Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi hari-hari ini banyak menghasilkan aplikasi-aplikasi
yang dapat meningkatkan produktivitas dan sekaligus menekan biaya
pengeluaran perusahaan. Perkembangan teknologi ini juga terjadi dan ikut
mengubah sistem pada telepon dan jaringan data, banyak perusahaan jaringan
suara yang menggabungkan jaringan suara dengan jaringan data. Hasil
penggabungan jaringan suara dan jaringan data tersebut menghasilkan
teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol).
VoIP menggunakan jaringan data yang sudah ada untuk melewatkan
pesan-pesan suara, dengan demikian VoIP memaksimalkan jaringan data yang
sudah ada dan tidak membutuhkan jaringan komunikasi baru. Dari segi
efisiensi VoIP jauh lebih baik daripada jaringan telepon tradisional PSTN
yang umumnya digunakan saat ini.

1.2 Rumusan Masalah


Permasalahan pada kerja praktek ini adalah :
1. Bagaimana mengimplementasikan VoIP pada jaringan yang sudah ada
melalui simulasi.
2. Bagaimana mengimplementasikan server VoIP dengan asterisk.
3. Bagaimana memahami proses komunikasi VoIP antar user melalui Voip
Server asterisk.
4. Bagaimana performansi komunikasi VoIP yang dilakukan antar client.

1.3 Batasan Masalah


Penulisan laporan kerja praktek ini dibatasi oleh hal hal berikut :
1. Implementasi dilakukan dalam sebuah simulasi dengan jaringan komputer
private kantor Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO)
Provinsi Jawa Barat.
1

2. Parameter yang akan diuji adalah delay, jitter, dan packet loss.
3. Penghitungan delay, jitter, dan packet loss dilakukan 3 kali dalam
hubungan antar client.

1.4 Tujuan
Kerja praktek ini bertujuan untuk:
1. Melakukan implementasi VoIP dalam jaringan komputer private kantor
Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) Provinsi Jawa Barat
dalam sebuah simulasi.
2. Memahami proses komunikasi dalam jaringan VoIP.
3. Mengukur performansi kinerja VoIP.
4. Memenuhi syarat mata kuliah Kerja Praktek yang berbobot 2 SKS

1.5 Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam kerja praktek ini adalah :
1. Studi literatur dengan mempelajari informasi dari berbagai sumber
literatur seperti buku, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan sistem yang
dibuat, dan memanfaatkan internet untuk mencari tambahan informasi.
2. Kepustakaan data-data yang didapat kemudian dipahami, sehingga
didapatkan informasi yang berhubungan dengan sistem yang dibuat.
3. Implementasi jaringan VoIP berdasarkan informasi-informasi yang
diterima dan mengkonfigurasi asterisk IP PBX dan user agent sampai
semuanya berjalan dengan baik.
4. Analisis dilakukan terhadap parameter yang dibutuhkan sesuai dengan
teori dasar, sehingga didapatkan hasil, kemudian hasil tersebut diolah
kembali hingga menghasilkan hasil akhir.

1.6 Sistematika Penulisan


Berikut adalah sistematika penulisan dalam laporan implementasi Jaringan
VoIP dalam simulasi:

BAB I

: PENDAHULUAN

Menjelaskan tentang latar belakang masalah yang dihadapi, identifikasi


masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan, sistematika penulisan, dan
lokasi dan waktu pelaksaan.
BAB II

: PROFIL PERUSAHAAN

Menjelaskan tentang data profil perusahaan yang dikutip


BAB III

: LANDASAN TEORI

Menguraikan landasan teori yang digunakan sebagai data pendukung untuk


menyelesaikan laporan kerja praktek ini yang berisi tentang penjelasan tentang
VoIP, penjelasan Komponen VoIP, Protokol SIP, QoS, dan MOS
BAB IV

: PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

Berisi tentang proses perancangan sistem dan pengimplementasian VoIP di


jaringan DISKOMINFO melalui simulasi.
BAB V

: ANALISIS PERFORMANSI VoIP

Membahas tentang bagaimana pengujian performansi VoIP dilakukan dengan


menggunakan parameter delay, jitter, dan packet loss.
BAB VI

: KESIMPULAN

Membahas mengenai kesimpulan dari Kerja Praktek Simulasi pemanfaatan


VoIP dalam Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Provinsi
Jawa Barat.

Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Program kerja praktek ini dilaksanakan di kantor Dinas Komunikasi dan
Informatika (DISKOMINFO) Provinsi Jawa Barat, Jl. Tamansari No.55,
Bandung.
Waktu pelaksanaan kerja praktek ini dimulai dari tanggal 29 Juli 2013 s/d 30
Agustus 2013.

BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Perusahaan
Kantor Pengolahan Data Elektronik (KPDE) Provinsi Daerah Tingkat I Jawa
Barat adalah kelanjutan dari organisasi sejenis yang semula sudah ada di
lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan nama Pusat
Pengolahan Data (PUSLAHTA) Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Keberadaan PUSLAHTA di Jawa Barat dimulai pada tahun 1977, yaitu
dengan adanya Proyek Pembangunan Komputer Pemerintah Provinsi Daerah
Tingkat I Jawa Barat. Proyek tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan sarana
prasarana dalam rangka memasuki era komputer. Dalam perkembangan
selanjutnya, pada tanggal 8 April 1978 dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor : 294/Ok.200-Oka/SK/78 diresmikan
pembentukan/pendirian Kantor Pusat Pengolahan Data (PUSLAHTA) Provinsi
Daerah Tingkat I Jawa Barat yang berkedudukan di jalan Tamansari No. 57
Bandung.
Sebagai tindak lanjut dari Surat Keputusan Gubernur Nomor : 294/Ok.200Oka/SK/78, maka pada tanggal 29 Juni 1981 pendirian Kantor PUSLAHTA
dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Nomor : 2 Tahun 1981 tentang
Pembentukan Pusat Pengolahan Data(PUSLAHTA) Provinsi Daerah Tingkat I
Jawa Barat dan Peraturan Daerah Nomor : 3 Tahun 1981 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengolahan Data Provinsi Daerah Tingkat I Jawa
Barat. Dengan kedua Peraturan Daerah tersebut keberadaan PUSLAHTA di
lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat semakin berperan,
khususnya dalam melaksanakan kebijaksanaan Gubernur Kepala Daerah di bidang
komputerisasi. Akan tetapi keberadaan kedua Peraturan Daerah tersebut tidak
mendapat pengesahan dari pejabat yang berwenang dalam hal ini Menteri Dalam
Negeri, sehingga keberadaan PUSLAHTA di lingkungan Pemerintah Daerah
Tingkat I Jawa Barat kedudukan organisasi menjadi non structural. Akan tetapi
dengan keberadaan Puslahta Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat pada masa itu

