Anda di halaman 1dari 12

Ablasi Retina

Adalah suatu keaadaan terpisahnya lapisan sensoris retina dari lapisan epitel
pigmen retina.
Faktor Predisposisi :mata dengan miopia tinggi, pasca retinitis, ekstraksi
katarak, dan retina yang memperlihatkan degenerasi di perifer
Manifestasi: tabir yang menutupi penglihatan dan seperti melihat pijaran api.
Penglihatan menurun secara bertahap sesuai daerah yang terkena. Penglihatan
sentral akan terganggu setelah makula terkena.
Pemeriksaan penunjang: pada funduskopi terlihat retina yang terangkat
berwarna pucat dan adanya robekan retina yang berwarna merah. Paling sering
ditemukan di daerah temporal superior. Bila bola mata bergerak akan terlihat
robekan retina bergoyang, terdapat defek aferen pupil, tekanan bola mata
rendah. Bila tekanan bola mata meningkat, berarti telah terjadi glaukoma
neovaskular pada ablasi yng lama.
Prognosis: tanpa pengobatan, retina akan terlepas total dalam 6 bulan. Sekitar
80% kasus tanpa komplikasi dapat disembuhkan dengan satu kali operasi, 15%
memerlukan operasi kedua, dan sisanya tidak berhasil disembuhkan. Prognosis
lebih buruk bila mengenai makula atau jika telah berlangsung lama. Sekitar 225% dari kasus ablasi retina spontan terjadi bilateral.
Komplikasi
a.
-

Komplikasi awal setelah pembedahan


Peningkatan TIO, Glaukoma, Infeksi, Ablasio koroid,Kegagalan pelekatan

retina, Ablasio retina berulang


b.
-

Komplikasi lanjut
Infeksi, Lepasnya bahan buckling melalui konjungtiva atau erosi melalui

bola mata, Vitreo retinpati proliveratif (jaringan parut yang mengenai retina),
Diplopia, Kesalahan refraksi

Astigmatisme

ABLASIO RETINA
A.

Pendahuluan

Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor
yang menerima rangsangan cahaya. Retina manusia merupakan suatu struktur
yang sangat terorganisir, yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel dan prosesus
sinaptik.

Walaupun

ukurannya

kompak

dan

tampak

sederhana

apabila

dibandingkan dengan struktur saraf misalnya korteks serebrum, retina memiliki


daya pengolahan yang sangat canggih. Pengolahan visual retina diuraikan oleh
otak, dan persepsi warna, kontras, kedalaman, dan bentuk berlangsung di
korteks.1,2
Retina merupakan jaringan neurosensoris yang terbentuk dari perpanjangan
sistem saraf pusat sejak embriogenesis. Retina berfungsi untuk mengubah
energi

cahaya

menjadi

impuls

listrik

yang

kompleks

yang

kemudian

ditransmisikan melalui saraf optik, chiasma optik, dan traktus visual menuju
korteks occipital sehingga menghasilkan persepsi visual. Bagian sentral retina
atau daerah makula sebagian besar terdiri dari fotoreseptor kerucut yang
digunakan untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan fotopik), sedangkan
bagian perifer retina sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang yang
digunakan untuk penglihatan perifer dan malam (skotopik). 2,3
Ablasio retina (retinal detachment) adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut
dan sel batang retina dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel
pigmen masih melekat erat dengan membran Brunch. Sesungguhnya antara sel
kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlengketan struktural
dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang
potensial untuk lepas secara embriologis.

Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen epitel
akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang
bila berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi penglihatan yang
menetap.1
B.

Epidemiologi

Istilah ablasio retina (retinal detachment) menandakan pemisahan retina


sensorik dari epitel pigmen retina. Terdapat tiga jenis utama ablasio retina, yaitu:
ablasio retina regmatogenosa, epitel retina traksi (tarikan), dan ablasio retina
eksudatif.2

Insiden

ablasio retina di Amerika Serikat adalah 1:15.000 populasi dengan

prevalensi 0,3%. Sumber lain menyatakan bahwa insidens ablasio retina di


Amerika Serikat adalah 12,5:100.000 kasus per tahun atau sekitar 28.000 kasus
per tahun.
Secara internasional, faktor penyebab ablasio retina terbanyak adalah miopia 4050%, operasi katarak (afakia, pseudofakia) 30-40%, dan trauma okuler 10-20%.
Ablasio retina lebih banyak terjadi pada usia 40-70 tahun, tetapi bisa terjadi
pada anak-anak dan remaja lebih banyak karena trauma. 4
Ablasio retina regmatogenosa merupakan ablasio retina yang paling sering
terjadi. Sekitar 1 dari 10.000 populasi normal akan mengalami ablasio retina
regmatogenosa. Kemungkinan ini akan meningkat pada pasien yang:

Memiliki miopia tinggi;


Telah menjalani operasi katarak, terutama jika operasi ini mengalami

komplikasi kehilangan vitreus;

Pernah mengalami ablasio retina pada mata kontralateral;

Baru mengalami trauma mata berat.5

C.

