Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN TEORI BILANGAN

1.1 Notasi dan Simbul


Matematika selalu berkenaan dengan ide-ide dan konsep, oleh karena
itu untuk memudahkan uraian, penjelasan, atau keterangan diperlukan
seperangkat kesepakatan bersama sebagai dasar dalam memahami
matematika sehingga apa yang ingin diketahui menjadi lebih mudah dan
sederhana.

Disamping

itu

dalam

matematika

diperlukan

lambang-

lambang tertentu. Lambang-lambang yang telah disepakati tersebut


mempunyai makna tertentu, dan makna tersebut dinamakan dengan
notasi.
Istilah lain dari notasi adalah simbul. Penggunaan notasi haruslah
disepakati bersama oleh pengguna matematika. Notasi-notasi yang ada
dalam

matematika

dapat

berkaitan

dengan

himpunan

misalnya

penggunaan huruf kapital latin, operasi atau pengerjaan misalnya


penjumlahan beruntun atau perkalian beruntun, hubungan antara unsur
misalnya

kesamaan

atau

ketidaksamaan,

atau

pernyataan

yang

menunjukkan penunjuk misalnya kelipatan persekutuan terkecil, pembagi


persekutuan terbesar dan sebagainya.
Berikut ini dituliskan beberapa notasi dengan artinya.
Notasi yang berkaitan dengan operasi
+

: jumlah

: selisih

: perkalian

: pembagian
: akar kuadrat

: Penjumlahan beruntun

: Perkalian beruntun

: integral

Notasi yang berkaitan dengan hubungan


=

: sama dengan

: tidak sama dengan

>

: lebih besar daripada

<

: lebih kecil daripada

: lebih kecil atau sama dengan

: lebih besar atau sama dengan

: ekuivalen

: sama dan sebangun

: gabungan

: Irisan

: anggota

: bukan anggota

Notasi yang berkaitan dengan petunjuk atau tujuan


KPK : kelipatan persekutuan terkecil (low commond multiple)
FPB

: pembagi persekutuan terbesar (great commond devisor)


: implikasi ( jika ... maka ... )

: biimplikasi ( ... jika dan hanya jika ... )

Teori Bilangan

: tegak lurus

: sudut 90o

: sejajar

: himpunan kosong

: segitiga

: bujur sangkar (persegi)

Notasi yang berkaitan dengan himpunan


a. Himpunan bilangan Nol yaitu {0}
b. N = himpunan bilangan Asli (Natural)
= { 1,2,3,4,5, ... }
c. W = himpunan bilangan Cacah (Whole)
= { 0,1,2,3,4, ... }
d. Z = himpunan bilangan Bulat (Zahlen)
= {...,-3,-2,-1,0,1,2,3, ... } , sehingga dalam bilangan bulat terdapat
bilangan

bulat positip (Z+), bulat negatip (Z-) dan bilangan nol

e. Q = himpunan bilangan rasional (Q = Quotient) yaitu bilangan yang

dapat dinyatakan dalam bentuk

a
, dengan a,b
b

Z, b

0 . Bilangan

rasional juga dinamakan dengan bilangan desimal berulang.


Q ={x:x=
f.

a
, a,b
b

Z, b

0}

= himpunan bilangan tak rasional yaitu bilangan yang tidak dapat

dinyatakan dalam bentuk

a
b

dengan a,b Z. b

0 Bilangan tidak

Teori Bilangan

rasional juga disebut dengan istilah lain yaitu bilangan desimal tak
berulang.
g. R himpunan bilangan nyata (R = Real) yaitu gabungan dari bilanganbilangan Asli, Cacah, Bulat, Rasional, dan tidak Rasional. Dengan kata
lain:
R={N

h. Himpunan bilangan tidak nyata (i = imajiner ) yaitu bilangan yang


dinyatakan dengan i dimana i =

1 .

i. C = himpunan bilangan komplek yaitu bilangan yang dinyatakan dalam


bentuk C = {x : x = a + bi, a,b

Z, i =

1 }.

