Anda di halaman 1dari 23

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Diabetes Mellitus

2.1.1. Pengertian Diabetes Mellitus


Penyakit diabetes mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit
kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang
ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya
gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu
memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh (Tjokroprawiro Askandar,
1992).
Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang
bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah atau kadar gula dalam darah dan
insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein
menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi
menurunkan kadar gula dalam darah (Tjokroprawiro Askandar, 1992).
2.1.2. Tipe Tipe Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan kondisi dalam tubuh yang tidak dapat
mengatur kandungan gula dalam darah sehingga glukosa atau gula yang biasanya
diangkut menuju sel-sel tubuh sebagai sumber energi justru terbuang dalam aliran
darah, bahkan ikut terbuang dalam air seni. Diabetes mellitus terdiri dari dua jenis
antara lain (Mansjoer, 1999).

http://digilib.unimus.ac.id

1.

Tipe I : Diabetes Mellitus Tergantung Insulin


Diabetes tipe I adalah diabetes yang disebabkan karena pankreas tidak dapat

menghasilkan insulin sama sekali. Penderita diabetes tipe I harus mendapatkan


suntikan insulin atau dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(IDDM). Penyebab diabetes mellitus tipe I adalah infeksi virus atau reaksi autoimun (rusaknya sistem kekebalan tubuh). Auto-imun yang rusak tersebut
menyerang sel pankreas secara menyeluruh. Sel pankreas berfungsi untuk
memproduksi insulin, oleh karenanya bila sel pankreas rusak, maka tidak
tersedia lagi insulin bagi tubuh untuk mengatur kadar gula dalam darah (Hartini,
2009).
1.

Tipe II : Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin


Diabetes tipe II adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat

berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent


Diabetes Mellitus (NIDDM). Seluruh penderita diabetes mellitus, jumlah
penderita diabetes mellitus tipe II adalah yang paling banyak yaitu 90 99 %.
Diabetes mellitus tipe II biasanya disebabkan karena keturunan, gaya hidup yang
tidak sehat, kegemukan, kurang olahraga, terlalu banyak makan dengan gizi yang
tidak seimbang. Gejala yang menyertai diabetes mellitus tipe II yang biasa
dikeluhkan adalah cepat lelah, berat badan turun walaupun banyak makan, atau
rasa kesemutan ditungkai (Hartini, 2009).
Pada diabetes mellitus tipe II, insulin masih diproduksi namun insulin tidak
dapat bekerja secara adekuat (retensi insulin). Diabetes tipe II tidak mutlak
memerlukan suntikan insulin seperti penderita penderita diabetes tipe I. Obat yang

http://digilib.unimus.ac.id

diberikan pada penderita diabetes mellitus tipe II adalah obat untuk memperbaiki
kerja insulin dan obat untuk memperbaiki fungsi sel pankreas dalam
memproduksi insulin. Usaha penurunan berat badan dapat meningkatkan
kepekaan sel terhadap insulin sehingga gula dapat masuk ke dalam sel untuk
proses metabolisme (Hartini, 2009).
Kurva kejadian diabetes mellitus tipe II mencapai puncaknya pada usia
setelah 40 tahun, hal ini karena kelompok usia diatas 40 tahun mempunyai resiko
tinggi terkena diabetes mellitus akibat menurunnya toleransi glukosa yang
berhubungan dengan berkurangnya sensitifitas sel perifer terhadap efek insulin
(Haznam, 1991). Pada usia 4070 tahun diabetes mellitus lebih banyak terjadi
pada wanita, tetapi pada umur yang lebih muda frekuensi diabetes lebih besar
pada pria. Hal ini juga dipicu oleh adanya persentase timbunan lemak badan pada
wanita lebih besar dibandingkan dengan laki-laki yang dapat menurunkan
sensitifitas terhadap kerja insulin pada otot dan hati (Ferannini Elle, 2003).
2.1.3. Gejala dan Tanda Diabetes Mellitus
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita diabetes
mellitus yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana
peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 180 mg/dl dan air seni
(urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glukosa), sehingga
sering dikerubuti semut. Penderita umumnya menampakkan tanda dan gejala di
bawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
1. Jumlah air seni yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria).
2. Sering atau cepat merasa haus (Polydipsia).

http://digilib.unimus.ac.id

3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia).


