Anda di halaman 1dari 9

KLIPING

DINAMIKA KEPENDUDUKAN DAN


PERMASALAHAN PENDUDUK DAN
DAMPAKNYA BAGI PEMBANGUNAN

Nama
: Fadhiilatul Ummi Candra
Mahendra
Kelas

: VIII-E

No. Absen

: 6 (enam)

SMP NEGERI 1 BALEN


Tahun Pelajaran 2014/2015

DINAMIKA KEPENDUDUKAN

A. Pengertian Dinamika Penduduk


Dinamika penduduk adalah perubahan keadaan penduduk.Perubahan
perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Dinamika atau perubahan
lebih cenderung pada perkembangan jumlah penduduk suatu Negara atau
wilayah tersebut. Jumlah penduduk tersebut dapat diketahui melalui sensus,
registrasi dan survey penduduk. Sensus pertama dilaksanakan pada tahun 1930
pada zaman Hindia Belanda. Sedangkan sensus yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia dimulai pada tahun 1961,1971, 1980, 1990, 2000, dan yang terakhir
tahun 2010. Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu factor yang penting
dalam masalah social ekonomi dan masalah penduduk. Jumlah penduduk akan
berpengaruh terhadap kondisi social ekonomi suatu daerah.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dinamika Penduduk
Jumlah penduduk dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu yaitu
bertambah atau berkurang. Dinamika penduduk atau perubahan jumlah
penduduk dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor yaitu :

Kelahiran (natalitas)
Kematian (mortalitas)
Migrasi (perpindahan)

Jumlah kelahiran dan kematian sangat menentukan dalam pertumbuhan


penduduk Indonesia, oleh karena itu kita perlu mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi kelahiran dan kematian. Faktor yang menunjang dan
menghambat kelahiran (natalitas) di Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Kelahiran (natalitas)
Pengukuran tingkat kelahiran ini sulit untuk dilakukan, karena banyak
bayi-bayi yang yang meninggal beberapa saat kelahiran tidak dicatatkan
dalam peristiwa kelahiran atau kematian dan sering dicatatkan sebagai lahir
mati.
Tinggi rendahnya tingkat kelahiran dalam suatu kelompok penduduk
tergantung pada struktur umur, penggunaan alat kontrasepsi, pengangguran,
tingkat pendidikan, status pekerjaan wanita serta pembangunan ekonomi.
Penunjang Kelahiran (Pro Natalitas) antara lain :
Kawin usia muda
Pandangan banyak anak banyak rezeki
Anak menjadi harapan bagi orang tua sebagai pencari nafkah
Anak merupakan penentu status social

Anak merupakan penerus keturunan terutama anak laki-laki.

Penghambat Kelahiran (Anti Natalitas) antara lain :

Pelaksanan Program Keluarga Berencana (KB)


Penundaan usia perkawinan dengan alasan menyelesaikan pendidikan
Semakin banyak wanita karir.
Penggolongan angka kelahiran kasar (CBR) :

Angka kelahiran rendah apabila kurang dari 30 per 1000 penduduk


Angka kelahiran sedang, apabila antara 30 40 per 1000 penduduk
Angka kelahiran tinggi, apabila lebih dari 40 per 1000 penduduk

b. Kematian (mortalitas)
Ada beberapa tingkat kematian, yaitu tingkat kematian kasar(crude
death rate) dan tingkat kematian khusus(age specific death rate).
Tingkat kematian kasar (crude death rate) adalah banyaknya orang
yang meninggal pada suatu tahun per jumlah penduduk pertengahan tahun
tersebut.
Tingkat kematian khusus (age specific death rate) dipengaruhi oleh beberapa
factor, antara lain umur, jenis kelamin, pekerjaan.
Faktor yang menunjang dan menghambat kematian (mortalitas) di
Indonesia, adalah sebagai berikut :
Penunjang Kematian (Pro Mortalitas) antara lain :
Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan
Fasilitas kesehatan yang belum memadai
Keadaan gizi penduduk yang rendah
Terjadinya bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir
Peparangan, wabah penyakit, pembunuhan
Penghambat Kematian (Anti Mortalitas) antara lain :

Meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya kesehatan


Fasilitas kesehatan yang memadai
Meningkatnya keadaan gizi penduduk
Memperbanyak tenaga medis seperti dokter, dan bidan
Penggolongan angka kelahiran kasar :

angka kematian rendah apabila kurang dari 10 per 1000 penduduk


angka kematian sedang, apabila antara 10 20 per 1000 penduduk
angka kematian tinggi, apabila lebih dari 20 per 1000 penduduk

c. Migrasi Penduduk
Migrasi merupakan akibat dari keadaan lingkungan alam yang kurang
menguntungkan. Sebagai akibat dari keadaan alam yang kurang
menguntungkan menimbulkan terbatasnya sumber daya yang mendukung
penduduk di daerah tersebut.
Yang perlu diperhatikan seorang migran dalam menentukan keputusan
untuk pindah ke daerah lain yaitu factor persediaan sumber daya alam, factor
lingkungan social budaya, factor potensi ekonomi. Dengan mengetahui factorfaktor dimuka, setidaknya terhindar dari akibat negative.
Untuk mengetahui pertumbuhan penduduk suatu daerah cepat atau

lambat dilihat dari bentuk piramida penduduk. Karena dengan melihat bentuk
piramida penduduk akan diketahui mengenai perbandingan jumlah penduduk
anank-anak, dewasa, dan orang tua pada wilayah yang bersangkutan.
Keadaan struktur penduduk yang berbeda-beda akan menunjukkan
bentuk pyramida yang berbeda pula. Struktur penduduk ada tiga jenis, yaitu
piramida penduduk muda, piramida stasioner, dan piramida penduduk tua.
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk
adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas
penduduk ada yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik
nasional maupun internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen
(menetap).Mobilitas penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah
perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan melewati
batas negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap.
Jenis-jenis Migrasi:
Migrasi Internasional, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke
negara lainnya.
1. Imigrasi, yaitu masuknya penduduk dari suatu negara ke negara lain
dengan tujuan menetap. Orang yang melakukan imigrasi disebut imigran.
2. Emigrasi, yaitu keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain.
Orang yang melakukan emigrasi disebut emigrant
3. Remigrasi atau repatriasi, yaitu kembalinya imigran ke negara asalnya
Migrasi Nasional atau Internal, yaitu perpindahan penduduk di dalam satu
Negara.
1) Urbanisasi, yaitu perpindahan dari desa ke kota dengan tujuan menetap.
2) Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari pulau yang padat
penduduk ke pulau yang jarang penduduknya di dalam wilayah republik
Indonesia. Transmigrasi pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun
1905 oleh pemerintah Belanda yang dikenal dengan nama kolonisasi.
1. Transmigrasi Khusus, yaitu transmigrasi yang dilaksanakan degan
tujuan tertentu, seperti penduduk yang terkena bencana alam dan
daerah yang terkena pembangunan proyek
2. Transmigrasi Spontan (swakarsa), yaitu transmigrasi yang dilakukan
oleh seseorang atas kemauan dan biaya sendiri
3. Transmigrasi Lokal, yaitu transmigrasi dari suatu daerah ke daerah
yang lain dalam propinsi atau pulau yang sama
4. Transmigrasi Umum, yaitu transmigrasi yang dilaksanakan dan dibiayai
oleh pemerintah
5. Ruralisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa dengan
tujuan menetap. Ruralisasi merupakan kebalikan dari urbanisasi. Selain
jenis migrasi yang disebutkan di atas, terdapat jenis migrasi yang
disebut evakuasi. Evakuasi adalah perpindahan penduduk yang yang
terjadi karena adanya ancaman akibat bahaya perang, bencana alam
dan sebagainya. Evakuasi dapat bersifat nasional maupun
internasional.

PERMASALAHAN PENDUDUK DAN DAMPAKNYA TERHADAP


PEMBANGUNAN

Permasalahan Penduduk (Kuantitas dan Kualitas) : Pembangunan suatu bangsa berkaitan erat
dengan permasalahan kependudukannya. Suatu pembangunan dapat berhasil jika didukung oleh subjek
pembangunan, yakni penduduk yang memiliki kualitas dan kuantitas yang memadai.
1. Permasalahan kuantitas penduduk di Indonesia :
Jumlah penduduk Indonesia : Besarnya sumber daya manusia Indonesia dapat di lihat dari
jumlah penduduk yang ada. Jumlah penduduk di Indonesia berada pada urutan keempat terbesar
setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.
Pertumbuhan Penduduk Indonesia : Peningkatan penduduk dinamakan pertumbuhan
penduduk. Angka pertumbuhan penduduk Indonesia Lebih kecil dibandingkan Laos, Brunei, dan
Filipina.
Kepadatan penduduk Indonesia : Kepadatan penduduk merupakan perbandingan jumlah
penduduk terhadap luas wilayah yang dihuni. Ukuran yang digunakan biasanya adalah jumlah
penduduk setiap 1 km2 atau setiap 1mil2. Permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah
persebarannya yang tidak merata. Kondisi demikian menimbulkan banyak permasalahan, misalnya
pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, pemukiman kumuh dan sebagainya.
Susunan penduduk Indonesia : sejak sensesus penduduk tahun 1961, piramida penduduk
Indonesia berbentuk limas atau ekspansif. Artinya pada periode tersebut, jumlah penduduk usia muda
lebih banyak daripada penduduk usia tua. Susunan penduduk yang seperti itu memberikan
konsekuensi terhadap hal-hal berikut.

