Anda di halaman 1dari 11

Role of Sodium in Fluid Homeostasis with Exercise

Text Book Reading

Oleh : A 01
Ketua

: Amanda Ricki

(1102011023)

Sekretaris

: Citra Nurul Aviandari (1102011067)

A.Deza Farista

(1102011001)

Ana Amalina

(1102011024)

Aria Kapriyati

(1102011041)

Ayu Lestari

(1102011057)

Dinieska Indiastri

(1102011081)

Farizky Baskoro

(1102011100)

Ika Yuniarti

(1102011121)

Mainurtika

(1102011151)

UNIVERSITAS YARSI
FAKULTAS KEDOKTERAN
TAHUN PELAJARAN 2011-2012

Pendahuluan
Pada tahun 1960 tidak jarang ditemukan tablet garam dispenser di kamar
ganti diberbagai tempat olahraga. Ini karena keyakinan luas beranggapan bahwa
pengeluaran natrium yang berlebihan dalam keringat selama aktivitas fisik dapat
menyebabkan penurunan jumlah natrium dalam tubuh dan menghasilkan panaskram. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa keringat adalah hipotonik dan
konsentrasi natrium lebih rendah daripada konsentrasi plasma. Temuan ini
mengarah pada nutrisi yang lebih banyak hilang selama aktivitas dalam keadaan
panas adalah air bukan natrium. Penelitian lebih lanjut mengkonfirmasi temuan ini
dengan menunjukkan bahwa selama latihan dalam kondisi panas dan lembab
menyebabkan peningkatan konsentrasi natrium plasma, menyiratkan bahwa
penggantian air lebih penting daripada penggantian natrium selama latihan di
kondisi udara yang panas.

Kehilangan Natrium dan Air dalam Latihan


Produksi keringat selama latihan pada lingkungan panas tergantung pada
intensitas latihan, durasi, pakaian, status hidrasi individu, aklimasi panas individu,
dan kondisi lingkungan. Ketika melakukan aktivitas fisik dalam suhu lingkungan
tinggi, penguapan keringat dari kulit adalah mekanisme utama untuk pengeluaran
panas. Jika kehilangan panas tidak diimbangi dengan laju produksi panas
metabolik (intensitas latihan), penyimpanan panas tubuh meningkat dan suhu inti
dapat dengan cepat mencapai tingkat yang berbahaya. Mempertahankan kapasitas
yang tinggi untuk produksi keringat sangat penting dalam termoregulasi dan
pencegahan penyakit panas.
Selama kegiatan atletik dengan intensitas tinggi, tingkat keringat yang
dikeluarkan dapat mencapai hingga 3 L / jam. Hal ini menyebabkan tubuh
kehilangan air atau dehidrasi setara dengan 1-8% dari massa tubuh. Digabungkan
dengan konsentrasi natrium keringat rata-rata berkisar antara 40-60 mEq / L.
Jumlah keringat dapat menyebabkan penurunan tingkat natrium sekitar 150 mmol /
jam dengan ditambah pengeluaran natrium melalui urin.
Menurut Mao dalam studinya pada 13 remaja (16-18 tahun) pemain sepak
bola yang mengukur konsentrasi dan ekskresi elektrolit keringat dan elektrolit
urinnya selama 1 jam praktek sepak bola yang dilakukan pada panas (32-37C,
kelembaban relatif 30-50%) pada delapan hari yang menunjukkan konsentrasi
natrium dalam keringat adalah 55 mmol / L. Kerugian keringat rata-rata selama 1
jam sesi latihan adalah 1,54 L (SD = 2,06 L). Dalam keringat, rata-rata kehilangan
natrium sebanyak 82 mmol (SD = 62 mmol). Urin rata-rata kehilangan natrium 110