Anatomi

Retina merupakan membran yang tipis, halus dan tidak berwarna, tembus
pandang. Yang terlihat merah pada fundus adalah warna koroid. Retina terdiri
dari macam-macam jaringan, jaringan saraf dan jaringan pengokoh yang terdiri
dari serat-serat Mueller, membrane limitans interna dan eksterna, serta sel-sel
glia.7
Pada kehidupan embrio, dari optic vesicle terbentuk optic cup, di mana lapisan
luar membentuk lapisan epitel pigmen dan lapisan dalam membentuk lapisan
dalam lainnya. Di antara kedua lapisan ini terdapat celah potensial. Bila terjadi
robekan di retina, maka cairan badan kaca akan melalui robekan ini, masuk ke
dalam celah potensial dan melepaskan lapisan batang dan kerucut dari lapisan
epitel

pigmen,

maka

terjadilah

ablasio

retina.

Keadaan

ini

tidak

boleh

berlangsung lama, oleh karena lapisan batang dan kerucut mendapat makanan
dari kapiler koroid, sedang bagian-bagian lain dari retina mendapat nutrisi dari
pembuluh darah retina sentral, yang cabang-cabangnya terdapat di dalam
lapisan urat saraf.7
Retina menjalar ke depan dan makin ke depan, lapisannya berubah makin tipis
dan berakhir di ora serrata, di mana hanya didapatkan satu lapisan nuklear.
Makin ke perifer makin banyak batang daripada kerucut, batang-batang itu telah

mengadakan modifikasi menjadi tipis-tipis. Epitel pigmen dari retina kemudian


meneruskan diri menjadi epitel pigmen yang menutupi badan siliar dan iris.

Di mana aksis mata memotong retina, terletak makula lutea. Di tengahtengahnya terdapat lekukan dari fovea sentralis. Pada funduskopi, tampak
makula lutea lebih merah dari sekitarnya dan pada tempat fovea sentralis
seolah-olah ada cahaya, yang disebut refleks fovea, yang disebabkan lekukan
pada

fovea

sentralis.

Besar

makula

lutea

1-2

mm.

Daerah

ini

daya

penglihatannya paling tajam, terutama di fovea sentralis. Struktur makula lutea:


7

1.
2.

Tidak ada serat saraf;


Sel-sel ganglion sangat banyak dipinggir-pinggirnya, tetapi di makula

sendiri tidak ada;


3.

Lebih banyak kerucut daripada batang dan telah bermodifikasi menjadi

tipis-tipis. Di fovea sentralis hanya terdapat kerucut.


Nasal dari makula lutea, kira-kira pada jarak 2 diameter papil terdapat papilla
nervi optisi, yaitu tempat di mana N II menembus sklera. Papil ini hanya terdiri
dari serabut saraf, tidak mengandung sel batang dan kerucut sama sekali.
Bentuk papil lonjong, berbatas tegas, pinggirnya lebih tinggi dari retina
sekitarnya. Bagian tengahnya ada lekukan yang tampak agak pucat, besarnya
1/3 diameter papil, yang disebut exkavasi fisiologis. Dari tempat inilah keluar
arteri dan vena sentral yang kemudian bercabang-cabang ke temporal dan ke
nasal, juga ke atas dan ke bawah.
Pada pemeriksaan funduskopi, dinding pembuluh darah tidak dapat dilihat. Yang
tampak pada pemeriksaan adalah kolom darah. Arteri diameternya lebih kecil,
dengan perbandingan a:v = 2:3. Warnanya lebih merah, bentuknya lebih luruslurus, di tengahnya terdapat refleks cahaya. Vena lebih besar, warna lebih tua,
bentuk lebih berkelok-kelok.7
A. retina sentralis mengurus makanan lapisan-lapisan retina sampai dengan
membrana limitans eksterna. Di daerah makula lutea, yang terutama terdiri dari
sel batang dan sel kerucut tidak terdapat cabang dari A. retina sentralis, oleh
karena daerah ini mendapat nutrisi dari kapiler koroid. 7
Retina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina,dan terdiri atas
lapisan1 :
1)

Epitel pigmen retina(RPE) : terbentuk atas satu lapisan sel yang melekat

longgar pada retina kecuali di perifer(ora serata).

