Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Pertusis (batuk rejan) disebut juga whooping cough, tussis quinta, violent
cough, dan di Cina disebut batuk seratus hari. Pertusis adalah penyakit infeksi
akut yang menyerang saluran pernapasan yang disebabkan oleh Bordetella
pertussis,

bakteri

Gram-negatif

berbentuk

kokobasilus.

Organisme

ini

menghasilkan toksin yang merusak epitel saluran pernapasan dan memberikan


efek sistemik berupa sindrom yang terdiri dari batuk yang spasmodik dan
paroksismal disertai nada mengi karena pasien berupaya keras untuk menarik
napas, sehingga pada akhir batuk disertai bunyi yang khas. 1,2
Sampai saat ini manusia dikenal sebagai satu-satunya tuan rumah dan
penularannya melalui udara secara kontak langsung dari droplet penderita selama
batuk. Merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang dapat
menimbulkan attack rate sebesar 80-100% pada penduduk yang rentan, dengan
pertama kali dikenali pada abad pertengahan (tahun 1640) oleh Guillaume de
Baillou dan isolasi B. pertussis sebagai etiologi dilaporkan oleh Bordet dan
Gengou pada tahun 1906.1
Centers of Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2010,
melaporkan kasus pertusis di Amerika Serikat adalah 27.550 kasus dan 27 kasus
kematian. Sedangkan pada tahun 2011, kasus pertusis terbanyak pada usia 11
sampai 19 tahun yaitu sebanyak 47% dan pada anak-anak usia 7-10 tahun sekitar
18% kasus. 3
Mekanisme patogenesis infeksi oleh Bordetella pertussis terjadi melalui 4
tahap yaitu perlekatan, perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu,
kerusakan lokal, dan akhirnya timbul penyakit sistemik. Perjalanan klinis penyakit
ini dapat berlangsung dalam tiga stadium, yaitu stadium kataralis (prodromal, pra
paroksismal), stadium akut paroksismal (spasmodik), dan stadium konvalesens.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisis, dan

pemeriksaan laboratorium. Pemberian antibiotik tidak memperpendek stadium


paroksismal. Pencegahan dapat dilakukan melalui imunisasi aktif dan pasif.
Komplikasi terutama terjadi pada sistem nafas dan saraf pusat.

Prognosis

tergantung usia anak, anak yang lebih tua mempunyai prognosis yang lebih baik.
4,5

BAB II

PEMBAHASAN
1. Definisi
Pertusis (batuk rejan) disebut juga whooping cough, tussis quinta, violent
cough, dan di Cina disebut batuk seratus hari. Pertusis adalah penyakit infeksi
akut yang menyerang saluran pernapasan yang disebabkan oleh Bordetella
pertussis, bakteri Gram-negatif berbentuk kokobasilus. 1
2. Epidemiologi
Petusis adalah penyakit paling menular yang dapat menimbulkan attack rate
80-100% pada penduduk yang rentan. Sampai saat ini manusia merupakan satusatunya tuan rumah. Pertusis dapat ditularkan melalui udara secara kontak
langsung yang berasal dari droplet penderita selama batuk. Pertusis adalah
penyakit endemik. Penyebaran pertusis di seluruh dunia dapat menyerang semua
golongan umur, yang terbanyak adalah anak umur dibawah 1 tahun. Makin muda
usianya, makin berbahaya penyakitnya, lebih sering mengenai anak perempuan
daripada anak laki-laki. 1,2
Mulai tahun 1980 ditemukan peningkatan kejadian pertusis pada bayi, usia
11-18 tahun, dan dewasa, dengan cakupan imunisasi pertusis rutin yang luas. Di
Amerika Serikat kurang lebih 355 kasus terjadi pada usia <6 bulan, termasuk bayi
yang berumur 3 bulan. Kurang lebih 45% penyakit terjadi pada usia < 1 tahun dan
66% < 5 tahun. Kematian dan jumlah kasus yang dirawat tertinggi terjadi pada
usia 6 bulan pertama kehidupan. 1,2
Centers of Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2010,
melaporkan kasus pertusis di Amerika Serikat adalah 27.550 kasus dan 27 kasus
kematian. Sedangkan pada tahun 2011, kasus pertusis terbanyak pada usia 11
sampai 19 tahun yaitu sebanyak 47% dan pada anak-anak usia 7-10 tahun sekitar
18% kasus. 1,2,3
3. Etiologi
Genus bordetella mempunyai empat spesies yaitu Bordetella pertusis,
Bordetella parapertusis, Bordetella bronkiseptika dan Bordetella avium. Penyebab
pertusis adalah bordetella pertusis dan perlu dibedakan dengan bordetella
parapertusis dan adenovirus type 1,2,3 dan 5. 1,2,3
3