Penyediaan fasilitas kesehatan.


Penyediaan fasilitas pendidikan bagi anak usia sekolah
Penyediaan lapangan pekerjaan bagi penduduk kerja
Penyediaan fasilitas sosial lainnya yang mendukung perkembangan penduduk usia muda.
Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan Kuantitas Penduduk Indonesia : Upaya pemerintah

mengatasi permasalahan kuantitas penduduk antara lain, dengan pengendalian jumlah dan
pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran penduduk.
a. Pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk : Dilakukan dengan cara menekan angka
kelahiran melalui pembatasan jumlah kelahiran, menunda usia perkawinan muda, dan
meningkatkan pendidikan.
b. Pemerataan Persebaran Penduduk : Dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan industri
di wilayah yang jarang penduduknya. Untuk mencegah migrasi penduduk dari desa kekota,
pemerintah mengupayakan berbagai program berupa pemerataan pembangunan hingga ke pelosok,
perbaikan sarana dan prasarana pedesaan, dan pemberdayaan ekonomi di pedesaan.

2. Permasalahan Kualitas Penduduk di Indonesia

a. Tingkat Kesehatan

: Kondisi kesehatan di Indonesia masih belum ada kemajuan. Dibandingkan

dengan Negara yang lain Indonesia masih tertinggal jauh. Kondisi demikian terjadi karena masih
rendahnya pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang ada masih belum memenuhi
kebutuhan seluruh penduduk.
b. Tingkat pendidikan : Merupakan modal pembangunan yang penting disamping kesehatan.
Kemajuan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari lama sekolah dan tingkat melek huruf
penduduk.
c. Lama Sekolah

: lama sekolah seseorang dapat menunjukan tingkat pendidikannya. Lama

sekolah penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Artinya, tingkat pendidikan masyarakat
Indonesia rata-rata masih berada pada taraf pendidikan dasar.
d. Tingkat melek huruf : seseorang dikatakan melek huruf jika orang tersebut dapat membaca atau
tidak buta huruf. Kemajuan tingkat melek huruf di Indonesia tergolong pesat.
e. Tingkat Pendapatan per Kapita : adalah rata-rata pendapatan penduduk suatu Negara dalam satu
tahun. Pendapatan perkapita secara umum menggambarkan kemakmuran suatu Negara.
Dampak Permasalahan Penduduk Terhadap Pembangunan : Permasalahan kependudukan
membawa dampak bagi pembangunan di Indonesia. Dampak-dampak tersebut dapat dilihat dibawah ini :

Ketidak merataan penduduk menyebabkan tidak meratanya pembangunan ekonomi di seluruh


wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan masih terdapatnya daerah tertinggal, terutama daerah-daerah

pedalaman yang jauh dari pusat kota.


Ledakan penduduk akibat angka kelahiran yang tinggi menyebabkan semakin tingginya kebutuhan

penduduk akan perumahan, bahan pangan, dan kebutuhan tersier lainnya.


Ledakan penduduk juga mengakibatkan angka beban ketergantungan menjadi lebih tinggi. Hal ini

disebabkan angka usia non produktif lebih besar daripada usia produktif.
Arus urbanisasi yang tidak diimbangi dengan pendidikan dan ketrampilan yang cukup menimbulkan
masalah pengangguran, kriminalitas, prostitusi, munculnya daerah kumuh, dan kemiskinan di daerah
perkotaan. Hal tersebut dapat menghambat pembangunan, baik di daerah pedesaan (daerah asal)

maupun daerah perkotaan (tujuan)


Timbulnya berbagai masalah kerusakan lingkungan akibat pertambahan penduduk manusia.
Masalah kemacetan lalu lintas dapat mengurangi arus mobilitas penduduk, barang, dan jasa yang akan
berakibat pada terhambatnya perkembangan ekonomi penduduk.

Permasalahan Kuantitas Penduduk dan Dampaknya dalam Pembangunan


Jumlah penduduk yang besar berdampak langsung terhadap pembangunan berupa tersedianya
tenaga kerja yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan. Akan tetapi kuantitas penduduk
tersebut juga memicu munculnya permasalahan yang berdampak terhadap pembangunan. Permasalahanpermasalahan tersebut di antaranya:
1.

Pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan kemampuan produksi


menyebabkan tingginya beban pembangunan berkaitan dengan penyediaan pangan, sandang, dan
papan.

2.

Kepadatan penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan hanya terpusat pada daerahdaerah tertentu yang padat penduduknya saja. Hal ini menyebabkan hasil pembangunan tidak bisa

dinikmati secara merata, sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antara daerah yang padat dan
daerah yang jarang penduduknya.
3.