Notasi-notasi tersebut dapat digunakan dengan tujuan untuk


penyimbulan konsep dalam matematika yang sudah disepakati bersama.
Contoh:
1. Jika kita ingin menyatakan jumlah 10 suku pertama dari bilangan
genap adalah dengan menggunakan simbul

2q
10

q 1

2. Diberikan dua bilangan bulat berbeda, misal x dan y. Kita akan


menggunakan simbul > atau < sehingga didapat x > y atau x < y.
3. Untuk menyatakan dua garis lurus L1 dan L2 yang sejajar cukup
menggunakan simbul L1 L2.
Terlihat dari contoh di atas maka penggunaan simbul dalam matematika
memberikan makna singkat dan lugas.

Teori Bilangan

1.2 Induksi Matematika


Induksi matematika merupakan suatu metode yang penting dalam
pembuktian

dan

sering

digunakan

dalam

berbagai

buku.

Induksi

matematika merupakan suatu metode yang digunakan untuk membangun


kevalidan pernyataan yang diberikan dalam istilah-istilah bilangan asli (N).
Walaupun kegunaannya agak dibatasi dalam konteks yang agak khusus,
namun keberadaannya merupakan suatu alat yang sangat diperlukan
dalam cabang-cabang matematika.
Dianggap bahwa kita sudah mengenal bilangan asli N = { 1,2,3, ... },
baik operasi biasa pada penjumlahan dan perkalian dan arti dari suatu
bilangan asli yang satu lebih kecil dari yang lain. Juga dianggap kita sudah
mengenal dengan sifat-sifat dasar dari bilangan asli berikut ini:
Sifat terurut baik dari N menyatakan bahwa setiap subset tidak kosong
dari N mempunyai unsur terkecil. Sifat yang lebih mendetail dari sifat
terurut baik bilangan asli adalah sebagai berikut:

Teorema 1.1
Jika S adalah subset dari N dan jika S

, maka terdapat suatu m S

sedemikian sehingga m k, untuk setiap k

S.

Prinsip Induksi Matematika


Misal S subset dari N, maka berlaku sifat-sifat:
(1)1

Teori Bilangan

(2)jika k

S, maka (k+1)

S, dan S = N

Bukti:

N. Maka himpunan N S tidak

Anggaplah berlaku sebaliknya S

kosong dan selanjutnya dengan sifat terurut dengan baik ia akan memuat
suatu unsur terkecil. Misal m adalah unsur terkecil dari N-S. Karena 1
maka menurut hipotesis (1), kita tahu bahwa m

S,

1. Selanjutnya untuk m

> 1 mengakibatkan bahwa m 1 juga merupakan bilangan asli, Karena m


1 < m dan karena m adalah unsur terkecil dari N sedemikian sehingga m

S, ia mestilah merupakan kasus bahwa m-1

S.

Selanjutnya kita gunakan hipotesis (2) untuk unsur ke ke k = m 1 dan


menyimpulkan bahwa k+1 = (m-1) + 1 = m

S. Kesimpulan ini

bertentangan dengan pernyataan bahwa m S. Karena m diperoleh


dengan

mengasumsikan

bahwa

N-S

tidak

kosong,

hal

ini

juga

bertentangan dengan kesimpulan bahwa N-S kosong. Dengan demikian


kita telah menunjukkan bawa S = N.
Bentuk lain dari prinsip Induksi Matematika dinyatakan sebagai berikut:
Untuk setiap n

N, misalkan P(n) merupakan suatu pernyataan tentang

n, anggaplah bahwa:
(1) P(1) benar
(2) P(k) benar maka P(k+1) benar,
Maka P(n) adalah benar untuk setiap n

N.

Contoh

Teori Bilangan

Untuk setiap n

N, buktikan rumus penjumlahan berikut dengan induksi

matematika.
1. 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + ..... + n =

n( n 1)
2

Jawab
Untuk n = 1 1 =

1(1 1)
, sehingga 1
2

S,

Andaikan untuk n = k diasumsikan bahwa k


1 + 2 + 3 + 4 + 5 + ..... k =

S, sehingga

k (k 1)
2

Selanjutnya akan dibuktikan bahwa untuk n = k + 1 benar, maka


1 + 2 + 3 + 4 + 5 + ..... + k + (k+1) =

k ( k 1)
(k 1)
2

k (k 1) 2( k 1)

2
2

k k 2k 1

2
2

k 3k 1
2

( k 1)(k 2)
2

(k 1)(k 1) 1)
, karena n = k+1, maka:
2

(n)(n 1)
2

Karena rumus ini terpenuhi untuk n = k+1, kita menyimpulkan bahwa k+1

S. Jadi dari Induksi matematika terpenuhi. Oleh karena itu dengan

Teori Bilangan

prinsip induksi matematika kita menyimpulkan bahwa S = N dan rumus

tersebut adalah benar untuk semua n

N.