4. Frekuensi air seni meningkat atau kencing terus (Glycosuria).
5. Kesemutan atau mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan dan kaki.
6. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya.
7. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba.
8. Apabila luka atau tergores penyembuhannya akan lama.
9. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.
Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan
seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma (Tjokroprawiro,
1992).
2.1.4. Diagnosa Diabetes Mellitus
Diagnosa penderita diabetes mellitus bila dalam pemeriksaan gula darah
menunjukkan ketidaknormalan, menunjukkan gejala klinis maupun dalam
pemeriksaan laboratorium urinnya terdapat kandungan gula. Kemampuan orang
untuk meregulasi glukosa plasma dapat ditentukan melalui uji :
1. Kadar glukosa serum puasa : apabila nilai kadar glukosa puasa selama 8 10
jam menunjukkan hasil 126 mg/dl maka terdiagnosa diabetes mellitus.
2. Uji toleransi glukosa oral : dilakukan dengan meminum larutan glukosa khusus
75 gram. Bila setelah 2 jam kadar gula darah menunjukkan nilai 200 mg/dl
maka penderita menderita diabetes mellitus (Hartini, 2009).

http://digilib.unimus.ac.id

10

2.1.5. Komplikasi Penyakit Diabetes Mellitus


1. Komplikasi Akut Diabetes Mellitus
Komplikasi diabetes mellitus dapat muncul secara akut (mendadak).
Komplikasi akut yang sering terjadi adalah: 1) Reaksi hipoglikemik. Gejala yang
timbul akibat tubuh kekurangan glukosa dengan tanda-tanda: rasa lapar, gemetar,
keringat dingin, pusing dan sebagainya. Penderita tidak segera diobati, penderita
akan tidak sadarkan diri karena koma disebut koma hipoglikemik. Tanda
hipoglikemik mulai timbul bila glukosa darah kurang dari 50 mg/dl. 2) Koma
diabetik. Kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi lebih dari 600 mg/dl. Gejala
koma diabetik yang timbul adalah: nafsu makan menurun, haus, minum banyak,
kencing banyak, rasa mual, muntah, nafas penderita menjadi cepat, panas badan
karena ada infeksi (Misnadiarly, 2006).
2. Komplikasi Kronik Diabetes Mellitus
Komplikasi diabetes mellitus secara kronik (menahun), yaitu timbul
beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap penyakit diabetes mellitus.
Komplikasi kronik pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh
bagian tubuh (Angiopati diabetik). Angiopati diabetik di bagi menjadi dua yaitu
makroangiopati

(makrovaskuler)

dan

mikroangiopati

(mikrovaskuler).

Komplikasi kronik diabetes mellitus : 1) Mikrovaskuler : Ginjal dan mata.


2)Makrovaskuler : Jantung koroner, pembuluh darah kaki dan pembuluh darah
otak.3) Neuropati : Mikrovaskuler dan makrovaskuler : mudah timbul infeksi
(Misnadiarly, 2006).

http://digilib.unimus.ac.id

11

2.1.6. Pengendalian Diabetes Mellitus


Pilar utama pengelolaan diabetes mellitus dalam kedokteran modern antara
lain perencanaan makan (diet), latihan jasmani, asupan obat hipoglikemik,
penyuluhan, dan pemantauan mandiri kadar glukosa darah atau urine. Kelima
pilar ini memiliki tujuan utama yaitu mengontrol dan menormalkan kadar gula
darah. Kelima pilar harus dijalankan seumur hidup untuk mencegah agar
komplikasi tidak berlangsung cepat (Tjokroprawiro, 1991).
2.1.6.1. Perencanaan Makan
Makanan dengan komposisi seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan
lemak sesuai dengan kecukupan gizi. Prinsip perencanaan makan untuk diabetes
mellitus meliputi 3 (tiga) J, antara lain :
1.

