Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Filariasis adalah penyakit menular (Penyakit Kaki Gajah) yang disebabkan oleh
cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun
(kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.
Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung
kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara.
Menurut WHO, lebih dari sekitar 1 milyar orang di lebih dari 80 negara beresiko
tertular Filariasis. Lebih dari 120 juta orang telah terinfeksi Filariasis dan lebih dari 40
juta orang dari mereka beresiko tertular dan terinfeksi oleh Filariasis. Sepertiga dari orang
yang terinfeksi dengan penyakit ini hidup di India, sepertiga berada di Afrika dan sebagian
besar sisanya berada di Asia Selatan, Pasifik dan Amerika. Di daerah tropis dan subtropis
dimana filariasis limfatik adalah mapan, prevalensi infeksi terus meningkat.
Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap
dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap
tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria
bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : di Indonesia hingga saat ini
telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes,
dan Armigeres yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah.

BAB II
KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama pasien
: Ny SM
1

Umur
Jenis kelamin
Alamat
Pekerjaan
Status perkawinan
Agama
Suku
Tanggal rawat di RS
Tanggal pemeriksaan
II.

: 33 tahun
: Perempuan
: Nguter, Sukoharjo
: Tidak Bekerja
: Menikah
: Islam
: Jawa
: 29 Juni 2015
: 30 Juni 2015

ANAMNESIS
Riwayat penyakit pasien diperoleh secara autoanamnesis dan aloanamnesis.
A. Keluhan Utama
Pasien mengeluh badan terasa lemas.
B. Keluhan Tambahan
Pasien datang ke poli dalam RSUD Sukoharjo dengan keluhan badan terasa
lemas sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Orangtua pasien juga
mengatakan selama 8 bulan ini pasien sering demam. Demam dirasakan hilang
timbul bersamaan dengan bengkak pada kaki kanannya. Pada saat serangan
sering pasien tidak dapat beraktivitas selama beberapa hari. Pasien sering
minum obat demam dan penghilang rasa nyeri, sembuh tetapi sering berulang.
Nafsu makan pasien menurun. Pasien juga mengeluh mual (+) tapi tidak
muntah. Sehari-hari pasien tidak bekerja namun pasien sering bermain di
sawah.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat hipertensi
: disangkal
2. Riwayat diabetes melitus
: disangkal
3. Riwayat penyakit jantung
: disangkal
4. Riwayat penyakit ginjal
: disangkal
5. Riwayat penyakit liver
: disangkal
6. Riwayat asma
: disangkal
7. Riwayat atopi
: disangkal
8. Riwayat opname
: disangkal
9. Riwayat trauma
: disangkal
10. Riwayat penyakit serupa
: disangkal
D. Riwayat Penyakit Keluarga
1. Riwayat penyakit serupa
: disangkal
2. Riwayat hipertensi
: disangkal
2

3. Riwayat diabetes melitus


: disangkal
4. Riwayat penyakit jantung
: disangkal
5. Riwayat atopi
: disangkal
6. Riwayat asma
: disangkal
E. Riwayat Pribadi
1. Merokok
: disangkal
2. Konsumsi alkohol
: disangkal
3. Konsumsi obat bebas
: disangkal
4. Konsumsi jamu
: disangkal
5. Konsumsi kopi
: disangkal
6. Makan tidak teratur
: diakui
7. Riwayat tidak pakai alas kaki
: diakui

III.

PEMERIKSAAN FISIK (30 Juni 2015)


Keadaan umum
: lemah.
Kesadaran
: kompos mentis (E4 V5 M6)
Vital Sign
:
Tekanan darah
: 110/70 mmHg (berbaring, pada lengan kanan)
Nadi
: 80 x/menit , irama reguler
Respiratory rate : 20 x/menit tipe thorakoabdominal
Suhu
: 36,70C per aksiler
A. Kulit
Ikterik (-), petekie (-), purpura (-), akne (-), turgor cukup, hiperpigmentasi (-),
bekas garukan (-), kulit kering (-), kulit hiperemis (-), sikatrik bekas operasi (-).
B. Kepala
Bentuk mesosefal, rambut warna hitam, luka (-).
C. Mata
Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (+/+), injeksi konjungtiva (-/-),
perdarahan subkonjungtiva (-/-), pupil isokor dengan diameter 3 mm/3 mm,
reflek cahaya (+/+), edema palpebra (-/-), strabismus (-/-).
D. Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-).
E. Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-).

F. Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), stomatitis (-), mukosa pucat (+), lidah
tifoid (-), papil lidah atrofi (-), luka pada tengah bibir (-), luka sudut bibir (-).
G. Leher
Leher simetris, deviasi trakea (-), JVP R0, pembesaran kelenjar limfe (-).

