Anda di halaman 1dari 1

Media Regional

Peristiwa

Edisi 97

13 Juli s/d 20 Juli 2015

Halaman

PT. REKI Harus Menghormati Hak-Hak Masyarakat

Hentikan Intimidasi SAD dengan Menggunakan Aparat Keamanan


Jambi, MR

SEBAGAI perusahaan
berorientasi global, yang
secara khusus bicara tentang perlindungan alam
dan ekosistem, PT. Restorasi Ekosistem Indonesia
(PT. REKI) seharusnya
menjadi pihak terdepan
dalam penghormatan hakhak masyarakat. Namun
pada prakteknya, PT.
REKI justru banyak melakukan pelanggaran terhadap hak masyarakat yang
berada di dalam wilayah
konsesinya, khususnya

hak-hak Suku Anak Dalam


(SAD).
Dalam catatan AGRAJambi, pada masa menjelang Ramadhan hingga saat
ini, aktivitas intimidasi
yang dilakukan PT. REKI
mengalami peningkatan.
Pada awalnya intimidasi
itu bermotif latihan militer
dengan jumlah ratusan
personil. Kemudian menjadikan aparat keamanan
tersebut sebagai juru biacara PT.REKI dalam
menghadapi masyarakat.

Terakhir, terjadi pengrusakan fasilitas gapura milik masyarakat yang juga


dilakukan tentara.
Demikian dijelaskan
Koordinator AGRA-Jambi, Pauzan Fitrah kepada
wartawan baru-baru ini
terkait dengan intimidasi
PT Reki terhadap SAD
dengan melibatkan aparat
keamanan. Aparat keamanan dibangun untuk
pertahanan Negara, bukan
menjadi utusan perusahaan, kata Pauzan.

Bila hanya latihan,


kenapa muncul spandukspanduk pelarangan aktivitas di kawasan PT. REKI
dengan logo aparat keamanan bersanding dengan
logo PT. REKI? ini jelas intimidasi bagi masyarakat,
tambahnya.
PT. REKI adalah perusahaan yang menggalang
dukungan publik internasional dalam upaya yang
mereka gaungkan sebagai
pelestarian alam dan memperbaiki ekosistem yang

rusak. Di Provinsi Jambi,


PT. REKI mengelola kawasan hutan produksi yang
sebelumnya menjadi areal
operasi HPH PT. Asialog.
Jauh sebelum PT. REKI
berdiri, areal yang menjadi operasi perusahaan
ini dikenal sebagai areal hidup masyarakat adat
Suku Anak Dalam Batin
9 khususnya Bathin Bahar. Dalam prakteknya,
PT. REKI tidak pernah
menganggap keberadaan
mereka.

Sebagai perusahaan
lingkungan yang berorientasi global dan menarik
dukungan public, tentu PT.
REKI sangat memahami
standar-standar internasional tentang penghormatan hak-hak masyarakat
adat, misalnya, FPIC (Free,
prior, Informed, Consent)
atau prinsip-prinsip dimana mensyaratkan perusahaan untuk duduk bersama
dengan masyarakat, memberikan informasi tentang
perusahaan dan menghor-

mati sikap masyarakat


atas perusahaan. Namun
dalam assessment yang dilakukan oleh AGRA Jambi
bersama Scale-UP dan
FPP, yang dilakukan tahun
2014 lalu, hal ini tidak pernah dilaksanakan.
PT. REKI hanya
mengedepankan kekuasaan, dengan bermodal
izin pemerintah, mereka
segera beroperasi tanpa
pernah menjalankan prinsip-prinsip FPIC warga
tutup Pauzan. (Lee)

Musim kemarau tahun ini mengancam nasib warga Rt.07 Desa Dusun Mudo Langling,
Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin,
tepatnya di kawasan Polsek Kota Bangko.
Pasalnya selama bulan puasa hampir semua
sumur dan sumber air bersih lainnya Rt 07
mengalami kekeringan. Sementara fasilitas
air ledeng dari PDAM tak kunjung mereka
nikmati kendati jarak desa ini tidak jauh
dari pusat kota kabupaten.