Jumlah energi disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, usia, stress dan
kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan idaman.
Menentukan status gizi, digunakan Body Mass Index (BMI) atau Indeks
Massa Tubuh (IMT). Pola pengaturan makan penderita diabetes mellitus tidak
berbeda dengan orang normal, kecuali jumlah energi dan waktu makan
terjadwal. Kandungan kolesterol < 300 mg/hari. Lemak dari sumber asam
lemak tidak jenuh dan menghindari asam lemak jenuh. Jumlah kandungan
serat 25 gram/hari, diutamakan dari serat larut air.

2.

Jadwal makan (6 kali) makan pagi selingan pagi makan siang selingan
sore makan malam menjelang tidur malam.

3.

Jenis makanan yang beragam meliputi : karbohidrat 6070% kebutuhan


energi, protein 10-15%, lemak 20-25% dan serat 25-35% (Marthian, 2008).

http://digilib.unimus.ac.id

12

2.1.6.2. Latihan Jasmani


Latihan jasmani teratur, 3 4 kali tiap minggu selama 30 menit yang
sifatnya sesuai CRIPE ( Continous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance
training ). Latihan dilakukan terus menerus tanpa berhenti, otot-otot berkontraksi
dan relaksasi secara teratur, selang seling antara gerak cepat dan lambat,
berangsur-angsur dari sedikit kelatihan yang lebih berat secara bertahap dan
bertahan dalam waktu tertentu. Latihan yang dapat dijadikan pilihan adalah jalan
kaki, jogging, lari, renang, bersepeda, dan mendayung (Soegondo S, 2007).
Hal yang perlu diperhatikan dalam latihan jasmani adalah jangan memulai
olahraga sebelum makan, memakai sepatu yang pas, harus didampingi oleh orang
yang tahu mengatasi serangan hipoglikemia, harus selalu membawa permen,
membawa tanda pengenal sebagai penderita diabetes mellitus dalam pengobatan,
dan memeriksa kaki secara cermat setelah olahraga (Soegondo S, 2007).
a.

Prinsip Latihan Jasmani yang dilakukan :

1. Terus - menerus
Latihan jasmani harus berkesinambungan dan dilakukan terus menerus tanpa
henti, contoh : jogging 30 menit, maka penderita harus melakukannya selama
30 menit tanpa henti.
2. Secara Ritmis
Latihan olahraga dipilih yang berirama yaitu otot-otot berkontraksi dan
relaksasi secara teratur, contoh : berlari, berenang, jalan kaki.

http://digilib.unimus.ac.id

13

3. Interval
Latihan dilakukan selang seling antara gerak cepat dan lambat, contoh : jalan
cepat diselingi jalan lambat, jogging diselangi jalan.
4. Progresif
1) Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan, dari intensitas ringan
sampai sedang selama mencapai 30 60 menit.
2) Sasaran HR = 75 85 % dari maksimal HR (Heart Rate / denyut nadi).
3) Maksimal HR = 220 (umur)
5. Daya tahan
Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti
jalan, jogging, dan sebagainya.
Latihan dengan prinsip seperti di atas minimal dilakukan 3 hari dalam
seminggu, sedang 2 hari yang lain dapat digunakan untuk melakukan olahraga
kesenangannya (Santoso Mardi, 2010).
b. Manfaat Latihan Jasmani
1.

Olahraga membantu membakar kalori karena dapat mengurangi berat badan.

2.

Olahraga teratur dapat meningkatkan jumlah reseptor pada dinding sel tempat
insulin bisa melekatkan diri.

3.

Olahraga memperbaiki sirkulasi darah dan menguatkan otot jantung.

4.

Olahraga meningkatkan kadar kolesterol baik dan mengurangi kadar


kolesterol jahat .

http://digilib.unimus.ac.id

14

5.

Olahraga teratur bisa membantu melepaskan kecemasan stres, dan


ketegangan, sehingga memberikan rasa sehat dan bugar (Santoso Mardi,
2010).

c.

Petunjuk Olahraga untuk Diabetes Bergantung pada Insulin :

1.

Monitor kadar glukosa darah sebelum dan sesudah berolahraga.

2.

Menghindari gula darah rendah dengan memakan karbohidrat ekstra sebelum


olahraga.

3.

Menghindari olahraga berat selama reaksi puncak insulin.

4.

Melakukan suntikan insulin di tempat-tempat yang tidak akan digunakan


untuk olahraga aktif.