H. Thorak
1. Paru
- Inspeksi

: kelainan bentuk (-), simetris (+), ketinggalan gerak

(-), retraksi otot-otot bantu pernapasan (-).


- Palpasi :
Ketinggalan gerak
Depan Belakang
N
N
N

Perkusi :
Depan
S
S
S

n
n
n

S
S
S

n
n
n

Fremitus
Depan Belakang

n
n
n

Belakang
S
S
S

S
S
S

S: sonor
Auskultasi :
Suara dasar vesikuler (SDV)
Depan Belakang
+ + + +
+ + + +
+ + + +
Suara tambahan: wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

2. Jantung
-

3.

Inspeksi : iktus kordis tidak tampak.


- Palpasi
: iktus kordis kuat angkat.
- Perkusi
: batas jantung.
Batas kiri jantung
Atas
: SIC II linea parasternalis sinistra.
Bawah
: SIC V linea midclavicula sinistra.
Batas kanan jantung
Atas
: SIC II linea parasternalis dextra.
Bawah
: SIC IV linea parasternalis dextra.
- Auskultasi : bunyi jantung I-II murni, reguler, bising(-), gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : dinding dada lebih tinggi dari dinding
abdomen, distended (-), venektasi (-).
- Auskultasi: peristaltik (+) normal, metallic sound (-).
- Perkusi : timpani, pekak alih (-), undulasi (-).
- Palpasi : hepar dan lien tidak teraba membesar,
defans muskuler (-), nyeri tekan epigastrium (+).
Nyeri tekan
-

4.

+
-

Pinggang
Nyeri ketok kostovertebra (-/-).
5. Ekstremitas
- Superior : clubbing finger (-), deformitas (-), palmar
-

eritema (-), edema (-), akral hangat (+).


Inferior
: clubbing finger (-), deformitas (-),
edema (+) dextra, akral hangat (+).

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
29 Juni 2015
A. Pemeriksaan darah rutin

Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Normal

Leukosit
Limfosit%
Mid%
Neutrofil
Hemoglobin

5.2
11.0
5.9
83.3
3.3

103 ul
%
%
%
gr/dl

4 10
20 40
39
50 70
11 16

Eritrosit
Hematokrit
Indeks eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

1.95
12.8

106 ul
%

3.5 - 5.5
37 50

65.6
16.9
25.8
132

fl
pg
g/dl
103 ul

82 - 95
27 - 31
32 36
100-300

B. Gambaran Darah Tepi


Eritrosit
Hipokromik,
Mikrositik,

Anisopokilositosis,

Polikromasi,

Normosit, Makrosit, Ovalosit, Sel Targer, Mikrofilaria (+), Eritroblast (-)


Leukosit
Jumlah dalam batas normal, dominan netrofil, hipergranulasi dan
vakuolisasi netrofil, monosit teraktivasi, blast (-)
Trombosit
Jumlah menurun, penyebaran tidak merata, clumping trombosit
(+), giant trombosit (+)
Kesimpulan
Anemia Mikrositik Hipokromik, Suspect defisiensi besi DD :
Proses Kronis bersamaan dengan proses infeksi dan infestasi Parasit
03 Juli 2015

V.

Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Normal

Leukosit
Hemoglobin
Eritrosit
Hematokrit
Indeks eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

5.0
9.2
3.96
30.5

103 ul
gr/dl
106 ul
%

4 10
11 16
3.5 - 5.5
37 50

77.0
23.2
30.2
98

fl
pg
g/dl
103 ul

82 - 95
27 - 31
32 36
100-300

RESUME / DAFTAR MASALAH (yang ditemukan positif)


A. Anamnesis
1. Pasien lemas dan mudah lelah.
2. Pasien merasa mual dan nafsu makan menurun.
3. Kaki kanan pasien bengkak dan nyeri selama kurang lebih 8 bulan
B. Pemeriksaan
1. Vital Sign
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi
: 80 x/menit, irama reguler

Respiratory rate: 20 x/menit tipe thorakoabdominal


Suhu
: 36.70C per aksiler
2. Pemeriksaan fisik
Konjungtiva Anemis (+/+), mukosa mulut pucat (+), udem pada
extremitas inferior dextra
3. Pemeriksaan penunjang
Anemia Mikrositik Hipokromik, Suspect defisiensi besi DD : Proses
Kronis bersamaan dengan proses infeksi dan infestasi Parasit
mikrofilaria (+)
VI.
VII.