1.3 Prinsip Urutan


Prinsip adalah aturan atau sifat yang digunakan sebagai dasar atau
landasan dalam uraian yang berkaitan dengan bukti sesuatu. Prinsip
dapat diambil dari definisi, aksioma, atau dalil-dalil yang dimunculkan
kembali

untuk

digunakan

pada

bagian

lain

suatu

konsep

yang

memerlukan. Diantara prinsip dalam matematika adalah prinsip urutan


(Well Ordering Principle).
Prinsip urutan berkaitan dengan kepositipan dan ketaksamaan antara
bilangan-bilangan real. Sebagaimana halnya dalam Struktur Aljabar dari
sistem bilangan real. Cara yang dapat dilakukan untuk melakukan sifat
urutan adalah mengidentifikasi suatu subset khusus dari R dengan
menggunakan gagasan kepositipan.

Definisi 1.1
Misal P subset R dan P

. Untuk selanjutnya P disebut bilangan real

positip kuat, maka berlaku sifat-sifat berikut ini:


(1) Jika a,b

P, maka (a+b)

(2) Jika a,b

P, maka (a.b)

(3) Jika a
a

R, maka tepat dari salah satu yang berikut dipenuhi

P, a = 0, -a

Teori Bilangan

Dua sifat yang pertama menjamin kesesuaian dari urutan dengan operasi
penjumlahan dan perkalian secara berurutan. Sifat (3) biasanya disebut
sifat trikotomi karena membagi R menjadi 3 jenis unsur yang berbeda.
Dinyatakan bahwa himpunan {-a: a P} dari bilangan real negatip tidak
mempunyai unsur persekutuan dengan P, dan selanjutnya himpunan R
merupakan gabungan dari tiga himpunan yang saling asing.

Definisi 1.2
a. Jika a

P, kita mengatakan bahwa a adalah suatu bilangan real positip

kuat (strictly positip) dan dituliskan dengan a > 0, Jika a

{0},

maka a disebut bilangan real tidak negatip dan dituliskan dalam bentuk
a 0.

b. Jika -a

P, kita mengatakan bahwa a adalah suatu bilangan real

negatip kuat (strictly negatip) dan dituliskan dalam bentuk a < 0, Jika
-a

{0}, maka a disebut bilangan real tidak positip dan dituliskan

dalam bentuk a 0.
c.

Jika a, b

R dan jika a b

P maka dituliskan dalam bentuk a > b

atau b < a.
d. Jika a,b

R dan jika a b

{0}, maka a b atau b a

Untuk kesepakatan bersama kita akan menuliskan a < b < c yang


berarti a < b dan b < c
Demikian juga jika a b dan b c maka a b c. demikian
seterusnya.

Teori Bilangan

Berikut ini beberapa teorema yang berkaitan dengan prinsip keterurutan


Teorema 1.2
Misalkan a,b,c

a. Jika a > b dan b > c maka a > c


b. Tepat dari salah satu pernyataan berikut ini dipenuhi
a > b, a = b , a < b
c. Jika a b dan b a maka a = b
Bukti
a.

a > b maka menurut definisi a b > 0 atau a b


b > c maka menurut definisi b c > 0 atau b c

Karena a b

P dan b c P maka menurut definisi diperoleh

(a-b) + (b-c)

P.

Sehingga a c

P atau a > c

b.

Dengan sifat trikotomi dalam definisi, maka tepat


salah satu dari yang berikut mungkin terjadi
a b > 0, atau a-b = 0, atau (a-b) = 0 sehingga
a > b atau a = b atau a < b.

c. Jika a

b, maka a b 0, sehingga dari bukti (b) kita dapatkan a b

atau b-a

P yakni a > b atau b > a. Dalam kasus lainnya salah

satu dari hipotesisi tersebut kontradiksi. Jadi haruslah a = b.