5.

Mengikuti saran dokter untuk mengurangi dosis insulin sebelum melakukan


olahraga yang melelahkan atau lama.

6.

Glukosa darah bisa turun bahkan beberapa jam setelah berolahraga karena
sangat penting untuk memeriksa gula darah secara periodik (Santoso Mardi,
2010).

d. Petunjuk Berolahraga untuk Diabetes Tidak Bergantung pada Insulin


1.

Gula darah rendah jarang terjadi selama berolahraga dan karena itu tidak
perlu memakan karbohidrat ekstra.

2.

Olahraga untuk menurunkan berat badan perlu didukung dengan pengurangan


asupan kalori.

3.

Olahraga sedang perlu dilakukan setiap hari. Olahraga berat mungkin bisa
dilakukan tiga kali seminggu.

http://digilib.unimus.ac.id

15

4.

Melakukan latihan ringan guna pemanasan dan pendinginan sebelum dan


sesudah berolahraga.

5.

Memilih olahraga yang paling sesuai dengan kesehatan dan gaya hidup secara
umum.

6.

Manfaat olahraga akan hilang jika tidak berolahraga selama tiga hari berturutturut.

7.

Olahraga bisa meningkatkan nafsu makan dan berarti juga asupan kalori
bertambah, untuk menghindari makan makanan ekstra setelah berolahraga.

8.

Dosis obat telan untuk diabetes mungkin perlu dikurangi selama olahraga
teratur (Santoso Mardi, 2010).

2.1.6.3. Asupan Obat Hipoglikemik


Pada dasarnya pengelolaan diabetes mellitus tanpa dekompensasi dimulai
dengan pengaturan makan disertai olahraga yang cukup selama 4-8 minggu. Bila
dalam periode tersebut, kadar glukosa darah masih tinggi dari normal, baru
diberikan obat hipoglikemik oral (OHO). Tercatat hanya 5% penderita yang
mencapai normoglikemia dengan pengaturan makan dan olahraga sedang sisanya
95%

tidak memberi hasil yang memuaskan sehingga dapat dimulai dengan

pemberian OHO.

Pada

penderita

hiperglikemia

berat,

pemberian obat

hipoglikemik oral (OHO) harus dimulai lebih awal (Lebovitz, HE. 1994).
Peranan obat hipoglikemik oral pada pengobatan diabetes mellitus dalam
hal mekanisme kerja OHO, klasifikasi, indikasi dan kontra indikasi, serta jenisjenis OHO

http://digilib.unimus.ac.id

16

a. Mekanisme Kerja Obat Hipoglikemik Oral


Pada dasarnya diabetes mellitus tipe II disebabkan oleh defek pada sekresi
insulin dan kerja insulin. Ada tidaknya hiperglikemia ditentukan oleh 3 faktor
yaitu sel beta pankreas yang mensekresi insulin, Hepatic glucose out put
(produksi glukose hati) oleh hati dan sensitivitas jaringan perifer (otot, usus dan
hati) terhadap insulin. Obat hipoglikemik oral mempunyai titik kerja pada salah
satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut diatas. Sulfonilurea misalnya
mempunyai kerja terutama meningkatkan sekresi insulin, metformin bekerja
diperifer pada otot-otot dimana memperbaiki sensitivitas sel terhadap insulin,
inhibitor alfa glukosidase bekerja menekan penyerapan glukosa di usus,
troglitazon bekerja menekan produksi glukosa oleh hati dan repaglinide bekerja
meningkatkan sekresi insulin pada sel beta pankreas (Lebovitz, HE. 1994).
b. Klasifikasi OHO
Dikenal berbagai jenis obat hipoglikemik oral :
a) Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
1) Sulfonilurea
Obat golongan sulfonilurea bekerja dengan cara :
(a) Menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan (stored insulin).
(b) Menurunkan ambang sekresi insulin.
(c) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.
Sulfonilurea terikat dengan permukaan reseptor pada membran sel
beta dan menghambat ATP-Sensitive Potassium Channel sehingga
mencegah keluarnya kalium dan terjadilah depolarisasi membran sel.

http://digilib.unimus.ac.id

17

Depolarisasi membuka voltage-dependent calcium channel akibatnya


kalsium ekstra seluler masuk dalam sel dan akhirnya meningkatkan Calcium
Cytosolic

yang merangsang insulin.

Golongan sulfonilurea

dalam

pemberiannya dapat menyebabkan kegagalan primer yaitu sejak awal pasien


tidak memberi respons yang memuaskan walaupun sudah ditingkatkan
dosisnya ke dosis maksimal. Keberhasilan menurunkan kadar glukosa puasa
terbatas hanya 20-30% penderita. Demikian pula dapat terjadi kegagalan
sekunder bila dalam periode yang lama obat ini sudah tidak memberi hasil
yang memuaskan walaupun diberikan dalam dosis maksimal. Kegagalan
sekunder dapat terjadi pada sekitar 10% penderita pertahun. Untuk itu
diperlukan obat OHO tambahan atau insulin untuk memperbaiki kontrol
glikemik (Henrichs, HR. 1988).
Obat golongan ini diberikan pada penderita dengan berat badan
normal dan dipakai pada penderita yang berat badannya lebih dari normal.
Klorpropamid tidak dianjurkan pada keadaan insufisiensi renal dan orang
tua karena resiko hipoglikemia yang berkepanjangan, demikian juga
glibenklamid. Untuk orang tua dianjurkan preparat dengan waktu kerja
pendek (tolbutamid, glikuidon). Glikuidon juga diberikan pada penderita
diabetes mellitus dengan gangguan ginjal atau hati ringan (Henrichs, HR.
1988).
2) Biguanid
Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai di bawah
normal. Preparat yang ada dan aman adalah metformin. Metformin adalah

http://digilib.unimus.ac.id

18

golongan dimetil biguanide merupakan OHO yang dipakai untuk


menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe II,
penggunaannya bertujuan untuk menurunkan resistensi insulin dengan
memperbaiki sensitivitas insulin terhadap jaringan. Dengan demikian
metformin di indikasikan sebagai obat pilihan pertama pada pasien diabetes
mellitus tipe II gemuk yang mana dasar kelainannya adalah resistensi
insulin. Walaupun cara kerja metformin berbeda dengan sulfonilurea akan
tetapi efek kontrol glikemik sama dengan golongan sulfonilurea. Metformin
dikenal bekerja sebagai anti hiperglikemia sedang sulfonilurea sebagai obat
yang bekerja sebagai hipoglikemik (Balley, CJ. 1996).
Mekanisme kerja metformin menambah up-take (utilisasi) glukosa
diperifer dengan meningkatkan sensitifitas jaringan terhadap insulin,
menekan produksi glukosa oleh hati, menurunkan oksidasi Fatty Acid dan
meningkatkan pemakaian glukosa dalam usus melalui proses non oksidatif.
Ekstra laktat yang terbentuk akan diekstraksi oleh hati dan digunakan
sebagai bahan baku glukoneogenesis. Keadaan ini mencegah terjadinya efek
penurunan kadar glukosa yang berlebihan. Pada pemakaian tunggal
metformin dapat menurunkan kadar glukosa darah sampai 20% (Balley, CJ,
1996).
3) Inhibitor glukosidase
Obat golongan inhibitor alfa glukosidase (Acarbose) mempunyai
mekanisme kerja menghambat kerja enzim alfa glukosidase yang terdapat
pada brush border dipermukaan membran usus halus. Enzim alfa