bah beratnya cobaan umat


muslim di sana dalam
menjalankan ibadah puasa
ramadhan.
Ketua Rukun Tetangga
07 Dusun Mudo Langling,
Ali (51) sempat meneteskan
air mata saat menuturkan
kepedihan nasib warganya.
Upaya dirinya meminta
bantuan kepada pemerintah daerah seakan tidak
didengar sama-sekali.
Entah apa salah kami.
Kami belum menikmati
kemerdekaan negara ini.
Jangankan m em bantu
masalah kesulitan ekonomi, membantu air bersih
saja Pemda Merangin tidak
mau,terlebih ini bulan
ramadhan,ujar pria tua
dengan nada terbata.
Menurut Ali, tidak
sedikit dari warga ada
yang harus berjalan kaki
seribu meter untuk mendapatkan sumber air bersih. Itupun tidak bertahan
lama akibat musim kemarau yang cukup panjang
tahun ini.(rio/lee)

Warga Bangko Kesulitan Air Bersih


Ketua RT Teteskan Air Mata Ceritakan Derita Warganya

Bangko, MR

ANG lebih membuat masyarakat


kecewa terhadap
Bupati Merangin Al-Haris.
Karena respon dari Bupati
Merangin terhadap warga
itu minim. Bahkan warga
menyebut Bupati merangin
tidak ada kepedulian sama
sekali terhadap nasib ratusan jiwa warga di desa
itu. Misalnya memberikan
bantuan air bersih dengan
mobil milik PDAM. Namun
permintaan warga tidak
pernah digubris.
Guna memenuhi keFOTO/DIMAZ

SURUT Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari mengalami surut yang cukup parah akibat kemarau panjang yang terjadi selama ini.
Sekarang berdampak di sejumlah daerah di Provinsi Jambi mengalami kelangkaan air bersih.

Pengawasan Alat Tangkap

Pukat Harimau Kewenangan DKP Provinsi


Muarasabak, MR

Ahmad Riadi Pane


PENGAWASAN terhadap penggunaan alat
tangkap ikan dengan pukat harimau merupakan
kewenangan Dinas Kelautan Perikanan (DKP)
Provinsi, dan karena itu
sekarang kewenangannya tidak lagi berada di
daerah kabupaten.
Ahmad Riadi Pane
Kepala Dinas DKP (Dinas
Kelautan Perikanan) Kabupaten Tanjung Jabung
Timur ketika di temui
Media Regional di kantor

belum lama ini, terkait


pengawasan penggunaan
alat tangkap pukat harimau dan sejenisnya yang
di larang oleh undang undang mengatakan, dengan
terbitnya Undang Undang
nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah,
maka pengawasan dan
pengelolaan kelautan tidak
menjadi wewenang kami
lagi (DKP Tanjab Timur).
Itu sepenuhnya menjadi domain penuh DKP
Provinsi Jambi, dan untuk
nelayan Kabuapten Tanjab Timur malah sudah
sedikit sekali yang menggunakan alat tangkap sejenis trowl, terangnya.
Selanjutnya kata Pane,
adapun beberapa penangkapan kapal nelayan dengan bobot kurang lebih 30
GT yang tertangkap di
wilayah perairan Kabupaten Tanjab Timur adalah
nelayan dari luar, dan
selama ini kami (DKP Tanjab Timur) tidak pernah
sama sekali di beritahukan

atau diajak berkoordinasi


terkait pengawasan penggunaan alat tangkap pukat
harimau, dengan alasan
takut kebocoran atau diketahui oleh nelayanyang
bersangkutan.
Sebagaimana di ketahui, katanya, diwilayah
perairan laut Tanjab
Timur masih banyak di
temui kapal nelayan dari
luar daerah yang menggunakan pukat harimau dan
sampai saat ini belum bisa
ditertibkan.
Saya juga tidak paham
bagaimana sebenarnya
pengawasan yang dilakukan oleh DKP Provinsi
Jambi, sampai saat ini
nelayan dari daerah lain
masih leluasa mengambil kekayaan laut Tanjab
Timur yang nota bene kekayaan laut Provinsi Jambi
juga, ujarnya.
Lalu, dia juga mengatakan, DKP Provinsi Jambi
bisa dikatakan bekerja
sendiri padahal semestinya melibatkan kami atau

