Anda di halaman 1dari 16

JOURNAL READING

Terapi Anti-inflamasi Nonsteroid dan


Uveitis Anterior Akut Berulang
Oleh:
Muhamad Syaiful bin Samingan
Mohamed Asri bin Mohamed Zaini
Pembimbing:
dr Rinanto Prabowo SpM, MSc

11 2013 194
11 2013 193

Identitas Jurnal
Judul:

Nonsteroidal Anti-inflamatory Therapy and


Recurrent Acute Anterior Uveitis
Penulis: Vanessa M. B. Fiorelli, MD, Pooja Bhat, MD,
dan C. Stephen Foster, MD.
Tanggal Terbit: Januari, 2010
Publikasi: Ocular Immunology & Inflammations Edition
18, page 116-120

Latar Belakang
Uveitis anterior akut berulang
Uveitis
anterior akut

inflamasi intraokular
Iritis
berulang
Paling umum

8,2 kasus baru per 100.000


orang-tahun

iridosiklitis

3 bulan

Kortikosteroid topikal

terapi pilihan pertama

penyakit inflamasi mata akut


Efek samping

katarak

glukoma

Telah
didokumentasikan

NSAID
oral
Aspirin

Pengobatan inflamasi
okular

Pengelolaan pasien yang didiagnosis


uveitis anterior nongranulomatous,
idiopatik akut, atau yang terkait
HLA-B27 berulang dengan NSAID,
secara
substansial
mengurangi
jumlah
kortikosteroid
yang
diperlukan
untuk
menjaga
ketenangan
inflamasi
dan
memungkinkan pasien untuk tetap
dalam masa remisi walaupun
penggunaan steroid telah dihentikan

Tujuan Penelitian
Untuk
mengetahui
terapi
anti-inflamasi
nonsteroid (NSAID) per oral dalam pencegahan
kekambuhan uveitis pada pasien dengan uveitis
anterior akut nongranulomatous berulang,
idiopatik, atau yang terkait HLA-B27.

Metode Penelitian

Sebanyak 59 pasien yang terdaftar oleh MERSI dengan


diagnosis uveitis anterior akut berulang antara Mei 2005
dan April 2008 dievaluasi.
Semua pasien dengan serangan uveitis berulang, akut,
dan menyakitkan dan ditindaklanjuti setidaknya 1 tahun
sebelum dan sesudah awal terapi NSAID oral
merupakan kriteria inklusi
NSAID sistemik yang dievaluasi dalam penelitian ini
adalah celecoxib (Celebrex, Pfizer, New York, NY) dan
diflunisal (Dolobid, Merck, Rahway, NJ).

Analisis statistik dilakukan menggunakan tes Wilcoxon


untuk membandingkan perbedaan dari kambuh sebelum
dan selama pengobatan NSAID.
Uji Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan
perbedaan dalam tindak lanjut dan remisi antara
kelompok berikut:
1.
2.
3.

Celecoxib dan Diflunisal


HLA-B27 positif dan negatif
Kelompok laki-laki dan perempuan.

Hasil Penelitian
Sejumlah

59 pasien menerima terapi sistemik anti


inflamasi nonsteroid selama 21,2 5,7 bulan
Semua pasien ditindaklanjuti setidaknya 1 tahun
sebelum memulai terapi NSAID.
Pada 59 pasien itu, jumlah rata-rata kekambuhan
sebelum menerima terapi NSAID sistemik adalah 2.84
orang per tahun. Kekambuhan menurun 0,53 orang per
tahun saat mendapatkan terapi NSAID.

Kelompok

pasien yang diteliti dibagi atas dasar jenis


kelamin (laki-laki = 26; perempuan = 33) dan dianalisa
ulang.
Ditemukan sebuah tingkat kekambuhan sebanyak 2,73
pada laki-laki dan 2,94 pada wanita sebelum
mendapatkan terapi NSAID. Hal ini berkurang menjadi
0,53 pada pria dan 0,57 pada wanita setelah
mendapatkan terapi NSAID. Lama remisi untuk semua
pasien rata-rata 18,22 bulan.

Perbandingan pasien yang menerima celecoxib dengan


yang menerima diflunisal.
30 pasien menerima dosis 20 mg po celecoxib. Semua
pasien menerima 500 mg diflunisal po.
Tingkat kambuh sebelum mendapatkan terapi celecoxib
adalah 2,73. Tingkat kekambuhan ini menurun 0,36.
Tingkat kekambuhan sebelum diberikan terapi diflunisal
adalah 3.0. Hal ini berkurang menjadi 0,7.

Penelitian

ini juga dibagi atas dasar status HLA-B27.


Rata-rata tingkat kekambuhan pasien HLA-B27 sebelum
pengobatan dengan NSAID adalah 2.24. Pasien yang
tetap dalam remisi selama 17 bulan saat terapi NSAID
dan tingkat kekambuhan saat pengobatan NSAID
menjadi 0,24
Rata-rata tingkat kekambuhan kelompok HLA-B27
sebelum diterapi NSAID adalah 2,97. Tingkat
kekambuhan dalam kelompok ini menjadi 0,66 dengan
pengobatan

Pembahasan
NSAID

memiliki efek anti inflamasi, analgesik, dan antipyretic berdasarkan kemampuannya untuk menghambat sintesis
prostaglandin melalui jalur siklooksigenase (COX).
Ketika jaringan rusak, baik oleh cedera atau peradangan,
fosfolipid jaringan dilepaskan oleh enzim fosfolipase. COX
bertindak atas asam arakidonat untuk menghasilkan prekursor
prostaglandin (PG) di dalam jaringan okular dan nonokular.

NSAID

yang digunakan dalam penelitian ini adalah


celecoxib dan diflunisal.
Celecoxib bekerja dengan menghambat siklooksigenase2 (COX-2). Efek samping yang paling sering terkait
dengan itu adalah sakit perut, diare, dan dispepsia.
Diflunisal merupakan inhibitor COX nonselektif. Efek
samping yang paling sering terjadi adalah mual, muntah,
perut nyeri, diare, sembelit, dan dispepsia

Kesimpulan
Serangan

uveitis anterior berulang dan pajanan


kumulatif kortikosteroid dapat dicegah dengan
terapi NSAID sistemik pada pasien dengan
uveitis anterior akut berulang