telah banyak dirasakan manfaatnya selain oleh lingkungan Pemerintah Provinsi


Jawa Barat juga oleh instansi lain dalam bentuk kerja sama penggunaan mesin
komputer IBM S-370/125 seperti :
1. IPTN
2. PJKA ITB
3. Dan pihak Swasta lainnya.
Dalam perjalanan waktu yang cukup panjang, yaitu lebih kurang 14 tahun
sejak PUSLAHTA didirikan, pada tanggal 27 Juni 1992 dengan Surat Keputusan
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor : 21 Tahun 1992
Organisasi PUSLAHTA Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat dibubarkan. Di
dalam salah satu pasal Surat Keputusan Gubernur No. 21 tahun 1992 dinyatakan
bahwa tugas dan wewenang PUSLAHTA dialihkan ke Kantor Bappeda Provinsi
Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Pada tanggal yang sama dengan terbitnya Surat Keputusan Gubernur No. 21
tahun 1992 tentang Pembubaran PUSLAHTA Provinsi Daerah Tingkat I Jawa
Barat, keluar Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor :
22

Tahun

1992

tentang

Pembentukan

Kantor

Pengolahan

Data

Elektronik (KPDE) Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat sebagai pelaksana dari
Instruksi Menteri Dalam negeri Nomor : 5 tahun 1992 tentang Pembentukan
Kantor Pengolahan Data Elektronik Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor : 5 Tahun
1992 tentang Pembentukan Kantor Pengolahan Data Elektronik, pada tanggal 30
Juni 1993 keluar persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara (Menpan) dengan Nomor : B-606/I/93 perihal Persetujuan Pembentukan
Kantor Pengolahan Data Elektronik untuk Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan
Selatan, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan keluarnya Surat Persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara (Menpan) tersebut, maka untuk mengukuhkan Keputusan Gubernur
Nomor 22 Tahun 1992 diajukan Rancangan Peraturan Daerahnya, dan akhirnya
pada tanggal 21 Juni 1994 berhasil ditetapkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah
Tingkat I Jawa Barat Nomor : 4 tahun 1994 tentang Pengukuhan Dasar Hukum

Pembentukan Kantor Pengolahan Data Elektronik Provinsi Daerah Tingkat I Jawa


Barat dan Nomor 5 tahun 1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor
Pengolahan Data Elektronik Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Selanjutnya kedua Peraturan Daerah tersebut diajukan ke Menteri Dalam
Negeri untuk mendapat pengesahan, dan pada tanggal 10 Juli 1995 keluar
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 59 Tahun 1995 tentang Pengesahan
Peraturan Daerah Nomor : 4 dan Nomor : 5 Tahun 1994, dengan demikian KPDE
Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat secara resmi menjadi salah satu Unit
Pelaksana Daerah yang struktural.
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor : 16 Tahun 2000
tanggal 12 Desember 2000 tentang Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Barat
telah ditetapkan Badan Pengembangan Sistem Informasi dan Telematika
Daerah

disingkat BAPESITELDA sebagai

pengembangan

dari

Kantor

Pengolahan Data Elektronik yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur


Nomor : 22 Tahun 1992 dan dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Nomor : 5
Tahun 1994. Sedangkan Kantor Pengolahan Data Elektronik itu sendiri
merupakan pengembangan dari Pusat Pengolahan Data (PUSLAHTA) Provinsi
Jawa Barat yang berdiri pada tanggal 8 April 1978 melalui Surat Gubernur KDH
Tingkat I Jawa Barat No. 294/OK.200-Oka/SK/78, dan keberadaannya
dikukuhkan dengan Peraturan Daerah No. 2 Tahun 1981 tanggal 29 Juni 1981.
Dasar Hukum :
1.

Keputusan Presiden RI Nomor 50 Tahun 2000 tentang Tim Koordinasi


Telematika Indonesia ;

2.

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 16 Tahun 2000 tentang Lembaga
Teknis Daerah Provinsi Jawa Barat.

Nomenklatur :
BAPESITELDA adalah

singkatan

dari

Badan

Pengembangan

Sistem

Informasi dan Telematika Daerah. Telematika singkatan dari Telekomunikasi,


Multimedia dan Informatika .
Selanjutnya, berdasarkan Perda Nomor 21 Tahun 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat, maka Bapesitelda Prov. Jabar

diganti menjadi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat


disingkat DISKOMINFO, yang berlokasi di Jalan Tamansari no. 55 Bandung.
Perubahan ini merupakan kenaikan tingkat dan memiliki ruang lingkup serta
cakupan kerja lebih luas. Sasarannya tidak hanya persoalan teknis, tapi juga
kebijakan, baik hubungannya kedalam maupun menyentuh kepentingan publik
khususnya dibidang teknologi informasi. Dengan platform dinas, maka
Diskominfo dapat mengeluarkan regulasi mengenai teknologi informasi dalam
kepentingan Provinsi Jawa Barat, terutama pencapaian Jabar Cyber Province
Tahun 2012.
2.2 Visi dan Misi
2.2.1 Visi
Terwujudnya masyarakat informasi Jawa Barat melalui penyelenggaran
komunikasi dan Informatika yang efektif dan efisien.
2.2.2 Misi
1. Meningkatkan sarana dan prasana dan profesionalisme sumber daya
aparatur bidang Komunikasi dan Informatika.
2. Mengoptimalkan pengelolaan pos dan telekomunikasi.
3. Mengoptimalkan

pemanfaatan

sarana

Komunikasi

dan

Informasi

pemerintah dan masyarakat, serta melaksanakan diseminasi informasi.