mmol (SD = 36 mmol). Jadi rata-rata ekskresi natrium oleh keringat dan ekskresi
urin adalah 192 mmol. Asupan makanan tidak dapat dihitung.
Meskipun demikian, ini menunjukkan pengeluaran natrium dan air dalam
jumlah besar selama latihan di panas. Ada kemungkinan bahwa metode
pengumpulan keringat yang digunakan oleh Mao terlalu melebih-lebihkan seluruh
pengeluaran natrium tubuh akibat variasi regional dalam konsentrasi natrium
keringat. Dalam studinya, keringat dikumpulkan dari punggung dan dada dari
masing-masing subjek selama 5 menit selama sesi latihan.
Menurut Shirreffs, konsentrasi natrium yang diukur dalam keringat adalah
51,6 mmol / L selama latihan menghasilkan 2% dehidrasi subyek. Dalam sebuah
studi yang dilakukan oleh Sanders, pengeluaran air dan natrium yang diukur
selama 4 jam latihan bersepeda pada suhu 20C setara dengan 55% dari puncak
VO2. Selama latihan, subjek mengonsumsi 3,85 L, 8% karbohidrat-elektrolit
minuman yang mengandung 5, 50, atau 100 mmol / L natrium. Pengeluaran
keringat rata-rata antara 3,7 dan 3,9 L untuk setiap percobaan. Konsentrasi natrium
keringat berkisar 43-48 mmol / L. Selama 4 jam latihan, natrium yang dikeluarkan
berkisar antara 150 190 mmol / L. Digabungkan dengan pengeluaran natrium
dalam urin, subjek kehilangan natrium sebanyak 198 mmol ketika mengonsumsi 5
mmol / L natrium , 36 mmol ketika mengonsumsi 50 mmol / L Natrium, dan
mengalami keseimbangan natrium positif 159 mmol ketika mengonsumsi
minuman mengandung 100 mmol / L natrium. Selain menjamin keseimbangan
natrium positif selama latihan, asupan minuman yang mengandung 100 mmol / L
natrium mengurangi total cairan yang hilang selama latihan dibandingkan dengan
minuman lain. Meskipun penggantian cairan lebih baik pada konsentrasi natrium
50 dan 100 mmol / L, respon kardiovaskular (misalnya denyut jantung) serupa
antara ketiga percobaan.

Hiponatremia
Selama 20 tahun terakhir, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas
ketahanan dalam durasi yang lama dengan kondisi telah disarankan untuk minum
banyak cairan selama latihan untuk mencegah dehidrasi, memperbesar respon
berkeringat dan dengan demikian mempertahankan kapasitas termoregulator.
Sayangnya, imbauan
ini menyebabkan hiponatremia. Hiponatremia dapat
diakibatkan karena kehilangan natrium yang berlebihan karena respon berkeringat
yang berat, atau sebagai alternatif, karena dilusi plasma natrium sebagai
konsekuensi dari hidrasi berlebihan. Berbagai rekomendasi untuk mencegah
hiponatremia adalah mengurangi penekanan pada cairan pencernaan dan / atau
meningkatkan kandungan sodium dari minuman selama latihan.

Prevalensi hiponatremia
Hiponatremia mungkin menjadi faktor risiko yang signifikan dalam
beraktivitas fisik seperti berlari maraton dan triatlon yang berlangsung selama 4
jam atau lebih. Penyebab dari kasus ini adalah pengenceran natrium plasma atau
efek kehilangan natrium yang berlebihan selama latihan dan respons yang tidak
tepat arginin vasopresin menyebabkan retensi berlebihan terhadap cairan yang
tertelan.
Menurut Noakes, Semakin lama durasi latihan ditambah dengan total lebih
besar asupan cairan sebagai akibat dari durasi yang lebih lama, semakin besar
orang-orang ini terkena resiko hiponatremia.
Prevalensi hiponatremia lebih besar menuju kepada perempuan. Secara
biologis menunjukkan efek seks pada homeostasis cairan atau perbedaan perilaku
pria dan wanita yang mungkin menyebabkan perempuan untuk menjadi lebih
disarankan untuk lebih banyak minum selama latihan ketahanan tubuh.

