Anda di halaman 1dari 6

Abstrak: Beberapa studi telah menunjukkan bahwa diagnosis hanya didasarkan pada rekam

medis pasien, pemeriksaan fisik, dan laboratorium tidak cukup diandalkan, meskipun faktanya
bahwa aspek-aspek tersebut adalah bagian penting dari penangganan pasien yang datang dengan
nyeri perut akut. Pada zaman dahulu, penangganan gambaran radiografi dimulai dengan
radiografi abdomen. Akan tetapi, banyak penelitian telah menunjukkan sensitivitas yang rendah
dan akurasi untuk foto polos abdomen dalam evaluasi nyeri perut akut sama baiknya dengan
penyakit bervariasi yang cukup spesifik seperti perforasi organ dalam, obstruksi usus, benda
asing yang dicerna, dan batu ureter. CT-scan tunggal,dan CT-scan setelah ultrasonografi negatif,
memberikan hasil yang lebih baik pemeriksaan dari foto polos abdomen saja. keuntungan
computed tomography terletak pada manajemen untuk mengambil keputusan, perencanaan
strategi operasi, dan hasil negative dari laparotomi. Berdasarkan banyak bukti yang ada,
kemajuan utama dalam diagnostik imaging, dan perubahan dalam manegemen penyakit tertentu,
kita dapat menyimpulkan bahwa untuk foto polos abdomen sudah tidak lagi sehingga
pemeriksaan tunggal dalam hasil pemeriksaan pasien dewasa dengan nyeri akut abdomen yang
datang ke IGD saat ini.
Kata kunci:
x-ray abdomen, akut abdomen, nyeri akut abdomen, gawat darurat,
pencitraan diagnostik, foto polos abdomen
Sekilas sejarah
"foto polos akan tetap menjadi modalitas pencitraan bayangan gas selama decade
sekarang ini namun kedepadan CT-scan, MRI tidak memainkan peran utama dalam memulai
diagnose suatu nyeri abdomen "
Tak lama setelah penemuan x-ray pada tahun 1895, oleh Wilhelm Rontgen. Setelah
ditemukan, sinar-x ray digunakan untuk mendeteksi patah tulang dan benda asing dan secara
bertahap yang dipakai oleh berbagai penyakit lain, seperti nyeri akut abdomen.
Sekitar 4% -10% dari kunjungan di IGD disebabkan nyeri akut abdomen, menjadikannya
salah satu keluhan yang paling banyak datang. Berbagai macam gejala dan penyakit yang
berkomplikasi berat dari penyebab nyeri abdomen, yang bervariasi dari mulai penyakit yang
mengancam nyawa sehingga membutuhkan pembedahan darurat sampai penyakit yang bisa
sembuh sendiri. Diagnosis awal dan akurat sangat penting dalam pengambilan keputusan, dan
kurangnya hasil pemeriksaan mengakibatkan pengobatan tertunda.
Sebuah studi yang dilakukan di University of Virginia di AS membandingkan data
dari pasien dengan nyeri akut abdomen pada tiga titik waktu yang berbeda selama 35 tahun, yaitu
1972, 1992, dan 2007. Proporsi pasien yang datang dengan nyeri akut abdomen sebagai keluhan
utama tetap lebih atau kurang stabil selama bertahun-tahun, 4% pada tahun 1972, 5% pada tahun
1992, dan 6,6% pada tahun 2007.
foto polos abdomen adalah satu-satunya modalitas gambaran radiografi diagnostik pada
tahun 1972 dan digunakan sebanyak 43% dari seluruh pasien. Pada tahun 1992, foto polos
abdomen digunakan sebanyak 30% dari seluruh pasien. USG dan computed tomography
(CT) telah dipergunakan, tetapi hanya 6,8% dari semua pasien yang menggunakannya. Pada
tahun 2007, penggunaan USG dan CT mengalami peningkatan dan penggunaan foto polos
abdomen menurun, tapi masih dilakukan dalam beberapa pasien yang dipertimbangkan (21%).
CT dan USG digunakan secara bebas, dan salah satu dari tes ini dilakukan pada 42% dari
keseluruhan pasien. Data ini menunjukkan peningkatan penggunaan CT dan USG dan penurunan
penggunaan foto polos abdomen (menurun hampir sepertiga) antara tahun 1992 dan 2007.