4. Mewujudkan layanan online dalam penyelenggaraan pemerintah berbasis
Teknologi Informasi dan Komunikasi serta mewujudkan Pengadaan
Barang dan Jasa Secara Elektronik
5. Mewujudkan pengelolaan data menuju satu data pembangunan untuk Jawa
barat. Motto : West Java Cyber Province Membangun Masyarakat
Informasi
2.3 Struktur Organisasi
Berdasarkan Perda Nomor 21 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat, Dinas Komunikasi dan Informatika berada
di peringkat 20 dengan struktur organisasi seperti pada gambar berikut ini:

Gambar 2.1 Struktur Organisasi DISKOMINFO Bandung


1. Kepala
2. Sekretaris, membawahkan
a. Sub. Bagian Perencanaan dan Progam
b. Sub. Bagian Keuangan
c. Sub. Bagian Kepegawaian dan Umum
3. Bidang Pos dan Telekomunikasi, membawahkan :
a. Seksi Pos dan Telekomunikasi
b. Seksi Monitoring dan Penerbitan Spektrum Frekuensi
c. Seksi Standarisasi Pos dan Telekomunikasi
4. Bidang Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, membawahkan:
a. Seksi Komunikasi Sosial
b. Seksi Komunikasi Pemerintah dan Pemerintah Daerah
c. Seksi Penyiaran dan Kemitraan Media
5. Bidang Telematika, membawahkan :
a. Seksi Pengembangan Telematika
b. Seksi Penerapan Telematika
c. Seksi Standarisasi dan Monitoring Evaluasi Telematika
6. Bidang Pengolahan Data Elektronik, membawahkan :
8

a. Seksi Kompilasi Data


b. Seksi Integrasi Data
c. Seksi Penyajian Data dan Informasi
7. Balai LPSE
a. Tata Usaha LPSE
b. Layanan Informasi LPSe
c. Dukungan dan Pendayagunaan TIK LPSE
2.4 Produk dan Layanan Perusahaan
Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Provinsi Jawa Barat
menyediakan pelayanan publik bagi masyarakat Jawa Barat yang terdiri atas :
1. LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) Regional Jawa Barat
2. M-CAP (Mobile Community Access Point)
3. Internet Publik
4. Perizininan Jasa Titipan
5. Hotspot 3 titik
6. Izin jaringan komunikasi bawah tanah
7. Video conference

10

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pendahuluan
VoIP pertama kali diperkenalkan pada tahun 1995 oleh Vocal Technology
Communication Ltd, melalui software internet phone yang memungkinkan PC
(dilengkapi

dengan

soundcard,

microphone

dan

speaker)

untuk

mentransmisikan data percakapan real time melalui jaringan internet.


Secara sederhana, VoIP bekerja dengan mengubah sinyal analog ke dalam
bentuk digital atau paket data, dan mengirim paket-paket data berisi suara
melalui jaringan IP. Tidak jauh berbeda dengan jaringan telepon tradisional
PSTN (Public Switched Telephone Network) VoIP juga menggunakan telepon
yang bekerja mirip dengan telepon analog, yaitu menggunakan nomor tertentu
untuk melakukan panggilan, namun ada beberapa perbedaan antara jaringan
telepon VoIP dengan PSTN.

Telepon Analog

VoIP

Circuit-Switching

Packet-Switching

Dedicated connection

Multiple routes connection

Voice

Multi services

Featureless and inflexible

Fully-featured and Flexible

Wide user base

Expanding user base

Tabel 3.1

Perbedaan jaringan telepon VoIP dan PSTN

Tidak hanya untuk hubungan PC ke PC, VoIP juga dapat menghubungkan


Telepon (PSTN) ke PC ataupun Telepon ke Telepon melalui jaringan IP, namun
dibutuhkan perangkat tambahan untuk menghubungkan jaringan PSTN dengan
jaringan VoIP.

Berikut ini adalah beberapa jenis komunikasi VoIP yang banyak digunakan:
1. PC ke PC melalui Internet
10

11

Hubungan ini adalah yang paling umum digunakan, biasa disebut dengan IP
Telephony, semua protokol dan codec diimplementasikan pada masingmasing user agent yang terdapat pada tiap PC.

Gambar 3.1

Hubungan PC PC (VOIP)

2. PC ke telepon (PSTN)
Hubungan ini memerlukan sebuah gateway untuk menghubungkan jaringan
VoIP dengan jaringan PSTN dan menyesuaikan standar/protokol yang
digunakan di tiap-tiap jaringan.

Gambar 3.2

Hubungan PC TELEPON (PSTN)

3. Telepon ke Telepon
Hubungan ini memerlukan 2 buah gateway yang berguna untuk
menghubungkan masing-masing telepon PSTN ke jaringan VoIP.

Gambar 3.3

Hubungan Telepon Telepon (VoIP)

3.2 Kelebihan dan kekurangan VoIP


3.2.1 Kelebihan VoIP

Biaya implementasi dan komunikasi yang jauh lebih murah dari PSTN.

11

12

Memiliki banyak fitur tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.

Fleksibel, pengaturan alur komunikasi dapat diubah sesuai dengan


kebutuhan pengguna.

Dapat melakukan panggilan video call.

Dapat melakukan panggilan lebih dari 2 orang dalam satu hubungan.

3.2.2 Kekurangan VoIP

Kualitas suara VoIP yang tidak konsisten.

Integritas/keamanan komunikasi.

Tidak dapat melakukan panggilan darurat seperti nomor telepon


ambulans/PMI atau kantor polisi.

Harga peralatan penghubung VoIP dan PSTN yang relatif mahal (VoIP
gateway).

3.3 Session Initiation Protocol (SIP)


Session Initiation Protocol (SIP) adalah peer to peer protocol signalling yang
dikembangkan oleh IETF, yang berfungsi untuk menghubungkan dan
memutuskan hubungan komunikasi antar endpoint, melakukan pengaturan
pada satu session komunikasi (adding, transferring, or dropping participants).

3.3.1 Komponen SIP


SIP memiliki 2 komponen yaitu User Agents Client (UAC), dan User
Agents Server (UAS). User agent merupakan Entitas yang berinteraksi
dalam suatu hubungan SIP, UAC merupakan entitas yang melakukan
permintaan dan mengirimkannya ke UAS, sedangkan UAS adalah
entitas yang menerima permintaan, memproses permintaan tersebut dan
memberikan respon.

