Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular


yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering
menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun
1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini
pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58
orang dengan kematian 24 orang (41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit
Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan
mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per
100.000 penduduk. Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas
penduduk dan sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transpotasi.
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit
Demam Berdarah Dengue karena virus penyebab clan nyamuk penularnya
tersebar luas baik di rumah maupun tempat- tempat umum, kecuali yang
ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Pada saat ini seluruh
propinsi di Indonesia sudah terjangkit penyakit ini baik di kota maupun desa
terutama yang padat penduduknya dan arus transportasinya lancar. Menurut
laporan Ditjen PPM clan PLP penyakit ini telah tersebar di 27 propinsi di
Indonesia. Dari 300 kabupaten di 27 propinsi pada tahun 1989 (awal Pelita V )
tercatat angka kejadian sebesar 6,9 % dan pada akhir Pelita V meningkat menjadi
9,2 %. Pada kurun waktu yang sama angka kematian tercatat sebesar 4,5 %.
Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini obat untuk membasmi virus
dan vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue belum tersedia.
Cara yang tepat guna untuk menanggulangi penyakit ini secara tuntas adalah
memberantas vektor/nyamuk penular. Vektor Demam Berdarah Dengue
mempunyai tempat perkembangbiakan yakni di lingkungan tempat tinggal
manusia terutama di dalam stan diluar rumah. Nyamuk Aedes aegypti
berkembangbiak di tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, tempayan

dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang seperti kaleng bekas,


tempurung kelapa , dan lain-lain yang dibuang sembarangan. Pemberantasan
vektor Demam Berdarah Dengue dilaksanakan dengan memberantas sarang
nyamuk untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti. Mengingat nyamuk
Aedes aegypti tersebar luas diseluruh tanah air baik dirumah maupun tempattempat umum, maka untuk memberantasnya diperlukan peran serta seluruh
masyarakat.

BAB II
KASUS

1. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal MRS
Ruang Rawat
Nomor Rekam Medis

: Nn. W
: 20 tahun
: Perempuan
: Islam
:: Karangwuni, Juwiring Klaten
: 25 Juni 2015 ( 21:30 WIB )
: Anggrek
: 2988**

2. Anamnesa
Autoanamnesis
Keluhan Utama
Keluhan Tambahan

: Demam tinggi
: Mimisan (+), Mual (+) Muntah (-), Nyeri
perut (-)

Riwayat Penyakit Sekarang


:
Pasien datang ke IGD RSUD Sukoharjo dengan keluhan demam
tinggi terus menerus sejak sabtu ( 4 hsmrs ), demam dirasakan terus menerus.
Pasien juga mengeluhkan perut terasa mual namun tidak muntah. BAB pasien
dalam batas normal, tidak kehitaman. BAK pasien dalam batas normal.
Pasien juga mengeluhkan perdarahan dari hidung, namun perdarahan timbul
saat pasien menggosok-gosokkan hidungnya. Pasien tidak mengeluh nyeri
kepala, nyeri di sekitar mata, timbul bintik-bintik merah (-) di seluruh tubuh.
1 HSMRS pasien memeriksakan trombosit nya di puskesmas dan
didapatkan hasil trombosit pasien sebesar 128.000. Kemudian pasien pergi ke
IGD RSUD Sukoharjo.
Riwayat Penyakit Dahulu

Tekanan darah tinggi disangkal


Kencing manis disangkal
Penyakit jantung sebelumnya disangkal.
Riwayat berpergian ke daerah endemis disangkal
Riwayat Demam Berdarah disangkal

Riwayat mimisan disangkal


Riwayat asma dan alergi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa dengan pasien
Keluarga pasien tidak memiliki riwayat penyakit kencing manis, penyakit
jantung, paru, ginjal, hati dan alergi.