Dalam periode waktu yang sama, waktu rata-rata pasien yang dihabiskan di IGD
meningkat dari 2,9 jam pada tahun 1992 sampai dengan 4,26 jam pada tahun 2007. Pasien yang
telah menjalani CT scan menghabiskan rata-rata 6,64 jam di IGD dibandingkan dengan 3,44 jam
tanpa evaluasi CTscan.
Akurasi diagnostik meningkat selama bertahun-tahun karena peningkatan penggunaan
CT scan dan USG; pada tahun 1992, 41,3% dari semua pasien didiagnosis dengan nyeri
abdomen spesifik dibandingkan dengan 21,1% pada 2007. jumlah pasien yang dirawat di bangsal
menurun dari 27,4% pada tahun 1972 ke 18,4% pada tahun 1992.
Faktor-faktor yang meningkatkan akurasi diagnostik mencakup pembentukan fakultas
kedokteran darurat dan peningkatan untuk tes laboratorium. Ketersediaan secara luas berbagai
modalitas diagnostik, seperti CT, USG, dan pencitraan nuklir, mungkin berpengaruh menjadi
perubahan yang paling signifikan.
Mendiagnosis penyebab dari nyeri akut abdomen tetap menjadi tantangan meskipun
terjadi peningkatan keakuratan diagnostik selama bertahun-tahun. Modalitas pencitraan
diagnostic yang ideal untuk mengevaluasi nyeri akut abdomen pada pasien dewasa di IGD harus
memberikan keseimbangan antara nilai diagnostik tertinggi dan perubahan manajemen paling
akurat pada sisi lain, dan paparan radiasi terendah, ketidak nyamanan, dan durasi tinggal di IGD
pada sisi yang lain, secara keseluruhan menghasilkan biaya terendah untuk sistem perawatan
kesehatan.
Tempat foto polos dalam hasil pemeriksaan diagnostik saat ini
Beberapa studi telah menunjukkan bahwa diagnosis hanya berdasarkan pada riwayat medis
pasien, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium yang tidak dapat cukup diandal, meskipun fakta
bahwa aspek-aspek tersebut adalah bagian penting pada pemeriksaan pasien yang datang dengan
nyeri akut abdomen.penangganam diagnostik lebih lanjut seperti gambaran menjadi kewajiban
pada pasien diduga pada kondisi medis yang mendesak.
Gambaran radiografi pemeriksaan pada zaman dahulu dimulai dengan foto polos
abdomen. Standar radiografi abdomen terdiri dari tiga sudut pandang, suspine abdominal
dikombinasi dengan Film dada tegak dan irrect perut. pedoman Inggris dan AS menyarankan
pertimbangan foto polos abdomen dalam kasus MRS dan atau pembedahan pada pasien dengan
nyeri akut abdomen.
Satu studi membandingkan diagnosis awal setelah evaluasi klinis dan foto polos dengan
diagnosis akhir, dan menemukan bahwa diagnosis ini berhubungan pada 502 dari
total 1.021 pasien (49%). Diagnosis ditegakkan hanya berdasarkan pada foto polos abdomen
yang berhubungan dengan diagnosis akhir pada 514 dari 1.021 pasien (50%). Peningkatan
keakuratan foto polos abdomen dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis tidak signifikan (P =
0,14). pada 117 dari 1.021 pasien (11%), dokter yang mengangani merubah diagnosis klinis awal
setelah foto polos abdomen, dan Perubahan akurat hanya pada 39 kasus (22%). Selain itu,
sebagai tambahan tingkat kepercayaan diri dalam membuat diagnosis dicatat pada 983 pasien
sebelum dan sesudah foto polos abdomen. Untuk 875 pasien yang diagnosis, tidak berubah
tingkat kepercayaan juga tetap tidak berubah.
Beberapa
studi
telah
menunjukkan
persentase
yang
tinggi
dari
foto polos abdomen tanpa temuan abnormal atau yang spesifik . Dua studi menunjukkan bahwa
77% dan 78% dari semua foto polos abdomen yang diminta menunjukkan tidak ada temuan yang
abnormal. Studi lain menunjukkan bahwa hanya 83 dari 871 pasien (10%), kelainan diagnostik
yang spesifik ditemui pada foto polos abdomen.