2)

Fotoreseptor : merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang

mempunyai bentuk ramping dan sel kerucut.


3)

Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi.

4)

Lapis nukleus luar : merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan

batang.Ketiga lapis diatas avaskuler dan mendapat metabolisme dari kapiler


koroid.
5)

Pleksiform luar : merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat sinapsis

sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.


6)

Nukleus dalam : merupakan tubuh sel bipolar,sel horizontal dan sel

Muller.Lapis ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.


7)

Pleksiform dalam : merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat

sinaps sel bipolar,sel amakrin dengan sel ganglion.


8)

Sel ganglion : merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua.

9)

Serabut saraf : merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke saraf optik.

Di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina.


10)

Membran limitan interna : merupakan membrane hialin antara retina dan

badan kaca.
D.

Patofisiologi

Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan


rongga vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata
yang matur dapat berpisah :5
1.

Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami

likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio


progresif (ablasio regmatogenosa).
2.

Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina,

misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus (ablasio retina
traksional).
3.

Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan

subretina akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada
kehamilan (ablasio retina eksudatif)
Ablasio retina idiopatik (regmatogen) terjadinya selalu karena adanya robekan
retina atau lubang retina. Sering terjadi pada miopia, pada usia lanjut, dan pada
mata afakia. Perubahan yang merupakan faktor prediposisi adalah degenerasi
retina perifer (degenerasi kisi-kisi/lattice degeration), pencairan sebagian badan
kaca yang tetap melekat pada daerah retina tertentu, cedera, dan sebagainya. 12

Perubahan degeneratif retina pada miopia dan usia lanjut juga terjadi di koroid.
Sklerosis dan sumbatan pembuluh darah koroid senil akan menyebabkan
berkurangnya perdarahan ke retina. Hal semacam ini juga bisa terjadi pada
miopia karena teregangnya dan menipisnya pembuluh darah retina. Perubahan
ini terutama terjadi di daerah ekuator, yaitu tempat terjadinya 90% robekan
retina. Terjadinya degenerasi retina pada mata miopia 10 sampai 15 tahun lebih
awal daripada mata emetropia. Ablasi retina delapan kali lebih sering terjadi
pada mata miopia daripada mata emetropia atau hiperopia. Ablasi retina terjadi
sampai 4% dari semua mata afakia, yang berarti 100 kali lebih sering daripada
mata fakia.12
Terjadinya sineresis dan pencairan badan kaca pada mata miopia satu dasawarsa
lebih awal daripada mata normal. Depolimerisasi menyebabkan penurunan daya
ikat air dari asam hialuron sehingga kerangka badan kaca mengalami
disintegrasi. Akan terjadi pencairan sebagian dan ablasi badan kaca posterior.
Oleh karenanya badan kaca kehilangan konsistensi dan struktur yang mirip agaragar, sehingga badan kaca tidak menekan retina pada epitel pigmen lagi.
Dengan gerakan mata yang cepat, badan kaca menarik perlekatan vireoretina.
Perlekatan badan kaca yang kuat biasanya terdapat di daerah sekeliling radang
atau daerah sklerosis degeneratif. Sesudah ekstraksi katarak intrakapsular,
gerakan badan kaca pada gerakan mata bahkan akan lebih kuat lagi. Sekali
terjadi robekan retina, cairan akan menyusup di bawah retina sehingga
neuroepitel akan terlepas dari epitel pigmen dan koroid. 12
E.

Klasifikasi

Klasifikasi ablasio retina berdasarkan etiologinya, terdiri atas : 1


1. Ablasio retina regmatogenosa
Pada ablasio retina regmatogenosa dimana ablasio terjadi akibat adanya robekan
pada retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan
retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous) yang
masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga
mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.
Ablasio retina akan memberikan gejala terdapatnya gangguan penglihatan yang
kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. Terdapatnya riwayat
adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan.