12

13

3.3.2 Format Pesan SIP


Format pesan yang biasa ditransmisikan dalam hubungan komunikasi
SIP adalah sebagai berikut:
1. INVITE : pesan berisi undangan pada pengguna untuk melakukan
suatu panggilan.
2. ACK : pesan berisi pemberitahuan bahwa pesan INVITE sudah
diterima dan berguna untuk memulai pertukaran pesan INVITE antar
User Agent.
3. BYE : pesan berisi pemberitahuan untuk mengakhiri hubungan antar
pengguna.
4. CANCEL : pesan berisi permintaan untuk mengakhiri panggilan,
atau pencarian user. Pesan ini digunakan bila satu client
mengirimkan pesan INVITE dan kemudian mengubah keputusanya
untuk memanggil nomor yang dituju.
5. OPTIONS : pesan yang digunakan untuk mengumpulkan informasi
tentang spesifikasi/kemampuan server.
6. REGISTER : mendaftarkan informasi satu pengguna.
7. Response : pesan yang dikirim dari Server ke Client, yang berisi
informasi mengenai status dari apa yang diminta client. Pesan ini
berisi status kode dan keterangan tentang kondisi dan request
tersebut. Nilai-nilai dari kode status ini terbagi dalam 6 kategori,
yaitu :
a. 1xx : Provisional, request telah diterima dan sedang
melanjutkan proses.
b. 2xx : Success, permintaan sukses diterima dan disetujui.
c. 3xx : Redirection, tindakan lebih lanjut diperlukan untuk
memproses permintaan ini.
d. 4xx : Client Error, permintaan berisi sintak yang salah dan tidak
dikenali oleh server, sehingga server tidak dapat memprosesnya.
e. 5xx : Server Error, server gagal untuk memproses suatu
permintaan.

13

14

f.

6xx : Global Failure, permintaan tidak dapat dipenuhi oleh


server.

Gambar 3.4

Koneksi SIP antar User Agent

3.3.3 Protokol yang Terlibat Dalam SIP


SIP menggabungkan beberapa protokol untuk melakukan tugasnya,
berikut ini adalah gambar struktur protokol yang membantu SIP
berfungsi.

Gambar 3.5

Protokol yang terlibat dalam SIP

14

15

RSVP (Resource Reservation Protocol) merupakan protokol yang


bekerja pada layer transport yang berfungsi untuk menyediakan ruang
dan sumber daya untuk aliran paket data yang akan diterima. Protokol
ini juga membantu komunikasi VoIP untuk menghasilkan kualitas
suara yang lebih baik.

RTP (Real-time Transport Protocol) merupakan protokol yang


digunakan untuk mengirimkan data secara real-time, umumnya
digunakan di jaringan yang menggunakan media streaming seperti
audio/video.

RTCP (Real-time Transport Control Protocol) merupakan protokol


yang digunakan untuk mengontrol aliran data yang dikirim melalui
RTP. RTCP berguna untuk memberikan informasi tentang QoS
(Quality of Service) dari data yang dikirimkan melalui RTP.

SAP (Session Announcement Protocol) adalah protokol yang


digunakan untuk memberitahukan server tentang session yang akan
dibangun dengan client.

SDP (Session Description Protocol) adalah protokol yang befungsi


untuk memberitahukan keterangan tentang session yang akan
dibangun, seperti format data, tipe media yang akan digunakan, dlsb.

TCP (Transmission Control Protocol) adalah protokol yang digunakan


untuk mentransmisikan paket data, protokol ini bersifat connectionoriented yang berarti menjamin data sampai ke tujuan dengan sukses.
TCP bekerja dengan mengirim dan menerima paket-paket data yang
sebelumnya sudah dibagi-bagi dengan panjang tertentu dan diberikan
nomor tertentu, apabila terjadi kerusakan atau paket tidak sampai
seutuhnya ke tujuan, maka TCP akan melakukan perbaikan data yang
rusak/hilang. Hal ini terjadi apabila pesan ACK (acknowledgement)
tidak diterima dalam waktu tertentu, TCP akan mengirimkan kembali
paket yang tidak mengembalikan pesan ACK. Hubungan TCP dengan

15

16

VoIP terjadi dalam proses signalling, ketika suatu panggilan akan


dilakukan, diperlukan koneksi yang dapat menjamin kedua user

dapat saling berhubungan. TCP tidak digunakan dalam proses


transmisi paket data, namun hanya di proses signaling.

UDP (User Datagram Protocol) adalah protokol transmisi data yang


bersifat connectionless yang berarti paket-paket data tidak terjamin
terkirim

seutuhnya.

UDP

digunakan

pada

VoIP

untuk

mentransmisikan aliran paket data (suara) secara terus menerus,


berbeda dengan TCP, UDP tidak melakukan perbaikan/pengiriman
ulang paket yang rusak/hilang.

IP (Internet Protocol) adalah protokol pengalamatan yang digunakan


untuk mengidentifikasi alamat komputer. Setiap komputer memiliki
alamat IP yang berbeda-beda, sehingga sumber dan pengirim data
dapat teridentifikasi.

3.4 Komponen-komponen VoIP


Untuk menggunakan VoIP dibutuhkan komponen-komponen pendukung :
1. User Agent
2. Proxy
3. Protokol
4. Codec

3.4.1 User Agent


User Agent merupakan komponen yang terletak pada bagian user, yang
berjalan sebagai client/server (dalam proses komunikasi) yang
menginisiasi dan mengakhiri sesi percakapan. User Agent lebih sering
disebut sebagai IP Phone (hardware), atau Softphone (software) yang
berfungsi sama seperti telepon pada jaringan PSTN. Contoh user agent
dalam bentuk software atau Softphone adalah X-lite, Idefisk, 3CX, dan
Kphone.

16

17

3.4.2 Proxy
Proxy lebih sering disebut sebagai Server VoIP atau IP PBX, yaitu
komponen yang berfungsi menerima dan mengelola permintaan yang
dilakukan oleh User Agent, selain itu server juga berfungsi
mendaftarkan nomor-nomor extension user agent ataupun alamat proxy
lain yang tersambung.

3.4.3 Protokol
Protokol adalah komponen logical yang berjalan pada sistem VoIP
yang berfungsi untuk menentukan standar yang harus dipenuhi untuk
melakukan komunikasi antara User Agent dan Server dan sebaliknya.
Salah satu protokol utama yang digunakan dalam VoIP adalah SIP,
protokol yang bekerja untuk membangun, mengubah, dan memutuskan
session. SIP bekerja hanya dalam proses pensinyalan sedangkan proses
transmisi data dilakukan melalui RTP (Real-time Transmission
Protocol), SIP menggunakan port 5060 dalam TCP/UDP, sedangkan
RTP menggunakan port UDP secara dinamis. Penggunaan port ini
menjadi salah satu kendala VoIP untuk digunakan dalam jaringan yang
berada di balik Firewall.

3.4.4 Codec
Codec

adalah

singkatan

dari

compressor-decompressor

yang

merupakan satu set algoritma yang digunakan untuk mengompres


sinyal suara analog ke dalam bentuk paket-paket data dan sebaliknya.
Setiap codec menggunakan sejumlah bandwidth tertentu dalam proses
kompresinya, umumnya semakin sederhana algoritma codec yang
digunakan, maka semakin besar jumlah bandwidth yang digunakan dan
akan semakin baik kualitas suara yang akan dihasilkan, namun semakin
besar bandwidth yang digunakan akan membatasi penggunaan VoIP
atau penggunaan jaringan komputer dimana VoIP digunakan.