http://digilib.unimus.ac.id

19

glukosidase berfungsi sebagai enzim pemecah karbohidrat menjadi glukosa


diusus halus. Dengan pemberian acarbose maka pemecahan karbohidrat
menjadi glukosa di usus akan menjadi berkurang, dengan sendirinya kadar
glukosa darah akan berkurang (Adam, JMF. 1997).
4) Insulin sensitizing agent
Thoazolidinediones (Troglitazon) adalah golongan obat baru yang
mempunyai efek farmakologi meningkatkan sensitifitas jaringan perifer
terhadap insulin. Obat ini tidak menyebabkan reaksi hipoglikemia,
menghilangkan adanya resistensi insulin, menurunkan hepatic glucose out
put, menormalkan gangguan toleransi glukosa, dan mencegah serta
memperlambat progresifitas gangguan toleransi glukosa menjadi diabetes.
Terbukti pula obat ini dapat memperbaiki kendali glukosa darah dan
hiperinsulinemia. Obat ini belum beredar di Indonesia (Iwamoto, Y. et al.
1996).
b) Insulin
Indikasi penggunaan insulin pada NIDDM adalah :
1) Diabetes mellitus dengan berat badan menurun cepat/kurus.
2) Ketoasidosis, asidosis laktat, dan koma hiperosmolar.
3) Diabetes mellitus yang mengalami stress berat (infeksi sistemik, operasi
berat, dan lain-lain).
4) Diabetes mellitus dengan kehamilan / Diabetes mellitus gestasional yang
tidak terkendali dengan perencanaan makan.

http://digilib.unimus.ac.id

20

5) Diabetes mellitus yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik


oral dosis maksimal atau ada kontraindikasi dengan obat tersebut.
Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah, lalu
dinaikkan perlahan-lahan sesuai dengan hasil glukosa darah penderita.
Penderita sudah diberikan sulfonilurea atau metformin sampai dosis
maksimal namun kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, untuk
menggunakan kombinasi sulfonilurea dengan metformin. Dengan cara ini
tidak berhasil, dipakai kombinasi sulfonilurea dan insulin (Soegondo S,
2007).
Tabel 1. Obat Hipoglikemik Oral (Sarwono W, 1996)
Nama
Generik
Merk
Sulfonilurea
Klorpropamid
Diabenese
Tolbutamid
Rastinon
Glibenklamid
Daonil
Glikuidon
Glurenorm
Biguanid
Metformin
Glukophage
Penghambat
Glukosidase
Acarbose
Glucobay

Dosis
Harian

Awal

Lama Kerja
(jam)

100-500
500-2000
2.5-20
30-120

50
2.5
15

24-36
6-12
12-24
10-20

1
2-3
1-2
1-3

6-8

1-3

1-3

250-3000

150-300

50

Frek
(Kali)

2.1.6.4. Penyuluhan (Edukasi)


Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan
dan ketrampilan bagi penderita diabetes yang bertujuan menunjang perubahan
perilaku untuk meningkatkan pemahaman penderita akan penyakit yang
diperlukan untuk mencapai keadaan sehat optimal dan penyesuaian keadaan
psikologik serta kualitas hidup yang lebih baik (Hartini, 2009).

http://digilib.unimus.ac.id

21

2.2

Senam Diabetes
Tahap-tahap (urutan kegiatan) melakukan olahraga atau senam diabetes

adalah :
1.

Pemanasan (warm-up)
Pemanasan dilakukan sebelum memasuki latihan inti dengan tujuan untuk

mempersiapkan berbagai sistem tubuh sebelum memasuki latihan yang


sebenarnya, seperti menaikkan suhu tubuh, meningkatkan denyut nadi secara
bertahap tidak meningkat secara mendadak. Pemanasan perlu untuk mengurangi
terjadinya cedera akibat olahraga. Lama pemanasan cukup 5-10 menit.
2.

Latihan inti (conditioning)


Denyut nadi diusahakan mencapai Target Heart Rate (THR) agar latihan

benar-benar bermanfaat. Bila THR tidak tercapai maka tidak akan bermanfaat, bila
melebihi THR akan menimbulkan risiko yang tidak diinginkan.
3.

Pendinginan (cooling-down)
Selesai melakukan olahraga dilakukan pendinginan, untuk mencegah

terjadinya penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot
sesudah olahraga atau pusing-pusing karena darah masih terkumpul pada otot
yang aktif.
4.

