Anda di halaman 1dari 4

I.

Judul Penelitian
Pengaruh pemberian pelatihan neuro lingusitik programing
(NLP) terhadap peningkatan penerimaan diri penyandang cacat
tubuh pada remaja penyandang cacat tubuh di pusat rehabilitasi
Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) ”Suryatama” Bangil Pasuruan.

II. Rumusan Masalah


Manusia dikaruniai bentuk tubuh yang berbeda. Ada yang
lengkap, yang bisa digunakan sebagaimana mestinya, dan ada
yang tidak. Bentuk tubuh ini bisa memberikan kemudahan bagi
individu. Permasalahan akan bentuk tubuh ini akan menjadi rumit
bagi individu yang mengalami cacat tubuh.
Keterbatasan-keterbastan maupun hambatan kecacatan yang
disandang seseorang seringkali mengambat penyesuaian diri
(Meichati 1988), mempengaruhi penerimaan diri individu (Lewis
1987). Pada penelitian lebih lanjut disebutkan bahwa pada
penyandang cacat tubuh yang diperoleh sejak lahir pada
umumnya lebih menyesuaikan diri karena proses penyesuain itu
terbentuk dan berkembang bersamaan dengan keadaan tubuhnya
yang cacat (Suhartono, 1976). Hill dan Monks (1999) menyatakan
bahwa penyimpangan-penyimpanga pada masa remaja akan
menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan
penilaian diri dan sikap sosialnya, oleh karena itu cacat pada
masa remaja akan mempengaruhi penilaian diri remaja
sedemikian rupa sehingga menghambat perkembangan
kepribadian yang sehat.
Karena itu, penyandang cacat tubuh yang cenderung
memiliki penerimaan diri yang rendah terhadap kondisi fisiknya,
membutuhkan satu penanganan yang lebih serius yang bisa
mengubah pola fikir negatifnya. Salah satu metode yang sangat
efektif untuk mengubah pola fikir yang negatif itu adalah Neuro
Linguistic Programming (NLP).

III. Formulasi Hipotesis Penelitian

1
Ada pengaruh antara pemberian neuro lingusitik programing
(NLP) terhadap peningkatan penerimaan diri pada remaja
penyandang cacat tubuh.

IV. Definisi Teoritis Variabel


Cacat Tubuh
Penderita cacat adalah seseorang yang menurut ilmu
kedokteran dinyatakan memiliki kelainan fisik dan atau mental
yang karenananya dapat menjadi rintangan atau hambatan bagi
dirinya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya. (PP No. 36
Th. 1980 tentang Usah Kesejahteraan Sosial)
Menurut Hammerman dan Mainowski (1981), keadaan cacat
tubuh adalah suatu keadan dengan adanya keterbastasan
kapasitas yang dimiliki individu dalam melakukan aktivitas.
Penerimaan Diri
Menurut Rubin (dalam Damayanti 1992) Penerimaan diri
merupakan sikap yang mencerminkan rasa senang sehubungan
dengan kenyataan dirinya. Menurt David W Jhonson (1993)
penerimaan diri dipandang sebagi suatu keadaan dimana
seseorang memiliki penghargaan yang tinggi pada dirinya sendiri.
Dalam hubungannya dengan penyandang cacat tubuh, Wight
mengemukakan bahwa penerimaan diri merupakan variabel
utama dalam proses rehabilitasi, maka penerimaan diri dianggap
sebagai hal yang penting bagi penyandang cacat tubuh dalam
melakukan penyesuaian diri.

V. Definisi Operasional Variabel


Penerimaan Diri
Penerimaan diri adalah suatu sikap yang ditunjukan dengan :
Yakin dalam menghadapi kehidupannya, menganggap dirinya,
bertanggung jawab terhadap perilakunya, tidak menyalahkan
dirinya atas keterbatasan yang dimilikinya, memiliki gambaran
yang positif tentang dirinya, dapat mengatur dan bertoleransi
dengan rasa frustasi, dapat berinteraksi dengan orang lain,
mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain, memiliki

2
keyakinan bahwa seseorang tidak harus dicintai oleh orang lain,
seseorang tidak harus benar-benar sempurna, memiliki keyakinan
bahwa dia mampu untuk menghasilkan kerja yang sempurna, dan
memiliki keinginan untuk memperbaiki dirinya. Untuk mengukur
tingkat penerimaan diri, digunakan skala penerimaan diri oleh
peneliti.

Neuro Lingistic Programming (NLP)


NLP ini adalah metode yang diadaptasi dari metode yang dipakai
Villar dalam bukunya Hope Throught the NLP Magic. Teknik-teknik
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rapport, Anchoring,
Reframing, dan membentuk perilaku baru.

VI. Populasi dan Sampling


1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah remaja penyandang cacat
tubuh Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) ”Suryatama” Bangil
Pasuruan dengan karakteristik popolusi adalah remaja berusia 16-
21 tahun, jenis kelamin pria dan wanita, keadaan caact diperoleh
bukan sejak lahir atau bawaan, memiliki tingkat kecacatan yang
berat (tuna daksa), berpendidikan formal minimal SLTP.
2. Sampling
Dengan menggunakan teknik sampling purposive sampling,
sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah remaja
penyandang cacat tubuh yang memiliki skor penerimaan diri
rendah dan sangat rendah.

VII. Metode penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen, dengan
desain penelitian True experiment Research. Pola penelitian
adalah Randomized Control Group Posttest Onley Design.
Pengambilan sampling dilakukan denga Purpossive Sampling.
Setelah dipilih 12 sampel penelitian yang memiliki skor
penerimaan diri rendah dan sangat rendah, maka dilakukan group
matching. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok yang kemudian

3
dengan random by group design ditentukan kelompok group
eksperimen dan control.
VIII. Analisis Data Yang Digunakan
Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan
metode analisa secara kuantitatif dan analisa secara kualitatif
sebagi pendukung. Analisis kuantitatif menggunakan Tekinik uji U
mann Whitney. Analisas secara kualitatif dilakukan denga cara
menganalisa pola sebaran (penjodohan) hasil interview (pattern
matching).
IX. Hasil dan Kesimpulan
Hasil dari penelitian ini ditemukan bahawa ada Pengaruh
Pemberian Pelatihan Neuro Lingusitik Programing (NLP) terhadap
tingkat Penerimaan Diri, dan peningkatan penerimaan diri
penyandang cacat tubuh. Selain itu dari hasil data kualitatif
disimpulkan bahwa masing-masing individu merasakan manfaat
dari pelatihan NLP terhadap diri mereka.

X. Evaluasi dan kritik terhadap penelitian


Dalam penelitian ini diketahui bahwa pelaksanaan evaluasi tidak
dilaksanakan paska penelitian, sehingga penilaian akan hasilnya
kurang. Selain itu, trainer dan asisten trainer yang tidak
terstandardisasi dalam pelatihan NLP hal itu sebenarnya bisa
menyebabkan validitas nya kurang; sampel yang diambil adalah
penyandang cacat yang memiliki skor penerimaan diri rendah dan
rendah sekali, sehingga tidak diketahui bagaimna sebenarnya
dampak pemberian NLP bagi remaja penyandang cacat yang lain.

Wrastari, Aryani Tri, dan Woelan Handari. 2003. INSAN Media


Psikologi Volume 5, No 1, April 2003. ISSN: 1411-26