3. Pemeriksaan Fisik
Vital Signs
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu

: 90/60 mmHg
: 80 x/menit
: 18 x/menit
: 36,9C

Kulit
Warna

Rambut
Turgor
Suhu raba

hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi


: tumbuh rambut pada permukaan kulit.
: baik
: hangat

sawo

Kepala
Bentuk
Ekspresi
Simetri wajah
Nyeri tekan sinus
Pertumbuhan Rambut
Pembuluh darah
Deformitas

matang,

tidak

ikterik

dan

tidak

terdapat

: normochepali
: ekspresif
: simetris
: tidak terdapat nyeri tekan sinus
: distribusi merata, warna hitam
: tidak terdapat pelebaran pembuluh darah
: tidak terdapat deformitas

Mata
Bentuk
Reflex cahaya langsung
Palpebra

: normal, kedudukan bola mata simetris


: +/+
: normal, tidak terdapat ptosis, lagoftalmos,

Gerakan

oedema, perdarahan, blefaritis


: normal, tidak terdapat

Konjungtiva
Sklera

nistagmus
: tidak anemis
: tidak ikterik

strabismus,

Pupil
Eksoftalmus
Endoftalmus

: bulat, isokor +/+, diameter 3 mm


: -/: -/-

Telinga
Bentuk
Liang telinga
Serumen
Nyeri tarik auricular
Nyeri tekan tragus
Hidung
Bagian luar
Septum
Mukosa hidung
Cavum nasi

: normal(eutrofilia)
: lapang
:-/: -/: -/-

: normal, tidak terdapat deformitas


: terletak di tengah dan simetris
: tidak terdapat hiperemis, konka nasalis eutrofi
: perdarahan(+) saat di IGD

Mulut dan tenggorok


Bibir
Gigi-Geligi
Mukosa mulut
Lidah
Tonsil
Faring

: normal, tidak pucat, tidak sianosis


: hygiene baik
: normal, tidak hiperemis
: normoglosia, tidak kotor, tidak tremor
: T1/T1 tenang, tidak hiperemis
: Tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula di

tengah
Gusi

: tidak ada perdarahan

Leher
Bendungan vena : tidak terdapat bendungan vena
Kelenjar tiroid
: tidak membesar, mengikuti gerakan, simetris
Trakea
: di tengah
Kelenjar getah bening
Leher
: tidak terdapat pembesaran KGB di leher
Aksila
: tidak terdapat pembesaran KGB di aksila
Thorax
Paru-paru
o Inspeksi : simetris tidak ada hemithorax yang tertinggal, saat statis
maupun dinamis
o Palpasi : gerak simetris pada kedua hemithorax vocal fremitus +/+
suara kuat
o Perkusi : sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar pada sela
iga VI pada linea midclavicularis dextra, dengan peranjakan 2 jari

pemeriksa, batas paru-lambung pada sela iga ke VIII pada linea


axilaris anterior.
o Auskultasi : suara nafas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/Jantung
o Inspeksi
: tidak tampak pulsasi ictus cordis
o Palpasi : teraba pulsasi ictus cordis pada ICS V, 1 cm medial linea
midclavicularis sinistra, thrill (-)
o Perkusi : Batas atas jantung redup setinggi ICS 3 linea parasternal
sinistra, batas kanan jantung redup setinggi ICS 3-5 linea
parasternalis dextra, batas kiri jantung redup setinggi ICS V, 1 cm
medial linea midclavicularis kiri
o Auskultasi
: Bunyi jantung 1&2 reguler, murmur(-), gallop(-)
Abdomen
Inspeksi : normal, tidak terdapat asites, smiling umbilicus (-),

efloresensi (-)
Auskultasi
: bising usus 4-5x/ menit, normal
Palpasi : supel, massa (-), hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan

(-), ballotement (-)


Perkusi : pekak pada keempat kuadran abdomen, nyeri ketok CVA

(-), shifting dullness (-)


Genitalia
Tidak diperiksa
Ekstremitas
Tidak tampak deformitas
Akral hangat pada keempat ekstremitas
Edema (-), CRT < 2
4. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pada tanggal 25 Juni 2014
Laboratorium
Tes
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
NRBC

Hasil
3.6 x 10^3/uL
4.49x 10^6/uL
12.4 g/dL
36.9%
118 x10^3/uL
0.00 %

Nilai Normal
3.8 10.6
4.40 - 5.90
13.2 17.3
40 52
150 - 450
0-1

Neutrofil
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
Golongan Darah
SERO IMUNOLOGI
Widal
S Typhi O
S Paratyphi AO
S Paratyphi BO
S Typhi H
S ParaTyphi AH
S Paratyphi BH

40.7 %
49.6 %
8,760 %
0.80 %
0.30 %
A

53 -75
25 - 40
2-8
2.00 4.00
0-1

Negatif
Positif, titer 1:80
Positif, titer 1:80
Positif, titer 1:80
Positif, titer 1:80
Positif, titer 1:80

Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

5. Diagnosa
Obs Febris dengan Trombositopenia dan Epistaksis
6. Different Diagnose
- Typhoid Fever
- DHF
7. Terapi
- Infus RL 30 tpm makro
- Injeksi Cefotaxime 1gr/12 jam
- Injeksi Antalgin 1 Amp/8 Jam
- Injeksi Asam Tranexamat 1 amp/12 jam
- Injeksi Ranitidin 1 A/24 jam
- Vit K 3x1
- Cholescor 3x1
- Cek DR tiap pagi
8. Follow Up Bangsal
Tanggal

SOAP

Tatalaksana

26
Juni
2015

S/ Demam (-) Mimisan(-) Mual (-)

Infus

makro
Injeksi

1gr/12 jam
Injeksi Antalgin

Amp/8 Jam
Injeksi

Muntah (-) Bab dbn BAK dbn.


O/ Vital sign:
T

90/60

S:

36.4C,

HR:

80X/menit, RR: 19X/menit


KU : CM, sedang
Kepala: Edem palpebra (-/-)
-

-/-, Wh -/Cor : BJ I/II reguler


Nyeri

tekan

tpm

Cefotaxime

(-)

Hepatomegali (-) Asites (-)

Asam

jam
Injeksi Ranitidin 1

A/24 jam
- Vit K 3x1
- Cholescor 3x1
- Cek DR tiap pagi
1.

Ekstemitas: Akral dingin (-), crt 2


detik (+), sianosis (-)
Integumentum: Petekie (-)
A/ Dengue Fever
Epistaksis Membaik
Hasil Laboratorium :
AL : 4.4
HB : 12.5
HCT : 38.2
25
Februari
2015
BB : 32 kg

AT : 95000
S/ Demam (-) Mimisan(-) Mual (-) Terapi BLPL
Muntah (-) Bab dbn BAK dbn.
O/ Vital sign:
T

90/60

S:

36.4C,

Tranexamat 1 amp/12

Thorax: Paru : SDV ++, Rh halus

Abdomen:

RL 30

HR:

80X/menit, RR: 19X/menit


KU : CM, sedang
Kepala: Edem palpebra (-/-)
Thorax: Paru : SDV ++, Rh halus

1.
2.
3.
4.

Cefixime 2x1
Cholescor 3x1
Parasetamol 3x1
Vit K 3x1

-/-, Wh -/Cor : BJ I/II reguler


Abdomen:

Nyeri

tekan

(-)

Hepatomegali (-) Asites (-)


Ekstemitas: Akral dingin (-), crt 2
detik (+), sianosis (-)
Integumentum: Petekie (-)
A/ Dengue Fever Membaik
Epistaksis Membaik
Hasil Laboratorium :
AL : 3.9
HB : 13.1
HCT : 40.3
AT : 116000

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Demam Dengue adalah (dengue fever, selanjutnya disingkat DD)
adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak dan remaja atau orang
dewasa dengan tanda-tanda klinis berupa demam, nyeri otot, nyeri sendi yang
disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam, dan limfadenopati, demam bifasik,
sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakan bola mata, gangguan rasa
mengecap, trombositopenia ringan dan petekie spontan.
Demam Berdarah Dengue(Dengue Haemorrhagic Fever, selanjutnya
disingkat DBD) ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan
gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah
dua hari pertama. Disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok B
Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai genus
Flavivirus, famili Flaviviridae. Virus mempunyai empat serotipe

yang

dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.


B. Epidemiologi
Beberapa decade terakhir ini, insiden demam dengue menunjukkan
peningkatan yang sangat pesat di seluruh penjuru dunia. Sebanyak dua
setengah milyar atau dua perlima penduduk dunia berisiko terserang dengue.
Sebanyak 1.6% milyar (52%) dari penduduk yang berisiko tersebut hidup di
wilayah Asia Tenggara. WHO memperkirakan sekitar 50 juta kasus infeksi