Pencegahan Hiponatremia
Menurut Gisolfi, Orang yang berolahraga selama 1-3 jam disarankan
mengonsumsi antara 800-1.600 ml / jam dari cairan yang mengandung 10-20
mmol / L natrium dan orang-orang berolahraga selama lebih dari 3 jam harus
mengkonsumsi 500-1.000 ml / jam cairan mengandung 20-30 mmol / L natrium.
Menurut Lutkemeier, menyarankan agar mengonsumsi garam sebelum
latihan karena dapat membantu mempertahankan volume plasma dan dapat
menyebabkan perubahan yang bermanfaat dalam latihan ketahanan kinerja.
Menurut Rehrer, Natrium dalam minuman pengganti cairan pada konsentrasi
berkisar antara 30 dan 50 mmol / L ini disarankan yang mungkin akan bermanfaat
bagi mereka yang terlibat dalam latihan jangka panjang (3 jam atau lebih) dalam
lingkungan panas.
Konsisten dengan hipotesis bahwa kerugian natrium berlebihan adalah
penyebab utama hiponatremia. Karena itu Hiller menyarankan konsumsi 1-2 g
Natrium per jam latihan untuk Mencegah hiponatremia. Namun dalam studi lain
memberi bukti bahwa mengkonsumsi suplemen yang mengandung natrium selama
latihan tidak diperlukan jika melakukan latihan fisik kurang dari 6 jam.

Ada juga beberapa studi yang memberi bukti bahwa suplemen natrium
selama latihan bersama dengan penggantian cairan tidak diperlukan. Barr, dengan
8 subjek yang melakukan 6 jam latihan di 55% VO2max dalam ruang panas pada
suhu 30C. Setiap subjek menyelesaikan latihan ini pada kesempatan terpisah
untuk mengevaluasi dampak yang mungkin dari mengonsumsi air, mengonsumsi
air ditambah natrium (25 mmol / L), atau tidak mengonsumsi cairan. Ketika subjek
tidak diberikan dengan cairan selama latihan, temperatur inti dan denyut jantung
meningkat pesat sementara volume plasma menurun selama latihan. Dalam kondisi
ini, hanya satu subjek mampu menyelesaikan latihan 6 jam penuh dan waktu ratarata latihan adalah 4,5 jam. Dalam percobaan dengan mengonsumsi air dan garam,
tujuh dari delapan subjek menyelesaikan latihan 6 jam. Tidak ada perbedaan
dalam detak jantung atau suhu inti antara mengonsumsi air dan garam, tetapi
menghasilkan peningkatan yang lebih kecil daripada jika tidak mengonsumsi
cairan. Volume plasma berkurang ketika mengonsumsi minuman saline (-3,0 mmol
/ L) daripada ketika mengonsumsi air (-3,9 mmol / L). Perhitungan keseluruhan
keseimbangan natrium memperlihatkan defisit natrium dalam mengonsumsi air (207 mmol) yang secara signifikan lebih besar daripada yang diamati dalam
mengonsumsi saline (-91,3 mmol). Berdasarkan hasil ini, para penulis
menyimpulkan bahwa konsentrasi natrium setara dengan yang ditemukan dalam
minuman olahraga yang tidak mencegah turunnya konsentrasi natrium plasma
selama latihan ketika asupan cairan sesuai dengan cairan yang hilang karena
berkeringat. Penggantian natrium tidak diperlukan dalam latihan yang berlangsung
kurang dari 6 jam.
Berdasarkan penelitian, jelas bahwa penyertaan natrium dalam minuman
pengganti cairan dapat mengimbangi beberapa kerugian natrium yang terjadi. Hal
ini kurang jelas bahwa hal tersebut akan mencegah hiponatremia atau tidak. Seperti
yang disarankan oleh Sanders, Bagaimanapun, kemungkinan konsumsi natrium
mempertahankan volum plasma selama latihan.

Peran Sodium pada Rehidrasi Setelah Latihan


Meskipun upaya untuk menggantikan kehilangan cairan selama latihan,
dehidrasi ringan setelah latihan masih umum ditemukan. Dehidrasi setara dengan
kekurangan 2% dari massa tubuh berhubungan dengan aktivitas. Dan dapat
menyebabkan gangguan termoregulasi pada aktivitas berikutnya jika kekurangan
cairan tidak diatasi. Dengan demikian, dilakukan penelitian yang telah dikhususkan
untuk memahami proses rehidrasi dan peran yang dimainkan oleh natrium dalam
mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama latihan sebelumnya. Dalam