Bordetella pertusis termasuk kokobasilus, gram negatif, kecil, ovoid, ukuran


panjang 0,5-1 m dan diameter 0,2-0,3 m, tidak bergerak, tidak berspora dengan
pewarnaan toloidin biru, dapat dilihat granul bipolar makromatik dan mempunyai
kapsul. Untuk melakukan biakan Bordetella pertusis, diperlukan suatu media
pembenihan yang disebut bordet genggou (Potato-blood glycerol agar) yang
ditambah penicillin G 0,5 g/ml untuk menghambat organism lain. 1,3,4

Gambar 1. Bordetella pertusis

4. Patofisiologi
Bordetella pertussis ditansmisikan melalui sekresi udara pernafasan, dan
kemudian melekat pada silia epitel saluran pernafasan. Mekanisme patogenesis
infeksi oleh Bordetella pertussis terjadi melalui 4 tahap yaitu perlekatan,
perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan lokal, dan
akhirnya timbul penyakit sistemik. 1,2,4
Filamentous hemaglutinin (FHA), Lymphositosis promoting factor (LPF)/
pertusis toxin (PT) dan protein 69-Kd berperan dalam perlekatan Bordetella
pertussis pada silia. Setelah terjadi perlekatan Bordetella pertusis, kemudian
bermultiplikasi dan menyebar keseluruh permukaan epitel saluran pernafasan.
Proses ini tidak invasif, oleh karena itu pada pertusis tidak terjadi bakteremia.
Selama pertumbuhan Bordetella pertussis, maka akan menghasilkan toksin yang
akan menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan whooping cough. Toksin
terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan oleh karena pertussis

toxin. Toksin pertussis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit B
selanjutnya berikatan dengan reseptor sel target, kemudian menghasilkan sel unit
A yang aktif pada daerah aktifasi enzim membran sel. Efek LPF menghambat
migrasi limfosit dan magrofag ke daerah infeksi. 1,2,3,4
Toxin mediated adenosine disphosphate (ADP) mempunyai efek pengatur
sintesis protein di dalam membran sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi
fisiologis dari sel target termasuk limfosit (menjadi lemah dan mati),
meningkatkan pengeluaran histamin dan serotonin, efek memblokir beta
adrenergik dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkan
konsengtrasi gula darah..1,3,4
Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan limfoid
peribronchial dan meningkatkan jumlah mukos pada permukaan silia, maka
fungsi silia sebagai pembersih akan terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi
sekunder (tersering oleh Streptococcus pneumoniae, H. influenza dan
Staphylococcus aureus). Penumpukan mukos akan menimbulkan plug yang dapat
menyebabkan obstruksi dan kolaps paru. Hipoksemia dan sianosis disebabkan
oleh gangguan pertukaran oksigenisasi pada saat ventilasi dan timbulnya apnue
saat terserang batuk. Terdapat perbedaan pendapat mengenai kerusakan susunan
saraf pusat, apakah akibat pengaruh toksin langsung atakah sekunder akibat
anoksia. Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan tampak bila sel
mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek
antibiotik terhadap proses penyakit. 1,3,4
Dermonecrotic toxin adalah heat labile cystoplasmic toxin menyebabkan
kontraksi otot polos pembuluh darah dinding trakea sehingga menyebabkan
iskemia dan nekrosis trakea. Sitotoksin bersifat menghambat sintesis DNA,
menyebabkan

siliostasis, dan diakhiri

dengan kematian

sel. Pertussis

lipopolysacharida (endotoksin) tidak terlalu penting dalam hal patogenesis


penyakit ini. Kadang kadang Bordetella pertussis hanya menyebakan infeksi
yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertusis. 1,3,4