Peregangan (stretching)
Peregangan dilakukan untuk melemaskan dan melenturkan otot-otot yang

masih teregang dan lebih elastis. Komponen ini lebih penting bagi diabetesi usia
lanjut (Costill, DL. 1995).

http://digilib.unimus.ac.id

22

2.2.1 Adaptasi Fisiologi Olahraga pada Diabetesi


Pada orang normal perubahan metabolik yang terjadi akibat berolahraga
sesuai dengan lama, beratnya latihan dan tingkat kebugaran. Hal yang sama juga
terjadi pada diabetesi namun selain itu dipengaruhi pula oleh kadar insulin
plasma, kadar glukosa darah, kadar benda keton dan imbangan cairan tubuh
(Storlien, H. 1993).
Pada diabetesi tidak terkendali, olahraga akan menyebabkan terjadinya
peningkatan glukosa darah dan benda keton yang dapat berakibat fatal. Pada suatu
penelitian didapatkan bahwa diabetes tidak terkontrol dengan glukosa darah
sekitar 332 mg/dl, olahraga tidak menguntungkan malah berbahaya. Keadaan ini
diakibatkan oleh adanya peningkatan glukagon plasma dan kortisol, yang pada
akhirnya menyebabkan terbentuknya benda keton. Sebaiknya bila diabetesi ingin
berolahraga, kadar gula darah tidak lebih dari 250 mg/dl (Stacy,P & Borushek,A.
1986).
Ambilan glukosa oleh jaringan otot pada keadaan istirahat membutuhkan
insulin, disebut sebagai jaringan insulin-dependent. Sedangkan pada otot yang
aktif, kebutuhan otot terhadap glukosa meningkat, tidak disertai peningkatan
kadar insulin. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kepekaan reseptor insulin di
otot dan bertambahnya jumlah reseptor insulin di otot dan bertambahnya jumlah
reseptor insulin yang aktif pada waktu berolahraga. Otot yang aktif disebut
sebagai jaringan non-insulin dependent. Peningkatan kepekaan ini berakhir hingga
cukup lama setelah masa latihan berakhir. Pada waktu berolahraga blood flow

http://digilib.unimus.ac.id

23

(BF) meningkat, menyebabkan lebih banyak jala-jala kapiler terbuka sehingga


lebih banyak reseptor insulin yang tersedia dan aktif (Skinner,JS. 1994).
Pada waktu olahraga dalam waktu singkat, ambilan glukosa oleh otot yang
sedang aktif bergerak meningkat 7-20 kali lipat, tergantung pada intensitas gerak
yang dilakukan. Glikogen hati digunakan untuk memenuhi kebutuhan glukosa,
oleh karena itu kadar glukosa darah tetap dalam keseimbangan, atau menurun
hanya sedikit sekali. Ambilan asam lemak otot meningkat dengan nyata, dan
dalam waktu yang bersamaan, pembakaran glukosa menurun menjadi 20-40%
dari sebelumnya. Perubahan ini mencegah penurunan kadar glukosa darah yang
terlalu cepat. Setelah beberapa jam berolahraga sumber glukosa darah sekarang
berasal dari glukoneogenesis (AH. Asdie, 1996).
2.2.2

Manfaat Olahraga
Pada saat berolahraga terjadi peningkatan kebutuhan bahan bakar tubuh

oleh otot yang aktif. Terjadi pula reaksi tubuh yang kompleks meliputi fungsi
sirkulasi, metabolisme, penglepasan dan pengaturan hormonal dan susunan saraf
otonom. Pada keadaan istirahat metabolisme otot hanya sedikit sekali memakai
glukosa sebagai sumber bahan bakar sedangkan pada saat berolahraga glukosa
dan lemak akan merupakan sumber energi utama. Setelah berolahraga selama 10
menit glukosa akan meningkat sampai 15 kali jumlah kebutuhan pada keadaan
biasa. Setelah 60 menit dapat meningkat sampai 35 kali (Soegondo, 2007).
Manfaat olahraga bagi diabetesi antara lain meningkatkan penurunan
kadar glukosa darah, mencegah kegemukan, ikut berperan dalam mengatasi
terjadinya komplikasi aterogenik, gangguan lipid darah, peningkatan tekanan

http://digilib.unimus.ac.id

24

darah, hiperkoagulasi darah. Mengurangi resiko Penyakit Jantung Koroner (PJK)