17

18

Codec

Bandwidth

GIPS

13.3 Kbps & lebih tinggi

GSM

13 Kbps (full rate), 20ms frame size

iLBC

15Kbps, 20ms frame size: 13.3 Kbps, 30ms frame size

ITU G.711

64 Kbps, sample-based

ITU G.722

48/56/64 Kbps

ITU G.723.1 5.3/6.3 Kbps, 30ms frame size


ITU G.726

16/24/32/40 Kbps

ITU G.728

16 Kbps

ITU G.729

8 Kbps, 10ms frame size

LPC10

2.5 Kbps

Speex

2.15 to 44.2 Kbps

Tabel 3.2

Standar Codec Yang Banyak Digunakan

Pada perancangan VoIP diperlukan sedikitnya bandwidth 32 Kbps


(upstream & downstream) per kanal untuk 1 panggilan. Umumnya
codec yang paling sering digunakan adalah iLBC dan GSM karena
bandwidth yang digunakan tidak besar, kualitas suara yang baik, dan
gratis.

3.5 QoS (Quality of Service)


QoS merupakan bagian yang terpenting dalam VoIP, karena nilai-nilai
parameter QoS dapat mengurangi kualitas suara/video dalam VoIP. Dalam
VoIP terdapat 5 faktor utama yang mempengaruhi QoS, yaitu:
1.

Bandwidth
Kapasitas bandwidth menentukan apakah sebuah panggilan akan
berjalan dengan baik atau tidak. Bandwidth menjadi parameter
pemilihan codec yang tepat, karena codec bekerja sesuai dengan
kapasitas bandwidth yang digunakan dan jumlah panggilan yang akan
dilakukan.

18

19

2.

Delay / Latency
Delay / Latency merupakan jarak rentang waktu yang diperlukan untuk
data dikirimkan sampai ke tujuan, semakin besar delay maka akan
semakin buruk kualitas suara. Ada beberapa jenis delay yang dapat
terjadi dalam VoIP, yaitu:
Jenis Delay

Keterangan

Coder (Processing) Delay

Waktu yang dibutuhkan codec


untuk memproses sinyal suara
analog menjadi digital.

Algorithmic Delay

Waktu

proses

algoritma

dari

codec yang digunakan (waktu ini


sudah ditentukan pada setiap
codec), algorithmic delay pada
codec G.711 a-law adalah 0.125
ms
Packetization Delay

Waktu yang dibutuhkan sistem


untuk membuat sebuah paket data
dan mengisi paket data tersebut
dengan sinyal digital suara yang
sudah dikompres oleh codec.

Serialization Delay

Waktu yang dibutuhkan sebuah


paket IP dikirimkan keluar dari
NIC.
Serialization Delay = Packet Size
(bytes) x 8/Link Speed (bps)

Queueing/Buffering Delay

Waktu pengantrian paket data


dalam proses pengiriman

Network Switching Delay

Waktu yang dibutuhkan dalam


proses pengiriman data dalam

19

20

jaringan secara fisik (forwarding)


Tabel 3.3

3.

Jenis-jenis Delay

Jitter
Jitter adalah variasi delay yang terjadi secara tidak tetap/tidak konstan,
jitter terjadi dalam waktu pengolahan data, dalam pengumpulan dan
pengurutan data.

4.

Packet Loss
Packet Loss adalah jumlah paket yang hilang atau tidak sampai ke
tujuan, packet loss dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya terjadi
error pada komponen VoIP, adanya kemacetan (congestion) pada
jaringan, sehingga semua paket diletakkan dalam antrian buffer, ketika
buffer penuh maka paket-paket lain tidak akan dikirimkan atau hilang
(loss). Packet Loss umumnya tidak mempengaruhi kualitas suara karena
jumlahnya yang relatif kecil, namun apabila jumlah packet loss besar,
maka kualitas suara akan menurun.

3.6 Metode Pengukuran Performansi VoIP


Dalam mengukur performansi terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan, yaitu sebagai berikut:

3.6.1 Mean Opinion Score (MOS)


Metode Mean Opinion Score adalah metode numerik yang bersifat
subjektif digunakan untuk mengidentifikasi kualitas performansi
suara/video. Nilai MOS ditunjukkan dari angka 1 sampai 5, yaitu:
5 Sempurna, seperti percakapan tatap muka secara langsung.
4 Baik, suara jelas, namun ada sedikit delay.
3 OK, suara dapat didengar, namun tidak jelas dan delay.
2 Buruk, hampir tidak dapat berkomunikasi.
1 Sangat Buruk, tidak dapat berkomunikasi.
20

21

Metode ini dilakukan oleh 2 orang atau lebih yang saling berbicara
melalui jaringan IP dan masing-masing dari mereka memberikan nilai
MOS terhadap komunikasi yang dilakukan.

Metode ini dianggap kurang efektif, karena:


1. Tidak memiliki nilai mutlak untuk menentukan kualitas suara yang
sebenarnya.
2. Dibutuhkan banyak orang untuk melakukan pengukuran kualitas
suara.
3. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam mengukur
kualitas suara.

3.6.2 Estimasi MOS dengan metode E-model (ITU-T G.107)


Metode ini menggunakan algoritma matematika untuk menentukan nilai
MOS yang sangat mendekati nilai kualitas sebenarnya, output dari
metode ini disebut sebagai nilai Transmission Rating Factor disingkat
R, nilai R dapat diubah kedalam bentuk MOS untuk mengukur
kualitas suara. Nilai R diperoleh dari beberapa parameter seperti signal
to noise ratio, echo, codec/kompresi, packet loss, dan delay. Nilai R
dapat diperoleh dari perhitungan berikut:
R = 94.2 - Id Ief

Symbol
R

Keterangan

Fungsi

R Faktor, nilai yang dicari untuk R = 94.2 - Id - Ief


mengukur kualitas suara.