Teorema 1.3
1. Jika a

R dan a

0, maka a2 > 0

Teori Bilangan 10

2. 1 > 0
3. Jika n

N, maka n > 0

Bukti
1. Dengan sifat trikotomi jika a

0, maka a P atau a P. Jika a P

maka dengan definisi kita mempunyai a 2 = a, untuk


cara yang sama Jika -a

P.

Dengan

P maka dengan definisi sebelumnya

diperoleh bentuk (-a)2 = (-a)(-a)

P. Dari teorema sebelumnya

berakibat bahwa:
(-a)(-a) = ((-1)a)((-1)a) = (-1)(-1)a2 = a2. Akibatnya bahwa a2
kita simpulkan bahwa jika a

P.

Jadi

0, maka a2 > 0.

2. Karena 1 = (1)2, menurut bukti di atas akan menyebabkan bahwa


1 > 0.
3. Kita dapat menggunakan induksi matematika untuk membuktikan
pernyataan ini.
Pernyataan tersebut benar untuk n = 1 yakni 1 > 0. Selanjutnya kita
anggap benar untuk n = k, dengan k bilangan asli.
Karena 1 > 0 dan 1

P,

maka k + 1

P, sehingga pernyataan di

atas

benar adanya dengan menggunakan definisi sebelumnya.

Teorema 1.4
Misalkan a,b,c

1. Jika a > b, maka a+c > b+c


2. Jika a > b, dan c > d maka a+c > b+d

Teori Bilangan 11

3. Jika a > b, c>0 maka ca > cb


4. Jika a > b, c<0 maka ca < cb
5. Jika a >0 maka 1/a > 0
6. Jika a < 0 maka 1/a < 0.
Bukti
1. Karena a > b berarti menurut definisi sebelumnya a b > 0. Karena a-b
> 0 sehingga a b

P.

(a b ) = (a-b) + (c-c)
(a b ) + (c c ) = (a+c) (b+c)
Sehingga (a+c) (b+c)

P. Dengan kata lain (a+c) (b+c) > 0

Karena (a+c) (b+c) > 0 berarti (a+c) > (b+c)


2. Karena a > b, dan c > d berarti a b > 0 dan c d > 0.
Hal ini berarti a - b

P dan c d P.

Menurut definisi bilangan real positip kuat (1) diperoleh


(a-b) + (c-d)

P. Dengan kata lain (a-c) + (c-d)

> 0, atau

(a+c) (b+d) > 0 sehingga berlaku (a+c) > (b+d)


3. Karena a > b, dan c > 0 berarti a b > 0 dan c > 0.
Hal ini berarti a - b

P dan c P.

Menurut definisi bilangan real positip kuat (2) diperoleh


(a-b) c

P. Dengan kata lain (ac bc) P, atau

(ac) (bc) > 0 sehingga berlaku ac > bd


4. Karena a > b, dan c < 0 berarti a b > 0 dan c < 0 atau (c) > 0.
Hal ini berarti a - b

P dan -c P.

Teori Bilangan 12

Menurut definisi bilangan real positip kuat (2) diperoleh


(a-b)(-c)

P. Dengan kata lain (bc ac) P, atau

(bc) (ac) > 0 sehingga berlaku bc > ac


5. Jika a > 0, maka a

0 (berdasarkan sifat trikotomi). Karena a > 0,

berdasarkan sifat sebelumnya maka berlaku 1/a

0. Jika 1/a < 0,

berdasarkan teorema sebelumnya diperoleh 1 = a(1/a) < 0.


Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa 1 < 0. Jadi haruslah
1/a > 0.
6. Jika a < 0, maka a

0 (berdasarkan sifat trikotomi). Karena a < 0,

berdasarkan sifat sebelumnya maka maka berlaku 1/a

0. Jika

1/a < 0, berdasarkan teorema sebelumnya diperoleh 1 = a(1/a) < 0.


Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa 1 < 0. Jadi haruslah
1/a < 0.