dan meningkatkan kualitas hidup diabetesi dengan meningkatnya kemampuan
kerja dan juga memberikan keuntungan secara psikologis (Soegondo, 2007).
Olahraga pada diabetesi dapat menyebabkan terjadinya peningkatan
pemakaian glukosa oleh otot yang aktif, sehingga secara langsung olahraga dapat
menyebabkan penurunan glukosa darah. Demikian pula yang didapatkan dari hasil
penelitian Allen dkk. Olahraga yang teratur akan mengurangi kebutuhan insulin
sebesar 30-50% diabetesi tipe I yang terkontrol dengan baik, pada diabetesi tipe II
yang dikombinasikan dengan penurunan berat badan akan mengurangi kebutuhan
insulin sehingga 100% (Marieb. 1992).
1. Manfaat Olahraga pada Diabetes Mellitus Tipe I
Peran olahraga teratur pada pengaturan kadar glukosa darah (glycemic
control) pada diabetes mellitus tipe I masih kontroversial. Diabetes mellitus tipe I
mempunyai kadar insulin darah yang rendah akibat kurang atau tidak adanya
produksi insulin oleh pankreas. Diabetes mellitus tipe I mudah mengalami
hipoglikemia selama dan segera sesudah berolahraga sebab hepar gagal untuk
melepaskan glukosa sesuai dengan laju kebutuhan.
Pada diabetes mellitus tipe I derajat pengaturan kadar glukosa darah akibat
olahraga sangat bervariasi artinya pada diabetesi tertentu olahraga akan
menyebabkan terjadinya pengaturan kadar glukosa darah dengan baik sedangkan
pada diabetesi lain pengaturan kadar glukosa tidak demikian, jadi efek olahraga
pada diabetes mellitus tipe I sangat individual (Wolfe. RR, 1998).

http://digilib.unimus.ac.id

25

2. Manfaat Olahraga pada Diabetes Mellitus Tipe II


Pada diabetes mellitus tipe II, olahraga berperan utama dalam pengaturan
kadar glukosa darah. Produksi insulin umumnya tidak terganggu terutama pada
awal menderita penyakit diabetes. Masalah utama pada diabetes mellitus tipe II
adalah kurangnya respons reseptor terhadap insulin (resistensi insulin). Karena
adanya gangguan tersebut insulin tidak dapat membantu transfer glukosa ke dalam
sel. Kontraksi otot memiliki sifat seperti insulin (insulin-like effect). Permeabilitas
membran terhadap glukosa meningkat pada otot yang berkontraksi. Pada saat
berolahraga

resistensi

insulin

berkurang,

sebaliknya

sensitivitas

insulin

meningkat, menyebabkan kebutuhan insulin pada diabetes tipe II akan berkurang.


Respons ini hanya terjadi setiap kali berolahraga, tidak merupakan efek yang
menetap atau berlangsung lama, oleh karena itu olahraga harus dilakukan terus
menerus dan teratur (Wolfe. RR, 1998).
2.2.2.
a.

Protokol Latihan Klub Olahraga Senam Diabetes Persadia

Sebelum Latihan
1. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan.
2. Mengukur tekanan darah dan menghitung denyut nadi.
3. Pemeriksaan kadar gula darah.

b.

Latihan
1. Mengatur barisan peserta senam.
2. Senam pemanasan / strechting / senam ringan.
3. Melakukan senam Diabetes Indonesia selama 25 30 menit.

http://digilib.unimus.ac.id

26

4. Melakukan pendinginan / cooling-down


5. Melakukan penghitungan denyut nadi.
6. Pijit Diabetes
c.

Penutup
1. Pemeriksaan gula darah
2. Mengukur tekanan darah
3. Mengkomsumsi makanan dan minum secukupnya (Santoso Mardi, 2010).

http://digilib.unimus.ac.id

27

2.3. Kerangka Teori

Aktivitas

Usia

Pola Makan

Diabetes Mellitus

Psikologi

Keturunan

PERSADIA

SEBELUM

SENAM

KADAR GULA
DARAH

http://digilib.unimus.ac.id

SESUDAH

28

2.4. Kerangka Konsep


SEBELUM SENAM
DIABETES
KADAR GULA
DARAH
SESUDAH SENAM
DIABETES

2.5.

Hipotesis Penelitian
1. Ho :

Ada perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah Senam


Diabetes

2. Ha

Tidak ada perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah


Senam Diabetes.

http://digilib.unimus.ac.id

Anda mungkin juga menyukai