mempelajari rehidrasi setelah latihan peneliti telah mempekerjakan tiga model


untuk rehidrasi:
memungkinkan subyek untuk minum cairan libitium selama periode
rehidrasi
menyarankan asupan cairan selama rehidrasi untuk mencocokkan
cairan yang hilang selama latihan sebelumnya.
menyarankan asupan cairan dikonsumsi melebih dari cairan yang
hilang sebelum berolahraga.
Keuntungan dari rehidrasi libitium adalah bahwa faktor-faktor yang
mengatur rasa haus dapat dipelajari sedangkan keuntungan dari mengonsumsi
cairan yang sama dengan cairan hilang mengembalikan volume plasma. Dasar
pemikiran untuk pendekatan yang melibatkan resep asupan cairan lebih dari yang
hilang dalam latihan sebelumnya adalah bahwa baik volume plasma dan air tubuh
total dikembalikan pada akhir periode rehidrasi. Akhirnya, ada juga model hibrida
yang bervariasi jumlah cairan dan konten natrium dipelajari untuk memungkinkan
evaluasi efek independen dari natrium dan volume cairan pada proses rehidrasi.

Ad Libitum Rehidrasi
Temuan ini menggambarkan poin-poin berikut:
Haus adalah untuk menjamin pemulihan defisit lengkap air tubuh total
mungkin karena untuk restorasi awal volume plasma, sehingga
menghilangkan volume hard dipsogenic tergantung.
Adanya natrium dalam minuman rehidrasi merangsang minum lebih besar
kemungkinan karena lebih besar hard dipsogenic osmotic.
Adanya natrium dalam minuman rehidrasi mempercepat pemulihan
ekstraseluler cairan dan volume plasma khususnya, dan
Natrium dalam minuman rehidrasi mengurangi kekurangan urin air,
memungkinkan sebagian besar dari cairan tertelan menjadi dipertahankan.

Rehidrasi dengan Asupan Cairan = Keringat


Beberapa studi telah meneliti perbaikan kekurangan cairan tubuh setelah
latihan dengan menyediakan jumlah cairan untuk latihan yaitu sebesar jumlah air
yang hilang selama latihan sebagai konsekuensi dari berkeringat. Sebagian besar
penelitian ini berusaha untuk mencapai rehidrasi selesai dalam waktu yang relatif
singkat berlangsung antara 2 dan 4 jam. Penelitian awal oleh Costill dan Sparks,
dehidrasi delapan laki-laki dengan latihan menggunakan intermiten paparan

terhadap panas kering (70C) sampai 4% dari massa tubuh hilang. Setelah dehidrasi
tercapai ditentukan, orang-orang kembali ke lingkungan thermoneutral untuk
memulai periode rehidrasi. Pada awal rehidrasi dan pada 15-mnt interval yang
subyek minum volume cairan sebesar 7,7% dari volume hilang selama dehidrasi.
Hal ini dilanjutkan selama 3 jam sehingga, pada akhir periode rehidrasi 3 jam,
subjek menelan total volume yang sama cairan sebagai hilang dalam dehidrasi.
Prosedur ini diulang sekali ketika menelan air biasa sebagai cairan rehidrasi dan
sekali menggunakan karbohidrat-elektrolit (CE) minuman untuk rehidrasi.
Minuman CE terdapat 22 mmol/L natrium, 17 mmol/L klorida, 2,6 mmol/L kalium,
3,9 mmol/L fosfat, dan 10,6 glukosa g/100ml dengan osmolalitas dari 444
mOsm/L.
Produksi urin secara signifikan lebih tinggi ketika subjek direhidrasi dengan
air (602 ml) dibandingkan bila menggunakan minuman CE (367 ml). Meskipun
minum volume cairan sama dengan yang hilang di dehidrasi latihan ini hanya
mampu memulihkan 62% dari kehilangan massa tubuh mereka selama rehidrasi.
Hal ini terutama karena kehilangan kencing dan pingsan air selama periode
rehidrasi. Volume plasma telah turun rata-rata 12% dengan% dehidrasi dan 38
kerugian ini pulih selama rehidrasi dengan air sementara 67% dari kerugian
volume plasma pulih saat minum minuman CE. Para penulis menyimpulkan bahwa
kehadiran elektrolit dan karbohidrat dalam rehidrasi yang lebih memilih mengisi
ulang lebih lengkap volume plasma, tapi minuman tidak adalah cukup untuk
sepenuhnya memulihkan baik volume plasma atau total badan air ketika 100% dari
volume dehidrasi dikonsumsi selama periode jam 3.