DIAGNOSIS
- Anemia et causa filariasis
TERAPI
1. Diet tinggi Karbohidrat Tinggi Protein
2. Infus KAEN3 20 tpm
3. Injeksi Vitamin B1 B6 B12 / 24 jam
4. Transfusi PRC 2 kolf

VIII. FOLLOW UP
30 Juni 2015
S : Lemas, Kaki bengkak (+) kanan, nyeri

01 Juni 2015
S : Lemas, Kaki bengkak (+) kanan, nyeri

(+), pusing (+), mual (+), muntah (-)


O:
-KU : Lemah
-Kesadaran : CM
-VS : TD: 110/70 Nadi: 80x
Suhu: 36,3 RR: 20x
-K/L : SI (-/-), CA(+/+), PKGB (-/-)
-Tho : SDV (+/+), BJ I&II regular
Wh(-/-), Rh(-/-)
-Abd : timpani (+), peristaltic (+), NT

(+), pusing (+), mual (+), muntah (-)


O:
-KU : Lemah
-Kesadaran : CM
-VS : TD: 110/70 Nadi: 80x
Suhu: 36,3 RR: 20x
-K/L : SI (-/-), CA(+/+), PKGB (-/-)
-Tho : SDV (+/+), BJ I&II regular
Wh(-/-), Rh(-/-)
-Abd : timpani (+), peristaltic (+), NT

epigastrium (+)
-Eks : akral hangat (+), oedem inferior(+)
A : Anemia et causa susp. FIlariasis
P : Diet tinggi Karbohidrat Tinggi Protein

epigastrium (+)
-Eks : akral hangat (+), oedem inferior(+)
A : Anemia et causa susp. FIlariasis
P : Diet tinggi Karbohidrat Tinggi Protein

1. Infus KAEN3 20 tpm


2. Injeksi Vitamin B1 B6 B12 /

1. Infus KAEN3 20 tpm


2. Injeksi Vitamin B1 B6 B12 /

24 jam
3. Transfusi PRC 2 colf

24 jam
3. Transfusi PRC 2 kolf

02 Juli 2015
S : Lemas, Kaki bengkak (+) kanan, nyeri

01 Juni 2015
S : Demam (+) Pusing (-) Mual (-) Muntah

(-), pusing (-), mual (-), muntah (-)


O:
-KU : Lemah
-Kesadaran : CM
-VS : TD: 110/70 Nadi: 80x
Suhu: 36,3 RR: 20x
-K/L : SI (-/-), CA(-/-), PKGB (-/-)
-Tho : SDV (+/+), BJ I&II regular
Wh(-/-), Rh(-/-)
-Abd : timpani (+), peristaltic (+), NT

(-)
O:
-KU : Lemah
-Kesadaran : CM
-VS : TD: 130/70 Nadi: 80x
Suhu: 36,3 RR: 20x
-K/L : SI (-/-), CA(-/-), PKGB (-/-)
-Tho : SDV (+/+), BJ I&II regular
Wh(-/-), Rh(-/-)
-Abd : timpani (+), peristaltic (+), NT

epigastrium (+)
-Eks : akral hangat (+), oedem inferior(+)
A : Anemia et causa susp. FIlariasis
P : Diet tinggi Karbohidrat Tinggi Protein

epigastrium (+)
-Eks : akral hangat (+), oedem inferior(+)
A : Anemia et causa susp. FIlariasis
P : BLPL
Terapi Filariasis rawat jalan.

1. Infus KAEN3 20 tpm


2. Injeksi Vitamin B1 B6 B12 /
24 jam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anemia
1. Definisi
Anemia adalah keadaan berkurangnya jumlah eritrosit atau
hemoglobin (protein pembawa O2) dari nilai normal dalam darah
sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa O2 dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer sehingga pengiriman O2 ke
jaringan menurun.
Secara fisiologi, harga normal hemoglobin bervariasi tergantung
umur, jenis kelamin, kehamilan, dan ketinggian tempat tinggal. Oleh
karena itu, perlu ditentukan batasan kadar hemoglobin pada anemia.

