Anda di halaman 1dari 4

Tuntunan Shalat Gerhana

23 Januari 09 oleh Abu Umar


Oleh: Asy Syaikh Shalih Bin Fauzan Al Fauzan
Allah berfirman,


()

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya
kepada orang-orang yang mengetahui (Yunus:5)
Dan Dia juga berfirman ,

()
Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan
bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada
bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya
kepada-Nya saja menyembah (Fushilat:37)
Shalat gerhana adalah sunnah muakadah menurut kesepakatan para ulama, dan
dalilnya adalah As Sunnah yang tsabit dari Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam.
Gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti
para hamba-Nya. Allah berfirman ,
()
Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti (Al Israa:59)
Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam,
beliau keluar dengan bergegas, menarik bajunya, lalu shalat dengan manusia, dan
memberitakan kepada mereka: bahwa gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, dengan gerhana tersebut Allah menakut-nakuti para hamba-Nya;
boleh jadi merupakan sebab turunnya adzab untuk manusia, dan memerintahkan
untuk mengerjakan amalan yang bisa menghilangkannya. Beliau memerintahkan
untuk mengerjakan sholat, berdoa, istighfar, bersedekah, memerdekakan budak, dan
amalan-amalan shalih lainnya ketika terjadi gerhana; hingga hilang musibah yang
menimpa manusia.
Dalam gerhana terdapat peringatan bagi manusia dan ancaman bagi mereka agar
kembali kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Mereka di zaman jahiliyyah meyakini bahwa gerhana terjadi ketika lahirnya atau
matinya seorang pembesar. Maka Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam membantah
keyakina tersebut dan menjelaskan tentang hikmah ilahiyyah pada terjadinya gerhana.
Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Masud Al Anshari
berkata ,
Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim Bin Muhammad
Sholallahu Alaihi Wasallam maka manusia mengatakan, Terjadi gerhana matahari
karena kematian Ibrahim. Maka Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam bersabda,
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan
Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang,
jika kalian melihat yang demikian itu, maka bersegeralah untuk ingat kepada Allah
dang mengerjakan Sholat .[1]
Dalam hadits lain dalam Ash Shahihain, ,
Maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah Sholat hingga matahari terang.[2]
Dari Shahih Al Bukhari dari Abu Musa, (artinya),
Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini bukanlah karena kematian atau kehidupan
seseorang, tetapi Allah sedang manakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya, maka
jika kalian melihat sesuatu yang demikian itu, bersegeralah untuk mengingat Allah,
berdoa dan meminta ampun kepada-Nya.[3]
Allah Subhanahu Wataala memberlakukan pada dua tanda kekuasaan-Nya yang besar
ini (matahari dan bulan) kusuf dan khusuf (gerhana); agar para hamba mengambil
pelajaran dan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang terkena kekurangan dan
perubahan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya; untuk menunjukkan kepada
hamba-Nya dengan peritiwa itu atas kekuasaan-Nya yang sempurna dan hanya Dialah
yang berhak untuk diibadahi sebagaimana firman Allah ,

()
Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ilalah malam, siang, matahari dan
bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada
bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya
kepada-Nya saja menyembah (Fushilat:37)
Waktu shalat gerhana: dari mulai terjadinya gerhana sampai hilang berdasar sabda
beliau Sholallahu Alaihi Wasallam , Apabila kalian melihat (artinya: sesuatu dari
peristiwa tersebut), maka shalatlah. (Mutafaqqun Alaih) [4]
Dan dalam hadits lainnya , Dan jika kalian melihat yang demikian itu maka sholatlah
hingga matahari kelihatan. (Diriwayatkan oleh Muslim) [5]