Teorema 1.5
Jika a,b

R, maka a >

1
(a+b) > b.
2

Bukti.
Karena a > b, maka dapat diperoleh a + a > a + b atau 2a > a + b.
Demikian pula
a > b maka dapat diperoleh a + b > b + b atau a + b > 2b
Dari ketaksamaan 2a > a + b dan a + b > 2b didapatkan
2a > a+b > 2b

a=1/2(2a) > (a+b) > (2b)=b

Teori Bilangan 13

a > (a+b) > b.


Akibat dari teorema di atas adalah:
jika a

R dan a > 0 maka a > 1/2a > 0.

1.4 Prinsip Proporsi


Dalam setiap komunikasi, setiap orang penting untuk mempunyai
pikiran yang tepat dalam benaknya. Pernyataan Setiap mahasiswa IKIP
Budi Utomo mempunyai cita-cita menjadi guru belumlah merupakan
informasi yang khusus jika ternyata teman yang diajak berkomunikasi
melihat beberapa mahasiswa IKIP Budi Utomo ternyata setelah lulus tidak
menjadi guru.
Dalam matematika, terutama di kelas kita dapat menyampaikan konsep x 2
= 1 di papan tulis, hal ini dimaksudkan apa yang dimaksudkan oleh
penulis dengan huruf x dan angka 1. Apakah x bilangan bulat? Apakah
bukan bilangan? Apakah angka 1 merupakan bilangan asli? atau 1
merupakan konsep yang lain. Dalam matematika seringkali juga muncul
istilah untuk setiap, untuk semua, untuk sesuatu, ada, dan
seterusnya.
Misalnya:
1. Untuk setiap bilangan bulat x, x2 = 1.
2. Terdapat suatu bilangan bulat x sedemikian sehingga x2 = 1.
Dari contoh di atas, jelaslah bahwa contoh 1 salah, akan tetapi
contoh 2 adalah benar karena kita dapat memilih a = 1 atau x = -1.

Teori Bilangan 14

Berdasarkan contoh di atas, jika konteks yang dibicarakan adalah bilangan


bulat, maka pernyataan di atas akan menjadi lebih aman jika disingkat
dengan:
Untuk setiap x, x2 = 1 dan terdapat suatu x sedemikian sehingga
x2 = 1. Pernyataan pertama merupakan Universal Quantifier untuk
setiap,

dan yang membuat pernyataan ini salah adalah pernyataan

setiap bilangan bulat. Pernyataan kedua merupakan Existential Quantifier


terdapat suatu, dan yang membuat pernyataan ini benar adalah
palingb sedikit satu bilangan bulat. Kedua quantifier ini sering terjadi
sehingg para pengguna matematika menggunakan simbul

untuk

menyatakan pernyataan untuk setiap dan simbul untuk menyatakan


terdapat atau ada.

1.5 Konjektur
Teori

bilangan

penuh

dengan

masalah-masalah

yang

belum

terselesaikan atau belum ditemukan jawabnya. Masalah yang belum


terselesaikan tersebut dinamakan konjektur yang diambil dari kata
conjecture yang berarti dugaan atau perkiraan. Dalam tulisan ini
diperkenalkan beberapa konjektur, antara lain:
1. Terdapat definisi suatu bilangan perfek, yaitu suatu bilangan bulat
positip yang jumlah pembaginya yang positip adalah dua kali bilangan
dimaksud.
Contoh.

Teori Bilangan 15

Pembagi positip 6 adalah 1, 2, 3, 6


Jumlah pembagi positip bilangan 6 adalah 1 + 2 + 3+ 6 = 12 = 2 x 6.
Pembagi positip bilangan 28 adalah 1, 2, 4, 7, 14, 28
Jumlah pembagi positip bilangan 28 adalah 1 + 2 + 4 + 7 + 14 + 28 =
56 = 2 x 28
Selain 6 dan 28 bilangan perfek yang lain adalah 496, 8.128,

dan

33.500.336.
Berkaitan dengan bilangan perfek terdapat konjektur
-

Banyaknya bilangan perfek adalah tak hingga.

Semua bilangan perfek adalah genap.

Jika (2n 1) bilangan prima maka 2n-1(2n -1) adalah bilangan perfek.

