Anda di halaman 1dari 5

Paper

Kajian Kode Etik Psikologi: Kerahasiaan Data


Diselesaikan sebagai Penilaian Tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Kode
Etik Psikologi yang Diampu oleh Yunda Megawati, S.Psi., M.Psi.

Oleh:
Erland Adestio Sadana
145120301111032

KELAS D-PSI-2

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

I.

Pengertian Kode Etik Kerahasiaan Data


Singkatnya kerahasiaan data merupakan data yang tidak boleh diketahui oleh

pihak lain tanpa ada wewenang. Dalam kode etik psikologi, kerahasiaan data
berhubungan dengan data klien maupun pemakai jasa psikologi sebagaimana
halnya yang tercantum pada Pasal 24 yaitu Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi
wajib memegang teguh rahasia yang menyangkut klien atau pengguna layanan
psikologi dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatannya.
II. Aspek-Aspek yang Termuat dalam Kajian Kerahasiaan Data
Aspek-spek dalam kerahasiaan data meliputi privasi, integritas, authentication,
ketersediaan, non-repudiasi, dan kontrol akses. (Information Security)
III. Fungsi dan Manfaat Kajian Kode Etik Kerahasiaan Data
Sebagaimana yang tercantum pada Pasal 25 tentang Mendiskusikan Batasan
Kerahasiaan Data kepada Pengguna Layanan Psikologi dan 26 mengenai
Pengungkapan Kerahasiaan Data ayat 15 yang singkatnya menerangkan bahwa
hasil data yang diperoleh dari klien harus dilindungi atas kesepakatan bersama agar
tidak terjadinya hal-hal yang merugikan baik bagi pengguna layanan psikologi
maupun seorang yang mempraktekkan layanan psikologi sendiri.
IV. Contoh Kasus
Seorang psikolog X menemukan hal yang baru untuk perkembangan keilmuan
Psikologi dari kliennya yang hal tersebut sebenarnya merupakan kerahasiaan data
dari kliennya yang berdasarkan diskusi klien tidak ingin data tersebut
dipublikasikan/dilaporkan walaupun untuk kepentingan perkembangan keilmuan
psikologi. Namun, selanjutnya psikolog X tanpa sepengetahuan kliennya tersebut
melaporkan kepada beberapa rekan psikolognya untuk bisa diteliti dan dikaji lebih
lanjut karena diyakini hal tersebut mampu mengembangkan keilmuan psikologi,
sehingga dalam hal ini keadaan klien tersebut telah dirugikan oleh psikolog X yang
padahal tentunya data tersebut dirahasiakan bukan karena tanpa alasan dan tidak
dapat dipungkiri bahwa data dari klien tersebut malah mampu menimbulkan
masalah bagi diri klien tersebut.

V. Analisa dengan Menggunakan Teori Etika Deskriptif


Berdasarkan analisa menggunakan teori etika deskriptif berdasarkan tahap
perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg terhadap kasus
tersebut dapat dijabarkan menjadi sebagai berikut:
Tahap
Kepatuhan

Menjaga Rahasia
dan Psikolog

Hukuman

Membeberkan Rahasia

tidak Data tersebut diyakini oleh

melaporkan data kliennya Psikolog


walaupun

diyakini

untuk

dapat perkembangan psikologi dan

mengembangkan psikologi layaklah hanya data dari


karena berdasarkan etikanya seorang pasien dibanding
tindakan itu berisiko dicabut dengan kemajuan psikologi
haknya

untuk

praktek

psikolognya

bahkan

profesinya.
Pertukaran

Psikolog

Istrumental

membeberkan

tidak Data tersebut harus diteliti


rahasia lebih lanjut, karena psikolog

kliennya meskipun diyakini X yakin itu dapat menjadi


dapat memajukan psikologi solusi
namun

tidak

menutup kedepannya

kemungkinan kerugian yang mendapat


dialami

kliennya

akan karena

mengacaukan segalanya.
Anak Baik-Baik

pada

kasus
walaupun

segala

sanksi

melanggar

etika

tersebut.

Psikolog X tetap melindungi Psikolog X sebagai seorang


data dari kliennya tersebut psikolog ingin mengabdi dan
karena jika tidak hal itu berjasa
melanggar

kode

pada

keilmuan

etik psikologi, lagipula hal itu

profesinya dan itu adalah demi kemajuan psikologi.


tindakan yang merugikan.
Pemeliharaan

Berdasarkan

Otoritas

etika yang telah diterapakan menginformasikan


jika

aturan

Psikolog

dari Psikolog

harus
data

X tersebut, tetapi dia juga

membeberkan artinya dia harus menanggung resiko


layak

mendapat

sanksi atas

hukuman.

sanksi

yang

diberlakukan.

Legalistik

Psikolog X tidak memeliki Data tersebut memang bisa

Kontraktual

wewenang sedikit pun untuk diyakini akan berguna untuk


menyebarkan

data

dari kepentingan banyak orang,

kliennya tersebut tanpa ada walaupun


kesepakatan

itu

melanggar

dengan aturan yang berlaku.

kleinnya tersebut. Hal itu


tidak

dapat

dibenarkan

karena sudah jelas tertera di


kode etik yang berlaku.
Prinsip

Etika Psikolog

Universal

tidak

membeberkan
kliennya

boleh Psikolog

perlu

rahasia melaporkan data tersebut

karena

klien karena

kedepannya

hal

tersebut juga memiliki hak tersebut akan menyangkut


untuk

memeroleh kehidupan orang lain, tidak

kenyamanan atas dirinya.

sebatas hanya pada kliennya


saja.

VI. Kesimpulan
Berdasarkan dengan yang telah disepakati pada BAB V Kerahasiaan Rekam
dan Hasil Pemeriksaan Psikologi pasal 2327 dalam Kode Etik Psikologi
Indonesia sebagai landasan pembahasan kerahasiaan data dalam Psikologi,
hubungan baik pemberi layanan psikolog dan klien atas kepercayaan tentunya
sangat penting, karena klien sendiri menggunakan jasa psikolog untuk
menyelesaikan masalahnya yang artinya di sini klien bergantung kepada psikolog
dan menanamkan kepercayaan kepada psikolog, jelas ketika kepercayaan itu hilang
karena psikolog tersebut tidak menjaga apa yang telah dipercayakan akan
menyebabkan klien merasa kecewa dan tidak menyelesaikan masalah dari klien

tersebut. Oleh karena itu, diberlakukanlah suatu aturan yang termuat dalam kode
etik profesi.
VII.Saran
Seorang psikolog sebagai orang yang berprofesi memang sudah sepantasnya
untuk menaati dan menyesuikan diri dengan aturan atau kode etik profesinya yang
berlaku dalam menjalankan kegiatan profesinya, dan tentunya kode etik tersebut
telah disepaki lantaran untuk mengendalikan atau membatasi kegiatan dalam
profesi agar tidak terjadi penyalahgunaan profesi.

Anda mungkin juga menyukai