Gambar 2. Perlekatan B. pertusis pada silia traktus respitatorius

Gambar 3. Patogenesis pertusis

5. Gambaran Klinik
Masa inkubasi pertusis adalah 6 sampai 20 hari, rata-rata 7 hari, sedangkan
perjalanan penyakit ini berlangsung antara 6 sampai 8 minggu atau lebih.
Perjalanan klinis penyakit ini dapat berlangsung dalam tiga stadium, yaitu stadium
6

kataralis (prodromal, pra paroksismal), stadium akut paroksismal (spasmodik),


dan stadium konvalesens. Manifestasi klinis tergantung dari etiologi spesifik, usia,
dan status imunisasi. Pertusis pada remaja dapat dikenali dengan gejala sebagai
berikut: 72-100% batuk paroksismal, susah tidur dan sesak, 50-70% muntah
setelah batuk, 30-65% mengalami whoop, 1-2% rawat inap karena pneumonia
atau fraktur tulang iga, dan 0,2-1% kejang atau penurunan kesadaran. 1,2,3,4

a. Stadium kataralis (1-2 minggu)


Gejala awal menyerupai gejala infeksi saluran napas bagian atas
yaitu timbulnya rinore dengan lendir yang cair dan jernih, injeksi pada
konjungtiva, lakrimasi, batuk ringan, dan panas tidak begitu tinggi. Pada
stadium ini biasanya diagnosis pertusis belum dapat ditegakkan karena
sukar dibedakan dengan common cold. Sejumlah besar organisme tersebar
dalam droplet dan anak sangat infeksius, pada tahap ini kuman mudah
diisolasi. 1,2,3,4
b. Stadium paroksismal/stadium spasmodik
Frekuensi dan derajat batuk bertambah, terdapat pengulangan 5-10
kali batuk kuat selama ekspirasi yang diikuti oleh usaha inspirasi masif
yang mendadak dan menimbulkan bunyi melengking (whoop), udara yang
dihisap melalui glotis yang menyempit. Pada remaja, bunyi whoop sering
tidak terdengar. Selama serangan wajah merah dan sianosis, mata
menonjol, lidah menjulur, lakrimasi, salivasi, dan distensi vena leher
bahkan sampai terjadi petekia di wajah (terutama di konjungtiva bulbi).
Episode batuk paroksismal dapat terjadi lagi sampai mucous plug pada
saluran napas menghilang. Muntah sesudah batuk paroksismal cukup khas,
sehingga seringkali menjadi kecurigaan apakah anak menderita pertusis
walaupun tidak disertai bunyi whoop. 1,2,3,4
c. Stadium konvalesens ( 1-2 minggu)
Stadium penyembuhan ditandai dengan berhentinya whoop dan
muntah dengan puncak serangan paroksismal yang berangsur-angsur

menurun. Batuk biasanya masih menetap untuk beberapa waktu dan akan
menghilang sekitar 2-3 minggu. Pada beberapa pasien akan timbul
serangan batuk paroksismal kembali. Episode ini terjadi berulang-ulang
untuk beberapa bulan dan sering dihubungkan dengan infeksi saluran
napas bagian atas yang berulang. 1,2,3,4
6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisis, dan
a.