2. Etiologi
Anemia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
a. Gangguan pembentukan eritrosit
Gangguan pembentukan eritrosit terjadi apabila terdapat
defisiensi substansi tertentu seperti mineral (besi,
tembaga), vitamin (B12, asam folat), asam amino, serta
gangguan pada sumsum tulang.
b. Perdarahan
Perdarahan baik akut maupun kronis mengakibatkan
penurunan total sel darah merah dalam sirkulasi.
c. Hemolisis
Hemolisis adalah proses penghancuran eritrosit.
3. Klasifikasi
Berdasarkan gambaran morfologik, anemia diklasifikasikan
menjadi:
a. Anemia makrositik hiperkrom
Anemia dengan ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal
dan hiperkrom karena konsentrasi hemoglobinnya lebih dari
normal. (Indeks eritrosit pada anak MCV > 73 fl, MCH = >
31 pg, MCHC = > 35 %). Ditemukan pada anemia
megaloblastik (defisiensi vitamin B12, asam folat), serta
anemia makrositik non-megaloblastik (penyakit hati, dan
myelodisplasia)
b. Anemia mikrositik hipokrom
Anemia dengan ukuran eritrosit yang lebih kecil dari normal
dan mengandung konsentrasi hemoglobin yang kurang dari
normal. (Indeks eritrosit : MCV < 73 fl, MCH < 23 pg,

MCHC 26 - 35 %). Penyebab anemia mikrositik hipokrom:


1) Berkurangnya zat besi: Anemia Defisiensi Besi.
2) Berkurangnya sintesis globin: Thalasemia dan
Hemoglobinopati.
3) Berkurangnya sintesis heme: Anemia Sideroblastik.
B. Filariasis
1. Definisi
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi atau B. timori. Parasit ini ditularkan
pada tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Armigeres, Mansonia,
Culex, Aedes dan Anopheles yang mengandung larva stadium III atau
(L3). Ketika masih dalam bentuk larva dan mikrovilia, cacing ini berada
di dalam darah. Pada saat berubah menjadi cacing dewasa, cacing-cacing
ini akan menyerang pembuluh limfatik sehingga menyebabkan kerusakan
parah dan pembengkakan. Jika tidak segera diobati, penyakit ini dapat
menyebabkan cacat berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin.
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit
nematoda terbesar di indonesia. Walaupun penyakit ini jarang
menyebabkan

kematian,

tetapi

dapat

menurunkan

produktivitas

penderitanya karena timbulnya gangguan fisik


2. Etiologi
a.
Penyebab utama Filariasis limfatik :
1) Filaria bancrofti (Wuchereria bancrofti)
Filariasis bancrofti adalah infeksi yang disebakan oleh
Wuchereria bancrofti. Cacing dewasa hidup di dalam kelenjar dan
saluran limfe, sedangkan mikrofilaria ditemukan di dalam darah.
Secara klinis, infeksi bias terjadi tanpa gejala atau manifestasinya
berupa peradangan dan sumbatan saluran limfe. Manusia
merupakan satu-satunya hospes yang diketahui. Wuchereria
bancrofti akan mencapai kematangan seksual dikelenjar dan
saluran limfe. Cacing dewasa berwarna putih, kecil seperti benang.
Cacing jantan berukran 40 mm x 0,2 mm, sedangkan cacing betina
berukuran dua kali cacing jantan yaitu 80-100 mm x 0.2-0.3 mm.
2) Filaria malayi (Brugia malayi)

Penyebab Filariasis Malayi adalah filaria Brugia malayi.


Cacing dewasa jenis ini memiliki ukuran panjang 13-33 mm
dengan diaameter 70-80 mikrometer. Sedangkan cacing betinanya
berukuran

panjang

43-55

mm

dan

berdiameter

130-170

mikrometer.
3) Timor microfilaria (Brugia timori)
Penyebab penyakit ini adalah filaria tipe Brugia timori.
Cacing jantan berukuran panjang 20 mm dengan diameter 70-80
mikrometer. Sedangkan yang betina berukuran panjang 30 mm
dengan diameter 100 mikrometer. Filaria tipe ini terdapat di daerah
Timor, pulau Rote, Flores dan beberapa pulau sekitarnya.
Cacing dewasa hidup di dalam saluran dan kelenjar limfe.
Vektornya

adalah

Anopheles

barbirostis.

Mikrofilarianya

menyerupai mikrofilaria Brugia Malayi, yaitu lekuk badannya


patah-patah dan susunan intinya tidak teratur, perbedaannya
terletak di dalam hal: Panjang kepala sama dengan 3x lebar kepala,
ekornya mempunyai 2 inti tambahan, yang ukurannya lebih kecil
daripada inti-inti lainnya dan letaknya lebih berjauhan bila
dibandingkan dengan letak inti tambahan Brugia malayi, sarungnya
tidak mengambil warna pulasan Giemsa, ukurannya lebih panjang
daripada mikrofilaria Brugia malayi. Mikrofilaria bersifat periodik
nokturnal.
Filariasis limfatik ditularkan melalui gigitan nyamuk
Anopheles spp.,Culex spp., Aedes spp. dan Mansonia spp.
b.

