. Penerima transplantasi ginjal
yang mempunyai resiko hanya tercatat 10 kasus diantara penderita yang tidak menerima
transplantasi ginjal.
6. Xeroderma Pigmentossum.
Penyakit ini adalah dihasilkan secara autossomal recessive yang menyebabkan
ketidakmapuan untuk memperbaiki sinar ultraviolet akibat kerusakan DNA. Perubahan
pigmentasi dilihat dari awal berkembang dari karsinoma sel basal, karsinoma sel
skuamosa, dan melanoma maligne. Gambaran lainnya adalah kornea yang bersifat opaac,
yang akhirnya menimbulkan kebutaan, dan gangguan neurologis.
7. Bazex Syndrome
Gambaranya berupa folikel arthoropoderma (tanda ice pick, terutama di tangan
belakang), karsinoma sel basal multipel, dan lokal anhidrossis (kekurangan keringat).
8. Riwayat tumor kulit non maligna yang sebelumnya (karsinoma sel basal atau karsinoma
sel skuamosa). Seseorang yang terdiagnosis dengan masalah satu tumor kulit non
melanoma, mempunyai faktor resiko yang tinggi timbulnya tumor pada masa yang akan
datang. Tercatat 35 % pada 3 tahun dan 50 % pada 5 tahun setelah diagnosis awal tumor
kulit.

D. PATOGENES
Meskipun etiologi dari Basalioma tidak di ketahui secara pasti tetapi ada bukti yang
menunjukkan hubungan antara basalioma dengan pilosebacea yaitu tumor sering terjadi pada
daerah yang berambut. Tumor ini berasal dari sel epidermal pluripotensial, kelenjar sebacea dan
kelenjar apokrin. Tumor biasanya timbul dari epidermis atau outer root sheath folikel rambut.
Adanya aktivasi dari jalur hedhog (HH) ditemukan secara sporadik dan bersifat keturunan
pada karsinoma sel basal, medulloblastoma, rhabdomyosarkoma, dan tumor lainnya. Pada
awalnya, faktor identifikasinya adalah bagian polar dari lalat buah (fruitfly) yaitu Drosophila
melanogaster, jalur HH berkembang di dalam binatang bertulang belakang (vertebrate). Secreted
sonic HH (SHH) berikatan dengan protein penekan tumor yaitu protein patched homologue 1
(PTCH1), dengan demikian

penghancuran PTCH1, media penekan intraselluler terhubung

dengan protein transmembran lainnya, G-protein berpasangan dengan reseptor smoothened


(SMO). Berkelanjutan dengan SMO masuk mengaktivasi GLI family sebagai faktor transkipsi.
Berkurangnya fungsi mutasi dari PTCH1, ditemukan pada pasien dengan nevoid basal cell
carsinoma (gorlins) syndrome, teridentifikasi pada 30-40 % kasus sporadik dari KSB. Dengan
tidak adanya PTCH1, maka SMO mengaktivasi target gen. Dengan kata lain, pada jalur HH yang
terlibat dalam perkembangan penyakit ini adalah meliputi bertambahnya mutasi dalam SHH,
SMO, dan GLI. Berdasarkan Transgenic human-skin model menyatakan bahwa aktivasi dari
jalur HH merupakan pertanda awal pembentukan tumor. Molekul kecil penghambat jalur HH
seperi cyclopamine, merupakan mekanisme terapi dasar.

Gambar 2 Patogenesis molekuler karsinoma sel basal

E. MANIFESTASI KLINIS
Basalioma banyak ditemukan pada wajah, scalp, leher, dan periorbital. Jarang ditemukan
pada bibir dan tangan. Pada usia lebih dari 40 tahun, basalioma banyak ditemukan pada daerah
scalp, wajah, leher, dada,dan tubuh bagian tengah.
Basalioma bisa memberikan banyak gambaran klinis. Berbagai macam gambaran klinis
dari KSB meliputi nodular, ulserasi, pigmentasi, superfisial, sklerosa, kistik, fibroepithelioma,
dan basal cell nevus syndrome (Gorlin Gotz syndrome).
Klasifikasi basalioma oleh The American Joint Comitee on Cancer (AJCC)
Stadi TNM
um
0

Tis N0 M0

T1 N0 M0

II

T2 N0 M0
T3 N0 M0

III

T4 N0 M0
Tiap T N1 M0

IV

tiap T tiap N M1

Tumor Primer

Tx
T0
Tis
T1
T2
T3
T4

=
=
=
=
=
=
=

N
Nx
N0
N1
M
Mx
M0
M1

misalnya kartilago, otot skelet atau tulang


Nodus Regional
= Tidak dapat diperiksa
= Tidak ada metastasisi nodus regional
= Ada nodus regional
Metastasis jauh
= Tidak dapat diperiksa
= Tidak ada metastasis jauh
= Ada metastasis jauh