Ablasio retina yang berlokalisasi di daerah supratemporal sangat berbahaya


karena dapat mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada
ablasio retina bila dilepasnya retina mengenai makula lutea.
Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna
pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan retina
berwarna merah.
Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas (ablasio) bergoyang.
Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada pupil terlihat
adanya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. Tekanan bola mata
rendah dan dapat meninggi bila telah terjadi neovaskular glaukoma pada ablasio
yang telah lama.
2. Ablasio retina tarikan atau traksi
Pada ablasio ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut
pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasio retina dan penglihatan turun
tanpa rasa sakit.
Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan diabetes
mellitus proliferatif, trauma dan perdarahan badan kaca akibat bedah atau
infeksi.
3. Ablasio retina eksudatif
Ablasio retina eksudatif adalah ablasio yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat
di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai
akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid (ekstravasasi).
Hal ini disebabkan penyakit koroid. Pada ablasio tipe ini penglihatan dapat
berkurang dari ringan sampai berat. Ablasio ini dapat hilang atau menetap
bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.

F.

Diagnosis1,4,5,8,9,10

Diagnosis ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


oftalmologi dan pemeriksaan penunjang, sebagai berikut :
1.

Anamnesis

Gejala yang sering dikeluhkan pasien, adalah:

Floaters (terlihat benda melayang-layang), yang terjadi karena adanya

kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau
degenerasi vitreus itu sendiri.
-

Fotopsia/ light flashes (kilatan cahaya) tanpa adanya cahaya di

sekitarnya, yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan


cahaya atau dalam keadaan gelap.
-

Penurunan tajam penglihatan. Pasien mengeluh penglihatannya

sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan
yang telah lanjut dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang lebih berat.
2.

Pemeriksaan oftalmologi

Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat

terlibatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau


badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat
menurun bila makula lutea ikut terangkat.
-

Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang

seperti tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan
kedudukan ablasio retina, pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api
seperti halilintar kecil dan fotopsia.
-

Pemeriksaan

mendiagnosis

ablasio

funduskopi,
retina

yaitu salah satu cara terbaik

dengan

menggunakan

binokuler

untuk
indirek

oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan hilangnya


refleks fundus dan pengangkatan retina. Retina tampak keabu-abuan yang
menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan bermakna
pada ruang subretina, didapatkan pergerakkan undulasi retina ketika mata
bergerak. Suatu robekan pada retina terlihat agak merah muda karena terdapat
pembuluh koroid dibawahnya. Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreus
yang terdiri dari darah dan pigmen atau ruang retina dapat ditemukan
mengambang bebas.
3.
-

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya

penyakit penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus, maupun kelainan


darah.
-

Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi juga

digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang
menyertainya seperti proliverative vitreoretinopati, benda asing intraokuler.

Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang


menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.
-

Scleral indentation

Fundus drawing

Goldmann triple-mirror

Indirect slit lamp biomicroscopy

G.

Penatalaksanaan

Prinsip Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah untuk melekatkan kembali


lapisan neurosensorik ke lapisan epitel pigmen retina. Penanganannya dilakukan
dengan pembedahan,

pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan

cara:6,10,11
1.

Retinopeksi pneumatik

Retinopati pneumatik merupakan cara yang paling banyak pada ablasio retina
regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada superior retina.
Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke
dalam vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina. Jika robekan
dapat ditutupi oleh gelembung gas, cairan subretinal akan menghilang 1-2 hari.
Robekan retina dapat juga dilekatkan dengan kryopeksi sebelum balon
disuntikkan. Pasien harus mempertahankan posisi head precise selama 7-10 hari
untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina.
2.

Scleral buckle

Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina regmatogenosa


terutama tanpa disertai komplikasi lainnya. Ukuran dan bentuk sabuk yang
digunakan tergantung lokasi dan jumlah robekan retina. Sabuk ini biasanya
terbuat

dari

spons

silikon

atau

silikon

padat.

Pertama-tama

dilakukan kryopeksi atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina


sekitar dan epitel pigmen retina. Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga
terjadi tekanan pada robekan retina sehingga terjadi penutupan pada robekan
tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal menghilang
secara spontan dalam waktu 1-2 hari.
3.