setidak tidaknya berkoordinasi dengan kami dan


pihak pihak lain yang terlibat, agar pengawasan
penggunaan alat tangkap
yang di larang dapat ditertibkan secara maksimal.
Mengenai Pokmaswas
(kelompok masyarakat
pengawas) yang sudah
kami bentuk di beberapa
kecamatan yang mempunyai potensi laut serta berperan aktif untuk
mewujudkan pengelolaan
sumber daya perikanan
kelautan serta kelestarian
lingkungan setiap wilyah.
Nantinya akan menjadi tanggung jawab DKP
Provinsi dan DKP Tanjab
Timur, dengan terbitnya
Undang undang nomor
23 tahun 2014, tidak
mempunyai wewenang
terhadap pengawasan kelautan, sedangkan untuk
budidaya perikanan dan
pemberdayaan kelautan masih tetap menjadi
tanggung jawab kami,
tandasnya. (az/sal)

butuhan minum, mandi


dan cuci (MCK), warga
terpaksa mengangkut air
dengan ember dari sungai
yang berlokasi ratusan meter bahkan hingga seribu
meter di belakang desa itu.
Kami harus naik-turun
bukit untuk mengangkut
seember air, ungkap Sayuti lirih.
Sayuti dan semua warga
di sana harus rela antri
berjam-jam agar mendapat pembagian air merata
dari sungai kecil tersebut.
Kondisi ini kian menam-

6 Bulan Perangkat Desa


Belum Terima Gaji
Muarasabak, MR
Para perangkat desa di
wilayah Kecamatan Mendahara Ulu, terhitung dari
bulan Januari hingga saat
ini belum juga menerima
gaji. Akibatnya, banyak
perangkat desa yang mulai bermalasan kerja. Hal
tersebut dalakukan salah
satu bentuk protes terhadap pemerintah yang saat
ini belum bisa juga mengeluarkan gaji mereka.
Sebelumnya, pada tahun
2014 lalu para perangkat
desa dalam satu triwulan
sekalin rutin menerima
gaji. Tetapi pada tahun
2015 saat ini perangkat
desa belum menerima
gaji selama 2 triwulan.
Penyebabnya belum bisa
cairnya Anggran Dana
Desa(ADD).
Kepala Dusun (Kadus)
Harapan Jaya, Sudir Hamsah mengatakan, dengan
kondisi saat ini pencairan
Alokasi Dana Desa yang
kita harapkan belum juga
terleasasikan. Padahal
tahun sebelumnya honor
kadus dan Rt selalu dilakukan pembayaran dalam

K arikatur Khas Media Regional

satu triwulan berkisar, Rp


400 ribu, namun sampai
kini sejak terhitung dibulan
Januari honor tersebut belum juga kita terima, kata
Sudir Hamsah.
Kalau hanya mengandalkan honor saja, kemungkinan besar untuk biaya makan saja tidak mencukupi.
Belum lagi kebutuhan anak
sekolah ditambah lagi kebutuhan sehari hari, coba
kalau tidak ada kebun sawit bisa bisa kebutuhan
dapur akan terancam.
Yang jelas, untuk honor
para Kadus dan RT sampai
saat ini masih menjadi
pertanyaan, kapan akan dikucurkan, harapnya Sudir
Hamsah.
Salah satu ketua Rt 03
Armizin, untuk honor para
ketua Rt sejauh ini memang belum kita terima,
apalagi sejak terhitung
dibulan Januari lalu hingga
sekarang. Ini saja hutang
sudah keliling pinggang,
belum lagi kebutuhan lainya, padahal honor dalam
satu triwulan selalu dilakulan pembayaran tepat

waktu,terangnya.
Sementara Pelaksana
Tugas Kades Sungai Toman, Surya Aldian, S, Ip
membenarkan, menyangkut pencairan ADD sejauh ini memang masih
terkendala. Sebab, untuk
penyusunan Rempjs desa
tiga hari sebelumnya sudah kita usulkan melalui
Dinas BMPD/K Kabupaten
Tanjantim.
Dalam dua hari ini tetap
kita tunggu perkembanganya, kita juga memaklumi
apa yang menjadi keluhan
Kadus dan RT terutama
menyangkut honor, kata
Surya.
Dikatakan, bukan hanya
di Desa Sungai Toman saja
yang belum melakukan
pencairan ADD, desa lainya
juga mengalami hal yang
sama. Ya, kita juga berharap dalam tiga hari ini
sudah ada titik terang, paling tidak untuk dana ATK
dulu yang harus diutamakan, sedangkan untuk dana
fisik barang kali dilakukan
bulan Agustus nanti, tandasnya.(az/lee)

Jika anda kartunis kami bersedia memuat karikatur


dan akan diberikan imbalan sepantasnya kirim ke:
E-mail:
redaksi_regionalnews@yahoo.co.id

Beri Nilai