Sebuah studi menganalisa suatu nilai dari foto polos abdomen selain untuk pemeriksaan
klinis menunjukkan perubahan manajemen hanya pada 15 pasien (8,9%). pada 90 dari 153
pasien yang tersisa (53,6%), diagnosis awal berubah karena untuk modalitas gambaran radiografi
lain, dan pada 63 pasien diagnosis tetap tidak berubah setelah foto polos abdomen.
Apakah foto polos abdomen berkontribusi pada pengambilan keputusan terapi atau tetap
menjadi disposisi yang dipertanyakan. Terutama dalam kasus hasil negatif, nilai tambah dari foto
polos abdomen masih diperdebatkan. Hal ini menjadi alasan bahwa beberapa studi menyarakan
melakukan foto polos abdomen untuk indikasi yang spesifik saja, untuk mengurangi jumlah
permintaan yang tidak perlu. Indikasi spesifik untuk melakukan foto polos termasuk kecurigaan
perforasi organ dalam, batu saluran kemih, obstruksi usus, dan tertelan benda asing.

Deteksi udara bebas dan perforasi organ dalam


"Identifikasi sejumlah kecil gas bebas intra-abdominal tetap menjadi salah satu dari tanda-tanda
yang paling signifikan dalam dunia medis. Kombinasi dari nyeri abdomen dan pneumo
peritoneum, bahkan tanpa adanya tanda-tanda klinis lainnya, biasanya akan mengarah ke
laparotomi untuk mencari perforasi organ dalam "

Pria 48 tahun di IGD dengan sakit perut kuadran kanan bawah. Nyeri perut saat dipalpasi
dan nilai laboratorium menunjukkan parameter inflamasi yang tinggi (leukosit 17.9 dan
Kreatinin 43). Foto polos abdomen posisi erect menunjukkan tidak ada kelainan. CT scan
menunjukkan ada udara bebas di intraperitoneal dan tanda appendicitis akut. Pasien melakukan
laparotomi darurat guna menegakkan diagnosis perforasi appendicitis akut.
Penganjuran dalam radiografi konvensional menyatakan bahwa foto polos abdomen
seharusnya menjadi modalitas diagnosis utama yg digunakan pada kecurigaan perforasi organ
dalam. Hal ini memungkinkan, dengan menggunakan Teknik radiografi secara hati-hati, untuk
menunjukkan sedikitnya 1 mL gas bebas pada posisi dada tegak atau lateral kiri dekubitus pada
film abdomen. Tingginya persentase kasus yang terlewatkan ialah lebih karena
ketidaksempurnaan teknis daripada keterbatasan tes (rendahnya kualitas radiografi polos
abdomen, tidak termasuk bagian paling atas dari gambar rongga peritoneal). pada penelitian
tersebut, radiografi menunjukkan pneumo peritoneum hanya pada 51% dari `pasien yang
didokumentasikan dengan perforasi visceral. Akurasi diagnostik berbeda antara jenis radiografi
yangdigunakan untuk menunjukkan pneumo peritoneum. Radiografi lateral kiri decubitus
menunjukkan pneumoperitoneum pada 96% pasien, radiografi dada pada 85%, dan radiografi
perut tegak dan terlentang pada masing-masing 60% dan 56%. Studi lain menjelaskan
pneumoperitoneum hanya pada 83% dari semua pasien yang didokumentasikan dengan perforasi
visceral.
Satu studi membandingkan diagnosis pasien yang diduga Perforasi organ dalam sebelum
dan sesudah foto polos abdomen. Nilai positif prediktif tidak dipengaruhi oleh foto polos
abdomen. sensitivitas radiografi abdoment dalam mendeteksi pneumoperitoneum adalah rendah
(15%). Tingkat kepercayaan dalam diagnosis berubah menjadi enam dari 13 (46%) pasien
dengan diagnosis klinis dari perforasi organ dalam. Data ini diperoleh dari sebuah kohort pada
1.021 pasien yang datang ke I gawat darurat dengan nyeri akut abdomen.