Penyebab Filariasis subkutan:


1) Onchorcercia spp
Penyebab penyakit ini adalah Onchocerca volvulus. Juga
dikenal sebagai hanging groins, leopard skin, river blindness, atau
sowda. Gejala klinis akibat adanya microfilaria di kulit dan
termasuk pruritus, bengkak subkutaneous, lymphadenitis, dan
kebutaan.

Cacing dewasa berukuran panjang 10-42 mm dengan


diameter 130-210 mikrometer. Sedangkan cacing betina berukuran
panjang 33,5-50 mm dengan diameter 270-400 mikrometer.
Cacing dewasa berada dalam nodulus di jaringan subkutis
atau lebih dalam, biasanya timbul di daerah pelvis, temporal dan
daerah occipital.Mikrofilarianya dapat ditemukan didalam jaringan
subkutis, darah tepi, urine dan sputum.
2) Loaiasis
Penyababnya adalah cacing Loa loa. Cacing jantan memiliki
panjang 30-34 mm dan lebar 0,35-0,43 mm. Sedangkan cacing
betina loa-loa berukuran 40-70 mm dengan lebar 0,5 mm. Lalat
buah mangga atau deerflies dari Chrysops diduga sebagai vektor
dari penyakit loaiasis.
Pada manusia, masa pertumbuhan penularan filariasis belum
diketahui secara pasti, tetapi diduga 7 bulan. Microfilaria yang
terisap oleh nyamuk melepaskan sarungnya di dalam lambung,
menembus dinding lambung dan bersarang diantara otot-otot torax.
Mula-mula parasit ini memendek, bentuknya menyerupai
sosis dan disebut larva stadium I. dalam waktu seminggu, larva ini
bertukar kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang dan disebut
larva stadium II.
Pada hari ke 10 dan selanjutnya, larva ini bertukar kulit sekali
lagi, tumbuh makin panjang dan lebih kurus dan disebut larva stadium
III. Larva ini sangat aktif dan sering bermigrasi mula-mula ke rongga
abdomen kemudia ke kepala dan alat tusuk nyamuk. Bila nyamuk
yang mengandung larva stadium III ini menggigit manusia, maka
larva tersebut secara aktif masuk melalui luka tusuk ke dalam tubuh
hospes dan bersarang di saluran limpah setempat. Di dalam tubuh
hospes, larva ini mengalami dua kali pergantian kulit, tumbuh menjadi
larva stadium IV, stadium V atau stadium dewasa. Umur cacing
dewasa filarial 5-10 tahun.Cara penularan filariasis melalui gigitan
nyamuk Culex fatigans, Armigeres, Aedes, Anopheles, dan Mansonia.

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah


apabila orang tersebut digigit nyamuk yang terinfektif yaitu nyamuk
yang mengandung larva infektif atau larva stadium III (L3). Nyamuk
tersebut

mendapat

cacing

filaria

kecil(mikrofilaria)

sewaktu

menghisap darah penderita yang mengandung mikrofilaria atau


binatang reservoar yang mengandung mikrofilaria.
Siklus Hidup Brugia Malayi

Gambar 3. Siklus hidup Brugia malayi


Vektor khusus untuk Brugia malayi adalah nyamuk dari Mansonia dan
Aedes. Selama mencari makan, nyamuk yang terinfeksi ini
menularkan larva filarial stage-3 ke kulit manusia saat mereka
melakukan penetrasi gigitan.
Mereka berkembang menjadi dewasa dan biasanya berada di pembuluh
limfatik.
Cacing dewasanya mirip Wuchereria bancrofti tapi lebih kecil. Cacing
betinanya mempunyai panjang 43-55 mm dengan lebar sekitar 130-

170 m dan cacing jantannya mempunyai panjang 13-23 mm dengan


lebar 70-80 m. Cacing dewasa memproduksi mikrofilaria dengan
panjang 177-230 m dengan lebar 5-7 m, yang mana terselubung dan
mempunyai periode nokturnal. Mikrofilaria ini akan bermigrasi ke
pembuluh limfatik dan masuk ke aliran darah menuju darah tepi.
Nyamuk mendapatkan mikrofilaria selama ia makan.
Setelah masuk, mikrofilaria akan kehilangan selubungnya dan bergerak
menuju dinding otot thoraks nyamuk.
Mikrofilaria berkembang menjadi larva fase-satu
Dan berkembang menjadi larva fase-tiga
Larva fase-tiga ini bermigrasi ke prosbocis si nyamuk
Dan dapat menginfeksi manusia lain saat nyamuk mencari makan.
Siklus Hidup Wuchereria bancrofti