Id

Faktor yang menurunkan kualitas Id = 0.024d + 0.11(d


suara yang berasal dari gangguan 177.3) H(d -177.3)
yang disebabkan oleh semua jenis
delay.

d=dcodec+dnetwork+

21

22

dpayload
H(x) = 0 ; x < 0
H(x) = 1 ; x >= 0
Ief

Faktor penurunan kualitas suara Ief= 30 ln (1 + 15 pl)


yang berasal dari packet loss yang
terjadi

ketika

paket

data pl = packet loss

ditransmisikan.
Tabel 3.4

Keterangan Fungsi R-faktor

Setelah nilai R-faktor ditemukan, nilai R dapat diubah ke dalam bentuk


MOS dengan fungsi berikut : MOS(R) = 1 + 0.035R + 7 . 10-6 . R(R60)(100-R)

Gambar 3.6

Grafik Relasi R-faktor dengan MOS

22

23

BAB IV
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

4.1 Perancangan Sistem


Perancangan sistem akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan alur
flowchart agar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai, berikut ini flow chart perancangan sistem:

Mulai
Identifikasi & Perumusan Masalah
Penentuan Tujuan
Studi Literatur

Landasan Teori

Identifikasi Sistem yang


Digunakan
Implementasi Sistem
VoIP (Simulasi)
Evaluasi Sistem VoIP
Analisis Sistem VoIP
Kesimpulan & Saran
Selesai
Gambar 4.1

Flowchart Perancangan Sistem VoIP

23

24

4.2 Pemodelan Topologi Jaringan


VoIP akan diimplementasikan di jaringan komputer DISKOMINFO Jabar,
berikut ini gambar topologi asli dimana VoIP akan digunakan, bagian yang
dilingkari adalah dimana VoIP akan digunakan:

Gambar 4.2

Topologi Jaringan DISKOMINFO JABAR

Implementasi sistem VoIP dilakukan dalam sebuah simulasi, simulasi


dijalankan dalam sebuah program yang menggunakan topologi yang sama
dengan topologi jaringan komputer DISKOMINFO JABAR.

4.3 Perangkat Pendukung (Software)


Simulasi dijalankan pada program GNS3 yang diintegrasikan dengan
VirtualBox dan Wireshark. Berikut ini keterangan dari software-software yang
dibutuhkan:

Software
GNS3

Keterangan
Software simulator & emulator jaringan dan perangkat-perangkat
jaringan komputer.

24

25

VirtualBox Software simulator PC


Wireshark

Software penganalisis paket-paket data jaringan komputer

X-Lite

Software Softphone yang berfungsi sebagai User Agent pada Client


Tabel 4.1

Keterangan Software pendukung

4.4 Perangkat Pendukung (Hardware)


Dalam simulasi ini dibutuhkan perangkat-perangkat keras pendukung untuk
membangun sistem VoIP, berikut ini adalah daftar hardware yang dibutuhkan:
1. 3 Router Cisco 2621
2. 1 Data Switch
3. 1 PC Asterisk IP PBX versi 11 (Server VoIP)
4. 2 PC Windows XP (Client VoIP)

Setelah semua perangkat pendukung ditentukan, simulasi dapat dimulai


dengan membuat jaringan seperti topologi jaringan DISKOMINFO JABAR.

Gambar 4.3

Topologi Jaringan VoIP dalam Simulasi

25

26

4.4.1

Konfigurasi Router
Konfigurasi router dilakukan agar setiap perangkat dalam jaringan
dapat saling berhubungan, konfigurasi yang diperlukan adalah
pemberian IP Address pada setiap port yang terhubung dan
mengaktifkan routing dynamic RIPv2 agar setiap perangkat dalam
jaringan yang berbeda dapat berkomunikasi. Berikut ini adalah contoh
konfigurasi yang dilakukan pada router R3.

Gambar 4.4

Konfigurasi Router R3

Konfigurasi yang sama dilakukan pada router R4 & R5 dengan IP


Address, Subnet Mask dan Network Address yang sudah ditentukan
dalam topologi jaringan.

4.4.2

Konfigurasi Server VoIP


Proses instalasi server dapat dimulai dengan mengunduh Asterisk IP
PBX di http://www.asterisk.org/downloads/asterisknow. Selanjutnya
lakukan instalasi dengan mengikuti petunjuk yang diberikan, setelah
dilakukan instalasi, lakukan konfigurasi berikut agar Server VoIP
dapat berjalan dengan lancar:
1. Konfigurasi IP address

26

27

Konfigurasi IP address dapat dilakukan dengan mengetikkan


perintah setup pada console setelah melakukan login dengan
username dan password yang sudah ditentukan saat instalasi.

Gambar 4.5

Konfigurasi IP Address Server

Setelah menu utama muncul, pilih Network Configuration,


selanjuntya masuk ke menu Device Configuration dan pilih NIC
(Network Interface Card) yang terhubung ke jaringan komputer.
Masukkan konfigurasi yang sesuai dengan topologi jaringan.

Gambar 4.5

Konfigurasi IP Address Server VoIP

2. Pendaftaran account SIP


Konfigurasi ini dilakukan untuk menyediakan account atau nomor
extension bagi client VoIP, ketikkan perintah cd /etc/asterisk
pada console untuk berpindah ke folder dimana konfigurasi VoIP

27

28

disimpan.

Selanjutnya

ketikkan

perintah

nano

sip_additional.conf untuk membuka daftar account sip.

Gambar 4.6

Perintah Konfigurasi SIP

Setelah masuk ke file sip_additional.conf tambahkan baris-baris


berikut untuk mendaftarkan 2 account SIP atau nomor yang akan
digunakan.

Gambar 4.7

Registrasi SIP

Keterangan dari konfigurasi di atas dijelaskan dalam tabel berikut :


Konfigurasi
[100]

Keterangan
Konteks yang menandakan bahwa identitas/konfigurasi SIP
bernomor 100 berada dalam baris-baris dibawahnya

type=friend

Menandakan bahwa SIP ini dapat melakukan dan


menerima panggilan.

context=from-

Setiap panggilan yang dilakukan dan diterima oleh SIP ini

28

29

akan diproses ke bagian dialplan yang ber-konteks from-

internal

internal
secret=101user

Password untuk account SIP ini adalah 101user

mailbox=101

Nomor mailbox untuk account SIP ini adalah 101

callerid=101 <101>

Nomor callerid untuk account SIP ini adalah 101 dan


ditampilkan sebagai 101

dtmfmode=rfc2833

Tipe sinyal suara dtmf yang digunakan adalah rfc2833

dial=SIP/101

untuk memanggil account ini dapat dilakukan dengan


mengetikkan SIP/101 dalam dialplan

host=dynamic

Nomor IP Address untuk pengguna account ini bersifat


dynamic

port=5060

Account ini menggunakan port 5060 untuk melakukan


pensinyalan
Tabel 4.2

Keterangan Konfigurasi SIP account

3. Konfigurasi Mailbox
Konfigurasi ini dilakukan untuk mengatur kotak suara untuk
masing-masing account sip yang terdaftar pada server. Konfigurasi
dilakukan dengan mengetikkan perintah berikut

Gambar 4.8

Perintah Konfigurasi Voicemail

Gambar 4.9

Konfigurasi Voicemail
29

30

Penjelasan dari perintah-perintah di atas adalah sebagai berikut:


Perintah

Keterangan

[general]

konteks yang mengikutsertakan


file vm_general.inc dan
vm_email.inc dalam konfigurasi
mailbox

[default]

Konteks dimana setiap mailbox


didaftarkan.