dengue tiap tahunnya. Pada tahun 2007 di Amerika terdapat lebih dari
890.000 kasus dengue yang dilaporkan dimana 26.000 kasus diantaranya
tergolong dalam demam berdarah dengue (DBD).
Di Indonesia kasus demam berdarah dilaporkan pertama kali di
Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968 dengan jumlah kasus sebanyak 58
orang dan 24 orang diantaranya meninggal. Tahun demi tahun daerah
penyebaran meningkat walaupun Case Fatality Rate cenderung menurun.
Seluruh wilayah Indonesia memiliki resiko untuk terjangkit penyakit penyakit
DBD, karena virus penyebab dan vektor penularannya tersebar luas baik di
rumah maupun di tempat-tempat umum, kecuali daerah yang ketinggiannya
lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
Pada tahun 2008, angka kasus DBD di Indonesia tercatat sebanyak
135.871 kasus. Di propinsi Jawa Barat sendiri tercatat sebanyak 23.248 kasus
selama tahun 2008. Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan
dengan tahun 2007 dimana angka kasus berjumlah sebesar 31.836
C. Etiologi
Penyebab penyakit adalah virus Dengue. Virus ini termasuk termasuk
kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal
sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Sampai saat ini dikenal ada 4
serotype virus yaitu ;
1. Den- 1 diisolasi oleh Sabin pada tahun1944.
2. Den- 2 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944.
3. Den- 3 diisolasi oleh Sather
4. Den- 4 diisolasi oleh Sather.
Keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di
Indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. Infeksi salah satu
serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan,
sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang,
sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap
serotipe lain tersebut.
D. Mekanisme Penularan

Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes


aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit mengisap
darah orang yang sakit Demam Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi
didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang didalam darahnya
mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam
berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari
sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus
dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya
virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk
termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap
darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain
(masa inkubasi ekstrinsik).
Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.
Oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti yang telah mengisap virus dengue itu
menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena
setiapkali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan
mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang
diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari
nyamuk ke orang lain.
E. Klasifikasi
Tabel Klasifikasi Derajat Penyakit Infeksi Virus Dengue
DD/DBD
DD

Derajat

Gejala
Demam disertai 2 atau lebih tanda :

Laboratorium
Leukopenia,

sakit

trombositopenia,tidak

kepala,

nyeri

retro-

orbital,mialgia, artralgia
DBD

DBD

II

Gejala

di

atas

ditambah

ditemukan bukti kebocoran


uji

plasma
Trombositopenia

bendung positif

(<100.000/mm3), bukti ada

gejala di atas ditambah perdarahan

kebocoran plasma
Trombositopenia

spontan.

(<100.000/mm3), bukti ada

DBD

DBD

III

IV

Gejala di atas ditambah kegagalan

kebocoran plasma
Trombositopenia

sirkulasi (kulit dingin dan lembab

(<100.000/mm3), bukti ada

serta gelisah)
Syok berat disertai dengan tekanan

kebocoran plasma
Trombositopenia

darah dan nadi tidak terukur

(<100.000/mm3), bukti ada


kebocoran plasma

F. Manifestasi Klinis
1. Demam .
Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terusmenerus berlangsung 2 - 7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam
secara mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia
lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.
2. Manifestasi Pendarahan. Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya
timbul pada hari 2-3 setelah demam. Sebab perdarahan adalah
trombositopenia. Bentuk perdarahan dapat berupa :
- Ptechiae
- Purpura
- Echymosis
- Perdarahan cunjunctiva
- Perdarahan dari hidung (mimisan atau epestaxis)
- Perdarahan gusi
- Muntah darah (Hematenesis)
- Buang air besar berdarah (melena)
- Kencing berdarah (Hematuri)
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu
diperlukan toreniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar
penderita Demam Berdarah Dengue.
3. Pembesaran hati (Hepotomegali).
Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Pembesan hati
mungkin berkaitan dengan strain serotype virus dengue.
4. Renjatan (Shock). Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu
antara hari 3-7 mulai sakit. Renjatan terjadi karena perdarahan atau
kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapilar yang rusak.
Adapun tanda-tanda perdarahan:
- Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.
- Penderita menjadi gelisah.

Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba.


Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80
mmHg atau kurang). Renjatan yang terjadi pada saat demam,

biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih buruk.