Gambar 4. Siklus hidup Wuchereria brancofti


Vektor nyamuk untuk W. Bancrofti tergantung dari distribusi
geografis yang ada. Diantaranya terdapat : Culex (C. annulirostris, C.
bitaeniorhynchus, C. quinquefasciatus, dan C. pipiens); Anopheles (A.
arabinensis, A. bancroftii, A. farauti, A. funestus, A. gambiae, A.

koliensis, A. melas, A. merus, A. punctulatus dan A. wellcomei); Aedes


(A. aegypti, A. aquasalis, A. bellator, A. cooki, A. darlingi, A. kochi, A.
polynesiensis, A. pseudoscutellaris, A. rotumae, A. scapularis, dan A.
vigilax); Mansonia (M. pseudotitillans, M. uniformis); Coquillettidia (C.
juxtamansonia).
Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif untuk cacing ini.
Umumnya daur hidupnya bersifat periodik nokturnal. Sebelum
berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh manusia, mikrofilaria
mengalami pergantian kulit dua kali. Pada umur 5-18 bulan cacing betina
dewasa sudah matang seksual dan bisa melakukan kopulasi sehingga bisa
menghasilkan mikrofilaria, yang segera menuju sistem darah perifer.
1: nyamuk yang terinfeksi menularkan larva saat ia menggigit manusia
2: larva bermigrasi ke sistem limfatik
3: di sistem limfatik, larva berkembang menjadi cacing dewasa dan
membuat sarang. Karena sarang merekalah terjadi blokade yang
menyebabkan pengumpulan cairan, pembengkakan, dan demam.
Biasanya nyamuk dewasa bisa hidup antara 5-7 tahun.
4: cacing betina memproduksi jutaan mikrofilaria dan berjalan di darah
tepi saat malam hari ketika nyamuk menggigit
5: ketika nyamuk menggigit seseorang yang mempunyai mikrofilaria
dalam tubuhnya, secara tidak langsung juga akan menelan mikrofilaria
dan menjadi terinfeksi.
6 dan 7: ketika berada dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria berkembang
dalam hitungan minggu untuk menjadi larva yang infektif dan siklus
terus berlanjut. Meskipun mungkin infeksi berjalan sepanjang hidup,
bisa saja bersifat asimtomatis.
Siklus Hidup Loa loa

Gambar 5. Siklus hidup Loa-loa


Vektor untuk filariasis Loa Loa berasal dari lalat Chrysops, C.
silacea dan C. dimidiata.
Selama mencari makan, lalat yang terinfeksi memperkenalkan larva
filaria stadium 3 ke kulit manusia yang mana akan berpenetrasi lewat
bekas gigitan.
Larva akan berkembang menjadi dewasa di jaringan subkutan.
Cacing betina mempunyai panjang 40-70 mm dan diameter 0,5 mm,
dan cacing jantan mempunyai panjang 30-34 mm dan diameter 0,350,43 mm. Cacing dewasa akan memproduksi mikrofilaria yang
berselubung dan mempunyai periodisitas diurnal. Mikrofilaria ini bisa
ditemukan di darah perifer saat siang hari, akan tetapi bila belum
memasuki fase non-sirkulasi, mereka ditemukan di paru-paru.
Lalat menelan mikrofilaria saat ia mencari makan.
Setelah tertelan, mikrofilaria akan kehilangan selubungnya dan
bermmigrasi ke lambung lalat dan menuju otot thoraks
Mikrofilaria berkembang menjadi larva stadium pertama
berkembang menjadi larva stadium ketiga

Larva stadium ketiga yang infektif ini akan bermigrasi menuju


proboscis dari lalat

dan dapat menginfeksi manusia lain saat ia

mencari makan.
Siklus Hidup Mansonella perstans

Gambar 6. Siklus hidup Mansonella perstans


Selama mencari makan, lalat genus Culicoides yang terinfeksi
mengenalkan larva filaria stadium ketiga ke manusia.
Mereka berkembang menjadi dewasa dan berkumpul dulu di cavitas
peritoneal atau cavitas pleural.
Cacing dewasa memproduksi mikrofilaria yang tak berselubung dan
bersifat subperiodik
Lalat menelan mikrofilaria saat mencari makan.
Setelah tertelan, mikrofilaria bermigrasi ke lambung kemudian menuju
otot dada dari arthropoda (lalat).
Mikrofilaria berkembang menjadi larva stadium pertama
dan menjadi larva stadium ketiga.
Larva yang infektif ini akan bermigrasi ke proboscis
menginfeksi manusia lain saat mencari makan.