Vitrektomi

Vitrektomi merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat
diabetes, ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau hemoragik
vitreus. Cara pelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada bola mata

kemudian memasukkan instrumen hingga ke cavum melalui pars plana. Setelah


itu pemotongan vitreus dengan pemotong vitreus. Teknik dan instrumen yang
digunakan tergantung tipe dan penyebab ablasio.
H.
-

Diagnosis Banding
Retinoschisis degeneratif, yaitu degenerasi peripheral tipikal sering

ditemukan pada orang dewasa, berlanjut dan meninggi 2-3 mm posterior ke ora
serrata. Daerah yang degenerasi tampak adanya gelembung dan paling mudah
diamati adanya depresi skleral. Kavitas kistoid pada lapisan pleksiform luar
mengandung hyalorinidase-mukopolisakarida sensitif. Komplikasi yang diketahui
dari degenerasi kistoid yang tipikal adalah koalesensi dan ekstensi kavitas dan
peningkatan kearah retinoskisis degenerasi tipikal. Gejala fotopsia dan floaters
tidak ada karena tidak ada traksi vitreoretinal. Defek lapangan pandang jarang.
10,11
-

Choroidal detachment, gejala fotopsia dan floaters tidak ada karena tidak

ada traksi viteroretinal. Defek lapangan pandang ada pada mata dengan
detachment choroidal yang luas. 10
I.

Komplikasi

Penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan merupakan komplikasi yang


paling umum terjadi pada ablasio retina. Penurunan penglihatan terhadap
gerakan tangan atau persepsi cahaya adalah komplikasi yang sering dari ablasio
retina yang melibatkan makula.4
Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami
komplikasi, maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati
proliferatif, PVR). PVR dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina
lebih lanjut.2,5
J.

Prognosis
Prognosis tergantung luasnya robekan retina, jarak waktu terjadinya ablasio,

diagnosisnya dan tindakan bedah yang dilakukan. 12


Terapi yang cepat prognosis lebih baik. Prognosis lebih buruk bila mengenai
makula atau jika telah berlangsung lama. Jika makula melekat dan pembedahan
berhasil melekatkan kembali retina perifer, maka hasil penglihatan sangat baik.
Jika makula lepas lebih dari 24 jam sebelum pembedahan, maka tajam
penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya. 2,5

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ilyas S, dkk. Ablasio retina. In: Sari ilmu penyakit mata. Cetakan ke-4.

Gaya Baru Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2004: 9,10,183-6.


Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Ablasi retina. In: Oftalmologi umum. 14th

2.

ed. Widya Medika. Jakarta; 2006:197, 207-9.


3.

Olsen TW. Retina. In: Primary care ophtahalmology. Palay DA, Krachmer JH.

Pr, editors. 2nd ed. Elsevier Mosby. Philadelphia;2005. 183-6.


4.

Gregory Luke Larkin.Retinal Detachment.EMedicine [Online] Available from

: http://www.emedicine.com/emerg/byname/Retinal-Detachment.htm . Accessed:
15/4/2008
James B.,dkk. Ablasi retina. In: Oftalmologi. 9th ed. Erlangga:Ciracas

5.

Jakarta; 2003: 117-121.


6.

Friedman NJ, Kaiser PK, Trattler WB. Posterior segment. In: Review of

ophthalmology. Elsevier Saunders. Philadelphia; 2005: 295-342.


7.

Wijana N. Retina. In: Ilmu penyakit mata. 154-6.

8.

Langston DP. Manual of ocular diagnosis and therapy. 5 th ed. Lippicott

Williams & Wilkins. Philadelphia; 2002: 187-91.


9.

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita selekta kedokteran Edisi ketiga jilid pertama.

Fakultas kedokteran Universitas Indonesia : Media Aesculapius


10.

Kanski JJ. Retinal etachment. In: Clinical ophthalmology. 5 th ed. Butterworth

Heinemann. Philadelphia; 2003: 349-89.


11.

The Eye MD. Association, Retina and Vitreus. In: Basic and clinical science

cource 2003-2004 on CD-ROM, section 12. America Academy of Ophthalmology:


2003-2004.
12.

Hollwich F. Ablasi Retina. In: Oftalmologi. Binarupa Aksara: Jakarta; 1993:

263-269.
13.

Lihteh Wu. Tractional Retinal Detachment.E Medicine [Online]Available

from :
http://www.emedicine.com/oph/byname/Retinal-DetachmentTractional.htm
.Accessed: 15/4/2008.
14.

Lihteh wu. Exudative Retinal Detachment.E Medicine [Online]Available

from :
http://www.emedicine.com/oph/byname/Retinal-DetachmentExudative.htm
.Accessed: 15/4/200