100 =>

Mendaftarkan nomor mailbox

10,August,August@yahoo.com

100 dengan password 10, nama


August dan e-mail
August@yahoo.com

Tabel 4.3

Keterangan Konfigurasi Mailbox

4. Konfigurasi Dialplan
Konfigurasi ini dilakukan untuk menentukan alur komunikasi VoIP
atau bagaimana sebuah panggilan diolah dan ditambah dengan
fitur-fitur VoIP. Konfigurasi dilakukan dengan membuka file
extensions.conf dengan text editor nano, selanjutnya lakukan
konfigurasi seperti gambar dibawah.

Gambar 4.10 Konfigurasi Dialplan

Apabila nomor-nomor extension berikut ini dipanggil, maka Server


akan melakukan respon sebagai berikut.

30

31

No.Extension

Keterangan

000

Server akan mengalihkan penelepon ke menu utama voicemail.

100

Server

102

100/102/103, melalui daftar urutan panggilan pada aplikasi

103

Macro bernama voicemail, dengan argumen tambahan

akan

melakukan

panggilan

ke

nomor

extension

SIP/100-103
*78

Server akan mengaktifkan/menonaktifkan status DND (Do Not


Disturb) pada nomor extension penelepon

*13

Server akan mengalihkan client ke menu utama blacklist untuk


menambahkan daftar blacklist penelepon.

*131

Server akan mengalihkan client ke menu utama blacklist untuk


menghapus daftar blacklist penelepon
Tabel 4.4

Penjelasan Konfigurasi Dialplan

Setelah semua konfigurasi server terkonfigurasi dengan benar, asterisk


harus di-reload agar setiap konfigurasi yang baru digunakan, dengan
cara: mengetikkan asterisk r pada console, lalu ketikkan dialplan
reload, setelah dialplan berhasil di-reload, restart server dan lakukan
konfigurasi pada client.

4.4.3

Konfigurasi Client VoIP


Dalam simulasi ini setiap client menggunakan OS Windows XP dan
menggunakan software X-Lite versi 4.5.5 sebagai User Agent, berikut
ini adalah konfigurasi yang perlu dilakukan dalam client agar VoIP
dapat berjalan dengan baik:
1. Konfigurasi IP Address
Pengaturan ini dilakukan untuk memberikan IP Address agar dapat
saling berhubungan dengan semua perangkat di jaringan. Buka
Control Panel dan pilih Network and Internet Connections,
selanjutnya pilih Network Connections dan klik kanan pada NIC
yang terhubung ke jaringan pilih properties, pilih Internet Protocol
31

32

(TCP/IP) dan berikan IP Address yang sesuai dengan yang sudah


ditentukan pada topologi.

Gambar 4.11 Konfigurasi IP Address Client

2. Konfigurasi X-Lite
Program X-Lite dapat diperoleh di http://www.counterpath.com/xlite.html, setelah dilakukan instalasi, buka program X-Lite dan
pilih menu Softphone, pilih Account Settings dan lakukan
konfigurasi sesuai dengan SIP Account yang sudah didaftarkan di
server VoIP.

32

33

Gambar 4.12 Konfigurasi Akun SIP X-Lite

Setelah X-Lite terhubung ke server, lakukan pengaturan codec


dengan memilih menu Softphone, pilih Preferences dan pada
bagian Audio Codecs pilih G711 alaw sebagai enabled codec.

Gambar 4.13 Konfigurasi Codec X-Lite

33

34

Setelah semuanya terkonfigurasi, evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan


panggilan antar client, apabila panggilan dapat dilakukan dan komunikasi
berjalan dengan lancar maka konfigurasi sistem VoIP sudah benar.

Gambar 4.14 Evaluasi Konfigurasi VoIP

34

35

BAB V
ANALISIS PERFORMANSI VoIP

4.1 Skenario Analisis Performansi


Analisis performansi sistem VoIP dilakukan dengan menganalisa panggilan
end-to-end dari client 192.168.2.4 (xp2-ext.100) ke client 192.168.2.2 (xpext.101) melalui server VoIP 192.168.1.75 (NOW2). Analisis paket dilakukan
pada port f0/1 router R3.

Gambar 5.1

Skenario Analisis Performansi VoIP

Dalam proses analisis ini diperlukan beberapa parameter seperti: delay, jitter,
packet loss dan untuk menentukan performansi VoIP. Nilai-nilai parameter
tersebut

dapat

selanjutnya

diperoleh

perhitungan

dengan
nilai

menggunakan

performansi

MOS

software

Wireshark,

dilakukan

dengan

menggunakan fungsi E-model (ITU-T G.107). Perhitungan dilakukan


sebanyak 3 kali agar memberikan hasil nilai MOS yang lebih akurat.
Setelah dilakukan analisis paket, diperoleh gambar komunikasi end-to-end
dalam bentuk graph analysis, dan tabel sebagai berikut:

35

36

Gambar 5.2

Graph Analysis Komunikasi

Tabel 5.1

Susunan Proses Komunikasi

36

37

4.2 Pengukuran dan Analisis Performansi


Analisis performansi dilakukan dengan mengukur nilai MOS dengan
menggunakan metode E-model (ITU-T G.107)
MOS(R) = 1 + 0.035R + 7 . 10-6 . R(R-60)(100-R)
R = 94.2 - Id Ief

Nilai Id diperoleh dari pengukuran delay yang terjadi saat paket data
dikompres dan ditransmisikan, sedangkan Ief diperoleh dari pengukuran
packet loss yang terjadi saat paket data ditransmisikan.

5.2.1. Pengukuran Delay


Fungsi untuk mengukur delay yang terjadi pada VoIP adalah
Id = 0.024d + 0.11(d-177.3) H(d-177.3)
d = dcodec + dnetwork + dpayload
H(x) = 1 if x >= 0, H(x) = 0 if x<0
Pengukuruan delay melibatkan beberapa faktor seperti network delay,
compression

delay,

decompression

delay,

algorithmic

delay,

packetization delay, dan serialization delay. Penghitungan delay


dilakukan satu arah.