Siklus Hidup Mansonella ozzardi

Gambar 7. Siklus hidup Mansonella ozzardi


Selama mencari makan, atrhropoda yang terinfeksi (midges, genus
Culicoides, atau blackflies, genus Simulium) akan memperkenalkan larva
filaria stadium ketiga ke manusia. Mereka biasanya berkembang di
jaringan subkutan dan jarang sekali ditemukan di manusia. Cacing
dewasa memproduksi mikrofilaria yang tak berselubung dan bersifat
non-periodik.
Siklus Hidup Mansonella streptocerca

Gambar 8. Siklus Hidup Mansonella streptocerca


Cacing dewasa memproduksi mikrofilaria yang tak berselubung
dan bersifat non-periodik.

Siklus Hidup Onchocerca volvulus

Gambar 9. Siklus Hidup Onchocerca volvulus


Di dalam jaringan subkutan, larva berkembang menjadi filaria
dewasa, kemudian mengumpul di nodul subkutan. Cacing dewasa bisa
hidup di nodul sekitar 15 tahun dan bisa memproduksi mikrofilaria
selama 9 tahun. Mikrofilaria yang ada tidak berselubung dan mempunyai
masa hidup sampai 2 tahun. Mereka bisa ditemukan di darah tepi, urin,
dan sputum. Bisa juga ditemukan di kulit dan pembuluh limfatik.

3. Manifestasi Klinis
Gejala klinis akut filariasis, berupa :
a. Demam berulang ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang bila
istirahat dan timbul lagi setelah bekerja berat.
b. Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah
lipatan paha, ketiak(lymphadentitis) yang tampak kemerahan,
panas dan sakit.
c. Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit
menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung
(retrograde lymphangitis).

d. Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar


getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.
e. Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, kantong zakar yang
terlihat agak kemerahan dan terasa panas (Early Imphodema).
Gejala kronis Filariasis berupa :
Pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai,lengan,
buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti). Gejala klinis filariasis
disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik dan oleh reaksi
hiperresponsif berupa occult filariasis. Dalam perjalanan penyakit
filariasis bermula dengan adenolimfangitis akuta berulang dan berakhir
dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik. Perjalanan
penyakit tidak jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya tetapi bila
diurut dari masa inkubasi maka dapat dibagi menjadi :
a. Masa prepaten
Masa prepaten, masa antara masuknya larva infektif sampai
terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 37 bulan. Hanya sebagian
saja dari penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik,
dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua kemudian
menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk
kelompok yang asimtomatik amikrofi laremik dan asimtomatik
mikrofilaremik.
b. Masa inkubasi
Masa inkubasi, masa antara masuknya larva infektif sampai
terjadinya gejala klinis berkisar antara 8-16 bulan.
c. Gejala klinik akut
Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis disertai
panas dan malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral.
Penderita dengan gejala klinis akut dapat amikrofi laremik maupun
mikrofilaremik.
Filariasis bancrofti pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering
terkena

disusul

funikulitis,

epididimitis

dan

orchitis.

Adenolimfangitis inguinal atau aksila, sering bersama dengan

limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 3-15 hari


dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun.
Filariasis brugia Limfadenitis paling sering mengenai kelenjar
inguinal, sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai
limfangitis retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan
sering terjadi limfedema pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita
tidak mampu bekerja selama beberapa hari. Serangan dapat terjadi 12 x/tahun sampai beberapa kali perbulan. Kelenjar limfe yang
membawa
filaria membentuk ulkus dan
terkena dapatVektor
menjadi
abses, memecah,
meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu 3 bulan.
Menghisap darah hospes
d. Gejala menahun
Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama.
Larva infektif
menembus
kulit ini, sedangkan
Mikrofilaria
jarang masuk
ditemukan
pada stadium
adenolimfangitis masih dapat terjadi. Gejala menahun ini
Masuk ke sistem limfatik
menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita
serta membebani
keluarganya.
Tumbuh
menjadi cacing dewasa
Filariasis bancrofti hidrokel paling banyak ditemukan. Di dalam
cairan hidrokel ditemukan mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis
Menginduksi proliferasi endotelPresentasi
sistem limfatik
antigen oleh Merusak
sel T
kel. limfe Cacing betina gravid
terjadi di seluruh tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau
buah dada, dan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari
ukuran
asalnya.
Chyluria
keluhan, tetapi
pada beberapa mikrofilaria
Dilatasi limfatik
Sitokin
lepas
(IL 6, terjadi
IL 11,tanpa
TNF)
Imunitas
Mengeluarkan

penderita menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan.