Rehidrasi Dengan Asupan Cairan> Cairan Hilang


Berdasarkan pengamatan sebelumnya cairan tubuh yang tidak lengkap
restorasi ketika haus baik mengatur asupan cairan atau cairan pengganti asupan
cairan yang hilang dalam dehidrasi sebelumnya, studi paling terbaru telah
memberikan cairan lebih dari yang hilang di dehidrasi. Penulis mengakui bahwa
penambahan cairan yang dibutuhkan untuk mengimbangi kerugian kemih wajib,
berkeringat terus kehilangan air, dan kehilangan air melalui pernapasan. Studi-studi
ini gagal untuk menunjukkan pemulihan cairan tubuh lengkap selama rehidrasi
yang berlangsung hingga 6 jam kecuali cairan tertelan digabungkan dengan
konsumsi natrium. Sebuah metode nyaman menyediakan kedua cairan dan natrium
selama rehidrasi adalah untuk memilih minuman rehidrasi atau makanan
menyediakan kedua cairan dan natrium dengan nutrisi lain (karbohidrat dan
kalium, misalnya) yang mungkin penting dalam memulihkan fungsi normal setelah
dehidrasi.

Maughan dan Leiper, meneliti peran bervariasi konsentrasi natrium dalam


minuman rehidrasi dalam mencapai euhydration setelah dehidrasi ringan sekitar
2%. Konsumsi Pendekatan mereka terlibat dari 150% dari cairan yang hilang
selama periode 30 menit setelah protokol dehidrasi yang terdiri latihan bersepeda
intermiten dalam lingkungan 32C. Pemulihan penanda fisiologis dehidrasi diikuti
selama 5,5 jam setelah menelan minuman rehidrasi. Empat minuman itu
dibandingkan termasuk konsentrasi natrium dari 2, 26, 52, dan 100 mmol/L.
Meskipun asupan cairan itu jauh lebih besar dari yang digunakan dalam penelitian
sebelumnya, baik 2 mmol/L atau 26 mmol/L minuman mengakibatkan pemulihan
lengkap air tubuh (66% dan pemulihan 82% dari kehilangan massa tubuh, masingmasing). Kedua minuman natrium tinggi mengakibatkan lengkap (100%) rehidrasi
pada akhir dari 5,5 jam periode pemantauan.
Dalam sebuah studi yang ambisius yang dirancang untuk menilai interaktif
efek dari kedua konten natrium dan volume cairan yang tertelan dalam rehidrasi,
Shirreffs dkk, direhidrasi latihan menggunakan baik 50%, 100%, 150%, atau 200%
dari volume yang hilang dan setiap volume ini berisi baik natrium rendah (23
mmol/L) atau natrium yang lebih tinggi konsentrasinya (61 mmol/L). Berdasarkan
keseimbangan cairan yang disajikan, pemulihan cairan tubuh hampir lengkap (91%
untuk keduanya) dengan cairan natrium rendah bila dikonsumsi di kedua 150% dan
kelebihan 200% tetapi tidak lengkap dengan baik volume 50% (39% pemulihan)
atau 100% volume (60% pemulihan). Dengan kandungan sodium tinggi didalam
cairan, pemulihan dari defisit cairan yang lengkap dengan konsumsi dari 150%
dari volume hilang (107% pemulihan) sedangkan konsumsi 200% dari volume
hilang mengakibatkan surplus cairan (127% pemulihan). Baik volume 50% atau
100% volume penuh dipulihkan keseimbangan cairan tubuh keseluruhan (38%
pemulihan dan 81% pemulihan, masing-masing). Volume urin adalah positif
berhubungan dengan volume cairan yang tertelan dan berbanding terbalik dengan
konten natrium dalam minuman rehidrasi.