Studi ini menunjukkan bahwa foto polos abdomen tidak memiliki nilai tambah dalam
hasil pemeriksaan diagnostik. Beberapa studi telah menunjukkan bahwafoto polos abdomen
memiliki akurasi lebih rendah daripada modalitas diagnostik lainnya.Satu studi membandingkan
ultrasonografi dengan foto polos abdomen dalam mendeteksi pneumoperitoneum, dan termasuk
188 pasien yang diduga perforasi visceral. Semua pasien menjalani foto dada dan /atau
abdominal serta ultrasonografi untuk mendeteksi gas bebas intraperitoneal ,165 pasien memiliki
kecurigaan terdapat pneumoperitoneum setelah ultrasonografi, dan dari 157 pasien yang terduga
itu, perforasi visceral dikonfirmasi secara intraoperatif. Setelah foto polos, 126 pasien dicurigai
pneumoperitoneum yang dikonfirmasi secara intraoperatif pada 120 kasus.
Kedua modalitas diagnostik menunjukkan Nilai prediktif yang positif tinggi (95% di
USG dan 94% pada radiografi) dan spesifisitas yang sama (53%). USG memang memiliki
sensitivitas lebih tinggi (92% vs 78%), akurasi (88% vs 76%), dan nilai prediksi negatif (39% vs
20%).
CT telah terbukti menjadi modalitas diagnostik yang paling akurat dalam evaluasi
pneumoperitoneum. Suatu studi kecil membandingkan CT dengan evaluasi foto polos pada 13
pasien yang menjalani diagnostik peritoneal lavage karena trauma abdomen. Hanya lima dari 13
pasien (38%) menunjukkan gas bebas pada foto polos dibandingkan dengan 13 dari 13 pasien
dengan CT. Penelitian lain secara retrospektif meninjauCT dan foto polos (bila tersedia) dari 76
pasien yang terbukti perforasi dari saluran pencernaan. Pada 65 dari 76 pasien, CT benar-benar
positif dan 11 pasien adalah negatif palsu. Penyebab perforasi diperkirakan secara benar pada 51
(78%) dari semua pasien, dan lokasi dari perforasi secara tepat diprediksikan pada 55 pasien
(84,6%) melalui CT. Pada 63 pasien dimana foto polos digunakan, 32 (52%) yang benar-benar
positif dan 31 (48%) adalah negatif palsu untuk mendeteksi perforasi.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa meskipun nilai prediksi positif foto polos abdomen
adalah serupa dengan modalitas diagnostik lainnya, sensitivitas dan nilai prediksi negatifnya
terlalu rendah. nilai tambahan dari CT terletak pada kemungkinannya memberikan lebih banyak
informasi pada lokasi dan penyebab yang mendasari perforasi, atau dalam memberikan diagnosis
alternatif. Dalam prakteknya saat ini, tingginya jumlah kasus perforasi yang terlewatkan setelah
foto polos abdomen tidak dapat diterima dan membuat nilai tambah yang negatif pada foto polos
abdomen menjadi sangat terbatas. Selain itu, foto polos abdomen yang positif untuk gas bebas
menyampaikan informasi yang terbatas pada lokasi dan penyebab yang mendasarinya; CT scan
tambahan akan sering perlu dibuat untuk dapat beradaptasi dengan strategi operasi pada kasus
tertentu. Melakukan operasi tanpa informasi yang memadai tentang situs perforasi adalah
kesalahan konseptual dan saat ini harus dianggap sebagai praktek klinis yang dibawah standar
(tidak semua udara bebas disebabkan oleh perforasi lambung atau ulkus duodenum;
mempertimbangkan, antara lain, perforasi kolon, perforasi terkait dengan pembedahan, perforasi
penyakit divertikular ,appendicitis perforasi, inflammatory bowel disease, atau endoskopi). Tidak
ada tempat lagi untukfoto polos abdomen untuk evaluasi pasien yang dicurigai perforasi visceral
atau, dalam hal ini pada semua pasien dengan nyeri akut abdomen.