2. Terdapat

definisi

suatu

pasangan

dua

bilangan

yang

sekawan

(amicable), yaitu pasangan dua bilangan bulat positip yang masingmasing jumlah pembaginya positip (tidak termasuk bilangannya) sama
dengan bilangan yang lain.
220 dan 284 adalah bilangan sekawan, karena:
Jumlah pembagi positip 220 adalah
1 + 2 + 4 + 5 + 10 + 11 + 20 + 22 + 44 + 55 + 110 = 284
Jumlah pembagi positip 284 adalah
1 + 2 + 4 + 71 + 142 = 220
Pasangan bilangan sekawan yang lain adalah 1184 dan 1210, 17296
dan 18416.

Teori Bilangan 16

Suatu konjektur yang berkaitan dengan pasangan dua bilangan


sekawan adalah

terdapat tak hingga banyaknya pasangan bilangan

bersekawan.
3. Terdapat definisi tentang pasangan bilangan prima (twine prime), yaitu
dua bilangan prima berurutan yang berselisih dua. Beberapa pasangan
pasangan bilangan prima adalah 3 dan 5, 5 dan 7, 17 dan 19, 29 dan
31, 41 dan 43.
Konjektur tentang pasangan bilangan prima menyatakan bahwa
banyaknya pasangan prima adalah tak hingga.
4. Berdasarkan

pasangan

bilangan

prima

Goldbach

mempunyai

konjektur yaitu:
-

Setiap bilangan bulat positip genap lebih dari 4 merupakan jumlah


dua bilangan prima ganjil.
Contoh
6=3+3

14 = 3 + 11

8=3+5

12 = 5 + 7

10 = 3 + 7
-

30 = 23 + 7

Setiap bilangan bulat positip ganjil lebih dari 8 merupakan jumlah


tiga bilangan prima ganjil.

Contoh
9 =3+3+3

13 = 5 + 5 + 3

101 = 11 + 43 + 47

19 = 5 + 7 + 7

11 = 3 + 3 + 5

37 = 11 + 13 + 13

Teori Bilangan 17

5. Selain Goldbach, Pierre Fermat juga mempunyai dua konjektur terkenal


yaitu:
a.

2n

+ 1 adalah bilangan prima

Untuk n = 0, diperoleh 2 + 1 = 3
Untuk n = 1, diperoleh 4 + 1 = 5
Untuk n = 2 , diperoleh 17
Untuk n = 3, diperoleh 257
Untuk n = 4, diperoleh 65.537
Untuk n = 5, diperoleh 4.294.967.297
b. Untuk n 3, tidak ada bilangan-bilangan bulat positip x,y,z yang
memenuhi hubungan xn + yn = zn
Meskipun masih merupakan konjektur, pernyataan ini sering disebut
sebagai teorema terakhir Fermat. (Fermats last theorem)

Soal-soal
1. Tunjukkan formula berikut ini benar.
a. 1 + 3 + 5 + 7 + ..... + (2n-1) = n2.
n(n 1)(n 2)
3

b. 1.2 + 2.3 + 3.4 + 4.5 + ..... + n(n+1) =

n(4n 1)
3
2

c. 12 + 32 + 52 + 72 + ..... + (2n-1)2 =

d. 1 + 2 + 3 + 4 + ..... + n
2. Jika r

n(n 1)
=

1, tunjukkan bahwa:

Teori Bilangan 18

a (a 1)
=
, untuk sebarang bilangan
r 1
n 1

a + ar + ar + ar + ..... + ar

n-1

bulat positip n.
3. Misalkan a,b.c. d

R, buktikan pernyataan berikut:

.a Jika a < b, b < c maka ad+bc < ac+bd


.b Jika a b dan c < d, maka a+c < b+d
.c a2 + b2 = 0 jika dan hanya jika a=0 atau b=0
4. Carilah bilangan a,b,c,d

R yang memenuhi 0 < a < b dan a < d < 0

dan berlaku
(a) ac < bd

(b) ac > bd.

5. Tentukan bilangan real x, sedemikian sehingga:


.d x2 > 3x +4
.e 1 < x2 < 4
.f

1
<x
x

Teori Bilangan 19