Shalat gerhana tidak diqadha setelah hilangnya gerhana tersebut, karena telah hilang
waktunya. Jika gerhana telah hilang sebelum mereka mengetahuinya, maka mereka
tidak perlu melakukan shalat gerhana.
CARA SHALAT GERHANA:
Mengerjakan shalat 2 rakaat dengan mengeraskan bacaan padanya, menurut pendapat
yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca pada rakaat pertama surat Al Fatihah
dan surat yang panjang seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya,
kemudian ruku dengan ruku yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan
membaca:
SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD
Artinya, Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb
kami, bagi Engkaulah segala puji
Setelah itidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya, kemudian membaca Al
Fatihah dan surat yang lebih pendek dari yang pertama seukuran surat Ali Imran,
kemudian memanjangkan rukunya, lebih pendek dari ruku yang pertama, kemudian
mengangkat kepalanya dan membaca,
SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD,
HAMDAN KATSIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI, MILAS SAMAAI
WA MILAL ARDH, WA MILA MA SYITA MIN SYAIIN BADU
Artinya,
Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami,bagi
Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik dan penuh keberkahan
padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari
segala sesuatu sesudahnya.
Kemudian sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk diantara dua
sujud, kemudian shalat untuk rakaat yang kedua seperti yang pertama dengan dua
ruku dan dua sujud yang panjang, sebagaimana yang dikerjakan para rakaat yang
pertama, kemudian tasyahud dan salam.
Inilah salat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Sholallahu Alaihi
Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan dari beliau tentang hal itu melalaui
beberapa jalan, sebagiannya di Ash Shahihain.
Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha , Matahari
mengalami gerhana pada masa Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam, maka beliau
berdiri, bertakbir, dan orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu
Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku dengan ruku yang
lama, kemudian mengangkat kepalanya dan mengucapkan, SAMI ALLAAHU
LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WA LAKA AL HAMDU. Kemudian beliau
berdiri dan membaca bacaan yang panjang lebih pendek dari bacaan yang pertama,
lalu takbir dan ruku yang lama lebih pendek dari ruku yang pertama, kemudian

mengucapkan, SAMI ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKA


AL HAMDU. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu pada rakaat
yang kedua hingga sempurna empat ruku dan empat sujud. Dan matahari kembali
terlihat sebelum beliau selesai (Muttafaqun Alaih) [6]
Dan disunnahkan untuk shalat dengan berjamaah berdasar perbuatan Nabi Sholallahu
Alaihi Wasallam. Dan Boleh untuk mengerjakan sendiri-sendiri, tetapi
mengerjakannya dengan berjamaah lebih utama.
Disunnahkan bagi imam untuk memberikan nasehat kepada manusia setelah shalat
gerhana, mengingatkan mereka dari kelalaian dan kelengahan serta memerintahkan
mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.
Dalam Ash Shahih dari Aisyah Radhiyallahu Anha (artinya),
Bahwa Nabi Sholallahu Alaihi Wasallam telah selesai shalat dan matahari telah
nampak, lalu beliau berkhutbah di hadapan manusia, memuji Allah dan memuja-Nya,
dan bersabda, Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan
seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka berdoalah kepada Allah,
bertakbir, mengerjakan shalat, dan bershadaqahlah. [7]
Apabila shalat sudah selesai sebelum gerhana hilang, hendaknya mengingat dan
berdoa kepada Allah hingga gerhana tersebut hilang, dan tidak perlu mengulang
shalat, seharusnya menyempurnakan shalat dan tidak menghentikannya; berdasar
firman Allah ,
()
Dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu (Muhammad:33)
Maka shalat dilakukan pada waktu terjadinya gerhana berdasar sabda beliau, hingga
gerhana itu hilang, dan sabda beliau, Hingga dihilangkan apa yang menimpa
kalian.[8]
Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
Gerhana terkadang lama waktunya dan terkadang pendek, tergantung gerhananya.
Terkadang tertutup semuanya (gerhana total), terkadang separuh atau sepertiganya.
Jika yang tertutup besar; hendaknya memanjangkan shalat hingga membaca Al
Baqarah dan yang semisalnya pada rakaat pertama dan setelah ruku yang kedua
hendaknya membaca yang lebih pendek. Telah datang hadits-hadits shahih dari Nabi
Sholallahu Alaihi Wasallam tentang apa yang kami sebutkan. Dan disyariatkan untuk
mempercepat shalat jika telah hilang sebabnya. Begitu pula jika mengetahui bahwa
gerhana tersebut tidak lama. Dan apabila gerhana tersebut menipis sebelum shalat,
maka supaya memulai shalat dan memendekkannya, itulah pendapat jumhur Ahli
Ilmu; karena shalat tersebut disyariatkan berdasarkanillah (sebab), dan illah itu telah
hilang. Jika gerhana itu hilang sebelum shalat; maka tidak perlu shalat.. [9]

Anda mungkin juga menyukai