Lymphaoedema
Filariasis brugia elefantiasis terjadi Rentan
di tungkaiinfeksi
bawah di bawah lutut
Mengikuti
aliran darah melalui ductus
Sel
B pembesaran ektremitas
dan lengan Produksi
bawah, sedang
ukuran
tidak lebih
dari 2 kali ukuran asalnya.
IgE
4. Patogenesis Filariasis
Reaksi antigen - antibodi
Mengeluarkan med. inflamasi

Inflamasi
Membentuk fokus granuloma inflamatorik

Obstruksi limfatik
FILIARIASIS

5. Penegakan Diagnosis
Langkah pertama diagnosis filariasis dilihat dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik dimana gejala klinis yang dapat terjadi diantaranya
nyeri, pembengkakan, kemerahan sepanjang saluran limfe, funikulitis,
orchitis, dan hidrokel. Gejala tersebut biasanya dimulai di daerah
genitalia. Gejala tak spesifik yang mungkin muncul diantaranya demam,
sakit kepala, anoreksia, muntah, dan delirium. Bila sudah kronis biasanya
pasien akan datang dengan elefentiasis ataupun chiluria
Langkah selanjutnya dan yang paling utama adalah pemeriksaan
penunjang untuk melihat adanya bukti infeksi, diantaranya adalah apusan
darah tepi dan tas provokasi DEC untuk menemukan mikrofilaria, biopsi
kelenjar untuk menemukan cacing dewasa, serta tes antigen-antibodi
seperti ELISA dan ICT test untuk menemukan kecocokan antigen parasit
tersebut.
6. Penatalaksanaan
a. Pengobatan
Makrofilaria :

1) Preparat antimon, dosisnya 8 ml (larutan 5%) diberikan secara


intravena, selang sehari dosis dinaikan 4 ml sampai tercapai dosis
28 ml dengan dosis total 360 ml.
2) Suramin, diberikan 1 gr/minggu intravena selama 7 kali. Obat ini
tidak digunakan lagi karena efek toksiknya besar.
3) Arsenic 100 mg intramuskuler/hari diberikan sebnayak 4 kali
pemberian.
Mikrofilaria :
1) DEC (Diethyl Carbamazine Citrate)
Cara kerja obat ini diduga mempermudah fagositosis mikrofilaria
oleh makrofag di RES. Dosis yang diberikan adalah 6 mg/kgBB
selama 12 hari.
2) Furapyridimidone
Mempunyai efek

yang

sama

dengan

DEC

dalam

hal

mikrofilarisidal. Dosis yang dianjurkan untuk B. Malayi 15-20


mg/kgBB/hari selama 6 hari, untuk W. Bancrofti 20 mg/kgBB/hari
selama 7 hari
3) Levamizole
4) Ivermictin
Sangat paten terhadap O. Volvulus dan Loa-Loa. Dosis yang
dianjurkan :
150 mcg/kgBB dosis tunggal untuk O. Volvulus
200 mcg/kgBB dosis tunggal untuk Loa-Loa
b. Pencegahan
1) Pengobatan masal
Cara pencegahan yang paling efektif adalah mencegah gigitan
nyamuk pembawa mikrofilaria. Apabila suatu daerah sebgaian
besar sudah terkena penyakit ini, maka pengobatan masal dengan
DEC, ivermectin, atau albendazol dapat diberikan setahun sekali
dan sebaiknya dilakukan paling sedikit 5 tahun.
2) Pengendalian
vektor
adalah
pemberantasan

tempat

perkembangbiakan nyamuk melalui pembersihan got atau saluran


pembuangan air, pengendalian air tergenang, dan penebaran bibit
ikan pemakan jentik. Kegiatan lainnya adalah menghindari gigitan

nyamuk dengan memasang kelambu, menggunakan obat nyamuk


oles, memasang kasa pada ventilasi udara, dan menggunakan obat
nyamuk bakar atau obat nyamuk semprot.

BAB IV
KESIMPULAN
1. Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematoda
terbesar di indonesia. Walaupun penyakit ini jarang menyebabkan
kematian, tetapi dapat menurunkan produktivitas penderitanya karena
timbulnya gangguan fisik
2. Manifestasi klinis filariasis diantaranya adalah limfangitis, nyeri,
pembengkakan, kemerahan sepanjang saluran limfe, funikulitis, orchitis,
hidrokel, elephantiasis, demam, dan sakit kepala
3. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan diantaranya apusan darah tepi,
provokasi DEC, biopsi, ITC, dan ELISA
4. Terapi utama pada filariasis adalah pemberian DEC dan ivermektin yang
cukup efektif