Gambar 5.3

Skenario Pengukuran Delay

37

38

Pengukuruan Network Delay


Pengukuran network delay dilakukan dengan mengukur lama
waktu satu paket dikirim dari VoIP Client 100 hingga sampai ke
tujuan VoIP Client 101.

Network Delay Rata-rata (ms)


192.168.2.4 192.168.1.75 192.168.2.2

Percobaan

1
19.96170
2
19.95714
3
19.96592
Network Delay Rata-Rata
19.96159
Tabel 5.2
Perhitungan network delay rata-rata

Pengukuran Coder Processing Delay


Penghitungan

delay

ini

membutuhkan

parameter

seperti,

compression delay (dcomp), decompression delay (ddec), algorithmic


delay (dalgo). Coder processing delay dapat diperoleh dengan
menggunakan fungsi berikut ini:
dcoder = dcomp + ddec + dalgo
hasil penghitungan dcoder dalam percobaan adalah
dcoder = 0 + 0 + 0.125 = 0.125 ms
nilai dcomp bernilai 0 karena codec G.711 tidak melakukan kompresi
audio stream, dan nilai ddec bernilai 0 karena nilai ddec adalah 10%
dari nilai dcomp, sedangkan nilai dalgo bernilai 0.125, sudah
ditentukan dari codec G.711.

Packetization delay
Nilai packetization delay codec G.711 secara default sudah
ditentukan sebesar 20 ms.

Serialization delay
Waktu yang dibutuhkan sebuah paket IP dikirimkan keluar dari
NIC. Nilai Serialization delay diperoleh dengan fungsi

38

39

Serialization Delay = [Packet Size (bytes) x 8]/Link Speed (kbps)

Nilai packet size dari 3 percobaan yang dilakukan adalah

Percobaan

Packet size rata-rata (bytes)

215.624

215.642

215.740

Packet size Rata-rata (bytes)


215.668
Tabel 5.3
Nilai Packet Size Rata-rata
Serialization Delay = (215.668 x 8)/10240 = 0.168 s = 168 ms

5.2.2. Pengukuran Jitter


Dalam percobaan yang sudah dilakukan diperoleh nilai rata-rata
Jitter sebagai berikut:
Percobaan
1

Jitter rata-rata (ms)


5.417

5.243

5.174

Jitter rata-rata (ms)


Tabel 5.4

5.278
Nilai Jitter Rata-rata

5.2.3. Pengukuran Packet Loss


Dalam percobaan yang sudah dilakukan diperoleh nilai rata-rata
Packet Loss sebagai berikut:
Percobaan
1
2

Packet Loss rata-rata (%)


0
0

Packet Loss rata-rata (%)


0
Tabel 5.6
Nilai Packet Loss Rata-rata

39

40

5.2.4. Perhitungan Nilai Performansi


Setelah pengukuran delay dan packet loss dilakukan, diperoleh nilainilai parameter performansi VoIP berikut:
Parameter

Hasil Percobaan

Id

3.967

Ief

R-Faktor

85.112

MOS

4.201 = 4

Keterangan

Memuaskan

Tabel 5.7

Hasil Pengukuran Nilai Performansi

40

41

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.

Kesimpulan

Berdasarkan analisa, perancangan dan implementasi sistem pada pelaksanaan


kerja praktek, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Jaringan VoIP telah berhasil diimplementasikan pada jaringan yang sudah
ada melalui simulasi. Konfigurasi server dilakukan dengan benar, karena
sudah dapat dilakukan panggilan antar VoIP Client dan fitur-fitur VoIP
dapat berjalan dengan baik.
2. Proses panggilan antar client dapat digambarkan dalam graph analysis
dan tabel komunikasi, melalui gambar dan tabel tersebut susunan proses
komunikasi antar client dapat diketahui.
3. Melalui pengukuran delay diperoleh nilai delay satu arah sebesar 213.364
ms dan packet loss yang terjadi sebanyak 0%, sehingga dengan
menggunakan metode ITU-T G.107 dapat diperoleh nilai R-faktor sebesar
85.112 dan nilai MOS sebesar 4.201 yang menandakan kualitas VoIP
pada simulasi ini bernilai memuaskan atau memiliki standar yang baik.

6.2.

Saran

Berikut ini adalah saran penulis untuk penelitian selanjutnya:


1. Mengimplementasikan VoIP pada jaringan yang sesungguhnya (tidak
melalui simulasi), karena apabila dilakukan dalam simulasi saja tidak
diketahui kendala-kendala yang sebenarnya terjadi dalam jaringan yang
sesungguhnya, seperti padatnya traffic dalam jaringan komputer, jumlah
bandwidth yang tersedia, rules-rules dalam firewall, dlsb.
2. Dapat mengimplementasikan VoIP tidak hanya pada satu jaringan private,
tetapi juga dalam beberapa jaringan di perusahaan.
3. Menerapkan fitur-fitur VoIP yang lebih banyak lagi, seperti Video Call,
Video Conference, Call Parking, dlsb.

41

42

DAFTAR PUSTAKA

[1] Sugeng, Winarno.(2007). Membangun Telepon Berbasis VoIP : Implementasi


pada Jaringan RT/RWnet : Penerbit INFORMATIKA.
[2] Myakotnykh, Evgeny.(2007). Adaptive Speech Quality in Voice-over-IP
Communications.
[3] Ganguly, Samrat & Bhatnagar, Sudeept.(2008). VoIP: Wireless, P2P and New
Enterprise Voice over IP.
[4] Giralt, Pault., dkk(2004). Troubleshooting Cisco IP Telephony.
[5] Walker, John Q., dkk(2004). Taking Charge of Your IP Project.
[6] Meggelen, Jim Van., dkk.(2007). Asterisk The Future of Telephony : Second
Edition.
[7] Setiadi, Eko. (2007). Pengukuran Performansi Voice over Internet Protocol
(VoIP) Berbasis Session Initiation Protocol (SIP). Bandung : ITHB.
[8] Rodrguez, Demostenes Zegarra., dkk.(2013). Predicting the Quality Level of
a VoIP Communication through Intelligent Learning Techniques.
Brazil: University of Sao Paulo.
[9] Manual asterisk IP PBX. (2012). [Online]. Tersedia : http://www.asterisk.org.

Dkk.

42