Tidak dapat dievaluasi


Tidak ditemukan
Kanker insitu
Tumor ukuran terbesar 2 cm
Tumor ukuran 2 sampai dengan 5 cm
Tumor > 5 cm
Yumor menginvasi struktur ektradermal dalam,

F. DIAGNOSIS
1. Pemeriksaan Klinis
1.1 Anamnesis
Dikeluhkan adanya lesi seperti tahi lalat yang membesar, dapat pula lesi tersebut
berupa borok yang tidak sembuh-sembuh.
1.2 Pemeriksaan Fisik
Gambaran klasik sebagai ulkus rodent yaitu ulkus dengan tepi tidak rata, warna
kehitaman di daerah perifer tampak hiperplasia dan di sentral tampak ulkus. Bentuk
lain yang tidak klasik, tergantung dari variasi klinis, yaitu:
1.2.1

Bentuk Nodulus
5

Paling sering ditemukan. Pada tahap permulaan sangat sulit ditentukan


malah dapat berwarna seperti kulit normal atau menyerupai kutil. Gambaran klinis
yang khas berupa gambaran keganasan dini seperti : tidak berambut, berwarna
kecoklatan/ hitam, tidak berkilat (keruh). Bila sudah berdiameter 0,5 cm sering
ditemukan bagian pinggir berbentuk papular, meninggi, anular, dibagian tengah
cekung, yang dapat berkembang menjadi ulkus (ulkus rodent) kadang-kadang
ditemukan telengiektasis. Pada perabaan terasa keras dan berbatas tegas. Dapat
melekat didasarnya bila berkembang lebih lanjut. Dengan trauma ringan atau bila
krustanya diangkat mudah terjadi perdarahan.

Gambar 3 Bentuk Nodulus Basalioma

1.2.2

Bentuk Kistik
Bentuk ini agak jarang ditemukan. Permukaannya licin, menonjol

dipermukaan kulit berupa nodus atau nodulus. Pada perabaan keras dan mudah
digerakkan dari dasarnya. Telengiektasis dapat ditemukan pada tepi tumor
1.2.3

Bentuk Morfea
Secara klinis ditemukan tanda-tanda berupa kelainan yang datar, berbatas

tegas tumbuhnya lambat berwarna kekuningan, pada perabaan pinggirnya keras.


Basalioma bentuk ini menginduksi proliferasi dari fibroblast di dermis dan
meningkatkan deposit kolagen sehingga secara klinik mirp scar.

1.2.4

Bentuk Superfisial
Ditemukan di badan serta umumnya multiple. Biasanya terdapat faktor-

faktor etiologi miasalnya faktor arsen. Ukurannya dapat berupa plakat dengan
eritema, skuamasi halus dengan pinggir yang agak keras seperti kawat dan agak
meninggi. Warnanya datar hitam berbintik-bintik atau homogen yang kadangkadang menyerupai melanoma maligna.

Gambar 4 Bentuk Superfisial Basalioma

G. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Dari semua kasus basalioma, penatalaksanaanya adalah dengan pembedahan. di bawah ini
adalah beberapa obat topikal yang direkomendasikan untuk beberapa bentuk basalioma,
meskipun memberikan hasil yang kurang dibandingkan dengan pembedahan.
7

1.1. 5% 5-fluorouracil (Efudex) yamg digunakan 2 kali seminggu selama 2-12 minggu
efektif dalam pengobatan basalioma tipe superfisial, dengan angka kesembuhan
mencapai 95%. Penggunaanya pada basalioma tipe yang lain tidak ditemukan karena
bahan ini tidak dapat bekerja lebih dalam lagi pada lapisan dermis. Pada umunya
efek obat ini menimbulkan iritasi dan kulit terasa keras.
1.2. Pada penelitian kecil oleh Grenway et al menyatakan bahwa 1,5 juta IU interferon
alfa-2b secara injeksi intralesi sebanyak 3 kali seminggu selama 3 minggu dapat
menyembuhkan basalioma yang tidak kambuh sebanyak 3 kasus, sedangkan 5 kasus
untuk basalioma tipe superfisial.
1.3. Imiquimod cream (Aldara), diakui oleh FDA untuk mengobati basalioma tipe
superfisial. Pada penelitian yang besar diperoleh sekitar 88% dapat mengobati
basalioma tipe superfisial sedangkan pada penelitian yang lebih kecil diperoleh
dapat menyembuhkan basalioma tipe nodular. Pengobatan dilakukan biasanya 3 kali
seminggu dan meningkat menjadi 1 kali sehari dan selanjutnya menjadi 2 kali sehari
jika tahan terhadap iritasi kulit ringan sampai berat.
1.4. Pada pertemuan tahun 2008 oleh American Association for Cancer Research dibahas
tentang komponen baru yaitu GDC-0449 yang merupakan komponen kimia dari
cyclopamine, mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat jalur hodgehog (HH).
1.5. Tazarotene topical (0,1%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh

Ketty

peris,et all yang berjudul Observations on the use of Topical Tazarotene to Treat
Basal-Cell Carsinoma, tazarotene dapat digunakan untuk mengobati basalioma tipe
nodular dan superfisial. Penelitian ini dilakukan pada 20 pasien (11 laki-laki dan 9
wanita) dengan kriteria lesi tertentu. Pemberian tazaroten (0,1% gel) selama 5- 8
bulan pada 30 lesi (13 lesi superfisial dan 17 lesi nodular) memberikan hasil 53%
lesi dari 30 lesi dapat terobati dengan terazotene, dengan tidak menimbulkan
kekambuhan

stelah 4 sampai 16 minggu diobservasi. 17 Mekanisme kerja dari

terazotene belum diketahui.

Gambar 5 A. Lesi sebelum pengobatan dan B sesudah menggunakan terazotene (0,1% gel)

2. Pembedahan
Sasaran utama terapi pada pasien dengan KSB adalah dengan menghilangkan tumor
dengan hasil yang baik secara kosmetik. Sejauh ini, tekhnik pembedahan banyak terbukti, lebih
efektif dan banyak digunakan sebagai terapi KSB. Keefektifan tekhnik pembedahan tergantung
pada keahlian pembedah. Pembedahan dilakukan tergantung pada apakah merupakan tumor
pertama atau yang kambuh, ukuran tumor, lokasi dan histologi dari tumor . American Academy of
dermatology, membuat suatu pedoman untuk terapi pada basalioma antara lain:
2.1 Eksisi
Setelah anastesi yang adekuat pada pasien, digunakan mata pisau no 15 atau 10
untuk melakukan eksisi insisi sampai pada lapisan subkutis. Untuk meningkatkan
kemungkinan tumor terangkat secara lengkap, pertama harus memindahkan kulit yang
normal agar keteganngan otot tidak elihatan.
Keuntungan: prosedur ini memberikan hasil yang sangat baik dari segi kosmetik.angka
kesembuhanhanya mencapai 95%.
Kerugian: prosedur ini tergantung pada operator, kurang efektif pada basalioma tipe
infiltratif, mikronodular, morpheaform (sklerosis), dan basalioma yang kambuh lagi.
2.2 Mohs Micrographically Controlled Surgery
Setelah pemberian anestesi yang adekuat pada pasien, secara klinis tumor sering
dihilangkan menggunakan kuretase atau eksisi. Ahli bedah memindahkan jaringan yang
tipis dari jaringan lunak (disebut stage 1), biasanya kurang dari 1 mm dari ketebalan
9

lapisan tesebut, mengelilingi lapisan epidermis dan salah satu dermis atau subcutis,
kemudian melakukan pemeriksaan dibawah mikroskop. Tumor ini dipindahkan dan
prosesnya tergantung pada lokalisasi dari beberapa tumor yang mungkin akan menetap.
Keuntungan: prosedur ini memberikan angka kesembuhan yang tinggi( 99% pada
basalioma awal, 90-95% pada basalioma yang kambuh). Kemungkinan besar, tidak
meninggalkan bekas dikulit dan terapi ini merupakan pilihan untuk KSB tipe infiltratif,
mikronodular, morpheaform (sklerosa) dan basalioma yang kambuh lagi.
Kerugian: prosedur ini memerlukan banyak waktu, dan pada setiap tahap (stage) harus
ditambahkan anastesi.
2.3 Cryosurgery
Cairan nitrogen diterapkan pada tumor secara nyata. Pemeriksaan temperatur
dilakukan dengan memasukkan ke dalam kulit melalui tepi lateral. Terapi berhenti ketika
suhu mencapai -60C.
Keuntungan: prosedur ini memberikan hasil yang baik secara kosmetik dan angka
kesembuhan yang baik, ketika digunakan pada tumor drngan batas tegas (misalnya KSB
tipe nodular). Prosedur ini baik untuk pasien yang tidak menginginkan tindakan
pembedahan.
Kerugian: prosedur ini tergantung pada operator.
H. PENCEGAHAN
1. Memberitahu pasien untuk menghindari paparan sinar matahari, terutama pada tengah
hari (pukul 11.00-15.00), dimana waktu tersebut adalah waktu yang berbahaya.juga
terhadap sinar matahari secara langsung, terutama pada iklim panas dan pada tempat yang
tinggi dan radiasi ultraviolet juga dapat melewati air dan awan. Selain itu juga, beritahu
pasien untuk berhati-hati jika pergi ke pantai dan pada salju karena pasir, salju, dan air
dapat memantulkan sinar ultraviolet dan dapat meningkatkan penerimaan radiasi sinar
ultraviolet.
2. Memberitahu pasien bahwa penggunaan pelindung matahari paling sedikit SPF 15 sangat
beguna untuk pencegahan beberapa kanker kulit. Seseorang dengan menggunakan
pelindung matahari, 40% dapat mengurangi terjadinya kanker kulit daripada tidak
memakai. Ada dua tipe pelindung matahari, yaitu pertama bersifat memantulkan sinar
ultraviolet B dan kurang memantulkan sinar ultraviolet A; yang kedua menyerap sinar
10