pemeriksaan laboratorium. 1,4,5


Anamnesis
Ditanyakan adanya riwayat kontak dengan pasien pertusis, adakah
serangan khas yaitu paroksismal dan bunyi whoop yang jelas. Perlu pula

ditanyakan mengenai riwayat imunisasi


b. Pemeriksaan Fisis
Gejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisis tergantung dari stadium
saat pasien diperiksa.
c.Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis 20.00050.000/L dengan limfosistosis absolut khas pada akhir stadium kataral dan
selama stadium paroksismal. Pada bayi jumlah lekositosis tidak menolong
untuk diagnosis, oleh karena respons limfositosis juga terjadi pada infeksi
lain. Isolasi B. pertussis dari sekret nasofaring dipakai untuk membuat
diagnosis pertusis pada media khusus Bordet-gengou. Biakan positif pada
stadium kataral 95-100%, stadium paroksismal 94% pada minggu ke-3,
dan menurun sampai 20% untuk waktu berikutnya. 1,4,5
Dengan metode PCR yang lebih sensitif dibanding pemeriksaan
kultur untuk mendeteksi B. pertussis, terutama setelah 3-4 minggu setelah
batuk dan sudah diberikan pengobatan antibiotik. PCR saat ini merupakan
pilihan yang paling tepat karena nilai sensitivitas yang tinggi, namun belum
tersedia. Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk
menentukan adanya infeksi pada individu dengan biakan. Cara ELISA
dapat dipakai untuk menentukan IgM, IgG, dan IgA serum terhadap FHA

dan PT. Nilai IgM serum FHA dan PT menggambarkan respons imun
primer baik disebabkan oleh penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis
merupakan tes yang paling sensitif dan spesifik untuk mengetahui infeksi
alami dan tidak tampak setelah imunisasi pertusis. 1, 4,5
d. Radiologi
foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler, atelektasis,
atau empisema.
7. Penatalaksanaan
Pemberian antibiotik tidak memperpendek stadium paroksismal. Pemberian
eritomisin, klaritromisin, atau azitromisin telah menjadi pilihan pertama untuk
pengobatan dan profilaksis. Eritromisin (40-50 mg/kgbb/hari dibadi dalam 4 dosis
peroral, maksimum 2 gram per hari) dapat mengeleminasi organisme dari
nasofaring dalam 3-4 hari. Eritromisin dapat mengeleminasi pertusis bila
diberikan pada pasien dalam stadium kataral sehingga memperpendek periode
penularan. Penelitian membuktikan bahwa golongan makrolid terbaru yaitu
azitromisin (10-12 mg/kgbb/hari, sekali sehari selama 5 hari, maksimal 500
mg/hari) atau klaritromisin (15-20 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis peroral,
maksimum 1 gram perhari selama 7 hari) sama efektif dengan eritromisin, namun
memiliki efek samping lebih sedikit.
Terapi suportif terutama untuk menghindari faktor yang menimbulkan
serangan batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi. Oksigen hendaknya diberikan pada
distres pernapasan yang akut dan kronik. 1,2,4,5
8. Pencegahan
Cara terbaik untuk mengontrol penyakit ini adalah dengan imunisasi. Banyak
laporan mengemukakan bahwa terdapat penurunan angka kejadian pertusis
dengan adanya pelaksanaan program imunisasi. Pencegahan dapat dilakukan
melalui imunisasi aktif dan pasif. 1,2,4,5
a.