Beberapa Pemulihan konsentrasi Natrium dan Volume Cairan


Pemulihan dari total cairan tubuh akan bergantung pada asupan natrium dan
volume cairan yang dikonsumsi. Untuk tujuan analisis ini, seluruh rehidrasi tubuh
(variabel dependen) dinyatakan sebagai persentase dari pemulihan kerugian cairan
tubuh yang telah terjadi selama dehidrasi. Natrium yang ditulis sebagai digunakan
sebagai variabel independen. Awalnya, variabel tambah yang masuk ke dalam
model regresi. Variabel variabel yang tidak signifikan berkontribusi pada prediksi
pemulihan cairan yaitu volume urine selama dehidrasi, massa tubuh (karena
rendahnya jangkauan massa tubuh dalam studi yang dilaporkan), dan lamanya
periode rehidrasi ( yang berkisar antara 2-6 jam). Model regresi akhir termasuk

konsentrasi natrium (mmol/L) dari cairan rehidrasi dan volume dari zat terlarut ini
dikonsumsi selama periode rehidrasi (ml) sebagai prediktor signifikan persen
pemulihan keseimbangan cairan. Persamaan regresi yang dihasilkan adalah
% rehidrasi = 22,7 + ( 0,406*[Na] + (0,021*volume)

Rehidrasi dengan Makanan


Suatu penelitian dari laboratorium memeriksa pertanyaan apakah asupan
makanan yang mengandung cairan dan natrium efektif dalam memulihkan
keseimbangan cairan dan natrium setelah dehidrasi pada saat latihan. Subjek
mengalami dehidrasi sebesar 2,5%, setelah kehilangan cairan yang ditentukan
tercapai, subjek diberikan 355 ml kaldu ayam, sup ayam dengan mie, minuman
elektrolit, atau air keran. Setelah itu, subjek mengkonsumsi rata-rata 290 ml air
setiap 20 menit sehingga total asupan cairan dalam waktu 2 jam setara dengan
kehilangan cairan.
Berkenaan dengan asupan natrium, sup ayam dan kaldu ayam diberikan pada
konsumsi natrium 50 mmol dan 39 mmol, pada masing-masingnya. Ini jauh lebih
kecil dari asupan natrium yang terkait dengan penelitian sebelumnya di mana
subjek mengkonsumsi 150% dari kehilangan cairan dengan konsentrasi natrium
50-100 mmol / L. Cairan pemulihan sebesar 76% dan 78% untuk kaldu ayam dan
sup ayam, pada masing-masingnya. Meskipun keseimbangan cairan total tubuh
tidak sepenuhnya pulih , namun volume plasma telah sepenuhnya pulih dengan
mengkonsumsi kaldu ayam dan sup ayam.
Temuan ini menggambarkan pentingnya asupan natrium selama periode
rehidrasi tidak hanya untuk mendorong peningkatan retensi cairan yang diberikan,
tetapi juga untuk pemulihan volume plasma.

Ringkasan dan Kesimpulan


Natrium dan cairan memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan dan
fungsi fisiologis selama kegiatan fisik di lingkungan yang panas. Apakah orang
terlibat dalam latihan daya tahan seperti maraton dan triathlon atau jika mereka
terlibat dalam paparan panas selama aktivitas fisik, penting bahwa kedua cairan
dan natrium disediakan untuk mengimbangi kerugian di kedua nutrisi yang terjadi
sebagai konsekuensi dari berkeringat berat.
Orang yang terlibat dalam olahraga kuat di lingkungan yang panas
kehilangan sampai 3 liter air dan 3,5 gram natrium per jam melalui berkeringat.
Cairan dan natrium defisit membantu untuk mempertahankan baik kinerja dan

termoregulasi di lingkungan panas. . Kehilangan cairan dapat menyebabkan


hiponatremia pada beberapa individu yang beraktivitas fisik 4 jam latihan. Dengan
demikian, direkomendasikan untuk mengkonsumsi minuman dengan konsentrasi
natrium 20-50 mmol / L selama aktivitas fisik.
Dalam merancang strategi nutrisi untuk pemulihan dari latihan dan paparan
panas yang menyebabkan dehidrasi ringan, dual dan peran interaktif cairan dan
asupan natrium harus dipertimbangkan. Asosiasi ini sinergis antara volume cairan
dan asupan natrium tercermin dalam rekomendasi untuk mengkonsumsi cairan
lebih dari yang hilang selama latihan sebelum dan meliputi natrium untuk
meningkatkan retensi cairan tertelan dengan meminimalkan produksi urin.

DAFTAR PUSTAKA
Sharp, Rick L. 2006. Review: Role of Sodium In Fluid Homeostatis with
Exercise. American College of Nutrion: America.