ultraviolet B kedalam pemancaran kembali bahan kimia berupa panas dengan jumlah
yang tidak signifikan (absorbent).
3. Pelindung matahari digunakan 20-30 menit sebelum keluar dan digunakan kembali setiap
2 jam, lebih sering jika berenang dan berkeringat.
4. Pencegahan juga meliputi menggunakan baju lengan panjang, celana panjang,
menggunakan topi dengan bagian pinggir yang lebar, dan kacamata pelindung sinar
ultraviolet. Minyak bibir dngan SPF 15 atau lebih, juga berguna.
I. DIFFERENTIAL DIAGNOSA
1. Karsinoma sel squamosa
2. Melanoma maligna
3. Karsinoma sel squamosa in situ (Bowen disease)
4. Keratosis aktinik sebaceous hyperplasia
5. Fibrous papule
J. KOMPLIKASI
1. Basalioma sering didiagnosis sebagai kadas (ringworm) atau dermatitis, dan kemungkinan
diterapi sebagai kelainan tersebut. Jika tidak segera diterapi, basalioma akan meluas,
sangat mungkin terjadi pembesaran ukuran atau berdarah.
2. Meskipun tumor jarang bermetastase, tumor bisa mencapai jaringan dibawah kulit sampai
tulang, kemungkinan bisa menyebabkan kerusakan lokal sampai jaringan sekitar. Proses
ini biasanya pada basalioma dengan ulser yang disebut ulcus rodens.
3. Kekambuhan bisa terjadi ketika adanya salah satu dibawah ini:
4.1 Tidak ada penyembuhan ulserasi
4.2 Kerusakan jaringan
4.3 Skar menjadi merah, berkerak,krusta, meluas dan berbentuk telengiectasis
4.4 Perkembangan papul/nodul pada skar
K. PROGNOSIS
Prognosisnya baik, dengan kelangsungan hidup 100% tidak ditemukan mengenai bagian lain.

11

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Ny.Mujayana

Usia

: 55 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Andongsari 2/2, Ambulu

Pekerjaan

: Petani

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

No Rekam Medik

: 40 96 58

Tanggal MRS

: 1 Desember 2012

Tanggal KRS

: 4 Desember 2012

Tanggal Pemeriksaan

: 3 Desember 2012

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama: Bercak hitam di hidung
Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien mengeluh ada bercak hitam di hidungnya sejak 2 tahun
yang lalu. Awal mulanya muncul benjolan kecil seperti tahi lalat, datar, bulat, tidak nyeri, dan
tidak gatal. Semakin lama semakin melebar dan tidak beraturan dan menggerogoti kulit.
Terasa nyeri dan gatal, sehingga pasien sering menggaruk dan mengelupas kulitnya. Oleh
pasien diperiksakan ke PKM, karena tidak sembuh lalu dibawa ke poli RSD dr. Soebandi.
Pasien bekerja di sawah sebagai petani dan jarang memakai topi.
Riwayat Penyakit Dahulu: disangkal.
Riwayat Pemberian Obat: dapat salep dari PKM, pasien lupa namanya.
Riwayat Penyakit Keluarga: disangkal.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran Umum : Baik
Kesadaran