5. Gejala Klinis Lain.
Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia, mual, muntah,
lemah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang.
G. Penatalaksanaan

Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi


kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan
sebagai akibat perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD
dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi
diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan baik,
diperlukan dokter danperawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai,
cairan kristaloid dan koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan.
Diagnosis dini danmemberikan nasehat untuk segera dirawat bila terdapat tanda
syok, merupakan hal yang penting untuk mengurangi angka kematian. Di pihak

lain, perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk
keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak
tertolong. Kunci keberhasilan tatalaksana DBD/SSD terletak pada ketrampilan
para dokter untuk dapat mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase
penurunan suhu (fase kritis, fase syok) dengan baik.
Protokol 1 Pemberian Cairan Pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang
Rawat / Pasien Tersangka DBD Tanpa Syok
Protokol 1 ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan
pertama pada pasien DBD atau yang diduga DBD di Puskesmas atau Istalasi
Gawat Darurat Rumah Sakit dan tempat perawatan lainnya untuk dipakai sebagai
petunjuk dalam memutuskan indikasi rujuk atau rawat. Manifestasi perdarahan
pada pasien DBD pada fase awal mungkin masih belum tampak, demikian pula
hasil pemeriksaan darah tepi (Hb, Ht, lekosit dan trombosit) mungkin masih
dalam Batas-Batas normal, sehingga sulit membedakannya dengan gejala penyakit
infeksi akut lainnya. Perubahan ini mungkin terjadi dari saat ke saat berikutnya.
Maka pada kasus-kasus yang meragukan dalam menentukan indikasi rawat
diperlukan observasi/ pemeriksaan lebih lanjut. Pada seleksi pertama diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis danpemeriksaan fisik serta hasil pemeriksaan
Hb, Ht, dan jumlah trombosit.
Indikasi rawat pasien DBD dewasa pada seleksi pertama adalah
1. DBD dengan syok dengan atau tanpa perdarahan.
2. DBD dengan perdarahan masif dengan atau tanpa syok
3. DBD tanpa perdarahan masif dengan
a. Hb, Ht, normal dengan trombosit < 100.000/pl
b. Hb, HT yang meningkat dengan trombositpenia < 150.000/pl
Pasien yang dicurigai menderita DBD dengan hasil Hb, Ht dan trombosit dalam
batas nomal dapat dipulangkan dengan anjuran kembali kontrol ke poliklinik
Rumah Sakit dalam waktu 24 jam berikutnya atau bila keadaan pasien
mmemburuk agar segera kembali ke Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan.
Sedangkan pada kasus yang meragukan indikasi rawatnya, maka untuk
sementara pasien tetap diobservasi di Puskesmas dengan anjuran minum yang

banyak, serta diberikan infus ringer laktat sebanyak 500cc dalam empat jam.
Setelah itu dilakukan pemeriksaan ulang Hb, Ht dan trombosit.
Pasien dipulangkan apabila didapatkan nilai Hb, Ht dalam batas normal
dengan jumlah trombosit lebih dari 100.000/pl dandalam waktu 24 jam kemudian
diminta kontrol ke Puskesmas/poliklinik atau kembali ke IGD apabila keadaan
menjadi memburuk. Apabila masih meragukan, pasien tetap diobservasi dan tetap
diberikan infus ringer laktat 500cc dalam waktu empat jam berikutnya. Setelah itu
dilakukan pemeriksaan ulang Hb. Ht danjumlah trombosit.
Pasien dirawat bila didapatkan hasil laboratorium sebagai berikut.
1. Nilai Hb, Ht dalam batas normal dengan jumlah trombosit kurang dari
100.000/ul
2. Nilai Hb, Ht tetap/meningkat dibanding nilai sebelumnya dengan jumlah
trombosit normal atau menurun
Selama diobservasi perlu dimonitor tekanan darah, frekwensi nadi danpernafasan
serta jumlah urin minimal setiap 4 jam.
Catatan :
1. Tatalaksana pasien dengan syok lihat Protokol 5
2. Observasi monitor keadaan umum, nadi, pernafasan,diuresis, minimal tiap
4 jam
3. Indikasi pulang:
a. Bila hemodinamik baik
b. Bila keadaan memburuk segera kembali ke puskesmas / RS
c. Kontrol ke poliklinik dalam waktu 1 x 24 jam (periksa darah
perifer lengkap )

BAB IV
KESIMPULAN

Demam dengue dan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan
nyeri sendi yang disertai lekopeni, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan
diatesis hemoragik.
Patogenesis utama yang membedakan demam dengue dengan DBD adalah
peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah, penurunan volume plasma,
serta diatesis hemoragik. Dasar penatalaksanaan DSS yang utama adalah
penggantian volume plasma secepat mungkin untuk memperbaiki kehilangan
volume plasma. Dengan memahami patogenesis DBD yang baik dan adanya
keterampilan yang baik untuk menegakkan diagnosis secara dini dan pengambilan
keputusan yang tepat, akan menentukan keberhasilan pengobatan DBD.