Imunisasi pasif

Dalam imunisasi pasif dapat diberikan human hyperimmune globulin, ternyata


berdasarkan beberapa penelitian di klinik terbukti tidak efektif sehingga akhirakhir ini tidak lagi digunakan untuk pencegahan. 1,5
b. Imunisasi aktif
Diberikan vaksin pertusis dari kuman Bordetella pertusis yang telah
dimatikan untuk mendapatkan kekebalan aktif. Imunisasi pertusis diberikan
bersama-sama dengan vaksin difteria dan tetanus. Dosis imunisasi dasar yang
dianjurkan 12 UI dan diberikan tiga kali sejak umur 2 bulan, dengan jarak 8
minggu. Vaksin pertusis monovalen 90,25 ml, i.m)telah dipakai untuk
mengontrol epidemi diantara orang dewasa yang terpapar. Salah satu efek
samping imunisasi adalah demam. Kontraindikasi bila terdapat riwayat reaksi
anafilaksis terhadap komponen vaksin dan ensefalopati (koma, kejang lama)
dalam 7 hari pemberian vaksin pertusis, kejang tanpa demam dalam 3 hari
sebelum imunisasi, menangis > 3 jam, hihg pitch cry dalam 2 hari, kolaps atau
hipotensi hiporesponsif dalam dua hari, suhu yang tidak dapat diterangkan > 40,5
C dalam 2 hari. 1,5
Pencegahan penyebarluasan penyakit dilakukan dengan cara: 1,3,4,5
Isolasi: Mencegah kontak dengan individu yang terinfeksi, diutamakan bagi
bayi dan anak usia muda, sampai pasien setidaknya mendapatkan antibiotik
sekurang-kurangnya 5 hari dari 14 hari pemberian secara lengkap. Atau 3
minggu setelah batuk paroksismal reda bilamana pasien tidak mendapatkan
antibiotik.
Karantina: Kasus kontak erat terhadap kasus yang berusia <7 tahun, tidak
diimunisasi, atau imunisasi tidak lengkap, tidak boleh berada di tempat publik
selama 14 hari atau setidaknya mendapat antibiotic eritromisin selama 5 hari
dari 14 hari pemberian secara lengkap.
Disinfeksi: Direkomendasikan untuk melakukan pada alat atau ruangan yang
terkontaminasi sekret pernapasan dari pasien pertusis
9. Komplikasi

10

Komplikasi terutama terjadi pada sistem nafas dan saraf pusat. Pneumonia
adalah komplikasi paling sering ditemukan, menyebabkan 90% kematian pada
anak < 3 tahun. Pneumonia dapat disebabkan karena Bordetella pertusis tetapi
lebih sering disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder (Haemophilus influenzae, S.
pneumonia, S.aureus dan S. pyogenes). Tuberculosis laten dapat menjadi aktif.
Atelektasis terjadi sekunder terhadap sumbatan mucus yang kental. Aspirasi
mucus atau muntah dapat menyebabkan pneumomia. Panas tinggi merupakan
tanda infeksi sekunder dari bakteri. Batuk dengan tekanan tinggi dapat
menimbulkanruptur alveoli, emfisema, interstisiel/subkutan dan pneumotoraks,
termasuk perdarahan subkonjungtiva. 1,5
Komplikasi pada susunan saraf pusat yaitu kejang, koma, ensefalitis,
hiponatremia sekunder terhadap SIADH (Syndrome of inappropriate diuretic
hormone).kejang tetanik dihubungkan dengan alkalosis yang disebabkan muntah
persisten. 1,5
10. Prognosis
Prognosis tergantung usia anak, anak yang lebih tua mempunyai prognosis
yang lebih baik. Pada bayi risiko kematian (0,5-1%) disebabkan ensefalopati.
Pada penelitian jangka panjang, apnea atau kejang akan menyebabkan gangguan
intelektual di kemudian hari. 1,4

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku ajar infeksi dan pediatric tropis. Ed.2.
Badan penerbit IDAI; Jakarta: 2010
2. Wertheim H, Horby P, Woodall PJ. Atlas of human infectious disease.
Wiley Blackwell; USA: 2012.
3. Central for disease control and prevention. Pertussis (whooping cough).8
agustus 2013. [serial online]. Diakses dari URL:
http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/disease-specifics.html
4. Bocka J. Pertussis. 28 april 2014. [serial online]. Diakses dari URL:
http://emedicine.medscape.com/article/967268-overview
5. World health organization. Country office for Indonesia. Dalam pedoman
pelayanan kesehatan anak di rumah sakit rujukan tingkat pertama
kabupaten/kota. Ed.1 bahasa Indonesia; Jakarta: 2009.

12

Anda mungkin juga menyukai