: Komposmentis

Tanda-tanda Vital :
12

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 78 x/menit

Respiratory Rate : 20 x/menit


Suhu Aksila
Kepala/Leher
Thorax

: 36,7 C
: a/i/c/d: -/-/-/-

:
Cor

: S1S2 tunggal

Pulmo

: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-

Abdomen: Flat, Bising Usus +, Timpani, Soepel


Extremitas:
Akral hangat dikeempat extremitas
Tidak ada oedema dikeempat extremitas
Status Lokalis:
Regio Nasalis:
Bercak hitam diameter 3cm
Batas tidak teratur
Tepi sedikit meninggi
Sedikit nyeri

13

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
FNAB

Laboratorium
Sabtu, 1 Desember 2012 H1 MRS
JENIS PERIKSA

HASIL

NORMAL

PEMERIKSAAN
HEMATOLOGI
Hemoglobin

13,4

L 13,4 17,7 ; P 11,4 15,1gr/dL

Lekosit

4,69

L 4,3 10,3 ; P 4,3 11,3 x 109/L

Hematokrit

41,6

L 38 42% ; P 40 47%

Trombosit
FAAL HATI

298

150 450 x 109/L

14

SGPT

26

L 10 35 ; P 10 31 U/L (37C)

SGOT
FAAL GINJAL

25

L 9 43 ; P 9 36 U/L (37C)

Kreatinin Serum

0,6

L 0,6 1,3 ; P 0,5 1,1 mg/dL

BUN

6 20 mg/dL

Urea

15

10 50 mg/dL

Asa Urat

7,1

L 3,4 7 ; P 2,0 5,7 mg/dL

108

<200 mg/dL

Natrium

134

135 155 mmol/L

Kalium

4,2

3,5 5,0 mmol/L

Chlorida

107

90 110 mm0l/L

Calsium

2,01

2,15 2,57 mmol/L

KADAR GULA DARAH

Sewaktu
ELEKTROLIT

EKG

E. DIAGNOSA
Basalioma Regio Nasalis

F. PENATALAKSANAAN
Wide Eksisi dan Skin Graft
15

Injeksi Cefotaxim 2x1gr


Injeksi Antrain 3x1amp
Diet TKTP
Aff infus
Laporan Operasi
1. Disinfeksi
2. Buat insisi 3mm dari bagian tumor melingkari tumor
3. Tumor di eksisi dari dasar tumor masih intak
4. Perdarahan di couter
5. Skin graft di supra clavicula sinistra full thickness
6. Jahit nasal ditutup

G. FOLLOW UP
Selasa, 3 Desember 2012 H4 MRS
16

S
O

KU: cukup
KS: CM
TTV: TD: 110/80 mmHg, N: 88x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu: 36,7C
K/L: a/i/c/d: -/-/-/Thx: Cor: S1S2 tunggal
Pulmo: Ves +/+, Rh -/-,Wh -/Abd: Flat, BU +, timpani, soepel
Ext: AH dikedua ext, tidak ada oedema dikedua ext bawah
Status Lokalis:
Regio Nasal: luka tutup verban, rembesan darah (-), pus (-), nyeri (+)

Reg Supraclavicula: luka tutup verban, rembesan darah (-), pus (-), nyeri (+)
Basalioma Regio Nasal post Wide Eksisi dan Skin Graft Regio Supra Clavicula

H0
Injeksi Cefotaxim 2x1gram
Injeksi Antrain 3x1amp
Diet TKTP
Pasien KRS

Senin, 4 Desember 2012 H4 MRS


S
O
KU: cukup
KS: CM
TTV: TD: 110/80 mmHg, N: 88x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu: 36,7C
K/L: a/i/c/d: -/-/-/Thx: Cor: S1S2 tunggal
Pulmo: Ves +/+, Rh -/-,Wh -/Abd: Flat, BU +, timpani, soepel
Ext: AH dikedua ext, tidak ada oedema dikedua ext bawah
Status Lokalis:
Regio Nasal: luka tutup verban, rembesan darah (-), pus (-), nyeri (-)
A

Reg Supraclavicula: luka tutup verban, rembesan darah (-), pus (-), nyeri (-)
Basalioma Regio Nasal post Wide Eksisi dan Skin Graft Regio Supra Clavicula
17

H1
Injeksi Cefotaxim 2x1gram
Injeksi Antrain 3x1amp
Diet TKTP
Hari ini pasien KRS: P/O Cefixime 2x1tab
Asam Mefenamat 3x500mg
Edukasi pasien: 5 hari lagi rawat luka dan evaluasi graft

DAFTAR PUSTAKA
1. De Jong, Wim 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC
2. National Cancer Institute. 2006. Basalioma. http://www.cancer.gov

18

3. Bagian Kulit dan Kelamin FK UI. 2006. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Gaya
Baru
4. Bader, Robert S, MD. 2006. Basal Cell Carcinoma. http://www.eMedicine.com.

19