Tingginya angka urbanisasi menyebabkan munculnya kawasan kumuh di kota-kota besar, sehingga
menimbulkan kesenjangan sosial antara kelompok kaya dan kelompok miskin kota.

4.

Pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan volume pekerjaan menyebabkan
terjadinya pengangguran yang berdampak pada kerawanan sosial.

Permasalahan Kualitas Penduduk dan Dampaknya terhadap Pembangunan


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kualitas penduduk dan dampaknya terhadap
pembangunan adalah sebagai berikut:
Masalah tingkat pendidikan
Keadaan penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif lebih
rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan tingkat pendidikan
penduduk Indonesia.Rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia disebabkan oleh:
1.

Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.

2.

Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.

3.

Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah.

Dampak yang ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
1.

Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara
maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak
mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.

2.

Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru.
Hal ini nampak dengan ketidak mampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar,
sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena ketidak mampuan masyarakat memperlakukan
secara tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan.
Oleh karena itu, pemerintah mengambil beberapa kebijakan yang dapat meningkatkan mutu
pendidikan masyarakat.

Usaha-usaha tersebut di antaranya:

Pencanangan wajib belajar 9 tahun.

Mengadakan proyek belajar jarak jauh seperti SMP Terbuka dan Universitas Terbuka.

Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan
lain-lain).

Meningkatkan mutu guru melalui penataran-penataran.

Menyempurnakan kurikulum sesuai perkembangan zaman.

Mencanangkan gerakan orang tua asuh.

Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.

Masalah kesehatan
Tingkat kesehatan suatu negara umumnya dilihat dari besar kecilnya angka kematian, karena
kematian erat kaitannya dengan kualitas kesehatan.
Kualitas kesehatan yang rendah umumnya disebabkan:
1.

Kurangnya sarana dan pelayanan kesehatan.

2.

Kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

3.

Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan.

4.

Gizi yang rendah.

5.

Penyakit menular.

6.

Lingkungan yang tidak sehat (lingkungan kumuh).


Dampak rendahnya tingkat kesehatan terhadap pembangunan adalah terhambatnya pembangunan

fisik karena perhatian tercurah pada perbaikan kesehatan yang lebih utama karena menyangkut jiwa
manusia. Selain itu, jika tingkat kesehatan manusia sebagai objek dan subjek pembangunan rendah, maka
dalam melakukan apa pun khususnya pada saat bekerja, hasilnya pun akan tidak optimal.
Untuk menanggulangi masalah kesehatan ini, pemerintah mengambil beberapa tindakan untuk
meningkatkan mutu kesehatan masyarakat, sehingga dapat mendukung lancarnya pelaksanaan
pembangunan. Upaya-upaya tersebut di antarnya:
1.

Mengadakan perbaikan gizi masyarakat.

2.

Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

3.

Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.

4.

Membangun sarana-sarana kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain.

5.

Mengadakan program pengadaan dan pengawasan obat dan makanan.

6.

Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan gizi dan kebersihan lingkungan.

Masalah tingkat penghasilan/pendapatan

Tingkat penghasilan/pendapatan suatu negara biasanya diukur dari pendapatan per kapita, yaitu
jumlah pendapatan rata-rata penduduk dalam suatu negara.
Negara-negara berkembang umumnya mempunyai pendapatan per kapita rendah, hal ini disebabkan oleh:
1.

Pendidikan masyarakat rendah, tidak banyak tenaga ahli, dan lain-lain.

2.

Jumlah penduduk banyak.

3.

Besarnya angka ketergantungan.

Berdasarkan pendapatan per kapitanya, negara digolongkan menjadi 3, yaitu:


1.

Negara kaya, pendapatan per kapitanya > US$ 1.000.

2.

Negara sedang, pendapatan per kapitanya = US$ 300 1.00.

3.

Negara miskin, pendapatan per kapitanya < US$ 300.

Adapun dampak rendahnya tingkat pendapatan penduduk terhadap pembangunan adalah:


1.

Rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan pembangunan bidang ekonomi kurang


berkembang baik.

2.

Tingkat kesejahteraan masyarakat rendah menyebabkan hasil pembangunan hanya banyak


dinikmati kelompok masyarakat kelas sosial menengah ke atas.
Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat (kesejahteraan masyarakat), sehingga dapat

mendukung lancarnya pelaksanaan pembangunan pemerintah melakukan upaya dalam bentuk:


1.

Menekan laju pertumbuhan penduduk.

2.

Merangsang kemauan berwiraswasta.

3.

Menggiatkan usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.

4.

Memperluas kesempatan kerja.

5.

Meningkatkan GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa.